Sen. Mei 25th, 2026

Ramadhan

Idul Fitri: Merawat Kemenangan melalui Keseimbangan Spiritual dan Sosial

Oleh: Dr. Muhammad Dwi Fajri, S.Sos.I., M.Pd.I. (Dosen UHAMKA)

GEMA TAKBIR yang membahana di seluruh pelosok negeri menandai berakhirnya madrasah Ramadhan.

Idul Fitri sering kali kita maknai sebagai hari kemenangan, sebuah titik finis setelah satu bulan penuh bergelut dengan lapar, dahaga, dan pengekangan hawa nafsu.

Namun, pertanyaan reflektif yang perlu kita ajukan adalah: kemenangan seperti apa yang sedang kita rayakan? Apakah ia hanya sebatas kemenangan seremonial, ataukah ia merupakan kemenangan substantif yang mengubah struktur kesadaran spiritual dan sosial kita?

Idul Fitri sejatinya bukanlah sekadar perayaan ritual atau kemeriahan budaya yang ditandai dengan pakaian baru dan hidangan khas. Lebih dari itu, ia adalah titik balik transformasi.

Kemenangan yang sesungguhnya terletak pada kemampuan seorang muslim untuk menjaga ritme keseimbangan antara hubungan vertikal kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan horizontal kepada sesama manusia (hablum minannas).

Indikator Kekuatan Spiritual

Ramadhan hadir sebagai jeda dari hiruk-pikuk duniawi yang sering kali melelahkan jiwa. Di dalamnya, kita diajak menyadari bahwa manusia bukan sekadar entitas fisik, melainkan makhluk ruhaniyah yang membutuhkan nutrisi spiritual (nilai-nilai ketuhanan).

Keberhasilan transformasi spiritual seseorang pasca-Ramadhan dapat dilihat dari beberapa indikator utama.

Pertama, munculnya ketenangan batin (tuma’ninah). Seseorang dengan kekuatan spiritual yang kokoh memiliki resiliensi atau daya lentur yang tinggi; ia tidak mudah terombang-ambing oleh badai ujian dunia karena sandarannya hanya Allah SWT.

Kedua, integritas yang mewujud dalam kejujuran. Ada keselarasan mutlak antara apa yang ada di hati, apa yang diucapkan lisan, dan apa yang dilakukan oleh anggota badan.

Dalam konteks profesional, keselarasan ini menjadi fondasi etika kerja yang luhur. Bagi seorang pejabat publik, integritas berarti kebijakan yang diambil benar-benar demi kemaslahatan rakyat, bukan titipan kepentingan yang dibungkus retorika manis.

Bagi seorang pekerja atau karyawan, hal ini mewujud pada dedikasi untuk memberikan performa terbaik dan kejujuran dalam melaporkan hasil kerja, tanpa perlu merasa diawasi oleh atasan karena ia sadar Tuhan selalu mengawasi.

Bagi seorang pedagang, keselarasan ini tampak pada timbangan yang jujur dan transparansi mengenai kualitas barang dagangannya.

Kesalehan Sosial: Buah Nyata dari Puasa

Spiritualitas yang sehat tidak akan berhenti pada kesalehan personal di atas sajadah, melainkan harus meluap menjadi kesalehan sosial.

Puasa sebagai “lapar buatan” seharusnya menajamkan radar empati kita. Kesalehan sosial yang diharapkan muncul setelah Idul Fitri ditandai dengan kepekaan yang tinggi terhadap sesama.

Salah satu pilar utamanya adalah menjaga ukhuwah (persaudaraan) dengan cara yang lebih dewasa.

Dalam menjaga ukhuwah, kita perlu menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang memperdebatkan kebenaran versi masing-masing, tetapi juga tentang membangun kesepakatan dan merawat toleransi.

Menghargai perbedaan pendapat dan latar belakang adalah bentuk kesalehan sosial yang tertinggi.

Kita dituntut untuk menjaga lisan agar tidak menyakiti, serta memastikan kehadiran kita membawa kenyamanan.

Memahami bahwa keragaman adalah keniscayaan memungkinkan kita menjadi penyelesai masalah (problem solver) di tengah masyarakat yang majemuk.

Di ranah publik, hal ini mewujud dalam kedermawanan—kesediaan untuk membantu tanpa memandang perbedaan—serta integritas untuk menjauhi praktik suap dan korupsi demi kepentingan publik yang lebih luas.

Menjaga Momentum Fitrah

Kini, saat kita menanggalkan status sebagai “shaim” (orang yang berpuasa) dan merayakan Idul Fitri, kita diingatkan pada sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti bayi yang baru lahir dari kandungan ibunya.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad).

Janji kesucian ini adalah momentum besar bagi kita untuk memulai lembaran baru. Namun, tantangan sebenarnya baru saja dimulai.

Idul Fitri adalah garis awal untuk mengimplementasikan seluruh pelajaran yang didapat dari madrasah Ramadhan selama sebelas bulan ke depan. Kesucian yang kita raih tidak boleh dikotori lagi dengan penyakit hati maupun perilaku sosial yang destruktif.

Mari kita rawat kemenangan ini dengan tetap konsisten menjaga kekuatan spiritual yang menenangkan jiwa dan kesalehan sosial yang menghangatkan sesama.

Semoga ibadah yang telah kita jalani benar-benar menjadikan kita pribadi yang lebih dekat kepada Sang Pencipta, sekaligus menjadi pribadi yang lebih bijak dalam bersikap di tengah perbedaan.

Inilah esensi kemenangan yang sejati: saat kita kembali suci dengan membawa damai dan manfaat bagi sesama.

Ramadan: Antara Ritual Kesucian dan Tragedi Ekologi

Oleh: Ikbal Tehuayo (Pemerhati dari Makassar) 

RAMADHAN adalah bulan suci, namun sering kali kesucian itu gagal tecermin dalam perilaku kita. Alih-alih menjadi momen pembersihan jiwa, Ramadhan seolah menjelma menjadi bulan penumpukan sampah.

Kesucian yang seharusnya menjadi inti ibadah, kini tampak ternoda oleh ketidakpedulian kita terhadap lingkungan.

Sejatinya, kesadaran lingkungan harus berjalan selaras dengan nilai-nilai spiritual. Jika suci berarti bersih, dan kebersihan adalah sebagian dari iman, maka mengabaikan kelestarian alam adalah bentuk pengingkaran terhadap nilai iman itu sendiri.

Minimnya empati terhadap bumi membuat Ramadhan seakan kehilangan esensinya sebagai bulan yang menyucikan.

Gunungan botol plastik, hamparan kantong belanja, serta sisa makanan yang terbuang sia-sia akibat konsumsi yang tak terkontrol kini menjadi wajah buruk di balik megahnya perayaan. Kita seolah gagal menerjemahkan nilai-nilai langit ke dalam tindakan di atas bumi.

Penting untuk kita sadari bahwa menjaga alam adalah bentuk ketaatan tertinggi kepada Tuhan.

Sehingga, puasa bukan sekadar perkara menahan lapar dan haus di tenggorokan, melainkan menahan diri dari syahwat konsumsi yang membebani bumi.

Ramadhan seharusnya menjadi energi penggerak bagi pikiran dan tindakan kita untuk mulai “berpuasa” dari perilaku merusak.

Jangan biarkan bulan yang suci ini justru menambah beban derita planet kita. Mari jadikan setiap sujud kita sejalan dengan upaya menjaga rumah besar yang dititipkan Tuhan ini.

