Kam. Sep 24th, 2026

NTT

Fraksi PKB Alor Soroti Hunian Keluarga Muda Berpenghasilan Rendah di Alor

ALOR, Bajopos.com | Persoalan keterbatasan hunian bagi keluarga muda berpenghasilan rendah mendapat perhatian serius Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPRD Kabupaten Alor.

Dalam Sidang Paripurna IV DPRD Kabupaten Alor, Senin, 21 September 2026, pada agenda Penyampaian Pendapat Fraksi-Fraksi atas Hasil Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Alor Tahun Anggaran 2026 serta Penyelenggaraan Kabupaten Layak Anak, Fraksi PKB secara tegas mendorong Pemerintah Daerah mengambil langkah konkret di sektor perumahan.

Fraksi PKB merekomendasikan Pemerintah Daerah melalui Baperrinda dan Dinas Perumahan untuk mengkaji serta mengembangkan Program Bantuan Stimulan Rumah Layak bagi Keluarga Muda Berpenghasilan Rendah yang belum memiliki rumah sendiri.

Rekomendasi tersebut disampaikan berdasarkan kondisi yang masih ditemukan di tengah masyarakat. Fraksi PKB menyoroti masih adanya dua hingga tiga kepala keluarga yang harus tinggal dalam satu rumah karena keterbatasan kemampuan ekonomi untuk memiliki atau membangun rumah sendiri.

Bagi Fraksi PKB, persoalan tersebut tidak dapat dilihat sebatas masalah ketersediaan tempat tinggal. Keterbatasan hunian juga berkaitan langsung dengan kualitas kehidupan keluarga serta lingkungan tumbuh kembang anak.

“Penyediaan rumah yang layak, aman dan sehat harus menjadi bagian dari perhatian Pemerintah Daerah, terutama bagi keluarga muda berpenghasilan rendah yang belum mampu memiliki rumah sendiri,” demikian pokok rekomendasi Fraksi PKB.

Fraksi PKB juga menilai lingkungan tempat tinggal yang sehat merupakan salah satu unsur penting dalam menciptakan kondisi keluarga yang baik. Karena itu, kebijakan perumahan dinilai memiliki keterkaitan dengan upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting.

Di sisi lain, penyediaan hunian yang layak juga dinilai sejalan dengan semangat Penyelenggaraan Kabupaten Layak Anak. Anak membutuhkan lingkungan tempat tinggal yang aman, sehat dan mendukung proses tumbuh kembangnya.

Namun, Fraksi PKB menekankan agar program bantuan tersebut tidak sekadar berhenti pada pemberian bantuan. Program harus disusun secara terukur dan berbasis data agar benar-benar menjangkau keluarga yang membutuhkan.

Sejumlah aspek yang perlu menjadi pertimbangan antara lain data keluarga penerima, kemampuan ekonomi, status kepemilikan rumah dan lahan, serta ketepatan sasaran penerima program.

Fraksi PKB juga mendorong Pemerintah Daerah mengintegrasikan kebijakan perumahan dengan program penanganan kemiskinan, pencegahan stunting, penguatan ketahanan keluarga dan pembangunan Kabupaten Layak Anak.

Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi perhatian Pemerintah Daerah dalam penyusunan kebijakan dan program pembangunan ke depan.

Dengan demikian, keluarga muda yang selama ini menghadapi keterbatasan ekonomi tidak terus berada dalam persoalan hunian, tetapi memiliki kesempatan secara bertahap untuk mendapatkan rumah yang layak, aman dan sehat.

Reporter : Nursan
Editor : Redaksi

Oikumene Polres Sikka Serahkan Santunan Rp15 Juta untuk Keluarga Almarhum Aipda Charles Paulus Daniel Rondo

SIKKA, Bajopos.com | Di tengah suasana duka yang masih menyelimuti keluarga almarhum Aipda Charles Paulus Daniel Rondo, kepedulian dan solidaritas sesama anggota kepolisian kembali ditunjukkan melalui Wadah Gereja Oikumene Polres Sikka.

Kepedulian tersebut diwujudkan dengan penyerahan bantuan duka atau santunan kepada keluarga almarhum, Jumat (18/9/2026).

Kegiatan berlangsung sekitar pukul 12.00 Wita di rumah orang tua istri almarhum, Maria R. Ekawati Laga, di Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka.

Santunan berupa uang tunai sebesar Rp15 juta tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Oikumene Polres Sikka, Ipda Leonardus Tunga, S.M., bersama pengurus Oikumene Polres Sikka yang mewakili Wadah Gereja Oikumene Polres Sikka.

Bantuan diterima langsung oleh Maria R. Ekawati Laga selaku istri almarhum. Penyerahan santunan turut disaksikan keluarga dan anak almarhum.

Ketua Oikumene Polres Sikka Ipda Leonardus Tunga, S.M. mengatakan, bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian Wadah Gereja Oikumene Polres Sikka terhadap keluarga anggota Polri yang meninggal dunia.

“Kegiatan ini adalah bentuk kepedulian Wadah Gereja Oikumene Polres Sikka kepada keluarga anggota Polri yang meninggal dunia,” jelas Leonardus.

Menurutnya, kepedulian tersebut menjadi bagian dari semangat kebersamaan untuk hadir bersama keluarga yang sedang menghadapi masa duka.

Santunan itu bukan sekadar bantuan dalam bentuk materi, tetapi juga menjadi wujud solidaritas dan perhatian kepada keluarga yang ditinggalkan.

Di tengah kehilangan, kehadiran dan kepedulian dari lingkungan sekitar menjadi pengingat bahwa keluarga yang sedang berduka tidak berjalan sendirian.

Kegiatan penyerahan bantuan duka tersebut berlangsung aman, lancar, dan tertib.

Reporter : Faidin

Pasca Gempa, Polres Sikka dan Mahasiswa Unipa Salurkan Bantuan untuk Santri Pondok Daarul Amiin

SIKKA, Bajopos.com | Kepedulian terhadap keberlanjutan pendidikan anak-anak terdampak gempa ditunjukkan Tim Humas Polres Sikka bersama mahasiswa magang Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere dengan mengunjungi Lembaga Pendidikan Qur’an Pondok Daarul Amiin di Ndete, Desa Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Rabu (16/9/2026).

Kunjungan tersebut diwakili oleh Ridwan dari Tim Humas Polres Sikka bersama sejumlah anggota dan mahasiswa magang Unipa Maumere.

Mereka datang untuk bersilaturahmi sekaligus memberikan bantuan kepada para santri tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Bantuan yang diserahkan berupa perlengkapan alat tulis, seperti buku dan pulpen, kebutuhan ibadah, serta kudapan bagi para santri.

Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana sederhana dan penuh keakraban. Para santri menyambut kedatangan rombongan dengan antusias.

Bantuan yang diterima diharapkan dapat mendukung kebutuhan belajar dan aktivitas pendidikan mereka di tengah kondisi pondok yang masih melakukan penyesuaian pascagempa.

Selain menyerahkan bantuan, rombongan juga berdialog dengan pengasuh, ustadz, dan ustadzah Pondok Daarul Amiin.

Dalam pertemuan tersebut, pengurus pondok menyampaikan kondisi lingkungan dan fasilitas pendidikan setelah gempa serta berbagai dinamika yang dihadapi dalam menjaga proses pembelajaran agar tetap berlangsung.

Bagi para pengasuh, perhatian dari berbagai pihak menjadi dukungan penting bagi keberlangsungan pendidikan para santri.

Mereka berharap kepedulian terhadap lembaga pendidikan dan anak-anak di wilayah terdampak bencana dapat terus berlanjut.

Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama dan perbincangan antara rombongan, pengurus pondok, serta para santri.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kepedulian sosial sekaligus memastikan anak-anak tetap memperoleh dukungan dalam menjalani proses pendidikan setelah bencana.

Pengasuh dan jajaran pengurus Pondok Daarul Amiin menyampaikan terima kasih kepada Tim Humas Polres Sikka dan mahasiswa magang Universitas Nusanipa Maumere atas bantuan serta perhatian yang diberikan kepada para santri.

Reporter : Faidin

Renungan Lewor Goban: Jangan Titipkan Kunci Kebahagiaanmu di Saku Orang Lain

“Perjuangkan hak boleh, tapi jangan gantungkan kebahagiaan pada pejabat.”

SEBUAH KALIMAT bijak yang disampaikan Romo Polykarpus Sola, “Yang menggantungkan kebahagiaan diri pada orang lain, itu artinya siap-siap untuk bisa saja kecewa”, menjadi bahan permenungan bagi Muhamad Yusuf Lewor Goban, masyarakat Tana Ai, warga Dusun Tuawatu, Desa Likonggete, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Bagi Yusuf, kalimat yang disebutnya sederhana itu justru terasa sangat dalam ketika dikaitkan dengan berbagai pengalaman yang mereka alami di Likonggete.

“Jangan titipkan kunci kebahagiaanmu di saku orang lain,” demikian Yusuf memaknai pesan Romo Polykarpus.

Menurutnya, manusia kerap menggantungkan harapan kebahagiaan kepada orang lain, termasuk kepada kepala desa, bantuan sosial, pembangunan fasilitas publik maupun pengakuan dari lingkungan sekitar.

Ketika harapan tersebut tidak sesuai kenyataan, kekecewaan pun muncul.

Yusuf mencontohkan persoalan bantuan sosial yang menurutnya dialami Saferius Salimpin. Ia menyebut nama Saferius tercatat dalam data laptop Dinas Sosial pada Januari, Maret dan Juni 2025, namun menurutnya bantuan tersebut tidak pernah sampai ke tangan yang bersangkutan.

Persoalan tersebut, kata Yusuf, dapat memunculkan rasa kecewa, marah dan sakit hati.

Namun, ia melihat ada pelajaran yang lebih dalam dari situasi tersebut. Menurutnya, memperjuangkan hak tetap harus dilakukan, tetapi kebahagiaan pribadi tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada keputusan atau kebaikan manusia lain.

“Kita boleh menuntut hak, seperti bansos dan air bersih, tetapi jangan gantungkan seluruh hidup dan kebahagiaan kita pada mereka. Kita tuntut karena itu hak, tetapi bahagia kita tetap kita jaga sendiri,” tulis Yusuf dalam refleksinya.

Kebahagiaan dan Perspektif Hukum

Dalam tulisannya, Yusuf juga mencoba menghubungkan pesan tersebut dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia dan pemerintahan desa.

Ia merujuk UUD 1945, UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia serta UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Menurut Yusuf, hak warga negara dan kewajiban pemerintah harus tetap diperjuangkan melalui jalur yang benar. Namun, perjuangan terhadap hak tersebut tidak berarti seseorang harus menyerahkan seluruh ketenangan batinnya kepada pihak yang memiliki kewenangan.

Ia menilai masyarakat perlu tetap mandiri dan berani melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan.

“Pelajaran hukumnya: kita boleh menuntut hak, tetapi jangan gantungkan seluruh hidup dan kebahagiaan kita pada mereka,” tulisnya.

