Jum. Jun 5th, 2026

Ekonomi

BBIS Noekele Bangkitkan Budidaya Air Tawar NTT, Ratusan Kilo Nila Mulai Serbu Pasar Kupang

KUPANG, Bajopos.com | Di tengah dominasi sektor kelautan yang selama ini melekat pada Nusa Tenggara Timur (NTT), Balai Benih Ikan Sentral (BBIS) Noekele justru menunjukkan wajah lain pembangunan perikanan di daerah kepulauan ini.

Dari kolam budidaya air tawar di Kabupaten Kupang, ratusan kilogram ikan nila siap konsumsi mulai mengalir ke pasar dan kolam pemancingan, menandai bangkitnya kembali budidaya ikan konsumsi yang sempat terhenti sejak 2022.

Minggu (11/5/2026), BBIS Noekele yang dikelola Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT resmi memulai penjualan perdana ikan air tawar hasil penebaran benih pada 20 Desember 2025 lalu.

Pada hari pertama, sebanyak 221 kilogram ikan nila berhasil dipasarkan dari total estimasi panen mencapai 400 kilogram.

Hasil produksi tersebut langsung disalurkan kepada konsumen dan pengelola kolam pemancingan di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang, sekaligus menjadi sinyal meningkatnya kebutuhan ikan segar air tawar di wilayah NTT.

Plh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT, Merry M. Foenay, A.Pi., M.Pi., hadir langsung di lokasi panen bersama Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan PRL Muhammad Saleh Goro, S.Pi., M.Pi., serta jajaran teknis BBIS Noekele.

Menurut Merry, keberhasilan panen dan penjualan perdana ini menjadi bukti bahwa sektor perikanan air tawar di NTT memiliki potensi besar untuk berkembang, meski daerah ini selama ini dikenal sebagai provinsi maritim.

“BBIS Noekele tidak hanya menghasilkan benih unggul, tetapi juga mulai mengambil peran sebagai penyedia ikan konsumsi untuk menjaga stabilitas harga dan memperkuat ketahanan pangan daerah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengelolaan BBIS Noekele kini diarahkan menggunakan teknologi budidaya modern, mulai dari sistem pengairan yang lebih efektif, efisiensi pakan, hingga penggunaan indukan unggul yang adaptif terhadap kondisi lingkungan lokal.

Melalui penerapan teknologi tersebut, produktivitas budidaya ditargetkan meningkat hingga 40 persen dibanding metode konvensional, dengan tingkat kelangsungan hidup ikan di atas 85 persen.

Tak hanya fokus pada produksi konsumsi, BBIS Noekele juga diproyeksikan menjadi pusat distribusi benih unggul air tawar di NTT. Tahun 2026 ini, balai tersebut menargetkan produksi 500 ribu ekor benih untuk disebarkan ke kabupaten/kota di seluruh wilayah NTT.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan PRL, Muhammad Saleh Goro, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan konsep pengembangan kawasan berbasis pelatihan pembudidaya dan ekowisata terpadu.

“Kami ingin BBIS Noekele menjadi pusat pembinaan masyarakat pembudidaya ikan di desa-desa. Ke depan, kolam pembesaran juga diarahkan menjadi lokasi pemancingan eksklusif yang terintegrasi dengan sektor pertanian dan ekowisata,” katanya.

Menurutnya, teknologi budidaya dan benih bersertifikasi CPIB dari BBIS Noekele akan terus didistribusikan melalui kolaborasi bersama dinas perikanan kabupaten/kota di seluruh NTT agar masyarakat binaan mampu meningkatkan produksi dan pendapatan.

Pemerintah Provinsi NTT sendiri menempatkan sektor budidaya perikanan air tawar sebagai salah satu program prioritas dalam Roadmap Pembangunan Perikanan 2026–2030. Program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan ikan dari luar daerah.

Panen dan penjualan perdana tersebut turut disaksikan Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP NTT, A. Andy Amuntoda, S.Pi. Sebagian hasil panen langsung dipasok ke pasar induk Kupang, sementara distribusi benih untuk wilayah Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, dan Malaka dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat melalui program Bioflock Tematik Ditjen Perikanan Budidaya.

Kebangkitan budidaya ikan konsumsi di BBIS Noekele kini menjadi penanda bahwa sektor perikanan darat di NTT mulai bergerak menuju arah baru: bukan sekadar penopang pangan, tetapi juga motor ekonomi masyarakat pedalaman dan pesisir di kawasan timur Indonesia.

Reporter : Faidin

Sinyal Kuat Swasembada Pangan: Produksi Naik, Cadangan Beras Cetak Rekor

JAKARTA, Bajopos.com | Keyakinan terhadap kemampuan Indonesia mewujudkan swasembada pangan semakin menemukan pijakan yang kuat. Kondisi pangan nasional dinilai tidak hanya aman, tetapi juga menunjukkan perkembangan signifikan dalam beberapa indikator utama.

Tenaga Ahli DPR RI Komisi II, Roger Evantino, menegaskan bahwa capaian saat ini mencerminkan peningkatan kapasitas produksi dalam negeri yang cukup solid.

Data resmi menunjukkan cadangan beras nasional kini berada pada titik tertinggi sepanjang sejarah. Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan produksi dari sekitar 30 juta ton menjadi lebih dari 34 juta ton, yang menghasilkan surplus cukup besar.

“Artinya bahwa ada surplus sekitar 3,5 juta ton, sehingga kita tidak melakukan impor beras. Stok pangan kita masih sangat tersedia untuk saat ini,” ujar Roger, Selasa (28/4/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikator bahwa kebutuhan domestik dapat dipenuhi tanpa bergantung pada impor, setidaknya untuk komoditas beras dalam periode terakhir.

Dalam perspektif global, Roger merujuk pada standar Food and Agriculture Organization (FAO) yang mendefinisikan swasembada pangan sebagai kemampuan negara memenuhi minimal 90 persen kebutuhan pangannya secara mandiri.

Jika mengacu pada 11 komoditas strategis dalam Perpres Nomor 125 Tahun 2022, Indonesia saat ini hanya mengandalkan impor sekitar 5 persen dari total kebutuhan nasional yang berkisar 68–70 juta ton per tahun.

Angka tersebut dinilai jauh di bawah ambang batas 10 persen yang masih ditoleransi dalam parameter swasembada.

“Kalau kita melihatnya secara utuh, bukan parsial, maka hari ini Indonesia sudah berada pada fase swasembada pangan,” ujar alumnus pascasarjana Universitas Pertahanan itu.

Meski demikian, Roger tidak menutup mata terhadap sejumlah tantangan yang masih dihadapi. Empat komoditas Utama seperti daging, kedelai, susu, dan bawang putih masih bergantung pada pasokan luar negeri karena produksi dalam negeri belum mampu mengejar kebutuhan.

Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan menjadi faktor utama yang terus diupayakan untuk diperbaiki.

Di sisi lain, transparansi data menjadi aspek penting dalam menjaga kepercayaan publik. Pemerintah dinilai tepat dengan melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai penyedia data independen. Dengan demikian, klaim surplus tidak berhenti pada narasi, tetapi didukung oleh kondisi riil di lapangan.

Roger bahkan menyebut hasil pengecekan langsung ke gudang-gudang Bulog di berbagai daerah menunjukkan lonjakan stok yang signifikan, hingga melebihi kapasitas penyimpanan yang tersedia.

Optimisme terhadap swasembada pangan juga diperkuat oleh pendekatan pembangunan berbasis wilayah.

Pemerintah mendorong setiap daerah untuk mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, tanpa bergantung pada distribusi antar pulau. Strategi ini dinilai lebih relevan dengan karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

Tak hanya itu, keterkaitan antara sektor pangan dan energi juga menjadi perhatian penting. Menurut Roger, peningkatan produksi pertanian tidak bisa dilepaskan dari dukungan energi, baik untuk operasional alat pertanian maupun pengembangan energi terbarukan berbasis komoditas pangan.

