Sen. Mei 25th, 2026

Muhammadiyah

Hewan Kurban; Satu Hewan Qurban untuk Satu Keluarga?

Menjelang Hari Raya Idul Adha, pertanyaan seputar pelaksanaan qurban kembali muncul di tengah masyarakat.

Mulai dari apakah satu ekor hewan qurban hanya untuk satu orang, siapa yang berhak menerima daging qurban, hingga boleh atau tidaknya menjual kulit hewan qurban demi kepentingan umat.

Dalam penjelasan yang dimuat Majalah Suara Muhammadiyah, ditegaskan bahwa satu ekor hewan qurban dapat diperuntukkan bagi seluruh anggota keluarga dalam satu rumah.

Penjelasan ini merujuk pada hadis riwayat Ibnu Majah dan At-Tirmidzi dari Abu Ayyub Al-Anshari:

عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيَّ كَيْفَ كَانَتِ الضَّحَايَا فِيكُمْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ الرَّجُلُ يُضَحِّي بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ فَيَأْكُلُونَ وَيُطْعِمُونَ

“Ada seseorang pada masa Rasulullah SAW berqurban dengan seekor kambing untuk dirinya dan anggota rumah tangganya, kemudian mereka memakannya dan memberikan untuk dimakan orang lain.”
(HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa qurban tidak harus berganti-ganti atas nama setiap anggota keluarga setiap tahun. Satu ekor kambing dapat diniatkan untuk seluruh keluarga yang tinggal dalam satu rumah.

Selain itu, Al-Qur’an juga menjelaskan tentang pembagian daging qurban. Dalam Surah Al-Hajj ayat 28, Allah SWT berfirman:

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ

“… Maka makanlah sebahagian daripadanya dan sebahagian lagi berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.”
(QS. Al-Hajj: 28)

Kemudian dalam Surah Al-Hajj ayat 36 disebutkan:

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ

“… Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya dan orang yang meminta.”
(QS. Al-Hajj: 36)

Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadits riwayat Ahmad, Muslim, dan At-Tirmidzi:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ لِيَتَّسِعَ ذَوُو الطَّوْلِ عَلَى مَنْ لَا طَوْلَ لَهُ فَكُلُوا مَا بَدَا لَكُمْ وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا

“Aku pernah melarang kamu sekalian makan daging qurban lewat dari tiga hari supaya orang yang mampu dapat menyantuni orang yang tidak mampu. Maka makanlah, berikan untuk makan orang lain dan simpanlah.”
(HR. Ahmad, Muslim, dan At-Tirmidzi)

Dari ayat dan hadits tersebut, para ulama menjelaskan bahwa daging qurban diperuntukkan bagi tiga golongan, yakni shahibul qurban beserta keluarganya, fakir miskin, dan masyarakat lain yang membutuhkan.

Meski tidak ada aturan pasti mengenai pembagian persentase, kaum fakir miskin tetap menjadi prioritas utama penerima daging qurban.

Persoalan lain yang sering muncul saat Idul Adha adalah hukum menjual kulit hewan qurban. Mayoritas ulama melarang penjualan daging qurban maupun kulitnya. Larangan itu didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW:

وَلَا تَبِيعُوا لُحُومَ الْهَدْيِ وَالْأَضَاحِيِّ وَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَاسْتَمْتِعُوا بِجُلُودِهَا وَلَا تَبِيعُوهَا

“Jangan kalian menjual daging dam dan daging qurban. Makanlah, sedekahkanlah, dan manfaatkanlah kulitnya, tetapi jangan kalian menjualnya.”
(HR. Ahmad)

Namun dalam praktiknya, sebagian ulama memberikan kelonggaran apabila kulit qurban sulit dimanfaatkan secara langsung dan dikhawatirkan mubazir.

Mazhab Hanafi membolehkan penjualan kulit qurban apabila hasilnya disedekahkan atau digunakan membeli barang yang bermanfaat.

Sebagian ulama Syafi’iyah juga membolehkan penjualan kulit apabila hasilnya dipergunakan untuk kepentingan qurban dan kemaslahatan umat.

Pandangan tersebut didasarkan pada prinsip Islam yang menghendaki kemudahan dan menghilangkan kesulitan. Allah SWT berfirman:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”
(QS. Al-Hajj: 78)

Dan firman-Nya lagi:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Rasulullah SAW juga bersabda:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا

“Mudahkanlah dan jangan mempersukar.”
(HR. Al-Bukhari)

Karena itu, hasil penjualan kulit hewan qurban menurut penjelasan tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umat, seperti membeli karpet masjid, memperbaiki tempat wudhu, atau membantu sarana pendidikan santri, selama kebutuhan fakir miskin telah terpenuhi terlebih dahulu.

Dengan demikian, ibadah qurban pada Idul Adha tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas sosial dan kemaslahatan umat.

