Rab. Jun 10th, 2026

Pendidikan Sikka

Di Balik Lensa Zoom, Diana Wahyu Ningsih Petik Makna Kejujuran

“Kalau dalam ujian saja kita bisa patuh karena kamera, maka dalam kehidupan dan ibadah, semestinya kita lebih patuh karena sadar Allah selalu mengawasi.”

SIKKA, Bajopos.com – Di tengah sunyi ruang ujian berbasis daring, sorot kamera Zoom dan sistem pengawasan digital justru menghadirkan refleksi batin yang mendalam bagi seorang guru madrasah di Kabupaten Sikka.

Ujian Akhir Pendidikan Profesi Guru (PPG) Batch 4 Tahun 2026 bukan sekadar tahapan akademik bagi Diana Wahyu Ningsih, S.Pd., tetapi juga momentum spiritual tentang makna kejujuran dan pertanggungjawaban.

Guru yang mengabdi di MIN 1 Sikka itu menuntaskan ujian dengan pengawasan ketat melalui aplikasi Safe Exam Browser (SEB) yang terintegrasi kamera Zoom. Seluruh gerak peserta dipantau, sementara akses perangkat dikunci untuk mencegah kecurangan.

Bagi Diana, suasana itu menghadirkan makna lebih dalam dari sekadar prosedur teknis.

“Ketika kamera terus menyala dan sistem mengawasi setiap aktivitas, saya teringat bahwa dalam kehidupan pun tak ada yang luput dari pengawasan Allah SWT. Ujian ini seperti pengingat kecil tentang Yaumil Hisab,” ujarnya usai menyelesaikan tahapan akhir PPG.

Program PPG sendiri menjadi bagian dari upaya peningkatan profesionalisme guru di bawah pembinaan Kementerian Agama Kabupaten Sikka. Lembaga tersebut mendorong para guru madrasah untuk meraih sertifikasi sebagai standar kompetensi sekaligus penguatan integritas.

Kepala lingkungan pendidikan di madrasah tempatnya mengabdi juga memberikan dukungan penuh. Di MIN 1 Sikka, PPG dipandang bukan sekadar syarat administratif, melainkan proses pembentukan karakter pendidik yang profesional dan berakhlak.

Dalam pelaksanaannya, ujian berbasis SEB dengan pengawasan daring memang dirancang untuk menjamin objektivitas.

Sistem tersebut mengunci seluruh aplikasi lain selama ujian berlangsung dan mewajibkan peserta tetap berada dalam pantauan kamera. Skema ini menjadi simbol transparansi sekaligus komitmen menjaga marwah profesi guru.

Di Kabupaten Sikka, keberhasilan para guru menuntaskan PPG menjadi langkah penting dalam memperkuat kualitas pendidikan Islam. Sertifikasi profesi diharapkan berbanding lurus dengan peningkatan mutu pembelajaran di ruang-ruang kelas madrasah.

Menariknya, capaian Diana hadir menjelang bulan suci Ramadan. Ia memaknai pengalaman ujian sebagai latihan kesadaran akan muraqabah—rasa diawasi oleh Yang Maha Mengetahui.

“Kalau dalam ujian saja kita bisa patuh karena kamera, maka dalam kehidupan dan ibadah, semestinya kita lebih patuh karena sadar Allah selalu mengawasi,” tuturnya.

Dengan selesainya tahapan krusial PPG 2026, Diana dan para guru lainnya di Sikka bersiap mengemban amanah baru. Profesionalisme yang diraih bukan sekadar gelar di atas kertas, melainkan komitmen untuk mendidik generasi muda dengan kompetensi, integritas, dan nilai-nilai spiritual yang kokoh di Bumi Nian Tana. (Faidin)

DISARPUS Sikka Gandeng PT Gramedia Maumere, Gelar Lomba Literasi Mingguan untuk Pelajar

SIKKA, BAJOPOS.COM – Upaya memperkuat budaya baca dan menggelorakan semangat literasi serta sains di kalangan pelajar terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Sikka. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka (DISARPUS) Kabupaten Sikka bekerja sama dengan PT Gramedia Maumere akan menggelar berbagai lomba literasi yang dilaksanakan secara rutin setiap satu minggu sekali.

