Kam. Apr 16th, 2026

Religi

KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi Besok Khutbah Idul Fitri di Lapangan Marannu Nangahale

SIKKA, BAJOPOS.COM – Umat Muslim di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, akan melaksanakan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah pada Sabtu, 21 Maret 2026 pagi di Lapangan Marannu.

Menjelang pelaksanaan hari raya tersebut, penceramah kondang KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc dijadwalkan akan mengisi khutbah Idul Fitri dan kehadirannya menjadi perhatian besar masyarakat. Hingga kini, umat Muslim di wilayah sekitar, termasuk panitia penyelenggara, tengah antusias menunggu kedatangan pengkhotbah tersebut yang berdasarkan informasi yang diterima media ini masih dalam perjalanan menuju Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Kehadiran ulama tersebut diperkirakan akan menjadi magnet tersendiri yang menarik ribuan jamaah dari berbagai wilayah di Kecamatan Talibura dan sekitarnya untuk memadati Lapangan Marannu.

Khutbah Idul Fitri nantinya akan disampaikan langsung oleh KH. Alifuddin Al-Ayyubi yang dikenal luas sebagai ulama dengan gaya dakwah yang sejuk, namun dilantunkan dengan suara khas yang tegas sehingga mampu menghidupkan suasana di tengah jamaah. Karakter penyampaian tersebut dinilai mampu menyentuh hati sekaligus membangkitkan semangat spiritual umat dalam merayakan hari kemenangan.

Pelaksanaan sholat dijadwalkan dimulai pukul 07.00 WITA hingga selesai. Panitia telah melakukan berbagai persiapan, mulai dari penataan lokasi lapangan, pengaturan saf jamaah, hingga koordinasi dengan aparat keamanan guna memastikan kegiatan berjalan tertib dan lancar.

Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Baitusshodiq Nangahale, Damsik Raja Ado Pehan, menyampaikan bahwa kehadiran ulama kondang tersebut merupakan bentuk keseriusan panitia dalam memberikan pelayanan terbaik bagi umat Muslim di Nangahale.

“Kami merasa bersyukur karena tahun ini masyarakat Nangahale dapat melaksanakan Sholat Idul Fitri bersama ulama yang memiliki kapasitas keilmuan dan pengalaman dakwah yang luas. Ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas keimanan dan kebersamaan umat,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk memanfaatkan momen Idul Fitri sebagai sarana mempererat tali silaturahmi dan memperkuat persatuan di tengah kehidupan sosial.

“Kami mengimbau jamaah untuk datang lebih awal, menjaga ketertiban, serta bersama-sama menciptakan suasana ibadah yang khusyuk dan penuh kekhidmatan,” tambahnya.

Momentum Idul Fitri ini tidak hanya menjadi penanda berakhirnya ibadah puasa Ramadhan, tetapi juga sebagai titik awal untuk membangun kehidupan yang lebih baik, baik secara spiritual maupun sosial di tengah masyarakat.

Dengan kehadiran KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi dan dukungan penuh dari masyarakat, pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Lapangan Marannu Nangahale diharapkan berlangsung aman, lancar, dan memberikan kesan mendalam bagi seluruh jamaah yang hadir.

Reporter : Faidin

Muhammadiyah Tetapkan Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026

YOGYAKARTA, BAJOPOS.COM – Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026 Masehi. Penetapan tersebut tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.

Penetapan ini didasarkan pada hasil hisab yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dengan menggunakan prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai pedoman penentuan awal bulan dalam kalender hijriah.

Dalam maklumat tersebut dijelaskan bahwa ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis Kliwon, 30 Ramadan 1447 H, bertepatan dengan 19 Maret 2026 pukul 01:23:28 UTC.

Maklumat itu juga menyebutkan bahwa pada saat matahari terbenam di hari ijtimak, telah ada wilayah di muka bumi yang memenuhi parameter kalender global.

Dalam dokumen tersebut dinyatakan, “Pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak terjadi, sebelum pukul 24:00 UTC ada wilayah di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi Bulan ≥ 5° dan elongasi Bulan ≥ 8°.”

