Kam. Sep 24th, 2026

Pendidikan Sikka

Tak Hanya Sekolah Butuh Pemulihan, Rasa Aman Anak-anak Harus

SIKKA, Bajopos.com | Ketika bencana berlalu, yang tersisa tidak selalu berupa rumah yang retak, bangunan yang rusak, atau fasilitas umum yang harus diperbaiki.

Pada anak-anak, jejak bencana bisa tersimpan jauh lebih dalam—di balik rasa takut, kecemasan, bahkan keengganan untuk kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

Karena itu, bagi Anak-anak usia Sekolah Dasar seperti salah satunya SDI Iligetang, kehadiran Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, di tengah para siswa bukan sekadar agenda kunjungan kepala daerah.

Lebih dari itu, kehadiran tersebut dipandang sebagai pesan bahwa pemulihan pascabencana juga harus menyentuh sisi yang tidak terlihat: psikologis anak-anak.

Bupati Sikka hadir langsung bersama tim dalam kegiatan trauma healing yang menyasar para siswa.

Suasana sekolah pun diarahkan menjadi ruang bagi anak-anak untuk kembali merasa aman, nyaman, bermain, berinteraksi, dan perlahan melepaskan bayang-bayang ketakutan akibat bencana.

Wakil Kepala SDI Iligetang, Maria Yuldensia Kila, mengatakan kehadiran Bupati Sikka memberikan makna tersendiri bagi para siswa maupun tenaga pendidik.

Pernyataan itu disampaikan Maria saat dikonfirmasi awak media usai kegiatan, Senin (31/8/2026).

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Bupati Sikka yang sudah hadir dan memberikan perhatian kepada anak-anak kami. Kegiatan seperti ini sangat membantu anak-anak untuk kembali merasa tenang, nyaman, dan bersemangat,” ujar Maria.

Menurutnya, setelah menghadapi situasi bencana, kebutuhan anak tidak berhenti pada makanan, tempat tinggal, maupun fasilitas pendidikan. Ada kebutuhan lain yang sering kali tidak terlihat, yakni rasa aman dan dukungan emosional.

Anak yang terlihat kembali masuk sekolah belum tentu sepenuhnya pulih. Mereka bisa saja masih menyimpan ketakutan, kecemasan, atau pengalaman traumatis yang memengaruhi cara mereka belajar dan berinteraksi.

Di titik inilah sekolah memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.

Guru dituntut tidak hanya mengejar ketertinggalan pelajaran, tetapi juga mampu membaca perubahan perilaku siswa.

Anak yang menjadi lebih pendiam, mudah takut, sulit berkonsentrasi, atau menunjukkan perubahan emosi setelah bencana membutuhkan perhatian dan pendampingan.

“Kami dari pihak sekolah sangat mengapresiasi perhatian Pemerintah Kabupaten Sikka. Anak-anak membutuhkan suasana yang membuat mereka merasa aman dan diperhatikan. Kehadiran Bapak Bupati bersama tim dalam kegiatan ini memberikan semangat baru bagi kami untuk terus mendampingi anak-anak,” katanya.

Bagi SDI Iligetang, trauma healing karena itu bukan sekadar permainan untuk menghibur anak-anak setelah bencana.

Ia menjadi bagian dari proses mengembalikan keberanian anak untuk menjadi anak-anak kembali—bermain tanpa rasa takut, belajar tanpa dihantui kecemasan, serta kembali percaya bahwa sekolah adalah tempat yang aman.

Maria berharap kegiatan pendampingan psikososial tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.

“Kami berharap pendampingan seperti ini tidak berhenti sampai di sini. Anak-anak membutuhkan proses untuk benar-benar kembali pulih dan siap mengikuti kegiatan belajar seperti biasa,” tambahnya.

Harapan tersebut menjadi penting karena pemulihan pascabencana tidak bisa diukur hanya dari seberapa cepat rumah dibangun kembali atau fasilitas umum diperbaiki.

Ada pula pertanyaan yang lebih mendasar: sudahkah anak-anak kembali merasa aman?

Pemerintah Kabupaten Sikka melalui kegiatan trauma healing di lingkungan pendidikan menunjukkan bahwa jawaban atas pertanyaan tersebut juga menjadi bagian dari agenda pemulihan.

Sebab, membangun kembali sebuah sekolah mungkin membutuhkan material dan tenaga. Namun membangun kembali keberanian seorang anak setelah mengalami bencana membutuhkan waktu, perhatian, pendampingan dan rasa aman yang terus-menerus.

Kehadiran Bupati Sikka di tengah siswa SDI Iligetang akhirnya membawa pesan yang lebih luas: pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali apa yang terlihat.

Yang retak bukan hanya bangunan. Dalam diri sebagian anak, rasa aman pun bisa ikut retak. Dan keduanya sama-sama membutuhkan perhatian untuk dipulihkan.

Reporter : Faidin

Kemenag Sikka Libatkan Guru Lintas Agama Evaluasi Pelayanan, Perkuat Komitmen Layanan Profesional dan Humanis

SIKKA, BAJOPOS.COM | Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sikka terus memperkuat komitmennya menghadirkan pelayanan publik yang profesional, transparan, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.

Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah mendengarkan secara langsung pengalaman para guru lintas agama sebagai penerima layanan untuk memastikan kualitas pelayanan terus meningkat.