Kolaborasi tersebut disampaikan Kepala DISARPUS Kabupaten Sikka, Very Awales, kepada media di Maumere usai rapat koordinasi bersama Pimpinan PT Gramedia Maumere, Tony Albertus, yang berlangsung di ruang kerja Kadis DISARPUS Sikka, Jalan El Tari Maumere, Rabu (18/02/2026).

Menurut Very Awales, kerja sama ini merupakan bagian dari penguatan program Wisata Literasi dan Sains yang selama ini dijalankan DISARPUS Sikka. Dalam paket wisata tersebut, para pelajar akan diajak mengunjungi Gramedia Maumere sebagai pusat literasi dan distribusi buku, kemudian melanjutkan kunjungan ke sejumlah lokasi edukatif, dan berakhir di Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Sikka.

“Di DISARPUS Sikka, para pelajar tidak hanya berkunjung dan membaca, tetapi juga akan mengikuti berbagai lomba literasi yang kami selenggarakan secara rutin. Mata lomba yang disiapkan antara lain lomba mewarnai, lomba baca puisi, lomba bercerita, lomba menulis, serta lomba kreatif literasi lainnya yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan peserta,” jelasnya.

Ia menegaskan, kegiatan lomba tersebut dirancang sebagai ruang ekspresi dan aktualisasi kreativitas pelajar. Selain itu, kegiatan ini menjadi strategi membangun minat baca, memperkuat kemampuan literasi dasar, serta menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan sejak usia dini.

Sementara itu, Tony Albertus menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif DISARPUS Sikka. Ia mengapresiasi komitmen Kepala Dinas bersama seluruh jajaran dalam mengembangkan gerakan literasi dan sains di Kabupaten Sikka.

“Kami sangat mendukung langkah DISARPUS Sikka dalam menyalakan api literasi di kalangan pelajar. Gramedia siap berkolaborasi melalui penyediaan buku, ruang literasi, serta program-program edukatif lainnya untuk mendukung generasi muda Sikka yang gemar membaca dan berpikir kritis,” ungkap Tony.

Program lomba mingguan ini diharapkan menjadi agenda berkelanjutan yang tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi pelajar, tetapi juga membangun ekosistem literasi yang kuat melalui sinergi pemerintah, dunia usaha, sekolah, dan masyarakat di Kabupaten Sikka.(Redaksi)

Wakapolda NTT untuk SMPN 48 Sa Ate Gaikiu; Janji 100 Kursi, Tidak Janji Gedung Permanen

SIKKA, BAJOPOS.COM – Wakil Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Wakapolda NTT), Brigjen Pol Baskoro Tri Prabowo, S.I.K., M.H., melakukan kunjungan sosial ke dua lembaga sekolah negeri yaitu SMP Negeri 48 Sa Ate Gaikiu dan SDN Gaikiu, Desa Bu Utara, Kecamatan Tana Wawo, Kabupaten Sikka, Senin (16/2/2026) pagi.

Dalam kunjungan tersebut, Wakapolda menegaskan bahwa kehadiran dirinya adalah komitmen Polri untuk mendukung keberlangsungan proses belajar mengajar pasca robohnya bangunan sekolah akibat hujan dan angin kencang yang terjadi sekitar 22–25 Januari 2026 yang lalu.

Namun, bantuan yang dijanjikan sebatas sarana penunjang belajar, bukan menjanjikan pembangunan gedung sekolah permanen.

Dalam laporan resmi yang diterima Bajopos.com Senin, (16/2/), malam melalui Kasi Humas Polres Sikka, Leonardus Tunga, S.M, diterangkan bahwa saat itu, kegiatan berlangsung pada pukul 07.53 hingga 08.46 Wita.

