Kam. Apr 16th, 2026

Hikmah

Tangis Para Janda yang Tumpah: Andaikan Suamiku Masih Hidup

SIKKA, BAJOPOS.COM – Idul Fitri seharusnya menjadi hari paling membahagiakan. Hari ketika pelukan menjadi lebih hangat, tawa terdengar lebih lepas, dan rumah-rumah dipenuhi rasa syukur.

Namun, Sabtu pagi (21/3/2026) di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, kebahagiaan itu berubah menjadi lautan haru.

Tangis tak lagi bisa ditahan, terutama ketika khutbah Idul Fitri yang disampaikan KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. menyentuh satu luka yang paling dalam: kehilangan.

“Wahai para janda… andaikan suamimu masih hidup…”

Kalimat itu terdengar pelan, tetapi menghantam keras. Seolah membuka pintu kenangan yang selama ini berusaha ditutup.

Di antara ribuan jamaah, ada perempuan-perempuan yang berdiri tegar. Wajah mereka rapi, pakaian mereka indah. Namun di balik itu, ada ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh siapa pun.

Hari raya yang dulu mereka sambut bersama pasangan, kini harus dijalani sendiri.

Tak ada lagi sosok yang membangunkan sahur. Tak ada lagi tangan yang menggenggam saat berangkat salat. Tak ada lagi suara yang menyapa di pagi hari raya.

Yang tersisa hanyalah kenangan—dan penyesalan yang datang terlambat.

Dalam khutbahnya, Alifuddin menggambarkan perasaan yang mungkin tak pernah terucap oleh banyak janda.

“Jika suamiku masih ada, aku akan bahagia bersama anak-anakku…”

Kalimat yang tampak sederhana, tetapi menyayat dalam. Karena di baliknya, ada rindu yang tidak akan pernah terjawab. Ada harapan yang tidak mungkin terulang.

Hari itu, banyak yang tak kuasa menahan air mata.

Beberapa jamaah menutup wajah dengan kedua tangan. Ada yang menunduk dalam-dalam, bahunya bergetar. Tangis tidak lagi disembunyikan.

Bukan hanya para janda yang menangis. Mereka yang masih memiliki pasangan pun ikut larut. Karena di saat yang sama, muncul kesadaran yang menyesakkan: Bahwa suatu hari, kehilangan itu bisa datang kepada siapa saja.

Khutbah itu tidak hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga penyesalan.

Penyesalan bagi mereka yang mungkin selama ini masih memiliki pasangan, tetapi belum sepenuhnya menghargai kebersamaan.

Penyesalan bagi mereka yang pernah menyakiti, mengabaikan, atau menunda kasih sayang—hingga waktu tak lagi memberi kesempatan.

“Kenapa aku tidak lebih baik dulu…?”

Pertanyaan itu seolah bergema di dalam hati banyak orang.

Namun semua itu datang ketika waktu tidak bisa diputar kembali.

Idul Fitri yang seharusnya menjadi momen berkumpul, justru menjadi saat paling sunyi bagi sebagian orang. Di rumah-rumah, ada kursi yang kosong. Ada tempat tidur yang tak lagi terisi. Ada suara yang tak lagi terdengar.

Dan di dalam hati, ada rindu yang terus hidup. Rindu yang tidak bisa dipeluk. Rindu yang hanya bisa dipanjatkan lewat doa. Tangis yang mengguyur pagi itu bukan sekadar emosi sesaat.

Ia adalah cermin kehidupan. Bahwa kehilangan bukan cerita orang lain—melainkan sesuatu yang pasti akan datang. Bahwa setiap kebersamaan memiliki batas waktu.

Dan bahwa yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan itu sendiri, tetapi penyesalan yang datang setelahnya.

Di Lapangan Marannu pagi itu, Idul Fitri tidak hanya menghadirkan kebahagiaan.

Ia menghadirkan kesadaran yang dalam—untuk lebih menghargai yang masih ada,
untuk lebih mencintai sebelum terlambat,
dan untuk tidak menunggu kehilangan baru menyadari arti kebersamaan.

Sebab bagi mereka yang telah kehilangan, satu kalimat akan terus hidup dalam hati:

“Andaikan suamiku masih hidup…”

Dan kalimat itu, hari itu, benar-benar mengguyur air mata.

Reporter : Faidin

Khutbah ‘Id: KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi: Dibelakang Kita Ada Kubur

SIKKA, BAJOPOS.COM – Suasana haru menyelimuti pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (21/3/2026).

Di tengah gema takbir dan kebahagiaan hari raya, khutbah yang disampaikan KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. justru mengajak jamaah menatap satu kenyataan yang kerap dihindari: kematian.

Dalam khutbahnya, Alifuddin menegaskan bahwa kehidupan dunia hanya bersifat sementara, sementara kubur adalah tempat persinggahan pertama menuju kehidupan akhirat.

“Di belakang kita ada kubur. Itulah rumah kita yang sebenarnya,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah.

Kalimat itu terasa jauh lebih kuat, bukan sekadar kiasan. Dari posisi mimbar tempat ia berdiri, hanya berjarak sekitar tiga meter, tampak jelas jejeran kubur di belakangnya.

Tanah-tanah yang telah mengeras, nisan-nisan yang berdiri sunyi, seolah menjadi saksi bisu atas setiap kata yang diucapkan.

Tampak hari itu, jamaah tak hanya mendengar, tetapi juga melihat langsung arah yang dimaksud.

Suasana yang semula penuh suka cita mendadak berubah. Hening. Beberapa jamaah menunduk. Sebagian lainnya mulai meneteskan air mata.

Untuk menguatkan pesannya, Alifuddin menyampaikan sebuah kisah yang menyentuh tentang seorang anak yatim pada hari raya.

Ia menggambarkan seorang anak perempuan kecil yang menangis sendirian di bawah pohon saat Idul Fitri, sementara orang lain bergembira. Pakaiannya kotor, wajahnya penuh kesedihan.

Ketika ditanya, anak itu mengaku telah kehilangan ayahnya yang gugur dalam perjuangan. Ibunya kemudian menikah lagi, dan ia diusir dari rumah.

“Bagaimana aku tidak menangis? Andaikan ayahku masih hidup, aku pasti tidak seperti ini,” demikian kisah yang disampaikan.

Cerita itu membuat suasana semakin emosional. Di tengah kebahagiaan hari raya, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa tidak semua orang merasakan kebahagiaan yang sama.

Dari kisah itu, Alifuddin mengaitkannya dengan realitas kehidupan dan kematian. Ia mengingatkan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali ke tanah, meninggalkan orang-orang yang dicintai.

Di belakang mimbar itu, jejeran kubur seolah menjadi penegas yang tak terbantahkan. “Kubur adalah tempat pertama dari semua tempat di akhirat, sekaligus tempat terakhir dari kehidupan dunia,” katanya.

Ia menegaskan, apa yang dialami seseorang di alam kubur sangat ditentukan oleh amal selama hidup.

Khutbah tersebut juga mengajak jamaah untuk mengingat orang tua dan keluarga yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Ia mempertanyakan keberadaan ibu dan ayah yang dahulu membesarkan, namun kini telah berada di alam kubur—seperti yang tampak di belakangnya pagi itu.

“Di mana ibumu hari ini? Di mana ayahmu?” ucapnya.

Pertanyaan itu menjadi momen paling menyentuh. Banyak jamaah terlihat menutup wajah, mengingat orang tua yang telah tiada. Tangis pun pecah di beberapa barisan.

Alifuddin juga mengingatkan bahwa kematian datang tanpa peringatan. Tidak ada yang bisa memastikan umur seseorang akan sampai pada Ramadan berikutnya. “Kematian datang tiba-tiba, tanpa bisa ditunda,” tegasnya.

Ia menilai, kesadaran akan kematian seharusnya mendorong manusia untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan memperbanyak amal sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah mati.

Dalam khutbahnya, ia kembali menegaskan pentingnya menjaga kualitas ibadah, terutama salat, sebagai fondasi kehidupan. “Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu,” ujarnya.

Pesan itu disampaikan sebagai solusi atas kegelisahan hidup manusia, sekaligus sebagai bekal menghadapi kehidupan di alam kubur.

Khutbah Idul Fitri di Nangahale hari itu tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga momentum refleksi mendalam bagi umat.

Di tengah kebahagiaan hari raya, jamaah diingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Bahwa di balik tawa dan kebersamaan, ada satu kenyataan yang tidak bisa dihindari.

Bahwa suatu hari nanti, setiap orang akan menyusul mereka yang telah lebih dahulu pergi. Dan pagi itu, pengingat itu tidak jauh—hanya berjarak sekitar tiga meter, tepat di belakang mimbar.

Reporter : Faidin

Ketua PDM Sikka: Puasa Bentuk Integritas, Korupsi Bertentangan dengan Iman

SIKKA, BAJOPOS.COM – Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sikka, Moh. Ihsan Wahab, S.HI, M.Pd,. menegaskan bahwa ibadah puasa Ramadan sejatinya membentuk manusia yang berintegritas dan berkeadaban.

Hal itu disampaikannya dalam khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Darussalam Waioti, Kecamatan Alok Timur, Jumat (20/3/2026).

Menurut Ihsan, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan proses pembentukan karakter yang menuntut kejujuran, pengendalian diri, serta tanggung jawab moral dalam kehidupan sehari-hari.

“Puasa membentuk manusia yang berintegritas. Tidak mungkin orang yang benar-benar memahami makna puasa masih melakukan korupsi, karena itu bertentangan dengan iman dan merusak peradaban,” tegasnya.

Ia menjelaskan, selama satu bulan penuh umat Islam dilatih untuk menahan diri bahkan dari hal-hal yang dibolehkan. Latihan ini, kata dia, seharusnya melahirkan kesadaran untuk menjauhi perbuatan yang jelas-jelas dilarang, seperti korupsi, manipulasi, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Lebih lanjut, Ihsan menilai praktik korupsi bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan. Tindakan tersebut, menurutnya, merusak sendi-sendi kehidupan sosial dan menghambat kemajuan bangsa.

“Korupsi tidak hanya merugikan negara, tetapi juga menghancurkan kepercayaan publik dan merusak tatanan moral masyarakat. Ini adalah ancaman serius bagi peradaban,” ujarnya.

Dalam khutbahnya, ia juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an secara tegas melarang umat Islam memakan harta orang lain dengan cara batil, termasuk melalui praktik suap dan kecurangan.

Ihsan menambahkan, hasil dari ibadah puasa seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari, seperti kejujuran dalam bekerja, amanah dalam jabatan, serta kepedulian terhadap sesama, terutama kelompok lemah.

“Integritas adalah buah dari ketakwaan. Jika puasa dijalankan dengan benar, maka ia akan melahirkan pribadi yang bersih, jujur, dan bertanggung jawab,” katanya.

Ia pun mengajak seluruh umat Islam, khususnya para pemimpin dan penyelenggara negara, untuk menjadikan momentum Idul Fitri sebagai titik balik memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai keadaban dan integritas.

“Jangan biarkan ibadah kita berhenti di ritual. Jadikan puasa sebagai fondasi membangun bangsa yang bersih dari korupsi dan berkeadaban,” pungkasnya.

Reporter : Faidin

Malam Ke 10 Ramadhan 1447 H: Momentum Rahmat, Muhasabah, dan Penguatan Takwa

SIKKA, Bajopos.com – Ramadhan 1447 Hijriyah/2026 Masehi telah menapaki malam kesepuluh. Fase awal bulan suci yang dikenal sebagai masa rahmat hampir berlalu. Bagi umat Islam, ini bukan sekadar hitungan kalender, tetapi momentum refleksi: sejauh mana puasa, qiyam, tilawah, dan sedekah telah membentuk kualitas takwa sebagaimana tujuan utama Ramadhan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menjadi fondasi teologis ibadah puasa. Orientasinya jelas: takwa. Maka malam kesepuluh adalah ruang evaluasi, apakah ibadah yang dijalankan telah menggerakkan hati menuju ketundukan dan ketaatan yang lebih dalam kepada Allah.

Ramadhan dan Al-Qur’an: Sumber Cahaya Kehidupan

Ramadhan tidak dapat dipisahkan dari Al-Qur’an. Allah SWT menegaskan:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Ayat ini memperlihatkan keseimbangan syariat: kewajiban yang tegas, namun penuh kemudahan. Malam kesepuluh menjadi pengingat bahwa hubungan dengan Al-Qur’an bukan hanya tilawah, tetapi juga tadabbur dan pengamalan.

Ulama seperti Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa dianjurkan memperbanyak membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadhan karena kemuliaan waktu dan turunnya rahmat Allah.

Qiyam Ramadhan dan Janji Pengampunan

Setiap malam Ramadhan adalah peluang pengampunan. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang melaksanakan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini memberikan harapan besar. Qiyam Ramadhan—baik dalam bentuk shalat tarawih maupun tahajud—adalah sarana pembersihan dosa. Malam kesepuluh menjadi momen memperkuat komitmen untuk tidak sekadar hadir secara fisik di masjid, tetapi juga menghadirkan hati dalam kekhusyukan.

Allah SWT juga memuji hamba-hamba-Nya yang memanfaatkan malam untuk beristighfar:

كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ۝ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam; dan pada akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).”
(QS. Adz-Dzariyat: 17–18)

Ayat ini menjadi legitimasi spiritual bagi tradisi bangun sahur dan memperbanyak istighfar. Malam kesepuluh bukan sekadar angka, tetapi panggilan untuk memperpanjang sujud dan memperbanyak doa.

Konsistensi Amal dan Ujian Istiqamah

Dalam dinamika Ramadhan, semangat sering kali tinggi di awal, lalu perlahan menurun. Padahal Rasulullah SAW mengingatkan:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu walaupun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Malam kesepuluh adalah alarm istiqamah. Ia menuntut konsistensi, bukan euforia sesaat. Ramadhan adalah madrasah kesabaran, dan sepuluh malam pertama menjadi fondasi yang menentukan kualitas hari-hari berikutnya.

Spirit Derma dan Kepedulian Sosial

Ramadhan juga bulan kepedulian. Dalam Hadits disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

“Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan.”
(HR. Bukhari)

Nilai sosial ini sejalan dengan firman Allah:

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ… وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ…

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah… dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan…”
(QS. Al-Baqarah: 177)

Malam kesepuluh menjadi momentum memperluas makna ibadah: dari sajadah menuju kepedulian sosial.

Rahmat yang Tak Boleh Disia-siakan

Ramadhan adalah waktu yang terbatas. Allah mengingatkan tentang nilai waktu dalam firman-Nya:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Malam kesepuluh Ramadhan 1447 H adalah pengingat bahwa waktu berjalan cepat. Ia menjadi saksi kesungguhan atau kelalaian. Jika sepuluh malam pertama belum optimal, pintu rahmat masih terbuka. Jika sudah baik, maka tugas berikutnya adalah menjaga konsistensi hingga akhir Ramadhan.