Ketua MUI Sikka Ingatkan Nilai Empati di Bulan Ramadhan Saat Buka Puasa Bersama BRI Maumere

SIKKA, BAJOPOS.COM – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sikka, Muhammad Iksan Wahab, mengingatkan pentingnya membangun empati, solidaritas, dan kasih sayang antar sesama dalam momentum bulan suci Ramadhan.

Pesan tersebut ia sampaikan saat memberikan tausiah pada kegiatan buka puasa bersama yang digelar Bank Rakyat Indonesia (BRI) Branch Office Maumere bersama pekerja dan Ikatan Wanita Bank Rakyat Indonesia (IWABRI), Rabu (11/3/2026).

Menurut Iksan Wahab, Ramadhan bukan sekadar menjalankan ibadah puasa, tetapi juga menjadi kesempatan bagi setiap orang untuk memperbaiki diri dan memperkuat hubungan sosial dengan sesama manusia.

“Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun. Ia selalu menerima hamba-Nya yang ingin memperbaiki diri. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga hubungan baik dengan sesama,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa perselisihan antarindividu dapat menjauhkan seseorang dari rahmat Tuhan. Oleh sebab itu, setiap orang dianjurkan untuk selalu berprasangka baik serta menumbuhkan empati dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan kerja.

Iksan Wahab juga mengajak seluruh karyawan di lingkungan BRI Cabang Maumere untuk menjadikan ibadah sebagai sarana membangun kesadaran batin, bukan sekadar menjalankan kewajiban.

“Puasa mengajarkan nilai pengendalian diri. Seseorang menahan lapar dan dahaga selama satu hari penuh sebagai bentuk latihan spiritual sekaligus kedisiplinan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kedisiplinan dalam ibadah, seperti menjaga waktu berbuka puasa, menjalankan puasa, serta melaksanakan sholat tepat waktu, dapat membentuk karakter yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari.

Di akhir tausiahnya, ia mengingatkan pentingnya sikap bersyukur dan menahan amarah selama menjalani ibadah puasa. Menurutnya, kemarahan dapat menghilangkan nilai kesabaran yang selama ini dilatih melalui ibadah di bulan Ramadhan.

Kepala BRI Cabang Maumere, I Nyoman Slamet Destrawan memberikan sambutan saat acara buka puasa bersama Pekerja dan IWABRI, Rabu, 11 Maret 2026.

Sementara itu, Kepala BRI Cabang Maumere, I Nyoman Slamet Destrawan, mengatakan kegiatan buka puasa bersama menjadi momentum penting untuk mempererat kebersamaan di lingkungan kerja.

Ia menilai bulan Ramadhan mengajarkan setiap orang untuk meningkatkan pengendalian diri sekaligus memperkuat sikap toleransi antar umat beragama.

“Saya melihat tingkat toleransi di NTT tidak jauh berbeda dengan di tempat asal saya di Bali. Sama-sama saling menghargai meskipun memiliki latar belakang agama yang berbeda,” ujarnya.

Moment kebersamaan saat acara buka puasa bersama Pekerja dan IWABRI.

Menurut Destrawan, semangat saling menghargai tersebut diharapkan terus terjaga di lingkungan kerja BRI Cabang Maumere sehingga tercipta suasana kerja yang harmonis dan solid.

Kegiatan buka puasa bersama itu berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan serta diharapkan semakin memperkuat kekompakan tim sekaligus mempererat tali persaudaraan di antara seluruh karyawan.(Mm)

Meneladani Rasulullah SAW di Penghujung Ramadhan: Jejak Ibadah Nabi dan Hikmah Menurut Para Ulama

Ketika bulan Ramadhan memasuki hari-hari terakhir, suasana spiritual umat Islam biasanya semakin terasa. Masjid-masjid mulai dipenuhi jamaah yang ingin meraih keberkahan sebelum bulan suci berakhir. Dalam sejarah Islam, momentum ini memiliki makna yang sangat mendalam karena Rasulullah SAW menjadikan sepuluh malam terakhir Ramadhan sebagai puncak ibadahnya.

Bagi Nabi Muhammad SAW, akhir Ramadhan bukanlah waktu untuk mengendurkan semangat ibadah. Sebaliknya, saat itulah beliau meningkatkan kesungguhan dalam beribadah, memperbanyak sholat malam, membaca Al-Qur’an, berdoa, serta melakukan i’tikaf di masjid.

Tradisi tersebut kemudian menjadi teladan yang diwariskan kepada umat Islam hingga hari ini.

Kesungguhan Rasulullah pada Sepuluh Malam Terakhir

Istri Rasulullah, Aisyah, meriwayatkan bagaimana kebiasaan Nabi ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Ia berkata:

“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Rasulullah menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dalam ibadah dan mengencangkan ikat pinggangnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi salah satu rujukan penting para ulama dalam menjelaskan keutamaan sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Menurut ulama hadits terkenal, Ibnu Hajar Al-Asqalani, ungkapan “mengencangkan ikat pinggang” merupakan kiasan yang menunjukkan kesungguhan Rasulullah dalam meningkatkan ibadah serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dapat mengurangi fokus spiritual.

I’tikaf: Ibadah yang Selalu Dilakukan Rasulullah

Salah satu amalan yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah pada akhir Ramadhan adalah i’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid dengan tujuan memperbanyak ibadah kepada Allah.

Aisyah RA meriwayatkan:

“Rasulullah SAW selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau wafat.”
(HR. Bukhari)

Menurut penjelasan ulama besar mazhab Syafi’i, Imam Nawawi, i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan termasuk sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan karena dilakukan secara konsisten oleh Rasulullah.

Dalam kitab Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi menjelaskan bahwa tujuan utama i’tikaf adalah membersihkan hati dari kesibukan dunia dan memfokuskan diri sepenuhnya kepada ibadah.

Lailatul Qadar: Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

Kesungguhan Rasulullah dalam beribadah pada akhir Ramadhan berkaitan erat dengan pencarian Lailatul Qadar, malam yang sangat mulia dalam Islam.

Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Artinya:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan hingga terbit fajar.”
(QS. Al-Qadr: 1–5)

Menurut penafsiran ulama tafsir terkenal, Al-Qurtubi, keutamaan malam tersebut menunjukkan betapa besar rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad SAW. Satu malam ibadah dapat bernilai lebih dari delapan puluh tahun.

Hikmah Dirahasiakannya Lailatul Qadar

Tanggal pasti Lailatul Qadar tidak disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an maupun hadits. Rasulullah hanya memberikan petunjuk bahwa malam tersebut berada pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Rasulullah bersabda:

“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadhan.”
(HR. Bukhari)

Menurut pandangan ulama besar, Ibnu Taimiyah, hikmah dirahasiakannya waktu Lailatul Qadar adalah agar umat Islam tidak hanya beribadah pada satu malam saja, tetapi bersungguh-sungguh menghidupkan seluruh malam di akhir Ramadhan.

Doa yang Dianjurkan Rasulullah

Dalam sebuah riwayat, Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah tentang doa yang sebaiknya dibaca ketika seseorang bertemu dengan malam Lailatul Qadar.

Rasulullah menjawab:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

Menurut penjelasan Ibnu Hajar, doa ini menunjukkan bahwa inti dari malam Lailatul Qadar adalah memohon ampunan kepada Allah.

Kedermawanan Rasulullah di Bulan Ramadhan

Selain memperbanyak ibadah malam, Rasulullah juga dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan, terutama pada bulan Ramadhan.