Karena parameter tersebut telah terpenuhi, maka awal bulan Syawal ditetapkan keesokan harinya.

Dalam maklumat itu ditegaskan, “Di seluruh dunia tanggal 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Jumat Legi, 20 Maret 2026 M.”

Maklumat tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, serta Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, dan ditetapkan di Yogyakarta pada 22 September 2025.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga menyampaikan bahwa maklumat tersebut menjadi pedoman bagi warga Muhammadiyah dalam melaksanakan ibadah pada bulan Ramadan, Idul Fitri, dan hari besar Islam lainnya.

“Demikian maklumat ini disampaikan agar menjadi panduan bagi warga Muhammadiyah dan dilaksanakan sebagaimana mestinya,” demikian tertulis dalam penutup maklumat tersebut.

Dengan penetapan ini, umat Islam khususnya warga Muhammadiyah kini tinggal menghitung hari menuju Hari Raya Idul Fitri 1447 H setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.(Faidin)

Nantikan Khutbah KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi di Momentum ‘Idul Fitri 1447 H di Lapangan Nangahale

SIKKA, BAJOPOS.COM – Ikatan Remaja Masjid bersama PHBI Masjid Baitusshodiq Nangahale mengajak seluruh umat Muslim untuk menghadiri dan mengikuti pelaksanaan Sholat ‘Idul Fitri 1447 Hijriah yang akan digelar di Lapangan Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan ibadah tahunan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 21 Maret 2026, mulai pukul 07.00 WITA hingga selesai. Meski demikian, jadwal pelaksanaan tetap akan menyesuaikan dengan penetapan resmi Hari Raya ‘Idul Fitri oleh pemerintah.

Sholat ‘Idul Fitri kali ini rencananya akan dipimpin oleh KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. yang sekaligus akan menyampaikan khutbah ‘Idul Fitri.

Wacana terkait kehadiran ulama yang dikenal luas dengan sapaan Ustadz Gondrong ini mendapat antusiasme besar dari masyarakat Muslim di wilayah timur Kabupaten Sikka.

Tak hanya itu, player atau banner yang menginformasikan kedatangan KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi itupun tampak menyebar di beberapa lokasi sekitar, termasuk tersebar di berbagai platform media sosial.

Sementara itu, kehadiran KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi disebut-sebut akan menarik kehadiran jamaah dalam jumlah besar, mengingat baru kali ini Remaja Masjid dan PHBI wilayah timur Kabupaten Sikka menghadirkan penceramah kondang yang begitu terkenal di kalangan mayoritas muslim dalam pelaksanaan Sholat ‘Idul Fitri.

Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Baitusshodiq Nangahale, Damsik Raja Ado Pehan mengatakan bahwa pelaksanaan Sholat ‘Idul Fitri di Lapangan Marannu merupakan bagian kerja sama antara pengurus masjid, remaja masjid, dan masyarakat setempat.

Mendatangkan KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. pun kata Damsik sebagai salah satu upaya memoles kembali suasana ibadah, kekhusyuan dan menggali ilmu agama serta membentuk semangat ibadah umat untuk memotivasi diri.

Selain itu tentunya wacana ini pun dimaksudkan untuk mempererat kebersamaan di tengah umat.

“Kami mengajak seluruh umat Muslim di wilayah Nangahale dan sekitarnya untuk bersama-sama menghadiri dan meramaikan Sholat Idul Fitri ini,” ujar Damsik Raja Ado Pehan.

“Momentum hari kemenangan ini bukan hanya sebagai ibadah, tetapi juga sebagai sarana memperkuat silaturahmi dan ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat, khususnya di wilayah timur Kabupaten Sikka,” lanjut Damsik yang kerap disapa Aba.

Ia berharap pelaksanaan Sholat Idul Fitri tahun ini dapat berjalan dengan lancar dan menjadi momentum kebersamaan bagi seluruh umat Muslim setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang kebersamaan umat, mempererat persaudaraan, serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan persatuan di tengah masyarakat. Kehadiran jamaah dari berbagai desa tentu akan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami sebagai panitia,” tambahnya.

Lebih jauh ia mengimbau jamaah untuk datang lebih awal, membawa perlengkapan sholat masing-masing, serta menjaga ketertiban selama pelaksanaan ibadah berlangsung.

Sholat Idul Fitri di Lapangan Desa Nangahale diperkirakan akan dihadiri lautan jamaah dari berbagai desa di wilayah Timur Kabupaten Sikka guna melaksanakan sholat ‘Id bersama di Lapangan Marannu dan juga menyaksikan secara langsung penyampaian Khutbah dari khotib atau penceramah familiar tersebut.

Jurnalis : Faidin

Ramadhan; Antara Kewajiban, Kemudahan, dan Pembentukan Manusia Bertaqwa

RAMADHAN selalu datang dengan suasana yang khas: masjid lebih ramai, lantunan ayat suci terdengar di berbagai sudut, dan umat Islam berbondong-bondong memperbaiki diri.

Namun, Ramadan tidak boleh hanya dipahami sebagai rutinitas tahunan yang bersifat seremonial. Ia adalah proyek besar pembentukan manusia bertakwa, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah (2): 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini jelas menegaskan bahwa tujuan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membentuk ketakwaan. Dalam hal ini takwa dipandang sebagai kualitas batin yang tidak bisa direkayasa oleh simbol-simbol keagamaan.

Ia lahir dari latihan panjang mengendalikan diri. Puasa menjadi sarana paling konkret untuk itu. Tidak ada yang tahu seseorang benar-benar berpuasa kecuali dirinya dan Allah. Di situlah kejujuran spiritual ditempa.

Namun menariknya, Islam tidak membangun ketakwaan dengan pendekatan kaku dan memaksa.

QS Al-Baqarah (2): 184 menunjukkan sisi keadilan dan kemanusiaan syariat:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۚ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Di sini kita melihat bahwa puasa memang wajib, tetapi ada ruang keringanan bagi yang sakit atau dalam perjalanan. Bahkan bagi yang berat menjalankannya, ada mekanisme fidyah yaitu dengan memberi makan orang miskin.

Inilah wajah Islam yang penuh empati: kewajiban tetap ada, tetapi manusia tidak dipaksa melampaui batas kemampuannya. Keadilan dan kesetaraan berjalan beriringan.

Lebih jauh lagi, Ramadan dimuliakan bukan semata karena puasanya, melainkan karena turunnya Al-Qur’an.

Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah (2): 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Ayat ini menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan petunjuk. Artinya, puasa tanpa interaksi dengan Al-Qur’an berisiko kehilangan ruhnya.

Kita bisa saja menahan lapar, tetapi tanpa membaca dan memahami wahyu, arah perubahan diri menjadi kabur.

Dalam konteks kekinian, Ramadan seharusnya menjadi momentum revolusi literasi Al-Qur’an—bukan sekadar membaca, tetapi juga merenungi dan mengamalkan.

Yang lebih menarik lagi, di tengah rangkaian ayat tentang puasa, Allah menyisipkan ayat tentang doa.

QS Al-Baqarah (2): 186 berbunyi:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Ini bukan kebetulan. Doa adalah inti dari ibadah. Dalam keadaan lapar dan haus, seorang hamba berada pada posisi paling jujur dan paling sadar akan kelemahannya.

Ramadan mengajarkan bahwa Tuhan itu dekat, bukan jauh. Namun kedekatan itu mensyaratkan respons: memenuhi perintah-Nya dan beriman dengan sungguh-sungguh.

Terakhir, QS Al-Baqarah (2): 187 menegaskan keseimbangan hidup:

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ … وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِ …

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak mematikan fitrah manusia. Makan, minum, dan hubungan suami-istri pada malam hari dihalalkan.

Bahkan relasi suami-istri digambarkan sebagai “pakaian” satu sama lain—simbol perlindungan dan kesetaraan. Sehingga inilah bukti bahwa Ramadan bukan ajang menyiksa diri, melainkan latihan menempatkan segala sesuatu pada waktunya.