Topang MBG

Dalam konteks program prioritas nasional, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG), Roger memastikan bahwa ketersediaan pangan saat ini cukup untuk menopang kebutuhan ke depan.

Pada tahun 2026 saja, program ini diperkirakan membutuhkan hampir 2 juta ton beras. Dampaknya tidak hanya pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menggerakkan ekonomi hingga puluhan triliun rupiah, khususnya di sektor pertanian.

“Ini bukan hanya soal konsumsi, tetapi juga menciptakan pasar yang jelas bagi petani. Dampaknya langsung terasa di tingkat bawah,” jelasnya.

Lebih jauh, ia menyoroti peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 125,4 sebagai bukti bahwa kebijakan pangan saat ini berdampak langsung pada kesejahteraan petani.

Meski harga pangan di sejumlah daerah masih mengalami fluktuasi, Roger menilai hal tersebut merupakan dinamika yang masih bisa dikendalikan.

Pemerintah memiliki instrumen seperti Harga Pokok Produksi (HPP) dan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen.

Secara keseluruhan, capaian ini disebut sebagai hasil dari kombinasi kebijakan strategis, penguatan basis data, serta kerja lintas sektor yang berjalan konsisten.

“Ini bukan titik akhir, tetapi fondasi awal menuju kemandirian pangan yang lebih kokoh,” tutupnya.

Reporter : Petrus Fidelis Ngo

Kabupaten Sikka Disiapkan Jadi Hub Tuna Nasional

SIKKA, Bajopos.com – Setelah sehari sebelumnya menjejak Kampung Nelayan Merah Putih di Sulamu, Kabupaten Kupang, langkah Sakti Wahyu Trenggono belum berhenti.

Kamis (26/2/2026), ia berdiri di pesisir Nangahure Lembah, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Maumere, menatap hamparan laut yang diproyeksikan menjadi simpul baru ekonomi nelayan di Flores bagian timur.

Kunjungan itu bukan sekadar seremoni. Di lokasi Kampung Nelayan Merah Putih Wuring, Menteri Kelautan dan Perikanan melihat langsung titik yang akan ditata menjadi kawasan terpadu.

“Ini salah satu lokasi yang akan dibangun kampung nelayan merah putih. Kemarin di Kupang dan hari ini ke Sikka. Saya minta kampung nelayan bisa didaftarkan untuk kita cek dan evaluasi untuk kita integrasikan,” ujar Trenggono.

Ia menegaskan, kampung nelayan bukan hanya deretan bangunan, melainkan ekosistem ekonomi. Di atas lahan itu direncanakan berdiri sedikitnya 18 fasilitas penting: gerbang utama, akses jalan, masjid, pos jaga, bengkel nelayan, kios perbekalan dan kios pemasaran, tempat pembuangan sampah, kantor pengelola, SPDN, TPI, docking, MCK, tambatan perahu, pabrik es, cold storage, menara tangki air hingga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Tak berhenti di infrastruktur, Kementerian juga menyiapkan skema pasar. “Nantinya akan ada offtaker, pihak yang membeli produk dari nelayan. Kami juga akan memberikan bantuan kapal di bawah lima gross ton,” ungkapnya. Kapal fiberglass berukuran 5 GT itu, menurutnya, akan disesuaikan jumlahnya dengan kebutuhan.

Trenggono mengakui baru pertama kali berkunjung ke Kabupaten Sikka. Namun ia telah mendengar reputasi Sikka sebagai salah satu pusat perikanan tuna. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah segera menyiapkan lahan agar seluruh fasilitas bisa dibangun terintegrasi. Anggaran yang disiapkan berkisar Rp13 miliar hingga Rp22 miliar.

