Jum. Jun 5th, 2026

Religi

Sapi Kurban di Kemasjidan An-Nur Nangahale ; PT. Redi 1 Ekor, Jemaah 4 Ekor, BRI 1 dan LazisMu 1

SIKKA, Bajopos.com | Bantuan sejumlah 7 ekor sapi kurban menyisir wilayah Dusun Namandoi, Desa Nangahale, lingkup Kemasjidan An-Nur pada momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

Sejumlah hewan kurban itu, merupakan bantuan dari beberapa donatur dan kelompok jemaah dalam lingkup kemasjidan An-Nur Nangahale.

Dari donatur, salah satunya bantuan berasal dari PT Redi yang menyalurkan satu ekor sapi kurban untuk masyarakat di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Sapi bantuan PT Redi tersebut disembelih di depan rumah Ketua PCM Talibura, Tajudin Obawala, S.Pd., M.Pd, sebelum kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Atas bantuan itu, wargapun turut memberi apresiasi dan limpah terima kasih karena dinilai membantu masyarakat sekaligus memperkuat semangat berbagi di Hari Raya Idul Adha.

4 Ekor dari Kelompok Jemaah An-Nur, 1 Ekor dari BRI

Selain bantuan dari PT Redi, pelaksanaan kurban di wilayah Nangahale dan Talibura tahun ini juga melibatkan berbagai pihak, termasuk kelompok jemaah bentukan Ustadz Abdul Haris di Kemasjidan An-Nur Nangahale.

Sehinga, dari jumlah itu, di halaman Masjid An-Nur Nangahale, total lima ekor sapi disembelih dengan rincian yaitu; empat ekor sapi berasal dari kelompok jemaah Kemasjidan An-Nur. Kelompok ini dibentuk dan dikoordinir oleh Ustadz Abdul Haris melalui sistem kelompok kurban dengan pola menabung (Jastip).

Sementara itu, satu ekor sapi lainnya berasal dari bantuan BRI.

Lima ekor sapi tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar Masjid An-Nur Nangahale.

Bantuan dari LazisMu Uhamka

Selain penyembelihan di halaman Masjid An-Nur Nangahale dan bantuan PT Redi tersebut, satu ekor sapi bantuan dari LazisMu UHAMKA juga disembelih di halaman MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale untuk dibagikan kepada para siswa dan siswi sekolah tersebut.

Ustadz Abdul Haris mengatakan sistem menabung diterapkan untuk mempermudah masyarakat mengikuti kurban tanpa merasa terbebani secara ekonomi.

“Dengan sistem menabung, umat tidak merasa berat ketika tiba waktu berkurban. Sedikit demi sedikit dikumpulkan sampai akhirnya bisa membeli sapi bersama kelompok,” ujarnya, Rabu (27/5/2026).

Menurutnya, pola kelompok kurban tersebut terus dibangun agar semangat berkurban masyarakat tetap tumbuh setiap tahun.

Selain mengoordinasikan kelompok kurban, Ustadz Abdul Haris juga membekali para panitia dengan tata cara penyembelihan yang sesuai syariat Islam dan memperhatikan kesehatan hewan.

Para panitia diberikan pemahaman mulai dari teknik melilit tali pada hewan agar tidak menyiksa, cara merebahkan sapi dengan aman, hingga teknik penyembelihan yang cepat dan tepat.

Bahkan, alat penyembelihan yang digunakan berupa parang dan pisau khusus yang didatangkan dari luar negeri dan memang diperuntukkan khusus untuk penyembelihan hewan kurban.

Ustadz Abdul Haris sendiri merupakan alumni Pondok Merinding, Payaman, Magelang, Jawa Tengah. Pengalaman pendidikan pesantren tersebut menjadi dasar dalam membina masyarakat dan panitia kurban agar pelaksanaan penyembelihan tetap memperhatikan syariat, kebersihan, serta kesejahteraan hewan.

Proses penyembelihan hewan kurban di wilayah Nangahale turut mendapat pengawasan kesehatan hewan dari Dinas Pertanian Kabupaten Sikka.

Petugas Pengawas Hewan Kurban Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, drh. Yosephina Leto Lapilia, mengatakan pihaknya memastikan seluruh proses penyembelihan memenuhi standar kesehatan hewan dan keamanan pangan.

“Kami memastikan hewan kurban yang disembelih sesuai prinsip kesejahteraan hewan dan daging yang dihasilkan aman, sehat, utuh, dan halal,” katanya kepada wartawan.

Ia juga mengapresiasi penerapan standar operasional prosedur (SOP) di lokasi penyembelihan Masjid An-Nur Nangahale yang dinilai telah memiliki fasilitas cukup baik.