Evaluasi pelayanan tersebut berlangsung di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Selasa (4/8/2026), melalui sesi wawancara dengan sejumlah guru penerima layanan Tunjangan Profesi Guru (TPG), Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta layanan administrasi lainnya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya pelayanan yang tidak hanya mengutamakan kecepatan administrasi, tetapi juga mendengar suara masyarakat sebagai dasar perbaikan berkelanjutan.

Tiga guru dari agama yang berbeda pun hadir, diantaranya; Ofi Rince Elisabet Faot, S.Pd., Guru Pendidikan Agama Kristen di SDI Wairklau sekaligus lulusan PPG Tahun 2025; Muh. Ilham, S.Pd., Guru Pendidikan Agama Islam PPPK Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka yang bertugas di SDI Pemana; serta Blasius Muhara, Guru Pendidikan Agama Katolik PPPK Pemerintah Daerah di SMA Negeri 2 Maumere yang juga merupakan lulusan PPG Tahun 2025.

Dalam kesempatan itu ketiganya memberikan penilaian positif terhadap pelayanan yang mereka terima selama berurusan dengan Kementerian Agama Kabupaten Sikka.

Ofi Rince Elisabet Faot mengaku memperoleh pendampingan yang baik sejak proses pemberkasan hingga penyelesaian administrasi PPG dan TPG.

Menurutnya, petugas selalu memberikan penjelasan yang mudah dipahami sehingga seluruh tahapan administrasi dapat diselesaikan tanpa hambatan berarti.

“Komunikasi yang terbuka membuat kami lebih mudah memahami setiap proses. Ketika ada kendala administrasi, petugas juga sigap memberikan penjelasan dan solusi,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Muh. Ilham. Ia menilai pelayanan yang diberikan berlangsung cepat, ramah, serta tidak membedakan latar belakang agama maupun asal satuan pendidikan.

Baginya, keterbukaan informasi dan kesiapan petugas dalam membantu menyelesaikan persoalan administrasi menjadi nilai lebih yang dirasakan para guru.

Sementara itu, Blasius Muhara menyebut pelayanan Kementerian Agama Kabupaten Sikka menunjukkan komitmen kuat dalam mendampingi guru selama menjalani proses administrasi PPG maupun TPG.

Ia mengaku selalu memperoleh informasi yang jelas dan mudah dipahami. Pendekatan pelayanan yang komunikatif dan humanis, menurutnya, membuat para guru merasa nyaman ketika mengurus berbagai kebutuhan administrasi.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Muhammad Syafiuddin, mengatakan bahwa mendengar langsung pengalaman masyarakat merupakan bagian penting dalam membangun pelayanan publik yang berkualitas.

“Evaluasi tidak cukup dilakukan secara internal. Kami ingin mendengar langsung pengalaman para penerima layanan agar setiap masukan menjadi bahan perbaikan. Dengan cara itu, pelayanan yang kami berikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Syafiuddin, setiap pengalaman dan masukan yang disampaikan para guru menjadi energi positif bagi institusinya untuk terus berbenah dan meningkatkan mutu pelayanan.

“Kami ingin memastikan setiap layanan memberikan manfaat nyata. Karena itu, ruang komunikasi selalu kami buka agar guru dapat menyampaikan pengalaman, harapan, maupun saran sebagai bahan penyempurnaan pelayanan,” katanya.

Ia menegaskan, Kementerian Agama Kabupaten Sikka berkomitmen memberikan pelayanan yang profesional, transparan, cepat, dan berkeadilan kepada seluruh masyarakat tanpa membedakan agama, suku, maupun latar belakang penerima layanan.

Menurutnya, budaya pelayanan yang mengedepankan etika, keramahan, serta penghormatan kepada masyarakat harus menjadi karakter setiap aparatur Kementerian Agama.

Syafiuddin menambahkan, kualitas pelayanan publik tidak hanya diukur dari cepatnya penyelesaian administrasi, tetapi juga dari kemampuan aparatur membangun komunikasi yang baik, memberikan kepastian informasi, serta menghadirkan rasa nyaman bagi masyarakat.

Karena itu, pembinaan terhadap seluruh pegawai akan terus dilakukan agar budaya pelayanan prima semakin mengakar di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Sikka.

“Kepercayaan masyarakat adalah amanah yang harus kami jaga. Kami ingin setiap guru yang datang merasakan bahwa mereka dilayani dengan baik, didengar, dihargai, dan dibantu sesuai ketentuan yang berlaku. Itulah semangat pelayanan yang terus kami bangun, yaitu pelayanan yang berdampak, profesional, humanis, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tutupnya.

Reporter : Faidin

Di Bawah Atap yang Lapuk, Mimpi Siswa Siswi MTs Al Fatah di Kabupaten Sikka  Menunggu Uluran Tangan

SIKKA, BAJOPOS.COM | Bel masuk sekolah tetap berbunyi setiap pagi di MTs Muhammadiyah Al Fatah Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Anak-anak tetap datang mengenakan seragam, membawa buku, dan menyimpan cita-cita yang sama seperti pelajar lainnya. Namun, mereka tidak lagi belajar di ruang kelas yang semestinya.

Madrasah Tsanawiyah (MTs) Muhammadiyah Al Fatah Nangahale merupakan sekolah swasta yang berada di bawah naungan Yayasan Muhammadiyah.