Di hadapan pemerintah daerah, ia juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan. Penangkapan ikan harus dijaga agar tetap lestari sehingga generasi mendatang tetap menikmati hasil laut.

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, menyambut kunjungan tersebut sebagai sinyal kuat keseriusan pemerintah pusat. Menurutnya, kehadiran langsung menteri di lokasi menjadi kabar gembira bagi daerah.

“Kami diminta segera membuat konsep. Sudah pasti akan dibangun kampung nelayan di wilayah ini,” ujarnya.

Juventus juga mengungkapkan, Menteri meminta data 68 desa pesisir di Sikka untuk dipetakan bersama, termasuk melibatkan Lanal Maumere. Nantinya akan ditentukan desa mana yang menjadi pusat (hub) dan mana yang menjadi penyangga.

Gambaran besarnya, satu kawasan akan menjadi inti distribusi dan pengolahan, sementara desa-desa lain menopang produksi. Bahkan, ada harapan satu daerah di Flores bagian timur bisa menjadi hub yang mengoordinasikan potensi kelautan dan perikanan secara kolaboratif.

“Sekarang di depan mata kita, kita kerjakan dulu apa yang diminta KKP agar bisa segera direalisasikan,” pungkasnya.

Dari pesisir Wuring, gagasan besar itu mulai dirajut—membangun bukan hanya kampung nelayan, tetapi poros baru ekonomi laut di timur Indonesia.(Faidin)

 

Menteri Trenggono Turun ke Sikka, Uji Kesiapan Lahan Kampung Nelayan Terpadu

SIKKA, Bajopos.com – Kunjungan kerja Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono ke Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Kamis (26/2/2026), bukan sekadar agenda seremonial.

Kehadirannya untuk meninjau calon lokasi kampung nelayan di Nangahure Lembah, Kelurahan Wuring, menjadi penentu awal apakah daerah ini benar-benar siap masuk dalam peta prioritas pembangunan nasional sektor kelautan.

Menteri dijadwalkan tiba dari Kupang di Bandara Frans Seda Maumere sekitar pukul 07.30 WITA, lalu langsung bergerak ke lokasi pesisir di sebelah barat pangkalan Lanal Maumere, Kecamatan Alok Barat.

Titik tersebut diusulkan sebagai kawasan kampung nelayan terpadu—sebuah konsep pembangunan terintegrasi yang menjadi program strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sikka, Paulus Hilarius Bangkur, menjelaskan kunjungan yang semula direncanakan Rabu (25/2/2026) ditunda sehari.

Meski demikian, ia menilai kehadiran langsung Menteri merupakan sinyal kuat perhatian pusat terhadap potensi perikanan Flores Utara.

“Biasanya survei awal dilakukan tim teknis. Kali ini Menteri turun langsung melihat kondisi lapangan,” ujarnya.

Namun, di balik optimisme itu, tantangan mendasar masih membayangi: ketersediaan lahan minimal satu hektare sesuai ketentuan program kampung nelayan.

Nangahure saat ini hanya memiliki sekitar 6.000 meter persegi. Tiga lokasi lain yang diajukan—Desa Reroroja, Desa Wolomarang, dan Desa Nangahale—juga belum sepenuhnya memenuhi syarat. Bahkan, beberapa titik memerlukan reklamasi pantai akibat keterbatasan lahan kosong milik desa atau kelurahan.

Selain empat titik kampung nelayan, DKP Sikka juga mengusulkan dua lokasi kampung budidaya rumput laut di Desa Parumaan dan Desa Kojadoi, wilayah kepulauan yang selama ini menggantungkan aktivitas ekonomi pada sektor maritim.

Artinya, keputusan akhir bukan hanya soal potensi hasil tangkapan, tetapi juga kesiapan tata ruang dan legalitas lahan.

Jika memenuhi kriteria, kampung nelayan seluas satu hektare itu akan dilengkapi fasilitas strategis: dermaga, Tempat Pelelangan Ikan (TPI), gudang pendingin (cold storage), pabrik es, bengkel nelayan, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), sarana UMKM, hingga perumahan nelayan.

