Kam. Apr 16th, 2026

Qultum

Menjemput Ramadhan yang Makbul: Pesan Qultum Ustadz Haris di Masjid An-Nur

SIKKA, Bajopos.com – Memasuki sepuluh malam terakhir bulan suci Ramadhan, umat Muslim diajak untuk semakin memperbanyak amal dan memohon agar seluruh ibadah diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Pesan itu disampaikan oleh Ustadz Haris dalam kuliah tujuh menit (qultum) usai Sholat Isya menjelang Sholat Tarawih di Masjid An-Nur Nangahale, Selasa (10/3/2026) malam.

Ustadz Haris yang merupakan alumni Pondok Pesantren Dakwah Darul Muhlasin, Kerincing, Payaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mengawali ceramahnya dengan mengingatkan jamaah bahwa Ramadhan kini telah memasuki fase sepuluh malam terakhir.

Menurutnya, momen tersebut harus disyukuri karena tidak semua orang diberi kesempatan untuk sampai pada penghujung Ramadhan.

“Sebentar lagi Ramadhan akan pergi meninggalkan kita. Maka yang pertama harus kita lakukan adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat yang sangat mulia ini, yaitu nikmat amal,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan bahwa amal kebaikan merupakan satu-satunya bekal yang akan menemani manusia setelah meninggal dunia. Harta benda, kendaraan, bahkan kekayaan dunia tidak akan ikut masuk ke dalam kubur.

“Motor tidak masuk kubur, duit tidak masuk kubur, pulsa juga tidak masuk kubur. Yang masuk kubur hanyalah amal,” kata Ustadz Haris.

Karena itu, ia mengajak jamaah untuk mensyukuri kesempatan beramal selama Ramadhan dan memohon agar seluruh ibadah diterima oleh Allah.

Harapan Amal yang Makbul

Dalam ceramahnya, Ustadz Haris juga menjelaskan makna diterimanya amal oleh Allah. Ia menyinggung istilah mabrur bagi orang yang menunaikan ibadah haji dan makbul bagi amal lainnya.

Keduanya, menurut dia, memiliki makna yang sama, yaitu amal yang diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ia mengutip doa yang sering dibaca dalam Sholat Tarawih yang memohon agar umat Muslim termasuk golongan orang yang beruntung dan amalnya diterima.

“Ya Allah jadikanlah kami di bulan Ramadhan ini termasuk orang-orang yang beruntung, yang amalnya diterima oleh-Mu,” ujarnya mengutip doa tersebut.

Ia juga mengingatkan agar umat Muslim tidak termasuk golongan orang yang amalnya tertolak.

“Tanda amal yang diterima adalah dimudahkannya seseorang melakukan amal berikutnya,” katanya.

Ia mencontohkan, ketika seseorang mampu menjaga Sholat Dzuhur dengan baik, maka Allah akan memudahkan ia menunaikan Sholat Ashar, kemudian Maghrib, dan seterusnya.

Perubahan Setelah Ramadhan

Ustadz Haris juga menegaskan bahwa tanda diterimanya Ramadhan adalah adanya perubahan dalam diri seseorang setelah bulan suci tersebut berakhir.

Ia memberikan analogi bagi orang yang pulang dari ibadah haji. Jika hajinya mabrur, maka akan terlihat perubahan perilaku setelah kembali ke tanah air.

“Kalau tidak ada perubahan, itu bukan haji mabrur, tapi mabur, terbang saja,” ujarnya disambut senyum jamaah.

Hal yang sama, lanjutnya, juga berlaku bagi Ramadhan. Bila ibadah Ramadhan diterima, maka seseorang akan menjadi pribadi yang lebih baik setelahnya.

Ia mengutip nasihat ulama yang mengingatkan agar umat Islam menjadi hamba yang robbani, yaitu hamba yang berorientasi kepada Allah dalam setiap amalnya, bukan hanya menjadi hamba “Ramadhani” yang semangat beribadah hanya selama bulan Ramadhan.

“Jangan sampai setelah Ramadhan selesai, semangat ibadah juga hilang,” katanya.