Sejak berdiri pada tahun 2003, sekolah ini telah menjadi tempat menimba ilmu bagi generasi muda di wilayah Nangahale dan sekitarnya.

Kini, sekolah tersebut menghadapi ujian berat akibat rusaknya dua ruang kelas yang mengganggu proses belajar mengajar.

Sebagian dari mereka kini harus belajar di Musholla, yang merupakan tempat ibadah siswa, siswi, dan para guru, serta di ruang perpustakaan.

Bahkan, ada rombongan belajar yang masih harus duduk di lantai karena dua ruang kelas sekolah mengalami kerusakan berat setelah diterjang angin puting beliung beberapa tahun lalu.

Di balik keterbatasan itu, para guru memilih bertahan. Mereka tidak ingin kondisi bangunan memadamkan semangat belajar anak-anak.

“Tetap semangat, karena di mana pun kita bisa belajar. Tetapi kami kasihan melihat anak-anak yang masih harus belajar dengan duduk di lantai,” tutur salah seorang tenaga pendidik, Ibu Dahlia, kepada wartawan.

Demi keselamatan siswa, bangunan bertingkat yang dinilai membahayakan akhirnya terpaksa dibongkar.

Bantuan dari LazisMu Muhammadiyah telah dimanfaatkan untuk memperbaiki sebagian atap yang rusak.

Namun, kerusakan yang ada masih jauh lebih besar dibanding kemampuan sekolah dan yayasan untuk menanganinya sendiri.

Kini, proses belajar mengajar berlangsung dalam segala keterbatasan. Musholla yang semestinya menjadi tempat ibadah bagi siswa, siswi, dan para guru, bersama ruang perpustakaan, terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang belajar darurat.

Akibatnya, kegiatan belajar mengajar tidak lagi berlangsung senyaman sebelumnya, sementara fungsi kedua ruangan tersebut juga tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Yang paling menyentuh bukanlah bangunan yang rusak, melainkan semangat anak-anak yang tetap hadir setiap hari.

Mereka tidak mengeluh karena harus duduk di lantai. Mereka tetap membuka buku, mendengarkan guru, dan menulis pelajaran dengan harapan sederhana: suatu hari bisa mengubah masa depan.

Karena itulah, pihak sekolah membuka saluran donasi untuk mengajak masyarakat ikut membangun kembali ruang kelas yang layak.

Harapannya bukan sekadar memperbaiki dinding atau memasang atap baru, tetapi mengembalikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak saat belajar.

Poster Open Donasi

Kalimat yang tertulis dalam poster penggalangan dana seolah menggambarkan kondisi mereka hari ini:

“Di bawah atap yang lapuk, ada cita-cita yang tetap menyala.”

Sebuah pengingat bahwa setiap sumbangan, sekecil apa pun, bukan hanya menjadi material bangunan. Lebih dari itu, ia menjadi penyangga harapan bagi anak-anak yang terus berjuang mengejar pendidikan di tengah segala keterbatasan.

Di ruang-ruang belajar yang serba darurat itu, masa depan sedang dipertaruhkan. Di balik dinding yang rapuh dan atap yang menua, tersimpan mimpi-mimpi besar anak-anak Nangahale. Kini, mimpi-mimpi itu menunggu satu hal yang sederhana: kepedulian kita.

Penulis : Faidin

Kakan Kemenag Sikka Buka Suara Soal Polemik TPG, Tegaskan Dana Belum Tersedia dalam DIPA

SIKKA, BAJOPOS.COM | Polemik pembayaran Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi Guru Agama Katolik di Kabupaten Sikka terus bergulir.

Menanggapi kritik yang disampaikan Afiliasi Guru Agama Katolik Kabupaten Sikka, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Yosef Rangga Kapodo, akhirnya memberikan penjelasan resmi.

Saat dikonfirmasi Bajopos.com, Minggu (28/6/2026), Yosef membantah anggapan bahwa Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka tidak menunjukkan komunikasi publik yang berpihak kepada para guru.

Menurutnya, pernyataan tersebut tidak memiliki dasar yang kuat karena selama ini pihaknya terus berupaya menyampaikan berbagai informasi kepada para guru terkait perkembangan yang terjadi.

“Pernyataan ini tidak berdasar. Sebab, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka selama ini senantiasa berusaha menyampaikan informasi kepada para guru,” tegas Yosef.

Ia juga menjelaskan pernyataannya saat penyerahan Sertifikat Pendidikan Profesi Guru (PPG) kepada Guru Agama Katolik yang sempat menuai sorotan.

Dalam kesempatan tersebut, Yosef menyampaikan bahwa kepemilikan sertifikat PPG tidak otomatis membuat seorang guru langsung berhak menerima Tunjangan Profesi Guru.

Menurutnya, pernyataan itu disampaikan untuk memberikan pemahaman bahwa sertifikat PPG bukan satu-satunya syarat dalam proses penerimaan TPG.

“Benar saya sampaikan, karena para guru tersebut memang harus menunggu kelengkapan berkas-berkas lainnya yang menjadi syarat penerimaan TPG. Artinya, Sertifikat PPG tidak menjadi persyaratan tunggal, itu yang saya sampaikan,” jelasnya.

