Sab. Apr 4th, 2026

Menagih Janji “Akses Pusat”: Satu Tahun Kepemimpinan Bupati Sikka Disorot Diaspora

JAKARTA, BAJOPOS.COM – Satu tahun masa kepemimpinan Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, menjadi momentum evaluasi yang memantik sorotan tajam dari kalangan diaspora.

Aliansi Diaspora Maumere Jakarta menilai, periode yang semestinya menjadi fondasi perubahan justru memperlihatkan jurang lebar antara janji politik dan realitas di lapangan.

Gagasan “Maumere Baru” yang dahulu digaungkan dalam kampanye kini dipandang mengalami pergeseran makna. Harapan besar masyarakat, menurut aliansi, belum terjawab secara konkret, sementara sejumlah persoalan mendasar menunjukkan tanda-tanda stagnasi.

Salah satu janji yang paling diingat publik adalah klaim kedekatan Bupati dengan pemerintah pusat. Pernyataan mengenai kepemilikan hampir seluruh nomor kontak menteri di kabinet Presiden Prabowo Subianto sempat membangun optimisme akan percepatan pembangunan daerah.

“Narasi ini sempat menumbuhkan harapan akan percepatan pembangunan melalui akses langsung ke pusat kekuasaan,” ujar aliansi dalam keterangan tertulis, Kamis (2/4/2026).

Namun, kondisi di lapangan justru memperlihatkan kontras. Di Desa Ojang, Kecamatan Talibura, aktivitas belajar mengajar masih diwarnai risiko tinggi. Guru dan siswa terpaksa menyeberangi sungai tanpa jembatan setiap hari demi mencapai sekolah.

“Fenomena ini mencerminkan ketimpangan pembangunan infrastruktur dasar,” tegas aliansi.

Persoalan ini tidak berdiri sendiri. Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menunjukkan wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk Sikka, masih menghadapi tantangan besar dalam penyediaan jembatan desa akibat faktor geografis dan keterbatasan anggaran. Dampaknya menjalar ke berbagai sektor layanan publik.

Di bidang pendidikan, kondisi SMPN 48 Sa Ate Gaikiu menjadi cerminan krisis fasilitas. Proses belajar berlangsung di bangunan yang nyaris roboh dengan sarana yang minim.

“Hal ini jelas bertentangan dengan standar nasional pendidikan yang mengharuskan tersedianya ruang kelas layak.”

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan rata-rata lama sekolah di NTT masih berada pada kisaran 8,2–8,6 tahun, tertinggal dari rata-rata nasional yang mencapai sekitar 9,1–9,3 tahun.

Keterbatasan infrastruktur pendidikan disebut menjadi salah satu faktor penghambat peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendasar yakni, sejauh mana jaringan nasional tersebut benar-benar berdampak bagi masyarakat di tingkat akar rumput?” pungkas aliansi.

Sorotan juga mengarah pada kebijakan penutupan Pasar PNPM Wuring yang dinilai belum matang. Relokasi ke Pasar Alok tidak berjalan efektif, membuat banyak pedagang memilih berjualan di pinggir jalan dengan risiko penurunan pendapatan dan kecelakaan.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa penataan ekonomi rakyat tidak bisa dilakukan secara sepihak tanpa perencanaan matang.”

Di kawasan perkotaan, wajah Kota Maumere turut diselimuti persoalan klasik. Tumpukan sampah masih terlihat di berbagai titik, mencerminkan lemahnya sistem pengelolaan limbah. Masalah drainase memperparah situasi, dengan genangan air yang kerap muncul saat hujan.

“Dalam konteks perencanaan kota, kondisi ini mengindikasikan kurangnya investasi pada infrastruktur dasar yang krusial,” ujar aliansi.

Kondisi infrastruktur jalan juga tak luput dari kritik. Akses menuju Bandara Frans Seda, sebagai pintu utama mobilitas, dilaporkan rusak dan mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Padahal, menurut Kementerian Perhubungan, kualitas infrastruktur transportasi berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Jalan yang rusak tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga meningkatkan biaya logistik dan menurunkan daya saing wilayah,” tegas aliansi.

Kerusakan serupa terjadi di sejumlah titik strategis, termasuk di depan Rumah Jabatan Bupati dan akses menuju Pasar Alok. Kondisi ini dinilai menghadirkan ironi, karena pusat pemerintahan saja belum tertata dengan baik.

Data BPS menunjukkan belanja infrastruktur merupakan komponen penting dalam APBD untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketika infrastruktur dasar tidak terawat, efektivitas kebijakan pembangunan pun dipertanyakan.

Dalam penilaiannya, aliansi melihat kepemimpinan saat ini lebih menonjolkan pencitraan dibandingkan kerja nyata. Aktivitas di media sosial dianggap tidak sebanding dengan capaian konkret di lapangan.

Perjalanan dinas ke Jakarta pun ikut disorot. Dalam prinsip tata kelola pemerintahan yang baik, penggunaan anggaran publik harus memiliki manfaat yang jelas dan terukur. Tanpa transparansi, kegiatan tersebut berpotensi membebani keuangan daerah.

“Rakyat Sikka tidak butuh pemimpin yang hanya jago melakukan framing dan menggiring opini di media sosial. Rakyat butuh pemimpin yang bekerja nyata.”

Sebagai bentuk desakan, aliansi meminta Bupati segera membuktikan klaim “jaringan pusat” melalui pembangunan konkret, terutama pada infrastruktur dasar seperti jembatan dan sekolah. Mereka juga mendesak agar praktik gimik politik dihentikan, dan fokus dialihkan pada penyelesaian persoalan riil masyarakat.

Selain itu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diminta melakukan audit transparansi anggaran, khususnya terkait perjalanan dinas dan penggunaan sumber daya daerah.

“Jika tidak ada perubahan signifikan dalam sisa masa jabatan, kami menilai kepemimpinan saat ini berpotensi dikenang sebagai periode di mana narasi lebih dominan daripada realitas pembangunan,” tutup aliansi.

Penulis : Petrus Fidelis Ngo

Editor : Redaksi

Pembangunan Masjid Baitusshodiq Nangahale Jadi Simbol Gotong Royong Umat

SIKKA, BAJOPOS.COM – Semangat gotong royong dan nilai-nilai keagamaan terus hidup di tengah masyarakat Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Hal itu tercermin dari perjuangan panjang panitia dan umat dalam menyelesaikan pembangunan Masjid Baitusshodiq yang telah berlangsung lebih dari delapan tahun.

Di tengah keterbatasan, panitia tak berhenti bergerak. Mereka menyambangi rumah-rumah warga, melintasi blok-bkok, lorong, kampung, hingga desa-desa sekitar untuk mengajak partisipasi umat.

Upaya ini menjadi cerminan kuatnya budaya solidaritas dan kepedulian sosial yang menjadi bagian dari jati diri bangsa.

Renovasi masjid dilakukan karena bangunan sebelumnya tidak lagi mampu menampung jumlah jemaah yang terus meningkat, terutama pada momentum hari-hari besar keagamaan.

Kehadiran masjid yang lebih representatif dinilai penting, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan moral dan persatuan umat.

Namun, perjalanan pembangunan tidaklah mudah. Keterbatasan anggaran membuat proses pengerjaan berjalan bertahap dan hingga kini masih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Panitia pun mengajak umat di seluruh penjuru negeri untuk turut ambil bagian. Selain sebagai wujud kepedulian sosial, kontribusi dalam pembangunan rumah ibadah juga diyakini sebagai investasi spiritual yang bernilai jangka panjang.

“Amal jariyah seperti pembangunan masjid adalah warisan kebaikan yang tidak terputus. Pahalanya terus mengalir, menjadi cahaya bagi pemberinya, bahkan setelah kehidupan di dunia berakhir,” demikian pesan yang disampaikan panitia.

Sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih, para jemaah Masjid Baitusshodiq secara konsisten memanjatkan doa bagi para donatur.

Setiap hari Jumat, doa-doa khusus dipersembahkan, tidak hanya bagi para penyumbang, tetapi juga bagi keluarga mereka yang telah berpulang.

Harapan dipanjatkan agar setiap amal yang diberikan menjadi penolong di akhirat, serta menghadirkan ketenangan dan keberkahan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Nilai ini memperkuat makna bahwa pembangunan masjid bukan sekadar proyek fisik, melainkan juga ikhtiar bersama dalam merajut hubungan spiritual lintas generasi.

Masjid Baitusshodiq Nangahale. (Doc. Panitia)

Masjid Baitusshodiq berlokasi di Jalan Nasional Maumere–Larantuka, Blok E No.14, RT/RW 007/002, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT 86183.