“Di Masjid An-Nur sudah ada kandang jepit, tempat penampungan darah, serta pemisahan lokasi pemotongan, pencincangan, dan pengepakan daging sehingga pengolahan limbah lebih baik dan higienis,” ungkapnya.

Reporter : Faidin

Kelompok Bentukan Ust. Abdul Haris di Kemasjidan An-Nur Sukses Adakan 4 Ekor Sapi Kurban Pakai Jastip Cicilan

SIKKA, Bajopos.com | Semangat berkurban umat Islam di Kemasjidan An-Nur Nangahale, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, terus menunjukkan perkembangan positif dari tahun ke tahun.

Berkat koordinasi dan pembinaan yang dilakukan Ustadz Abdul Haris, internal jemaah Masjid An-Nur tahun ini berhasil menyembelih empat ekor sapi kurban dari total 7 ekor.

Keberhasilan tersebut dinilai tidak terlepas dari skema kelompok kurban dengan pola menabung atau yang disebutnya “Jastip Cicilan” yang diterapkan kepada masyarakat sekitar sejak jauh-jauh hari sebelum Hari Raya Idul Adha tiba.

Sistem tersebut mempermudah umat untuk berkurban tanpa merasa terbebani secara ekonomi.

Ustadz Abdul Haris selaku koordinator panitia kurban mengatakan pola menabung atau jastip cicilan menjadi solusi agar semangat berkurban tetap tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi masyarakat.

“Dengan sistem menabung atau jastip, umat tidak merasa berat ketika tiba waktu berkurban. Kalau serentak memang berat untuk kita berkurban, padahal niat kita sudah ada. Sedikit demi sedikit dikumpulkan sampai tiba masanya kurban ya kita sudah ada tabungan,” ujarnya sebelum membawakan materi khutbah Id, Rabu (27/5/2026).

Ia menjelaskan, kekompakan jemaah menjadi kunci utama keberhasilan pelaksanaan kurban di Masjid An-Nur Nangahale.

Untuk diketahui, total ekoran sapi yang dipotong di halaman Masjid An-Nur Nangahale itu sebanyak lima ekor, dimana  empat ekor berasal dari kelompok jemaah Kemasjidan An-Nur, sedangkan satu ekornya merupakan bantuan dari BRI.

Lima ekor sapi tersebut kemudian disembelih di halaman Masjid An-Nur Nangahale untuk selanjutnya dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Pembekalan Kapasitas Panitia Kurban dari Segi Kesehatan dan Syariat

Keberhasilan tersebut juga tidak lepas dari perhatian Ustadz Abdul Haris dalam meningkatkan kapasitas panitia penyembelihan hewan kurban.

Ia tidak hanya mengoordinasikan pengumpulan hewan kurban, tetapi juga terus membekali para panitia dengan tata cara penyembelihan yang ramah dari sisi kesehatan hewan maupun sesuai syariat Islam.

Para panitia diberikan pemahaman mulai dari teknik melilit tali pada hewan agar tidak menyiksa, cara merebahkan sapi dengan aman, hingga teknik penyembelihan yang cepat dan tepat.

Bahkan, alat penyembelihan yang digunakan berupa pedang dan pisau khusus_paling tajam, yang didatangkan dari luar negeri dan memang diperuntukkan khusus untuk penyembelihan hewan kurban.

Ketajaman alat pemotong hewan seperti pedang dan pisau tersebut agar hewan yang disembelih tidak merasa sengsara kesakitan dalam waktu yang begitu lama akibat gorokan petugas penyembelih.

Ustadz Abdul Haris sendiri merupakan alumni Pondok Pesantren (Ponpes) Payaman, Magelang, Jawa Tengah.

Pengalaman pendidikan pesantren tersebut menjadi salah satu dasar dalam membina masyarakat dan panitia kurban agar pelaksanaan penyembelihan tetap memperhatikan nilai syariat, kebersihan, serta kesejahteraan hewan.

Tambahan Sapi Kurban dari Donatur

Selain lima ekor sapi yang dipotong di halaman Masjid An-Nur Nangahale, terdapat tambahan dua ekor sapi kurban lainnya di wilayah tersebut.

Satu ekor sapi bantuan dari LazisMu UHAMKA disembelih dan dibagikan di halaman MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale. Bingkisan sapi kurban ini pembagiannya menyasar para siswa dan siswi aktif di sekolah tersebut.

Sementara, satu ekor sapi lainnya yang berasal dari bantuan PT. Redi disembelih di depan rumah Ketua PCM Talibura, Tajudin Obawala, untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Selain itu, proses penyembelihan hewan kurban di Kemasjidan An-Nur Nangahale juga mendapat pengawasan kesehatan hewan dari Dinas Pertanian Kabupaten Sikka.