Namun demikian, Yosef menegaskan bahwa persoalan utama yang menyebabkan TPG bagi sejumlah guru belum dapat dibayarkan bukan terletak pada dokumen para guru, melainkan karena keterbatasan anggaran.

Ia menyebut hingga saat ini dana untuk pembayaran TPG tersebut belum tersedia dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka.

“Yang paling pokok bahwa perihal belum dilakukannya pembayaran TPG karena sampai saat ini dana tersebut belum tersedia di dalam DIPA Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka,” ujarnya.

Yosef mengatakan pihaknya tidak tinggal diam menghadapi persoalan tersebut. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, kata dia, terus berkoordinasi dan menyampaikan kebutuhan anggaran kepada pemerintah pusat melalui Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Langkah tersebut dilakukan agar alokasi anggaran pembayaran TPG dapat segera disiapkan dan direalisasikan.

“Kantor kami senantiasa mengkomunikasikan kebutuhan ini ke pusat melalui Kanwil. Kami berharap semoga dengan berbagai upaya ini, alokasinya disiapkan,” katanya.

Penjelasan Kepala Kantor Kemenag Sikka ini menjadi tanggapan pertama secara resmi setelah sebelumnya Afiliasi Guru Agama Katolik Kabupaten Sikka mempertanyakan komunikasi publik Kementerian Agama serta kepastian pembayaran TPG bagi guru lulusan PPG Tahun 2025 dan guru PPPK yang pembayarannya terhenti sejak Januari 2026.

Meski demikian, hingga kini para guru masih menantikan kepastian mengenai kapan alokasi anggaran tersebut tersedia dan pembayaran TPG dapat direalisasikan.

Di sisi lain, perjuangan para guru melalui berbagai jalur advokasi, termasuk penyampaian aspirasi kepada Komisi VIII DPR RI, masih terus berlangsung.

Reporter : Redaksi

Perjuangan TPG Belum Usai, Guru Agama Sikka Soroti Sikap Kemenag soal Narasi Tunjangan Profesi

SIKKA, BAJOPOS.COM | Perjuangan Guru Agama Katolik di Kabupaten Sikka untuk memperoleh kepastian pembayaran Tunjangan Profesi Guru (TPG) kembali memanas.

Kali ini, sorotan diarahkan kepada sikap Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka yang dinilai belum menunjukkan komunikasi publik yang berpihak kepada para guru.

Polemik mencuat setelah Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Yosef Rangga Kapodo, menyerahkan 25 Sertifikat Pendidikan Profesi Guru (PPG) Batch 4 kepada guru Agama Katolik pada Senin (15/6/2026).

Bagi sebagian guru, kegiatan tersebut merupakan bentuk apresiasi atas peningkatan profesionalisme tenaga pendidik. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan mengenai konsistensi perhatian Kementerian Agama terhadap seluruh guru, mengingat lulusan PPG batch sebelumnya pada tahun 2025 tidak pernah memperoleh seremoni serupa.

Afiliasi Guru Agama Katolik Kabupaten Sikka menilai kondisi tersebut memunculkan persepsi bahwa perhatian yang diberikan kepada lulusan Batch 4 belum sepenuhnya lahir dari kepedulian terhadap kesejahteraan guru, melainkan sebagai respons atas situasi yang sedang berkembang terkait tuntutan pembayaran TPG.

Sorotan semakin menguat setelah dalam pemberitaan resmi Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Kepala Kantor Kemenag menyampaikan bahwa kepemilikan sertifikat PPG tidak secara otomatis membuat seorang guru berhak menerima Tunjangan Profesi Guru.

“Kepala Kantor juga menegaskan bahwa kepemilikan sertifikat PPG tidak serta merta menjadikan seorang guru langsung berhak menerima Tunjangan Profesi Guru (TPG),” demikian dikutip Afiliasi Guru Agama Katolik Kabupaten Sikka dalam pernyataan tertulis yang diterima Bajopos.com, Sabtu (27/6/2026).

Bagi para guru yang hingga kini masih memperjuangkan pembayaran TPG berdasarkan SK Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Nomor 402 Tahun 2025, pernyataan tersebut dinilai tidak memberikan kepastian maupun optimisme.

Mereka menilai seorang pemimpin seharusnya hadir membawa solusi di tengah ketidakjelasan yang dialami para guru, bukan justru menyampaikan narasi yang berpotensi melemahkan semangat perjuangan memperoleh hak yang telah diatur dalam regulasi.

Di kalangan guru bahkan berkembang analogi bahwa pernyataan tersebut ibarat memadamkan pelita yang sedang digunakan untuk mencari jalan keluar dari persoalan yang mereka hadapi.

Berbeda dengan Sikap Kemenag NTT

Pandangan berbeda justru ditunjukkan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, Fransiskus Kariyanto.

Dalam pemberitaan resmi Kemenag NTT pada 17 Juni 2026, ia menegaskan bahwa persoalan pembayaran Tunjangan Profesi Guru harus menjadi perhatian serius.

“Tunjangan Profesi Guru (TPG) harus ditangani secara serius dan komunikasi publik terkait berbagai program dan layanan Kementerian Agama harus diperkuat.”

Bagi Afiliasi Guru Agama Katolik Kabupaten Sikka, pernyataan tersebut mencerminkan pendekatan yang lebih progresif karena menempatkan komunikasi publik sebagai bagian penting dalam penyelesaian persoalan yang dihadapi para guru.