Semoga malam kesepuluh ini menjadi titik muhasabah, penguat takwa, dan pembuka pintu ampunan, sehingga Ramadhan 1447 H benar-benar melahirkan pribadi-pribadi yang lebih dekat kepada Allah Swt.(Faidin)

Ibadah Tak Kunjung Mengubah Keadaan? Memahami Janji Allah, Ujian Hidup, dan Perspektif Ulama

Oleh: Redaksi

 

SIKKA, Bajopos.com – Di tengah dinamika kehidupan umat, kerap muncul satu pertanyaan yang menggugah nurani: mengapa ada orang yang rajin berdoa, tekun sholat, istiqamah bersedekah, serta aktif dalam berbagai ibadah lainnya, namun kehidupan dunianya seolah tidak banyak berubah? Rezeki terasa sempit, usaha belum membuahkan hasil besar, dan persoalan datang silih berganti.

Pertanyaan ini bukan sekadar keluhan emosional. Ia menyentuh wilayah akidah, pemahaman tentang takdir, serta cara pandang terhadap janji Allah dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah ﷺ.

Tulisan ini mencoba mengurai persoalan tersebut dalam perspektif nash syar’i dan penjelasan para ulama, dengan tetap berpijak pada kaidah jurnalistik yang berimbang dan argumentatif.

Janji Allah dalam Al-Qur’an: Pasti, Namun Tidak Sempit

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.”
(QS. Ghafir: 60)

Ayat ini sering dijadikan sandaran utama bahwa doa pasti dikabulkan. Namun, pengabulan dalam perspektif Allah tidak selalu identik dengan pemenuhan permintaan secara instan.

Dalam ayat lain Allah menegaskan:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
(QS. At-Talaq: 2–3)

Ayat ini memberi jaminan jalan keluar dan rezeki. Namun, apakah rezeki selalu berbentuk kekayaan? Apakah jalan keluar selalu berarti bebas dari masalah?

Al-Qur’an sendiri memberikan perspektif lebih luas:

فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini menjadi landasan bahwa ukuran baik dan buruk tidak selalu sama antara manusia dan Allah.

Hadits: Doa Selalu Dijawab

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak memutus silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: dikabulkan segera, disimpan baginya di akhirat, atau dijauhkan darinya keburukan yang sebanding.”
(HR. Ahmad)

Hadits ini menegaskan satu hal penting: tidak ada doa yang sia-sia.

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, jawaban doa bisa jadi ditunda karena Allah mengetahui waktu terbaik untuk memberikannya. Bahkan, terkadang Allah menahan sesuatu dari hamba-Nya karena kasih sayang-Nya, bukan karena murka-Nya.

Dengan demikian, keterlambatan perubahan duniawi bukanlah indikator kegagalan ibadah.

Ujian adalah Keniscayaan Iman

Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi?”
(QS. Al-‘Ankabut: 2)

Dan firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
(QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini menunjukkan bahwa ujian adalah sunnatullah.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisal mereka, kemudian yang semisal mereka.”
(HR. Tirmidzi)

Jika parameter keberhasilan adalah bebas dari kesulitan, maka para nabi justru tampak paling “tidak berhasil”. Padahal mereka adalah manusia paling mulia di sisi Allah.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa beratnya ujian merupakan tanda kuatnya iman dan tingginya derajat seseorang di sisi Allah.

Dunia Bukan Ukuran Mutlak

Sering kali problem terletak pada orientasi. Allah memperingatkan:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ۝ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ
(QS. Hud: 15–16)

Sebaliknya, Allah menegaskan:

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ
(QS. An-Nahl: 96)

Artinya, dunia hanyalah fase sementara. Bisa jadi seseorang tidak mengalami lonjakan materi, tetapi mendapatkan ketenangan hati, keluarga yang harmonis, kesehatan, atau keselamatan dari musibah besar—dan itu semua adalah bentuk perubahan yang sering luput dari perhitungan manusia.

Muhasabah: Apakah Sudah Ada Perubahan Internal?

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menjadi dasar penting bahwa perubahan eksternal sering kali didahului perubahan internal.

Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa dosa dapat menjadi penghalang turunnya keberkahan. Maka selain memperbanyak ibadah secara kuantitas, kualitasnya pun harus diperbaiki: keikhlasan, kekhusyukan, kejujuran dalam mencari nafkah, serta menjauhi maksiat.

Doa tanpa usaha adalah kelalaian. Usaha tanpa doa adalah kesombongan. Islam menuntut keduanya berjalan beriringan.

Perspektif Akhirat: Tempat Jawaban Sempurna

Ada satu dimensi yang sering dilupakan: akhirat.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa kelak seorang hamba akan melihat pahala doa-doanya yang tidak dikabulkan di dunia, lalu ia berharap seandainya tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, karena begitu besar balasan yang Allah simpan untuknya di akhirat.

Inilah perspektif yang mengubah cara pandang: kegagalan dunia belum tentu kegagalan sejati.

Olehnya, perlu di ingat bahwa ibadah yang tampak tidak mengubah keadaan dunia bukanlah tanda kesia-siaan. Ia bisa jadi sedang membangun fondasi yang lebih kokoh: kesabaran, ketundukan, dan kedekatan dengan Allah.

Perubahan hidup tidak selalu berbentuk kekayaan atau jabatan. Kadang ia hadir dalam bentuk hati yang lebih tenang, jiwa yang lebih sabar, dan iman yang lebih kuat menghadapi badai.

Dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadits, janji Allah pasti benar. Namun manusia dituntut untuk memahami bahwa ukuran keberhasilan bukan hanya dunia, melainkan keselamatan abadi di akhirat. Dan di sanalah seluruh doa yang tertunda akan menemukan jawabannya secara sempurna.

Seandainya Kalian Benar-Benar Tahu Pahala Berpuasa

Oleh : Abdurrahim Yunus, S.Ag

Sabda Nabi: “Setiap amal anak Adam dilipatgandakan; satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat.”

Allah berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’ Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

AESESA NAGEKEO, Bajopos.com – Di sebuah majelis yang tenang, ketika para sahabat duduk mengelilingi Muhammad SAW, terpatri satu pesan agung tentang puasa. Ibadah itu bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan rahasia suci antara hamba dan Rabb-nya—amalan yang nilai dan ganjarannya langsung berada dalam kuasa Allah.

Bagi generasi sahabat, Ramadan adalah musim panen pahala. Namun mereka tetap manusia: ada rasa lapar, haus, dan letih. Di tengah kondisi itu, Rasulullah SAW menguatkan hati mereka dengan kabar yang menenangkan sekaligus menggembirakan.

Beliau bersabda:

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan; satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’ Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Hadis ini bukan sekadar motivasi spiritual, melainkan penegasan tentang keistimewaan puasa dibandingkan ibadah lainnya. Semua amal berpahala, tetapi ketika Allah sendiri berfirman, “Puasa itu untuk-Ku,” maka di sana ada kemuliaan yang tak tertandingi.

Mengapa Puasa Begitu Istimewa?

Pertama, karena ia paling tersembunyi.
Salat terlihat. Sedekah bisa diketahui. Haji tampak jelas. Namun puasa? Ia berlangsung dalam sunyi. Seseorang bisa saja sendirian di ruangan, mampu minum atau makan tanpa diketahui siapa pun. Tetapi ia memilih menahan diri. Mengapa? Karena ia sadar Allah melihatnya.