Penulis : Faidin | Editor : Redaksi

Muhammadiyah Berduka, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Prof Hamim Ilyas Wafat di Yogyakarta

YOGYAKARTA, Bajopos.com | Keluarga besar Muhammadiyah berduka atas wafatnya Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Hamim Ilyas, pada Sabtu (23/5/2026) sekitar pukul 01.40 WIB di RSA UGM.

Kabar wafatnya ulama dan cendekiawan Muslim tersebut meninggalkan duka mendalam bagi warga Muhammadiyah maupun masyarakat luas.

Almarhum sebelumnya menjalani perawatan intensif di rumah sakit selama kurang lebih sepuluh hari. Setelah sempat diperbolehkan pulang, kondisi kesehatannya kembali menurun dan dirawat lagi sejak Rabu (20/5).

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan bahwa Muhammadiyah kehilangan sosok ulama yang dikenal alim, teduh, rendah hati, serta memiliki pemikiran yang mencerahkan.

Menurut Haedar, salah satu warisan pemikiran penting almarhum adalah konsep Tauhid Rahamutiyah yang menjadi bagian dari pengembangan Islam Berkemajuan di Muhammadiyah.

“Gagasan yang dipopulerkan Prof. Hamim Ilyas tersebut menempatkan kasih sayang transformatif sebagai inti keimanan dan amal saleh,” ujar Haedar, Sabtu (23/5) dikutip dari Muhammadiyah.or.id.

Tauhid Rahamutiyah sendiri merupakan konsep teologi Islam yang menegaskan bahwa Allah SWT Yang Maha Esa memiliki sifat dasar rahmah atau kasih sayang.

Dalam pandangan tersebut, seluruh ciptaan dan syariat Allah diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan, keadilan sosial, perdamaian, serta kesejahteraan umat manusia.

Karena itu, ajaran Islam tidak hanya berhenti pada tataran ritual dan konseptual, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang membawa manfaat bagi kehidupan masyarakat.

“Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya almarhum. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahnya, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkannya di jannatun na’im,” ucap Haedar.

Haedar juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat menjenguk almarhum bersama Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta dan Gamping, dr. Komar dan dr. Faisol, pada Kamis (21/5). Saat itu, kondisi Prof. Hamim Ilyas sudah tidak memungkinkan untuk berkomunikasi secara langsung.

“Semua sudah berikhtiar, tetapi Allah telah menentukan ajalnya. Kita mesti melepas beliau dengan ikhlas,” pungkasnya.

Ia turut mendoakan agar keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan kesabaran dalam menghadapi musibah tersebut.

Penulis : Faidin | Editor : Redaksi

Ketua PDM Sikka: Puasa Bentuk Integritas, Korupsi Bertentangan dengan Iman

SIKKA, BAJOPOS.COM – Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sikka, Moh. Ihsan Wahab, S.HI, M.Pd,. menegaskan bahwa ibadah puasa Ramadan sejatinya membentuk manusia yang berintegritas dan berkeadaban.

Hal itu disampaikannya dalam khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Darussalam Waioti, Kecamatan Alok Timur, Jumat (20/3/2026).

Menurut Ihsan, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan proses pembentukan karakter yang menuntut kejujuran, pengendalian diri, serta tanggung jawab moral dalam kehidupan sehari-hari.

“Puasa membentuk manusia yang berintegritas. Tidak mungkin orang yang benar-benar memahami makna puasa masih melakukan korupsi, karena itu bertentangan dengan iman dan merusak peradaban,” tegasnya.

Ia menjelaskan, selama satu bulan penuh umat Islam dilatih untuk menahan diri bahkan dari hal-hal yang dibolehkan. Latihan ini, kata dia, seharusnya melahirkan kesadaran untuk menjauhi perbuatan yang jelas-jelas dilarang, seperti korupsi, manipulasi, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Lebih lanjut, Ihsan menilai praktik korupsi bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan. Tindakan tersebut, menurutnya, merusak sendi-sendi kehidupan sosial dan menghambat kemajuan bangsa.

“Korupsi tidak hanya merugikan negara, tetapi juga menghancurkan kepercayaan publik dan merusak tatanan moral masyarakat. Ini adalah ancaman serius bagi peradaban,” ujarnya.

Dalam khutbahnya, ia juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an secara tegas melarang umat Islam memakan harta orang lain dengan cara batil, termasuk melalui praktik suap dan kecurangan.

Ihsan menambahkan, hasil dari ibadah puasa seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari, seperti kejujuran dalam bekerja, amanah dalam jabatan, serta kepedulian terhadap sesama, terutama kelompok lemah.

“Integritas adalah buah dari ketakwaan. Jika puasa dijalankan dengan benar, maka ia akan melahirkan pribadi yang bersih, jujur, dan bertanggung jawab,” katanya.

Ia pun mengajak seluruh umat Islam, khususnya para pemimpin dan penyelenggara negara, untuk menjadikan momentum Idul Fitri sebagai titik balik memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai keadaban dan integritas.

“Jangan biarkan ibadah kita berhenti di ritual. Jadikan puasa sebagai fondasi membangun bangsa yang bersih dari korupsi dan berkeadaban,” pungkasnya.