Mereka menilai, di tengah polemik TPG yang telah berlangsung cukup lama, keterbukaan informasi menjadi kebutuhan mendesak agar tidak terus memunculkan spekulasi maupun kesalahpahaman.

Menurut mereka, persoalan TPG tidak hanya berkaitan dengan administrasi, tetapi juga menyangkut budaya komunikasi yang selama bertahun-tahun berkembang di lingkungan Kementerian Agama.

Para guru mengaku kerap mendengar pernyataan seperti, “Kami dulu sampai empat atau lima tahun baru menerima TPG. TPG itu hadiah, jadi jangan menuntut,” hingga “Sabar saja.”

Narasi tersebut dinilai telah membentuk persepsi bahwa TPG merupakan bentuk pemberian atau belas kasihan pemerintah, bukan hak yang lahir dari pemenuhan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Akibatnya, ketika guru-guru lulusan PPG Tahun 2025 mulai mempertanyakan kepastian pembayaran TPG, sebagian pihak justru menilai langkah tersebut sebagai bentuk pembangkangan yang dianggap tidak mencerminkan sikap seorang guru agama.

Padahal, menurut Afiliasi Guru Agama Katolik Kabupaten Sikka, perjuangan yang dilakukan selama ini ditempuh melalui jalur konstitusional dengan meminta kejelasan informasi atas hak yang diyakini telah diatur dalam keputusan pemerintah.

Minta Transparansi dan Penyederhanaan Mekanisme

Afiliasi Guru Agama Katolik Kabupaten Sikka mendesak Kementerian Agama membangun komunikasi publik yang lebih transparan agar guru memperoleh informasi yang pasti mengenai proses pembayaran TPG.

Mereka juga mengingatkan agar perjuangan guru saat ini tidak berujung pada munculnya persyaratan administratif baru yang justru memperumit pencairan tunjangan di masa mendatang.

Sebagai pembanding, mereka menilai mekanisme pencairan TPG bagi guru di bawah Dinas Pendidikan relatif lebih sederhana.

Selama Surat Keputusan telah diterbitkan, data pada Info GTK telah dinyatakan valid serta seluruh persyaratan administrasi terpenuhi, proses pembayaran umumnya dapat berjalan tanpa hambatan berarti.

Perbandingan tersebut menjadi dasar pertanyaan yang terus disuarakan para guru Agama Katolik di Kabupaten Sikka mengenai kemungkinan penyederhanaan mekanisme pencairan TPG di lingkungan Kementerian Agama.

Hingga kini perjuangan para guru belum berakhir. Selain terus menyampaikan aspirasi kepada pemerintah, mereka juga telah melayangkan pengaduan kepada Komisi VIII DPR RI dengan harapan pemerintah segera memberikan kepastian pembayaran tunjangan profesi.

Perjuangan tersebut melibatkan dua kelompok guru, yakni Guru Agama Katolik lulusan PPG Tahun 2025 yang tercantum dalam SK Direktur Jenderal Bimas Katolik Nomor 402 Tahun 2025, serta guru Agama Katolik berstatus PPPK yang sebelumnya telah menerima TPG namun pembayaran tunjangannya dihentikan sejak Januari 2026 tanpa penjelasan resmi.

Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka belum memberikan tanggapan resmi atas kritik dan aspirasi yang disampaikan Afiliasi Guru Agama Katolik Kabupaten Sikka terkait persoalan pembayaran Tunjangan Profesi Guru.

Reporter : Petrus Fidelis Ngo | Editor : Faidin

Di Balik Lensa Zoom, Diana Wahyu Ningsih Petik Makna Kejujuran

“Kalau dalam ujian saja kita bisa patuh karena kamera, maka dalam kehidupan dan ibadah, semestinya kita lebih patuh karena sadar Allah selalu mengawasi.”

SIKKA, Bajopos.com – Di tengah sunyi ruang ujian berbasis daring, sorot kamera Zoom dan sistem pengawasan digital justru menghadirkan refleksi batin yang mendalam bagi seorang guru madrasah di Kabupaten Sikka.

Ujian Akhir Pendidikan Profesi Guru (PPG) Batch 4 Tahun 2026 bukan sekadar tahapan akademik bagi Diana Wahyu Ningsih, S.Pd., tetapi juga momentum spiritual tentang makna kejujuran dan pertanggungjawaban.

Guru yang mengabdi di MIN 1 Sikka itu menuntaskan ujian dengan pengawasan ketat melalui aplikasi Safe Exam Browser (SEB) yang terintegrasi kamera Zoom. Seluruh gerak peserta dipantau, sementara akses perangkat dikunci untuk mencegah kecurangan.

Bagi Diana, suasana itu menghadirkan makna lebih dalam dari sekadar prosedur teknis.

“Ketika kamera terus menyala dan sistem mengawasi setiap aktivitas, saya teringat bahwa dalam kehidupan pun tak ada yang luput dari pengawasan Allah SWT. Ujian ini seperti pengingat kecil tentang Yaumil Hisab,” ujarnya usai menyelesaikan tahapan akhir PPG.

Program PPG sendiri menjadi bagian dari upaya peningkatan profesionalisme guru di bawah pembinaan Kementerian Agama Kabupaten Sikka. Lembaga tersebut mendorong para guru madrasah untuk meraih sertifikasi sebagai standar kompetensi sekaligus penguatan integritas.