Skema ini dirancang untuk memutus ketergantungan nelayan kepulauan terhadap fasilitas di daratan seperti Kota Maumere dan Nangahale, terutama untuk pengisian BBM dan air bersih.

“Di Nangahure banyak kapal nelayan, termasuk nelayan pemancing tuna. Jika kampung nelayan dibangun, tentu akan sangat bermanfaat,” kata Paulus.

Sementara itu, kawasan Bebeng di Kelurahan Wolomarang—yang sebelumnya pernah dikunjungi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka—masuk dalam konsep kawasan ekonomi perikanan. Proposalnya telah diajukan, namun pemerintah pusat masih memprioritaskan penganggaran melalui APBN untuk program kampung nelayan secara nasional.

Kunjungan Menteri KKP ke Sikka dengan demikian menjadi momen krusial. Bukan hanya tentang survei lokasi, tetapi juga tentang adu kesiapan daerah dalam memenuhi standar program pusat.

Kini, publik pesisir Sikka menanti hasil penilaian teknis KKP. Apakah Nangahure mampu memenuhi syarat luas lahan dan aspek teknis lainnya? Jika ya, kawasan ini berpeluang menjadi simpul baru pertumbuhan ekonomi nelayan di Flores Utara.

Jika tidak, Sikka harus kembali menata strategi agar tidak tertinggal dalam gelombang pembangunan sektor kelautan nasional.(Faidin)

Gubernur NTT Daftar Jadi Anggota KSP Obor Mas

SIKKA, BAJOPOS.COM – Komitmen memperkuat ekonomi kerakyatan di Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali ditegaskan melalui kunjungan kerja ke Kantor Pusat KSP Obor Mas di Jalan Kesehatan, Maumere, Kamis (12/2/2026).

Dalam kunjungan tersebut, rombongan Pemerintah Provinsi NTT bersama Pemerintah Kabupaten Sikka dan DPRD NTT mendorong penguatan koperasi sekaligus memastikan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) berjalan transparan dan tepat sasaran.

Kunjungan itu dihadiri bersama Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago dan Wakil Ketua DPRD NTT Roby Tulus. Rombongan disambut langsung oleh General Manager KSP Obor Mas, Leonardus Frediyanto Moat Lering, bersama jajaran manajemen dan karyawan.

Dalam pertemuan tersebut, dilakukan peninjauan aktivitas operasional koperasi, dialog bersama pengurus dan karyawan, serta pemaparan mengenai peran strategis KSP Obor Mas dalam mendukung pembiayaan UMKM dan memperluas inklusi keuangan di NTT.

Ditegaskan bahwa koperasi harus menjadi pilar utama ekonomi kerakyatan. Karena itu, penguatan tata kelola, digitalisasi layanan keuangan, serta peningkatan literasi masyarakat dinilai menjadi langkah penting agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas.

Sebagai bentuk dukungan nyata, dalam kesempatan itu juga dilakukan pendaftaran sebagai anggota KSP Obor Mas. Langkah tersebut disebut sebagai simbol komitmen Pemerintah Provinsi NTT dalam memperkuat koperasi berbasis komunitas sebagai motor penggerak ekonomi rakyat.

Selain itu, penyaluran KUR di NTT ditegaskan harus benar-benar menyentuh masyarakat miskin dan pelaku usaha mikro yang membutuhkan. Pengawasan akan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan pemerintah provinsi, kabupaten/kota, DPRD hingga DPR RI agar setiap rupiah yang disalurkan berdampak langsung pada pemberdayaan dan pengembangan usaha rakyat.

Pemerintah Provinsi NTT juga berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi dan inovasi guna memperluas akses pembiayaan. Sinergi antara program KUR dan penguatan koperasi seperti KSP Obor Mas dinilai sebagai langkah konkret untuk menekan angka kemiskinan, memperkuat UMKM, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah.(Faidin)