Reporter : Faidin

Dari Spirit Ramadhan ke Jihad Keadaban: Pesan Idul Fitri 1447 H di Sikka

SIKKA, BAJOPOS.COM – Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Darussalam Waioti, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Jumat (20/3/2026), tidak hanya dimaknai sebagai hari kemenangan, tetapi juga sebagai titik awal jihad memperkokoh nilai keadaban bangsa.

Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sikka, Moh. Ihsan Wahab, S.HI., M.Pd., yang mengajak umat Islam untuk melanjutkan spirit Ramadhan dalam kehidupan nyata.

Moh. Ihsan Wahab, S. HI, M. Pd di Momen Idul Fitri 1447 H di Sikka. Doc. Bajopos.com/ Faidin.

Khutbah diawali dengan salam dan puji syukur kepada Allah SWT serta ajakan untuk meningkatkan ketakwaan:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعِيدَ ضِيَافَةً لِلْأَنَامِ، وَجَعَلَهُ مِنْ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ، حَرَّمَ فِيهِ الصِّيَامَ، وَأَحَلَّ فِيهِ الطَّعَامَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِقُ الْعَالَمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خَيْرُ الْأَنَامِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Dalam khutbahnya, disampaikan bahwa Idul Fitri merupakan hari suka cita bagi seluruh umat Islam setelah menjalani proses panjang pembinaan spiritual selama bulan Ramadhan. Proses tersebut, menurutnya, adalah upaya penyadaran kembali akan pentingnya kehidupan ruhaniah yang transendental, yang selama ini sering tertutupi oleh dominasi kehidupan material yang profan.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ia menjelaskan bahwa manusia hidup di bawah ketentuan Allah SWT hanya sementara di bumi. Namun, dalam realitasnya, manusia kerap terjebak dalam “tarikan gravitasi” kehidupan duniawi yang begitu kuat, hingga melupakan asal-usul ruh yang berasal dari Allah SWT.

Suasana Idul Fitri Muhammadiyah di Kabupaten Sikka yang terpusat di Kemesjidan Darussalam Waioti. Doc. Faidin.

Puasa, lanjutnya, menjadi sarana untuk melawan tarikan tersebut. Ibadah ini melatih manusia agar mampu mengangkat derajat dirinya secara spiritual, sedikit demi sedikit mendekati kesadaran ilahiah melalui ketakwaan dan kekhusyukan.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa capaian spiritual selama Ramadhan bukanlah akhir dari perjalanan. Justru setelah Idul Fitri, umat Islam diuji kembali untuk membuktikan kualitas iman melalui jihad dan kesabaran.

Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرُ اللَّهِ قَرِيبٌ

Dalam konteks kehidupan berbangsa, jihad dimaknai sebagai perjuangan luas untuk mengatasi krisis nilai keadaban yang kini terjadi di berbagai lini kehidupan. Ia menekankan bahwa nilai keadaban seperti keadilan, amanah, kejujuran, sopan santun, serta keberpihakan kepada kelompok lemah merupakan bagian penting dari jihad yang harus diperjuangkan bersama.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Khutbah tersebut juga menyoroti bahwa puasa Ramadhan sejatinya merupakan proses pembentukan karakter yang berkeadaban. Nilai-nilai yang dibangun melalui puasa meliputi keimanan, pengendalian diri, serta kehati-hatian dalam setiap tindakan.

Ibadah puasa melatih manusia untuk menahan diri, bahkan dari hal-hal yang pada dasarnya diperbolehkan. Tujuannya agar manusia lebih mampu menghindari hal-hal yang jelas dilarang, seperti kezaliman, korupsi, ketidakjujuran, serta sikap tidak amanah.

Ia menegaskan bahwa perilaku seperti korupsi tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak kesucian jiwa, menzalimi orang lain, serta menghancurkan peradaban.

Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Selain pembentukan karakter, puasa juga mengajarkan empati sosial. Pengalaman menahan lapar dan dahaga selama Ramadhan menjadi sarana untuk merasakan penderitaan kaum miskin dan mereka yang kekurangan.

Momen para pekerja media bersilaturahmi bersama keluarga besar Muhammadiyah di Kabupaten Sikka. Doc. Bajopos.com/Faidin

Dari pengalaman tersebut, diharapkan tumbuh kepedulian untuk membantu sesama, sehingga distribusi kesejahteraan tidak hanya berpusat pada kelompok yang mampu.

اللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Ia menegaskan bahwa keberpihakan kepada kaum lemah akan menghadirkan pertolongan Allah SWT bagi kehidupan bangsa.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Lebih lanjut, khutbah tersebut mengajak umat Islam untuk menjaga kelembutan hati sebagai buah dari proses penyucian jiwa selama Ramadhan. Kelembutan hati ini harus diwujudkan dalam kehidupan sosial melalui sikap saling menghormati, tidak saling menzalimi, serta menghindari konflik yang merusak persatuan.

Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membangun kebersamaan dan memanfaatkan seluruh potensi untuk menciptakan masa depan yang berkeadaban.

Di akhir khutbah, khatib mengajak jamaah untuk memanjatkan doa, memohon ampunan, keberkahan, serta keselamatan bagi umat Islam dan bangsa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَجَمِيعَ عِبَادَاتِنَا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Khutbah ini menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum melanjutkan perjuangan moral untuk membangun bangsa yang berkeadaban.

Penulis : Faidin

Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriyah di Sikka, Ketua PDM Sikka Tekankan Jihad Keadaban Bangsa

SIKKA, BAJOPOS.COM – Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Darussalam Waioti, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Jumat (20/3/2026), mengangkat tema “Jihad Memperkokoh Nilai Keadaban Bangsa”.

Khutbah yang disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sikka, Moh. Ihsan Wahab, menekankan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan spiritual, tetapi momentum untuk memperkuat nilai-nilai keadaban dalam kehidupan berbangsa.

Dalam pembukaan khutbahnya, khatib mengajak jamaah meningkatkan ketakwaan kepada Allah, seraya mengingatkan bahwa hari raya merupakan anugerah sekaligus ujian bagi umat manusia setelah menjalani ibadah Ramadan.

“Ibadah puasa yang telah kita jalani sejatinya adalah proses penyadaran ruhani, untuk mengangkat manusia dari dominasi kehidupan material menuju kesadaran transendental,” ujar Ihsan di hadapan jamaah.

Menurutnya, manusia kerap terjebak dalam tarikan kehidupan duniawi. Karena itu, puasa hadir sebagai sarana untuk melawan “gravitasi” materialisme, agar manusia kembali menyadari asal-usul spiritualnya dan mendekat kepada Sang Pencipta.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa capaian spiritual selama Ramadan tidak serta-merta menjamin keselamatan tanpa adanya perjuangan nyata. Mengutip pesan Al-Qur’an, ia menegaskan bahwa surga hanya diperuntukkan bagi mereka yang berjihad dan bersabar.

“Jihad tidak semata dimaknai sebagai perjuangan fisik, tetapi mencakup upaya luas dalam memperbaiki kehidupan, termasuk mengatasi krisis keadaban yang kini melanda berbagai lini kehidupan bangsa,” tegasnya.

Ia menyoroti pentingnya penguatan nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, amanah, sopan santun, serta keberpihakan kepada kelompok lemah sebagai bagian dari jihad sosial yang harus diwujudkan.

Lebih lanjut, Ihsan menjelaskan bahwa ibadah puasa mengajarkan pengendalian diri, bahkan terhadap hal-hal yang dibolehkan. Hal ini, kata dia, menjadi latihan untuk menjauhi perbuatan yang diharamkan seperti korupsi, ketidakjujuran, dan kezaliman.

“Puasa membentuk manusia yang berintegritas. Tidak mungkin orang yang benar-benar memahami makna puasa masih melakukan korupsi, karena itu bertentangan dengan iman dan merusak peradaban,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan jamaah tentang larangan memakan harta secara batil, termasuk praktik suap dan penyalahgunaan kekuasaan, yang dinilai menjadi ancaman serius bagi keadaban bangsa.

Selain itu, puasa dinilai mampu menumbuhkan empati sosial. Dengan merasakan lapar dan dahaga, umat Islam diajak untuk peduli terhadap kaum lemah dan tidak mampu.

“Keadaban bangsa akan terbangun jika ada keberpihakan nyata kepada mereka yang lemah. Ketika kita menolong sesama, maka pertolongan Allah akan datang kepada kita,” katanya.

Dalam bagian akhir khutbah, Ihsan mengajak seluruh jamaah untuk menjaga kelembutan hati yang telah ditempa selama Ramadan, serta memperkuat persatuan dan kebersamaan antar sesama anak bangsa.

“Jangan saling menzalimi, jangan merusak kepercayaan. Gunakan seluruh potensi yang ada untuk membangun masa depan bangsa yang berkeadaban,” pesannya.

Khutbah ditutup dengan doa bersama, memohon ampunan, keberkahan, serta keselamatan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Penulis : Faidin

Mayoritas Negara Diprediksi Rayakan Idul Fitri 1447 H pada 20 Maret 2026

JAKARTA, BAJOPOS.COM – Mayoritas negara di dunia diperkirakan akan merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat, 20 Maret 2026. Prediksi ini didasarkan pada perhitungan astronomi yang menunjukkan bahwa hilal Syawal tidak mungkin terlihat pada Rabu, 18 Maret 2026.

Direktur Pusat Astronomi Internasional, Mohammed Shawkat Odeh, menjelaskan bahwa negara-negara yang memulai Ramadan pada 18 Februari akan melakukan rukyatul hilal pada 18 Maret. Sementara negara yang mulai berpuasa pada 19 Februari akan melakukan pengamatan pada 19 Maret.

