Februari 20, 2026

(QULTUM) Ustadz Abdul Haris Tekankan Pentingnya Niat Dalam Tiap Amal

SIKKA, BAJOPOS.COM – Ustadz Abdul Haris menegaskan pentingnya niat dalam pelaksanaan puasa Ramadan saat menyampaikan kuliah tujuh menit (qultum) di Masjid An-Nur Nangahale, pada rangkaian salat tarawih awal Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi. Rabu, 18/02/2026 usai sholat isya berjama’ah.

Dalam ceramahnya, ia mengawali dengan mengajak jamaah bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk kembali bertemu Ramadan dan melaksanakan salat tarawih.

“Ini semata-mata pertolongan Allah untuk kita. Pilihan Allah untuk kita. Karena ada orang-orang yang tahun lalu masih ikut Ramadan dengan kita, mungkin sekarang sudah tidak ada,” ujarnya.

Ia juga menyinggung salah satu pengisi qultum di masjid tersebut yang telah wafat beberpa hari menjelang Ramadhan ini (almarhum H. Patahere, red). Menurutnya, kematian menjadi pengingat bahwa setiap orang tidak mengetahui kapan akan dipanggil oleh Allah SWT.

Menurut Ustadz Abdul Haris, Almarhum dalam ingatannya sempat menyampaikan persoalan niat puasa, seingatnya di malam ke dua Ramadhan tahun sebelumnya.

Pada kesempatan itu, Ustadz Abdul Haris menyampaikan materi tentang salah satu rukun puasa, yakni niat. Ia menjelaskan bahwa niat merupakan bagian yang tidak boleh ditinggalkan dalam ibadah puasa.

“Kapan kita mulai niat berpuasa? Saat malam tiba. Kapan malam tiba? Saat azan maghrib,” jelasnya di hadapan jamaah.

Ia menegaskan, bagi yang hendak berpuasa keesokan hari, niat sudah bisa dilakukan sejak masuk waktu maghrib. Dalam penjelasannya, ia merujuk pada praktik yang lazim dianut mayoritas umat Islam di Indonesia yang mengikuti Mazhab Syafi’i.

Menurutnya, dalam Mazhab Syafi’i, puasa setiap hari di bulan Ramadan dihitung sebagai amal yang berdiri sendiri, bukan satu rangkaian amal untuk sebulan penuh. Karena itu, setiap hari puasa wajib disertai niat tersendiri.

“Puasa hari pertama, amal sendiri. Hari berikutnya, amal yang lain lagi. Artinya setiap amal wajib satu niat,” tegasnya.

Ia menjelaskan, niat bersama setelah salat tarawih yang kerap dipandu imam merupakan metode untuk memudahkan jamaah agar tidak lupa. Namun, secara prinsip, niat tetap harus dilakukan setiap malam.

Terkait adanya pendapat bahwa cukup satu niat untuk satu bulan penuh, ia menerangkan bahwa hal tersebut merupakan pendapat dalam Mazhab Maliki, bukan Mazhab Syafi’i. Meski demikian, dalam praktik fiqih Syafi’i, dianjurkan pula untuk berniat puasa satu bulan penuh pada malam pertama Ramadan sebagai langkah antisipasi jika suatu malam lupa berniat.

“Ini hanya untuk antisipasi, bukan berarti sudah cukup satu kali niat untuk sebulan,” jelasnya.

Ustadz Abdul Haris juga mempraktikkan lafaz niat puasa satu bulan penuh mengikuti pendapat Imam Malik sebagai bentuk taklid, sekaligus menegaskan kembali bahwa niat harian tetap wajib dilakukan.

Ia menambahkan, niat pada dasarnya dilakukan di dalam hati. Jika tidak sempat mengikuti lafaz bahasa Arab, jamaah dapat berniat dengan bahasa masing-masing, misalnya, “Saya niat puasa Ramadan besok hari.” Menurutnya, lafaz sederhana tersebut sudah mencukupi karena yang terpenting adalah kehendak dalam hati.

Di akhir ceramah, ia berharap Allah SWT memberikan kekuatan kepada seluruh jamaah untuk menjalankan ibadah puasa sesuai ketentuan dan menjadikan Ramadan sebagai jalan meraih ketakwaan.

“Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk melaksanakan puasa Ramadan sesuai dengan yang dikehendaki-Nya dan menjadikan kita orang-orang yang bertakwa,” tutupnya.

Reporter : Faidin

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *