Kam. Apr 16th, 2026

Suku Bajo

Adat, Tarian, dan Struktur Sosial Suku Bajo

SIKKA, Bajopos.com – Di tengah hamparan laut yang menjadi ruang hidupnya, Suku Bajo membangun tatanan sosial yang bertumpu pada adat. Di atas rumah-rumah panggung yang berdiri di perairan, nilai kehormatan, aturan perkawinan, hingga tarian perang diwariskan sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas mereka.

Adat sebagai Penjaga Harga Diri

Dalam masyarakat Bajo, adat bukan sekadar aturan, melainkan penjaga pakayya—harga diri keluarga. Nilai ini paling tampak dalam sistem perkawinan.

Perkawinan resmi melalui proses peminangan yang dikenal sebagai Massuro menjadi bentuk yang paling umum. Prosesi ini berlaku bagi seluruh lapisan masyarakat, baik bangsawan maupun masyarakat biasa, dengan perbedaan pada kelengkapan ritual adat. Dalam setiap tahapan, keluarga besar terlibat, menegaskan bahwa perkawinan adalah urusan kolektif, bukan semata hubungan pribadi.

Namun dinamika sosial juga mengenal Silaiyang atau kawin lari. Dalam praktik ini, pasangan yang sepakat melarikan diri menuju rumah penghulu atau anggota adat untuk meminta perlindungan dan dinikahkan. Peristiwa ini kerap dianggap mencoreng pakayya keluarga perempuan.

Pada masa lalu, keluarga yang merasa dipermalukan dapat mengambil tindakan keras demi menegakkan kehormatan. Kini, ketika pasangan telah berada dalam perlindungan penghulu, mereka tidak dapat diganggu. Penghulu berkewajiban mengurus proses pernikahan, termasuk melalui mekanisme wali hakim apabila keluarga perempuan menolak memberikan restu.

Meski sah secara adat dan agama, hubungan kedua keluarga belum tentu pulih. Diperlukan proses sipamapporah atau permintaan maaf agar relasi sosial kembali harmonis. Dalam konteks ini, adat berfungsi sebagai penengah konflik sekaligus pemulih keseimbangan sosial.

Selain itu, terdapat pula Perkawinan Duduk (Sitingkoloang), yakni ketika salah satu pihak mendatangi rumah keluarga pasangannya dan menyerahkan diri sebagai bentuk kesungguhan cinta. Proses ini dilanjutkan dengan musyawarah keluarga (sitummu).

Adat juga secara tegas melarang perkawinan dengan hubungan darah dekat, baik garis lurus ke atas maupun ke bawah, serta saudara kandung dan keturunan terdekat lainnya. Aturan ini memperlihatkan kuatnya struktur kekerabatan dalam masyarakat Bajo.

Tradisi unik lainnya adalah malam pertama pengantin baru yang dilepas ke laut menggunakan perahu. Pasangan tersebut menghabiskan malam di atas air—simbol bahwa kehidupan rumah tangga mereka menyatu dengan laut sebagai sumber kehidupan.

Struktur Sosial dan Kehidupan Komunitas

Komunitas Bajo umumnya hidup berkelompok di atas laut, menempati rumah-rumah yang berdiri di atas tiang tanpa jembatan penghubung. Pola ini membentuk ikatan internal yang kuat, sekaligus menciptakan jarak sosial tertentu dengan komunitas darat.

Dalam interaksi sehari-hari, bahasa Bajo menjadi identitas utama. Di antara sesama warga, penggunaan bahasa ini diwajibkan sebagai bentuk pemeliharaan jati diri kolektif.

Laut menjadi pusat kehidupan sosial. Selain sebagai sumber ekonomi, laut juga memiliki makna simbolik dan spiritual. Sejak lama, orang tua mereka menggantungkan hidup dari hasil laut tanpa batasan wilayah tangkap seperti yang berlaku saat ini.

Di beberapa wilayah, seperti di Kepulauan Wakatobi, komunitas Bajo hidup berdampingan secara administratif dengan masyarakat setempat, namun tetap mempertahankan ruang sosial tersendiri. Pola ini memperlihatkan bagaimana mereka menjaga kohesi internal sekaligus beradaptasi dengan sistem pemerintahan modern.

Tarian sebagai Ekspresi Adat

Ekspresi budaya Bajo juga tercermin dalam seni tari dan bela diri tradisional.

Tarian Manca menjadi salah satu tarian paling populer, terutama dalam pesta perkawinan resmi (Massuro). Tarian ini dibawakan oleh dua orang pamanca yang saling berhadapan sambil membawa pedang. Gerakannya mengikuti irama sarroni (seruling) dan gandah (gendang).