Di situlah letak kemurnian ikhlas. Puasa menjadi latihan muraqabah—kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak dan niat.

Kedua, karena pahalanya tidak terbatas.
Dalam hadis disebutkan pahala amal bisa berlipat hingga tujuh ratus kali. Tetapi untuk puasa, tidak disebut batasnya. Allah menegaskan, “Aku sendiri yang akan membalasnya.” Artinya, ganjarannya sebanding dengan kedalaman keikhlasan, kesabaran, dan ketakwaan yang tumbuh selama menjalaninya. Semakin berat pengorbanan, semakin besar balasannya.

Ketiga, karena ia melatih kesabaran total.
Puasa mencakup tiga bentuk kesabaran sekasurga, diantaranya; sabar dalam ketaatan, sabar meninggalkan maksiat, sabar menghadapi ujian lapar, haus, dan emosi.

Ramadan bahkan disebut sebagai bulan kesabaran, dan balasan kesabaran tidak lain adalah surga.

Dua Kebahagiaan Orang yang Berpuasa

Rasulullah SAW bersabda:

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu Rabb-nya.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Kebahagiaan pertama sederhana—seteguk air, sebutir kurma, rasa syukur setelah menahan diri seharian. Namun kebahagiaan kedua jauh lebih agung: ketika amal puasa berdiri sebagai saksi di hadapan Allah.

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat.”(HR. Ahmad ibn Hanbal)

Puasa seakan berkata, “Ya Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkan aku memberi syafaat untuknya.”

Pintu Khusus di Surga

Rasulullah SAW juga mengabarkan adanya pintu surga bernama Ar-Rayyan. Pintu itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berpuasa. Ketika mereka masuk, pintu itu ditutup—tidak ada lagi yang memasukinya.

Puasa, dengan demikian, bukan sekadar ibadah harian. Ia menjadi identitas kehormatan di akhirat.

Seandainya Kita Benar-Benar Tahu

Seandainya manusia benar-benar memahami bahwa satu hari puasa di jalan Allah dapat menjauhkan wajah dari api neraka sejauh perjalanan puluhan tahun.

Seandainya mereka sadar bahwa bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi.

Seandainya mereka mengerti bahwa setiap rasa haus dicatat sebagai pahala yang tak terhingga. Barangkali tidak akan ada keluhan, tidak ada penundaan, tidak ada Ramadan yang disia-siakan.

Hikmah yang Lebih Dalam

Puasa mengajarkan empati kepada yang lapar. Ia melatih pengendalian hawa nafsu. Ia menyadarkan bahwa dunia bukan tujuan akhir. Ia menumbuhkan ketergantungan total kepada Allah.

Puasa bukan sekadar ibadah fisik. Ia adalah pendidikan ruhani, proses penyucian jiwa, dan latihan keikhlasan paling murni.

Dan mungkin, jika kita benar-benar memahami nilainya di sisi Allah, kita tidak akan menangis karena lapar—melainkan karena takut kehilangan satu hari tanpa puasa.(Faidin)

Haedar Nashir Tekankan Fondasi Tauhid Murni di Pengkajian Ramadan 1447 H UMT

TANGERANG, Bajopos.com – Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) menjadi pusat konsolidasi ideologi Persyarikatan saat menjadi tuan rumah Pengkajian Ramadan 1447 Hijriah yang digelar Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 24–26 Februari 2026.

Bertempat di Auditorium Lantai 19 UMT, kegiatan ini dihadiri lebih dari 1.000 peserta dari Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah serta civitas akademika Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Banten dan Daerah Khusus Jakarta.

Pengkajian Ramadan tahun ini tidak sekadar menjadi forum kajian rutin menjelang bulan suci, tetapi juga ruang strategis untuk memperteguh arah gerakan Islam berkemajuan di tengah dinamika sosial dan keumatan yang terus berubah.

Rektor UMT, Dr. H. Desri Arwen, M.Pd., menegaskan komitmen kampusnya dalam memperkuat nilai-nilai keislaman berbasis keilmuan dan kaderisasi. Menurutnya, UMT siap menjadi episentrum penguatan akidah sekaligus pengembangan kader Muhammadiyah.

“UMT sebagai kampus unggul siap menjadi pusat penguatan akidah dan pengembangan kader Muhammadiyah,” ujarnya dalam sambutan pembukaan, Selasa (24/2/2026).

Senada dengan itu, Ketua Majelis Pembinaan Kader SDI PP Muhammadiyah, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, M.P.A., menekankan bahwa penguatan akidah merupakan fondasi utama gerakan Muhammadiyah.

Ia mengingatkan bahwa tanpa basis teologis yang kokoh, gerakan dakwah akan kehilangan arah di tengah kompleksitas tantangan zaman.

Sorotan utama kegiatan ini tertuju pada pidato iftitah Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.

Dalam paparan bertema “Akidah Islam Berkemajuan: Memperluas Paham Tauhid Murni Tinjauan Ideologis, Filosofis, dan Praksis”, Haedar menegaskan pentingnya memperluas pemahaman tauhid secara komprehensif—tidak hanya dalam ranah teologis, tetapi juga dalam praktik kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, dan kebangsaan.

Menurutnya, Pengkajian Ramadan harus dimaknai sebagai momentum strategis untuk meneguhkan akidah dan memperluas wawasan keislaman agar gerakan Muhammadiyah tetap relevan dan mencerahkan umat.

“Pengkajian Ramadan ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi momentum strategis untuk meneguhkan akidah, memperluas wawasan keislaman, dan memperkuat gerakan dakwah Muhammadiyah agar semakin berkemajuan dan mencerahkan umat,” tegas Haedar.

Dalam rangkaian acara, dilakukan pula penandatanganan nota kesepahaman antara Bank Syariah Nasional dan PP Muhammadiyah yang ditandai dengan penyerahan bantuan tiga unit motor angkut sampah untuk mendukung operasional kampus UMT. Dukungan serupa juga datang dari Sinar Mas yang menyerahkan bantuan mushaf Al-Qur’an sebagai bagian dari penguatan dakwah dan literasi keislaman.

Melalui Pengkajian Ramadan 1447 H ini, Muhammadiyah menegaskan kembali komitmennya pada penguatan tauhid murni sebagai landasan ideologis, filosofis, dan praksis dalam menyongsong Ramadan—serta dalam menapaki peran keumatan dan kebangsaan di era modern.(Faidin)

(HIKMAH) Raih Keberkahan Ramadan, Momentum Menjadi Insan Bertakwa

Oleh : Ustadz Abdurrahim Yunus, S.Ag

بسم الله الرحمن الرحيم

Ramadan kembali menyapa umat Islam di seluruh penjuru dunia. Bulan suci ini bukan sekadar pergantian kalender hijriah, melainkan momentum spiritual yang sarat makna, penuh keberkahan, dan menjadi ruang pembuktian kualitas iman setiap Muslim.

Allah SWT menegaskan kewajiban berpuasa dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah 2:183).

Ayat tersebut menegaskan bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sarana membentuk pribadi yang bertakwa. Ramadan hadir sebagai bulan istimewa yang berbeda dari bulan-bulan lainnya karena keutamaan yang Allah SWT limpahkan di dalamnya.