Pentingnya Menjaga Lisan

Dalam qultumnya, Ustadz Haris juga mengingatkan jamaah untuk menjaga lisan selama bulan Ramadhan. Menurutnya, ucapan manusia memiliki dampak besar, apalagi ketika di bulan Ramadhan doa-doa lebih mudah dikabulkan.

Ia menjelaskan bahwa para malaikat diperintahkan untuk mengamini doa orang-orang yang berdoa di bulan Ramadhan. Karena itu, kata-kata yang keluar dari mulut harus dijaga.

“Jangan sampai mulut kita mengeluarkan kata-kata kotor, memaki, atau mengutuk orang lain,” katanya.

Ia bahkan menyinggung kebiasaan sebagian orang tua yang marah kepada anak dengan kata-kata kasar. Menurutnya, hal tersebut sebaiknya diganti dengan doa yang baik.

Untuk memperjelas pesan tersebut, ia menceritakan kisah masa kecil Imam Masjidil Haram, Syekh Abdurrahman As-Sudais.

Menurutnya, ketika kecil, As-Sudais dikenal sebagai anak yang sulit diatur. Namun sang ibu tidak memarahinya dengan kata-kata kasar.

Sebaliknya, ibunya justru mendoakan agar kelak ia menjadi imam di masjid besar. Doa itu kemudian benar-benar terwujud ketika As-Sudais menjadi imam di Masjidil Haram.

“Semoga para orang tua bisa meneladani hal itu, mengganti kemarahan dengan doa yang baik untuk anak-anaknya,” ujar Ustadz Haris.

Doa di Penghujung Ramadhan

Menutup qultumnya, Ustadz Haris mengajak jamaah untuk memperbanyak doa di sisa Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi.

Ia menekankan bahwa setiap Muslim perlu memohon secara pribadi kepada Allah agar seluruh ibadah Ramadhan diterima.

“Jangan hanya berharap dari doa imam ketika Tarawih. Kita masing-masing juga harus memohon kepada Allah agar Ramadhan kita diterima,” katanya.

Ia berharap Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang makbul dan membawa perubahan kebaikan bagi setiap Muslim.

“Semoga Allah menerima Ramadhan kita tahun ini dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan berikutnya,” ujarnya menutup ceramah.(Faidin)

Hilla; Bulan Ramadhan Momentum Menjaga Sholat dan Perbanyak Istigfar

SIKKA, Bajopos.com – Bulan Suci Ramadhan merupakan momentum terbaik bagi umat manusia dalam menjaga sholat dan memperbanyak beristigfar.

Demikian disampaikan Hilla, santri asal Pondok Al-Muttaqin Kerincing, Magelang dalam kuliah tujuh menit (Qultum) di Masjid An-Nur Nangahale pada Sabtu malam (7/3/2026) usai Sholat Isya.

Dalam ceramah singkatnya di hadapan jamaah, Hilla mengingatkan pentingnya memanfaatkan bulan suci Ramadhan sebagai momentum memperbanyak ibadah dan memperbaiki kualitas keimanan.

Ia membuka kultum dengan mengajak jamaah bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang masih memberikan kesempatan kepada umat Islam untuk kembali bertemu dengan Ramadhan, bulan yang dikenal sebagai bulan rahmat, ampunan, dan keberkahan.

Menurutnya, dalam sebuah hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam disebutkan bahwa antara satu Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya dapat menjadi penghapus dosa seorang hamba selama ia menjauhi dosa-dosa besar.

Hilla kemudian menyinggung salah satu bentuk dosa besar yang sering diabaikan, yakni meninggalkan Sholat. Padahal Sholat merupakan kewajiban utama yang diperintahkan langsung oleh Allah kepada setiap muslim.

Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Islam, Sholat memiliki kedudukan yang sangat penting karena menjadi amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat.

“Apabila Sholat seseorang baik, maka baik pula seluruh amalnya. Namun jika Sholatnya rusak, maka rusak pula amal-amal lainnya,” ujar Hilla dalam ceramahnya.

Lebih lanjut, ia juga mengingatkan jamaah tentang besarnya keutamaan ibadah di bulan Ramadhan. Menurutnya, Allah melipatgandakan pahala setiap amal kebaikan yang dilakukan oleh hamba-Nya pada bulan tersebut.

Amalan sunnah di bulan Ramadhan, kata dia, dapat bernilai seperti amalan wajib di bulan lainnya. Sementara amalan wajib akan dilipatgandakan pahalanya berkali-kali lipat oleh Allah.

Karena itu, ia mengajak umat Islam untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, termasuk dengan menjaga Sholat berjamaah di masjid yang memiliki keutamaan hingga 27 derajat dibandingkan Sholat sendirian.

Di akhir qultumnya, Hilla juga mengajak jamaah untuk mengisi waktu di bulan Ramadhan dengan memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah dalam setiap kesempatan.

Menurutnya, memperbanyak istighfar merupakan salah satu cara membersihkan diri dari dosa serta mendekatkan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan memberikan keberkahan di bulan Ramadhan ini,” tutupnya.(Faidin)

(QULTUM) Makna Taqwa dan Tiga Dimensi Kecerdasan Ummat

SIKKA, BAJOPOS.COM – Momentum Ramadhan dimanfaatkan untuk memperkuat pemahaman keagamaan umat. Hal itu terlihat dalam kuliah tujuh menit (Qultum) yang disampaikan Risman di Masjid An-Nur Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Jumat (21/02/2026) usai sholat Isya, menjelang pelaksanaan shalat Tarawih.

Di hadapan jamaah, Risman mengajak umat Islam untuk mensyukuri nikmat kesehatan, kekuatan, serta kesempatan yang masih diberikan Allah SWT sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dan amalan lainnya di bulan suci Ramadhan.

“Sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT karena atas kasih sayang-Nya kita masih dimudahkan menjalankan puasa dan ibadah lainnya. Semoga seluruh amal ibadah kita diridhai hingga akhir hayat,” ujarnya.

Puasa dan Orientasi Ketaqwaan

Dalam tausyiahnya, Risman menyoroti tujuan utama puasa sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui frasa la‘allakum tattaqun (agar kamu bertakwa). Menurutnya, pesan tersebut menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi sarana pembentukan karakter muslim yang bertakwa.

Ia menjelaskan bahwa takwa selama ini sering dimaknai sebagai menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Namun, makna tersebut perlu dipahami secara lebih komprehensif agar berdampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Agama mengatur dua hubungan besar, yakni hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesamanya. Ketika dua hal ini berjalan seimbang, maka itulah wujud takwa yang sebenarnya,” katanya.

Ilmu, Adab, dan Tradisi Keilmuan

Risman juga menyinggung pentingnya adab dalam menuntut ilmu agama. Ia mengisahkan bagaimana pada masa sahabat, seseorang rela menunggu di depan rumah gurunya dan tertidur hingga esok harinya hanya untuk mempelajari satu hadits. Ketekunan dan penghormatan kepada orang berilmu (guru) menjadi kunci dalam memperoleh keberkahan ilmu.

Menurutnya, ilmu agama saat ini terbuka luas untuk dipelajari, namun tetap membutuhkan kesungguhan dan etika. “Ilmu itu tidak cukup hanya didengar, tetapi perlu keseriusan dan adab dalam mempelajarinya,” ujarnya.

Tiga Dimensi Ketaqwaan

Lebih jauh, Risman menguraikan bahwa ketakwaan dapat dipahami melalui tiga dimensi utama.

Pertama, dimensi intelektual. Umat Islam didorong menggunakan akal untuk memahami ajaran agama, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui seruan agar manusia berpikir. Ilmu menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran beragama yang benar.

Kedua, dimensi spiritual. Ilmu yang harus diwujudkan dalam bentuk amal ibadah. Tanpa pengamalan, ilmu hanya menjadi pengetahuan yang tidak memberi dampak nyata.

Ketiga, dimensi sosial-emosional. Ketakwaan juga tercermin dalam kemampuan menjaga hubungan dengan sesama, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, serta membangun harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.

“Ada orang yang berilmu dan rajin beribadah, tetapi kurang menjaga hubungan sosial. Ini menunjukkan bahwa ketakwaannya belum sempurna, yang demikian belumlah cukup,” tegasnya.

Keteladanan Rasulullah

Sebagai ilustrasi, Risman mengangkat kisah Nabi Muhammad SAW yang pernah melihat seorang pemuda keliru dalam melaksanakan shalat. Rasulullah tidak langsung menegur di tengah pelaksanaan shalat, melainkan menunggu hingga selesai, lalu membimbingnya dengan penuh kelembutan.