Manca bukan sekadar hiburan, tetapi simbol keberanian, ketangkasan, dan kehormatan. Para pamanca umumnya telah berlatih sejak kecil, sehingga gerakan mereka lentur dan selaras dengan musik pengiring.

Sementara itu, Sile’ Kampoh (Silat Kampung) menjadi dasar dari gerakan Manca. Silat ini tidak dapat dipelajari sembarang orang; syaratnya harus cukup umur dan menjalani masa latihan hingga empat minggu untuk mencapai kemahiran dasar.

Bagi masyarakat Bajo, silat bukan hanya teknik bela diri, melainkan jalan hidup yang mencerminkan kedisiplinan, keberanian, dan tanggung jawab sosial. Jurus-jurus yang dipelajari dalam silat kampung diterapkan dalam tarian Manca, memperlihatkan keterkaitan antara seni dan pertahanan diri.

Adat yang Bertahan di Tengah Perubahan

Modernisasi membawa perubahan dalam banyak aspek kehidupan Bajo, termasuk pola ekonomi dan teknologi penangkapan ikan. Namun dalam ranah sosial dan budaya, adat tetap menjadi fondasi utama.

Dari tata cara perkawinan yang menjaga pakayya, mekanisme musyawarah dalam menyelesaikan konflik, hingga tarian pedang yang menggema dalam pesta adat, Suku Bajo menunjukkan bahwa identitas mereka tidak hanya dibentuk oleh laut, tetapi juga oleh sistem nilai yang kokoh.

Di atas air yang terus bergerak, adat menjadi jangkar—menjaga keseimbangan antara kehormatan keluarga, solidaritas komunitas, dan warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.(Faidin)

Suku Bajo, Penjaga Tradisi Bahari Nusantara

SIKKA, Bajopos.com Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan suku dan budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Salah satu kelompok etnik yang memiliki karakter kuat dan keunikan tersendiri adalah Suku Bajo. Komunitas ini dikenal luas sebagai masyarakat bahari yang kehidupannya sangat erat dengan laut.

Suku Bajo tersebar di berbagai wilayah Indonesia bagian timur, terutama di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara. Mereka juga dikenal dengan sebutan Bajau, Badjaw, Sama, atau Same. Sejak dahulu, Suku Bajo dikenal sebagai bangsa penjelajah lautan. Mereka hidup berpindah-pindah menggunakan perahu dan mengandalkan posisi bintang sebagai penunjuk arah saat berlayar.

Seiring perkembangan zaman, pola hidup nomaden tersebut perlahan berubah. Masyarakat Bajo mulai menetap dan membangun rumah-rumah panggung di atas perairan dangkal sebagai tempat tinggal. Walaupun tidak lagi sepenuhnya hidup di atas perahu, identitas mereka sebagai masyarakat maritim tetap kuat. Mayoritas masyarakat Bajo bekerja sebagai nelayan dan dikenal sangat mahir menyelam.

Dalam perjalanan sejarahnya, Suku Bajo memiliki kisah panjang yang selalu berkaitan dengan laut. Pada masa lalu, sebagian kelompok mereka dikenal sebagai perompak laut yang tangguh. Kemampuan navigasi dan penguasaan perairan Nusantara membuat mereka disegani. Namun, seiring waktu, mereka meninggalkan praktik tersebut dan beralih menjadi nelayan serta pelaut tradisional yang menetap di wilayah pesisir.

Kehidupan sosial masyarakat Bajo sangat bergantung pada hasil laut. Aktivitas sehari-hari mereka diisi dengan memancing, menjaring, hingga memanah ikan menggunakan cara-cara tradisional. Hasil tangkapan biasanya dijual kepada masyarakat di pesisir atau pulau terdekat. Selain menangkap ikan, sebagian masyarakat Bajo kini juga mulai mengembangkan budidaya komoditas bahari seperti lobster, udang, dan ikan kerapu.

Permukiman mereka dikenal unik karena dibangun di atas laut. Rumah adat Suku Bajo disebut lepa-lepa, berupa rumah panggung yang terapung atau berdiri di atas perairan dangkal. Rumah ini terbuat dari kayu tahan air yang diikat dengan tali rotan kuat, sementara lantainya menggunakan bambu yang disusun rapat untuk menjaga keseimbangan. Di dalamnya terdapat ruang tamu, kamar tidur, dapur, serta tempat penyimpanan hasil laut. Rumah bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keluarga dan adat.