Sesampainya di lokasi, Wakapolda kemudian disambut secara adat (Jiwo Jawo) oleh tokoh masyarakat setempat yakni Bapak Agus, sembari pengalungan selendang kepada Wakapolda dan rombongan, diantaranya; Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, S.I.K., serta Wakapolres Sikka Kompol Nofi Posu, S.H., S.I.K., M.H. yang juga turut dikalungi.

Dalam kesempatan itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMP Negeri 48 Sa Ate Gaikiu, Maria Astinoli, S.Pd. menjelaskan kondisi bangunan sekolah yang rubuh dan berdampak pada aktivitas belajar sejumlah 52 siswa yang kini harus menjalani pembelajaran dalam keterbatasan fasilitas.

Sementara itu, Wakapolda, Brigjen Pol Baskoro Tri Prabowo, S.I.K., M.H. mengungkapkan empatinya atas musibah yang dialami pihak sekolah.

“Polri turut merasa atas musibah yang dialami para guru dan siswa-siswi SMP Negeri 48 Sa Ate Gaikiu. Polri hadir disini untuk mendukung proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru dan siswa-siswi SMP Negeri 48 Sa Ate Gaikiu tetap berjalan dengan baik,” ujarnya.

Ditengah ke empatiannya itu, ia memberi bantuan perlengkapan belajar termasuk 100 buah tas berisi buku dan alat tulis, 4 lembar papan tulis beserta alat tulis dan penghapus untuk siswa-siswi kedua sekolah itu.

Tak hanya itu, tenda sejumlah 2 unit milik Polri itu pula turut diberikan untuk bisa melangsungkan proses kegiatan belajar di bawah bangunan sekolah dari kain itu.

Meski, 100 unit meja dan kursi yang hendak diberikan kepada SMP Negeri 48 Sa Ate Gaikiu masih dalam janji. Meja dan kursi itu akan di serahkan menyusul.

Gedung Permanen Sekolah Tak Terjanjikan

Dalam kesempatan itu pula, tidak ada pernyataan atau komitmen terkait pembangunan gedung sekolah permanen dari Wakapolda. Bantuan yang diberikan difokuskan pada penyediaan fasilitas darurat agar kegiatan belajar tetap berlangsung.

Usai penyerahan bantuan simbolis berupa tas dan alat tulis kepada siswa SMP Negeri 48 Sa Ate Gaikiu dan siswa SDN Gaikiu, Wakapolda bersama Kapolres Sikka dan Wakapolres Sikka meninjau langsung bangunan sekolah yang roboh sebelum melanjutkan perjalanan ke Maumere.

Kunjungan tersebut turut dihadiri Camat Tana Wawo Yohanis Oriwis Ngaga Seso, S.Sos., Pj Kepala Desa Bu Utara Yanuarius Fery, S.K.M., unsur BPBD Sikka, para pejabat utama Polres Sikka, tokoh masyarakat, dewan guru, serta perwakilan masyarakat Desa Bu Utara.

Kunjungi Panti Asuhan

Pada hari yang sama, sekitar pukul 14.10 Wita, Wakapolda NTT juga melaksanakan kunjungan dan pemberian bantuan sosial di Panti Asuhan Santo Aloysius Susteran ALMA, yang berlokasi di Jalan Wairklau No. 1, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka.

Dalam kegiatan tersebut, Brigjen Pol Baskoro Tri Prabowo, S.I.K., M.H. didampingi Ibu Wakil Ketua Bhayangkari Daerah NTT, Ny. Vina Sari Narulita Prabowo, serta Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, S.I.K. dan Wakapolres Sikka Kompol Nofi Posu, S.H., S.I.K., M.H.

Sebanyak 20 paket bantuan sosial berisi perlengkapan mandi dan sembako diserahkan secara simbolis kepada anak-anak panti asuhan.(Faidin)

Pak Arif Dampingi Siswa MIS Muhammadiyah Wuring Tanamkan Semangat Literasi di Disarpus Sikka

SIKKA, BAJOPOS.COM – Peran guru kembali terlihat nyata dalam kegiatan Wisata Literasi yang digelar di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Jumat (13/2/2026).

Pak Arif yang merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF) ini bersama dua rekannya, Ibu Afika dan Pak Musalim, mendampingi 52 siswa MIS Muhammadiyah Wuring mengikuti rangkaian kegiatan literasi dengan penuh semangat.

Sejak awal kunjungan, Pak Arif tampak aktif mengarahkan para siswa agar tertib dan fokus mengikuti setiap sesi pengenalan perpustakaan. Ia juga memberi motivasi kepada anak-anak agar tidak ragu bertanya dan memanfaatkan kesempatan belajar di luar kelas tersebut.

Dalam beberapa kesempatan, Pak Arif membantu menjelaskan kembali materi yang disampaikan petugas perpustakaan dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami siswa.

Pendampingan ini menjadi bagian penting dalam memastikan tujuan kegiatan, yakni menumbuhkan minat baca dan mengenalkan fungsi perpustakaan, dapat tercapai secara maksimal.

Kegiatan Wisata Literasi tersebut tidak hanya memberikan pengalaman baru bagi siswa, tetapi juga memperlihatkan sinergi antara sekolah dan Disarpus dalam membangun budaya literasi sejak dini.

Dengan keterlibatan aktif guru seperti Pak Arif dan rekan-rekannya, diharapkan semangat membaca dan belajar tidak hanya tumbuh di perpustakaan, tetapi juga terus berlanjut di lingkungan sekolah maupun rumah.(Faidin)

Budayakan Membaca Sejak Dini, Siswa MIS Muhammadiyah Wuring Ikut Wisata Literasi

SIKKA, BAJOPOS.COM – Sebanyak 52 siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Muhammadiyah Wuring mengikuti kegiatan Wisata Literasi di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Jumat pagi, 13 Februari 2026.

Kunjungan edukatif tersebut didampingi oleh tiga guru, yakni Ibu Afika, Pak Musalim, dan Pak Arif. Rombongan disambut langsung oleh jajaran Disarpus dalam suasana penuh antusias di Maumere.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales, menjelaskan bahwa kegiatan Wisata Literasi bertujuan menumbuhkan minat baca sejak usia dini, sekaligus memperkenalkan fungsi perpustakaan dan lembaga kearsipan dalam mendukung pendidikan serta pembangunan daerah.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin anak-anak mengenal perpustakaan sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar, bukan hanya sekadar tempat menyimpan buku,” ujarnya kepada media, Jumat (13/2/2026).

Dalam kunjungan tersebut, para peserta didik mendapatkan pelayanan perpustakaan secara langsung. Mereka diperkenalkan dengan berbagai koleksi buku, ruang baca anak, hingga layanan literasi yang tersedia di Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Sikka.

Tak hanya itu, siswa-siswi juga memperoleh penjelasan mengenai tugas dan fungsi jabatan struktural di lingkungan Disarpus, mulai dari Kepala Dinas (Kadis), Sekretaris Dinas (Sekdis), hingga Kepala Bidang (Kabid). Edukasi ini diberikan sebagai bagian dari pengenalan dunia birokrasi dan pelayanan publik sejak dini.

Very Awales menegaskan bahwa program Wisata Literasi merupakan salah satu strategi Disarpus dalam mendekatkan layanan perpustakaan kepada pelajar serta membangun budaya literasi di Kabupaten Sikka.

“Kami berharap anak-anak semakin gemar membaca dan memahami bahwa perpustakaan adalah ruang belajar sepanjang hayat,” katanya.

Ia menambahkan, Disarpus Kabupaten Sikka terus membuka diri bagi sekolah-sekolah yang ingin mengikuti program Wisata Literasi sebagai upaya memperkuat literasi pelajar dan memperkenalkan fungsi lembaga kearsipan serta perpustakaan di daerah.