Namun demikian, peluang melihat hilal pada 18 Maret hampir tidak mungkin. “Melihat hilal Syawal pada hari Rabu tidak mungkin karena bulan akan terbenam sebelum matahari, dan konjungsi astronomis terjadi setelah matahari terbenam,” ujar Odeh seperti dikutip dari Gulf News, Rabu (18/3/2026).

Dengan kondisi tersebut, sebagian besar negara diperkirakan akan menyempurnakan Ramadan menjadi 30 hari, sehingga Idul Fitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Untuk pengamatan pada Kamis, 19 Maret, visibilitas hilal juga dinilai sangat terbatas. Di wilayah timur dunia, hilal tidak dapat diamati. Sementara di sebagian Asia Barat dan Afrika, hilal hanya mungkin terlihat menggunakan teleskop dengan kondisi langit yang sangat cerah.

“Sebagian besar negara diperkirakan akan mengumumkan Jumat, 20 Maret sebagai hari pertama Idul Fitri,” kata Odeh.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya potensi perbedaan penetapan. Hal ini disebabkan oleh kesulitan pengamatan hilal di berbagai wilayah dunia Islam.

“Sejumlah negara mungkin tidak dapat mengonfirmasi penampakan hilal, sehingga berpotensi menetapkan Sabtu, 21 Maret sebagai Idul Fitri,” ujarnya.

Secara teknis, kondisi hilal di berbagai kota juga menunjukkan tantangan. Di Jakarta, bulan hanya terbenam sekitar 10 menit setelah matahari dengan usia sekitar 11 jam, sehingga tidak memungkinkan diamati bahkan dengan teleskop.

Sementara di Abu Dhabi dan Riyadh, posisi hilal sedikit lebih tinggi di atas ufuk, namun tetap membutuhkan alat bantu optik serta kondisi atmosfer yang sangat cerah. Adapun di wilayah Eropa Barat dan Afrika Barat, pengamatan dengan mata telanjang juga tergolong sangat sulit.

Odeh menegaskan bahwa visibilitas hilal tidak hanya bergantung pada satu faktor. Selain usia bulan, parameter seperti jarak sudut dari matahari (elongasi) dan ketinggian bulan di atas cakrawala turut menentukan keberhasilan rukyat.

Indonesia Berpotensi Berbeda-Beda

Di Indonesia, potensi perbedaan penetapan Idul Fitri 2026 juga mencuat. Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama Observatorium Bosscha memperkirakan Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Prediksi tersebut mengacu pada posisi hilal pada Kamis, 19 Maret yang dinilai belum memenuhi kriteria baru MABIMS. Dalam kriteria tersebut, awal bulan Hijriah ditetapkan jika tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi mencapai 6,4 derajat.

Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan lebih awal bahwa Idul Fitri 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Keputusan tersebut mengacu pada metode Kalender Hijriah Global Tunggal.

Adapun pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia akan menetapkan secara resmi tanggal Idul Fitri melalui sidang isbat yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026.(Redaksi)

PERSIS Tekankan Konsistensi Neo MABIMS, 1 Syawal 1447 H Diperkirakan 21 Maret 2026

SIKKA, BAJOPOS.COM – Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS) menekankan pentingnya konsistensi pemerintah dalam menetapkan awal bulan hijriah, khususnya terkait penentuan 1 Syawal 1447 H.

Dikutip dari Persis.or.id, Anggota Dewan Hisab dan Rukyat PP PERSIS, Dr. H. Acep Saepudin, menyampaikan bahwa pemerintah diharapkan tetap berpegang pada kriteria Neo MABIMS yang telah digunakan secara resmi sejak tahun 2022.

Kriteria Neo MABIMS menetapkan bahwa awal bulan hijriah ditentukan berdasarkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Standar ini merupakan pembaruan dari kriteria sebelumnya dan disusun berdasarkan pertimbangan ilmiah.

Dalam penjelasannya, PERSIS juga mengungkapkan bahwa secara prinsip, kriteria ini telah lebih dahulu digunakan di internal Persatuan Islam sejak tahun 2012, yang dikenal sebagai Kriteria Hisab Imkan Rukyat Astronomis atau Kriteria LAPAN 2011.

Berdasarkan data hisab menjelang Syawal 1447 H, ijtimak terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23.26 WIB. Namun, saat matahari terbenam di wilayah Indonesia, posisi hilal tercatat berada di kisaran 0° 53′ hingga 3° 07′, dengan elongasi antara 4° 32′ hingga 6° 06′.

Data tersebut menunjukkan bahwa kriteria imkanur rukyat Neo MABIMS belum sepenuhnya terpenuhi. Oleh karena itu, menurut PERSIS, bulan Ramadan seharusnya digenapkan menjadi 30 hari.

“Dengan demikian, 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026,” demikian dikutip dari Persis.or.id.

PERSIS juga menegaskan bahwa pemerintah perlu berpedoman pada Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2026 tentang Sidang Isbat, yang menyatakan bahwa apabila kriteria imkanur rukyat tidak terpenuhi, maka bulan berjalan harus digenapkan menjadi 30 hari.