Keagungan Ramadan juga ditegaskan dalam firman Allah SWT:

( شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه) سورة البقرة: 185

Artinya: “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS Al-Baqarah 2:185).

Ramadan menjadi bulan turunnya Al-Qur’an, kitab suci yang menjadi pedoman hidup umat manusia. Tak heran jika bulan ini selalu dinanti-nantikan, karena di dalamnya tersimpan peluang besar untuk meraih pahala dan ampunan.

Selain puasa wajib, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak ibadah sunah seperti salat tarawih, bersedekah, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, hingga menunaikan umrah bagi yang mampu. Suasana spiritual Ramadan semakin terasa dengan janji Allah SWT yang disampaikan melalui sabda Rasulullah SAW:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

Artinya: “Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR Bukhari No 3277, Muslim No 1079).

Hadits tersebut menggambarkan betapa luasnya rahmat Allah pada bulan ini. Ramadan adalah bulan limpahan ampunan dan pembebasan dari api neraka.

Ulama besar, Imam Al-Ghazali, pernah mengingatkan bahwa puasa merupakan bagian penting dari iman (al-shaum rub’ul iman). Puasa bukanlah perkara ringan. Ia menuntut pengendalian diri dari makan, minum, serta hubungan suami istri—tiga kebutuhan mendasar manusia yang biasa dilakukan setiap hari.

Tanpa iman yang kuat, Ramadan bisa saja berlalu seperti bulan-bulan lainnya, tanpa meninggalkan bekas dalam jiwa. Menahan lapar dan dahaga sejak Subuh hingga Maghrib membutuhkan kesabaran ekstra. Godaan hadir di mana-mana—di rumah, di tempat kerja, bahkan di perjalanan.

Rasulullah SAW juga menyampaikan keistimewaan puasa dalam sebuah hadits qudsi:

عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Artinya: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.’” (HR Bukhari, 1761 dan Muslim, 1946).

Hadits ini menunjukkan betapa istimewanya ibadah puasa di sisi Allah SWT. Balasannya langsung dari Allah, tanpa batas yang diketahui manusia.

Karena itu, Ramadan sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah kesabaran, latihan keikhlasan, serta momentum perbaikan diri. Setiap Muslim diajak merenungkan kehadiran bulan suci ini agar tidak berlalu tanpa makna.

Momentum Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal, memperbaiki akhlak, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Harapannya, selepas Ramadan, setiap insan mampu keluar sebagai pribadi yang lebih bertakwa.

Semoga Ramadan tahun ini benar-benar menjadi jalan meraih keberkahan dan perubahan diri yang lebih baik.(Faidin) 

Di Balik Lensa Zoom, Diana Wahyu Ningsih Petik Makna Kejujuran

“Kalau dalam ujian saja kita bisa patuh karena kamera, maka dalam kehidupan dan ibadah, semestinya kita lebih patuh karena sadar Allah selalu mengawasi.”

SIKKA, Bajopos.com – Di tengah sunyi ruang ujian berbasis daring, sorot kamera Zoom dan sistem pengawasan digital justru menghadirkan refleksi batin yang mendalam bagi seorang guru madrasah di Kabupaten Sikka.

Ujian Akhir Pendidikan Profesi Guru (PPG) Batch 4 Tahun 2026 bukan sekadar tahapan akademik bagi Diana Wahyu Ningsih, S.Pd., tetapi juga momentum spiritual tentang makna kejujuran dan pertanggungjawaban.

Guru yang mengabdi di MIN 1 Sikka itu menuntaskan ujian dengan pengawasan ketat melalui aplikasi Safe Exam Browser (SEB) yang terintegrasi kamera Zoom. Seluruh gerak peserta dipantau, sementara akses perangkat dikunci untuk mencegah kecurangan.

Bagi Diana, suasana itu menghadirkan makna lebih dalam dari sekadar prosedur teknis.

“Ketika kamera terus menyala dan sistem mengawasi setiap aktivitas, saya teringat bahwa dalam kehidupan pun tak ada yang luput dari pengawasan Allah SWT. Ujian ini seperti pengingat kecil tentang Yaumil Hisab,” ujarnya usai menyelesaikan tahapan akhir PPG.

Program PPG sendiri menjadi bagian dari upaya peningkatan profesionalisme guru di bawah pembinaan Kementerian Agama Kabupaten Sikka. Lembaga tersebut mendorong para guru madrasah untuk meraih sertifikasi sebagai standar kompetensi sekaligus penguatan integritas.

Kepala lingkungan pendidikan di madrasah tempatnya mengabdi juga memberikan dukungan penuh. Di MIN 1 Sikka, PPG dipandang bukan sekadar syarat administratif, melainkan proses pembentukan karakter pendidik yang profesional dan berakhlak.

Dalam pelaksanaannya, ujian berbasis SEB dengan pengawasan daring memang dirancang untuk menjamin objektivitas.

Sistem tersebut mengunci seluruh aplikasi lain selama ujian berlangsung dan mewajibkan peserta tetap berada dalam pantauan kamera. Skema ini menjadi simbol transparansi sekaligus komitmen menjaga marwah profesi guru.

Di Kabupaten Sikka, keberhasilan para guru menuntaskan PPG menjadi langkah penting dalam memperkuat kualitas pendidikan Islam. Sertifikasi profesi diharapkan berbanding lurus dengan peningkatan mutu pembelajaran di ruang-ruang kelas madrasah.

Menariknya, capaian Diana hadir menjelang bulan suci Ramadan. Ia memaknai pengalaman ujian sebagai latihan kesadaran akan muraqabah—rasa diawasi oleh Yang Maha Mengetahui.

“Kalau dalam ujian saja kita bisa patuh karena kamera, maka dalam kehidupan dan ibadah, semestinya kita lebih patuh karena sadar Allah selalu mengawasi,” tuturnya.

Dengan selesainya tahapan krusial PPG 2026, Diana dan para guru lainnya di Sikka bersiap mengemban amanah baru. Profesionalisme yang diraih bukan sekadar gelar di atas kertas, melainkan komitmen untuk mendidik generasi muda dengan kompetensi, integritas, dan nilai-nilai spiritual yang kokoh di Bumi Nian Tana. (Faidin)

RAMADHAN Bulan Ibadah dan Ukhuwah

HIKMAH RAMADHAN

Oleh : Ust. Dr. Muhammad Dwi Fajri, M.Pd.I

RAMADHAN bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah ruang pendidikan spiritual yang telah ditetapkan sejak tahun kedua Hijrah, tepatnya pada bulan Sya’ban, sebulan sebelum kewajiban puasa dijalankan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.

Penetapan waktu itu memberi pesan penting: ibadah besar membutuhkan persiapan matang, bukan hanya fisik, tetapi juga pemahaman akan makna dan tujuannya.

Dalam praktiknya, puasa sering kali direduksi menjadi rutinitas tahunan. Kita menyaksikan tidak sedikit orang yang mampu menahan makan dan minum, tetapi gagal menjaga lisan dan perilaku.

Padahal, substansi puasa melampaui dimensi biologis. Ia menuntut pengendalian diri secara utuh—menjaga ucapan dari dusta dan ghibah, menahan amarah, serta membangun relasi sosial yang sehat.

Dengan kata lain, puasa memiliki dua poros utama: vertikal kepada Allah (hablumminallah) dan horizontal kepada sesama manusia (hablumminannas).

Ramadhan sebagai Bulan Ibadah

Ramadhan adalah momentum khusus dan terbatas. Khusus karena ia ditujukan bagi orang-orang beriman; terbatas karena hadir hanya sekali dalam setahun.