Siswa SMK Negeri Talibura jurusan Kesehatan Hewan, Paulinus Vieri Naen, yang ikut melakukan pemeriksaan menjelaskan bahwa tim melakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem terhadap hewan kurban.

“Pemeriksaan antemortem dilakukan untuk memastikan hewan layak dipotong, apakah sakit atau tidak. Sedangkan postmortem dilakukan pada organ-organ seperti ginjal, paru-paru, hati, jantung dan limpa,” jelasnya.

Sementara itu, Petugas Pengawas Hewan Kurban Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, drh. Yosephina Leto Lapilia, mengatakan pihaknya memastikan seluruh proses penyembelihan memenuhi standar kesehatan hewan dan keamanan pangan.

“Kami memastikan hewan kurban yang disembelih sesuai prinsip kesejahteraan hewan dan daging yang dihasilkan aman, sehat, utuh, dan halal,” katanya kepada wartawan.

Ia menjelaskan pemeriksaan antemortem telah dilakukan sejak Selasa (26/5/2026) sore terhadap seluruh hewan kurban di wilayah Desa Nangahale dan sekitarnya.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh hewan dalam kondisi sehat dan layak dipotong,” ujarnya.

Menurut Yosephina, pemeriksaan meliputi suhu tubuh hewan, kondisi fisik mulai dari mata, hidung, kulit, hingga pemeriksaan luka dan umur hewan.

“Untuk hewan kurban sapi, rata-rata harus berumur di atas dua tahun dengan bobot sekitar 200 hingga 300 kilogram,” jelasnya.

Ia juga memastikan seluruh sapi kurban yang dipotong berasal dari wilayah Kecamatan Talibura dan tidak didatangkan dari luar daerah.

Dalam kesempatan itu, Yosephina turut mengapresiasi penerapan standar operasional prosedur (SOP) di lokasi penyembelihan Masjid An-Nur Nangahale yang dinilai telah memiliki fasilitas cukup baik.

“Di Masjid An-Nur sudah ada kandang jepit, tempat penampungan darah, serta pemisahan lokasi pemotongan, pencincangan, dan pengepakan daging sehingga pengolahan limbah lebih baik dan higienis,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan sterilisasi petugas yang menangani daging kurban.

“Petugas yang memotong harus steril, tidak memakai sandal dan tidak boleh merokok saat menangani daging,” tegasnya.

Kegiatan pemotongan dan pembagian hewan kurban tersebut turut dihadiri Ketua PCM Talibura, Tajudin Obawala, S.Pd., M.Pd, dan masyarakat setempat.

Reporter : Faidin

Zulhijah dan Hari Tasyrik: Saat Amal Kecil Bernilai Besar di Hadapan Allah

BULAN ZULHIJAH adalah salah satu musim terbaik bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh. Di bulan inilah gema takbir berkumandang, jutaan umat Islam berkumpul di Tanah Suci menunaikan ibadah haji, dan kaum muslimin di berbagai daerah menyambut Idul Adha dengan ibadah kurban serta mempererat tali persaudaraan.

Namun, kemuliaan Zulhijah sesungguhnya tidak berhenti pada Hari Raya Idul Adha semata. Ada rangkaian hari yang memiliki keutamaan luar biasa, yakni hari-hari tasyrik pada tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah. Hari-hari ini disebut sebagai hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah, sekaligus momentum memperbanyak amal yang dicintai-Nya.

Allah SWT sendiri memberi isyarat tentang kemuliaan hari-hari tersebut dalam Al-Qur’an:

“Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah berikan kepada mereka berupa hewan ternak.” (QS. Al-Hajj: 28)

Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “hari-hari yang telah ditentukan” mencakup hari-hari di bulan Zulhijah, termasuk hari tasyrik yang dipenuhi dengan zikir dan syiar pengagungan kepada Allah.

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:

“Dan berzikirlah kepada Allah pada hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah: 203)

Mayoritas ulama menafsirkan “hari yang berbilang” sebagai hari-hari tasyrik, yakni tiga hari setelah Idul Adha. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, dan berbagai amal kebaikan pada hari-hari tersebut.

Keutamaan Zulhijah semakin ditegaskan melalui hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh pada saat itu lebih dicintai Allah dibanding sepuluh hari pertama Zulhijah.”

Para sahabat bertanya:

“Tidak juga jihad di jalan Allah?”

Rasulullah SAW menjawab:

“Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.” (HR. Bukhari No. 916)

Hadis ini menggambarkan betapa besarnya nilai amal pada hari-hari Zulhijah. Bahkan amal sederhana seperti zikir, sedekah, membaca Al-Qur’an, membantu sesama, atau menjaga silaturahmi dapat memiliki pahala yang sangat agung apabila dilakukan dengan ikhlas.