Sahabat Nabi, Ibnu Abbas, meriwayatkan:

“Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan.”
(HR. Bukhari)

Kedermawanan Rasulullah terlihat dari kebiasaannya membantu kaum fakir miskin, memberi makan orang yang berpuasa, serta memperbanyak sedekah.

Ramadhan sebagai Momentum Perubahan

Kisah kehidupan Rasulullah SAW pada penghujung Ramadhan memberikan pelajaran penting bagi umat Islam. Ketika sebagian orang mulai merasa lelah menjalani puasa, Rasulullah justru meningkatkan kesungguhan dalam ibadahnya.

Teladan tersebut mengajarkan bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi momentum untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal, serta mendekatkan hati kepada Allah.

Dengan meneladani Rasulullah—menghidupkan malam, memperbanyak sedekah, melakukan i’tikaf, dan mencari Lailatul Qadar—umat Islam diharapkan dapat menutup Ramadhan dengan amal terbaik.

Sebab tidak ada yang mengetahui apakah seseorang masih akan bertemu dengan Ramadhan berikutnya.(Redaksi) 

Menjemput Ramadhan yang Makbul: Pesan Qultum Ustadz Haris di Masjid An-Nur

SIKKA, Bajopos.com – Memasuki sepuluh malam terakhir bulan suci Ramadhan, umat Muslim diajak untuk semakin memperbanyak amal dan memohon agar seluruh ibadah diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Pesan itu disampaikan oleh Ustadz Haris dalam kuliah tujuh menit (qultum) usai Sholat Isya menjelang Sholat Tarawih di Masjid An-Nur Nangahale, Selasa (10/3/2026) malam.

Ustadz Haris yang merupakan alumni Pondok Pesantren Dakwah Darul Muhlasin, Kerincing, Payaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mengawali ceramahnya dengan mengingatkan jamaah bahwa Ramadhan kini telah memasuki fase sepuluh malam terakhir.

Menurutnya, momen tersebut harus disyukuri karena tidak semua orang diberi kesempatan untuk sampai pada penghujung Ramadhan.

“Sebentar lagi Ramadhan akan pergi meninggalkan kita. Maka yang pertama harus kita lakukan adalah bersyukur kepada Allah atas nikmat yang sangat mulia ini, yaitu nikmat amal,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan bahwa amal kebaikan merupakan satu-satunya bekal yang akan menemani manusia setelah meninggal dunia. Harta benda, kendaraan, bahkan kekayaan dunia tidak akan ikut masuk ke dalam kubur.

“Motor tidak masuk kubur, duit tidak masuk kubur, pulsa juga tidak masuk kubur. Yang masuk kubur hanyalah amal,” kata Ustadz Haris.

Karena itu, ia mengajak jamaah untuk mensyukuri kesempatan beramal selama Ramadhan dan memohon agar seluruh ibadah diterima oleh Allah.

Harapan Amal yang Makbul

Dalam ceramahnya, Ustadz Haris juga menjelaskan makna diterimanya amal oleh Allah. Ia menyinggung istilah mabrur bagi orang yang menunaikan ibadah haji dan makbul bagi amal lainnya.

Keduanya, menurut dia, memiliki makna yang sama, yaitu amal yang diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ia mengutip doa yang sering dibaca dalam Sholat Tarawih yang memohon agar umat Muslim termasuk golongan orang yang beruntung dan amalnya diterima.

“Ya Allah jadikanlah kami di bulan Ramadhan ini termasuk orang-orang yang beruntung, yang amalnya diterima oleh-Mu,” ujarnya mengutip doa tersebut.

Ia juga mengingatkan agar umat Muslim tidak termasuk golongan orang yang amalnya tertolak.

“Tanda amal yang diterima adalah dimudahkannya seseorang melakukan amal berikutnya,” katanya.

Ia mencontohkan, ketika seseorang mampu menjaga Sholat Dzuhur dengan baik, maka Allah akan memudahkan ia menunaikan Sholat Ashar, kemudian Maghrib, dan seterusnya.

Perubahan Setelah Ramadhan

Ustadz Haris juga menegaskan bahwa tanda diterimanya Ramadhan adalah adanya perubahan dalam diri seseorang setelah bulan suci tersebut berakhir.

Ia memberikan analogi bagi orang yang pulang dari ibadah haji. Jika hajinya mabrur, maka akan terlihat perubahan perilaku setelah kembali ke tanah air.

“Kalau tidak ada perubahan, itu bukan haji mabrur, tapi mabur, terbang saja,” ujarnya disambut senyum jamaah.

Hal yang sama, lanjutnya, juga berlaku bagi Ramadhan. Bila ibadah Ramadhan diterima, maka seseorang akan menjadi pribadi yang lebih baik setelahnya.

Ia mengutip nasihat ulama yang mengingatkan agar umat Islam menjadi hamba yang robbani, yaitu hamba yang berorientasi kepada Allah dalam setiap amalnya, bukan hanya menjadi hamba “Ramadhani” yang semangat beribadah hanya selama bulan Ramadhan.

“Jangan sampai setelah Ramadhan selesai, semangat ibadah juga hilang,” katanya.

Pentingnya Menjaga Lisan

Dalam qultumnya, Ustadz Haris juga mengingatkan jamaah untuk menjaga lisan selama bulan Ramadhan. Menurutnya, ucapan manusia memiliki dampak besar, apalagi ketika di bulan Ramadhan doa-doa lebih mudah dikabulkan.

Ia menjelaskan bahwa para malaikat diperintahkan untuk mengamini doa orang-orang yang berdoa di bulan Ramadhan. Karena itu, kata-kata yang keluar dari mulut harus dijaga.

“Jangan sampai mulut kita mengeluarkan kata-kata kotor, memaki, atau mengutuk orang lain,” katanya.

Ia bahkan menyinggung kebiasaan sebagian orang tua yang marah kepada anak dengan kata-kata kasar. Menurutnya, hal tersebut sebaiknya diganti dengan doa yang baik.

Untuk memperjelas pesan tersebut, ia menceritakan kisah masa kecil Imam Masjidil Haram, Syekh Abdurrahman As-Sudais.

Menurutnya, ketika kecil, As-Sudais dikenal sebagai anak yang sulit diatur. Namun sang ibu tidak memarahinya dengan kata-kata kasar.

Sebaliknya, ibunya justru mendoakan agar kelak ia menjadi imam di masjid besar. Doa itu kemudian benar-benar terwujud ketika As-Sudais menjadi imam di Masjidil Haram.

“Semoga para orang tua bisa meneladani hal itu, mengganti kemarahan dengan doa yang baik untuk anak-anaknya,” ujar Ustadz Haris.

Doa di Penghujung Ramadhan

Menutup qultumnya, Ustadz Haris mengajak jamaah untuk memperbanyak doa di sisa Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi.

Ia menekankan bahwa setiap Muslim perlu memohon secara pribadi kepada Allah agar seluruh ibadah Ramadhan diterima.

“Jangan hanya berharap dari doa imam ketika Tarawih. Kita masing-masing juga harus memohon kepada Allah agar Ramadhan kita diterima,” katanya.

Ia berharap Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang makbul dan membawa perubahan kebaikan bagi setiap Muslim.