Menemukan Pesan yang Sama dalam Kekristenan

Menariknya, Yusuf yang mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Muslim juga melihat pesan Romo Polykarpus dari perspektif rohani Katolik.

Ia merujuk sejumlah bagian Kitab Suci dan Katekismus Gereja Katolik mengenai kebahagiaan sejati, ketergantungan kepada Tuhan serta kerinduan manusia akan Allah.

Menurut Yusuf, pesan tersebut mengingatkan bahwa manusia tidak seharusnya menjadikan manusia lain sebagai sumber utama kebahagiaannya.

Ia kemudian menemukan nilai yang serupa dalam ajaran Islam.

Dari Perspektif Islam

Yusuf mengutip Surah Ar-Ra’d ayat 28 tentang ketenteraman hati melalui mengingat Allah serta Surah Al-Insyirah ayat 8 mengenai pentingnya berharap kepada Tuhan.

Ia juga merujuk hadis riwayat Tirmidzi mengenai pesan untuk menjaga hubungan dengan Allah.

Bagi Yusuf, berbagai ajaran tersebut memiliki satu benang merah: manusia boleh berharap dan berjuang, tetapi tempat menggantungkan hati dan ketenangan hidup bukanlah kepada sesama manusia.

Dalam pemahamannya, sikap tersebut berkaitan dengan tawakal dan keteguhan hati untuk tidak menggantungkan diri sepenuhnya kepada makhluk.

Tetap Berjuang, Tanpa Kehilangan Kebahagiaan

Pada bagian akhir refleksinya, Yusuf menegaskan bahwa renungan tersebut tidak membuatnya berhenti memperjuangkan persoalan yang menurutnya menjadi hak masyarakat.

Ia menyatakan tetap akan berjuang bersama Saferius Salimpin untuk persoalan bantuan sosial, pembangunan air bersih yang disebutnya mangkrak, serta persoalan semen yang menurutnya belum terselesaikan.

Baginya, memperjuangkan keadilan merupakan bagian dari tanggung jawab moral.

Namun, perjuangan tersebut tidak boleh membuat seseorang kehilangan kebahagiaan dan ketenangan batin.

“Saya tidak akan membiarkan kekecewaan itu merusak kebahagiaan saya,” tulisnya.

Yusuf menegaskan bahwa ukuran kebahagiaan bagi dirinya bukan terletak pada apakah seorang pejabat memenuhi harapannya atau tidak, melainkan pada keyakinan bahwa ia telah berkata jujur, berani menyuarakan persoalan dan berusaha berjalan di jalan yang diyakininya benar.

“Jika Camat Talibura tanggal 18 September nanti berbuat adil, Alhamdulillah. Jika tidak, saya tetap bahagia karena saya sudah berjuang di jalan yang benar,” tulisnya.

Pada akhirnya, Yusuf merangkum seluruh perenungannya dalam satu kalimat:

“Kebahagiaan saya tidak ada di tangan Kepala Desa, tapi ada di dalam dada saya sendiri, bersama Tuhan.”

Refleksi tersebut sekaligus menjadi ungkapan terima kasih Yusuf kepada Romo Polykarpus Sola atas kalimat yang menurutnya telah memberikan ruang permenungan di tengah perjuangan dan persoalan yang dihadapi masyarakat di Likonggete.

Penulis : M. Yusuf Lewor Gobang
Editor : Redaksi

Dua Putra NTT Tewas Ditembak di Jayawijaya, Seruan Penarikan ASN dari Papua Menguat

Oleh :

Winsensius, Kader Pemuda Khatolik Cabang Maumere

PERTAMA-TAMA saya Winsensius menyampaikan dukacita yang mendalam atas semua tenaga ASN yang gugur akibat kekerasan ditanah Papua.

Mereka tidak memanggul senjata untuk membunuh, melainkan mengulurkan tangan untuk kehidupan. Di tengah kecamuk badai peluru dan bunyi tembakan di pelosok negeri ini, sosok tubuh berseragam yang penuh pengabdian berdiri kokoh, menantang maut demi menyelamatkan jiwa-jiwa yang terabaikan.

Gugurnya orang NTT yang mengabdi diatas tanah Papua bukanlah suatu kejadian baru namun sudah berulangkali.

Pada Maret 2025, terjadi insiden penyerangan oleh kelompok bersenjata di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, yang menewaskan sejumlah warga, di mana sebagian besar korban merupakan guru dan tenaga kesehatan asal Nusa Tenggara Timur (NTT), dan satu diantaranya meninggal dunia.

Pada momen itu, Sebby Sambom yang diakui oleh sekelompok orang sebagai juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) dengan tegas meminta agar orang-orang NTT dan Maluku agar stop dan berhenti memasuki wilayah pedalaman Papua untuk menjadi Guru maupun Nakes, dan menyarankan agar tetap menetap di kota-kota besar seperti Jayapura, Nabire, Sorong dan lain-lain.

Sebby juga menyampaikan bahwa NTT dan dan Maluku adalah bagian dari bangsa Melanesia. Saat ini mereka masih berjuang, dan silahkan datang ketika Papua sudah mencapai cita-cita untuk Merdeka.

Hari ini dengan nada yang tidak jauh berbeda dengan insiden tahun lalu Sebby Sambom merespons menyusul insiden penembakan yang menewaskan tiga orang ASN di wilayah Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, di mana dua di antaranya merupakan putra daerah NTT.

Sebby Sambom menyampaikan duka cita atas tewasnya dua warga asal Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam insiden penembakan di wilayah Muliama, Jayawijaya, Papua.

Dalam pernyataannya, Sebby menyebut warga NTT sebagai saudara bangsa Papua dan mengaku pihaknya telah berulang kali mengingatkan masyarakat agar tidak datang atau beraktivitas di wilayah yang masih dilanda konflik bersenjata.

“Itu saudara saudari orang NTT sendiri yang salah. Kami sudah ingatkan berkali-kali ke wilayah konflik bersenjata, tetapi saudara/i orang NTT selalu abaikan itu,” kata Sebby melalui berbagai media digital yang beredar.

Sebby mengatakan, dirinya memandang masyarakat NTT memiliki kedekatan dengan masyarakat asli Papua, baik dari sisi cara berbicara maupun pola kehidupan.

“Sebenarnya orang NTT itu sama dengan orang asli Papua, karena cara bicara dan cara hidup sama. Tapi orang NTT sendiri yang tidak menghargai peringatan kami. Siapapun yang tidak menghargai peringatan kami, termasuk orang Papua pun kami habisi,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya masih memperjuangkan kemerdekaan Papua dan meminta masyarakat, khususnya warga pendatang, untuk tidak datang ke wilayah yang disebutnya sebagai daerah konflik.

Pernyataan-pernyataan seperti ini harus dimaknai sebagai pernyataan cinta dan kepedulian atas nama bangsa Melanesia !

Melihat dan mengamati insiden yang terus terjadi diatas tanah Papua dan orang NTT yang terus menjadi korban harusnya Pemerintahan Provinsi NTT harus segera memulangkan semua ASN yang bertugas diatas tanah Papua.

Akhirnya, saya perlu menyampaikan kepada publik bahwa tulisan saya ini tidak bermaksud menyudutkan pihak manapun. Tulisan ini berangkat dari rasa cinta dan kemanusian.

Konflik di atas tanah Papua bukan sekadar angka statistik dalam laporan berita atau perdebatan politik di ruang-ruang rapat. Di balik setiap angka yang gugur, ada detak jantung yang berhenti, ada masa depan yang terenggut, dan ada duka mendalam yang tak pernah benar-benar sembuh.

Hargailah napas kehidupan yang Tuhan berikan kepada kita. Hidup adalah anugerah terbesar yang dititipkan oleh Tuhan kepada setiap manusia, sebuah karunia suci yang dianugerahkan untuk dijaga, dirawat, dan dihormati, bukan untuk dihancurkan atau dibunuh.

Setiap hela napas yang kita miliki membawa maksud ilahi yang jauh lebih besar dari sekadar keberadaan fisik di dunia. Ketika kita menyadari bahwa kehidupan bersumber dari Sang Pencipta, kita memahami bahwa tidak ada satu pun manusia yang memiliki hak untuk mengakhirinya—baik hidup orang lain maupun hidupnya sendiri.

Masih ada begitu banyak tempat untuk kita mengabdi, masih banyak orang membutuhkan uluran tangan kita di pelosok Indonesia tercinta ini.

Sudah cukup kita mengabdi di atas tanah yang mengorbankan kita. Biarkan saja Bangsa Papua menentukan nasib nya sendiri. Mampu atau tidaknya, itu urusan mereka.

 

Saya atas nama Winsensius bertanggung jawab atas nama tulisan ini demi keselamatan nyawa saya punya saudara saudari di NTT yang masih mengabdi diatas tanah Papua, terlebih khusus di wilayah-wilayah konflik.

Penulis adalah Winsensius, Kader Pemuda Katholik Cabang Maumere

Masjid Baiturrahim Diberi Tanda Merah, Umat di Nebura Terpaksa Shalat di Luar

SIKKA, Bajopos.com | Puluhan tahun menjadi tempat umat Muslim menunaikan ibadah, Masjid Baiturrahim Nebura di Desa Koja Gete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini tak lagi bisa digunakan.

Bangunan masjid yang telah berusia puluhan tahun itu mengalami kerusakan cukup parah setelah gempa yang mengguncang wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Sejumlah bagian dinding retak, sementara kondisi bangunan secara keseluruhan membutuhkan rehabilitasi berat.

Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, bantuan untuk perbaikan masjid nyaris tak kunjung datang.

Pengurus Masjid Baiturrahim Nebura, Suhut Firmansyah, mengatakan sejak gempa besar Flores 1992 yang berpusat di Pulau Babi, masjid tersebut baru tiga kali mendapat rehabilitasi ringan melalui bantuan Kesra.

Setelah itu, belum ada bantuan rehabilitasi kembali, sementara kondisi bangunan terus menua.

“Selama ini setelah gempa 1992, masjid ini baru dilakukan rehab ringan sebanyak tiga kali dari bantuan Kesra. Setelah itu sampai sekarang belum ada bantuan, sementara kondisinya sudah harus rehab berat,” kata Suhut, Jumat (11/9/2026).

Masjid Baiturrahim memiliki sejarah panjang yang tak bisa dilepaskan dari tragedi gempa dan tsunami Flores 1992 silam.

Tiang-tiang yang digunakan pada bangunan masjid saat ini merupakan bagian dari masjid lama yang sebelumnya berdiri di kawasan pinggir pantai.

Setelah gempa 1992, pengurus bersama umat memindahkan masjid ke wilayah yang lebih tinggi karena dinilai lebih jauh dari ancaman kawasan pantai.

Namun, lebih dari tiga dekade kemudian, bangunan tersebut kembali menghadapi persoalan serius.

Usia bangunan yang sudah tua berpadu dengan dampak gempa terbaru membuat kondisi masjid semakin mengkhawatirkan.