Di dalamnya terdapat kemuliaan yang tidak dijumpai pada bulan lain, seperti turunnya Al-Qur’an dan kehadiran Lailatul Qadar.

Pesan untuk memaksimalkan ibadah di bulan ini ditegaskan dalam hadis riwayat Muhammad yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Hadits ini bukan sekadar janji pengampunan, tetapi dorongan persuasif agar umat Islam meningkatkan kualitas ibadahnya.

Hadits lain menyebutkan bahwa ketika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu (HR. Bukhari & Muslim).

Secara majazi, ini menggambarkan terbukanya peluang kebaikan dan menyempitnya ruang kemaksiatan. Maka tidak mengherankan jika masjid-masjid lebih ramai, lantunan tadarus menggema, dan semangat sedekah meningkat.

Namun, pertanyaan krusialnya adalah: apakah intensitas ibadah itu berlanjut setelah Ramadhan usai? Jika tidak, maka Ramadhan hanya menjadi euforia spiritual sesaat. Padahal, ia sejatinya adalah titik tolak pembentukan ritme ibadah yang berkelanjutan.

Ramadhan sebagai Bulan Ukhuwah

Islam tidak berdiri hanya pada relasi vertikal. Puasa juga dirancang untuk memperbaiki relasi sosial. Rasulullah SAW mengingatkan: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari). Pesan ini tegas: puasa tanpa penjagaan lisan kehilangan substansinya.

Lisan kerap menjadi sumber konflik. Pepatah “mulutmu harimaumu” menemukan relevansinya di sini. Ucapan yang tidak terkontrol dapat merusak persaudaraan, memicu fitnah, dan memecah belah komunitas. Sebaliknya, lisan yang terjaga menjadi fondasi ukhuwah.

Dimensi sosial Ramadhan juga tampak dalam anjuran berbagi. Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan bahwa sedekah paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.

Hadits lain menyatakan bahwa memberi makan orang yang berpuasa mendatangkan pahala setara tanpa mengurangi pahala yang diberi. Spirit berbagi ini memperkuat solidaritas sosial dan mengikis sekat-sekat ekonomi.

Menyatukan Dua Dimensi

Ramadhan hadir untuk menyinergikan dua kekuatan: kedalaman ibadah dan keluasan ukhuwah. Hubungan yang intens dengan Allah melahirkan ketenangan batin. Sementara hubungan harmonis dengan sesama menghadirkan keberkahan sosial. Keduanya tidak dapat dipisahkan.

Jika puasa hanya memperkuat hubungan vertikal tanpa memperbaiki hubungan horizontal, maka ada yang terlewat dari misi besarnya. Sebaliknya, jika ukhuwah tumbuh tanpa landasan spiritual yang kokoh, ia mudah goyah oleh kepentingan sesaat.

Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi bulan evaluasi kolektif. Apakah ibadah kita semakin berkualitas? Apakah lisan kita semakin terjaga? Apakah kepedulian sosial kita meningkat? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah puasa kita sekadar ritual atau benar-benar transformasional.

Olehnya, Ramadhan bukan hanya sekedar sebulan penuh ibadah, tetapi tentang bagaimana membangun karakter yang bertahan sebelas bulan berikutnya.

Dari masjid ke ruang publik juga dari sajadah ke kehidupan sosial, tentu seharusnya Ramadhan menjadi perenungan serta pengajaran bahwa kesalehan pribadi harus berbanding lurus dengan kesalehan sosial. Disanalah ibadah dan ukhuwah bertemu, dan di sanalah keberkahan menemukan maknanya.

Doa Buka Puasa Ramadhan Sesuai Sunnah, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

BULAN RAMADHAN menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah saat berbuka puasa, setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

Berbuka puasa bukan sekadar waktu untuk makan dan minum. Dalam ajaran Islam, waktu tersebut termasuk saat yang mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa doa orang yang berpuasa ketika berbuka termasuk doa yang tidak tertolak, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Riwayat Tirmidzi nomor 2449.

Karena itu, umat Islam dianjurkan memanfaatkan waktu berbuka dengan membaca doa sebagai bentuk syukur dan pengharapan pahala dari Allah SWT.

Berikut beberapa pilihan doa berbuka puasa Ramadhan yang dapat diamalkan, sebagaimana tercantum dalam literatur klasik Al-Adzkar karya Imam Nawawi.

Pilihan Doa Berbuka Puasa Berdasarkan Riwayat Hadis

Terdapat beberapa variasi doa berbuka puasa yang bersumber dari riwayat hadis berbeda. Umat Islam dapat memilih salah satu doa yang mudah dihafal dan dipahami maknanya.

1. Doa Berbuka Puasa Riwayat Abu Daud

Doa ini termasuk yang paling populer dan menekankan rasa syukur atas hilangnya dahaga serta harapan akan pahala.

Teks Arab:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Latin:
Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu, wa tsabatal ajru in syaa Allah.

Artinya:
“Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala, insya Allah.” (HR. Abu Daud)

2. Doa yang Umum Digunakan di Indonesia

Doa ini sangat familiar di tengah masyarakat dan kerap dibaca secara berjamaah.

Teks Arab:

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Latin:
Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar raahimin.

Artinya:
“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih.”

3. Doa Syukur atas Pertolongan Allah (Riwayat Ibnu Sunni)

Doa ini berisi pengakuan bahwa kekuatan menjalankan puasa berasal dari pertolongan Allah.

Teks Arab:

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ

Latin:
Alhamdulillahilladzi a’aananii fashumtu, wa razaqanii faafthartu.

Artinya:
“Segala puji bagi Allah yang telah menolongku sehingga aku dapat berpuasa, dan yang telah memberiku rezeki sehingga aku dapat berbuka.”

4. Doa Memohon Penerimaan Amal (Riwayat Sahabat Ibnu Abbas)

Doa ini menekankan permohonan agar puasa diterima oleh Allah SWT.

Teks Arab:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا، فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Latin:
Allahumma shumnaa wa ‘alaa rizqika aftharnaa, fataqabbal minna innaka antas samii’ul ‘aliim.

Artinya:
“Ya Allah, karena-Mu kami berpuasa, dan dengan rezeki-Mu kami berbuka, maka terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

5. Doa Memohon Ampunan (Riwayat Ibnu Majah)

Waktu berbuka juga menjadi kesempatan untuk memohon ampun atas dosa.

Teks Arab:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي

Latin:
Allahumma inni as’aluka birahmatikallatii wasi’at kulla syai’in an taghfira lii.

Artinya:
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku.”

Mengamalkan Doa Berbuka Puasa

Mengamalkan doa-doa tersebut tidak harus sekaligus dalam satu waktu. Berikut beberapa langkah agar lebih mudah diterapkan:

Pilih doa yang mudah dihafal agar dapat dibaca dengan khusyuk.

Pahami maknanya sehingga doa tidak sekadar dilafalkan, tetapi dihayati.

Variasikan bacaan agar menambah hafalan doa sunnah.

Manfaatkan waktu menjelang azan Magrib untuk memperbanyak zikir dan doa pribadi.

Berbuka puasa adalah penutup ibadah harian selama Ramadhan. Menyertainya dengan doa menjadi bentuk rasa syukur sekaligus harapan agar ibadah diterima Allah SWT.

Dengan memahami berbagai riwayat doa berbuka puasa, umat Islam memiliki rujukan yang jelas dan dapat mengamalkannya sesuai kemampuan.