Para ulama menjelaskan, keutamaan ini tidak hanya berlaku bagi jamaah haji, tetapi juga bagi umat Islam di seluruh dunia. Mereka yang tidak berhaji tetap memiliki kesempatan besar meraih limpahan pahala dengan memperbanyak ibadah dan rasa syukur.

Karena itu, hari tasyrik tidak dipahami hanya sebagai hari menikmati hidangan kurban. Lebih dari itu, ia adalah simbol kebersamaan, syukur, dan penghambaan kepada Allah.

Di banyak tempat, masyarakat berkumpul menikmati masakan dari daging kambing, sapi, atau unta hasil kurban. Tradisi makan bersama menjadi bagian dari syiar kebahagiaan dan kepedulian sosial dalam Islam.

Rasulullah SAW bersabda:

“Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Islam tidak memisahkan spiritualitas dari kehidupan sosial. Bahkan aktivitas makan dan berkumpul bersama keluarga dapat bernilai ibadah ketika dilakukan dalam suasana syukur kepada Allah.

Selain itu, sepuluh hari pertama Zulhijah juga identik dengan puasa sunnah, terutama puasa Tarwiyah dan Arafah. Tentang puasa Arafah, Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Imam Muslim:

“Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim No. 1162)

Keutamaan ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah pada bulan Zulhijah. Melalui ibadah yang tampak sederhana, Allah membuka pintu pengampunan dan pahala yang begitu besar bagi hamba-Nya.

Para ulama juga menegaskan bahwa amal saleh pada hari-hari ini tidak terbatas pada ibadah ritual semata. Menjaga lisan, membantu orang tua, berbagi kepada fakir miskin, mempererat persaudaraan, hingga menghindari pertengkaran juga termasuk amal yang dicintai Allah.

Di tengah kehidupan modern yang penuh kesibukan, Zulhijah hadir sebagai pengingat bahwa manusia membutuhkan ruang untuk kembali mendekat kepada Tuhan.

Takbir yang berkumandang bukan hanya syiar lisan, melainkan seruan agar manusia menyadari kebesaran Allah di atas segala urusan dunia.

Karena itu, hari-hari Zulhijah seharusnya tidak dilewati secara biasa. Ia adalah kesempatan tahunan yang sangat berharga. Sebab dalam keyakinan Islam, belum tentu seseorang kembali bertemu dengan Zulhijah berikutnya.

Momentum ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak selalu ditentukan oleh besarnya amal yang tampak di mata manusia. Terkadang, doa yang lirih, sedekah yang sederhana, atau zikir yang tulus justru menjadi sebab datangnya rahmat dan ampunan-Nya.

Maka ketika gema takbir mulai memenuhi langit, sesungguhnya umat Islam sedang diingatkan untuk kembali memperbaiki hati, memperbanyak syukur, dan meneguhkan penghambaan kepada Allah SWT.

Penulis : Faidin

Qori Desa Hulnani Bersinar, Raih Juara Dua MTQ ke-XXXI Kecamatan Abal

KALABAHI, Bajopos.com – Ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XXXI tingkat Kecamatan Abal yang digelar pada Minggu, 19 April 2026 di Desa Bampalola tidak sekadar menjadi arena perlombaan, tetapi juga panggung pembinaan generasi Qurani yang berkarakter dan berdaya saing.

Kegiatan tahunan tersebut menghadirkan peserta dari berbagai kafilah desa dengan kemampuan yang kian merata. Pada cabang Tilawatil Qur’an tingkat dewasa, persaingan berlangsung ketat sejak babak penyisihan hingga final, menampilkan kualitas bacaan yang mengedepankan ketepatan tajwid, keindahan irama, serta penghayatan ayat suci.

Di tengah kompetisi yang sengit itu, nama Alamudin Oda, Qori asal Desa Hulnani, berhasil mencuri perhatian dewan juri. Ia sukses meraih posisi kedua, sebuah capaian yang tidak hanya membanggakan kafilahnya, tetapi juga menunjukkan hasil dari pembinaan yang konsisten di tingkat desa.

Kafilah Desa Hulnani sendiri dikenal mengandalkan sumber daya manusia lokal dalam proses pembinaan. Strategi ini dinilai efektif dalam membangun kemandirian serta menggali potensi generasi muda untuk tampil di ajang keagamaan.

Alamudin mengungkapkan rasa syukur atas pencapaiannya. Ia menyebut keberhasilan tersebut menjadi pengalaman berharga sekaligus motivasi untuk terus meningkatkan kualitas tilawah di masa mendatang.

“Dengan didapatkannya juara dua ini, saya merasa bangga dan terharu. Terima kasih atas dukungan yang telah diberikan,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).

Capaian ini diharapkan menjadi pemicu semangat bagi generasi muda lainnya di Kecamatan Abal untuk terus mengasah kemampuan membaca Al-Qur’an dan berani tampil dalam ajang serupa.