Keunikan Suku Bajo juga terlihat dari bahasa dan keseniannya. Bahasa Bajo termasuk dalam rumpun Austronesia dengan beragam dialek. Dalam tradisi budaya, mereka memiliki tarian khas seperti Tari Katreji dan Tari Lariangi yang ditampilkan dalam upacara adat maupun festival lokal. Selain itu, masyarakat Bajo juga dikenal memiliki keahlian dalam membuat perahu tradisional, termasuk kapal phinisi yang kini banyak dimanfaatkan sebagai kapal wisata di Labuan Bajo.

Dalam hal busana adat, Suku Bajo memiliki pakaian tradisional yang mencerminkan identitas maritim mereka. Pakaian adat pria disebut Sarija, terdiri dari sigar (ikat kepala), kamas (baju atasan), saluar (celana), dan bidah (sarung). Sementara itu, pakaian adat perempuan disebut Samara yang terdiri dari Sigada, Kamada, Juada, dan Roktaha. Busana ini umumnya menggunakan warna-warna cerah, dipadukan dengan kain sarung bermotif serta aksesoris sederhana yang disesuaikan dengan acara dan status sosial.

Suku Bajo dapat ditemukan di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Permukiman mereka terdapat di Teluk Tomini, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah; Kepulauan Sula di Maluku Utara; Pulau Bungin di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat; serta di Kepulauan Wakatobi yang dikenal sebagai salah satu konsentrasi terbesar komunitas Bajo di Indonesia. Ciri khas permukiman tersebut adalah kampung terapung yang selalu berdampingan langsung dengan laut.

Suku Bajo menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat Indonesia mampu hidup berdampingan dengan alam laut secara turun-temurun. Dengan sejarah panjang, kehidupan sosial yang khas, serta kekayaan budaya yang tetap terjaga, Suku Bajo turut memperkaya mozaik keberagaman budaya Indonesia sebagai negara maritim.(Faidin)

Asal-Usul Orang Bajo Masih Misterius, Peneliti Uji Hipotesis

Nusa Tenggara Timur, Bajopos.com – Di balik reputasi sebagai pelaut paling tangguh di Nusantara, asal-usul Orang Bajo hingga kini masih menjadi perdebatan ilmiah. Beragam teori bermunculan, mulai dari legenda Johor di Malaysia hingga hipotesis migrasi dari Sungai Barito di Kalimantan, namun belum satu pun yang benar-benar teruji secara komprehensif.

Dikutip dari National Geographic Indonesia, Orang Bajo—yang juga dikenal sebagai Sama Bajau, Orang Laut, atau Gipsi Laut—telah berabad-abad mengarungi perairan Asia Tenggara. Mereka kini tersebar di wilayah timur Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Filipina bagian selatan, terutama di kawasan Segitiga Terumbu Karang.

Ahli linguistik Phillippe Grange dari Universite La Rochelle mengungkapkan, berbagai teori telah diajukan untuk menjelaskan asal-usul komunitas maritim tersebut. Salah satu yang paling populer menyebut Orang Bajo berasal dari Johor.

Teori ini bertumpu pada legenda tentang Puteri Johor yang hilang. Dalam kisah tersebut, Orang Bajo diminta mencari sang puteri dan tidak boleh kembali sebelum menemukannya. Sejak saat itu, mereka diyakini terus mengembara di laut dan tidak pernah kembali ke tanah asal.

Namun, menurut Grange, teori tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. “Secara dongeng memang ada keterkaitan, tetapi tidak ada bukti arkeologi maupun linguistik yang menunjukkan bahwa Orang Bajo berasal dari Johor,” ujarnya dalam seminar bertema Austronesia Diaspora yang digelar Lembaga Eijkman di Jakarta.

Teori lain yang berkembang mengaitkan Orang Bajo dengan muara Sungai Barito. Hipotesis ini diperkuat oleh kemiripan sejumlah kosakata antara bahasa Dayak Ngaju dan Sama Bajau. Robert Blust dari University of Hawaii bahkan menyebut Orang Bajo mulai melaut sekitar abad ke-8 Masehi, bertepatan dengan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya.

Dalam skenario tersebut, Orang Bajo diduga berperan mendukung jaringan perdagangan maritim Sriwijaya dan kemudian bermigrasi ke wilayah Sulu di Filipina. Setelah invasi suku Tausug pada abad ke-13 dan penyebaran Islam pada abad ke-15, mereka kembali menyebar ke selatan hingga Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Meski demikian, para peneliti mengakui bahwa teori ini pun masih sebatas hipotesis.

Antropolog Tony Rudyansjah dari Universitas Indonesia menilai perpindahan Orang Bajo bisa saja terjadi secara sukarela seiring berkembangnya perdagangan maritim pada abad ke-8. Namun ia menegaskan bahwa penelitian lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan kebenarannya.

Upaya terbaru kini mengarah pada penelitian genetika molekuler. Herawati Sudojo dari Lembaga Eijkman menyatakan bahwa pengambilan dan perbandingan sampel DNA Orang Bajo dari berbagai wilayah dapat membantu memetakan jalur migrasi dan hubungan kekerabatan mereka.

Menurutnya, penelitian ini tidak hanya penting untuk mengungkap asal-usul Orang Bajo, tetapi juga berpotensi memberi gambaran lebih luas tentang migrasi manusia Austronesia, bahkan hingga ke Madagaskar.

Hingga kini, misteri asal-usul Orang Bajo masih terbuka. Di tengah berbagai hipotesis, satu hal yang pasti: komunitas ini telah membuktikan diri sebagai bagian penting dari sejarah maritim Nusantara, dengan laut sebagai ruang hidup sekaligus jejak perjalanan panjang yang belum sepenuhnya terungkap

Sumber : National Geographic Indonesia

Peneliti Dari UNIMOF Ungkap Nilai Karakter di Balik Tradisi Belis Suku Bajo Waturia

SIKKA, Bajopos.com – Tradisi belis dalam adat perkawinan Suku Bajo di Desa Waturia, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, tidak sekadar dimaknai sebagai pemberian material dari pihak laki-laki kepada keluarga perempuan. Sebuah penelitian terbaru justru menegaskan belis sebagai instrumen pembentukan karakter dan penguat kohesi sosial masyarakat.

Temuan itu dipublikasikan dalam Jurnal Transformasi Pendidikan Volume 7 Nomor 1 Januari 2026 melalui artikel berjudul “Analisis Nilai-Nilai Karakter Budaya Belis dalam Adat Perkawinan Suku Bajo di Desa Waturia Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka”. Penelitian tersebut ditulis oleh Astira, Gisela Nuwa, S. Fil, M.Th dan Abdullah Muis Kasim, S. Sos. M. Pd dari Universitas Muhammadiyah Maumere (Unimof).

Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan terdiri atas tokoh adat, tokoh masyarakat, aparat desa, serta pasangan suami istri yang menjalani prosesi adat.

Empat Nilai Utama

Hasil penelitian mengidentifikasi empat nilai karakter utama yang terkandung dalam tradisi belis, yakni kejujuran, tanggung jawab, kehormatan, dan gotong royong.

Nilai kejujuran tercermin dalam proses perundingan antara kedua keluarga saat menentukan bentuk dan jumlah belis. Dalam tahapan adat seperti massuro (lamaran) hingga ngantarang belis (penyerahan belis), keterbukaan menjadi kunci tercapainya kesepakatan yang adil dan menghindari konflik di kemudian hari.

Sementara itu, nilai tanggung jawab terlihat dari kewajiban calon suami memenuhi belis sebagai simbol kesiapan moral, sosial, dan ekonomi sebelum membangun rumah tangga. Dalam praktiknya, kegagalan memenuhi belis dapat berujung pada penundaan bahkan pembatalan pernikahan secara adat.

Adapun nilai kehormatan menempatkan belis sebagai bentuk penghargaan terhadap martabat perempuan dan keluarganya. Belis menjadi simbol legitimasi pernikahan sekaligus pengakuan sosial atas kedudukan perempuan dalam struktur masyarakat Bajo.

Nilai gotong royong juga mengemuka dalam proses pengumpulan belis dan pelaksanaan upacara perkawinan. Keterlibatan keluarga besar dan masyarakat menunjukkan bahwa pernikahan bukan semata urusan dua individu, melainkan peristiwa sosial yang melibatkan komunitas.

Tantangan Modernisasi

Penelitian ini juga mencatat adanya pergeseran makna belis di tengah arus globalisasi dan modernisasi. Sebagian masyarakat mulai memandang belis lebih sebagai beban ekonomi ketimbang simbol penghormatan dan tanggung jawab.

Perubahan perspektif tersebut dinilai berpotensi mengikis makna filosofis tradisi jika tidak diimbangi dengan pemahaman yang memadai, terutama di kalangan generasi muda.

Upaya Pelestarian

Untuk menjaga relevansi tradisi, masyarakat Desa Waturia melakukan sejumlah langkah pelestarian. Di antaranya melalui pewarisan nilai secara turun-temurun dalam keluarga, penegasan peran tokoh adat dalam setiap prosesi perkawinan, pelibatan generasi muda dalam kegiatan adat, serta penyesuaian bentuk belis agar tidak memberatkan secara ekonomi.

Penelitian menyimpulkan bahwa belis memiliki keterkaitan erat dengan adat, agama, dan identitas budaya masyarakat Bajo. Karena itu, pelestariannya tidak hanya penting bagi keberlangsungan tradisi lokal, tetapi juga bagi penguatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.

Di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung, tradisi belis di Waturia menunjukkan bahwa kearifan lokal masih memiliki daya adaptif, tanpa kehilangan esensi nilai yang diwariskan secara turun-temurun.(Faidin)

Dari Bido’ ke Bata: Jejak Perubahan Suku Bajo Daratan di Desa Kasuari

BANGGAI KEPULAUAN, Bajopos.com – Deru ombak tak lagi selalu terdengar dari kolong rumah warga Suku Bajo di Desa Kasuari, Kecamatan Bokan Kepulauan, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Perahu-perahu yang dulu terikat di tiang rumah panggung kini lebih sering bersandar di bibir pantai. Di kampung ini, jejak “gipsi laut” perlahan bertransformasi menjadi masyarakat daratan dengan wajah yang kian modern.

Perubahan itulah yang diteliti akademisi dari Universitas Negeri Gorontalo dalam riset bertajuk Pola Hidup Suku Bajo Daratan di Desa Kasuari. Penelitian tersebut berupaya menjawab dua pertanyaan utama: bagaimana pola hidup Suku Bajo yang kini bermukim di daratan, serta faktor-faktor apa saja yang memengaruhi perubahan tersebut.

Laut sebagai Rumah

Sejak lama, Suku Bajo dikenal sebagai masyarakat yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada laut. Mereka tersebar di berbagai wilayah pesisir Indonesia hingga Asia Tenggara. Dalam berbagai literatur, orang Bajo kerap disebut “orang laut”, bahkan “gipsi laut”, karena tradisi hidup berpindah-pindah menggunakan perahu yang disebut bido’.

Di atas perahu itulah kehidupan dijalani: lahir, tumbuh, berkeluarga, hingga menua. Laut bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan ruang budaya dan spiritual. Ada ungkapan yang menggambarkan kedekatan itu: memindahkan orang Bajo ke darat ibarat memindahkan penyu ke darat—sesuatu yang dianggap tidak alamiah. Namun waktu membawa perubahan.

Titik Balik Perkampungan

Di Desa Kasuari, komunitas Bajo diketahui pertama kali bermukim di Pulau Toroh Au, tepatnya di Desa Timpaus, sebelum kemudian mencari lokasi baru yang lebih strategis. Faktor ketersediaan sumber air bersih, kemudahan pemasaran hasil tangkapan, serta potensi ekonomi menjadi pertimbangan utama hingga akhirnya menetap di Kasuari.

Berbeda dengan gambaran klasik permukiman Bajo yang menjorok ke laut dengan rumah panggung bertiang kayu dan beratap rumbia, wajah Kasuari kini berubah. Rumah-rumah permanen berdinding bata dan beratap seng berdiri kokoh di daratan. Kolong rumah tak lagi menjadi tempat parkir perahu atau memancing ikan.

Penelitian dari Universitas Negeri Gorontalo mencatat, perubahan fisik hunian berjalan seiring dengan perubahan pola hidup. Masyarakat Bajo di Kasuari tak lagi sepenuhnya bergantung pada laut. Selain melaut, sebagian warga mulai memanfaatkan potensi darat, termasuk sektor pertanian.

Teknologi dan Pendidikan

Transformasi juga tampak pada alat produksi dan gaya hidup. Jika dahulu teknologi tangkap yang digunakan sangat sederhana, kini sebagian nelayan Bajo di Kasuari telah memakai peralatan yang lebih modern sehingga mampu menjangkau lokasi tangkap yang lebih strategis dengan hasil lebih besar.

Di sisi lain, rumah tangga mereka juga telah dilengkapi berbagai fasilitas modern. Televisi, pemutar cakram, hingga telepon genggam bukan lagi barang asing. Modernisasi ini menjadi penanda bahwa perubahan tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya.

Potensi sumber daya alam di Kasuari—baik kelautan maupun pertanian—memberi peluang bagi peningkatan kualitas hidup, termasuk membiayai pendidikan anak-anak mereka. Pola pikir yang semakin terbuka turut mendorong pergeseran orientasi hidup dari semata-mata bertahan di laut menuju adaptasi dengan kehidupan darat.