Ramadhan; Antara Kewajiban, Kemudahan, dan Pembentukan Manusia Bertaqwa

RAMADHAN selalu datang dengan suasana yang khas: masjid lebih ramai, lantunan ayat suci terdengar di berbagai sudut, dan umat Islam berbondong-bondong memperbaiki diri.

Namun, Ramadan tidak boleh hanya dipahami sebagai rutinitas tahunan yang bersifat seremonial. Ia adalah proyek besar pembentukan manusia bertakwa, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Baqarah (2): 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini jelas menegaskan bahwa tujuan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membentuk ketakwaan. Dalam hal ini takwa dipandang sebagai kualitas batin yang tidak bisa direkayasa oleh simbol-simbol keagamaan.

Ia lahir dari latihan panjang mengendalikan diri. Puasa menjadi sarana paling konkret untuk itu. Tidak ada yang tahu seseorang benar-benar berpuasa kecuali dirinya dan Allah. Di situlah kejujuran spiritual ditempa.

Namun menariknya, Islam tidak membangun ketakwaan dengan pendekatan kaku dan memaksa.

QS Al-Baqarah (2): 184 menunjukkan sisi keadilan dan kemanusiaan syariat:

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۚ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Di sini kita melihat bahwa puasa memang wajib, tetapi ada ruang keringanan bagi yang sakit atau dalam perjalanan. Bahkan bagi yang berat menjalankannya, ada mekanisme fidyah yaitu dengan memberi makan orang miskin.

Inilah wajah Islam yang penuh empati: kewajiban tetap ada, tetapi manusia tidak dipaksa melampaui batas kemampuannya. Keadilan dan kesetaraan berjalan beriringan.

Lebih jauh lagi, Ramadan dimuliakan bukan semata karena puasanya, melainkan karena turunnya Al-Qur’an.

Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah (2): 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Ayat ini menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan petunjuk. Artinya, puasa tanpa interaksi dengan Al-Qur’an berisiko kehilangan ruhnya.

Kita bisa saja menahan lapar, tetapi tanpa membaca dan memahami wahyu, arah perubahan diri menjadi kabur.

Dalam konteks kekinian, Ramadan seharusnya menjadi momentum revolusi literasi Al-Qur’an—bukan sekadar membaca, tetapi juga merenungi dan mengamalkan.

Yang lebih menarik lagi, di tengah rangkaian ayat tentang puasa, Allah menyisipkan ayat tentang doa.

QS Al-Baqarah (2): 186 berbunyi:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Ini bukan kebetulan. Doa adalah inti dari ibadah. Dalam keadaan lapar dan haus, seorang hamba berada pada posisi paling jujur dan paling sadar akan kelemahannya.

Ramadan mengajarkan bahwa Tuhan itu dekat, bukan jauh. Namun kedekatan itu mensyaratkan respons: memenuhi perintah-Nya dan beriman dengan sungguh-sungguh.

Terakhir, QS Al-Baqarah (2): 187 menegaskan keseimbangan hidup:

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ … وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِ …

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak mematikan fitrah manusia. Makan, minum, dan hubungan suami-istri pada malam hari dihalalkan.

Bahkan relasi suami-istri digambarkan sebagai “pakaian” satu sama lain—simbol perlindungan dan kesetaraan. Sehingga inilah bukti bahwa Ramadan bukan ajang menyiksa diri, melainkan latihan menempatkan segala sesuatu pada waktunya.

Sejatinya, Ramadan adalah madrasah tahunan. Ia mendidik kita untuk jujur, disiplin, peduli, dan seimbang.

Jika setelah Ramadan kita tidak menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih peduli kepada sesama, dan lebih dekat kepada Al-Qur’an, mungkin yang berubah hanya jadwal makan kita—bukan karakter kita. Dan di situlah letak tantangan sesungguhnya.

Membiarkan Berbeda: Ikhtiar Memahami Kehendak Tuhan

Oleh:

Muhammad Dwifajri (Dosen Uhamka)

Dunia tidak pernah lahir dalam satu warna. Sejak awal, kehidupan bergerak dalam ragam bentuk, bahasa, keyakinan, dan kepentingan. Perbedaan bukanlah anomali, melainkan jejak paling nyata dari kehendak Tuhan atas semesta.

Persoalannya, manusia kerap gelisah menghadapi yang tak seragam. Ego, baik sebagai individu maupun kelompok, sering memaksakan satu tafsir kebenaran seolah-olah hanya ada satu sudut pandang yang sah.

Di titik inilah perbedaan berubah menjadi sumber ketegangan. Padahal, bisa jadi disanalah ujian sesungguhnya: mampukah kita membiarkan yang berbeda tetap ada tanpa merasa terancam?

Membiarkan berbeda bukan sikap pasif, apalagi menyerah. Ia adalah ikhtiar sadar untuk membaca kehendak Tuhan dalam realitas yang majemuk. Setiap manusia hadir dengan latar, pengalaman, dan kapasitas yang tak sama. Ketika kita menahan diri dari menghakimi, sesungguhnya kita sedang belajar memahami “bahasa” Tuhan yang termaktub dalam keragaman itu sendiri.

Keragaman sebagai Keniscayaan

Dalam lintasan sejarah, perbedaan adalah fakta sosial yang tak terhindarkan—dari budaya dan bahasa hingga struktur ekonomi. Bagi seorang Muslim, keragaman bukan sekadar realitas sosiologis, tetapi bagian dari keyakinan teologis. Ia berakar pada Tauhid: bahwa segala yang terjadi, termasuk perbedaan, berada dalam lingkup kehendak-Nya.

Melalui tafsir Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, pluralitas dipahami bukan sebagai pemantik konflik, melainkan sebagai tanda kebesaran Tuhan.

Pertama, keragaman adalah kehendak Ilahi. Dalam Surah Hud [11]: 118–119 ditegaskan, Tuhan mampu saja menjadikan manusia seragam. Namun Dia tidak menghendakinya.

Buya Hamka mengingatkan, hanya cara pandang sempit yang menginginkan keseragaman total. Bagi akal yang lapang, perbedaan justru menghadirkan dinamika. “Ramailah hidup ini,” tulis Hamka, karena adanya ragam.

Kedua, manusia berasal dari satu asal. Surah Al-Baqarah [2]: 213 menegaskan kesatuan kemanusiaan. Perbedaan fisik dan sosial hanyalah hasil perjalanan sejarah dan lingkungan. Konflik muncul bukan semata karena perbedaan, melainkan karena dengki dan kepentingan sempit yang mengaburkan fitrah.

Ketiga, kebebasan berkeyakinan berjalan seiring etika toleransi. Surah Al-Kahfi [18]: 29 menegaskan kebebasan memilih, sementara Surah Al-An’am [6]: 108 melarang penghinaan terhadap keyakinan lain.

Larangan ini bukan sekadar strategi sosial, melainkan pengakuan bahwa hidayah adalah otoritas Tuhan. Menghormati perbedaan adalah bagian dari menjaga iman.

Menuju Harmoni Lita’arafu

Keragaman, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Hujurat [49]: 13, adalah jalan untuk saling mengenal—lita’arafu. Dalam kerangka pemikiran Hamka, setidaknya ada empat sikap yang perlu diteguhkan.