MTQ pun kembali menegaskan perannya sebagai ruang strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara kompetensi, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai keagamaan.

Reporter: Nursan

KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi Besok Khutbah Idul Fitri di Lapangan Marannu Nangahale

SIKKA, BAJOPOS.COM – Umat Muslim di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, akan melaksanakan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah pada Sabtu, 21 Maret 2026 pagi di Lapangan Marannu.

Menjelang pelaksanaan hari raya tersebut, penceramah kondang KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc dijadwalkan akan mengisi khutbah Idul Fitri dan kehadirannya menjadi perhatian besar masyarakat. Hingga kini, umat Muslim di wilayah sekitar, termasuk panitia penyelenggara, tengah antusias menunggu kedatangan pengkhotbah tersebut yang berdasarkan informasi yang diterima media ini masih dalam perjalanan menuju Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Kehadiran ulama tersebut diperkirakan akan menjadi magnet tersendiri yang menarik ribuan jamaah dari berbagai wilayah di Kecamatan Talibura dan sekitarnya untuk memadati Lapangan Marannu.

Khutbah Idul Fitri nantinya akan disampaikan langsung oleh KH. Alifuddin Al-Ayyubi yang dikenal luas sebagai ulama dengan gaya dakwah yang sejuk, namun dilantunkan dengan suara khas yang tegas sehingga mampu menghidupkan suasana di tengah jamaah. Karakter penyampaian tersebut dinilai mampu menyentuh hati sekaligus membangkitkan semangat spiritual umat dalam merayakan hari kemenangan.

Pelaksanaan sholat dijadwalkan dimulai pukul 07.00 WITA hingga selesai. Panitia telah melakukan berbagai persiapan, mulai dari penataan lokasi lapangan, pengaturan saf jamaah, hingga koordinasi dengan aparat keamanan guna memastikan kegiatan berjalan tertib dan lancar.

Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Baitusshodiq Nangahale, Damsik Raja Ado Pehan, menyampaikan bahwa kehadiran ulama kondang tersebut merupakan bentuk keseriusan panitia dalam memberikan pelayanan terbaik bagi umat Muslim di Nangahale.

“Kami merasa bersyukur karena tahun ini masyarakat Nangahale dapat melaksanakan Sholat Idul Fitri bersama ulama yang memiliki kapasitas keilmuan dan pengalaman dakwah yang luas. Ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas keimanan dan kebersamaan umat,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk memanfaatkan momen Idul Fitri sebagai sarana mempererat tali silaturahmi dan memperkuat persatuan di tengah kehidupan sosial.

“Kami mengimbau jamaah untuk datang lebih awal, menjaga ketertiban, serta bersama-sama menciptakan suasana ibadah yang khusyuk dan penuh kekhidmatan,” tambahnya.

Momentum Idul Fitri ini tidak hanya menjadi penanda berakhirnya ibadah puasa Ramadhan, tetapi juga sebagai titik awal untuk membangun kehidupan yang lebih baik, baik secara spiritual maupun sosial di tengah masyarakat.

Dengan kehadiran KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi dan dukungan penuh dari masyarakat, pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Lapangan Marannu Nangahale diharapkan berlangsung aman, lancar, dan memberikan kesan mendalam bagi seluruh jamaah yang hadir.

Reporter : Faidin

Muhammadiyah Tetapkan Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026

YOGYAKARTA, BAJOPOS.COM – Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026 Masehi. Penetapan tersebut tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.

Penetapan ini didasarkan pada hasil hisab yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dengan menggunakan prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai pedoman penentuan awal bulan dalam kalender hijriah.

Dalam maklumat tersebut dijelaskan bahwa ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis Kliwon, 30 Ramadan 1447 H, bertepatan dengan 19 Maret 2026 pukul 01:23:28 UTC.

Maklumat itu juga menyebutkan bahwa pada saat matahari terbenam di hari ijtimak, telah ada wilayah di muka bumi yang memenuhi parameter kalender global.

Dalam dokumen tersebut dinyatakan, “Pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak terjadi, sebelum pukul 24:00 UTC ada wilayah di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi Bulan ≥ 5° dan elongasi Bulan ≥ 8°.”

Karena parameter tersebut telah terpenuhi, maka awal bulan Syawal ditetapkan keesokan harinya.

Dalam maklumat itu ditegaskan, “Di seluruh dunia tanggal 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Jumat Legi, 20 Maret 2026 M.”

Maklumat tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, serta Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, dan ditetapkan di Yogyakarta pada 22 September 2025.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga menyampaikan bahwa maklumat tersebut menjadi pedoman bagi warga Muhammadiyah dalam melaksanakan ibadah pada bulan Ramadan, Idul Fitri, dan hari besar Islam lainnya.

“Demikian maklumat ini disampaikan agar menjadi panduan bagi warga Muhammadiyah dan dilaksanakan sebagaimana mestinya,” demikian tertulis dalam penutup maklumat tersebut.

Dengan penetapan ini, umat Islam khususnya warga Muhammadiyah kini tinggal menghitung hari menuju Hari Raya Idul Fitri 1447 H setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.(Faidin)

Nantikan Khutbah KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi di Momentum ‘Idul Fitri 1447 H di Lapangan Nangahale

SIKKA, BAJOPOS.COM – Ikatan Remaja Masjid bersama PHBI Masjid Baitusshodiq Nangahale mengajak seluruh umat Muslim untuk menghadiri dan mengikuti pelaksanaan Sholat ‘Idul Fitri 1447 Hijriah yang akan digelar di Lapangan Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan ibadah tahunan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 21 Maret 2026, mulai pukul 07.00 WITA hingga selesai. Meski demikian, jadwal pelaksanaan tetap akan menyesuaikan dengan penetapan resmi Hari Raya ‘Idul Fitri oleh pemerintah.

Sholat ‘Idul Fitri kali ini rencananya akan dipimpin oleh KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. yang sekaligus akan menyampaikan khutbah ‘Idul Fitri.

Wacana terkait kehadiran ulama yang dikenal luas dengan sapaan Ustadz Gondrong ini mendapat antusiasme besar dari masyarakat Muslim di wilayah timur Kabupaten Sikka.

Tak hanya itu, player atau banner yang menginformasikan kedatangan KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi itupun tampak menyebar di beberapa lokasi sekitar, termasuk tersebar di berbagai platform media sosial.

Sementara itu, kehadiran KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi disebut-sebut akan menarik kehadiran jamaah dalam jumlah besar, mengingat baru kali ini Remaja Masjid dan PHBI wilayah timur Kabupaten Sikka menghadirkan penceramah kondang yang begitu terkenal di kalangan mayoritas muslim dalam pelaksanaan Sholat ‘Idul Fitri.

Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Baitusshodiq Nangahale, Damsik Raja Ado Pehan mengatakan bahwa pelaksanaan Sholat ‘Idul Fitri di Lapangan Marannu merupakan bagian kerja sama antara pengurus masjid, remaja masjid, dan masyarakat setempat.

Mendatangkan KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. pun kata Damsik sebagai salah satu upaya memoles kembali suasana ibadah, kekhusyuan dan menggali ilmu agama serta membentuk semangat ibadah umat untuk memotivasi diri.

Selain itu tentunya wacana ini pun dimaksudkan untuk mempererat kebersamaan di tengah umat.

“Kami mengajak seluruh umat Muslim di wilayah Nangahale dan sekitarnya untuk bersama-sama menghadiri dan meramaikan Sholat Idul Fitri ini,” ujar Damsik Raja Ado Pehan.

“Momentum hari kemenangan ini bukan hanya sebagai ibadah, tetapi juga sebagai sarana memperkuat silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat, khususnya di wilayah timur Kabupaten Sikka,” lanjut Damsik yang kerap disapa Aba.

Ia berharap pelaksanaan Sholat Idul Fitri tahun ini dapat berjalan dengan lancar dan menjadi momentum kebersamaan bagi seluruh umat Muslim setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang kebersamaan umat, mempererat persaudaraan, serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan persatuan di tengah masyarakat. Kehadiran jamaah dari berbagai desa tentu akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami sebagai panitia,” tambahnya.

Lebih jauh ia mengimbau jamaah untuk datang lebih awal, membawa perlengkapan sholat masing-masing, serta menjaga ketertiban selama pelaksanaan ibadah berlangsung.

Sholat Idul Fitri di Lapangan Desa Nangahale diperkirakan akan dihadiri lautan jamaah dari berbagai desa di wilayah Timur Kabupaten Sikka guna melaksanakan sholat ‘Id bersama di Lapangan Marannu dan juga menyaksikan secara langsung penyampaian Khutbah dari khotib atau penceramah familiar tersebut.

Jurnalis : Faidin

Ramadhan; Antara Kewajiban, Kemudahan, dan Pembentukan Manusia Bertaqwa

RAMADHAN selalu datang dengan suasana yang khas: masjid lebih ramai, lantunan ayat suci terdengar di berbagai sudut, dan umat Islam berbondong-bondong memperbaiki diri.

Namun, Ramadan tidak boleh hanya dipahami sebagai rutinitas tahunan yang bersifat seremonial. Ia adalah proyek besar pembentukan manusia bertakwa, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah (2): 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini jelas menegaskan bahwa tujuan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membentuk ketakwaan. Dalam hal ini takwa dipandang sebagai kualitas batin yang tidak bisa direkayasa oleh simbol-simbol keagamaan.