Selain itu, setiap klaim rukyat hilal yang tidak memenuhi kriteria ilmiah seharusnya tidak dapat diterima dalam proses penetapan awal bulan hijriah.

Di sisi lain, terdapat perbedaan penetapan Idul Fitri 1447 H oleh organisasi Islam lainnya. Dikutip dari Muhammadiyah.or.id, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan metode hisab global tunggal.

Perbedaan ini dinilai sebagai hal yang wajar dalam khazanah keilmuan Islam. Oleh karena itu, PERSIS mengimbau umat Islam untuk mengedepankan sikap tasamuh atau toleransi dalam menyikapi perbedaan tersebut.

Dengan tetap menjaga konsistensi kriteria serta menjunjung tinggi sikap saling menghormati, diharapkan pelaksanaan Idul Fitri 1447 H dapat berlangsung dengan aman, damai, dan penuh kebersamaan di tengah masyarakat.(Faidin)

Muhammadiyah Tetapkan Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026

YOGYAKARTA, BAJOPOS.COM – Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026 Masehi. Penetapan tersebut tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.

Penetapan ini didasarkan pada hasil hisab yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dengan menggunakan prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai pedoman penentuan awal bulan dalam kalender hijriah.

Dalam maklumat tersebut dijelaskan bahwa ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis Kliwon, 30 Ramadan 1447 H, bertepatan dengan 19 Maret 2026 pukul 01:23:28 UTC.

Maklumat itu juga menyebutkan bahwa pada saat matahari terbenam di hari ijtimak, telah ada wilayah di muka bumi yang memenuhi parameter kalender global.

Dalam dokumen tersebut dinyatakan, “Pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak terjadi, sebelum pukul 24:00 UTC ada wilayah di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi Bulan ≥ 5° dan elongasi Bulan ≥ 8°.”

Karena parameter tersebut telah terpenuhi, maka awal bulan Syawal ditetapkan keesokan harinya.

Dalam maklumat itu ditegaskan, “Di seluruh dunia tanggal 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Jumat Legi, 20 Maret 2026 M.”

Maklumat tersebut ditandatangani oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, serta Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, dan ditetapkan di Yogyakarta pada 22 September 2025.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga menyampaikan bahwa maklumat tersebut menjadi pedoman bagi warga Muhammadiyah dalam melaksanakan ibadah pada bulan Ramadan, Idul Fitri, dan hari besar Islam lainnya.

“Demikian maklumat ini disampaikan agar menjadi panduan bagi warga Muhammadiyah dan dilaksanakan sebagaimana mestinya,” demikian tertulis dalam penutup maklumat tersebut.

Dengan penetapan ini, umat Islam khususnya warga Muhammadiyah kini tinggal menghitung hari menuju Hari Raya Idul Fitri 1447 H setelah menjalani ibadah puasa Ramadan.(Faidin)

Haedar Nashir Tekankan Fondasi Tauhid Murni di Pengkajian Ramadan 1447 H UMT

TANGERANG, Bajopos.com – Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) menjadi pusat konsolidasi ideologi Persyarikatan saat menjadi tuan rumah Pengkajian Ramadan 1447 Hijriah yang digelar Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 24–26 Februari 2026.

Bertempat di Auditorium Lantai 19 UMT, kegiatan ini dihadiri lebih dari 1.000 peserta dari Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah serta civitas akademika Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Banten dan Daerah Khusus Jakarta.

Pengkajian Ramadan tahun ini tidak sekadar menjadi forum kajian rutin menjelang bulan suci, tetapi juga ruang strategis untuk memperteguh arah gerakan Islam berkemajuan di tengah dinamika sosial dan keumatan yang terus berubah.

Rektor UMT, Dr. H. Desri Arwen, M.Pd., menegaskan komitmen kampusnya dalam memperkuat nilai-nilai keislaman berbasis keilmuan dan kaderisasi. Menurutnya, UMT siap menjadi episentrum penguatan akidah sekaligus pengembangan kader Muhammadiyah.

“UMT sebagai kampus unggul siap menjadi pusat penguatan akidah dan pengembangan kader Muhammadiyah,” ujarnya dalam sambutan pembukaan, Selasa (24/2/2026).

Senada dengan itu, Ketua Majelis Pembinaan Kader SDI PP Muhammadiyah, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, M.P.A., menekankan bahwa penguatan akidah merupakan fondasi utama gerakan Muhammadiyah.

Ia mengingatkan bahwa tanpa basis teologis yang kokoh, gerakan dakwah akan kehilangan arah di tengah kompleksitas tantangan zaman.

Sorotan utama kegiatan ini tertuju pada pidato iftitah Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.

Dalam paparan bertema “Akidah Islam Berkemajuan: Memperluas Paham Tauhid Murni Tinjauan Ideologis, Filosofis, dan Praksis”, Haedar menegaskan pentingnya memperluas pemahaman tauhid secara komprehensif—tidak hanya dalam ranah teologis, tetapi juga dalam praktik kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, dan kebangsaan.