“Semoga Allah menerima Ramadhan kita tahun ini dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan berikutnya,” ujarnya menutup ceramah.(Faidin)

Iqra’ dan Tanggung Jawab Moral Jurnalisme

Oleh : Redaksi

Perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an bukanlah perintah berperang, bukan pula perintah membangun kekuasaan. Wahyu pertama justru memerintahkan sesuatu yang sangat mendasar: membaca. Perintah itu tertuang dalam ayat pertama Surah Al-Alaq.

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”

Bagi dunia jurnalistik, pesan “Iqra” tidak sekadar ajakan membaca teks, tetapi juga membaca realitas. Jurnalisme pada hakikatnya adalah proses membaca kehidupan—membaca fakta, membaca peristiwa, dan membaca kepentingan yang tersembunyi di baliknya. Di sinilah jurnalisme menemukan akar moralnya.

Membaca Sebelum Menulis

Seorang jurnalis sering dikenal sebagai penulis berita. Namun sebelum menulis, tugas pertama seorang jurnalis sebenarnya adalah membaca. Ia membaca situasi sosial, membaca data, membaca kesaksian para narasumber, dan membaca konteks yang melingkupi sebuah peristiwa.

Tanpa kemampuan membaca secara jernih, berita dapat berubah menjadi sekadar opini yang tergesa-gesa. Dalam konteks inilah makna “Iqra” menjadi sangat relevan bagi profesi jurnalistik. Perintah membaca dalam Al-Qur’an mengandung pesan agar manusia tidak berbicara tanpa pengetahuan.

Pesan itu bahkan dipertegas dalam Surah Al-Hujurat ayat 6.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”

Ayat ini seperti prinsip dasar verifikasi dalam jurnalistik modern: berita harus diperiksa sebelum disebarkan.

Jurnalisme dan Etika Kebenaran

Dalam praktiknya, jurnalisme sering berada di persimpangan antara kepentingan publik dan tekanan kekuasaan. Di sinilah nilai “Iqra” kembali mengingatkan bahwa membaca harus dilakukan “bismi rabbik”—dengan kesadaran moral kepada Tuhan.

Artinya, membaca fakta tidak boleh dipisahkan dari tanggung jawab etis.

Seorang jurnalis tidak hanya mencari informasi, tetapi juga menjaga agar informasi itu tidak menyesatkan masyarakat. Ketika fakta dipelintir atau disajikan secara tidak utuh, media tidak lagi menjadi jendela kebenaran, melainkan alat manipulasi.

Membaca Realitas, Menjaga Nurani

Perintah “Iqra” juga mengajarkan bahwa membaca bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga spiritual. Membaca realitas berarti berusaha memahami penderitaan masyarakat, ketidakadilan sosial, dan suara mereka yang sering tidak terdengar.

Dalam konteks ini, jurnalisme memiliki peran yang hampir serupa dengan fungsi moral wahyu: menghadirkan terang di tengah kegelapan informasi.

Media yang setia pada nilai “Iqra” tidak hanya mengejar kecepatan berita, tetapi juga kedalaman makna. Ia tidak sekadar melaporkan apa yang terjadi, tetapi juga membantu publik memahami mengapa sesuatu terjadi.

Sehingga, peristiwa Nuzulul Qur’an pada bulan Ramadhan penting dimaknai sebagai peradaban besar yang lahir dari satu kata sederhana: membaca. Bagi dunia jurnalistik, “Iqra” adalah panggilan untuk membaca dunia dengan jujur, memverifikasi fakta dengan teliti, dan menulis berita dengan tanggung jawab moral.

Sehingga, dapat dipastikan bahwa jurnalisme yang kehilangan semangat membaca akan kehilangan kemampuannya membedakan antara kebenaran dan sekadar kabar yang berisik.

Ancaman Juga Siksa Menanti Siapapun yang Meremehkan ‘Tidak Puasa Ramadhan’

Sabda Nabi “Siapa yang berbuka satu hari di bulan Ramadhan tanpa rukhsah dan tanpa sakit, maka ia tidak akan mampu menggantinya walaupun berpuasa sepanjang tahun (HR. Abu Dawud).”

Oleh : Abdurahim Yunus S.HI

NAGEKEO, Bajopos.com – Ramadhan adalah bulan yang Allah muliakan di atas seluruh bulan. Di dalamnya Al-Qur’an diturunkan, pahala dilipatgandakan, dan pintu-pintu surga dibuka. Namun di balik kemuliaan itu, terdapat ancaman keras bagi siapa saja yang dengan sengaja meremehkan kewajiban puasa tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini merupakan perintah tegas. Puasa Ramadhan bukan tradisi tahunan atau pilihan pribadi, melainkan kewajiban langsung dari Allah kepada setiap muslim yang baligh, berakal, dan mampu.

Puasa Ramadhan juga termasuk salah satu rukun Islam. Dalam hadits sahih yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa Islam dibangun di atas lima perkara, dan beliau menyebutkan di antaranya adalah puasa Ramadhan (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj).

Karena itu, siapa yang dengan sengaja meninggalkan puasa tanpa uzur seperti sakit atau safar, berarti ia telah meremehkan salah satu pilar utama agama. Para ulama menjelaskan, jika seseorang mengingkari kewajibannya maka ia dapat terjatuh pada kekafiran. Adapun jika ia mengakui kewajiban itu namun meninggalkannya karena malas atau meremehkan, maka ia telah melakukan dosa besar yang sangat berat.

Ancaman keras bagi orang yang sengaja berbuka tanpa alasan tergambar dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili RA. Rasulullah SAW menceritakan mimpi tentang sekelompok orang yang digantung terbalik, mulut mereka robek hingga ke tengkuk dan darah mengalir deras. Ketika beliau bertanya siapa mereka, dijawab: mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum halal waktunya.

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang berbuka satu hari di bulan Ramadhan tanpa rukhsah dan tanpa sakit, maka ia tidak akan mampu menggantinya walaupun berpuasa sepanjang tahun (HR. Abu Dawud). Ini menunjukkan betapa besar kedudukan satu hari puasa Ramadhan.

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa setiap amal akan dimintai pertanggungjawaban. Allah berfirman dalam QS. Al-Hijr ayat 92–93:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْـَٔلَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ
عَمَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.”

Pada hari itu manusia berdiri dalam keadaan haus, takut, dan penuh penyesalan. Matahari didekatkan, keringat menenggelamkan manusia sesuai kadar amalnya. Orang yang dahulu enggan menahan lapar dan dahaga karena Allah akan merasakan dahaga yang jauh lebih dahsyat di Padang Mahsyar.

Namun sebesar apa pun dosa, pintu taubat tetap terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 53:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”

Karena itu, jika pernah meninggalkan puasa dengan sengaja, segeralah bertaubat dengan taubat nasuha: menyesali perbuatan, bertekad tidak mengulanginya, dan mengganti puasa yang ditinggalkan.

Ramadhan adalah kesempatan emas menuju ampunan. Jangan sampai ia menjadi saksi kelalaian kita di hadapan Allah. Semoga Allah menjaga kita dari meremehkan kewajiban-Nya dan menjadikan Ramadhan sebagai sebab keselamatan kita di dunia dan akhirat. Aamiin.(Faidin)

Seandainya Kalian Benar-Benar Tahu Pahala Berpuasa

Oleh : Abdurrahim Yunus, S.Ag

Sabda Nabi: “Setiap amal anak Adam dilipatgandakan; satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat.”