Pertama, penerimaan: mengakui perbedaan sebagai kenyataan yang ditakdirkan. Kemudian, Kedua, pertumbuhan: menjadikan perbedaan sebagai ruang dialog dan pembelajaran. Selanjutnya, yang ketiga, persaudaraan: menyadari kesatuan asal-usul kemanusiaan. Dan keempat, toleransi aktif: menjaga harmoni tanpa merendahkan yang lain.

Pada akhirnya, memahami takdir berarti percaya bahwa di balik ragam yang tampak, ada harmoni yang sedang dijalin. Ukuran kemuliaan di hadapan Tuhan bukanlah identitas sosial, melainkan ketakwaan. Maka, menghargai perbedaan bukan sekadar etika sosial, tetapi bentuk penghormatan kepada Sang Pengatur Kehidupan.

Menangisi Ramadhan yang Belum Tiba: Belajar Cinta dari Mu’adz bin Jabal

Oleh : H. Al Amin, SH, M.Pd,

Ada orang-orang yang menanti Ramadan dengan daftar belanja. Ada pula yang menanti dengan daftar agenda buka bersama. Namun, ada satu sosok agung yang menanti Ramadan dengan air mata—bukan karena sedih menyambutnya, tetapi karena takut tak lagi berjumpa dengannya.

Ia adalah Mu’adz bin Jabal, sahabat Nabi (Muhammad SAW,red) yang dikenal paling memahami perkara halal dan haram. Kecerdasannya diakui, keilmuannya dihormati. Namun sisi yang paling menyentuh dari dirinya bukan sekadar keluasan ilmunya, melainkan kedalaman cintanya pada ibadah.

Diriwayatkan, ketika ajal menjemputnya, Mu’adz menangis. Para sahabat mungkin mengira ia takut menghadapi kematian. Namun air mata itu bukan karena gentar pada takdir, bukan pula karena berat meninggalkan dunia. Ia berkata:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku tidak mencintai dunia dan tidak ingin berlama-lama di dalamnya untuk mengalirkan sungai atau menanam pepohonan. Namun, aku menangis karena akan kehilangan rasa haus di siang hari yang panas, perjuangan menghidupkan malam, dan berdesakan bersama para ulama dalam majelis zikir.”

Betapa dalam kalimat itu. Ia menangisi puasa. Ia merindukan dahaga. Ia mencintai lelahnya qiyamul lail. Bagi Mu’adz, Ramadan bukan sekadar kewajiban syariat, melainkan kekasih yang selalu dinanti.

Pergeseran Makna Persiapan

Ada perbedaan mencolok antara generasi sahabat dan kita hari ini. Para sahabat berdoa enam bulan sebelum Ramadan agar dipertemukan dengannya, dan enam bulan setelahnya agar amal mereka diterima. Fokus mereka adalah kesiapan ruhani.

Hari ini, sering kali persiapan kita lebih dominan pada aspek fisik: stok bahan makanan, pakaian lebaran, hingga rencana lokasi berbuka puasa bersama. Semua itu tidak keliru, tetapi kisah Mu’adz mengingatkan bahwa inti Ramadan bukan pada gemerlap suasananya, melainkan pada getaran jiwa saat beribadah.

Ramadan seharusnya dirindukan karena ia menghadirkan kesempatan untuk kembali dekat kepada Allah, bukan sekadar momentum seremonial tahunan.

Menghargai Waktu di Tengah Distraksi

Di era digital, kita sering merasa waktu berjalan cepat namun terasa kosong. Banyak yang “menunggu azan magrib” dengan menggulir layar ponsel tanpa arah. Detik-detik Ramadan berlalu dalam distraksi.

Mu’adz mengajarkan perspektif yang berbeda: setiap siang yang haus adalah investasi akhirat. Setiap malam yang terjaga adalah tangga menuju derajat kemuliaan. Hingga kehilangan satu Ramadan saja cukup membuat seorang sahabat menangis.

Pertanyaannya, apakah kita pernah menangisi Ramadan yang berlalu tanpa makna?

Spiritual Quotient vs Materialisme

Zaman modern sering mengukur kebahagiaan dari apa yang dimiliki: rumah, kendaraan, jabatan, atau popularitas. Namun Mu’adz menunjukkan bahwa kebahagiaan tertinggi justru terletak pada kemampuan menundukkan hawa nafsu.

Puasa adalah latihan pengendalian diri. Ia bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan ego, amarah, dan keserakahan. Dalam konteks kekinian, puasa adalah terapi spiritual dan kesehatan mental di tengah gempuran tren konsumerisme dan budaya instan.

Self-control adalah kemewahan spiritual yang semakin langka.

Ramadan sebagai “Digital Detox” dan “Soul Recharge”

Kerinduan para sahabat kepada Ramadan adalah bentuk cinta yang tulus. Mereka melihatnya sebagai kesempatan mencuci jiwa yang berdebu oleh dosa dan kelalaian. Ramadan adalah ruang perbaikan diri, ruang hening di tengah kebisingan dunia.

Bagi kita hari ini, Ramadan bisa menjadi momentum digital detox—mengurangi kebisingan layar dan memperbanyak dialog dengan Allah. Ia juga menjadi soul recharge—mengisi ulang energi spiritual agar kita tidak kehilangan arah dalam kehidupan modern yang serba cepat.

Barangkali kita belum mampu menangisi Ramadan sebagaimana Mu’adz. Namun setidaknya, kita bisa mulai belajar merindukannya. Merindukan sujud yang lebih lama. Merindukan doa yang lebih khusyuk. Merindukan dahaga yang mengantarkan pada takwa.

Jika seorang sahabat menangis karena takut kehilangan Ramadan, maka kita seharusnya bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar mencintainya?

Penulis adalah H. Al Amin, SH, M.Pd, lahir di Sukun, 26 Juli 1984. Ia merupakan mantan Ketua PCNU Kabupaten Sikka (2015–2020 dan 2020–2023). Saat ini berprofesi sebagai ASN Penyuluh Agama Islam pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka. Ia juga pendiri Yayasan Daarul Amiin Maumere sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Daarul Amiin Maumere.

Editor : Redaksi

The heart of Nintendo’s new console isn’t the Switch


A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart.

I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents.

I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine. I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents.

I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now.

When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and flies, then I feel the presence of the Almighty, who formed us in his own image, and the breath of that universal love which bears and sustains us, as it floats around us in an eternity of bliss; and then, my friend, when darkness overspreads my eyes, and heaven and earth seem to dwell in my soul and absorb its power, like the form of a beloved mistress, then I often think with longing, Oh, would I could describe these conceptions, could impress upon paper all that is living so full and warm within me, that it might be the mirror of my soul, as my soul is the mirror of the infinite God!

O my friend — but it is too much for my strength — I sink under the weight of the splendour of these visions! A wonderful serenity has taken possession of my entire soul, like these sweet mornings of spring which I enjoy with my whole heart. I am alone, and feel the charm of existence in this spot, which was created for the bliss of souls like mine.Paragraph

I am so happy, my dear friend, so absorbed in the exquisite sense of mere tranquil existence, that I neglect my talents. I should be incapable of drawing a single stroke at the present moment; and yet I feel that I never was a greater artist than now. When, while the lovely valley teems with vapour around me, and the meridian sun strikes the upper surface of the impenetrable foliage of my trees, and but a few stray gleams steal into the inner sanctuary, I throw myself down among the tall grass by the trickling stream; and, as I lie close to the earth, a thousand unknown plants are noticed by me: when I hear the buzz of the little world among the stalks, and grow familiar with the countless indescribable forms of the insects and