Menurutnya, Pengkajian Ramadan harus dimaknai sebagai momentum strategis untuk meneguhkan akidah dan memperluas wawasan keislaman agar gerakan Muhammadiyah tetap relevan dan mencerahkan umat.

“Pengkajian Ramadan ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi momentum strategis untuk meneguhkan akidah, memperluas wawasan keislaman, dan memperkuat gerakan dakwah Muhammadiyah agar semakin berkemajuan dan mencerahkan umat,” tegas Haedar.

Dalam rangkaian acara, dilakukan pula penandatanganan nota kesepahaman antara Bank Syariah Nasional dan PP Muhammadiyah yang ditandai dengan penyerahan bantuan tiga unit motor angkut sampah untuk mendukung operasional kampus UMT. Dukungan serupa juga datang dari Sinar Mas yang menyerahkan bantuan mushaf Al-Qur’an sebagai bagian dari penguatan dakwah dan literasi keislaman.

Melalui Pengkajian Ramadan 1447 H ini, Muhammadiyah menegaskan kembali komitmennya pada penguatan tauhid murni sebagai landasan ideologis, filosofis, dan praksis dalam menyongsong Ramadan—serta dalam menapaki peran keumatan dan kebangsaan di era modern.(Faidin)

Ramadhan 2026, Muhammadiyah Tarawih Dimulai Malam Ini

JAKARTA, BAJOPOS.COM – Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Dengan penetapan tersebut, warga Muhammadiyah mulai melaksanakan salat tarawih pada Selasa malam, 17 Februari 2026.

Keputusan itu tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H. Penetapan dilakukan berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang digunakan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Melalui pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Muhammadiyah menetapkan awal bulan hijriah apabila hilal telah memenuhi kriteria secara global dan konjungsi terjadi sebelum fajar di wilayah tertentu. Dengan dasar tersebut, 1 Ramadan 1447 H ditetapkan lebih awal dibandingkan perkiraan pemerintah.

Artinya, malam ini warga Muhammadiyah di berbagai daerah mulai menggelar salat tarawih berjamaah di masjid maupun musala. Sejumlah pengurus masjid Muhammadiyah juga telah menyiapkan rangkaian ibadah Ramadan, mulai dari kajian, tadarus Al-Qur’an hingga program sosial.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama masih akan menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal Ramadan berdasarkan metode rukyatul hilal dan hisab dengan kriteria MABIMS.

Perbedaan penetapan awal Ramadan merupakan dinamika yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Muhammadiyah menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil ijtihad keagamaan yang didasarkan pada perhitungan astronomi.

Dengan dimulainya tarawih malam ini, warga Muhammadiyah menyambut Ramadan 1447 H dengan harapan bulan suci menjadi momentum memperkuat keimanan, kepedulian sosial, dan persaudaraan umat.(Faidin)

1 RAMADHAN? Perbedaan Teknis yang Perlu Disikapi dengan Kedewasaan

SIKKA, BAJOPOS.COM – Diskursus mengenai Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) kembali mengemuka menjelang Ramadhan 1447 Hijriah. Berbagai tanggapan, masukan, hingga kritik yang berkembang dipandang sebagai bagian wajar dari proses ilmiah dan ijtihad dalam merumuskan sistem kalender Islam yang lebih baik dan berjangka panjang.

Pakar falak Muhammadiyah, Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, dikutip melalui Muhammadiyah.or.id, menjelaskan bahwa Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Penetapan ini tertuang dalam Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 serta penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid Nomor 01/MLM/I.1/B/2025.

Keputusan tersebut menggunakan KHGT sebagai metode resmi Muhammadiyah, menggantikan pendekatan wujudul hilal yang sebelumnya dipakai.

Dalam sistem KHGT, penentuan awal bulan didasarkan pada keterpaduan Prinsip, Syarat, dan Parameter (PSP), salah satunya terpenuhinya tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat di mana saja di permukaan bumi.

Untuk Ramadan 1447 H, parameter tersebut dinyatakan telah terpenuhi di Alaska, Amerika Serikat. Secara astronomis, konjungsi (ijtimak) terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12.01 UTC atau 19.01 WIB. Berdasarkan data tersebut, Muhammadiyah menetapkan Rabu, 18 Februari 2026 sebagai awal Ramadan.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Agama RI menggunakan kriteria MABIMS dengan batas minimal tinggi hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat yang berlaku dalam wilayah Indonesia serta memerlukan konfirmasi rukyat.

Dalam kondisi awal Ramadan 1447 H, hilal di Indonesia dilaporkan masih berada di bawah ufuk saat matahari terbenam, sehingga pemerintah diperkirakan menetapkan awal Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026. Meski demikian, keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat.

Perbedaan ini pada dasarnya berada pada ranah teknis dan metodologis, bukan pada substansi ajaran. Baik Muhammadiyah maupun pemerintah sama-sama menggunakan pendekatan hisab imkan rukyat, hanya berbeda dalam parameter dan cakupan keberlakuannya. KHGT bersifat global, sementara kriteria pemerintah berlaku secara teritorial.