Allah berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’ Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

AESESA NAGEKEO, Bajopos.com – Di sebuah majelis yang tenang, ketika para sahabat duduk mengelilingi Muhammad SAW, terpatri satu pesan agung tentang puasa. Ibadah itu bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan rahasia suci antara hamba dan Rabb-nya—amalan yang nilai dan ganjarannya langsung berada dalam kuasa Allah.

Bagi generasi sahabat, Ramadan adalah musim panen pahala. Namun mereka tetap manusia: ada rasa lapar, haus, dan letih. Di tengah kondisi itu, Rasulullah SAW menguatkan hati mereka dengan kabar yang menenangkan sekaligus menggembirakan.

Beliau bersabda:

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan; satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’ Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Hadis ini bukan sekadar motivasi spiritual, melainkan penegasan tentang keistimewaan puasa dibandingkan ibadah lainnya. Semua amal berpahala, tetapi ketika Allah sendiri berfirman, “Puasa itu untuk-Ku,” maka di sana ada kemuliaan yang tak tertandingi.

Mengapa Puasa Begitu Istimewa?

Pertama, karena ia paling tersembunyi.
Salat terlihat. Sedekah bisa diketahui. Haji tampak jelas. Namun puasa? Ia berlangsung dalam sunyi. Seseorang bisa saja sendirian di ruangan, mampu minum atau makan tanpa diketahui siapa pun. Tetapi ia memilih menahan diri. Mengapa? Karena ia sadar Allah melihatnya.

Di situlah letak kemurnian ikhlas. Puasa menjadi latihan muraqabah—kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak dan niat.

Kedua, karena pahalanya tidak terbatas.
Dalam hadis disebutkan pahala amal bisa berlipat hingga tujuh ratus kali. Tetapi untuk puasa, tidak disebut batasnya. Allah menegaskan, “Aku sendiri yang akan membalasnya.” Artinya, ganjarannya sebanding dengan kedalaman keikhlasan, kesabaran, dan ketakwaan yang tumbuh selama menjalaninya. Semakin berat pengorbanan, semakin besar balasannya.

Ketiga, karena ia melatih kesabaran total.
Puasa mencakup tiga bentuk kesabaran sekasurga, diantaranya; sabar dalam ketaatan, sabar meninggalkan maksiat, sabar menghadapi ujian lapar, haus, dan emosi.

Ramadan bahkan disebut sebagai bulan kesabaran, dan balasan kesabaran tidak lain adalah surga.

Dua Kebahagiaan Orang yang Berpuasa

Rasulullah SAW bersabda:

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu Rabb-nya.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Kebahagiaan pertama sederhana—seteguk air, sebutir kurma, rasa syukur setelah menahan diri seharian. Namun kebahagiaan kedua jauh lebih agung: ketika amal puasa berdiri sebagai saksi di hadapan Allah.

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat.”(HR. Ahmad ibn Hanbal)

Puasa seakan berkata, “Ya Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkan aku memberi syafaat untuknya.”

Pintu Khusus di Surga

Rasulullah SAW juga mengabarkan adanya pintu surga bernama Ar-Rayyan. Pintu itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berpuasa. Ketika mereka masuk, pintu itu ditutup—tidak ada lagi yang memasukinya.

Puasa, dengan demikian, bukan sekadar ibadah harian. Ia menjadi identitas kehormatan di akhirat.

Seandainya Kita Benar-Benar Tahu

Seandainya manusia benar-benar memahami bahwa satu hari puasa di jalan Allah dapat menjauhkan wajah dari api neraka sejauh perjalanan puluhan tahun.

Seandainya mereka sadar bahwa bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi.

Seandainya mereka mengerti bahwa setiap rasa haus dicatat sebagai pahala yang tak terhingga. Barangkali tidak akan ada keluhan, tidak ada penundaan, tidak ada Ramadan yang disia-siakan.

Hikmah yang Lebih Dalam

Puasa mengajarkan empati kepada yang lapar. Ia melatih pengendalian hawa nafsu. Ia menyadarkan bahwa dunia bukan tujuan akhir. Ia menumbuhkan ketergantungan total kepada Allah.

Puasa bukan sekadar ibadah fisik. Ia adalah pendidikan ruhani, proses penyucian jiwa, dan latihan keikhlasan paling murni.

Dan mungkin, jika kita benar-benar memahami nilainya di sisi Allah, kita tidak akan menangis karena lapar—melainkan karena takut kehilangan satu hari tanpa puasa.(Faidin)

(KAJIAN RAMADHAN) Hukum Menjual Makanan di Siang Hari

Oleh : Ustadz Abdurrahim Yunus, S.Ag

Ramadhan menjadi bulan yang tidak hanya sarat ibadah, tetapi juga menghadirkan beragam persoalan fikih dalam praktik kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah hukum menjual makanan pada siang hari di bulan puasa.

Secara umum, hukum asal berjualan dalam Islam adalah mubah atau diperbolehkan. Namun, para ulama memberikan batasan ketika aktivitas tersebut berpotensi mengantarkan pada kemaksiatan.

Dalam konteks Ramadhan, menjual makanan kepada orang yang wajib berpuasa dan diduga kuat akan memakannya di siang hari, dinilai terlarang.

Ulama mazhab Syafi’i, Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, menjelaskan dalam kitab I’anah at-Thalibin bahwa setiap tindakan yang mengarah pada kemaksiatan hukumnya tidak diperbolehkan. Ia menegaskan:

(وَقَوْلُهُ مِنْ كُلِّ تَصَرُّفٍ يُفْضِي إلَى مَعْصِيَةٍ) … وَكَذَا بَيعُهُ طَعَامًا عَلمَ أوْ ظَنَّ أنَّهُ يَأْكُلُهُ نهَارًا

Artinya; “Penjelasan dari setiap tindakan yang berdampak pada maksiat… begitu juga (haram) menjual makanan bila yakin atau menduga kuat ia akan memakannya di siang hari Ramadhan.” (I’anah At-Thalibin, III/30).

Sehingga, hal demikian termasuk dalam kategori menjual makanan kepada orang yang diyakini atau diduga kuat akan mengonsumsinya pada siang hari Ramadhan.

Poin utama, yang menjadi dasar keharaman ini adalah konsep i’anah ‘ala al-ma’shiyah atau membantu dalam perbuatan maksiat. Jika aktivitas jual beli itu secara nyata berkontribusi pada pelanggaran kewajiban puasa, maka hukumnya bisa berubah dari mubah menjadi haram.

Namun demikian, hukum tersebut tidak berlaku secara mutlak. Menjual makanan tetap diperbolehkan apabila tidak mengarah pada dukungan terhadap kemaksiatan.

Misalnya, menjual kepada anak kecil yang belum wajib berpuasa, perempuan yang sedang haid, orang sakit, musafir, atau mereka yang memiliki uzur syar’i lainnya. Termasuk pula menjual bahan makanan yang akan dikonsumsi saat berbuka atau untuk persiapan sahur.