Kepala lingkungan pendidikan di madrasah tempatnya mengabdi juga memberikan dukungan penuh. Di MIN 1 Sikka, PPG dipandang bukan sekadar syarat administratif, melainkan proses pembentukan karakter pendidik yang profesional dan berakhlak.

Dalam pelaksanaannya, ujian berbasis SEB dengan pengawasan daring memang dirancang untuk menjamin objektivitas.

Sistem tersebut mengunci seluruh aplikasi lain selama ujian berlangsung dan mewajibkan peserta tetap berada dalam pantauan kamera. Skema ini menjadi simbol transparansi sekaligus komitmen menjaga marwah profesi guru.

Di Kabupaten Sikka, keberhasilan para guru menuntaskan PPG menjadi langkah penting dalam memperkuat kualitas pendidikan Islam. Sertifikasi profesi diharapkan berbanding lurus dengan peningkatan mutu pembelajaran di ruang-ruang kelas madrasah.

Menariknya, capaian Diana hadir menjelang bulan suci Ramadan. Ia memaknai pengalaman ujian sebagai latihan kesadaran akan muraqabah—rasa diawasi oleh Yang Maha Mengetahui.

“Kalau dalam ujian saja kita bisa patuh karena kamera, maka dalam kehidupan dan ibadah, semestinya kita lebih patuh karena sadar Allah selalu mengawasi,” tuturnya.

Dengan selesainya tahapan krusial PPG 2026, Diana dan para guru lainnya di Sikka bersiap mengemban amanah baru. Profesionalisme yang diraih bukan sekadar gelar di atas kertas, melainkan komitmen untuk mendidik generasi muda dengan kompetensi, integritas, dan nilai-nilai spiritual yang kokoh di Bumi Nian Tana. (Faidin)

DISARPUS Sikka Gandeng PT Gramedia Maumere, Gelar Lomba Literasi Mingguan untuk Pelajar

SIKKA, BAJOPOS.COM – Upaya memperkuat budaya baca dan menggelorakan semangat literasi serta sains di kalangan pelajar terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Sikka. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka (DISARPUS) Kabupaten Sikka bekerja sama dengan PT Gramedia Maumere akan menggelar berbagai lomba literasi yang dilaksanakan secara rutin setiap satu minggu sekali.

Kolaborasi tersebut disampaikan Kepala DISARPUS Kabupaten Sikka, Very Awales, kepada media di Maumere usai rapat koordinasi bersama Pimpinan PT Gramedia Maumere, Tony Albertus, yang berlangsung di ruang kerja Kadis DISARPUS Sikka, Jalan El Tari Maumere, Rabu (18/02/2026).

Menurut Very Awales, kerja sama ini merupakan bagian dari penguatan program Wisata Literasi dan Sains yang selama ini dijalankan DISARPUS Sikka. Dalam paket wisata tersebut, para pelajar akan diajak mengunjungi Gramedia Maumere sebagai pusat literasi dan distribusi buku, kemudian melanjutkan kunjungan ke sejumlah lokasi edukatif, dan berakhir di Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Sikka.

“Di DISARPUS Sikka, para pelajar tidak hanya berkunjung dan membaca, tetapi juga akan mengikuti berbagai lomba literasi yang kami selenggarakan secara rutin. Mata lomba yang disiapkan antara lain lomba mewarnai, lomba baca puisi, lomba bercerita, lomba menulis, serta lomba kreatif literasi lainnya yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan peserta,” jelasnya.

Ia menegaskan, kegiatan lomba tersebut dirancang sebagai ruang ekspresi dan aktualisasi kreativitas pelajar. Selain itu, kegiatan ini menjadi strategi membangun minat baca, memperkuat kemampuan literasi dasar, serta menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan sejak usia dini.

Sementara itu, Tony Albertus menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif DISARPUS Sikka. Ia mengapresiasi komitmen Kepala Dinas bersama seluruh jajaran dalam mengembangkan gerakan literasi dan sains di Kabupaten Sikka.

“Kami sangat mendukung langkah DISARPUS Sikka dalam menyalakan api literasi di kalangan pelajar. Gramedia siap berkolaborasi melalui penyediaan buku, ruang literasi, serta program-program edukatif lainnya untuk mendukung generasi muda Sikka yang gemar membaca dan berpikir kritis,” ungkap Tony.

Program lomba mingguan ini diharapkan menjadi agenda berkelanjutan yang tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi pelajar, tetapi juga membangun ekosistem literasi yang kuat melalui sinergi pemerintah, dunia usaha, sekolah, dan masyarakat di Kabupaten Sikka.(Redaksi)

Wakapolda NTT untuk SMPN 48 Sa Ate Gaikiu; Janji 100 Kursi, Tidak Janji Gedung Permanen

SIKKA, BAJOPOS.COM – Wakil Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Wakapolda NTT), Brigjen Pol Baskoro Tri Prabowo, S.I.K., M.H., melakukan kunjungan sosial ke dua lembaga sekolah negeri yaitu SMP Negeri 48 Sa Ate Gaikiu dan SDN Gaikiu, Desa Bu Utara, Kecamatan Tana Wawo, Kabupaten Sikka, Senin (16/2/2026) pagi.

Dalam kunjungan tersebut, Wakapolda menegaskan bahwa kehadiran dirinya adalah komitmen Polri untuk mendukung keberlangsungan proses belajar mengajar pasca robohnya bangunan sekolah akibat hujan dan angin kencang yang terjadi sekitar 22–25 Januari 2026 yang lalu.

Namun, bantuan yang dijanjikan sebatas sarana penunjang belajar, bukan menjanjikan pembangunan gedung sekolah permanen.

Dalam laporan resmi yang diterima Bajopos.com Senin, (16/2/), malam melalui Kasi Humas Polres Sikka, Leonardus Tunga, S.M, diterangkan bahwa saat itu, kegiatan berlangsung pada pukul 07.53 hingga 08.46 Wita.

Sesampainya di lokasi, Wakapolda kemudian disambut secara adat (Jiwo Jawo) oleh tokoh masyarakat setempat yakni Bapak Agus, sembari pengalungan selendang kepada Wakapolda dan rombongan, diantaranya; Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, S.I.K., serta Wakapolres Sikka Kompol Nofi Posu, S.H., S.I.K., M.H. yang juga turut dikalungi.

Dalam kesempatan itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMP Negeri 48 Sa Ate Gaikiu, Maria Astinoli, S.Pd. menjelaskan kondisi bangunan sekolah yang rubuh dan berdampak pada aktivitas belajar sejumlah 52 siswa yang kini harus menjalani pembelajaran dalam keterbatasan fasilitas.

Sementara itu, Wakapolda, Brigjen Pol Baskoro Tri Prabowo, S.I.K., M.H. mengungkapkan empatinya atas musibah yang dialami pihak sekolah.

“Polri turut merasa atas musibah yang dialami para guru dan siswa-siswi SMP Negeri 48 Sa Ate Gaikiu. Polri hadir disini untuk mendukung proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru dan siswa-siswi SMP Negeri 48 Sa Ate Gaikiu tetap berjalan dengan baik,” ujarnya.

Ditengah ke empatiannya itu, ia memberi bantuan perlengkapan belajar termasuk 100 buah tas berisi buku dan alat tulis, 4 lembar papan tulis beserta alat tulis dan penghapus untuk siswa-siswi kedua sekolah itu.

Tak hanya itu, tenda sejumlah 2 unit milik Polri itu pula turut diberikan untuk bisa melangsungkan proses kegiatan belajar di bawah bangunan sekolah dari kain itu.

Meski, 100 unit meja dan kursi yang hendak diberikan kepada SMP Negeri 48 Sa Ate Gaikiu masih dalam janji. Meja dan kursi itu akan di serahkan menyusul.

Gedung Permanen Sekolah Tak Terjanjikan

Dalam kesempatan itu pula, tidak ada pernyataan atau komitmen terkait pembangunan gedung sekolah permanen dari Wakapolda. Bantuan yang diberikan difokuskan pada penyediaan fasilitas darurat agar kegiatan belajar tetap berlangsung.

Usai penyerahan bantuan simbolis berupa tas dan alat tulis kepada siswa SMP Negeri 48 Sa Ate Gaikiu dan siswa SDN Gaikiu, Wakapolda bersama Kapolres Sikka dan Wakapolres Sikka meninjau langsung bangunan sekolah yang roboh sebelum melanjutkan perjalanan ke Maumere.

Kunjungan tersebut turut dihadiri Camat Tana Wawo Yohanis Oriwis Ngaga Seso, S.Sos., Pj Kepala Desa Bu Utara Yanuarius Fery, S.K.M., unsur BPBD Sikka, para pejabat utama Polres Sikka, tokoh masyarakat, dewan guru, serta perwakilan masyarakat Desa Bu Utara.

Kunjungi Panti Asuhan

Pada hari yang sama, sekitar pukul 14.10 Wita, Wakapolda NTT juga melaksanakan kunjungan dan pemberian bantuan sosial di Panti Asuhan Santo Aloysius Susteran ALMA, yang berlokasi di Jalan Wairklau No. 1, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka.

Dalam kegiatan tersebut, Brigjen Pol Baskoro Tri Prabowo, S.I.K., M.H. didampingi Ibu Wakil Ketua Bhayangkari Daerah NTT, Ny. Vina Sari Narulita Prabowo, serta Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, S.I.K. dan Wakapolres Sikka Kompol Nofi Posu, S.H., S.I.K., M.H.

Sebanyak 20 paket bantuan sosial berisi perlengkapan mandi dan sembako diserahkan secara simbolis kepada anak-anak panti asuhan.(Faidin)

Budayakan Membaca Sejak Dini, Siswa MIS Muhammadiyah Wuring Ikut Wisata Literasi

SIKKA, BAJOPOS.COM – Sebanyak 52 siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Muhammadiyah Wuring mengikuti kegiatan Wisata Literasi di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Jumat pagi, 13 Februari 2026.

Kunjungan edukatif tersebut didampingi oleh tiga guru, yakni Ibu Afika, Pak Musalim, dan Pak Arif. Rombongan disambut langsung oleh jajaran Disarpus dalam suasana penuh antusias di Maumere.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales, menjelaskan bahwa kegiatan Wisata Literasi bertujuan menumbuhkan minat baca sejak usia dini, sekaligus memperkenalkan fungsi perpustakaan dan lembaga kearsipan dalam mendukung pendidikan serta pembangunan daerah.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin anak-anak mengenal perpustakaan sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar, bukan hanya sekadar tempat menyimpan buku,” ujarnya kepada media, Jumat (13/2/2026).