Secara fikih, kedua pendekatan memiliki landasan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. KHGT menekankan konsep kesatuan umat (ummah wahidah) dan pemahaman universal terhadap hadis rukyat, sementara pemerintah menitikberatkan pada prinsip kehati-hatian dan kesesuaian dengan kondisi wilayah Indonesia.

Karena itu, potensi perbedaan awal Ramadan hendaknya disikapi dengan kedewasaan dan sikap saling menghormati. Perbedaan ini bukanlah hal baru dalam khazanah fikih Islam dan tidak semestinya menjadi sumber polarisasi di tengah umat.

Justru, dinamika pemikiran seperti ini menunjukkan bahwa tradisi ijtihad dalam Islam tetap hidup dan berkembang. Berbagai kritik, saran, maupun koreksi terhadap implementasi KHGT maupun kriteria pemerintah merupakan bagian dari upaya bersama untuk mencari formulasi terbaik demi kemaslahatan umat.

Pada akhirnya, semangat persatuan dan saling menghargai pilihan ijtihad masing-masing menjadi kunci agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan, melainkan menjadi ruang pembelajaran bersama dalam menyambut Ramadan dengan penuh kedamaian.(Faidin)

Awal Ramadan 2026 Berpotensi Berbeda, Ini Prediksi Pemerintah hingga Ormas Islam

JAKARTA, BAJOPOS.COM – Penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah diperkirakan kembali menjadi perhatian publik. Sejumlah lembaga telah merilis prediksi 1 Ramadan 2026, dengan potensi perbedaan penetapan akibat metode yang digunakan, baik berbasis hilal lokal maupun hilal global.

Masyarakat pun mulai mencari informasi terkait kapan puasa Ramadan 2026 dimulai agar dapat mempersiapkan diri menyambut bulan suci. Meski pemerintah belum menetapkan secara resmi, sejumlah rujukan telah memberikan gambaran awal.

Versi Pemerintah

Hingga kini, pemerintah melalui Kementerian Agama belum menetapkan secara resmi 1 Ramadan 1447 H. Namun, merujuk Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kemenag, awal Ramadan diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis data hisab terkait posisi hilal pada 17 dan 18 Februari 2026. Dalam laporannya, BMKG menjelaskan bahwa konjungsi atau ijtima’ merupakan peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan pengamat diasumsikan berada di pusat Bumi.

Berdasarkan data BMKG, pada 17 Februari 2026 posisi hilal di Indonesia masih berada di bawah horizon, dengan ketinggian antara -2,41 derajat di Jayapura hingga -0,93 derajat di Tua Pejat. Sementara pada 18 Februari 2026, ketinggian hilal sudah positif, berkisar 7,62 derajat di Merauke hingga 10,03 derajat di Sabang.

Elongasi pada 18 Februari juga telah melampaui batas minimum kriteria visibilitas hilal yang disepakati negara anggota MABIMS, yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Dengan demikian, secara hisab awal Ramadan berpotensi jatuh pada 19 Februari 2026.

Versi BRIN

Prediksi serupa disampaikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Koordinator Kelompok Riset Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menyebut pemerintah kemungkinan menetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Ia menjelaskan potensi perbedaan awal Ramadan kali ini bukan semata pada posisi hilal, melainkan pada pendekatan hilal lokal dan hilal global.

Menurutnya, pada saat magrib 17 Februari 2026, hilal di wilayah Indonesia masih berada di bawah ufuk sehingga tidak mungkin dirukyat. Dengan pendekatan hilal lokal yang digunakan pemerintah dan mayoritas ormas Islam, awal Ramadan diperkirakan 19 Februari 2026.

Namun jika menggunakan pendekatan hilal global, awal Ramadan bisa ditetapkan 18 Februari 2026 karena hilal telah memenuhi kriteria visibilitas di wilayah lain seperti Alaska dan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru.

Versi Muhammadiyah

Berbeda dengan pemerintah, Muhammadiyah telah menetapkan secara resmi 1 Ramadan 1447 H melalui Maklumat Nomor 2/MLM/1.0/E/2025. Dalam maklumat tersebut, awal puasa ditetapkan pada Rabu, 18 Februari 2026.

Penetapan ini didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal yang dikembangkan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah dengan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Versi Nahdlatul Ulama

Sementara itu, Nahdlatul Ulama belum mengeluarkan keputusan resmi terkait awal Ramadan 2026. Seperti tahun-tahun sebelumnya, NU akan menunggu hasil rukyatul hilal pada akhir bulan Syaban sebelum menetapkan 1 Ramadan.

Namun, merujuk pada kalender Amanak NU, awal Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Dengan adanya perbedaan metode penetapan, masyarakat diimbau menunggu hasil sidang isbat pemerintah serta pengumuman resmi masing-masing organisasi keagamaan. Meski berpotensi berbeda, semangat menyambut Ramadan tetap menjadi momentum persatuan umat Islam di Indonesia.(Redaksi)