Dipasang Tanda Merah, Umat Shalat di Luar

Persoalan Masjid Baiturrahim Nebura kini bukan lagi sebatas kebutuhan renovasi.

Pihak Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sikka bahkan telah datang meninjau kondisi bangunan dan memasang tanda merah sebagai peringatan agar masjid untuk sementara tidak digunakan.

“Kemarin mereka dari PU datang pasang tanda merah. Katanya tidak bisa digunakan dulu karena rusaknya parah akibat gempa kemarin. Jadi harus salat di luar,” ujar Suhut.

Kondisi tersebut membuat umat harus melaksanakan ibadah di luar bangunan masjid.

Bagi masyarakat setempat, situasi ini tentu bukan perkara sederhana. Masjid merupakan pusat kegiatan keagamaan umat, tetapi kini justru menjadi bangunan yang harus dijauhi karena alasan keselamatan.

Menanti Perhatian Pemerintah

Pengurus masjid berharap pemerintah dapat mempercepat realisasi bantuan apabila memang tersedia program bantuan untuk rumah ibadah.

Harapan itu muncul di tengah kebutuhan mendesak agar Masjid Baiturrahim dapat kembali digunakan dengan aman.

Suhut berharap proses bantuan untuk rehabilitasi masjid tidak berlarut-larut.

“Semoga bantuan rehabilitasi bisa dipercepat kalau benar ada anggaran bantuan untuk rumah ibadah,” ujarnya.

Kondisi Masjid Baiturrahim Nebura menjadi potret lain dari kebutuhan rumah ibadah yang membutuhkan perhatian serius setelah bencana.

Masjid yang dibangun dan dipelihara umat selama puluhan tahun itu kini tidak hanya menghadapi persoalan usia, tetapi juga kerusakan akibat gempa.

Tanda merah yang terpasang di depan bangunan seakan menjadi pesan terbuka: rumah ibadah itu membutuhkan pertolongan sebelum kerusakannya semakin parah.

Umat di Nebura kini hanya bisa menunggu—antara shalat di luar dan harapan agar pemerintah serta pihak-pihak yang peduli segera datang membawa solusi.

Reporter : Faidin

Beri Penguatan Pada Nakes, Ny. Fista; “Jangan Pernah Lelah untuk Melayani”

SIKKA, Bajopos.com | Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, melakukan kunjungan ke tiga Puskesmas di Kabupaten Sikka sekaligus memberikan bantuan kepada para tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas di beberapa fasilitas kesehatan (Faskes), diantaranya; Puskesmas Waipare, Puskesmas Waigete, dan Puskesmas Nita, pada Selasa, 01/09/2026.

Kunjungan ini menjadi bagian dari perhatian dan dukungan terhadap para tenaga kesehatan yang terus menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam situasi pascabencana gempa bumi yang melanda Kabupaten Sikka.

Dalam pertemuan bersama para tenaga kesehatan di masing-masing Puskesmas, Istri Bupati Sikka juga menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan pengabdian para nakes yang tetap berada di garis terdepan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Menurutnya, tenaga kesehatan memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam situasi bencana ketika kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan meningkat dan kondisi di lapangan membutuhkan kesiapsiagaan serta kerja keras yang lebih besar.

“Terima kasih kepada Bapak dan Ibu tenaga kesehatan yang sudah bekerja dengan penuh dedikasi. Dalam situasi bencana seperti ini, kehadiran tenaga kesehatan sangat dibutuhkan masyarakat. Tetap semangat dan terus memberikan pelayanan yang terbaik,” ungkap Ny. Fista dalam pertemuan tersebut.

Ia juga berpesan agar para tenaga kesehatan tetap memberikan pelayanan dengan sepenuh hati, penuh tanggung jawab, serta senantiasa mengedepankan kepentingan masyarakat.

Ketua Dekranasda Kabupaten Sikka itu juga menegaskan bahwa perhatian dan bantuan yang diberikan bukan sekadar bentuk dukungan material, tetapi juga sebagai wujud kepedulian dan penghargaan terhadap perjuangan para tenaga kesehatan yang terus menjalankan tugas di tengah berbagai tantangan.

“Jangan pernah lelah untuk melayani. Tetaplah memberikan pelayanan dengan hati, dengan penuh tanggung jawab, karena masyarakat sangat membutuhkan Bapak dan Ibu sekalian,” pesannya.

Kunjungan tersebut juga menjadi momentum untuk mendengarkan secara langsung kondisi dan kebutuhan para tenaga kesehatan di lapangan.

Melalui komunikasi dan tatap muka tersebut, diharapkan berbagai tantangan yang dihadapi tenaga kesehatan dapat menjadi perhatian bersama dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Ny. Fista yang juga Bunda Literasi Kabupaten Sikka berharap semangat pengabdian para tenaga kesehatan tetap terjaga, terutama dalam menghadapi situasi pascabencana.

Ia juga mengajak seluruh jajaran kesehatan untuk terus membangun semangat kebersamaan dan saling mendukung dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat Kabupaten Sikka.

Kunjungan ke tiga Puskesmas tersebut sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sikka bersama TP PKK Kabupaten Sikka untuk terus memberikan perhatian kepada para tenaga kesehatan sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat.

Reporter : Faidin

17 Ibu Petani Woda Mude Terima 800 Kg Benih Padi dari Kementan RI

SIKKA, Bajopos.com | Sebanyak 17 ibu petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Mapan Berdikary, Desa Woda Mude, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, kembali mendapat suntikan semangat untuk menggarap lahan.

Sebanyak 800 kilogram benih padi unggul dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) akhirnya terealisasi dan disalurkan pada tahun 2026 ini.

Benih tersebut merupakan bagian dari program Optimalisasi Lahan (OPLAH) nonrawa tahun 2025 untuk musim tanam (MT) II. Meski programnya ditetapkan pada 2025, bantuan benih tersebut baru terealisasi dan diterima kelompok tani pada 2026, dengan alokasi untuk lahan seluas 20 hektare.

Benih diantar langsung oleh Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Woda Mude, Geby, ke Sekretariat Poktan Mapan Berdikary di RT 002/RW 001, Desa Woda Mude.

Setelah bantuan tiba, pengurus bersama anggota melakukan rapat dan konsolidasi untuk menentukan pembagian benih. Hasil kesepakatan menetapkan setiap anggota memperoleh 45 kilogram.

Poktan Mapan Berdikary sendiri beranggotakan 17 orang yang mayoritas merupakan ibu-ibu petani.

Mereka menjadi bagian dari kekuatan petani di Desa Woda Mude yang tetap bertahan mengolah lahan dan menjaga produktivitas pangan di tengah berbagai tantangan sektor pertanian.

Ketua Poktan Mapan Berdikary, Darman Eldin, menyampaikan apresiasi atas bantuan yang kembali diterima kelompoknya.

“Alhamdulillah, tiap musim tanam selama dua tahun ini kami mendapatkan benih bantuan dari Kementerian Pertanian untuk meningkatkan hasil panen petani demi menuju swasembada pangan,” ujar Darman kepada Media ini.

Menurutnya, keberlanjutan bantuan benih menjadi dorongan bagi petani untuk terus mengolah lahan dan meningkatkan hasil produksi.

Pembagian benih kali ini turut dihadiri Anggota DPRD Kabupaten Sikka, Diki Raja, yang juga merupakan warga setempat dan berdomisili di Desa Magepanda.

Atas permintaan warga, Diki Raja secara simbolis menyerahkan benih kepada anggota Poktan Mapan Berdikary sebagai bentuk dukungan terhadap para petani di Desa Woda Mude.

Bagi pengurus kelompok, terealisasinya bantuan ini bukan menjadi akhir dari proses. Sebagai bentuk pertanggungjawaban moral sekaligus komitmen terhadap keberlanjutan program, Poktan Mapan Berdikary berencana melaksanakan kembali kegiatan tanam simbolis dan panen simbolis bersama para pemangku kepentingan di Kabupaten Sikka.

Kegiatan serupa sebelumnya telah dilakukan pada tahun lalu.

Meski bersyukur atas terealisasinya bantuan benih, para petani berharap pemerintah tidak berhenti pada pemberian benih.

Darman berharap, ke depan pemerintah juga dapat memberikan dukungan berupa pupuk dan obat-obatan pertanian sehingga petani mendapatkan dukungan yang lebih lengkap dari masa tanam hingga panen.

“Harapan kami, bantuan dari pemerintah jangan hanya benih. Kalau memungkinkan, bantuan pupuk dan obat-obatan juga untuk mendukung penuh para petani di kampung,” harapnya.

Semetara itu, bagi 17 ibu petani Mapan Berdikary, 800 kilogram benih tersebut bukan sekadar bantuan, melainkan modal untuk kembali menanam, memanen, dan menjaga harapan dari kampung agar  ketahanan pangan dapat terus dibangun.

Reporter : Faidin

Nakes Tetap Melayani Warga di Tengah Gempa, Fista Sambuari Kago Prihatin

SIKKA, Bajopos.com | Di tengah situasi pascagempa bumi yang masih dirasakan masyarakat, tenaga kesehatan (nakes) tetap berada di garda terdepan memberikan pelayanan dan pertolongan kepada warga terdampak.

Bahkan, dalam menjalankan tugasnya, para nakes harus tetap bekerja meski mereka sendiri turut merasakan dampak bencana.

Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, yang menyalurkan bantuan pascagempa kepada para tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah perbatasan Kabupaten Sikka, Rabu, 26 Agustus 2026.

Bantuan disalurkan ke dua fasilitas pelayanan kesehatan, yakni Puskesmas Tanarawa dan Puskesmas Boganatar, sebagai bentuk kepedulian sekaligus dukungan moril bagi para nakes yang tetap menjalankan tugas di tengah kondisi pascabencana.

“Ini di dua Puskesmas, yakni Puskesmas Tanarawa dan Puskesmas Boganatar,” ujar Ny. Fista Kago.

Menurutnya, perhatian terhadap tenaga kesehatan penting diberikan karena mereka merupakan salah satu kelompok yang berada paling depan ketika masyarakat membutuhkan pertolongan setelah bencana.

Di saat warga membutuhkan pemeriksaan, pengobatan maupun pelayanan kesehatan lainnya, para nakes harus tetap hadir.

Mereka dituntut mengutamakan keselamatan dan kebutuhan masyarakat, bahkan ketika kondisi pribadi dan keluarga mereka sendiri juga tidak luput dari dampak gempa.

Di satu sisi mereka adalah petugas yang harus menolong, tetapi di sisi lain mereka juga merupakan manusia yang bisa saja menjadi korban dan merasakan ketakutan yang sama seperti masyarakat lainnya.

Karena itu, Ny. Fista memberikan apresiasi kepada seluruh tenaga kesehatan yang tetap bertahan dan setia menjalankan pelayanan di tengah situasi sulit.

“Kita ingin memberikan perhatian kepada para tenaga kesehatan yang terus bekerja dan melayani masyarakat. Semoga bantuan ini dapat sedikit meringankan dan memberikan semangat bagi mereka,” katanya.

Kepedulian tersebut menjadi pesan bahwa dalam penanganan bencana, perhatian tidak hanya diberikan kepada masyarakat yang terdampak, tetapi juga kepada para petugas yang setiap hari berada di garis depan untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi.

Para tenaga kesehatan tidak hanya memberikan obat dan pelayanan medis. Mereka juga menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat tetap mendapatkan rasa aman, pendampingan dan pertolongan ketika kondisi belum sepenuhnya pulih.

Pengabdian para nakes di tengah bencana pun menjadi pengingat bahwa di balik setiap pelayanan yang diterima masyarakat, ada para petugas yang sering kali harus mengesampingkan rasa takut dan kepentingan pribadi demi menjalankan tanggung jawab kemanusiaan.

Pemerintah Kabupaten Sikka bersama unsur terkait terus mendorong agar pelayanan kesehatan tetap berjalan optimal selama masa pemulihan pascagempa, sekaligus memberikan perhatian kepada para tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam melayani masyarakat terdampak.

Reporter : Faidin

Astra Group Peduli Wartawan yang Tetap Bekerja di Tengah Bencana

SIKKA, Bajopos.com | Di tengah bencana gempa bumi yang mengguncang Flores, ada satu kelompok yang kerap luput dari perhatian: para pewarta atau wartawan.

Mereka berada di tengah masyarakat ketika bencana terjadi. Mereka mendatangi lokasi kerusakan, posko pengungsian, rumah-rumah warga terdampak, hingga tempat-tempat yang sulit dijangkau untuk memastikan kondisi masyarakat diketahui publik.

Namun, di balik kamera, mikrofon, buku catatan dan telepon genggam yang digunakan untuk bekerja, para pewarta juga memiliki rumah, keluarga dan kehidupan yang tidak luput dari dampak gempa.

Dengan kata lain, wartawan yang memberitakan korban bencana tidak selalu berada di luar lingkaran korban. Mereka pun bisa menjadi korban yang tetap bekerja.

Pihak ASTRA Group, Vonny Francis menyerahkan paket bantuan kepada Anggota Aliansi Wartawan Sikka (AWAS Sikka).

Karena itu, kepedulian Astra Group terhadap para pewarta terdampak gempa di Kabupaten Sikka patut mendapat apresiasi dan ucapan terima kasih.

Melalui program Nurani Astra Berbagi (Astra SOS), Astra Group menyalurkan bantuan paket sembako kepada 30 jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Rabu (26/8/2026).

Bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi wartawan yang sedang berada dalam situasi sulit akibat bencana, perhatian itu memiliki makna yang jauh lebih besar.

Bukan semata-mata tentang isi paket bantuan, tetapi tentang pesan kemanusiaan yang menyertainya: bahwa mereka yang selama ini bekerja menyampaikan suara masyarakat juga tidak dilupakan ketika mereka sendiri membutuhkan perhatian.

Wartawan Adalah Mitra Astra

Fasilitator Desa Sejahtera Astra Group, Vonny Francis, mengatakan wartawan merupakan mitra Astra, terutama dalam menyampaikan berbagai program perusahaan kepada masyarakat.

“Astra Group menyadari bahwa wartawan itu adalah mitra kami dalam memublikasikan program-program yang Astra Group persembahkan untuk negeri ini melalui program Desa Sejahtera Astra,” ujar Vonny.

Menurutnya, peran wartawan tidak berhenti pada publikasi. Media juga memiliki fungsi penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat sekaligus menjadi bagian dari pengawasan sosial terhadap berbagai program yang dilaksanakan.

“Kehadiran wartawan sering sekali membantu kami untuk mengedukasi masyarakat. Tujuan paling utama adalah bagaimana mengedukasi masyarakat dan juga sekaligus menjadi bagian dari mata masyarakat untuk mengawasi kerja-kerja kami,” jelasnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara dunia usaha dan media bukan semata-mata hubungan publikasi.

Wartawan adalah mitra dalam menyampaikan informasi, mengedukasi masyarakat, membuka ruang komunikasi, sekaligus membantu memastikan berbagai program yang hadir di tengah masyarakat diketahui dan dipahami dengan baik.

Dalam situasi bencana, peran itu menjadi semakin penting.

Vonny; Saat Wartawan Mengabarkan Bencana, Mereka Juga Terdampak

Vonny menyebut, ketika masyarakat berada di pengungsian, wartawan datang untuk meliput.

Ketika bantuan belum tiba, wartawan memberitakannya.

Ketika ada warga yang kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar, wartawan berusaha mengangkat persoalan tersebut.

Ketika kondisi di lapangan membutuhkan perhatian pemerintah dan masyarakat luas, wartawan menjadi salah satu pihak yang menyampaikan informasi tersebut kepada publik.

Namun, tidak banyak yang bertanya apakah wartawan yang datang ke lokasi itu juga terdampak.

Tidak sedikit pewarta yang harus meninggalkan keluarga demi mengejar informasi. Ada yang bekerja dalam kondisi lelah, kurang tidur, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, bahkan bekerja dalam kondisi rumah dan keluarganya sendiri ikut terdampak gempa.

Disinilah Astra Group memahami bahwa kepedulian Astra menjadi berarti.

Bantuan kepada wartawan terdampak kata Vonny bukan berarti memberikan keistimewaan kepada pers. Ini adalah bentuk kepedulian kemanusiaan kepada individu yang kebetulan berprofesi sebagai wartawan.

Mereka juga korban. Mereka juga memiliki keluarga. Mereka juga memiliki kebutuhan dasar.

Dan yang tidak kalah penting, mereka tetap memilih bekerja ketika situasi belum sepenuhnya pulih.

Atas perhatian tersebut, ucapan terima kasih layak disampaikan kepada Astra Group melalui program Nurani Astra Berbagi.

Di tengah banyaknya perhatian yang tertuju kepada warga yang kehilangan rumah, berada di pengungsian atau membutuhkan bantuan, kata Vonny, Astra justru memilih melihat sisi lain yang sering terlupakan: para pewarta yang juga terdampak, tetapi tetap berdiri membawa suara masyarakat.

Bantuan ini tiada lain, sekaligus mengingatkan bahwa dalam situasi bencana, kita tidak boleh hanya melihat siapa yang diberitakan sebagai korban.

Kita juga perlu melihat siapa yang terus bekerja untuk memberitakan mereka.

Wartawan membantu masyarakat memperoleh informasi. Tetapi pada saat yang sama, wartawan juga membutuhkan dukungan, perhatian dan kepedulian ketika bencana ikut menyentuh kehidupan mereka.

Apa yang dilakukan Astra hari ini hemat Vonny, memberikan pesan sederhana namun penting, dimana kepedulian kemanusiaan seharusnya tidak mengenal profesi.

Kepedulian yang Diharapkan Menjadi Gerakan Bersama

Ia mengutarakan bahwa kepedulian Astra terhadap wartawan terdampak gempa diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan sesaat, tetapi menjadi inspirasi bagi berbagai pihak.

“Pemerintah, dunia usaha, lembaga sosial, organisasi kemasyarakatan dan seluruh elemen masyarakat dapat melihat bahwa wartawan juga merupakan bagian dari ekosistem penanggulangan bencana,” kata Vonny.

“Mereka memang bukan petugas evakuasi. Mereka bukan tenaga medis. Mereka bukan relawan logistik. Tetapi wartawan membantu memastikan apa yang terjadi di lapangan diketahui publik,” ujar Vonny.

Ia menekankan bahwa dalam penanganan bencana, informasi yang benar juga merupakan bagian dari pertolongan.

Karena itu, kata Dia, ketika seorang wartawan terdampak bencana tetap memilih bekerja, yang seharusnya hadir bukan hanya tuntutan agar mereka terus memberitakan keadaan, tetapi juga kepedulian terhadap kondisi mereka.

“Hari ini, Astra telah menunjukkan bahwa wartawan tidak harus selalu dilihat sebagai orang yang datang untuk meliput korban. Wartawan juga bisa menjadi korban. Dan ketika mereka menjadi korban namun tetap bekerja untuk menyuarakan kondisi masyarakat, perhatian terhadap mereka bukanlah sebuah keistimewaan, melainkan bentuk penghargaan terhadap kemanusiaan dan profesi yang mereka jalankan,” ucapnya.

Ia sebagai pribadi pun berterima kasih kepada Asrta Group karena telah melihat mereka yang selama ini berdiri di belakang berita.

“Semoga kepedulian ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap berita tentang bencana, ada pewarta yang juga sedang berjuang—dan mungkin, pada saat yang sama, sedang berjuang untuk keluarganya sendiri,” tutupnya.

Reporter : Faidin

Jusuf Kalla Dijadwalkan Tiba di Maumere 28 Agustus, Tinjau Lokasi Pengungsian Korban Gempa

SIKKA, Bajopos.com | Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (JK), dijadwalkan mengunjungi Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat, 28 Agustus 2026, untuk meninjau langsung lokasi pengungsian dan kondisi warga terdampak bencana gempa bumi di Maumere.

Agenda kunjungan tersebut diterima media ini dan merupakan bagian dari rangkaian perjalanan JK setelah menghadiri pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Berdasarkan agenda yang diterima, JK dijadwalkan bertolak dari Bandara Juanda, Surabaya, menuju Maumere menggunakan penerbangan pada pukul 07.00 WIB. Pesawat dijadwalkan tiba di Bandara Frans Seda, Maumere, Kabupaten Sikka, sekitar pukul 09.35 WITA.

Setibanya di Maumere, sekitar pukul 10.30 WITA, JK dijadwalkan melakukan peninjauan lokasi pengungsian korban bencana gempa bumi di wilayah Maumere dan sekitarnya.

Namun, dalam agenda yang diterima media ini, lokasi pengungsian yang akan dikunjungi masih belum dicantumkan secara spesifik.

Setelah peninjauan, JK dijadwalkan melaksanakan Salat Jumat pada pukul 11.45 WITA di salah satu masjid yang juga belum disebutkan dalam agenda tersebut.

Selanjutnya, sekitar pukul 14.00 WITA, JK dijadwalkan meninggalkan Maumere melalui Bandara Frans Seda menuju Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Pesawat dijadwalkan tiba di Bandara Komodo, Labuan Bajo, sekitar pukul 14.35 WITA.

Di Labuan Bajo, rangkaian agenda JK akan dilanjutkan dengan peninjauan gudang logistik di Posko PMI pada pukul 15.00 WITA.

Satu jam kemudian, sekitar pukul 16.00 WITA, JK dijadwalkan meninjau lokasi kerusakan serta tempat pengungsian korban gempa bumi di wilayah Kabupaten Manggarai Barat.

Setelah seluruh rangkaian kunjungan selesai, JK dijadwalkan bertolak dari Bandara Komodo menuju Jakarta pada pukul 17.30 WITA dan tiba di Bandara Halim Perdanakusuma sekitar pukul 18.50 WIB.