Sejatinya, Ramadan adalah madrasah tahunan. Ia mendidik kita untuk jujur, disiplin, peduli, dan seimbang.

Jika setelah Ramadan kita tidak menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih peduli kepada sesama, dan lebih dekat kepada Al-Qur’an, mungkin yang berubah hanya jadwal makan kita—bukan karakter kita. Dan di situlah letak tantangan sesungguhnya.

Nyala Obor di Reroroja, Warga Sambut Ramadhan dengan Pesan Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah

SIKKA, BAJOPOS.COM – Ratusan obor menerangi malam di Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur dalam Pawai Obor menyambut bulan suci Ramadhan.

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi tradisi tahunan, tetapi Selasa, 17 Februari malam itu pula merupakan momentum refleksi spiritual bagi masyarakat untuk memaknai kembali arti “cahaya” dalam kehidupan.

Pawai obor tersebut diinisiasi oleh Ustadz H. Al Amin, S.H., M.Pd., Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Amiin Ndete.

Peserta Pawai Obor memasuki lorong-lorong pemukiman warga. 

Dalam tausiyahnya di sela kegiatan, ia menegaskan bahwa obor yang dibawa warga hanyalah simbol dari cahaya yang lebih hakiki.

“Obor ini adalah simbol. Penerang yang sesungguhnya adalah ketika kita kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Barangsiapa berpegang teguh pada keduanya, maka ia tidak akan tersesat selamanya,” ujar Al Amin di hadapan peserta pawai.

Ia mengingatkan, Ramadhan menjadi momentum tepat untuk memperkuat literasi Al-Qur’an serta membangun akhlak sesuai tuntunan sunnah. Menurutnya, banyak persoalan kehidupan muncul karena manusia kehilangan kompas moral, sehingga perlu kembali pada nilai-nilai dasar ajaran Islam.

Suasana semakin khidmat saat rombongan tiba di kawasan Pelabuhan Bongkar Ikan. Di lokasi yang menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat itu, Al Amin menyampaikan pesan agar umat Islam tidak berhenti pada kesalehan ritual semata.

“Jadilah pribadi dengan ruang cakrawala yang luas. Milikilah pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni, sehingga keberadaan kita mampu memberikan kontribusi nyata bagi semesta, sebagai wujud Islam rahmatan lil ‘alamin,” tuturnya.

Pesan tersebut disambut antusias peserta, terutama generasi muda yang mengikuti pawai. Kegiatan ini dinilai menjadi media edukasi bahwa menyambut Ramadhan tidak hanya dengan seremoni, tetapi juga dengan semangat transformasi diri.

Pawai obor ditutup dengan doa bersama untuk keberkahan Kabupaten Sikka selama bulan Ramadhan. Warga berharap, cahaya iman yang dinyalakan melalui kegiatan ini terus menyala dalam kehidupan sehari-hari, melampaui padamnya api obor di tangan mereka.(Faidin)

Ramadhan 2026, Muhammadiyah Tarawih Dimulai Malam Ini

JAKARTA, BAJOPOS.COM – Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Dengan penetapan tersebut, warga Muhammadiyah mulai melaksanakan salat tarawih pada Selasa malam, 17 Februari 2026.

Keputusan itu tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H. Penetapan dilakukan berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang digunakan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Melalui pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Muhammadiyah menetapkan awal bulan hijriah apabila hilal telah memenuhi kriteria secara global dan konjungsi terjadi sebelum fajar di wilayah tertentu. Dengan dasar tersebut, 1 Ramadan 1447 H ditetapkan lebih awal dibandingkan perkiraan pemerintah.

Artinya, malam ini warga Muhammadiyah di berbagai daerah mulai menggelar salat tarawih berjamaah di masjid maupun musala. Sejumlah pengurus masjid Muhammadiyah juga telah menyiapkan rangkaian ibadah Ramadan, mulai dari kajian, tadarus Al-Qur’an hingga program sosial.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama masih akan menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadan berdasarkan metode rukyatul hilal dan hisab dengan kriteria MABIMS.

Perbedaan penetapan awal Ramadan merupakan dinamika yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Muhammadiyah menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil ijtihad keagamaan yang didasarkan pada perhitungan astronomi.