Pendekatan tersebut, menurutnya, menjadi contoh nyata bagaimana dakwah dijalankan dengan kebijaksanaan, tanpa menyakiti hati.

“Jika ada kesalahan, luruskan dengan cara yang santun, lalu ajarkan. Itulah akhlak Rasulullah,” ujarnya.

Qultum yang berlangsung singkat itu memberi pesan bahwa Ramadhan merupakan momentum membangun ketakwaan secara menyeluruh—tidak hanya dalam aspek ritual, tetapi juga dalam kecerdasan berpikir, kedalaman spiritual, serta kematangan sosial.

Reporter : Faidin

(QULTUM) Imam Masjid An-Nur : Ramadhan sebagai Momentum Taubat dan Bekal Akhirat

SIKKA, BAJOPOS.COM – Imam Masjid An-Nur Nangahale, H. Muhammad Badri, mengajak umat Islam untuk memaksimalkan bulan suci Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri dan memperbanyak amal saleh. Pesan tersebut disampaikannya saat mengisi kultum (kuliah tujuh menit) dari mimbar Masjid An-Nur Nangahale pada malam salat tarawih. Kamis, 19/02/2026 malam.

Dalam tausiyahnya, H. Muhammad Badri mengawali dengan ungkapan syukur karena masih diberi kesempatan bertemu dengan bulan suci Ramadhan. Menurutnya, pertemuan dengan Ramadhan adalah bukti kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya.

“Kita patut bersyukur karena tidak semua orang diberi kesempatan bertemu Ramadhan. Maka syukur itu harus dibuktikan dengan mengamalkan apa yang diperintahkan Allah,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia menegaskan, sangat merugi seseorang yang bertemu Ramadhan tetapi tidak memanfaatkannya untuk bertaubat. Setiap manusia, kata dia, pasti akan meninggalkan dunia ini tanpa terkecuali.

“Orang kaya mati, orang miskin mati, pejabat mati, rakyat biasa pun mati. Yang dinilai oleh Allah hanyalah ketakwaan kita,” tegasnya.

Menurutnya, ketakwaan tercermin dari sikap hati-hati dalam menggunakan nikmat Allah, baik berupa harta maupun waktu. Orang yang benar-benar takut kepada Allah akan memanfaatkan keduanya sesuai dengan tuntunan-Nya.

H. Muhammad Badri juga mengingatkan bahwa Ramadhan merupakan kesempatan emas untuk menebus kelalaian di masa lalu. Allah memberikan berbagai amalan dengan pahala berlipat ganda, seperti membaca Al-Qur’an dan bersedekah.

Ia mengutip sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang tidak terputus meski seseorang telah wafat:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

Ia menjelaskan, sedekah jariyah adalah amalan yang manfaatnya terus dirasakan, seperti pembangunan masjid atau fasilitas umum. Ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir pahalanya ketika diamalkan dan diajarkan kembali. Sementara doa anak saleh menjadi penolong bagi orang tua di alam kubur.

“Rugi sekali jika sebelum meninggal kita tidak meninggalkan salah satu dari tiga amalan tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, bahkan para ulama yang memiliki banyak murid tetap merasa takut kepada Allah. Terlebih lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dijamin kemuliaannya, tetap menunjukkan ketundukan dan rasa takut yang luar biasa kepada Allah. Apalagi manusia biasa yang penuh dosa, sudah seharusnya lebih banyak bermuhasabah.

Dalam kesempatan itu, jamaah juga diingatkan agar tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat, sementara ibadah seperti salat tarawih justru diabaikan. Menurutnya, belum tentu seseorang dapat kembali bertemu Ramadhan di tahun berikutnya, bahkan belum tentu mampu menyelesaikan Ramadhan tahun ini.

“Jangan hanya sibuk memperbaiki urusan dunia, sementara akhirat kita abaikan. Dunia akan kita tinggalkan, tetapi amal akan menjadi bekal selamanya,” pesannya.

Menutup kultum, H. Muhammad Badri mengajak jamaah memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya dan memperbanyak amal sebagai persiapan menghadapi kematian.