Ia lahir dari latihan panjang mengendalikan diri. Puasa menjadi sarana paling konkret untuk itu. Tidak ada yang tahu seseorang benar-benar berpuasa kecuali dirinya dan Allah. Di situlah kejujuran spiritual ditempa.

Namun menariknya, Islam tidak membangun ketakwaan dengan pendekatan kaku dan memaksa.

QS Al-Baqarah (2): 184 menunjukkan sisi keadilan dan kemanusiaan syariat:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۚ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Di sini kita melihat bahwa puasa memang wajib, tetapi ada ruang keringanan bagi yang sakit atau dalam perjalanan. Bahkan bagi yang berat menjalankannya, ada mekanisme fidyah yaitu dengan memberi makan orang miskin.

Inilah wajah Islam yang penuh empati: kewajiban tetap ada, tetapi manusia tidak dipaksa melampaui batas kemampuannya. Keadilan dan kesetaraan berjalan beriringan.

Lebih jauh lagi, Ramadan dimuliakan bukan semata karena puasanya, melainkan karena turunnya Al-Qur’an.

Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah (2): 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Ayat ini menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan petunjuk. Artinya, puasa tanpa interaksi dengan Al-Qur’an berisiko kehilangan ruhnya.

Kita bisa saja menahan lapar, tetapi tanpa membaca dan memahami wahyu, arah perubahan diri menjadi kabur.

Dalam konteks kekinian, Ramadan seharusnya menjadi momentum revolusi literasi Al-Qur’an—bukan sekadar membaca, tetapi juga merenungi dan mengamalkan.

Yang lebih menarik lagi, di tengah rangkaian ayat tentang puasa, Allah menyisipkan ayat tentang doa.

QS Al-Baqarah (2): 186 berbunyi:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Ini bukan kebetulan. Doa adalah inti dari ibadah. Dalam keadaan lapar dan haus, seorang hamba berada pada posisi paling jujur dan paling sadar akan kelemahannya.

Ramadan mengajarkan bahwa Tuhan itu dekat, bukan jauh. Namun kedekatan itu mensyaratkan respons: memenuhi perintah-Nya dan beriman dengan sungguh-sungguh.

Terakhir, QS Al-Baqarah (2): 187 menegaskan keseimbangan hidup:

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ … وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِ …

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak mematikan fitrah manusia. Makan, minum, dan hubungan suami-istri pada malam hari dihalalkan.

Bahkan relasi suami-istri digambarkan sebagai “pakaian” satu sama lain—simbol perlindungan dan kesetaraan. Sehingga inilah bukti bahwa Ramadan bukan ajang menyiksa diri, melainkan latihan menempatkan segala sesuatu pada waktunya.

Sejatinya, Ramadan adalah madrasah tahunan. Ia mendidik kita untuk jujur, disiplin, peduli, dan seimbang.

Jika setelah Ramadan kita tidak menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih peduli kepada sesama, dan lebih dekat kepada Al-Qur’an, mungkin yang berubah hanya jadwal makan kita—bukan karakter kita. Dan di situlah letak tantangan sesungguhnya.

Nyala Obor di Reroroja, Warga Sambut Ramadhan dengan Pesan Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah

SIKKA, BAJOPOS.COM – Ratusan obor menerangi malam di Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur dalam Pawai Obor menyambut bulan suci Ramadhan.

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi tradisi tahunan, tetapi Selasa, 17 Februari malam itu pula merupakan momentum refleksi spiritual bagi masyarakat untuk memaknai kembali arti “cahaya” dalam kehidupan.

Pawai obor tersebut diinisiasi oleh Ustadz H. Al Amin, S.H., M.Pd., Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Amiin Ndete.

Peserta Pawai Obor memasuki lorong-lorong pemukiman warga. 

Dalam tausiyahnya di sela kegiatan, ia menegaskan bahwa obor yang dibawa warga hanyalah simbol dari cahaya yang lebih hakiki.

“Obor ini adalah simbol. Penerang yang sesungguhnya adalah ketika kita kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Barangsiapa berpegang teguh pada keduanya, maka ia tidak akan tersesat selamanya,” ujar Al Amin di hadapan peserta pawai.

Ia mengingatkan, Ramadhan menjadi momentum tepat untuk memperkuat literasi Al-Qur’an serta membangun akhlak sesuai tuntunan sunnah. Menurutnya, banyak persoalan kehidupan muncul karena manusia kehilangan kompas moral, sehingga perlu kembali pada nilai-nilai dasar ajaran Islam.

Suasana semakin khidmat saat rombongan tiba di kawasan Pelabuhan Bongkar Ikan. Di lokasi yang menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat itu, Al Amin menyampaikan pesan agar umat Islam tidak berhenti pada kesalehan ritual semata.