Dengan dimulainya tarawih malam ini, warga Muhammadiyah menyambut Ramadan 1447 H dengan harapan bulan suci menjadi momentum memperkuat keimanan, kepedulian sosial, dan persaudaraan umat.(Faidin)

Moderasi dan Kebersamaan Warnai Gema Ramadhan di Lamakera

FLORES TIMUR, BAJOPOS.COM – Menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Madrasah Aliyah Negeri 2 Flores Timur mengambil peran dalam kegiatan Gema Ramadhan yang dikemas dalam pawai ta’aruf di wilayah Lamakera, Jumat (13/2/2026).

Kegiatan yang melibatkan civitas madrasah bersama sekolah lain dan elemen masyarakat se-Lamakera itu menjadi ruang perjumpaan lintas kalangan dalam suasana religius yang inklusif.

Pawai dimulai dari Watobuku, bergerak menuju Musholla Baburrahman Motonwutun, dan berakhir di Masjid Al Ijtihad Lamakera.

Berbeda dari sekadar seremoni tahunan, pawai tersebut menonjolkan praktik moderasi beragama di lingkungan pendidikan. Guru serta pegawai non-Muslim turut ambil bagian, memperlihatkan semangat toleransi yang hidup dalam keseharian madrasah.

Seluruh peserta mengenakan busana muslim dan mengikuti kegiatan secara tertib sebagai bagian dari syiar menyambut Ramadhan.

Imam Masjid Al Ijtihad Lamakera, Ibrahim R. Dasi, secara resmi melepas rombongan pawai. Ia berharap momentum ini semakin mempererat ukhuwah Islamiyah dan kebersamaan masyarakat dalam memasuki bulan suci.

Sepanjang rute, kegiatan diisi dengan penampilan seni dan budaya Islami, mulai dari marching band hingga lantunan sholawat. Nuansa religius berpadu dengan ekspresi kreatif peserta didik, menjadikan pawai sebagai ruang pembelajaran terbuka di tengah masyarakat.

Bagi siswa MAN 2 Flores Timur, keterlibatan dalam Gema Ramadhan tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga melatih kepercayaan diri, kedisiplinan, kerja sama, serta kepedulian sosial. Madrasah menilai pengalaman langsung di ruang publik menjadi bagian penting dari pembinaan karakter moderat dan toleran.

Keikutsertaan dalam kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen MAN 2 Flores Timur mendukung penguatan moderasi beragama dan harmoni sosial, sejalan dengan arah kebijakan pendidikan Kementerian Agama dalam membangun generasi berkarakter dan inklusif.(Faidin)

Top 5 most overrated players in the Premier League 2019-20


A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart.

I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents.

I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents.

I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now.

When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and flies, then I feel the presence of the Almighty, who formed us in his own image, and the breath of that universal love which bears and sustains us, as it floats around us in an eternity of bliss; and then, my friend, when darkness overspreads my eyes, and heaven and earth seem to dwell in my soul and absorb its power, like the form of a beloved mistress, then I often think with longing, Oh, would I could describe these conceptions, could impress upon paper all that is living so full and warm within me, that it might be the mirror of my soul, as my soul is the mirror of the infinite God!

O my friend — but it is too much for my strength — I sink under the weight of the splendour of these visions! A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine.

I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents. I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and

The heart of Nintendo’s new console isn’t the Switch


A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart.

I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents.

I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents.

I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now.

When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and flies, then I feel the presence of the Almighty, who formed us in his own image, and the breath of that universal love which bears and sustains us, as it floats around us in an eternity of bliss; and then, my friend, when darkness overspreads my eyes, and heaven and earth seem to dwell in my soul and absorb its power, like the form of a beloved mistress, then I often think with longing, Oh, would I could describe these conceptions, could impress upon paper all that is living so full and warm within me, that it might be the mirror of my soul, as my soul is the mirror of the infinite God!

O my friend — but it is too much for my strength — I sink under the weight of the splendour of these visions! A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine.Paragraph

I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents. I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and