Penjelasan serupa juga termuat dalam kitab Yas’alunaka:

فَيَنْبغِى لِهَذَا الشَّخْصِ اَنْ يَكُفَّ عَنْ فَتٰحِ مَطْعَمِهِ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ إذَا كَانَ الَّذِيْنَ يَشْتَرُوْنَ مِنْهُ ويَتَرَدَّدُوْنَ عَلَيْهِ يُفْطرُوْنَ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ بِمَا يَشْتَرُوْنَ مِنهُ وَلَكِنْ إِذَا كَانَ هَذَا الْمَطْعَمُ يَبِيْعُ الْأَشْيَاءَ الَّذِيْنَ يَسْتَخْدِمُهَا مُشْترُوهَا فِي إِعْدَادِ الْإِفْطَارِ بَعْدَ الْغُرُوْبِ اَو السَّحُوْرِ بِاللَّيْلِ فَلَا مَانِعَ شَرْعًا مِنْ فَتْحِهِ

“Hendaklah bagi orang itu untuk menahan diri agar tidak membuka warungnya di siang Ramadhan apabila pembelinya akan tidak berpuasa sebab beli di tempat tersebut. Tetapi apabila warung tersebut menjual makanan yang membantu pembelinya untuk menyiapkan hidangan berbuka saat Maghrib atau hidangan sahur malam maka tidak ada larangan syariat untuk membuka warung tersebut.” (Yas’alunaka, IV/49).

Dalam keterangan tersebut ditegaskan bahwa seorang pemilik warung sebaiknya tidak membuka usahanya di siang Ramadhan jika para pembelinya diketahui akan berbuka (tidak berpuasa) dengan makanan yang dibeli.

Namun, apabila yang dijual adalah kebutuhan untuk persiapan berbuka setelah maghrib atau untuk sahur, maka tidak ada larangan secara syariat untuk tetap membuka usaha.

Dengan demikian, hukum menjual makanan di siang Ramadhan sangat bergantung pada konteks dan tujuan penggunaannya.

Prinsip kehati-hatian serta upaya menghindari keterlibatan dalam kemaksiatan menjadi pertimbangan utama dalam praktik muamalah di bulan suci.(Faidin)

(QULTUM) Makna Taqwa dan Tiga Dimensi Kecerdasan Ummat

SIKKA, BAJOPOS.COM – Momentum Ramadhan dimanfaatkan untuk memperkuat pemahaman keagamaan umat. Hal itu terlihat dalam kuliah tujuh menit (Qultum) yang disampaikan Risman di Masjid An-Nur Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Jumat (21/02/2026) usai sholat Isya, menjelang pelaksanaan shalat Tarawih.

Di hadapan jamaah, Risman mengajak umat Islam untuk mensyukuri nikmat kesehatan, kekuatan, serta kesempatan yang masih diberikan Allah SWT sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dan amalan lainnya di bulan suci Ramadhan.

“Sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT karena atas kasih sayang-Nya kita masih dimudahkan menjalankan puasa dan ibadah lainnya. Semoga seluruh amal ibadah kita diridhai hingga akhir hayat,” ujarnya.

Puasa dan Orientasi Ketaqwaan

Dalam tausyiahnya, Risman menyoroti tujuan utama puasa sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui frasa la‘allakum tattaqun (agar kamu bertakwa). Menurutnya, pesan tersebut menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi sarana pembentukan karakter muslim yang bertakwa.

Ia menjelaskan bahwa takwa selama ini sering dimaknai sebagai menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Namun, makna tersebut perlu dipahami secara lebih komprehensif agar berdampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Agama mengatur dua hubungan besar, yakni hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesamanya. Ketika dua hal ini berjalan seimbang, maka itulah wujud takwa yang sebenarnya,” katanya.

Ilmu, Adab, dan Tradisi Keilmuan

Risman juga menyinggung pentingnya adab dalam menuntut ilmu agama. Ia mengisahkan bagaimana pada masa sahabat, seseorang rela menunggu di depan rumah gurunya dan tertidur hingga esok harinya hanya untuk mempelajari satu hadits. Ketekunan dan penghormatan kepada orang berilmu (guru) menjadi kunci dalam memperoleh keberkahan ilmu.

Menurutnya, ilmu agama saat ini terbuka luas untuk dipelajari, namun tetap membutuhkan kesungguhan dan etika. “Ilmu itu tidak cukup hanya didengar, tetapi perlu keseriusan dan adab dalam mempelajarinya,” ujarnya.

Tiga Dimensi Ketaqwaan

Lebih jauh, Risman menguraikan bahwa ketakwaan dapat dipahami melalui tiga dimensi utama.

Pertama, dimensi intelektual. Umat Islam didorong menggunakan akal untuk memahami ajaran agama, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui seruan agar manusia berpikir. Ilmu menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran beragama yang benar.

Kedua, dimensi spiritual. Ilmu yang harus diwujudkan dalam bentuk amal ibadah. Tanpa pengamalan, ilmu hanya menjadi pengetahuan yang tidak memberi dampak nyata.

Ketiga, dimensi sosial-emosional. Ketakwaan juga tercermin dalam kemampuan menjaga hubungan dengan sesama, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, serta membangun harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.

“Ada orang yang berilmu dan rajin beribadah, tetapi kurang menjaga hubungan sosial. Ini menunjukkan bahwa ketakwaannya belum sempurna, yang demikian belumlah cukup,” tegasnya.

Keteladanan Rasulullah

Sebagai ilustrasi, Risman mengangkat kisah Nabi Muhammad SAW yang pernah melihat seorang pemuda keliru dalam melaksanakan shalat. Rasulullah tidak langsung menegur di tengah pelaksanaan shalat, melainkan menunggu hingga selesai, lalu membimbingnya dengan penuh kelembutan.

Pendekatan tersebut, menurutnya, menjadi contoh nyata bagaimana dakwah dijalankan dengan kebijaksanaan, tanpa menyakiti hati.

“Jika ada kesalahan, luruskan dengan cara yang santun, lalu ajarkan. Itulah akhlak Rasulullah,” ujarnya.

Qultum yang berlangsung singkat itu memberi pesan bahwa Ramadhan merupakan momentum membangun ketakwaan secara menyeluruh—tidak hanya dalam aspek ritual, tetapi juga dalam kecerdasan berpikir, kedalaman spiritual, serta kematangan sosial.

Reporter : Faidin

RAMADHAN Bulan Ibadah dan Ukhuwah

HIKMAH RAMADHAN

Oleh : Ust. Dr. Muhammad Dwi Fajri, M.Pd.I

RAMADHAN bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah ruang pendidikan spiritual yang telah ditetapkan sejak tahun kedua Hijrah, tepatnya pada bulan Sya’ban, sebulan sebelum kewajiban puasa dijalankan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.

Penetapan waktu itu memberi pesan penting: ibadah besar membutuhkan persiapan matang, bukan hanya fisik, tetapi juga pemahaman akan makna dan tujuannya.

Dalam praktiknya, puasa sering kali direduksi menjadi rutinitas tahunan. Kita menyaksikan tidak sedikit orang yang mampu menahan makan dan minum, tetapi gagal menjaga lisan dan perilaku.

Padahal, substansi puasa melampaui dimensi biologis. Ia menuntut pengendalian diri secara utuh—menjaga ucapan dari dusta dan ghibah, menahan amarah, serta membangun relasi sosial yang sehat.

Dengan kata lain, puasa memiliki dua poros utama: vertikal kepada Allah (hablumminallah) dan horizontal kepada sesama manusia (hablumminannas).

Ramadhan sebagai Bulan Ibadah

Ramadhan adalah momentum khusus dan terbatas. Khusus karena ia ditujukan bagi orang-orang beriman; terbatas karena hadir hanya sekali dalam setahun.

Di dalamnya terdapat kemuliaan yang tidak dijumpai pada bulan lain, seperti turunnya Al-Qur’an dan kehadiran Lailatul Qadar.

Pesan untuk memaksimalkan ibadah di bulan ini ditegaskan dalam hadis riwayat Muhammad yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Hadits ini bukan sekadar janji pengampunan, tetapi dorongan persuasif agar umat Islam meningkatkan kualitas ibadahnya.