Faktor Pendorong Perubahan

Penelitian tersebut menyimpulkan, ada sejumlah faktor yang memengaruhi kehidupan Suku Bajo hingga memilih bermukim di daratan. Di antaranya: Ketersediaan fasilitas dan akses terhadap kebutuhan dasar seperti air bersih, kemudahan pemasaran hasil tangkapan, perkembangan teknologi penangkapan ikan, pengaruh modernisasi dan interaksi dengan masyarakat luar, serta kebutuhan akan pendidikan dan peningkatan kualitas hidup keluarga.

Proses ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui perjalanan panjang perpindahan dan penyesuaian sosial. Kebiasaan hidup sepenuhnya di atas laut perlahan memudar, digantikan pola menetap dengan struktur sosial yang lebih mapan.

Antara Tradisi dan Modernitas

Meski telah berubah, identitas kebajoan belum sepenuhnya hilang. Keahlian mengarungi ombak dan menangkap ikan tetap menjadi kebanggaan. Laut masih menjadi “pannangmamie ma dilao”—tempat mencari nafkah.

Namun di Kasuari, laut kini bukan satu-satunya ruang hidup. Daratan telah menjadi bagian dari identitas baru. Rumah bata, atap seng, serta perangkat elektronik berdampingan dengan perahu dan jaring.

Penelitian ini diharapkan memberi manfaat bagi pembaca untuk memahami dinamika perubahan pola hidup Suku Bajo secara ilmiah. Selain menjadi rujukan akademik, riset tersebut juga membuka ruang refleksi bahwa kebudayaan tidak pernah statis—ia bergerak mengikuti kebutuhan, tantangan, dan arah zaman.

Di Desa Kasuari, perubahan itu tampak nyata: dari bido’ yang mengarungi samudera, menuju rumah permanen yang berdiri di daratan—tanpa sepenuhnya meninggalkan jejak laut dalam jiwa mereka.(Faidin)

Saat Laut Memanggil Lebih Keras dari Bel Sekolah: Dilema Anak-Anak Suku Bajo di Pesisir Sikka

SIKKA, Bajopos.com – Pagi di pesisir Wuring, Kabupaten Sikka, tak selalu diawali dering bel sekolah. Bagi sebagian anak Suku Bajo, hari justru dimulai dengan menarik perahu ke laut, memeriksa jaring, dan berharap hasil tangkapan cukup untuk makan hari itu.

Di komunitas yang hidupnya menyatu dengan laut ini, pendidikan sering kali kalah oleh kebutuhan ekonomi. Anak-anak yang seharusnya duduk di bangku kelas justru tumbuh lebih cepat bersama tanggung jawab yang datang terlalu dini.

Fikri: Dari Bangku SMP ke Geladak Perahu

Fikri masih mengingat jelas mimpinya menjadi nakhoda kapal pelayaran. Namun mimpi itu perlahan memudar setelah ayahnya, Muhammad Saieng, meninggal dunia pada 2016. Sejak itu, ia berhenti sekolah di bangku SMP dan menggantikan peran sang ayah sebagai pencari nafkah.

“Sebenarnya masih ada keinginan saya untuk melanjutkan sekolah, tapi keadaan memaksa,” ujarnya lirih.

Ibunya, Siti Dewi, yang saat itu sakit-sakitan, tak lagi mampu berjualan ikan seperti dulu. Fikri pun memilih turun ke laut. “Saya harus memilih antara sekolah atau membantu keluarga. Saya memilih keluarga,” katanya.

Kini, hari-harinya lebih banyak dihabiskan menyulam jaring dan melaut, bukan membaca buku pelajaran.

Risaldi dan Nazam: Penyesalan yang Disimpan Sendiri

Cerita Fikri berulang pada Risaldi. Setelah ayahnya meninggal pada 2015, ia berhenti sekolah dan fokus mencari ikan demi membiayai adik-adiknya.

“Penyesalan itu pasti ada. Tapi kalau saya tetap sekolah, siapa yang akan menghidupi keluarga?” ungkapnya.

Hal serupa dialami Nazam. Ia meninggalkan bangku SMA untuk membantu ibunya, Nur Bicce, yang berjuang menyekolahkan lima anak setelah sang ayah merantau ke Malaysia.

“Bapak merantau agar kami bisa sekolah. Tapi kalau saya juga terus sekolah, siapa yang bantu ibu?” katanya.