Untuk informasi dan konfirmasi bantuan, masyarakat dapat menghubungi Sunardin, SH, selaku Ketua Bidang Usaha Dana di nomor 0822 1304 5359.

Pembangunan ini diharapkan menjadi bukti bahwa nilai religiusitas dan semangat persatuan tetap menjadi fondasi kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi generasi yang akan datang.

Reporter : Faidin

MUI dan FKUB Flores Timur Serukan Harmoni Jelang Semana Santa Larantuka

FLOTIM, BAJOPOS.COM – Menjelang perayaan akbar Semana Santa Larantuka, seruan menjaga kerukunan umat beragama menggema dari tokoh lintas iman di Kabupaten Flores Timur.

Momentum bertemunya sejumlah hari besar keagamaan dinilai sebagai ujian sekaligus peluang memperkuat persaudaraan.

Ketua Dewan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Flores Timur, Bakir Doni Pulo, mengajak seluruh umat Islam untuk menjaga suasana kondusif, khususnya bagi umat Katolik yang akan menjalankan rangkaian Paskah.

“Menjelang Paskah, kami sangat mengharapkan umat Islam menjaga ketenangan bagi saudara-saudara kita yang menjalankan ibadah,” ujarnya kepada wartawan.

Menurutnya, Paskah bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat nilai toleransi dan kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk. Ia menegaskan pentingnya menjaga kedamaian di Larantuka sebagai kota religius yang menjadi tujuan ribuan peziarah setiap tahun.

Senada dengan itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Flores Timur, Petrus Pedo Beke, menyoroti keistimewaan tahun ini, di mana tiga hari besar—Nyepi, Idul Fitri, dan Paskah—dirayakan dalam waktu yang berdekatan.

“Ini menjadi kebahagiaan sekaligus tanggung jawab bersama. Kita berharap seluruh rangkaian perayaan berjalan damai dan penuh sukacita,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa pekan suci menjadi waktu penuh rahmat bagi umat Katolik, khususnya di lingkungan Keuskupan Larantuka, yang setiap tahun menggelar tradisi devosional yang sarat makna spiritual.

Lebih lanjut, Petrus menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor demi menjamin keamanan dan kelancaran perayaan. FKUB, kata dia, terus bersinergi dengan TNI, Polri, serta pemerintah daerah dalam membangun komunikasi yang intensif.

“Koordinasi harus terus diperkuat, mengingat banyaknya peziarah dari berbagai daerah. Keamanan menjadi kunci utama,” tegasnya.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah dan aparat keamanan atas komitmen menjaga stabilitas selama rangkaian hari besar keagamaan berlangsung.

Di tengah keberagaman, Flores Timur kembali menunjukkan wajah toleransi—bahwa perbedaan bukan sekat, melainkan kekuatan untuk merawat harmoni bersama.

Reporter : Arsenius Agung
Editor : Redaksi

Prajurit Perdamaian Indonesia Gugur di Lebanon, Dentuman Artileri Robek Garis Netral

JAKARTA, BAJOPOS.COM – Dentuman artileri yang memecah langit selatan Lebanon kembali menelan korban. Di tengah misi suci menjaga perdamaian dunia, seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) gugur setelah posisi kontingen Indonesia dihantam serangan, Minggu (29/3/2026). Tiga prajurit lainnya turut menjadi korban—satu luka berat, dua luka ringan.

Insiden tragis ini terjadi saat eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah kembali memanas. Saling balas tembakan artileri yang kian intens akhirnya menjangkau wilayah penugasan pasukan penjaga perdamaian di Adshit al-Qusyar—zona rawan yang sejak lama hidup dalam bayang-bayang konflik bersenjata.

Kabar duka itu dikonfirmasi langsung oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres. Dalam pernyataannya, ia mengecam keras serangan tersebut sekaligus menyoroti rapuhnya perlindungan bagi pasukan penjaga perdamaian di garis depan.

“Saya mengutuk keras insiden hari Minggu yang menewaskan seorang penjaga perdamaian Indonesia dari UNIFIL di tengah permusuhan antara Israel dan Hizbullah,” tulis Guterres.

Ia juga menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban, pemerintah Indonesia, dan seluruh personel yang bertugas. Guterres menegaskan, insiden ini bukan yang pertama—melainkan bagian dari rangkaian kejadian yang terus mengancam keselamatan pasukan penjaga perdamaian.

Dari dalam negeri, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Rico Ricardo Sirait, memaparkan kondisi para korban.

“Satu prajurit meninggal dunia, satu luka berat, dan dua lainnya luka ringan. Seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis,” ujarnya.

Ia menambahkan, serangan terjadi di tengah intensitas tinggi baku tembak artileri. Hingga kini, proses klarifikasi masih berlangsung di bawah koordinasi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Kecaman Tegas, Duka Mendalam

Pemerintah Indonesia merespons insiden ini dengan nada tegas. Melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Indonesia mengecam keras serangan tersebut dan mendesak penyelidikan menyeluruh serta transparan.

Tak hanya itu, penghormatan setinggi-tingginya diberikan kepada prajurit yang gugur—simbol pengorbanan di garis sunyi demi perdamaian dunia.

Pemerintah juga bergerak cepat, berkoordinasi dengan UNIFIL untuk memastikan proses repatriasi jenazah berjalan segera, sekaligus menjamin perawatan optimal bagi prajurit yang terluka.

Di balik sikap resmi itu, tersirat pesan kuat: keselamatan penjaga perdamaian bukan sekadar prioritas, melainkan kewajiban yang dijamin hukum internasional.

Garis Netral yang Tak Lagi Aman

Serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian menjadi sinyal berbahaya bagi stabilitas global. Ketika zona netral tak lagi aman, maka upaya menjaga perdamaian berada di ujung tanduk.

Indonesia pun menyerukan semua pihak yang bertikai untuk menahan diri, menghormati kedaulatan Lebanon, serta menghentikan serangan yang membahayakan warga sipil dan infrastruktur. Jalur diplomasi kembali ditekankan sebagai satu-satunya jalan meredam konflik.

Di tengah dentuman yang belum reda, satu hal menjadi jelas: di balik seragam biru penjaga perdamaian, ada nyawa yang dipertaruhkan—dan kali ini, Indonesia kembali harus merelakan salah satu putra terbaiknya gugur di medan tugas.

Reporter : Pertrus Fidelis Ngo
Editor : Faidin

Halal Bi Halal Pemuda Dulolong Mataru Perkuat Persaudaraan di Bumi Alor

ALOR, BAJOPOS.COM – Semangat kebersamaan pasca Idul Fitri terasa hangat di Lapangan Desa Dulolong, Sabtu (28/3/2026).

Bagaimana tidak, ratusan warga dari berbagai wilayah di Kabupaten Alor tumpah ruah dalam kegiatan Halal Bi Halal yang digelar oleh pemuda Dulolong bersama keluarga besar Mataru.

Acara yang mengusung tema “Bangun Kebersamaan, Merajut Persatuan, Hasilkan Persaudaraan dalam Harmoni Idul Fitri” ini dihadiri sejumlah unsur pimpinan wilayah, diantaranya; Camat Mataru, Camat Abad, Camat Abad Selatan, Camat Alor Tengah Utara (ATU), Camat Lembur, serta Kapolsek Abal yang mewakili Kapolres Alor.

Hadir pula tokoh agama, tokoh masyarakat, para pemain sepak bola dari berbagai tim, dan undangan lainnya.

Ketua panitia, Satrio Basir, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum penting dalam mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

“Momentum ini tak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat yang harus terus dibina dan dipupuk. Kami sebagai pemuda melihat banyak nilai positif yang lahir, termasuk di bidang persepakbolaan,” ujarnya.

Menurut Satrio, kegiatan Halal Bi Halal ini juga menjadi simbol kebangkitan solidaritas pemuda lintas wilayah. Ia menyebut, hubungan baik yang terjalin melalui kegiatan ini menjadi bagian dari sejarah yang mereka bangun sendiri.

“Ini adalah momentum bersejarah yang kami ciptakan bersama, sebagai wujud persaudaraan yang nyata,” tambahnya.

Sementara itu, tokoh ulama Kabupaten Alor, Ustaz Nurdin Abdullah, yang didapuk menyampaikan hikmah Halal Bi Halal, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif para pemuda Dulolong dan Mataru.

“Baru kali ini kegiatan seperti ini digelar oleh pemuda Dulolong dan keluarga Mataru. Ini langkah luar biasa yang patut diapresiasi,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai toleransi yang telah menjadi identitas masyarakat Alor.

“Alor dikenal dengan semboyan Taramiti Tominuku, dengan toleransi yang kuat. Jangan sampai dinodai oleh sikap-sikap yang tidak terpuji,” tegasnya.

Di akhir tausiyahnya, Ustaz Nurdin berpesan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu negatif yang dapat merusak keharmonisan yang telah terbangun.

“Tetap jalin silaturahmi ini dengan baik dan saling menghargai satu sama lain,” pungkasnya.

Kegiatan Halal Bi Halal ini menjadi bukti bahwa semangat Idul Fitri bukan hanya soal perayaan, tetapi juga tentang memperkuat persatuan, membangun komunikasi, dan menjaga harmoni di tengah keberagaman masyarakat Kabupaten Alor.

Reporter : Nursan

Editor : Faidin

A-DPRD Alor, Naboys Tallo Nilai Dokumen LKPJ 2025 Bupati Belum Tergambar Utuh

ALOR, BAJOPOS.COM – Suasana di Gedung DPRD Kabupaten Alor mendadak serius usai digelarnya Rapat Paripurna penyampaian Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Alor Tahun Anggaran 2025, Kamis (26/3/2026).

Forum tersebut menjadi panggung kritik tajam dari kalangan legislatif terhadap kinerja pemerintah daerah.

Salah satu suara paling vokal datang dari politisi Partai Demokrat, Naboys Tallo. Anggota DPRD Kabupaten Alor yang dikenal kritis ini menilai dokumen LKPJ yang disampaikan belum mampu memberikan gambaran utuh terkait capaian penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) selama setahun terakhir.

“Dokumen LKPJ ini belum tergambar dengan baik tentang apa hasil dari APBD setahun, yaitu Tahun Anggaran 2025,” tegas Naboys usai rapat paripurna.

Pernyataan tersebut menandai sikap tegas DPRD dalam menjalankan fungsi pengawasan terhadap jalannya pemerintahan daerah. Naboys menegaskan, lembaga legislatif tidak akan tinggal diam dan akan menempuh sejumlah langkah strategis untuk menguji kualitas laporan tersebut.

Tahapan pertama dimulai dari rapat internal fraksi guna mengkaji secara mendalam setiap poin dalam dokumen LKPJ. Hasil kajian tersebut kemudian akan dibawa ke tingkat Badan Anggaran (Banggar) untuk pembahasan lebih teknis dan komprehensif.

“Dari seluruh proses ini, DPRD akan memberikan catatan strategis kepada pemerintah daerah sebagai bahan evaluasi dan perbaikan ke depan,” ujarnya.

Lebih jauh, Naboys mengingatkan bahwa proses evaluasi LKPJ belum berakhir. Ia menekankan pentingnya menunggu Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan Provinsi Nusa Tenggara Timur yang diperkirakan rampung pada Mei mendatang.

LHP tersebut akan menjadi acuan penting karena memuat tiga dokumen krusial, yakni Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD), Sistem Pengendalian Intern (SPI), serta laporan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.

Menurutnya, hasil audit BPK akan memperkuat dasar penilaian DPRD terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah secara objektif dan menyeluruh.

Sorotan kritis ini sekaligus menjadi peringatan bagi Pemerintah Kabupaten Alor bahwa transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan tuntutan publik yang tidak bisa ditawar.

Dengan dinamika ini, DPRD Alor diharapkan mampu memastikan setiap rupiah anggaran benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Reporter : Nursan
Editor : Redaksi

Mantan Bupati Alor Dua Periode, Amon Djobo Tutup Usia

ALOR, BAJOPOS.COM – Kabar duka menyelimuti masyarakat Kabupaten Alor. Mantan Bupati Alor dua periode, Amon Djobo, dikabarkan meninggal dunia pada Kamis (26/3/2026) petang.

Almarhum menghembuskan napas terakhir di RSUD Kalabahi. Informasi duka ini dibenarkan oleh pihak keluarga melalui salah satu kolega terdekat almarhum, Walter Datemoli.

Semasa hidupnya, Amon Djobo yang akrab disapa AJ pernah menjabat sebagai Bupati Alor selama dua periode, yakni 2013–2018 dan 2018–2023. Ia dikenal sebagai sosok birokrat senior sebelum terjun ke dunia politik.

Almarhum juga diketahui baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-66 pada 22 Februari 2026 lalu.

Sebelum wafat, almarhum memiliki riwayat penyakit jantung. Ia juga merupakan pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan pangkat terakhir Pembina Utama Muda (IV/d).

Kepergian Amon Djobo menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Alor, yang mengenalnya sebagai pemimpin dengan dedikasi panjang bagi daerah.

Reporter : Nursan

Pria Mengamuk di Kewapante, Tiga Warga Dibacok Saat Berkumpul di Dalam Rumah

SIKKA, BAJOPOS.COM – Aksi kekerasan menggemparkan warga Dusun Habihogor, Desa Watukobu, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Rabu (25/3/2026) malam. Seorang pria berinisial S (27) nekat melakukan penganiayaan berat menggunakan senjata tajam jenis parang terhadap tiga orang tetangganya.

Peristiwa berdarah itu terjadi sekitar pukul 21.00 WITA di dalam rumah salah satu korban. Saat kejadian, ketiga korban yakni YK (38), MM (46), dan JNR (29) tengah berkumpul, makan, minum, serta berkaraoke bersama.

Namun suasana santai tersebut berubah mencekam ketika pelaku tiba-tiba masuk ke dalam rumah sambil menghunus parang. Tanpa banyak kata, pelaku langsung menyerang dan membacok para korban secara membabi buta.

Korban yang tidak sempat menyelamatkan diri langsung menjadi sasaran amukan pelaku. Akibatnya, ketiganya mengalami luka berat disertai pendarahan hebat.

Warga yang mengetahui kejadian itu langsung panik. Ketiga korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit St. Gabriel Kewapante untuk mendapatkan perawatan intensif. Lokasi rumah sakit tersebut berjarak sekitar 7 kilometer dari Kota Maumere.

Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno melalui Kasi Humas Polres Sikka, Iptu Leonardus Tunga, membenarkan adanya peristiwa dugaan penganiayaan berat tersebut.

“Benar, telah terjadi dugaan tindak pidana penganiayaan berat pada Rabu, 25 Maret 2026 sekitar pukul 21.00 WITA di Habihogor, Desa Watukobu, Kecamatan Kewapante,” ujar Leonardus Tunga, Kamis (26/3/2026) pagi.

Ia menjelaskan, personel Polsek Kewapante bersama Polres Sikka langsung turun ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan olah TKP serta tindakan kepolisian lainnya sesaat setelah laporan diterima.

Selain itu, aparat kepolisian bersama Koramil Kewapante juga bergerak cepat menenangkan warga yang sempat tersulut emosi atas tindakan pelaku.

Hingga kini, motif di balik aksi brutal tersebut belum diketahui dan masih dalam penyelidikan pihak kepolisian.

“Proses penyelidikan sementara masih berjalan. Keterangan lengkap akan disampaikan melalui konferensi pers setelah rangkaian tindakan kepolisian selesai dilakukan,” tambahnya.

Peristiwa ini menambah daftar kasus kekerasan yang terjadi di wilayah Sikka dan menjadi perhatian serius aparat keamanan setempat.

Reporter : Faidin

Modus Baru TPPO Intai Pencari Kerja Usai Lebaran

JAKARTA, BAJOPOS.COM — Suasana Lebaran 2026 belum sepenuhnya berlalu. Namun di balik arus balik dan semangat baru untuk mencari penghidupan di kota, terselip ancaman yang kerap luput dari perhatian.

Lonjakan pencari kerja setelah mudik justru menjadi celah yang dimanfaatkan jaringan kejahatan perdagangan orang.

Iming-iming pekerjaan dengan bayaran tinggi kembali dijadikan umpan. Tawaran yang tampak meyakinkan itu, pada kenyataannya sering kali tidak disertai kejelasan, bahkan berujung pada praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang menjerat para pencari kerja dalam situasi rentan.

Pemerintah mengingatkan bahwa periode pascamudik hampir selalu diiringi peningkatan jumlah pencari kerja, baik mereka yang kembali dari kampung halaman maupun yang ingin memulai babak baru. Di tengah situasi tersebut, berbagai tawaran kerja bermunculan, namun tidak semuanya dapat dipercaya.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menyeleksi informasi lowongan kerja. Modus TPPO terus berkembang dan kerap menyasar masyarakat yang minim akses terhadap informasi yang akurat. Ketelitian menjadi langkah awal untuk menghindari jebakan eksploitasi.

Perhatian terhadap fenomena ini juga disampaikan oleh Netty Prasetiyani Aher, Anggota Komisi IX DPR RI. Ia menilai adanya pola baru dalam praktik TPPO, khususnya yang menyasar calon pekerja migran Indonesia.

Salah satu modus yang terungkap adalah penggunaan surat izin dari suami atau wali yang disertai klausul bernuansa intimidatif, bahkan mencantumkan pelepasan hak untuk menuntut secara hukum.

Menurut politisi PKS ini, praktik tersebut merupakan bentuk manipulasi hukum yang merugikan pekerja migran dan keluarganya.

“Ini adalah modus yang berbahaya karena memanfaatkan ketidaktahuan hukum masyarakat dan menekan keluarga dalam posisi rentan. Negara harus hadir memastikan tidak ada warga yang dipaksa atau diintimidasi untuk masuk ke dalam skema penempatan ilegal,” dikutip dalam rilis Selasa, 6/1/2025 lalu yang diterima media ini.

Ia menegaskan, penempatan pekerja migran, terutama di sektor domestik ke negara yang masih berstatus moratorium merupakan tindakan yang melanggar hukum. Karena itu, dokumen apa pun yang digunakan untuk membenarkan praktik tersebut tidak memiliki kekuatan hukum.

“Oleh karena itu, segala bentuk pernyataan yang digunakan untuk melegitimasi praktik tersebut tidak memiliki kekuatan hukum. Surat dengan klausul ‘tidak menuntut’ justru menjadi indikator kuat adanya upaya menghilangkan tanggung jawab hukum pihak penyalur. Ini harus diwaspadai bersama,” katanya.

Netty turut mengapresiasi langkah cepat Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dalam menindak agen ilegal, termasuk kerja sama dengan Satgas TPPO Polri untuk menelusuri jaringan serta distribusi dokumen ilegal melalui platform digital.

“Langkah preventif dan penegakan hukum yang dilakukan pemerintah perlu terus diperkuat, seiring dengan peningkatan edukasi kepada masyarakat, terutama di daerah-daerah kantong pekerja migran,” ujar Netty.

Ia menekankan bahwa pencegahan TPPO sangat bergantung pada literasi hukum dan pemahaman masyarakat mengenai jalur resmi penempatan pekerja migran. Tanpa pengetahuan tersebut, masyarakat akan terus berada dalam posisi yang mudah dimanipulasi.

“Pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan aparat desa untuk memastikan calon pekerja migran mendapatkan informasi yang benar sejak awal,” terangnya.

Pada akhirnya, perlindungan terhadap pekerja migran tidak hanya berhenti pada proses keberangkatan. Lebih dari itu, ia menyangkut keselamatan, martabat, dan pemenuhan hak-hak mereka, termasuk keluarga yang ditinggalkan.

“Perlindungan pekerja migran bukan hanya soal keberangkatan, tetapi juga tentang menjaga keselamatan, martabat, dan hak-hak mereka serta keluarganya. Ini adalah tanggung jawab bersama,” tutup Netty.

Reporter : Petrus Fidelis Ngo

Editor : Redaksi

Darah, Dendam, dan Parang: Luka 5 Tahun yang Pecah di Siang Bolong

SIKKA, BAJOPOS.COM – Siang itu, Selasa (24/3/2026), Jalan Ahmad Yani di Kota Maumere tampak seperti hari biasa. Lalu lintas berjalan, warga beraktivitas, dan tak ada tanda bahwa sebuah dendam lama akan meledak menjadi kekerasan brutal.

Namun sekitar pukul 13.15 WITA, ketenangan itu pecah—sebilah parang berbicara menggantikan kata-kata yang tak pernah selesai selama lima tahun.

Kasus dugaan tindak pidana penganiayaan ini kini ditangani aparat Polres Sikka setelah dilaporkan secara resmi melalui SPKT dengan nomor LP/B/39/III/2026/SPKT/Polres Sikka/Polda Nusa Tenggara Timur.

Korban berinisial A.A (55), seorang petani asal Nangalimang, mengalami luka serius setelah diserang oleh terlapor M.E (55), yang juga berprofesi sebagai petani dan berasal dari wilayah yang sama. Luka sabetan parang mengenai perut sebelah kiri korban, disertai luka gores di bagian siku tangan.

Namun di balik luka fisik itu, tersimpan luka yang jauh lebih lama—dendam keluarga yang disebut-sebut telah membara selama lima tahun.

Dendam yang Dipelihara, Bukan Diselesaikan

Berdasarkan keterangan saksi, konflik antara korban dan terlapor bukanlah persoalan baru. Perselisihan keluarga yang tak kunjung diselesaikan diduga menjadi bara yang terus dipelihara, hingga akhirnya meledak dalam bentuk kekerasan terbuka.

Pertanyaannya, mengapa konflik selama itu tidak pernah menemukan jalan damai?

Di banyak komunitas lokal, persoalan keluarga sering kali diselesaikan secara adat atau kekeluargaan. Namun ketika ruang dialog gagal, dendam justru bisa berubah menjadi “warisan diam”—ditahan, dipendam, dan pada akhirnya mencari jalan keluar yang paling destruktif.

Peristiwa ini menjadi potret bahwa konflik personal yang dibiarkan tanpa mediasi berpotensi berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan.

Serangan Terencana atau Ledakan Emosi?

Fakta bahwa terlapor mendatangi korban dengan membawa parang memunculkan dugaan kuat adanya unsur kesiapan dalam tindakan tersebut. Apakah ini murni luapan emosi sesaat, atau sudah direncanakan?

Polisi masih mendalami motif dan kronologi lebih rinci, termasuk memeriksa saksi-saksi yang berada di lokasi kejadian. Dua saksi telah dimintai keterangan untuk memperkuat konstruksi perkara.

Polisi Bergerak, Publik Menunggu Transparansi

Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno melalui Kasi Humas IPDA Leonardus Tunga membenarkan adanya laporan tersebut. Saat ini, pelapor dan saksi tengah diperiksa oleh penyidik Satreskrim Polres Sikka.

“Laporan sudah kami terima, dan saat ini sedang dalam proses pemeriksaan oleh penyidik,” ujarnya singkat.

Langkah awal kepolisian meliputi penerimaan laporan, pembuatan laporan polisi, penerbitan tanda bukti laporan, hingga mendatangi tempat kejadian perkara (TKP).

Namun publik tentu menunggu lebih dari sekadar proses administratif. Kasus ini membuka ruang pertanyaan lebih luas: bagaimana mekanisme penyelesaian konflik di tingkat akar rumput? Apakah ada peran tokoh masyarakat, aparat desa, atau lembaga adat yang bisa mencegah konflik serupa sebelum berubah menjadi tindak pidana?

Ketika Parang Jadi Bahasa Terakhir

Peristiwa ini bukan sekadar kasus penganiayaan. Ia adalah cermin dari kegagalan komunikasi, rapuhnya penyelesaian konflik, dan absennya intervensi sebelum kekerasan terjadi.

Di tengah masyarakat yang menjunjung nilai kekeluargaan, fakta bahwa konflik lima tahun berakhir dengan sabetan parang menjadi alarm keras: bahwa diam tidak selalu berarti damai.

Dan ketika kata-kata tak lagi dipakai untuk menyelesaikan masalah, parang pun menjadi bahasa terakhir—yang selalu meninggalkan luka, bukan solusi.

Penulis : Faidin
Sumber : Humas Polres Sikka

Kasus di Desa Parumaan: Hendak Melerai, Malah Dikeroyok. Satu Pelaku Gunakan Pisau

SIKKA, BAJOPOS.COM — Seorang nelayan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menjadi korban pengeroyokan saat berusaha melerai keributan di Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Sabtu (21/3/2026) sekitar pukul 12.00 Wita.

Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan ke SPKT Polsek Alok pada Minggu (22/3/2026) pukul 15.43 Wita dan tercatat dengan nomor laporan polisi LP/B/9/III/2026/SPKT/Polsek Alok/Polres Sikka/Polda NTT.

Kasi Huma Polres Sikka, Ipda Leonardus Tunga, S.M dikonfirmasi media ini membenarkan peristiwa tersebut.

“Iya Pak, benar sudah dibuatkn LP, sudah masuk ke Unit Reskrim,” tulis Ipda Leo.

Disampaikan bahwa pelapor yang juga merupakan korban berinisial A (38), seorang nelayan asal Napung Gelang, Desa Darat Pantai, Kecamatan Talibura, mengalami luka akibat insiden tersebut.

Berdasarkan laporan yang diterima, kejadian bermula dari keributan antara sejumlah pihak di sekitar lokasi. Korban yang datang dengan maksud melerai justru menjadi sasaran pengeroyokan oleh dua terlapor, yakni B dan Aco, yang sama-sama berprofesi sebagai nelayan dan berdomisili di wilayah Perumaan, Kecamatan Alok Timur.

Dalam kejadian itu, korban di pukul berulang kali menggunakan tangan. Selain itu, salah satu terlapor, Aco, diduga menggunakan senjata tajam berupa pisau dan menusuk korban di bagian telapak tangan kanan.

Akibatnya, korban mengalami pembengkakan di bagian belakang telinga kiri serta luka robek pada telapak tangan kanan.

Dua saksi diketahui berada di lokasi saat kejadian, masing-masing berinisial Y (21), seorang mahasiswa, dan K (25), seorang nelayan. Keduanya merupakan warga Desa Darat Pantai, Kecamatan Talibura.

Kapolsek Alok melalui laporan resmi dan kemudian di kirimkan kepada wartawan menyebutkan bahwa pihak kepolisian telah menerima laporan, membuat tanda bukti laporan, serta mengamankan barang bukti terkait kasus tersebut.

Saat ini, penanganan perkara masih dalam proses penyelidikan oleh Polsek Alok, Polres Sikka.

Kasus ini menambah daftar tindak kekerasan yang terjadi di wilayah pesisir, khususnya yang melibatkan sesama nelayan.

Polisi mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan menyelesaikan persoalan secara damai guna menghindari tindakan yang berujung pidana.

Reporter : Faidin
Sumber : Humas Polres Sikka

Delapan Tahun “Telanjang”, Masjid Baitusshodiq Nangahale Menanti Kepedulian Umat

Oleh : Faidin

Ada yang tak pernah berhenti di Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur di wilayah timur Negeri ini, meski waktu telah berjalan delapan tahun lamanya: Adzan yang terus berkumandang dari Masjid Baitusshodiq.

Di balik suara panggilan suci itu, ada kenyataan yang tak bisa ditutup-tutupi. Masjid ini masih berdiri dalam keadaan “telanjang”.

Sebutan yang mungkin terasa keras, tetapi itulah realitas yang ada—bangunan yang belum rampung, fasilitas yang jauh dari layak, dan kondisi fisik yang belum mencerminkan kemuliaan sebuah rumah ibadah.

Namun, di sanalah umat tetap bersujud.

Di lantai yang mungkin belum sepenuhnya nyaman, di bawah atap yang belum sepenuhnya melindungi, di ruang yang sederhana, warga tetap datang. Mereka tidak menunggu masjid itu sempurna untuk beribadah.

Mereka datang dengan kesederhanaan, dengan iman, dengan keyakinan bahwa rumah Allah tetaplah rumah Allah, dalam kondisi apa pun.

Tetapi, apakah kita akan membiarkan kondisi ini terus berlangsung?

Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Dalam kurun waktu itu, generasi anak-anak telah tumbuh, remaja menjadi dewasa, dan banyak perubahan terjadi di berbagai tempat.

Masjid-masjid lain berdiri megah, direnovasi, bahkan dilengkapi fasilitas modern. Sementara itu, Masjid Baitusshodiq masih bertahan dalam kondisi yang sama—menunggu.

Menunggu siapa?

Menunggu kita.

Ini bukan sekadar persoalan pembangunan fisik. Ini adalah cermin dari sejauh mana kepedulian kita sebagai umat. Apakah kita benar-benar merasakan bahwa masjid adalah tanggung jawab bersama? Ataukah kita tanpa sadar membiarkannya menjadi beban segelintir orang saja?

Fakta di lapangan menunjukkan, masyarakat setempat bukan tidak berbuat. Mereka sudah berusaha. Mereka sudah memberi, sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Namun, keterbatasan ekonomi membuat langkah mereka tidak bisa melaju sejauh yang diharapkan.

Mereka tidak berhenti. Tetapi mereka juga tidak bisa berjalan sendiri.

Di titik inilah, suara hati kita diuji.

Kita hidup di zaman di mana berbagi menjadi sangat mudah. Dalam hitungan detik, bantuan bisa dikirim ke berbagai penjuru negeri.

Kita sering tergerak oleh berbagai peristiwa besar—bencana alam, krisis kemanusiaan, atau isu-isu nasional. Kita menunjukkan empati, kita berdonasi, kita peduli.

Namun terkadang, yang dekat justru luput dari perhatian.

Masjid Baitusshodiq Nangahale bukan cerita jauh. Ia nyata. Ia ada. Ia berdiri, menunggu sentuhan tangan-tangan yang peduli.

Bayangkan seorang anak kecil yang belajar mengaji di dalam masjid itu. Duduk di lantai yang sederhana, dengan fasilitas seadanya, tetapi dengan semangat yang besar.

Bayangkan seorang orang tua yang tetap datang untuk shalat berjamaah, meski kondisi bangunan belum layak. Bayangkan doa-doa yang dipanjatkan di dalamnya—doa tentang rezeki, tentang kesehatan, tentang masa depan.

Semua itu terjadi di dalam sebuah masjid yang belum selesai dibangun.

Lalu, di mana kita?

Sering kali kita berpikir bahwa kontribusi harus besar agar berarti. Kita menunggu memiliki lebih banyak untuk bisa memberi. Padahal, sejarah umat ini justru dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan bersama-sama.

Satu orang memberi sedikit. Yang lain ikut menambahkan. Lalu bertambah lagi. Hingga akhirnya, yang kecil itu menjadi besar.

Masjid Baitusshodiq tidak membutuhkan keajaiban. Ia membutuhkan kebersamaan.

Ia membutuhkan kita untuk berhenti sejenak, melihat, dan bertanya pada diri sendiri: apakah kita ingin menjadi bagian dari perubahan ini?

Keutamaan membangun masjid bukanlah hal baru. Ia sering kita dengar, sering kita baca. Namun mungkin, kita jarang dihadapkan pada kesempatan yang begitu nyata di depan mata kita sendiri.

Ini bukan tentang membangun dari nol. Ini tentang melanjutkan yang sudah ada. Ini tentang menyempurnakan apa yang sudah dimulai oleh saudara-saudara kita di Nangahale.

Delapan tahun penantian adalah waktu yang panjang. Terlalu panjang jika harus terus dibiarkan. Setiap hari yang berlalu tanpa perubahan adalah kesempatan yang hilang—kesempatan untuk berbuat, untuk berbagi, untuk menanam amal jariyah.

Kita tidak pernah tahu amal mana yang akan menyelamatkan kita. Bisa jadi bukan yang besar, tetapi yang ikhlas. Bisa jadi bukan yang terlihat, tetapi yang terus mengalir.

Dan membantu menyelesaikan sebuah masjid—tempat di mana ibadah akan terus berlangsung—adalah salah satu bentuk amal yang tidak pernah terputus.

Opini ini bukan untuk menyalahkan. Ini adalah panggilan. Panggilan yang lahir dari kenyataan yang ada, dari fakta yang tidak bisa diabaikan, dan dari harapan yang masih menyala.

Harapan bahwa umat ini masih peduli.
Harapan bahwa masih ada tangan-tangan yang tergerak.

Harapan bahwa Masjid Baitusshodiq tidak akan terus “telanjang” di tahun-tahun yang akan datang.

Kita tidak harus menunggu orang lain memulai. Kita bisa menjadi bagian dari awal itu.

Mungkin bukan kita yang menyelesaikan semuanya. Tetapi setidaknya, kita menjadi bagian dari perjalanan itu.

Bagi para dermawan, pembaca yang budiman, dan siapa saja yang hatinya tergerak untuk ikut ambil bagian dalam pembangunan Masjid Baitusshodiq Nangahale, uluran tangan Anda sangat berarti.

Kontribusi dapat disalurkan dengan menghubungi Ketua Panitia Pembangunan: Sunardin, SH.

Tidak ada bantuan yang terlalu kecil. Tidak ada niat baik yang sia-sia.

Karena pada akhirnya, ketika masjid itu berdiri kokoh nanti—ketika lantainya telah rapi, atapnya telah sempurna, dan jamaahnya semakin banyak—akan ada bagian kecil dari kita di dalamnya.

Dalam setiap sujud.
Dalam setiap doa.
Dalam setiap ayat yang dilantunkan.

Delapan tahun sudah cukup menjadi cerita. Kini saatnya kita menulis akhir yang berbeda.

Bukan lagi tentang masjid yang “telanjang”.
Tetapi tentang umat yang bangkit, bersatu, dan saling menguatkan.

Penulis adalah Wartawan media BAJOPOS.COM

Pisang Kepok Nyaris Hilang di Sikka, Petani Tertekan Serangan Penyakit Sejak 2020

SIKKA, BAJOPOS.COM – Serangan penyakit darah pisang atau blood disease bacterium (BDB) yang terjadi sejak 2020 hingga kini terus menghantui petani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Dampaknya tidak hanya menurunkan produksi, tetapi juga membuat pisang kepok—komoditas andalan daerah—nyaris hilang dari peredaran.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh petani dan pedagang. Keterbatasan pasokan dari dalam daerah memaksa mereka mendatangkan pisang dari luar wilayah seperti Kabupaten Flores Timur dan Lembata.

Don, pedagang pisang di Pasar Alok Maumere, mengaku situasi tersebut sangat memukul usaha yang dijalaninya.

“Untuk di Kabupaten Sikka, pisang kepok yang menjadi salah satu andalan ekonomi petani sudah hilang dari peredaran. Kami terpaksa membeli dari luar daerah,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).

Menurut dia, kondisi ini turut meningkatkan beban modal usaha. Untuk mendapatkan pasokan, ia harus mengeluarkan biaya hingga Rp10 juta guna membeli sekitar dua pikap pisang dari luar daerah.

Di tingkat pedagang, harga jual pisang saat ini mencapai sekitar Rp70.000 per tandan. Meski demikian, tingginya permintaan pasar, termasuk untuk pengiriman ke luar daerah seperti Surabaya, belum mampu diimbangi dengan ketersediaan stok.

“Kami kesulitan memenuhi permintaan karena barangnya terbatas,” katanya.

Don berharap Dinas Pertanian Kabupaten Sikka segera mengambil langkah konkret untuk memutus rantai penyebaran penyakit tersebut. Ia juga mendorong adanya solusi teknis yang lebih efektif di tingkat petani.

“Harapan kami, pemerintah bisa segera menghadirkan solusi agar penyakit ini bisa dikendalikan dan produksi pisang kembali normal,” ujarnya.

Dampak kelangkaan pisang kepok tidak hanya dirasakan dari sisi ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan budaya masyarakat setempat. Di Sikka, pisang menjadi salah satu komponen penting dalam berbagai kegiatan adat, termasuk prosesi perkawinan.

Martinus, warga Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan adat akibat langkanya pisang di daerahnya.

“Untuk urusan adat perkawinan, kami sampai harus membeli pisang dari Flores Timur karena di sini sudah sulit didapat,” tuturnya.

Sejumlah pihak menilai, penanganan penyakit tanaman seperti BDB membutuhkan pendekatan terpadu. Upaya tersebut meliputi pengendalian di tingkat kebun, penggunaan bibit sehat, hingga edukasi kepada petani terkait praktik budidaya yang aman.

Tanpa langkah terkoordinasi, penyebaran penyakit dikhawatirkan akan terus meluas dan memperparah kondisi pertanian lokal.

Hingga kini, para petani di Sikka masih berharap adanya solusi nyata untuk mengakhiri persoalan yang telah berlangsung selama enam tahun tersebut.

Bagi mereka, keberhasilan mengendalikan penyakit ini bukan hanya soal pemulihan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan tradisi dan kehidupan sosial masyarakat.

Penulis : Redaksi

Banjir Rob Rendam Desa Permaan, Air Laut Masuk hingga ke Dalam Rumah Warga

SIKKA, BAJOPOS.COM – Desa Permaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kembali dilanda banjir rob akibat tingginya permukaan air laut. Peristiwa ini terpantau terjadi pada Senin, 23 Maret 2026.

Warga setempat mengungkapkan bahwa kenaikan air laut sudah berlangsung selama tiga hari terakhir, sejak Sabtu lalu. Namun, kondisi terparah baru dirasakan dalam beberapa hari ini.

“Sejak hari Lebaran (Sabtu, 21 Maret, red) air sudah naik, tapi tidak terlalu tinggi. Sekarang air tinggi sekali,” ujar salah seorang warga.

Pantauan di lokasi menunjukkan air laut tidak hanya menggenangi jalan, tetapi juga telah masuk ke permukiman warga. Sejumlah rumah bahkan terendam hingga ke bagian dapur dan seluruh ruang dalam rumah.

Meski kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan, suasana berbeda justru terlihat di kalangan anak-anak.

Mereka memanfaatkan genangan air sebagai tempat bermain, berenang, hingga saling kejar-kejaran di jalanan yang terendam, menghadirkan keceriaan di tengah situasi banjir.

Di sisi lain, tanggul penahan ombak yang dibangun di pesisir pantai tampak tidak mampu menahan luapan air laut.

Ketinggian air yang meningkat akibat faktor musim menyebabkan air melampaui tanggul tersebut.

Warga mengaku kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Banjir rob disebut menjadi fenomena musiman yang semakin parah dari waktu ke waktu, seiring meningkatnya permukaan air laut.

Masyarakat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah untuk penanganan jangka panjang, guna mencegah dampak yang lebih besar terhadap permukiman warga di wilayah pesisir.

Reporter : Faidin

Air Laut Naik ke Badan Jalan Darat Pantai, Jalan Terendam Akses Warga Terganggu

SIKKA, BAJOPOS.COM – Fenomena air laut naik kembali terjadi di Desa Darat Pantai, Dusun Wairuwa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Minggu (22/03/2026) siang.

Air laut terlihat menggenangi badan jalan utama yang biasa dilalui warga, meskipun di sepanjang sisi jalan ditumbuhi tanaman mangrove yang berjejer.

Kondisi genangan air laut yang diperkirakan mencapai 1 kilo meter ini sempat terekam dalam video warga dan viral di media sosial.

Dalam rekaman tersebut, air laut tampak meluap hingga ke jalan, mengganggu aktivitas pengguna kendaraan, khususnya pengendara sepeda motor.

Seorang warga yang melintas dan enggan disebutkan namanya mengaku kesal dengan kondisi tersebut. Ia khawatir air asin yang menggenangi jalan dapat merusak kendaraan.

“Ini kasihan, air laut masuk di jalan di Darat Pantai, motor karat semua yang lewat. Kasihan,” ujarnya dalam video yang beredar.

Menurutnya, kejadian ini bukan pertama kali terjadi. Warga berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan tersebut, mengingat jalan tersebut merupakan akses penting bagi masyarakat setempat.

Sementara itu, upaya konfirmasi telah dilakukan media ini kepada Anggota DPRD Kabupaten Sikka dari daerah pemilihan (Dapil) III yang meliputi wilayah salah satunya Desa Darat Pantai, Fransiskus Parera, yang akrab disapa Pang. Namun hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan belum memberikan keterangan resmi.

Kiriman pesan WhatsApp konfirmasi media ini tampak centang dua warna biru.

Fenomena naiknya air laut ini diduga berkaitan dengan pasang tinggi serta kondisi geografis wilayah pesisir. Meski terdapat mangrove yang berfungsi sebagai penahan abrasi, kenyataannya belum mampu sepenuhnya mencegah air laut masuk ke badan jalan.

Warga berharap adanya langkah konkret, seperti pembangunan tanggul atau penanganan pesisir secara berkelanjutan, guna menghindari kerusakan infrastruktur dan dampak lebih luas terhadap aktivitas masyarakat.

Reporter : Faidin

Tangis Para Janda yang Tumpah: Andaikan Suamiku Masih Hidup

SIKKA, BAJOPOS.COM – Idul Fitri seharusnya menjadi hari paling membahagiakan. Hari ketika pelukan menjadi lebih hangat, tawa terdengar lebih lepas, dan rumah-rumah dipenuhi rasa syukur.

Namun, Sabtu pagi (21/3/2026) di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, kebahagiaan itu berubah menjadi lautan haru.

Tangis tak lagi bisa ditahan, terutama ketika khutbah Idul Fitri yang disampaikan KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. menyentuh satu luka yang paling dalam: kehilangan.

“Wahai para janda… andaikan suamimu masih hidup…”

Kalimat itu terdengar pelan, tetapi menghantam keras. Seolah membuka pintu kenangan yang selama ini berusaha ditutup.

Di antara ribuan jamaah, ada perempuan-perempuan yang berdiri tegar. Wajah mereka rapi, pakaian mereka indah. Namun di balik itu, ada ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh siapa pun.

Hari raya yang dulu mereka sambut bersama pasangan, kini harus dijalani sendiri.

Tak ada lagi sosok yang membangunkan sahur. Tak ada lagi tangan yang menggenggam saat berangkat salat. Tak ada lagi suara yang menyapa di pagi hari raya.

Yang tersisa hanyalah kenangan—dan penyesalan yang datang terlambat.

Dalam khutbahnya, Alifuddin menggambarkan perasaan yang mungkin tak pernah terucap oleh banyak janda.

“Jika suamiku masih ada, aku akan bahagia bersama anak-anakku…”

Kalimat yang tampak sederhana, tetapi menyayat dalam. Karena di baliknya, ada rindu yang tidak akan pernah terjawab. Ada harapan yang tidak mungkin terulang.

Hari itu, banyak yang tak kuasa menahan air mata.

Beberapa jamaah menutup wajah dengan kedua tangan. Ada yang menunduk dalam-dalam, bahunya bergetar. Tangis tidak lagi disembunyikan.

Bukan hanya para janda yang menangis. Mereka yang masih memiliki pasangan pun ikut larut. Karena di saat yang sama, muncul kesadaran yang menyesakkan: Bahwa suatu hari, kehilangan itu bisa datang kepada siapa saja.

Khutbah itu tidak hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga penyesalan.

Penyesalan bagi mereka yang mungkin selama ini masih memiliki pasangan, tetapi belum sepenuhnya menghargai kebersamaan.

Penyesalan bagi mereka yang pernah menyakiti, mengabaikan, atau menunda kasih sayang—hingga waktu tak lagi memberi kesempatan.

“Kenapa aku tidak lebih baik dulu…?”

Pertanyaan itu seolah bergema di dalam hati banyak orang.

Namun semua itu datang ketika waktu tidak bisa diputar kembali.

Idul Fitri yang seharusnya menjadi momen berkumpul, justru menjadi saat paling sunyi bagi sebagian orang. Di rumah-rumah, ada kursi yang kosong. Ada tempat tidur yang tak lagi terisi. Ada suara yang tak lagi terdengar.

Dan di dalam hati, ada rindu yang terus hidup. Rindu yang tidak bisa dipeluk. Rindu yang hanya bisa dipanjatkan lewat doa. Tangis yang mengguyur pagi itu bukan sekadar emosi sesaat.

Ia adalah cermin kehidupan. Bahwa kehilangan bukan cerita orang lain—melainkan sesuatu yang pasti akan datang. Bahwa setiap kebersamaan memiliki batas waktu.

Dan bahwa yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan itu sendiri, tetapi penyesalan yang datang setelahnya.

Di Lapangan Marannu pagi itu, Idul Fitri tidak hanya menghadirkan kebahagiaan.

Ia menghadirkan kesadaran yang dalam—untuk lebih menghargai yang masih ada,
untuk lebih mencintai sebelum terlambat,
dan untuk tidak menunggu kehilangan baru menyadari arti kebersamaan.

Sebab bagi mereka yang telah kehilangan, satu kalimat akan terus hidup dalam hati:

“Andaikan suamiku masih hidup…”

Dan kalimat itu, hari itu, benar-benar mengguyur air mata.

Reporter : Faidin

Personel Polsek Waigete dan Koramil Talibura Amankan Sholat Idul Fitri di Lapangan Nangahale

SIKKA, BAJOPOS.COM – Pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, berlangsung aman dan kondusif pada Sabtu, 21 Maret 2026 pagi.

Sejak pagi hari, ribuan jamaah dari berbagai kemasjidan di wilayah Kecamatan Talibura memadati lokasi untuk menunaikan ibadah Sholat Idul Fitri secara berjamaah. Kehadiran umat Muslim dari berbagai desa tersebut mencerminkan tingginya semangat kebersamaan dalam merayakan hari kemenangan.

Dalam pelaksanaannya, pengamanan dilakukan secara maksimal oleh personel dari Polsek Waigete dan Koramil Talibura yang tampak antusias menjalankan tugas di lapangan.

Kapolsek Waigete, Iptu I Wayan Artawan, S.H turut hadir dan memimpin langsung pengamanan guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar tanpa gangguan.

Kehadiran aparat keamanan memberikan rasa aman dan nyaman bagi para jamaah yang mengikuti ibadah.

Petugas gabungan terlihat melakukan pengaturan arus lalu lintas, penataan parkir kendaraan, serta pengawasan di sekitar lokasi guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan. Koordinasi antara aparat kepolisian dan TNI berjalan baik sehingga situasi tetap terkendali.

Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Baitusshodiq Nangahale, Damsik Raja Ado Pehan, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan aparat keamanan yang telah mendukung kelancaran kegiatan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak Polsek Waigete dan Koramil Talibura yang telah membantu melakukan pengamanan sehingga pelaksanaan Sholat Idul Fitri dapat berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif. Kehadiran ribuan jamaah hari ini juga menunjukkan kuatnya kebersamaan umat di wilayah Talibura,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini tidak terlepas dari kerja sama semua pihak, baik panitia, aparat keamanan, maupun masyarakat.

“Semoga momentum Idul Fitri ini semakin mempererat tali silaturahmi dan persatuan di tengah masyarakat,” tambahnya.

Dengan sinergi antara aparat keamanan, panitia, dan masyarakat, pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Nangahale tahun ini berjalan dengan tertib, aman, dan penuh kekhusyukan.

Reporter : Faidin

Khutbah ‘Id: Hidup Gelisah Karena Keberkahan Hidup yang Tiada, Materi Bukan Pemicu Utama

SIKKA, BAJOPOS.COM – Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (21/3/2026), tidak hanya menyentuh soal kematian dan amal, tetapi juga menyoroti satu persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: kegelisahan hidup.

Di hadapan ribuan jamaah, KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. menyinggung fenomena yang kerap dialami banyak orang—memiliki harta, pekerjaan, bahkan kehidupan yang terlihat mapan, namun tetap merasa tidak tenang.

“Kerja siang malam, tetapi Allah cabut keberkahannya,” ujarnya dalam khutbah.

Pernyataan itu menggambarkan kondisi yang dinilai semakin umum terjadi, di mana usaha yang dilakukan tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan hidup yang dirasakan.

Menurut Alifuddin, kegelisahan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi atau kurangnya materi, tetapi karena hilangnya keberkahan dalam kehidupan.

Ia menjelaskan, keberkahan bukan hanya soal jumlah, tetapi tentang manfaat dan ketenangan yang dirasakan dari apa yang dimiliki.

“Banyak orang tidak tahu ke mana uangnya habis. Rumah ada, tetapi tidak nyaman. Hidup terasa sempit,” katanya.

Fenomena itu, menurutnya, menjadi tanda bahwa ada yang tidak beres dalam hubungan manusia dengan Tuhan.

Dalam khutbahnya, ia menyebut bahwa salah satu bentuk “musibah” yang bisa menimpa manusia bukan hanya bencana alam, tetapi dicabutnya keberkahan dari kehidupan.

Akibatnya, seseorang tetap merasa gelisah meskipun secara lahiriah terlihat berkecukupan.

“Makan ada, tetapi tidak terasa nikmat. Tidur ada, tetapi tidak nyenyak,” ujarnya.

Alifuddin menegaskan, kegelisahan tersebut berkaitan erat dengan kualitas ibadah, khususnya salat. Ia menyebut, hubungan manusia dengan Allah menjadi kunci utama dalam menghadirkan ketenangan hidup.

“Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu,” tegasnya.

Menurutnya, salat bukan sekadar kewajiban, tetapi menjadi fondasi dalam membangun ketenangan batin. Ketika salat dijaga dengan baik, maka aspek kehidupan lainnya akan ikut membaik.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia sering kali membuat manusia lalai. Kesibukan bekerja, mengejar materi, dan memenuhi kebutuhan hidup membuat banyak orang menjauh dari nilai-nilai spiritual.

Padahal, menurutnya, semakin jauh seseorang dari Allah, semakin besar pula potensi kegelisahan yang dirasakan.

“Hidup seperti tidak punya arah, padahal semua ada,” ujarnya.

Khutbah tersebut juga menjadi refleksi setelah bulan Ramadan. Selama Ramadan, banyak umat Islam yang lebih disiplin dalam beribadah, lebih tenang, dan lebih terkontrol dalam menjalani kehidupan.

Namun setelah Ramadan berlalu, kondisi tersebut sering kali tidak bertahan.

“Ramadan melatih kita untuk tenang. Pertanyaannya, apakah itu kita bawa setelahnya?” kata Alifuddin.

Ia menegaskan, ketenangan hidup bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari kedekatan dengan Allah dan konsistensi dalam menjalankan ibadah.

Tanpa itu, menurutnya, manusia akan terus berada dalam kondisi gelisah, meskipun memiliki segala hal yang diinginkan.

Pesan tentang kegelisahan hidup ini menjadi salah satu bagian penting dalam khutbah Idul Fitri di Nangahale. Selain bersifat reflektif, pesan tersebut juga menjadi kritik terhadap pola hidup masyarakat yang cenderung mengejar materi tanpa diimbangi dengan kekuatan spiritual.

Di akhir khutbah, jamaah diajak untuk kembali memperbaiki hubungan dengan Allah sebagai jalan keluar dari kegelisahan yang dirasakan.

Sebab, sebagaimana disampaikan dalam khutbah itu, ketenangan bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada keberkahan yang diberikan.

Reporter : Faidin

Khutbah ‘Id: KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi: Dibelakang Kita Ada Kubur

SIKKA, BAJOPOS.COM – Suasana haru menyelimuti pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (21/3/2026).

Di tengah gema takbir dan kebahagiaan hari raya, khutbah yang disampaikan KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. justru mengajak jamaah menatap satu kenyataan yang kerap dihindari: kematian.

Dalam khutbahnya, Alifuddin menegaskan bahwa kehidupan dunia hanya bersifat sementara, sementara kubur adalah tempat persinggahan pertama menuju kehidupan akhirat.

“Di belakang kita ada kubur. Itulah rumah kita yang sebenarnya,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah.

Kalimat itu terasa jauh lebih kuat, bukan sekadar kiasan. Dari posisi mimbar tempat ia berdiri, hanya berjarak sekitar tiga meter, tampak jelas jejeran kubur di belakangnya.

Tanah-tanah yang telah mengeras, nisan-nisan yang berdiri sunyi, seolah menjadi saksi bisu atas setiap kata yang diucapkan.

Tampak hari itu, jamaah tak hanya mendengar, tetapi juga melihat langsung arah yang dimaksud.

Suasana yang semula penuh suka cita mendadak berubah. Hening. Beberapa jamaah menunduk. Sebagian lainnya mulai meneteskan air mata.

Untuk menguatkan pesannya, Alifuddin menyampaikan sebuah kisah yang menyentuh tentang seorang anak yatim pada hari raya.

Ia menggambarkan seorang anak perempuan kecil yang menangis sendirian di bawah pohon saat Idul Fitri, sementara orang lain bergembira. Pakaiannya kotor, wajahnya penuh kesedihan.

Ketika ditanya, anak itu mengaku telah kehilangan ayahnya yang gugur dalam perjuangan. Ibunya kemudian menikah lagi, dan ia diusir dari rumah.

“Bagaimana aku tidak menangis? Andaikan ayahku masih hidup, aku pasti tidak seperti ini,” demikian kisah yang disampaikan.

Cerita itu membuat suasana semakin emosional. Di tengah kebahagiaan hari raya, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa tidak semua orang merasakan kebahagiaan yang sama.

Dari kisah itu, Alifuddin mengaitkannya dengan realitas kehidupan dan kematian. Ia mengingatkan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali ke tanah, meninggalkan orang-orang yang dicintai.

Di belakang mimbar itu, jejeran kubur seolah menjadi penegas yang tak terbantahkan. “Kubur adalah tempat pertama dari semua tempat di akhirat, sekaligus tempat terakhir dari kehidupan dunia,” katanya.

Ia menegaskan, apa yang dialami seseorang di alam kubur sangat ditentukan oleh amal selama hidup.

Khutbah tersebut juga mengajak jamaah untuk mengingat orang tua dan keluarga yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Ia mempertanyakan keberadaan ibu dan ayah yang dahulu membesarkan, namun kini telah berada di alam kubur—seperti yang tampak di belakangnya pagi itu.

“Di mana ibumu hari ini? Di mana ayahmu?” ucapnya.

Pertanyaan itu menjadi momen paling menyentuh. Banyak jamaah terlihat menutup wajah, mengingat orang tua yang telah tiada. Tangis pun pecah di beberapa barisan.

Alifuddin juga mengingatkan bahwa kematian datang tanpa peringatan. Tidak ada yang bisa memastikan umur seseorang akan sampai pada Ramadan berikutnya. “Kematian datang tiba-tiba, tanpa bisa ditunda,” tegasnya.

Ia menilai, kesadaran akan kematian seharusnya mendorong manusia untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan memperbanyak amal sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah mati.

Dalam khutbahnya, ia kembali menegaskan pentingnya menjaga kualitas ibadah, terutama salat, sebagai fondasi kehidupan. “Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu,” ujarnya.

Pesan itu disampaikan sebagai solusi atas kegelisahan hidup manusia, sekaligus sebagai bekal menghadapi kehidupan di alam kubur.

Khutbah Idul Fitri di Nangahale hari itu tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga momentum refleksi mendalam bagi umat.

Di tengah kebahagiaan hari raya, jamaah diingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Bahwa di balik tawa dan kebersamaan, ada satu kenyataan yang tidak bisa dihindari.

Bahwa suatu hari nanti, setiap orang akan menyusul mereka yang telah lebih dahulu pergi. Dan pagi itu, pengingat itu tidak jauh—hanya berjarak sekitar tiga meter, tepat di belakang mimbar.

Reporter : Faidin

Kampus Ramadan dan Skripsi Takwa: Pesan Tajam di Balik Khutbah Idul Fitri Nangahale

SIKKA, BAJOPOS.COM – Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (21/3/2026), tidak hanya berisi ajakan spiritual, tetapi juga kritik tajam terhadap cara umat memaknai Ramadan.

Dalam khutbahnya, KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. mengibaratkan Ramadan sebagai “kampus” tempat umat Islam dididik selama satu bulan penuh. Sementara Idul Fitri disebutnya sebagai momentum “kelulusan”.

“Saudara-saudara sekalian adalah mahasiswa terbaik lulusan kampus Ramadan,” ujarnya di hadapan jamaah.

Namun pernyataan itu tidak berhenti sebagai pujian. Ia justru diikuti pertanyaan mendasar yang menyentuh inti ibadah Ramadan: apakah umat benar-benar lulus dengan nilai takwa?

Alifuddin menjelaskan, selama Ramadan umat Islam menjalani proses pendidikan yang intens. Mulai dari menahan lapar dan dahaga, mengendalikan emosi, hingga memperbanyak ibadah seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah.

Menurutnya, seluruh rangkaian itu bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan proses pembentukan karakter dan integritas keimanan.

“Puasa itu bukan hanya menahan lapar, tetapi membentuk manusia yang bertakwa,” tegasnya.

Ia menambahkan, berbeda dengan pendidikan formal, hasil dari “kampus Ramadan” tidak diumumkan secara terbuka. Penilaian sepenuhnya menjadi hak Allah.

“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang menilainya,” katanya mengutip hadis qudsi.

Lebih jauh, Alifuddin mengingatkan bahwa Idul Fitri bukan akhir dari proses tersebut. Justru setelah Ramadan, setiap Muslim dihadapkan pada “ujian lanjutan” dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengibaratkan hal itu sebagai “skripsi takwa” yang harus dikerjakan sepanjang hidup.

“Skripsi kita adalah takwa sepanjang hayat,” ujarnya.

Menurutnya, indikator keberhasilan Ramadan tidak hanya terlihat selama bulan puasa, tetapi terutama setelahnya. Konsistensi dalam menjaga salat, kedisiplinan beribadah, serta sikap dalam kehidupan sosial menjadi ukuran utama.

Dalam khutbahnya, ia juga menyinggung fenomena yang kerap terjadi di tengah masyarakat, yakni meningkatnya aktivitas ibadah selama Ramadan, namun menurun drastis setelahnya.

Masjid yang sebelumnya penuh, kembali lengang. Aktivitas keagamaan yang semarak, perlahan memudar.

Hal itu dinilai sebagai tanda bahwa nilai-nilai Ramadan belum sepenuhnya tertanam.

“Jangan sampai kita hanya semangat di bulan Ramadan, tetapi kehilangan arah setelahnya,” kata Alifuddin.

Ia menegaskan, takwa bukan konsep yang berhenti pada satu waktu, melainkan harus terus dijaga dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam pekerjaan, keluarga, maupun interaksi sosial.

Menurutnya, konsistensi tersebut menjadi tantangan utama bagi umat Islam setelah melewati Ramadan.

“Kalau setelah Ramadan kita kembali seperti semula, maka perlu dipertanyakan hasil pendidikan kita selama sebulan,” ujarnya.

Khutbah itu juga mengingatkan jamaah bahwa tidak ada jaminan setiap orang akan kembali bertemu Ramadan di tahun berikutnya. Karena itu, momentum Ramadan harus dimanfaatkan secara maksimal sebagai sarana perbaikan diri.

“Tidak ada yang bisa menjamin kita masih hidup untuk Ramadan berikutnya,” katanya.

Pesan tentang “kampus Ramadan” dan “skripsi takwa” menjadi salah satu bagian paling kuat dalam khutbah tersebut. Selain mengandung makna reflektif, pesan itu juga menjadi kritik sosial terhadap pola keberagamaan yang cenderung musiman.

Di akhir khutbah, Alifuddin mengajak jamaah untuk menjaga nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Idul Fitri benar-benar menjadi titik awal perubahan, bukan sekadar perayaan tahunan.

“Pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing, apa hasil Ramadan yang kita dapatkan,” tutupnya.

Reporter : Faidin