“Semoga yang benar datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan segala kekurangan berasal dari saya sebagai manusia biasa,” tutupnya.

Reporter : Faidin
Editor : Redaksi

(QULTUM) Ustadz Abdul Haris Tekankan Pentingnya Niat Dalam Tiap Amal

SIKKA, BAJOPOS.COM – Ustadz Abdul Haris menegaskan pentingnya niat dalam pelaksanaan puasa Ramadan saat menyampaikan kuliah tujuh menit (qultum) di Masjid An-Nur Nangahale, pada rangkaian salat tarawih awal Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi. Rabu, 18/02/2026 usai sholat isya berjama’ah.

Dalam ceramahnya, ia mengawali dengan mengajak jamaah bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk kembali bertemu Ramadan dan melaksanakan salat tarawih.

“Ini semata-mata pertolongan Allah untuk kita. Pilihan Allah untuk kita. Karena ada orang-orang yang tahun lalu masih ikut Ramadan dengan kita, mungkin sekarang sudah tidak ada,” ujarnya.

Ia juga menyinggung salah satu pengisi qultum di masjid tersebut yang telah wafat beberpa hari menjelang Ramadhan ini (almarhum H. Patahere, red). Menurutnya, kematian menjadi pengingat bahwa setiap orang tidak mengetahui kapan akan dipanggil oleh Allah SWT.

Menurut Ustadz Abdul Haris, Almarhum dalam ingatannya sempat menyampaikan persoalan niat puasa, seingatnya di malam ke dua Ramadhan tahun sebelumnya.

Pada kesempatan itu, Ustadz Abdul Haris menyampaikan materi tentang salah satu rukun puasa, yakni niat. Ia menjelaskan bahwa niat merupakan bagian yang tidak boleh ditinggalkan dalam ibadah puasa.

“Kapan kita mulai niat berpuasa? Saat malam tiba. Kapan malam tiba? Saat azan maghrib,” jelasnya di hadapan jamaah.

Ia menegaskan, bagi yang hendak berpuasa keesokan hari, niat sudah bisa dilakukan sejak masuk waktu maghrib. Dalam penjelasannya, ia merujuk pada praktik yang lazim dianut mayoritas umat Islam di Indonesia yang mengikuti Mazhab Syafi’i.

Menurutnya, dalam Mazhab Syafi’i, puasa setiap hari di bulan Ramadan dihitung sebagai amal yang berdiri sendiri, bukan satu rangkaian amal untuk sebulan penuh. Karena itu, setiap hari puasa wajib disertai niat tersendiri.

“Puasa hari pertama, amal sendiri. Hari berikutnya, amal yang lain lagi. Artinya setiap amal wajib satu niat,” tegasnya.

Ia menjelaskan, niat bersama setelah salat tarawih yang kerap dipandu imam merupakan metode untuk memudahkan jamaah agar tidak lupa. Namun, secara prinsip, niat tetap harus dilakukan setiap malam.

Terkait adanya pendapat bahwa cukup satu niat untuk satu bulan penuh, ia menerangkan bahwa hal tersebut merupakan pendapat dalam Mazhab Maliki, bukan Mazhab Syafi’i. Meski demikian, dalam praktik fiqih Syafi’i, dianjurkan pula untuk berniat puasa satu bulan penuh pada malam pertama Ramadan sebagai langkah antisipasi jika suatu malam lupa berniat.

“Ini hanya untuk antisipasi, bukan berarti sudah cukup satu kali niat untuk sebulan,” jelasnya.

Ustadz Abdul Haris juga mempraktikkan lafaz niat puasa satu bulan penuh mengikuti pendapat Imam Malik sebagai bentuk taklid, sekaligus menegaskan kembali bahwa niat harian tetap wajib dilakukan.

Ia menambahkan, niat pada dasarnya dilakukan di dalam hati. Jika tidak sempat mengikuti lafaz bahasa Arab, jamaah dapat berniat dengan bahasa masing-masing, misalnya, “Saya niat puasa Ramadan besok hari.” Menurutnya, lafaz sederhana tersebut sudah mencukupi karena yang terpenting adalah kehendak dalam hati.

Di akhir ceramah, ia berharap Allah SWT memberikan kekuatan kepada seluruh jamaah untuk menjalankan ibadah puasa sesuai ketentuan dan menjadikan Ramadan sebagai jalan meraih ketakwaan.

“Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk melaksanakan puasa Ramadan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya dan menjadikan kita orang-orang yang bertakwa,” tutupnya.

Reporter : Faidin

(QULTUM) Ramadhan Merupakan Momentum Tajdid Ruhani dan Kesalehan Sosial

Oleh : Ust. Dr. Muhammad Dwi Fajri, M.Pd.I (Dosen Uhamka)

Selamat datang Ramadhan. Marhaban yaa Ramadhan. Inilah bulan yang sangat mulia, yang kehadirannya disambut gegap gempita oleh kaum muslimin dan muslimat seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Dalam tradisi masyarakat Indonesia, kehadiran Ramadhan disambut dengan berbagai aktivitas, di antaranya pengajian tarhib, silaturahim, pawai, bersih-bersih masjid, dan kegiatan sosial lainnya.

Ramadhan adalah tamu agung dengan misi besar yang kerap terabaikan, yakni sebagai momentum pembaruan spiritual dan penguatan kesalehan sosial.

Pertanyaan bagi kita yang telah menunaikan puasa berulang kali adalah, apakah puasa Ramadhan yang selama ini kita jalankan benar-benar menghadirkan peningkatan spiritual dan sosial dalam diri?

Pembaharuan Ruhani

Kehidupan manusia yang sibuk dan sesak dengan keinginan duniawi kerap menyebabkan hati menjadi tertutup. Hati yang diselimuti debu materialisme, egoisme, dan ambisi duniawi membuat manusia lupa pada tujuan hidup yang utama.

Alih-alih menghadirkan kebahagiaan, ambisi duniawi justru sering melahirkan kehampaan dan kelelahan jiwa.

Sebagian orang menumpuk harta dalam jumlah besar, namun tetap merasa kurang dan terus mengejarnya dengan berbagai cara. Ibarat meminum air laut, semakin diminum semakin haus.

Seteguk yang diminum terasa melegakan, tetapi sejatinya hanya menambah dahaga. Kebahagiaan dan ketenangan bukan ditentukan oleh seberapa banyak harta yang berada dalam genggaman, melainkan seberapa lapang hati bersyukur atas nikmat yang diterima.

Ramadhan hadir memberi jeda agar manusia berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia dan menyadari bahwa manusia bukan sekadar entitas jasmaniah yang tampak oleh mata, tetapi juga entitas ruhaniah yang merindukan makna.

Ramadhan menyadarkan untuk menyucikan ruhani sebagai ikhtiar kembali kepada diri sejati yang bebas dari hasad dan kesombongan. Ibadah puasa dan shalat yang dijalankan bukan sekadar rutinitas mekanis, melainkan jalan pencerahan bagi akal budi.

Puasa melatih manusia mengaktifkan akal sebagai pengendali diri agar tidak tunduk pada dorongan perut dan hawa nafsu sebagai simbol kepentingan duniawi.

Dengan akal yang aktif, manusia dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Demikian pula kekhusyukan shalat yang diintensifkan selama Ramadhan diharapkan menjadi jalan penyadaran diri seorang hamba di hadapan Tuhan.

Melalui shalat, berbagai atribut kebesaran duniawi ditanggalkan. Manusia diingatkan bahwa di hadapan Sang Pencipta, ia hanyalah seorang hamba yang kecil, dengan tugas utama menyembah dan menyerahkan seluruh jiwa raga kepada-Nya.

Kesalehan Sosial

Namun bagi seorang muslim, kesalehan di atas sajadah tidaklah cukup. Puasa sebagai lapar yang disengaja menghadirkan dimensi kesalehan sosial. Rasa haus dan lapar yang direncanakan itu bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga melatih empati terhadap sesama, merasakan apa yang diderita orang lain.

Orang yang berpuasa karena perintah agama masih memiliki harapan untuk berbuka saat Magrib dengan berbagai pilihan makanan. Berbeda dengan kaum miskin dan duafa yang merasakan lapar bukan karena pilihan, melainkan karena ketiadaan.

