Khutbah ‘Id: Hidup Gelisah Karena Keberkahan Hidup yang Tiada, Materi Bukan Pemicu Utama
SIKKA, BAJOPOS.COM – Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (21/3/2026), tidak hanya menyentuh soal kematian dan amal, tetapi juga menyoroti satu persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: kegelisahan hidup.
Di hadapan ribuan jamaah, KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. menyinggung fenomena yang kerap dialami banyak orang—memiliki harta, pekerjaan, bahkan kehidupan yang terlihat mapan, namun tetap merasa tidak tenang.
“Kerja siang malam, tetapi Allah cabut keberkahannya,” ujarnya dalam khutbah.
Pernyataan itu menggambarkan kondisi yang dinilai semakin umum terjadi, di mana usaha yang dilakukan tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan hidup yang dirasakan.
Menurut Alifuddin, kegelisahan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi atau kurangnya materi, tetapi karena hilangnya keberkahan dalam kehidupan.
Ia menjelaskan, keberkahan bukan hanya soal jumlah, tetapi tentang manfaat dan ketenangan yang dirasakan dari apa yang dimiliki.
“Banyak orang tidak tahu ke mana uangnya habis. Rumah ada, tetapi tidak nyaman. Hidup terasa sempit,” katanya.
Fenomena itu, menurutnya, menjadi tanda bahwa ada yang tidak beres dalam hubungan manusia dengan Tuhan.
Dalam khutbahnya, ia menyebut bahwa salah satu bentuk “musibah” yang bisa menimpa manusia bukan hanya bencana alam, tetapi dicabutnya keberkahan dari kehidupan.
Akibatnya, seseorang tetap merasa gelisah meskipun secara lahiriah terlihat berkecukupan.
“Makan ada, tetapi tidak terasa nikmat. Tidur ada, tetapi tidak nyenyak,” ujarnya.
Alifuddin menegaskan, kegelisahan tersebut berkaitan erat dengan kualitas ibadah, khususnya salat. Ia menyebut, hubungan manusia dengan Allah menjadi kunci utama dalam menghadirkan ketenangan hidup.
“Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu,” tegasnya.
Menurutnya, salat bukan sekadar kewajiban, tetapi menjadi fondasi dalam membangun ketenangan batin. Ketika salat dijaga dengan baik, maka aspek kehidupan lainnya akan ikut membaik.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia sering kali membuat manusia lalai. Kesibukan bekerja, mengejar materi, dan memenuhi kebutuhan hidup membuat banyak orang menjauh dari nilai-nilai spiritual.
Padahal, menurutnya, semakin jauh seseorang dari Allah, semakin besar pula potensi kegelisahan yang dirasakan.
“Hidup seperti tidak punya arah, padahal semua ada,” ujarnya.
Khutbah tersebut juga menjadi refleksi setelah bulan Ramadan. Selama Ramadan, banyak umat Islam yang lebih disiplin dalam beribadah, lebih tenang, dan lebih terkontrol dalam menjalani kehidupan.
Namun setelah Ramadan berlalu, kondisi tersebut sering kali tidak bertahan.
“Ramadan melatih kita untuk tenang. Pertanyaannya, apakah itu kita bawa setelahnya?” kata Alifuddin.
Ia menegaskan, ketenangan hidup bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari kedekatan dengan Allah dan konsistensi dalam menjalankan ibadah.
Tanpa itu, menurutnya, manusia akan terus berada dalam kondisi gelisah, meskipun memiliki segala hal yang diinginkan.
Pesan tentang kegelisahan hidup ini menjadi salah satu bagian penting dalam khutbah Idul Fitri di Nangahale. Selain bersifat reflektif, pesan tersebut juga menjadi kritik terhadap pola hidup masyarakat yang cenderung mengejar materi tanpa diimbangi dengan kekuatan spiritual.
Di akhir khutbah, jamaah diajak untuk kembali memperbaiki hubungan dengan Allah sebagai jalan keluar dari kegelisahan yang dirasakan.
Sebab, sebagaimana disampaikan dalam khutbah itu, ketenangan bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada keberkahan yang diberikan.
Reporter : Faidin