Di pesisir ini, pengorbanan menjadi bagian dari masa tumbuh.

Dinas Pendidikan: Ekonomi dan Pola Pikir

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sikka, Germanus Goleng, saat itu mengakui tingginya angka putus sekolah di wilayah pesisir.

“Secara data, khusus anak suku Bajo memang belum kami klasifikasikan, namun secara umum angka putus sekolah di Sikka sangat tinggi. Dan itu termasuk banyak dari suku Bajo,” katanya.

Menurut Germanus, faktor ekonomi menjadi penyebab utama, diperparah dengan pola pikir yang menganggap bekerja lebih penting daripada sekolah.

“Banyak anak Bajo berpikir, lebih baik melaut dan mendapat uang daripada sekolah,” ujarnya.

Program Pendidikan Kesetaraan Paket A, B, dan C serta Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) telah dijalankan, tetapi tantangan akses dan kesadaran masyarakat masih besar, terutama di wilayah Permaan, Nangahure, Wuring, dan Nangahale.

Sekolah Berjuang Menahan Murid Tetap Tinggal

Kepala MIS Muhammadiyah Wuring, Nur Kholis, menyebut setiap tahun sekitar 12 siswa berhenti sekolah. Kebiasaan hidup nomaden mengikuti musim ikan membuat anak-anak kerap menghilang berbulan-bulan.

“Saat ikan di Wuring berkurang, mereka pindah. Anak-anak ikut pindah dan tiba-tiba hilang tanpa izin,” ujarnya.

Ia juga menyoroti minimnya dorongan orang tua. “Saat kami datangi rumahnya, mereka cuma bilang, ‘kalau anaknya nggak mau sekolah, ya sudah’,” katanya.

Nur Kholis menerapkan kebijakan fleksibel agar siswa yang lama absen tetap bisa kembali belajar. Ia berharap ada aturan yang mewajibkan ijazah minimal sebelum menikah untuk mencegah pernikahan dini.

FREN: Pendidikan Bukan Sekadar Biaya

Upaya perubahan juga datang dari Yayasan Flores Children Development (FREN). Ketua Bidang Advokasi FREN, Maria Nona Lensiandi, mengatakan persoalan utama bukan hanya soal biaya, tetapi cara pandang.

“Kami melihat banyak anak Suku Bajo lebih memilih melaut daripada sekolah karena mereka sudah bisa menghasilkan uang. Ini pola pikir yang harus diubah,” ujarnya.

Melalui Layanan Berbasis Komunitas (LBK), FREN melakukan sosialisasi tentang pendidikan, perlindungan anak, hingga kesehatan remaja. Namun keterbatasan dana membuat intervensi mereka belum maksimal.

“Sampai sekarang, pemerintah belum memberikan respons konkret terhadap usulan kami. Jika ada anggaran khusus, kami yakin kasus putus sekolah ini bisa ditekan,” tambah Maria.

DPRD: Laut Selalu Memberi, Sekolah Sering Diabaikan

Anggota DPRD Sikka, Baharudin, menilai persoalan ini berkaitan erat dengan budaya.

“Sejak dulu, masyarakat Suku Bajo percaya bahwa laut akan selalu memberi rezeki, jadi pendidikan sering kali dianggap tidak terlalu penting,” katanya.

Ia menyebut kesadaran pendidikan sempat meningkat pasca-gempa dan tsunami 1992, namun kebiasaan berpindah tempat tetap menjadi kendala besar.

“Banyak orang tua membiarkan anak mereka berhenti sekolah tanpa ada usaha untuk mendorong mereka melanjutkan pendidikan,” tegasnya.

Antara Ombak dan Masa Depan

Di tengah ombak yang tak pernah berhenti, anak-anak Bajo terus tumbuh dalam realitas yang keras. Mereka belajar tentang tanggung jawab sebelum sempat memahami arti cita-cita.

Namun harapan belum sepenuhnya tenggelam.

“Saya hanya ingin adik-adik saya sekolah, agar mereka tidak mengalami apa yang saya alami,” kata Fikri.

Laut mungkin memanggil mereka setiap hari. Tetapi selama masih ada kepedulian, kebijakan yang berpihak, dan kesadaran yang tumbuh, pendidikan tetap bisa menemukan jalannya—bahkan di atas rumah-rumah kayu yang berdiri di atas air.(Faidin)

Jejak Laut dalam Persepsi Pendidikan Suku Bajo: Studi UGM Ungkap Tantangan dan Rekomendasi Kebijakan

SIKKA, Bajopos.com – Penelitian akademik yang dikutip dari literatur Perpustakaan Universitas Gadjah Mada mengungkap bagaimana persepsi masyarakat Suku Bajo terhadap pendidikan formal dibentuk oleh filosofi hidup yang berakar kuat pada laut. Studi tersebut merupakan tesis S2 MPKD tahun 2009 yang ditulis Harmin dengan pembimbing Bakti Setiawan, M.A., Ph.D.