Karena itu, momentum Ramadhan memperkuat radar empati seorang shaaim. Empati tersebut diwujudkan melalui gerakan infak, sedekah, dan zakat, terutama pada penghujung Ramadhan.

Pesan kesalehan sosial ini ditegaskan Rasulullah SAW dalam sabda-Nya, “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun,” (HR. Tirmidzi).

Dalam hadits lain disebutkan, “Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan,’” (HR. At-Tirmidzi).

Kedua hadits tersebut mendorong umat Islam untuk memperkuat tradisi berbagi selama bulan Ramadhan.

Konsekuensi dari kesalehan sosial tidak berhenti pada gerakan personal, tetapi juga terwujud dalam gerakan bersama yang terorganisir melalui lembaga amil zakat milik pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan keagamaan, seperti BAZNAS, LAZISMU, dan LAZISNU.

Ramadhan merupakan bulan titik balik bagi setiap muslim untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dengan syarat melakukan pembaruan ruhiyah dan penguatan kesalehan sosial.

Semoga puasa Ramadhan yang dijalankan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai wujud kesalehan vertikal, serta semakin mendekatkan diri kepada sesama manusia, khususnya kaum miskin dan duafa, sebagai wujud kesalehan horizontal.

have is days together meat fill for give you’re

Aenean feugiat purus vitae sollicitudin laoreet. Duis fringilla ligula vel velit lacinia, in mattis felis consectetur. Sed at pretium orci. Ut tempus libero odio, sit amet consequat neque pretium ut. Integer hendrerit mauris nec odio auctor suscipit. Proin porttitor turpis vitae ligula dictum, a sollicitudin purus congue. Nulla viverra nisi ex, ut ornare tellus cursus quis. Nulla posuere tincidunt leo at condimentum. Sed egestas tortor a nisi fringilla, id cursus odio rhoncus.

we are able to create beautifull and amazing things

Aenean feugiat purus vitae sollicitudin laoreet. Duis fringilla ligula vel velit lacinia, in mattis felis consectetur. Sed at pretium orci. Ut tempus libero odio, sit amet consequat neque pretium ut. Integer hendrerit mauris nec odio auctor suscipit. Proin porttitor turpis vitae ligula dictum, a sollicitudin purus congue. Nulla viverra nisi ex, ut ornare tellus cursus quis. Nulla posuere tincidunt leo at condimentum. Sed egestas tortor a nisi fringilla, id cursus odio rhoncus.

Wherein life sea years lights fill kind midst Spirit

Aenean feugiat purus vitae sollicitudin laoreet. Duis fringilla ligula vel velit lacinia, in mattis felis consectetur. Sed at pretium orci. Ut tempus libero odio, sit amet consequat neque pretium ut. Integer hendrerit mauris nec odio auctor suscipit. Proin porttitor turpis vitae ligula dictum, a sollicitudin purus congue. Nulla viverra nisi ex, ut ornare tellus cursus quis. Nulla posuere tincidunt leo at condimentum. Sed egestas tortor a nisi fringilla, id cursus odio rhoncus.

Events Held In Paris Beautifull And Amazing Things

Aenean feugiat purus vitae sollicitudin laoreet. Duis fringilla ligula vel velit lacinia, in mattis felis consectetur. Sed at pretium orci. Ut tempus libero odio, sit amet consequat neque pretium ut. Integer hendrerit mauris nec odio auctor suscipit. Proin porttitor turpis vitae ligula dictum, a sollicitudin purus congue. Nulla viverra nisi ex, ut ornare tellus cursus quis. Nulla posuere tincidunt leo at condimentum. Sed egestas tortor a nisi fringilla, id cursus odio rhoncus.

Make Realtionship Years Lights Fill Kind In USA

Aenean feugiat purus vitae sollicitudin laoreet. Duis fringilla ligula vel velit lacinia, in mattis felis consectetur. Sed at pretium orci. Ut tempus libero odio, sit amet consequat neque pretium ut. Integer hendrerit mauris nec odio auctor suscipit. Proin porttitor turpis vitae ligula dictum, a sollicitudin purus congue. Nulla viverra nisi ex, ut ornare tellus cursus quis. Nulla posuere tincidunt leo at condimentum. Sed egestas tortor a nisi fringilla, id cursus odio rhoncus.