Sebelum menuju NTT, JK terlebih dahulu dijadwalkan menghadiri pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Lapangan Untung Suropati, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Kamis malam, 27 Agustus 2026.

Dari Jakarta, JK dijadwalkan berangkat dari Bandara Halim pada pukul 15.00 WIB menuju Bandara Juanda, Surabaya, dan diperkirakan tiba sekitar pukul 16.30 WIB.

Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui jalur darat menuju Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang. JK dijadwalkan tiba di lokasi sekitar pukul 19.00 WIB untuk menghadiri pembukaan Muktamar NU ke-35.

Usai kegiatan, JK dijadwalkan kembali menuju Surabaya dan beristirahat di Hotel Best Western De Papilio, Jalan Ahmad Yani, Wonocolo, Surabaya.

Kunjungan JK ke Maumere menjadi perhatian di tengah proses pemulihan masyarakat terdampak gempa bumi Flores yang masih membutuhkan penanganan, terutama terkait kondisi pengungsian, kebutuhan dasar, serta dukungan pemulihan pascabencana.

Agenda yang diterima media ini masih mencantumkan beberapa lokasi dengan tanda titik-titik, sehingga lokasi pengungsian dan masjid yang akan dikunjungi JK di Kabupaten Sikka masih menunggu kepastian lebih lanjut.

Reporter : Faidin

Tiga Tahun Menahan Sakit, Naufal Berharap Uluran Tangan Pemerintah

SIKKA, Bajopos.com | Di tengah hiruk-pikuk kehidupan di posko pengungsian Desa Nangahale, Kabupaten Sikka, sebuah kisah tentang seorang anak berusia tiga tahun bernama Naufal Aldani menyentuh hati.

Sejak lahir, Naufal harus berjuang menghadapi masalah serius pada saluran pencernaannya yang membuat dirinya kesulitan buang air besar (BAB).

Kondisi Naufal terungkap ketika Ibu Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena atau yang akrab disapa Ibu Asti Laka Lena, bersama Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, istri Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, mengunjungi Posko Pengungsian Desa Nangahale, Minggu (23/8/2026) siang.

Di tengah suasana pengungsian akibat gempa, perhatian kedua perempuan yang turut mendampingi masyarakat itu tertuju kepada Naufal yang saat itu berada dalam pelukan ibunya, Aida.

Menurut keterangan keluarga, Naufal mengalami kondisi bawaan sejak lahir yang menyebabkan dirinya tidak dapat BAB secara normal.

Keluarga menyebut Naufal pernah mengalami kondisi yang berkaitan dengan Hirschsprung dan dugaan atresia ani, sementara saat ini anak tersebut disebut memiliki lubang anus tetapi tetap mengalami kesulitan berat ketika BAB.

Untuk membantu mengeluarkan kotorannya, Naufal bahkan disebut harus menggunakan alat bantu melalui lubang anus. Kondisi tersebut membuat kehidupan Naufal dan keluarganya jauh dari kehidupan anak-anak seusianya.

Bagi seorang anak berusia tiga tahun, BAB yang seharusnya menjadi proses alami justru menjadi perjuangan yang harus dihadapi berulang kali.

Di balik tubuh kecil Naufal, ada perjuangan panjang yang belum selesai.

Aida, ibu Naufal, mengaku sangat berharap anaknya dapat menjalani operasi sehingga bisa memperoleh kesembuhan dan menjalani kehidupan sebagaimana anak-anak lainnya.

Namun, harapan itu terbentur kondisi ekonomi keluarga.

Aida bersama suaminya belum mampu membiayai penanganan medis yang dibutuhkan Naufal.

Kisah tersebut sontak mengundang keprihatinan Ibu Asti Laka Lena. Ia kemudian memanggil Kepala Desa Nangahale untuk memastikan kondisi yang dialami Naufal serta mengetahui lebih jauh situasi keluarga tersebut.

Sementara itu, Ny. Fista Sambuari Kago menyampaikan akan melakukan koordinasi bersama warga dan pihak terkait guna mencari solusi bagi penanganan Naufal.

Ia bahkan langsung meminta nomor telepon keluarga agar komunikasi dapat dilakukan dengan lebih mudah dalam upaya membantu penanganan medis anak tersebut.

Di hadapan Aida yang memangku Naufal, Ibu Asti dan Ny. Fista memberikan semangat.

Momen itu menjadi harapan baru bagi keluarga kecil tersebut yang selama tiga tahun menghadapi perjuangan panjang tanpa kepastian kapan anak mereka bisa mendapatkan penanganan yang layak.

Pemerintah Diharapkan Hadir

Kisah Naufal bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang sakit. Ini adalah potret keluarga sederhana yang membutuhkan kehadiran negara ketika kemampuan ekonomi tidak mampu menjangkau biaya pengobatan.

Karena itu, pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi diharapkan tidak berhenti pada kunjungan dan pendataan.

Harapan terbesar keluarga Naufal adalah adanya tindakan nyata, mulai dari pemeriksaan medis menyeluruh, rujukan ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis anak atau bedah anak, hingga memastikan kebutuhan operasi dan perawatan lanjutan dapat dipenuhi.

Penanganan kondisi seperti Hirschsprung atau kelainan anorektal membutuhkan pemeriksaan dan penanganan oleh tenaga medis yang kompeten. Diagnosis pasti pun harus ditegakkan oleh dokter melalui pemeriksaan medis, bukan hanya berdasarkan dugaan keluarga.

Di tengah kondisi pengungsian, kebutuhan Naufal menjadi semakin mendesak. Anak itu membutuhkan perhatian khusus agar kondisi kesehatannya tidak semakin memburuk.

Naufal mungkin hanya seorang anak kecil dari sebuah keluarga sederhana di Nangahale.

Namun, perjuangannya mengingatkan bahwa di tengah bencana dan kesulitan hidup, masih ada anak-anak yang membutuhkan pertolongan untuk mendapatkan hak paling dasar: hidup sehat dan tumbuh sebagaimana anak-anak lainnya.

Kini, harapan itu tertuju kepada pemerintah dan semua pihak yang memiliki kepedulian.

Semoga kunjungan Ibu Asti Laka Lena dan Ny. Fista Sambuari Kago menjadi awal dari jalan panjang menuju kesembuhan Naufal.

Sebab, tidak seharusnya seorang anak berusia tiga tahun terus menanggung sakit hanya karena keluarganya tidak mampu membiayai pengobatan.

Reporter : Faidin

Ibu Gub NTT Minta Koperasi dan Perbankan Beri Relaksasi Pinjaman bagi Pengungsi Gempa Nangahale

SIKKA, Bajopos.com | Ibu Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Ny. Mindriyati Astiningsih atau yang akrab disapa Asti Laka Lena, meminta lembaga keuangan, termasuk koperasi yang menerapkan sistem pinjaman harian, memberikan kelonggaran pembayaran kepada warga terdampak gempa bumi.

Permintaan tersebut disampaikan Ibu Asti saat mengunjungi posko pengungsian mandiri di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Minggu (23/8/2026).

Ibu Asti menilai masyarakat yang saat ini berada di pengungsian sedang menghadapi kondisi sulit dan membutuhkan ruang untuk memulihkan diri, keselamatan keluarga, serta kehidupan ekonominya.

Menurutnya, sejumlah lembaga keuangan dan perbankan pemerintah maupun lembaga keuangan besar telah memberikan kebijakan relaksasi kredit bagi masyarakat terdampak bencana.

Namun, ia menyoroti keberadaan koperasi yang menerapkan sistem pinjaman atau cicilan harian agar mengambil kebijakan serupa.

“Kalau dari lembaga keuangan atau perbankan pemerintah atau yang besar-besar memang sudah memberikan kebijakan untuk memberi kelonggaran, relaksasi untuk masyarakat, termasuk pengungsi yang sekarang sedang mengungsi, untuk sementara tidak membayar kreditnya dulu,” ujar Ibu Asti.

Ia kemudian meminta koperasi harian juga menunjukkan kepedulian terhadap kondisi masyarakat yang sedang terdampak bencana.

“Tetapi yang koperasi harian ini saya minta, kami minta, dan ini sudah kita laporkan juga ke Pak Gubernur, ke Pak Bupati juga, untuk mereka juga mempunyai hati, mempunyai kebijakan yang sama,” tegasnya.

Jangan Kejar Pengungsi Bayar Pinjaman

Ibu Asti menegaskan, masyarakat yang sedang menghadapi masa kebencanaan seharusnya tidak dibebani lagi dengan tekanan pembayaran pinjaman.

Ia meminta para penagih memberikan kesempatan kepada warga untuk fokus pada keselamatan dan pemulihan kehidupan mereka.

“Semua sedang terdampak, sedang kesulitan. Jadi biarkan masyarakat bisa menjalani keprihatinan masa kebencanaan ini dengan tenang, dengan fokus pada keselamatan diri. Jangan kejar-kejar mereka,” katanya.

Bahkan, Ibu Asti meminta masyarakat melaporkan apabila ada pihak koperasi atau penagih yang tetap melakukan penagihan secara agresif kepada warga terdampak.

“Saya sudah minta, siapa yang kejar, tulis namanya, lapor ke Bapak Desa. Bapak Desa akan urus sampai dengan tingkat kabupaten,” ujarnya.

Ia menambahkan, apabila terdapat pihak yang tidak mengindahkan kondisi kemanusiaan tersebut, pemerintah dapat mengambil langkah lebih lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.

Pengungsi Mandiri Jadi Perhatian

Dalam kunjungannya, Ibu Asti juga menyoroti kondisi pengungsi mandiri yang tersebar di berbagai lokasi. Menurutnya, kondisi geografis NTT menjadi tantangan tersendiri dalam menjangkau seluruh warga terdampak.

Ia menyebut pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten terus berupaya menjangkau masyarakat di enam kabupaten yang paling terdampak gempa.

“Kalau yang namanya pengungsian pasti masih dalam keterbatasan. Tapi saya pikir dari Bapak Desa, seluruh perangkat, kemudian relawan dan tenaga kesehatan juga sudah ada, sudah mengupayakan yang terbaik,” katanya.

Ibu Asti mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat di tengah keterbatasan. Menurutnya, kondisi sulit tidak boleh membuat ada warga yang terabaikan.

“Semua supaya tidak ada satu pun yang kemudian ditinggalkan. Semua makan, meskipun sedikit semua makan,” ujarnya.

Ia berharap kondisi kebencanaan segera berlalu sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dan memulihkan kehidupan ekonomi mereka.

Bantuan Harus Berbasis Data

Terkait warga yang mengungsi secara mandiri di rumah keluarga atau rumah warga lainnya, Ibu Asti menegaskan penyaluran bantuan harus tetap berbasis data.

Menurutnya, struktur pemerintahan hingga tingkat dusun, RT dan RW memiliki peran penting untuk mendata warga yang terdampak, termasuk mereka yang tidak tinggal di tenda atau posko tetapi belum mampu menjalankan aktivitas ekonomi secara normal.

“Semua kalau bekerja harus berdasarkan data. Jadi pasti kita lewat semua struktur yang ada, yang sudah ada,” jelasnya.

Ia mengatakan, warga yang tetap tinggal di rumah tetapi kehilangan kemampuan untuk beraktivitas dan memenuhi kebutuhan ekonomi juga harus masuk dalam pendataan.

“Kalau misalnya dia tahu ada warganya, ada yang masih mengungsi, maksudnya masih tetap tinggal di tempatnya, tetapi dia belum bisa beraktivitas, menjalankan aktivitas ekonominya, itu didata juga karena mereka kesulitan,” pungkasnya.

Reporter : Faidin

Danlanal Maumere Tegaskan Bantuan Gempa Agar Tepat Sasaran dan Dibagi Adil, Jangan Ada Pengungsi Terlewat

SIKKA, Bajopos.com | Penyaluran bantuan bagi warga terdampak gempa bumi Flores di sejumlah posko pengungsian di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, mendapat perhatian serius dari Komandan Lanal (Danlanal) Maumere, Kolonel Laut (P) Yoyok Ary N.A.S., M.Tr.Opsla.

Pesan tegas disampaikan Komandan Lanal Maumere di tengah proses pendistribusian bantuan CSR Telkomsel bersama Lanal Maumere kepada para pengungsi, Jumat (21/8/2026).

Yoyok menekankan agar bantuan yang telah disalurkan benar-benar diterima oleh masyarakat yang terdampak, dibagikan secara adil dan tidak menimbulkan ketimpangan di antara para pengungsi.

Pesan tersebut disampaikan saat dirinya bersama jajaran Lanal Maumere mendampingi distribusi bantuan di sejumlah titik pengungsian, termasuk Desa Nangahale, Posko Tanjung Darat, Posko Kantor Kecamatan Talibura, Posko Eks Pasar Talibura hingga Desa Henga, Dusun Henga.

Dalam kesempatan tersebut, perhatian Komandan Lanal tidak hanya tertuju pada proses pengangkutan dan penyerahan bantuan. Ia juga menyambangi langsung para pengungsi dan berkomunikasi dengan pihak yang bertanggung jawab di lokasi.

Jangan Sampai Bantuan Tidak Merata

Komandan Lanal Maumere meminta kepala desa dan pengelola posko memastikan bantuan yang diterima dari pihak luar disalurkan kepada warga sesuai data dan kondisi riil di lapangan.

Pesan tersebut menjadi penting mengingat sebelumnya sempat muncul keluhan dan protes warga terkait pembagian bantuan di sejumlah lokasi pengungsian.

Menurut Yoyok, bantuan kemanusiaan yang datang merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang sedang mengalami musibah. Karena itu, proses pembagiannya harus dilakukan secara transparan, adil dan mengutamakan warga yang benar-benar membutuhkan.

Ia meminta tidak boleh ada warga terdampak yang terlewatkan, sementara bantuan justru menumpuk atau tidak tersalurkan kepada penerima yang membutuhkan.

Komandan Lanal Turun Langsung ke Posko

Kolonel Laut (P) Yoyok Ary N.A.S. bersama istrinya, Ny. Diani Yoyok Ary, Ketua Cabang 3 Daerah Kodaeral VII, turut menyambangi para pengungsi dari posko ke posko.

Keduanya tampak memberikan motivasi kepada warga yang masih bertahan di tenda pengungsian setelah gempa yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.

Suasana haru terlihat ketika Yoyok duduk bersama para pengungsi. Perhatiannya tertuju kepada para lansia dan anak-anak yang masih harus menjalani hari-hari di tengah keterbatasan di lokasi pengungsian.

Kehadiran tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan moral kepada warga yang hingga hari ketujuh pascagempa masih belum sepenuhnya dapat kembali ke rumah.

Kawal Distribusi Bantuan Telkomsel

Dalam kegiatan tersebut, Lanal Maumere membantu distribusi bantuan dari program CSR Telkomsel Peduli Gempa Flores 2026.

Bantuan yang disalurkan antara lain makanan ringan, mi instan, air mineral, tikar, selimut, obat-obatan dan vitamin.

Bantuan diangkut menggunakan mobil truk dan mobil box Lanal Maumere untuk kemudian didistribusikan ke sejumlah titik pengungsian.

Territory Mobile Consumer Business (TMCB)/PIC Telkomsel, M. Iskandar Syah, sebelumnya menjelaskan bahwa distribusi bantuan dilakukan berdasarkan koordinasi dengan pemerintah daerah dan koordinator posko.

Telkomsel juga telah berpesan agar bantuan yang disalurkan dapat diterima secara merata dan tepat sasaran.

Sementara itu, kehadiran Lanal Maumere menjadi bagian dari upaya memastikan proses distribusi berjalan dengan baik di lapangan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut ibu-ibu anggota Lanal Maumere (Jalasenastri), serta prajurit Lanal Maumere lainnya.

Pesan Komandan Lanal Maumere menjadi pengingat bahwa dalam situasi bencana, bantuan bukan sekadar soal jumlah yang disalurkan, tetapi bagaimana bantuan tersebut benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan secara adil dan tepat sasaran.

Reporter : Faidin

Kolaborasi Telkomsel dan Lanal Maumere Sambungkan Senyuman Melalui Program CSR, Peduli Gempa Flores

SIKKA, Bajopos.com | Kepedulian terhadap warga terdampak gempa bumi Flores terus ditunjukkan Telkomsel melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) atau (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan) Peduli Gempa Flores 2026.

Tak hanya menyasar wilayah perkotaan, bantuan Telkomsel didorong hingga ke titik-titik pengungsian yang berada jauh dari pusat Kabupaten Sikka.

Pada Jumat (21/8/2026), atau hari ketujuh pascagempa, Telkomsel bersama Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Maumere menyambangi sejumlah posko pengungsian di Kecamatan Talibura, termasuk Desa Nangahale.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari distribusi CSR Telkomsel yang dilakukan secara bertahap untuk memastikan bantuan menjangkau masyarakat yang terdampak langsung bencana.

Territory Mobile Consumer Business (TMCB)/PIC Telkomsel, M. Iskandar Syah, mengatakan penyaluran bantuan kali ini merupakan gelombang kedua atau bagian kedua dari program CSR Telkomsel untuk korban gempa.

“Jadi hari ini kami habis kegiatan CSR dari Telkomsel Pusat. Kebetulan ini gelombang kedua atau part kedua dan alhamdulillah kami juga didukung oleh Lanal Maumere dalam distribusi sumbangan ke posko-posko,” ujar Iskandar kepada awak media.

Menurutnya, data penerima bantuan diperoleh melalui koordinasi dengan pemerintah daerah sehingga pendistribusian diarahkan ke titik-titik pengungsian yang membutuhkan.

“Bagian data ini kami bekerja sama dengan Pemda. Untuk yang kedua ini kami ke arah timur,” jelasnya.

Nangahale Jadi Titik Awal

Desa Nangahale menjadi titik pertama yang disambangi Telkomsel dan Lanal Maumere. Berdasarkan data yang diterima Telkomsel, terdapat sekitar 3.345 jiwa yang mengungsi di wilayah tersebut.

Dari Nangahale, rombongan kemudian bergerak menuju Kecamatan Talibura. Di wilayah ini bantuan didistribusikan ke tiga titik, yakni Posko Tanjung Garat, Posko Kantor Kecamatan Talibura, dan Posko Eks Pasar Talibura.

Perjalanan distribusi kemudian berlanjut ke titik terakhir di Desa Henga, Dusun Henga.

Iskandar menegaskan, Telkomsel berupaya agar program CSR tersebut tidak hanya berhenti di wilayah yang mudah dijangkau, tetapi benar-benar sampai kepada masyarakat terdampak.

“Dari segi masyarakat yang terdampak atau yang mengungsi jelas, dan ini juga salah satu upaya kami untuk menyalurkan program CSR sampai ke masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Ia menyebut bantuan yang diberikan merupakan bentuk tanggung jawab Telkomsel dalam menjalankan mandat dari pusat.

Namun, Iskandar mengingatkan bahwa bantuan tersebut bukan dimaksudkan untuk menggantikan seluruh kebutuhan pengungsi.

“Bantuan ini bukan untuk menggantikan kebutuhan sehari-hari atau memenuhi seluruh kebutuhan sehari-hari, melainkan sebagai pelengkap apa yang kurang. Setidaknya yang kurang kita cukupi,” ujarnya.

Makanan, Air Mineral hingga Obat dan Vitamin

Dalam program CSR tersebut, Telkomsel menyalurkan berbagai kebutuhan dasar pengungsi. Bantuan antara lain berupa makanan ringan, mi instan, air mineral, tikar, selimut, obat-obatan serta vitamin.

Menurut Iskandar, pemberian vitamin dan obat-obatan menjadi penting karena kondisi pengungsian yang berlangsung berhari-hari dapat menyebabkan warga mengalami berbagai kekurangan, terutama kebutuhan penunjang kesehatan.

“Kita tahu di tempat pengungsian pasti ada kekurangan vitamin. Kami berharap vitamin ataupun obat-obatan yang kami berikan benar-benar bisa digunakan oleh pengungsi sebagai sarana untuk mereka tetap sehat,” katanya.

Memasuki hari ketujuh pascagempa, Telkomsel juga berharap kondisi segera pulih sehingga masyarakat dapat kembali ke rumah masing-masing.

“Kita berdoa bersama agar bencana ini cepat selesai, disudahi dan tidak terjadi lagi. Kita berharap semua pengungsi bisa kembali ke rumah dengan nyaman, kembali ke keluarga, sehingga bisa menjalani hidup seperti biasanya,” tutur Iskandar.

CSR Telkomsel Menjangkau Sikka, Nagekeo hingga Reo

Program Peduli Gempa Flores 2026 tidak hanya menyasar Kabupaten Sikka.

Iskandar menjelaskan, distribusi CSR Telkomsel juga dilakukan di sejumlah wilayah terdampak lainnya di Flores, termasuk Nagekeo, Manggarai dan kawasan Reo.

“Teman-teman yang lain tersebar di Nagekeo. Itu yang CSR pertama. Yang CSR kedua sedang berlangsung untuk area Manggarai dan juga sekitarnya sampai ke Reo. Dan juga Mbay yang kemarin terkena bencana,” jelasnya.

Telkomsel juga menyiapkan distribusi lanjutan ke wilayah barat Flores. Menurut Iskandar, rencana tersebut akan dikoordinasikan setelah pihak manajemen Telkomsel melakukan kunjungan ke Labuan Bajo.

Jaringan Telkomsel Dipastikan Pulih 100 Persen

Selain bantuan logistik, Telkomsel juga menaruh perhatian besar terhadap keberlangsungan jaringan telekomunikasi pascagempa.

Iskandar mengatakan, sejak hari pertama setelah bencana, Telkomsel langsung melakukan pemulihan jaringan.

“Di hari H1 setelah bencana, kami sudah mulai melakukan perbaikan dari 85 persen. Sampai H3 kami sudah bisa mengklaim 100 persen karena kami sudah memastikan seluruh site ataupun BTS yang tersebar di Flores ini bisa pulih semuanya,” ungkapnya.