Dalam kunjungan tersebut, para peserta didik mendapatkan pelayanan perpustakaan secara langsung. Mereka diperkenalkan dengan berbagai koleksi buku, ruang baca anak, hingga layanan literasi yang tersedia di Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Sikka.

Tak hanya itu, siswa-siswi juga memperoleh penjelasan mengenai tugas dan fungsi jabatan struktural di lingkungan Disarpus, mulai dari Kepala Dinas (Kadis), Sekretaris Dinas (Sekdis), hingga Kepala Bidang (Kabid). Edukasi ini diberikan sebagai bagian dari pengenalan dunia birokrasi dan pelayanan publik sejak dini.

Very Awales menegaskan bahwa program Wisata Literasi merupakan salah satu strategi Disarpus dalam mendekatkan layanan perpustakaan kepada pelajar serta membangun budaya literasi di Kabupaten Sikka.

“Kami berharap anak-anak semakin gemar membaca dan memahami bahwa perpustakaan adalah ruang belajar sepanjang hayat,” katanya.

Ia menambahkan, Disarpus Kabupaten Sikka terus membuka diri bagi sekolah-sekolah yang ingin mengikuti program Wisata Literasi sebagai upaya memperkuat literasi pelajar dan memperkenalkan fungsi lembaga kearsipan serta perpustakaan di daerah.

Dengan kegiatan seperti ini, diharapkan generasi muda Sikka semakin terbiasa membaca, berpikir kritis, serta memiliki wawasan luas sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.(Faidin)

Mahasiswa Unimof Dorong Guru SMAN 1 Waigete Kenal STEM Berbasis AI

SIKKA, BAJOPOS.COM – Peran mahasiswa tidak hanya berhenti di ruang kuliah. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maumere (Unimof) justru hadir langsung di ruang kelas SMA Negeri 1 Waigete untuk mendorong perubahan cara belajar mengajar melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.

Melalui kegiatan Pelatihan Pembelajaran STEM Berbasis Artificial Intelligence (AI) yang digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unimof, mahasiswa bersama dosen pendamping terlibat aktif dalam mendampingi guru-guru SMAN 1 Waigete, Senin (9/2/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 11.15 WITA tersebut diikuti oleh 12 guru dari berbagai mata pelajaran. Pelatihan ini menjadi ruang kolaborasi antara dunia kampus dan sekolah dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital.

Mahasiswa Unimof tidak hanya berperan sebagai peserta, tetapi turut membantu proses pendampingan praktik pembelajaran STEM berbasis AI. Mereka terlibat dalam diskusi, simulasi penggunaan teknologi, hingga penerapan sederhana yang dapat langsung digunakan di kelas.

Ketua Tim Pelaksana, Zakaria Al Farizi, M.Pd, menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dari penguatan kompetensi calon pendidik.

“Mahasiswa FKIP perlu dibiasakan terjun langsung ke lapangan. Mereka belajar memahami realitas sekolah sekaligus menjadi jembatan transformasi teknologi pembelajaran,” ujarnya.

Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dan diskusi interaktif. Antusiasme guru terlihat sejak awal, terutama ketika mahasiswa dan dosen memperagakan pemanfaatan AI dalam pembelajaran STEM yang aplikatif dan kontekstual.

Pada sesi praktik, peserta dibagi ke dalam empat kelompok sesuai bidang keilmuan. Guru Biologi didampingi dosen Pendidikan Biologi Agustina Kiden Lewar, guru Fisika oleh Zakaria Al Farizi, M.Pd bersama Muhammad Epi Rusdin, M.Pd, guru Kimia oleh Jayadin, M.Pd, dan guru Matematika oleh Dian Nan Brilliant, E.Mat, dengan dukungan mahasiswa sebagai pendamping lapangan.

Salah satu praktik menarik diperlihatkan pada kelompok Fisika yang merancang lampu otomatis berbasis sensor ultrasonik. Mahasiswa membantu menjelaskan konsep kerja alat sekaligus mengaitkannya dengan pembelajaran berbasis STEM.

Sepanjang kegiatan, interaksi antara guru dan mahasiswa berlangsung aktif. Diskusi dua arah tersebut tidak hanya memperkaya wawasan guru, tetapi juga mengasah kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi dan menerapkan ilmu pendidikan di lapangan.

Salah satu peserta pelatihan, Alforusus Wajo, S.Pd, guru Fisika SMAN 1 Waigete, mengapresiasi model kolaborasi tersebut.

“Kehadiran mahasiswa membuat suasana pelatihan lebih hidup. Kami bisa berdiskusi langsung dan saling berbagi pengalaman terkait penggunaan AI dalam pembelajaran,” katanya.

Melalui kegiatan ini, FKIP Universitas Muhammadiyah Maumere berharap kolaborasi dosen, mahasiswa, dan guru dapat terus diperkuat sebagai upaya menciptakan ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Ke depan, mahasiswa Unimof diharapkan tidak hanya menjadi calon guru, tetapi juga agen perubahan yang mampu membawa inovasi pembelajaran hingga ke sekolah-sekolah di daerah. (Faidin)