Dengan kegiatan seperti ini, diharapkan generasi muda Sikka semakin terbiasa membaca, berpikir kritis, serta memiliki wawasan luas sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.(Faidin)

Mahasiswa Unimof Dorong Guru SMAN 1 Waigete Kenal STEM Berbasis AI

SIKKA, BAJOPOS.COM – Peran mahasiswa tidak hanya berhenti di ruang kuliah. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maumere (Unimof) justru hadir langsung di ruang kelas SMA Negeri 1 Waigete untuk mendorong perubahan cara belajar mengajar melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.

Melalui kegiatan Pelatihan Pembelajaran STEM Berbasis Artificial Intelligence (AI) yang digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unimof, mahasiswa bersama dosen pendamping terlibat aktif dalam mendampingi guru-guru SMAN 1 Waigete, Senin (9/2/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 11.15 WITA tersebut diikuti oleh 12 guru dari berbagai mata pelajaran. Pelatihan ini menjadi ruang kolaborasi antara dunia kampus dan sekolah dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital.

Mahasiswa Unimof tidak hanya berperan sebagai peserta, tetapi turut membantu proses pendampingan praktik pembelajaran STEM berbasis AI. Mereka terlibat dalam diskusi, simulasi penggunaan teknologi, hingga penerapan sederhana yang dapat langsung digunakan di kelas.

Ketua Tim Pelaksana, Zakaria Al Farizi, M.Pd, menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dari penguatan kompetensi calon pendidik.

“Mahasiswa FKIP perlu dibiasakan terjun langsung ke lapangan. Mereka belajar memahami realitas sekolah sekaligus menjadi jembatan transformasi teknologi pembelajaran,” ujarnya.

Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dan diskusi interaktif. Antusiasme guru terlihat sejak awal, terutama ketika mahasiswa dan dosen memperagakan pemanfaatan AI dalam pembelajaran STEM yang aplikatif dan kontekstual.

Pada sesi praktik, peserta dibagi ke dalam empat kelompok sesuai bidang keilmuan. Guru Biologi didampingi dosen Pendidikan Biologi Agustina Kiden Lewar, guru Fisika oleh Zakaria Al Farizi, M.Pd bersama Muhammad Epi Rusdin, M.Pd, guru Kimia oleh Jayadin, M.Pd, dan guru Matematika oleh Dian Nan Brilliant, E.Mat, dengan dukungan mahasiswa sebagai pendamping lapangan.

Salah satu praktik menarik diperlihatkan pada kelompok Fisika yang merancang lampu otomatis berbasis sensor ultrasonik. Mahasiswa membantu menjelaskan konsep kerja alat sekaligus mengaitkannya dengan pembelajaran berbasis STEM.

Sepanjang kegiatan, interaksi antara guru dan mahasiswa berlangsung aktif. Diskusi dua arah tersebut tidak hanya memperkaya wawasan guru, tetapi juga mengasah kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi dan menerapkan ilmu pendidikan di lapangan.

Salah satu peserta pelatihan, Alforusus Wajo, S.Pd, guru Fisika SMAN 1 Waigete, mengapresiasi model kolaborasi tersebut.

“Kehadiran mahasiswa membuat suasana pelatihan lebih hidup. Kami bisa berdiskusi langsung dan saling berbagi pengalaman terkait penggunaan AI dalam pembelajaran,” katanya.

Melalui kegiatan ini, FKIP Universitas Muhammadiyah Maumere berharap kolaborasi dosen, mahasiswa, dan guru dapat terus diperkuat sebagai upaya menciptakan ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Ke depan, mahasiswa Unimof diharapkan tidak hanya menjadi calon guru, tetapi juga agen perubahan yang mampu membawa inovasi pembelajaran hingga ke sekolah-sekolah di daerah. (Faidin)