Menurut dia, pemulihan jaringan menjadi bagian penting dalam penanganan bencana karena komunikasi sangat dibutuhkan untuk koordinasi, penyelamatan, distribusi bantuan maupun memastikan kondisi masyarakat di daerah terdampak.

Telkomsel juga berkoordinasi dengan PLN karena operasional BTS membutuhkan pasokan listrik. Dalam kondisi darurat, BTS juga memiliki cadangan baterai yang hanya mampu bertahan selama beberapa jam.

“Makanya saling kolaborasi. Kita membutuhkan PLN, PLN juga membutuhkan kita untuk sarana komunikasi mereka,” ujarnya.

Selain pemulihan jaringan, Telkomsel juga sempat memberikan layanan internet gratis, telepon gratis dan SMS gratis pada hari pertama setelah gempa. Program tersebut diberikan sebagai bagian dari upaya menjaga komunikasi masyarakat di wilayah bencana tetap tersambung.

Telkomsel Minta Bantuan Tepat Sasaran

Terkait mekanisme penyaluran, Iskandar menjelaskan Telkomsel tidak menyerahkan seluruh bantuan secara langsung kepada masyarakat karena distribusi dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan koordinator posko.

Menurutnya, data penerima dan pembagian bantuan menjadi kewenangan koordinator posko sesuai mekanisme yang telah ditetapkan.

“Untuk penyaluran bantuan sebenarnya ada sangkut pautnya dengan Pemda. Jadi kami tidak bisa menyalurkan secara langsung karena ada aturan dari BPBD agar bantuan disalurkan ke koordinator posko. Dari koordinator posko yang mendata dan membagikan bantuan tersebut,” jelasnya.

Pernyataan ini menjadi penting di tengah munculnya keluhan dari sebagian warga terkait penyaluran bantuan yang dinilai belum merata dan terdapat warga yang mengaku belum mendapatkan bantuan atau menerima bantuan dalam jumlah yang tidak sebanding dengan kebutuhan.

Iskandar mengatakan, Telkomsel telah menyampaikan pesan kepada penanggung jawab posko agar bantuan yang diterima benar-benar dibagikan secara merata.

“Kami memesankan kepada penanggung jawab posko langsung di depan pengungsi bahwa kami berharap sekali bantuan ini bisa merata dan juga tepat sasaran. Apapun yang tersisa harus dibagikan, tidak ada yang tersisa di tempat pengumpulan bantuan tersebut,” tegasnya.

Lanal Maumere Ikut Kawal Distribusi

Dalam kegiatan tersebut, Telkomsel mendapat dukungan dari Lanal Maumere. Komandan Lanal Maumere, Kolonel Laut (P) Yoyok Ary N.A.S., M.Tr.Opsla, didampingi istrinya, Ny. Diani Yoyok Ary, Ketua Cabang 3 Daerah Kodaeral VII, turut menyambangi sejumlah posko pengungsian.

Keduanya tampak memberikan motivasi kepada para pengungsi dari satu posko ke posko lainnya.

Di salah satu lokasi, Komandan Lanal bahkan duduk bersama para pengungsi. Suasana haru terlihat ketika perhatiannya tertuju kepada para lansia dan anak-anak yang masih bertahan di tenda pengungsian setelah gempa mengguncang Flores.

Di tengah sorotan warga terhadap pembagian bantuan yang sebelumnya sempat diwarnai protes, Komandan Lanal Maumere juga memberikan pesan kepada kepala desa agar memastikan bantuan yang diterima masyarakat dibagikan secara adil dan tepat sasaran.

Dalam pendistribusian tersebut turut hadir ibu-ibu anggota Lanal Maumere (Jalasenastri), serta prajurit Lanal Maumere lainnya.

Bantuan diangkut menggunakan mobil truk Lanal Maumere dan mobil box Lanal Maumere, kemudian didistribusikan ke titik-titik pengungsian yang telah ditentukan.

Melalui program CSR Peduli Gempa Flores 2026 ini, Telkomsel tidak hanya berupaya menghadirkan bantuan kebutuhan dasar bagi para pengungsi, tetapi juga memastikan konektivitas komunikasi tetap hidup di tengah situasi bencana.

Bagi Telkomsel, tersambungnya komunikasi menjadi bagian penting dari upaya pemulihan, sementara bantuan kemanusiaan diharapkan dapat menjadi penguat bagi warga Flores yang masih bertahan di pengungsian.

Telkomsel Sambungkan Senyuman, dari konektivitas hingga kepedulian untuk warga terdampak gempa Flores.

Reporter : Faidin

Ironis! Pengungsi Gempa di Nangahale, Warga Akui Hanya Dapat 1 hingga 4 Mok Beras

SIKKA, Bajopos.com | Di tengah ribuan warga yang masih bertahan di pengungsian akibat gempa bumi Flores, keluhan mengenai ketimpangan distribusi bantuan kembali mencuat di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Warga mengaku bantuan yang mereka terima sangat terbatas. Ada yang hanya mendapatkan beras satu gelas, satu butir telur dan satu bungkus mi instan, sementara warga lainnya mengaku hanya menerima sekitar empat mok beras dan dua bungkus mi instan.

Padahal, sebagian dari mereka harus bertahan bersama beberapa anggota keluarga, termasuk anak-anak, dalam tenda darurat yang kondisinya jauh dari layak.

Salah seorang warga, Nurbayana M. Ali, mengungkapkan kekecewaannya terhadap mekanisme pembagian bantuan yang dinilai tidak menjamin semua pengungsi memperoleh bagian secara merata.

Menurutnya, bantuan seharusnya dikemas terlebih dahulu berdasarkan jumlah penerima dan kemudian diberikan langsung kepada setiap keluarga.

“Maksudnya saya itu bantuan jangan dikasih seperti ini. Berapa macam jenis bantuan, isi saja di kresek. Beras itu mau satu biji atau dua biji. Sarimi juga seperti itu, isi di kresek. Tinggal baca nama, lalu kasih ke penerima bantuan,” ujarnya.

Nurbayana mempertanyakan nasib warga yang tidak kebagian ketika bantuan dibagikan melalui mekanisme tertentu.

“Kalau seperti ini ada yang dapat, ada yang tidak. Macam kami yang tidak dapat ini bagaimana?” keluhnya.

Hanya 4 Mok Beras dan 2 Bungkus Mie Instan

Nurbayana mengaku bantuan pemerintah yang diterimanya sejauh ini sangat minim.

Ia menyebut hanya mendapatkan sekitar empat mok atau gelas beras.

Jumlah tersebut berasal dari pembagian sekitar 5 kilogram beras untuk tiga tenda, kemudian dibagi lagi kepada empat kepala keluarga. Akibatnya, bagian yang diterima Nurbayana hanya sekitar empat mok.

Selain itu, ia mengaku hanya menerima dua bungkus mi instan.

Bagi keluarga dengan beberapa anak, jumlah tersebut menurutnya jelas tidak mencukupi.

“Tidak cukup, bagi saya tidak cukup,” tegas Nurbayana dengan penuh kecewa.

Ia juga mengaku sebelumnya tidak mendapatkan terpal untuk tempat berlindung, meskipun anak-anaknya harus bertahan di lokasi pengungsian.

Kondisi tersebut membuatnya semakin mempertanyakan pemerataan bantuan.

“Seperti kemarin saya saja tidak dapat terpal. Ini saya punya anak-anak itu di atas,” katanya.

Nurbayana bahkan menyebut proses pembagian bantuan sebelumnya sempat diwarnai aksi saling berebut.

“Seperti kemarin itu baku rebut-rebut itu semua. Mereka sistem keluarga. Jadi kami ini bagaimana?” ujarnya.

Ia meminta agar pemberi bantuan yang datang tidak hanya menyerahkan bantuan kepada koordinator, tetapi turun langsung ke setiap tenda.

“Kalau kita mau bagi, jangan lagi lewat ini. Kita sendiri turun bagi ke tiap tenda,” sarannya.

Menurutnya, cara tersebut lebih adil karena bantuan dapat langsung diketahui dan diterima oleh keluarga yang membutuhkan.

Muhayati Dapat 1 Gelas Beras, 1 Telur dan 1 Bungkus Mie

Keluhan serupa disampaikan Muhayati, salah seorang warga yang ditemui wartawan di lokasi pengungsian.

Saat ditemui, Muhayati duduk bersama anaknya di bawah tenda bekas jemuran ikan. Tenda berukuran sekitar 2×3 meter tersebut terlihat kusam dan sudah robek di sejumlah bagian. Sementara, itu tetangganya hanya beralas terpal lusuh yang disambung karpet robek bekas yang sudah tidak layak pakai.

Lebih memprihatinkan, tenda kecil milik Muhayati tersebut menjadi tempat berteduh bagi empat kepala keluarga dengan delapan anak kecil dengan kondisi tanpa dinding.

Muhayati mengaku bantuan yang diterimanya sejauh ini dari salah satu pihak hanya berupa 1 gelas beras, 1 butir telur ayam dan 1 bungkus mie instan.

Dengan jumlah tersebut, kebutuhan beberapa keluarga yang tinggal dalam satu tenda tentu jauh dari terpenuhi.

Kondisi ini menjadi gambaran nyata bagaimana sebagian korban gempa masih harus bertahan dengan bantuan pangan dalam jumlah sangat terbatas.

3.381 Pengungsi, Tapi Bantuan Dipertanyakan

Di sisi lain, Camat Talibura Fransiskus Ismail menyampaikan bahwa jumlah pengungsi di Kecamatan Talibura berdasarkan data pemerintah mencapai 3.381 orang, tersebar di lima desa.

Desa Nangahale menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar, yakni sekitar 2.581 orang.

Fransiskus sebelumnya mengatakan bantuan pemerintah melalui Posko BPBD Kabupaten Sikka telah masuk ke Kecamatan Talibura sejak 17 Agustus 2026 dan telah didistribusikan ke seluruh desa.

Bantuan tersebut antara lain berupa beras, mi instan, telur, air mineral, obat-obatan dan perlengkapan bayi.

Menurut Fransiskus, distribusi dilakukan berdasarkan data pengungsi secara by name by address.

Namun, pernyataan tersebut kini berhadapan dengan keluhan warga di lapangan yang mengaku menerima bantuan dalam jumlah sangat kecil.

Pertanyaannya kemudian: jika data penerima sudah by name by address, mengapa masih ada warga yang hanya mendapatkan satu gelas beras, satu telur dan satu bungkus mi instan?

Mengapa pula ada warga yang mengaku hanya menerima empat mok beras dan dua bungkus mi instan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang memiliki beberapa anak?

Pengungsi Mandiri Mengaku Belum Tersentuh

Persoalan semakin kompleks karena tidak semua korban memilih tinggal di posko resmi.

Sebagian warga mengungsi secara mandiri di halaman rumah, depan bangunan, maupun lokasi lainnya.