Hadits lain menyebutkan bahwa ketika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu (HR. Bukhari & Muslim).

Secara majazi, ini menggambarkan terbukanya peluang kebaikan dan menyempitnya ruang kemaksiatan. Maka tidak mengherankan jika masjid-masjid lebih ramai, lantunan tadarus menggema, dan semangat sedekah meningkat.

Namun, pertanyaan krusialnya adalah: apakah intensitas ibadah itu berlanjut setelah Ramadhan usai? Jika tidak, maka Ramadhan hanya menjadi euforia spiritual sesaat. Padahal, ia sejatinya adalah titik tolak pembentukan ritme ibadah yang berkelanjutan.

Ramadhan sebagai Bulan Ukhuwah

Islam tidak berdiri hanya pada relasi vertikal. Puasa juga dirancang untuk memperbaiki relasi sosial. Rasulullah SAW mengingatkan: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari). Pesan ini tegas: puasa tanpa penjagaan lisan kehilangan substansinya.

Lisan kerap menjadi sumber konflik. Pepatah “mulutmu harimaumu” menemukan relevansinya di sini. Ucapan yang tidak terkontrol dapat merusak persaudaraan, memicu fitnah, dan memecah belah komunitas. Sebaliknya, lisan yang terjaga menjadi fondasi ukhuwah.

Dimensi sosial Ramadhan juga tampak dalam anjuran berbagi. Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan bahwa sedekah paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.

Hadits lain menyatakan bahwa memberi makan orang yang berpuasa mendatangkan pahala setara tanpa mengurangi pahala yang diberi. Spirit berbagi ini memperkuat solidaritas sosial dan mengikis sekat-sekat ekonomi.

Menyatukan Dua Dimensi

Ramadhan hadir untuk menyinergikan dua kekuatan: kedalaman ibadah dan keluasan ukhuwah. Hubungan yang intens dengan Allah melahirkan ketenangan batin. Sementara hubungan harmonis dengan sesama menghadirkan keberkahan sosial. Keduanya tidak dapat dipisahkan.

Jika puasa hanya memperkuat hubungan vertikal tanpa memperbaiki hubungan horizontal, maka ada yang terlewat dari misi besarnya. Sebaliknya, jika ukhuwah tumbuh tanpa landasan spiritual yang kokoh, ia mudah goyah oleh kepentingan sesaat.

Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi bulan evaluasi kolektif. Apakah ibadah kita semakin berkualitas? Apakah lisan kita semakin terjaga? Apakah kepedulian sosial kita meningkat? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah puasa kita sekadar ritual atau benar-benar transformasional.

Olehnya, Ramadhan bukan hanya sekedar sebulan penuh ibadah, tetapi tentang bagaimana membangun karakter yang bertahan sebelas bulan berikutnya.

Dari masjid ke ruang publik juga dari sajadah ke kehidupan sosial, tentu seharusnya Ramadhan menjadi perenungan serta pengajaran bahwa kesalehan pribadi harus berbanding lurus dengan kesalehan sosial. Disanalah ibadah dan ukhuwah bertemu, dan di sanalah keberkahan menemukan maknanya.

Doa Buka Puasa Ramadhan Sesuai Sunnah, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

BULAN RAMADHAN menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah saat berbuka puasa, setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

Berbuka puasa bukan sekadar waktu untuk makan dan minum. Dalam ajaran Islam, waktu tersebut termasuk saat yang mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa doa orang yang berpuasa ketika berbuka termasuk doa yang tidak tertolak, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Riwayat Tirmidzi nomor 2449.

Karena itu, umat Islam dianjurkan memanfaatkan waktu berbuka dengan membaca doa sebagai bentuk syukur dan pengharapan pahala dari Allah SWT.

Berikut beberapa pilihan doa berbuka puasa Ramadhan yang dapat diamalkan, sebagaimana tercantum dalam literatur klasik Al-Adzkar karya Imam Nawawi.

Pilihan Doa Berbuka Puasa Berdasarkan Riwayat Hadis

Terdapat beberapa variasi doa berbuka puasa yang bersumber dari riwayat hadis berbeda. Umat Islam dapat memilih salah satu doa yang mudah dihafal dan dipahami maknanya.

1. Doa Berbuka Puasa Riwayat Abu Daud

Doa ini termasuk yang paling populer dan menekankan rasa syukur atas hilangnya dahaga serta harapan akan pahala.

Teks Arab:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Latin:
Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu, wa tsabatal ajru in syaa Allah.

Artinya:
“Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala, insya Allah.” (HR. Abu Daud)

2. Doa yang Umum Digunakan di Indonesia

Doa ini sangat familiar di tengah masyarakat dan kerap dibaca secara berjamaah.

Teks Arab:

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Latin:
Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar raahimin.

Artinya:
“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih.”

3. Doa Syukur atas Pertolongan Allah (Riwayat Ibnu Sunni)

Doa ini berisi pengakuan bahwa kekuatan menjalankan puasa berasal dari pertolongan Allah.

Teks Arab:

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ

Latin:
Alhamdulillahilladzi a’aananii fashumtu, wa razaqanii faafthartu.

Artinya:
“Segala puji bagi Allah yang telah menolongku sehingga aku dapat berpuasa, dan yang telah memberiku rezeki sehingga aku dapat berbuka.”

4. Doa Memohon Penerimaan Amal (Riwayat Sahabat Ibnu Abbas)

Doa ini menekankan permohonan agar puasa diterima oleh Allah SWT.

Teks Arab:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا، فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Latin:
Allahumma shumnaa wa ‘alaa rizqika aftharnaa, fataqabbal minna innaka antas samii’ul ‘aliim.

Artinya:
“Ya Allah, karena-Mu kami berpuasa, dan dengan rezeki-Mu kami berbuka, maka terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

5. Doa Memohon Ampunan (Riwayat Ibnu Majah)

Waktu berbuka juga menjadi kesempatan untuk memohon ampun atas dosa.

Teks Arab:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي

Latin:
Allahumma inni as’aluka birahmatikallatii wasi’at kulla syai’in an taghfira lii.

Artinya:
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku.”

Mengamalkan Doa Berbuka Puasa

Mengamalkan doa-doa tersebut tidak harus sekaligus dalam satu waktu. Berikut beberapa langkah agar lebih mudah diterapkan:

Pilih doa yang mudah dihafal agar dapat dibaca dengan khusyuk.

Pahami maknanya sehingga doa tidak sekadar dilafalkan, tetapi dihayati.

Variasikan bacaan agar menambah hafalan doa sunnah.

Manfaatkan waktu menjelang azan Magrib untuk memperbanyak zikir dan doa pribadi.

Berbuka puasa adalah penutup ibadah harian selama Ramadhan. Menyertainya dengan doa menjadi bentuk rasa syukur sekaligus harapan agar ibadah diterima Allah SWT.

Dengan memahami berbagai riwayat doa berbuka puasa, umat Islam memiliki rujukan yang jelas dan dapat mengamalkannya sesuai kemampuan.

(QULTUM) Ramadhan Merupakan Momentum Tajdid Ruhani dan Kesalehan Sosial

Oleh : Ust. Dr. Muhammad Dwi Fajri, M.Pd.I (Dosen Uhamka)

Selamat datang Ramadhan. Marhaban yaa Ramadhan. Inilah bulan yang sangat mulia, yang kehadirannya disambut gegap gempita oleh kaum muslimin dan muslimat seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Dalam tradisi masyarakat Indonesia, kehadiran Ramadhan disambut dengan berbagai aktivitas, di antaranya pengajian tarhib, silaturahim, pawai, bersih-bersih masjid, dan kegiatan sosial lainnya.