Penelitian yang dilakukan di Desa Matanauwe itu bertujuan menemukan faktor-faktor yang mendasari pola pikir masyarakat Suku Bajo hingga membentuk persepsi mereka terhadap manfaat pendidikan formal.

Laut sebagai Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan

Suku Bajo dikenal sebagai komunitas maritim yang mendiami wilayah laut di berbagai pulau di Indonesia, termasuk Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Dalam pandangan hidup mereka, laut bukan sekadar ruang geografis, melainkan representasi masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.

Filosofi tersebut memengaruhi orientasi hidup masyarakat Bajo yang terfokus pada laut sebagai pusat pengabdian dan sumber penghidupan.

Daratan dipandang bukan sebagai unsur utama, melainkan pelengkap kehidupan. Cara pandang ini kemudian berdampak pada pola pikir dan perilaku, termasuk dalam melihat manfaat pendidikan formal yang selama ini terpusat di darat.

Bagi masyarakat Bajo, sistem pendidikan formal dinilai kurang memberi manfaat langsung bagi kehidupan mereka yang sepenuhnya bergantung pada laut. Aktivitas melaut, menangkap ikan, serta keterampilan membaca arus dan cuaca dianggap lebih relevan dengan kebutuhan sehari-hari.

Pendidikan Formal Dinilai Kurang Relevan

Penelitian tersebut mencatat bahwa tingkat pendidikan masyarakat Suku Bajo relatif lebih rendah dibandingkan masyarakat yang tinggal di daratan. Rendahnya tingkat pendidikan ini tidak hanya dipengaruhi faktor akses, tetapi juga persepsi kolektif terhadap pentingnya sekolah formal.

Pengetahuan dan keterampilan kelautan diwariskan secara turun-temurun melalui pendidikan informal dan non formal dalam keluarga serta komunitas. Proses pembelajaran berlangsung langsung di laut, yang bagi masyarakat Bajo menjadi ruang belajar sekaligus ruang hidup.

Dari hasil penelitian, ditemukan tiga tema utama yang membentuk persepsi masyarakat terhadap pendidikan formal, yakni:

Formalitas pendidikan, di mana sekolah dipandang sebatas pemenuhan administratif, bukan kebutuhan substantif.

Menjunjung kehidupan tradisional, yaitu kuatnya nilai adat dan pola hidup turun-temurun.

Ketergantungan pada laut, yang menempatkan laut sebagai pusat pembelajaran dan penghidupan.

Ketiga tema tersebut kemudian dikerucutkan menjadi dua konsep besar. Pertama, pendidikan formal dianggap kurang relevan dengan realitas kehidupan masyarakat Bajo. Kedua, laut diposisikan sebagai wahana utama pembelajaran sekaligus sumber ekonomi.

Rekomendasi Program Berbasis Kelautan

Penelitian ini juga memberikan rekomendasi kebijakan. Pemerintah dan para pengambil keputusan didorong untuk merancang program pendidikan formal yang disesuaikan dengan bakat, minat, serta potensi alamiah masyarakat Suku Bajo.

Program yang berbasis laut atau pendidikan kontekstual dinilai lebih efektif. Misalnya, pengembangan kurikulum terkait pengelolaan sumber daya laut, teknologi perikanan, navigasi, hingga kewirausahaan berbasis maritim. Dengan pendekatan tersebut, pendidikan formal dapat menjadi sarana pemberdayaan tanpa mengabaikan identitas dan kearifan lokal masyarakat.

Penelitian ini menegaskan bahwa persoalan pendidikan di komunitas maritim seperti Suku Bajo bukan semata soal infrastruktur atau ketersediaan sekolah. Dimensi budaya memegang peran penting dalam menentukan penerimaan masyarakat terhadap sistem pendidikan nasional.

Studi tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa pembangunan pendidikan di Indonesia yang majemuk memerlukan pendekatan yang kontekstual dan sensitif terhadap karakter sosial-budaya setiap komunitas.

Bagi Suku Bajo, laut bukan hanya ruang mencari nafkah, tetapi juga ruang belajar yang membentuk jati diri mereka dari generasi ke generasi.(Faidin)