Fransiskus sendiri mengakui bahwa pemerintah Kecamatan Talibura belum mendapatkan arahan lanjutan mengenai penanganan warga yang mengungsi secara mandiri.

“Yang untuk sementara ini yang kita tangani itu adalah mereka yang berada di tenda-tenda pengungsian. Sementara yang mengungsi mandiri, kita di kecamatan belum mendapatkan arahan lanjutan,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa warga yang berada di luar posko resmi berpotensi tidak mendapatkan bantuan dengan porsi yang sama.

Jangan Sampai Bantuan Banyak di Atas Kertas, Minim di Tangan Warga

Kondisi ini seharusnya menjadi bahan evaluasi serius pemerintah daerah dan pengelola posko.

Sebab, ukuran keberhasilan penyaluran bantuan bukan hanya berdasarkan berapa banyak bantuan yang masuk ke kecamatan atau desa, tetapi berapa banyak bantuan yang benar-benar diterima setiap keluarga terdampak sesuai kebutuhan mereka.

Warga tidak membutuhkan sekadar pencatatan administrasi. Mereka membutuhkan beras yang cukup untuk makan, makanan untuk anak-anak, terpal atau tenda untuk berlindung, air minum dan kebutuhan dasar lainnya.

Ketika seorang warga dengan beberapa anak hanya mendapatkan empat mok beras dan dua bungkus mi instan, sementara warga lainnya hanya memperoleh satu gelas beras, satu telur dan satu bungkus mi instan, maka wajar apabila muncul pertanyaan tentang sejauh mana prinsip pemerataan benar-benar diterapkan.

Pemerintah juga perlu membuka mekanisme distribusi secara transparan agar tidak muncul prasangka bahwa bantuan hanya berputar di antara kelompok tertentu.

Keluhan warga harus dijadikan bahan evaluasi, bukan sekadar dianggap sebagai persoalan teknis di lapangan.

Sebab, di tengah situasi darurat bencana, satu gelas beras bagi sebuah keluarga bukan sekadar angka. Itu adalah gambaran tentang bagaimana negara hadir atau justru belum hadir bagi warganya.

Reporter : Faidin

Camat Talibura Akui Pengungsi Mandiri Belum Mendapat Arahan Penanganan, Bantuan Pemerintah Disalurkan Melalui Posko Desa

SIKKA, Bajopos.com | Penanganan warga terdampak gempa bumi di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapat sorotan setelah masih adanya keluhan warga yang mengungsi secara mandiri karena belum mendapatkan bantuan pemerintah.

Hal tersebut terungkap dalam wawancara wartawan dengan Camat Talibura, Fransiskus Ismail, di sela-sela pendropingan bantuan dari pihak Telkomsel bersama Lanal Maumere, Kamis (21/8/2026).

Fransiskus menjelaskan, bantuan dari pemerintah melalui Posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka telah masuk ke Kecamatan Talibura sejak 17 Agustus 2026 dan kemudian didistribusikan ke seluruh desa.

“Untuk bantuan dari pemerintah melalui Posko BPBD itu sudah masuk per tanggal 17 Agustus kemarin dan sudah kita distribusikan ke semua desa. Hari ini kembali masuk di kantor camat dan kita baru distribusi lagi ke semua desa,” jelasnya.

Menurutnya, bantuan yang disalurkan berupa kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana. Bantuan tersebut antara lain beras, mi instan, telur, air mineral, obat-obatan hingga perlengkapan bayi.

Fransiskus mengatakan, jumlah bantuan disesuaikan dengan data pengungsi yang disampaikan pemerintah kecamatan kepada BPBD secara by name by address.

“Bantuan itu berupa logistik, beras, mie, telur, air mineral, obat-obatan, perlengkapan bayi, yang disesuaikan dengan jumlah pengungsi yang kita ajukan lewat data yang kita berikan kepada BPBD, by name, by address,” katanya.

3.381 Pengungsi, Nangahale Terbanyak

Camat Talibura menyebutkan, berdasarkan data hingga saat ini terdapat 3.381 pengungsi yang tersebar di lima desa di Kecamatan Talibura.

Jumlah terbesar berada di Desa Nangahale dengan sekitar 2.581 orang.

Namun, di tengah distribusi bantuan tersebut, masih terdapat keluhan dari warga yang memilih mengungsi secara mandiri dan merasa belum mendapatkan perhatian pemerintah.

Menanggapi hal itu, Fransiskus mengakui bahwa pada fase awal bencana, pemerintah menghadapi kendala pendataan karena jumlah warga yang mengungsi belum dapat dipastikan.

“Memang dengan kondisi awal, saat pengungsi mulai datang ke tempat pengungsian, untuk kita mengakomodir secara perorangan itu waktu itu data kita juga belum pasti,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bantuan pemerintah kemudian disalurkan melalui posko-posko yang telah dibentuk di masing-masing desa. Pengelolaan bantuan di lapangan selanjutnya menjadi tanggung jawab koordinator posko.

Pemerintah kecamatan, kata dia, telah mengimbau agar setiap posko membentuk dapur umum secara terpusat sehingga bantuan konsumsi dapat dinikmati secara merata oleh seluruh pengungsi.

Pengungsi Mandiri Belum Mendapat Arahan

Sorotan lainnya menyangkut warga yang mengungsi secara mandiri, baik di halaman rumah, depan bangunan, maupun lokasi lainnya di luar posko resmi.

Fransiskus secara terbuka menyatakan bahwa hingga saat ini pihak Kecamatan Talibura belum mendapatkan arahan lanjutan terkait penanganan kelompok pengungsi mandiri tersebut.

“Yang untuk sementara ini yang kita tangani itu adalah mereka yang berada di tenda-tenda pengungsian. Sementara yang mengungsi mandiri, kita di kecamatan belum mendapatkan arahan lanjutan,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena sejumlah warga terdampak gempa di wilayah Talibura sebelumnya mengeluhkan belum meratanya bantuan, terutama mereka yang memilih melakukan evakuasi secara mandiri.

Kondisi ini menunjukkan masih adanya celah dalam sistem penanganan pengungsi, khususnya dalam memastikan warga yang berada di luar posko resmi tetap terdata dan mendapatkan kebutuhan dasar.

Keamanan dan Kondisi Pengungsi Jadi Tanggung Jawab Koordinator Posko

Terkait keamanan dan kondisi kesehatan warga di lokasi pengungsian, termasuk adanya laporan warga yang digigit ular serta warga yang sakit hingga meninggal dunia, Camat Talibura mengatakan pemerintah telah membentuk koordinator di setiap posko.

Menurutnya, koordinator posko diharapkan dapat mengawasi berbagai persoalan yang muncul di lokasi pengungsian, mulai dari kebersihan, kesehatan hingga keamanan.

“Dengan pengurus posko, koordinator posko ini, kita berharap bahwa segala macam hal yang terjadi di dalam posko itu harus menjadi bagian dari tanggung jawab dan juga dipikirkan oleh teman-teman koordinator posko,” katanya.

Khusus di Desa Nangahale, pemerintah telah membentuk satu posko induk dan empat posko penyangga.

Namun, Fransiskus mengakui bahwa pemerintah kecamatan tidak dapat mengawasi setiap posko secara detail satu per satu.

“Tentunya kami dari pemerintah Kecamatan tidak bisa masuk ke dalam posko itu secara detail satu persatu,” ujarnya.

Karena itu, koordinasi di tingkat posko menjadi sangat penting untuk memastikan persoalan warga segera ditangani dan dilaporkan kepada pemerintah apabila membutuhkan intervensi lebih lanjut.

Pemerintah Diminta Pastikan Bantuan Tidak Berhenti di Posko

Pernyataan Camat Talibura tersebut sekaligus menjadi catatan bagi pemerintah daerah agar mekanisme distribusi bantuan tidak hanya berorientasi pada posko resmi, tetapi juga menjangkau warga yang melakukan evakuasi secara mandiri.

Apalagi, berdasarkan data pemerintah kecamatan, jumlah pengungsi mencapai ribuan orang dengan Desa Nangahale sebagai wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar.

Pemerataan bantuan, pendataan ulang, pemenuhan kebutuhan kesehatan, keamanan serta perlindungan kelompok rentan menjadi pekerjaan penting pemerintah selama masa tanggap darurat.

Di akhir wawancara, Camat Talibura mengajak seluruh pengungsi untuk memanfaatkan bantuan yang telah diberikan secara baik.

Ia juga mengingatkan warga agar secara perlahan mulai mempersiapkan diri untuk kembali ke rumah apabila kondisi telah memungkinkan, namun tetap mengutamakan kewaspadaan.

“Traumatis itu boleh, tetapi ada waktunya. Saatnya kita harus bersiap-siap untuk pulang ke rumah, tentunya dengan sikap waspada itu menjadi penting,” pungkasnya.

Reporter : Faidin

Hari ke-7 Pascagempa, Warga Danga Au Masih Bertahan di Tenda Darurat

NAGEKEO, Bajopos.com | Memasuki hari ketujuh pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Mbay dan sejumlah wilayah di Flores, kondisi warga Kampung Danga Au, Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, masih memprihatinkan.

Puluhan kepala keluarga bersama ibu-ibu dan anak-anak memilih mengungsi secara mandiri di depan puing-puing rumah mereka. Warga mengaku masih takut kembali ke dalam rumah karena khawatir terhadap gempa susulan, sementara sebagian rumah mengalami kerusakan dan sudah tidak layak ditempati.

Di lokasi pengungsian mandiri, warga hanya mendirikan tenda darurat menggunakan terpal dan kayu sisa bangunan rumah yang roboh.

Dalam pantauan jurnalis Bajopos.com di lokasi terdampak, sejumlah warga mengeluhkan distribusi bantuan yang dinilai belum merata. Beberapa keluarga mengaku bantuan yang pernah diterima jumlahnya sangat terbatas dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan selama beberapa hari.

“Bantuan yang kami terima sangat sedikit. Kalau untuk makan, hanya cukup sekali makan dan langsung habis,” keluh salah seorang warga.

Warga juga menyampaikan bahwa hingga Jumat, 21 Agustus 2026, bantuan logistik yang masuk melalui posko BNPB Nagekeo belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat yang memilih mengungsi secara mandiri di Kampung Danga Au dan sekitarnya.

Menurut warga, bantuan dari pemerintah daerah dan sejumlah pihak baru diterima sekitar dua kali. Sementara itu, mereka melihat bantuan lebih banyak terpusat di posko-posko pengungsian yang berada di sekitar ibu kota kabupaten maupun sejumlah titik pengungsian di wilayah perbukitan.

“Kami tidur di depan puing-puing rumah dengan tenda seadanya dan makan seadanya. Sampai sekarang bantuan belum semuanya sampai ke sini seperti yang diterima masyarakat yang mengungsi di tenda-tenda besar dari BNPB, Basarnas, Dinsos dan lainnya,” ujar warga lainnya.

Kondisi tersebut membuat warga yang mengungsi secara mandiri merasa perlu mendapatkan perhatian yang sama. