Riset Ungkap Risiko Dekompresi Mengintai Nelayan, Perkuat Hasil Studi Prof. Herawati Tentang Suku Bajo
SIKKA, BAJOPOS.COM – Aktivitas menyelam yang menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat Bajo di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, ternyata menyimpan ancaman serius bagi kesehatan. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan risiko penyakit dekompresi (Decompression Sickness/DCS) pada nelayan penyelam tradisional masih tinggi, terutama akibat pola kerja tanpa standar keselamatan memadai.
Untuk diketahui, penyakit Dekompresi (Decompression Sickness/DCS) adalah gangguan kesehatan akibat penurunan tekanan lingkungan secara drastis, menyebabkan gas (terutama nitrogen) yang terlarut dalam darah dan jaringan membentuk gelembung. Gelembung ini menyumbat aliran darah dan merusak jaringan, umumnya dialami penyelam yang naik terlalu cepat, astronot, atau pekerja di udara bertekanan.
Temuan itu dipublikasikan dalam The Journal of Indonesian Industrial Hygiene Association Volume 1 Nomor 2, Agustus 2025. Studi tersebut merupakan tinjauan sistematis terhadap lima penelitian di Indonesia dan Chili dalam kurun 2016 hingga 2021.
Hasilnya konsisten: masa kerja panjang, frekuensi menyelam lebih dari tiga kali sehari, kedalaman dan lama menyelam, cara naik ke permukaan secara langsung, usia, serta riwayat penyakit menjadi faktor dominan pemicu dekompresi. Dalam salah satu penelitian, kedalaman menyelam disebut meningkatkan risiko hingga puluhan kali lipat.
Sejalan dengan Temuan Prof. Dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D.,
Hasil ini memperkuat penelitian yang sebelumnya dilakukan Prof. Dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D., peneliti genetika molekuler dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang kini terintegrasi dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Dalam risetnya mengenai populasi Suku Bajo di wilayah pesisir Kabupaten Sikka, Herawati menyoroti adaptasi biologis masyarakat Bajo yang dikenal sebagai “pengembara laut”. Secara genetik, mereka memiliki kemampuan menyelam lebih lama dibanding populasi darat.
Namun, adaptasi itu bukan jaminan kebal risiko. Secara praktik, nelayan Bajo di Sikka umumnya mulai menyelam sejak usia belasan tahun. Mereka bisa turun ke laut beberapa kali dalam sehari untuk mencari teripang, lobster, atau biota bernilai ekonomi tinggi. Tidak sedikit yang menggunakan kompresor sederhana tanpa prosedur dekompresi bertahap.
Keluhan Kesehatan yang Nyata
Berbagai laporan kesehatan di komunitas penyelam tradisional menunjukkan gejala yang serupa dengan DCS, seperti: nyeri sendi kronis, pusing dan vertigo setelah menyelam, gangguan pendengaran hingga ketulian, serta mati rasa pada anggota tubuh.
Dalam jurnal tersebut disebutkan, penyelam yang naik ke permukaan secara cepat memiliki risiko hingga enam kali lebih besar mengalami dekompresi dibanding mereka yang naik secara bertahap.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat jumlah nelayan Indonesia mencapai 2,4 juta orang pada 2022. Sebagian besar di wilayah pesisir timur, termasuk NTT, masih menggantungkan hidup pada metode tangkap tradisional yang berisiko tinggi.
Tantangan Keselamatan Kerja
Peneliti menyimpulkan, penyakit dekompresi pada nelayan tradisional kerap terjadi karena tidak terpenuhinya standar keselamatan dan penggunaan alat selam yang tidak sesuai ketentuan.
Di Sikka, persoalan ini tidak hanya soal teknis, tetapi juga sosial dan ekonomi. Bagi masyarakat Bajo, menyelam bukan sekadar pekerjaan, melainkan identitas dan warisan budaya.
Karena itu, intervensi kesehatan kerja dinilai harus mempertimbangkan pendekatan berbasis budaya. Edukasi tentang prosedur naik bertahap, pembatasan frekuensi menyelam, penggunaan alat selam standar, serta pemeriksaan kesehatan berkala menjadi langkah mendesak.
Antara Adaptasi dan Risiko
Riset genetika menunjukkan masyarakat Bajo memiliki keunggulan fisiologis untuk menyelam. Namun studi kesehatan kerja menegaskan bahwa paparan tekanan berulang dalam jangka panjang tetap membawa dampak pada sistem saraf, sendi, dan pendengaran.
Korelasi antara penelitian dekompresi dan studi Prof. Herawati Sudoyo menegaskan satu hal: adaptasi biologis tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan keselamatan kerja.
Dengan semakin meningkatnya tekanan ekonomi di sektor perikanan tradisional, perlindungan kesehatan nelayan Bajo di Sikka menjadi isu yang tak bisa ditunda. Tanpa intervensi yang tepat, risiko dekompresi bukan hanya ancaman individu, tetapi juga ancaman keberlanjutan generasi masyarakat pesisir.(Faidin)