Ramadhan adalah tamu agung dengan misi besar yang kerap terabaikan, yakni sebagai momentum pembaruan spiritual dan penguatan kesalehan sosial.

Pertanyaan bagi kita yang telah menunaikan puasa berulang kali adalah, apakah puasa Ramadhan yang selama ini kita jalankan benar-benar menghadirkan peningkatan spiritual dan sosial dalam diri?

Pembaharuan Ruhani

Kehidupan manusia yang sibuk dan sesak dengan keinginan duniawi kerap menyebabkan hati menjadi tertutup. Hati yang diselimuti debu materialisme, egoisme, dan ambisi duniawi membuat manusia lupa pada tujuan hidup yang utama.

Alih-alih menghadirkan kebahagiaan, ambisi duniawi justru sering melahirkan kehampaan dan kelelahan jiwa.

Sebagian orang menumpuk harta dalam jumlah besar, namun tetap merasa kurang dan terus mengejarnya dengan berbagai cara. Ibarat meminum air laut, semakin diminum semakin haus.

Seteguk yang diminum terasa melegakan, tetapi sejatinya hanya menambah dahaga. Kebahagiaan dan ketenangan bukan ditentukan oleh seberapa banyak harta yang berada dalam genggaman, melainkan seberapa lapang hati bersyukur atas nikmat yang diterima.

Ramadhan hadir memberi jeda agar manusia berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia dan menyadari bahwa manusia bukan sekadar entitas jasmaniah yang tampak oleh mata, tetapi juga entitas ruhaniah yang merindukan makna.

Ramadhan menyadarkan untuk menyucikan ruhani sebagai ikhtiar kembali kepada diri sejati yang bebas dari hasad dan kesombongan. Ibadah puasa dan shalat yang dijalankan bukan sekadar rutinitas mekanis, melainkan jalan pencerahan bagi akal budi.

Puasa melatih manusia mengaktifkan akal sebagai pengendali diri agar tidak tunduk pada dorongan perut dan hawa nafsu sebagai simbol kepentingan duniawi.

Dengan akal yang aktif, manusia dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Demikian pula kekhusyukan shalat yang diintensifkan selama Ramadhan diharapkan menjadi jalan penyadaran diri seorang hamba di hadapan Tuhan.

Melalui shalat, berbagai atribut kebesaran duniawi ditanggalkan. Manusia diingatkan bahwa di hadapan Sang Pencipta, ia hanyalah seorang hamba yang kecil, dengan tugas utama menyembah dan menyerahkan seluruh jiwa raga kepada-Nya.

Kesalehan Sosial

Namun bagi seorang muslim, kesalehan di atas sajadah tidaklah cukup. Puasa sebagai lapar yang disengaja menghadirkan dimensi kesalehan sosial. Rasa haus dan lapar yang direncanakan itu bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga melatih empati terhadap sesama, merasakan apa yang diderita orang lain.

Orang yang berpuasa karena perintah agama masih memiliki harapan untuk berbuka saat Magrib dengan berbagai pilihan makanan. Berbeda dengan kaum miskin dan duafa yang merasakan lapar bukan karena pilihan, melainkan karena ketiadaan.

Karena itu, momentum Ramadhan memperkuat radar empati seorang shaaim. Empati tersebut diwujudkan melalui gerakan infak, sedekah, dan zakat, terutama pada penghujung Ramadhan.

Pesan kesalehan sosial ini ditegaskan Rasulullah SAW dalam sabda-Nya, “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun,” (HR. Tirmidzi).

Dalam hadits lain disebutkan, “Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan,’” (HR. At-Tirmidzi).

Kedua hadits tersebut mendorong umat Islam untuk memperkuat tradisi berbagi selama bulan Ramadhan.

Konsekuensi dari kesalehan sosial tidak berhenti pada gerakan personal, tetapi juga terwujud dalam gerakan bersama yang terorganisir melalui lembaga amil zakat milik pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan keagamaan, seperti BAZNAS, LAZISMU, dan LAZISNU.

Ramadhan merupakan bulan titik balik bagi setiap muslim untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dengan syarat melakukan pembaruan ruhiyah dan penguatan kesalehan sosial.

Semoga puasa Ramadhan yang dijalankan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai wujud kesalehan vertikal, serta semakin mendekatkan diri kepada sesama manusia, khususnya kaum miskin dan duafa, sebagai wujud kesalehan horizontal.

MAN Ende Libatkan Guru dan Siswa, 43 Paket Sembako Disalurkan ke Jamaah Nurul Iman

ENDE, BAJOPOS.COM – Semangat berbagi menyambut Ramadhan 1447 Hijriah ditunjukkan keluarga besar Madrasah Aliyah Negeri Ende dengan menyalurkan 43 paket sembako kepada jamaah Masjid Nurul Iman KM 5 Wolowona dan masyarakat sekitar, Senin (16/2/2026) pagi waktu setempat.

Kegiatan yang dikemas dalam Gema Ramadhan 1447 H itu dipusatkan di pelataran Masjid Nurul Iman KM 5 Wolowona. Penyaluran bantuan dilakukan langsung oleh Wakil Kepala Madrasah (Wakamad) urusan Kesiswaan, Abdul Gani, mewakili Kepala MAN Ende, H. Tahrun Thalib.

Abdul Gani menegaskan, bantuan tersebut bukan berasal dari pihak luar, melainkan hasil gotong royong internal madrasah. Sebanyak 43 paket sembako itu dikumpulkan dari sumbangan sukarela bapak dan ibu Guru, Tenaga Kependidikan (GTK), serta siswa-siswi MAN Ende yang dihimpun oleh bagian kesiswaan.

“43 paket sembako berasal dari sumbangan sukarela bapak/ibu Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) beserta siswa-siswi yang dikumpulkan oleh bagian kesiswaan MAN Ende,” ungkap Abdul Gani saat menyerahkan bantuan.

Ia berharap, bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para penerima dalam menyongsong bulan suci Ramadhan. Menurutnya, kegiatan berbagi ini sejalan dengan visi Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ende, khususnya komitmen keluarga besar MAN Ende untuk memberi dampak langsung kepada masyarakat.

“Kami berharap agar paket sembako ini dapat digunakan sebaik-baiknya oleh bapak/ibu jamaah Masjid Nurul Iman KM 5 Wolowona dan masyarakat di sekitarnya dalam menyongsong bulan Ramadhan 1447 Hijriyah,” ujarnya.

Salah satu penerima bantuan, Siti Hawa, menyampaikan apresiasi atas kepedulian keluarga besar MAN Ende. Ia berharap kebaikan para guru, tenaga kependidikan, dan siswa mendapat balasan dari Allah SWT.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh keluarga besar MAN Ende atas pemberian paket sembako ini. Mudah-mudahan Allah SWT membalas semua kebaikan bapak/ibu Guru dan Tenaga Kependidikan beserta siswa-siswi,” kata Siti Hawa.

Melalui Gema Ramadhan 1447 H, MAN Ende tidak hanya menguatkan pendidikan di ruang kelas, tetapi juga menanamkan nilai empati dan kepedulian sosial yang nyata di tengah masyarakat.(Faidin)