“Jadilah pribadi dengan ruang cakrawala yang luas. Milikilah pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni, sehingga keberadaan kita mampu memberikan kontribusi nyata bagi semesta, sebagai wujud Islam rahmatan lil ‘alamin,” tuturnya.

Pesan tersebut disambut antusias peserta, terutama generasi muda yang mengikuti pawai. Kegiatan ini dinilai menjadi media edukasi bahwa menyambut Ramadhan tidak hanya dengan seremoni, tetapi juga dengan semangat transformasi diri.

Pawai obor ditutup dengan doa bersama untuk keberkahan Kabupaten Sikka selama bulan Ramadhan. Warga berharap, cahaya iman yang dinyalakan melalui kegiatan ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, melampaui padamnya api obor di tangan mereka.(Faidin)

Ramadhan 2026, Muhammadiyah Tarawih Dimulai Malam Ini

JAKARTA, BAJOPOS.COM – Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Dengan penetapan tersebut, warga Muhammadiyah mulai melaksanakan salat tarawih pada Selasa malam, 17 Februari 2026.

Keputusan itu tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H. Penetapan dilakukan berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang digunakan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Melalui pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Muhammadiyah menetapkan awal bulan hijriah apabila hilal telah memenuhi kriteria secara global dan konjungsi terjadi sebelum fajar di wilayah tertentu. Dengan dasar tersebut, 1 Ramadan 1447 H ditetapkan lebih awal dibandingkan perkiraan pemerintah.

Artinya, malam ini warga Muhammadiyah di berbagai daerah mulai menggelar salat tarawih berjamaah di masjid maupun musala. Sejumlah pengurus masjid Muhammadiyah juga telah menyiapkan rangkaian ibadah Ramadan, mulai dari kajian, tadarus Al-Qur’an hingga program sosial.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama masih akan menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadan berdasarkan metode rukyatul hilal dan hisab dengan kriteria MABIMS.

Perbedaan penetapan awal Ramadan merupakan dinamika yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Muhammadiyah menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil ijtihad keagamaan yang didasarkan pada perhitungan astronomi.

Dengan dimulainya tarawih malam ini, warga Muhammadiyah menyambut Ramadan 1447 H dengan harapan bulan suci menjadi momentum memperkuat keimanan, kepedulian sosial, dan persaudaraan umat.(Faidin)

Moderasi dan Kebersamaan Warnai Gema Ramadhan di Lamakera

FLORES TIMUR, BAJOPOS.COM – Menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Madrasah Aliyah Negeri 2 Flores Timur mengambil peran dalam kegiatan Gema Ramadhan yang dikemas dalam pawai ta’aruf di wilayah Lamakera, Jumat (13/2/2026).

Kegiatan yang melibatkan civitas madrasah bersama sekolah lain dan elemen masyarakat se-Lamakera itu menjadi ruang perjumpaan lintas kalangan dalam suasana religius yang inklusif.

Pawai dimulai dari Watobuku, bergerak menuju Musholla Baburrahman Motonwutun, dan berakhir di Masjid Al Ijtihad Lamakera.

Berbeda dari sekadar seremoni tahunan, pawai tersebut menonjolkan praktik moderasi beragama di lingkungan pendidikan. Guru serta pegawai non-Muslim turut ambil bagian, memperlihatkan semangat toleransi yang hidup dalam keseharian madrasah.

Seluruh peserta mengenakan busana muslim dan mengikuti kegiatan secara tertib sebagai bagian dari syiar menyambut Ramadhan.

Imam Masjid Al Ijtihad Lamakera, Ibrahim R. Dasi, secara resmi melepas rombongan pawai. Ia berharap momentum ini semakin mempererat ukhuwah Islamiyah dan kebersamaan masyarakat dalam memasuki bulan suci.

Sepanjang rute, kegiatan diisi dengan penampilan seni dan budaya Islami, mulai dari marching band hingga lantunan sholawat. Nuansa religius berpadu dengan ekspresi kreatif peserta didik, menjadikan pawai sebagai ruang pembelajaran terbuka di tengah masyarakat.

Bagi siswa MAN 2 Flores Timur, keterlibatan dalam Gema Ramadhan tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga melatih kepercayaan diri, kedisiplinan, kerja sama, serta kepedulian sosial. Madrasah menilai pengalaman langsung di ruang publik menjadi bagian penting dari pembinaan karakter moderat dan toleran.

Keikutsertaan dalam kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen MAN 2 Flores Timur mendukung penguatan moderasi beragama dan harmoni sosial, sejalan dengan arah kebijakan pendidikan Kementerian Agama dalam membangun generasi berkarakter dan inklusif.(Faidin)