Kam. Sep 24th, 2026

Sidang Isbat

Mayoritas Negara Diprediksi Rayakan Idul Fitri 1447 H pada 20 Maret 2026

JAKARTA, BAJOPOS.COM – Mayoritas negara di dunia diperkirakan akan merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat, 20 Maret 2026. Prediksi ini didasarkan pada perhitungan astronomi yang menunjukkan bahwa hilal Syawal tidak mungkin terlihat pada Rabu, 18 Maret 2026.

Direktur Pusat Astronomi Internasional, Mohammed Shawkat Odeh, menjelaskan bahwa negara-negara yang memulai Ramadan pada 18 Februari akan melakukan rukyatul hilal pada 18 Maret. Sementara negara yang mulai berpuasa pada 19 Februari akan melakukan pengamatan pada 19 Maret.

Namun demikian, peluang melihat hilal pada 18 Maret hampir tidak mungkin. “Melihat hilal Syawal pada hari Rabu tidak mungkin karena bulan akan terbenam sebelum matahari, dan konjungsi astronomis terjadi setelah matahari terbenam,” ujar Odeh seperti dikutip dari Gulf News, Rabu (18/3/2026).

Dengan kondisi tersebut, sebagian besar negara diperkirakan akan menyempurnakan Ramadan menjadi 30 hari, sehingga Idul Fitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Untuk pengamatan pada Kamis, 19 Maret, visibilitas hilal juga dinilai sangat terbatas. Di wilayah timur dunia, hilal tidak dapat diamati. Sementara di sebagian Asia Barat dan Afrika, hilal hanya mungkin terlihat menggunakan teleskop dengan kondisi langit yang sangat cerah.

“Sebagian besar negara diperkirakan akan mengumumkan Jumat, 20 Maret sebagai hari pertama Idul Fitri,” kata Odeh.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya potensi perbedaan penetapan. Hal ini disebabkan oleh kesulitan pengamatan hilal di berbagai wilayah dunia Islam.

“Sejumlah negara mungkin tidak dapat mengonfirmasi penampakan hilal, sehingga berpotensi menetapkan Sabtu, 21 Maret sebagai Idul Fitri,” ujarnya.

Secara teknis, kondisi hilal di berbagai kota juga menunjukkan tantangan. Di Jakarta, bulan hanya terbenam sekitar 10 menit setelah matahari dengan usia sekitar 11 jam, sehingga tidak memungkinkan diamati bahkan dengan teleskop.

Sementara di Abu Dhabi dan Riyadh, posisi hilal sedikit lebih tinggi di atas ufuk, namun tetap membutuhkan alat bantu optik serta kondisi atmosfer yang sangat cerah. Adapun di wilayah Eropa Barat dan Afrika Barat, pengamatan dengan mata telanjang juga tergolong sangat sulit.

Odeh menegaskan bahwa visibilitas hilal tidak hanya bergantung pada satu faktor. Selain usia bulan, parameter seperti jarak sudut dari matahari (elongasi) dan ketinggian bulan di atas cakrawala turut menentukan keberhasilan rukyat.

Indonesia Berpotensi Berbeda-Beda

Di Indonesia, potensi perbedaan penetapan Idul Fitri 2026 juga mencuat. Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama Observatorium Bosscha memperkirakan Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Prediksi tersebut mengacu pada posisi hilal pada Kamis, 19 Maret yang dinilai belum memenuhi kriteria baru MABIMS. Dalam kriteria tersebut, awal bulan Hijriah ditetapkan jika tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi mencapai 6,4 derajat.

Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan lebih awal bahwa Idul Fitri 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Keputusan tersebut mengacu pada metode Kalender Hijriah Global Tunggal.

Adapun pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia akan menetapkan secara resmi tanggal Idul Fitri melalui sidang isbat yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026.(Redaksi)

Ramadhan 2026, Muhammadiyah Tarawih Dimulai Malam Ini

JAKARTA, BAJOPOS.COM – Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Dengan penetapan tersebut, warga Muhammadiyah mulai melaksanakan salat tarawih pada Selasa malam, 17 Februari 2026.

Keputusan itu tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H. Penetapan dilakukan berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang digunakan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Melalui pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Muhammadiyah menetapkan awal bulan hijriah apabila hilal telah memenuhi kriteria secara global dan konjungsi terjadi sebelum fajar di wilayah tertentu. Dengan dasar tersebut, 1 Ramadan 1447 H ditetapkan lebih awal dibandingkan perkiraan pemerintah.

Artinya, malam ini warga Muhammadiyah di berbagai daerah mulai menggelar salat tarawih berjamaah di masjid maupun musala. Sejumlah pengurus masjid Muhammadiyah juga telah menyiapkan rangkaian ibadah Ramadan, mulai dari kajian, tadarus Al-Qur’an hingga program sosial.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama masih akan menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadan berdasarkan metode rukyatul hilal dan hisab dengan kriteria MABIMS.

Perbedaan penetapan awal Ramadan merupakan dinamika yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Muhammadiyah menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil ijtihad keagamaan yang didasarkan pada perhitungan astronomi.

Dengan dimulainya tarawih malam ini, warga Muhammadiyah menyambut Ramadan 1447 H dengan harapan bulan suci menjadi momentum memperkuat keimanan, kepedulian sosial, dan persaudaraan umat.(Faidin)

1 RAMADHAN? Perbedaan Teknis yang Perlu Disikapi dengan Kedewasaan

SIKKA, BAJOPOS.COM – Diskursus mengenai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) kembali mengemuka menjelang Ramadhan 1447 Hijriah. Berbagai tanggapan, masukan, hingga kritik yang berkembang dipandang sebagai bagian wajar dari proses ilmiah dan ijtihad dalam merumuskan sistem kalender Islam yang lebih baik dan berjangka panjang.

Pakar falak Muhammadiyah, Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, dikutip melalui Muhammadiyah.or.id, menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Penetapan ini tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 serta penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid Nomor 01/MLM/I.1/B/2025.

Keputusan tersebut menggunakan KHGT sebagai metode resmi Muhammadiyah, menggantikan pendekatan wujudul hilal yang sebelumnya dipakai.

Dalam sistem KHGT, penentuan awal bulan didasarkan pada keterpaduan Prinsip, Syarat, dan Parameter (PSP), salah satunya terpenuhinya tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat di mana saja di permukaan bumi.

Untuk Ramadan 1447 H, parameter tersebut dinyatakan telah terpenuhi di Alaska, Amerika Serikat. Secara astronomis, konjungsi (ijtimak) terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01 UTC atau 19.01 WIB. Berdasarkan data tersebut, Muhammadiyah menetapkan Rabu, 18 Februari 2026 sebagai awal Ramadan.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Agama RI menggunakan kriteria MABIMS dengan batas minimal tinggi hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat yang berlaku dalam wilayah Indonesia serta memerlukan konfirmasi rukyat.

Dalam kondisi awal Ramadan 1447 H, hilal di Indonesia dilaporkan masih berada di bawah ufuk saat matahari terbenam, sehingga pemerintah diperkirakan menetapkan awal Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026. Meski demikian, keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat.

Perbedaan ini pada dasarnya berada pada ranah teknis dan metodologis, bukan pada substansi ajaran. Baik Muhammadiyah maupun pemerintah sama-sama menggunakan pendekatan hisab imkan rukyat, hanya berbeda dalam parameter dan cakupan keberlakuannya. KHGT bersifat global, sementara kriteria pemerintah berlaku secara teritorial.

Secara fikih, kedua pendekatan memiliki landasan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. KHGT menekankan konsep kesatuan umat (ummah wahidah) dan pemahaman universal terhadap hadis rukyat, sementara pemerintah menitikberatkan pada prinsip kehati-hatian dan kesesuaian dengan kondisi wilayah Indonesia.

Karena itu, potensi perbedaan awal Ramadan hendaknya disikapi dengan kedewasaan dan sikap saling menghormati. Perbedaan ini bukanlah hal baru dalam khazanah fikih Islam dan tidak semestinya menjadi sumber polarisasi di tengah umat.

Justru, dinamika pemikiran seperti ini menunjukkan bahwa tradisi ijtihad dalam Islam tetap hidup dan berkembang. Berbagai kritik, saran, maupun koreksi terhadap implementasi KHGT maupun kriteria pemerintah merupakan bagian dari upaya bersama untuk mencari formulasi terbaik demi kemaslahatan umat.

Pada akhirnya, semangat persatuan dan saling menghargai pilihan ijtihad masing-masing menjadi kunci agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan, melainkan menjadi ruang pembelajaran bersama dalam menyambut Ramadan dengan penuh kedamaian.(Faidin)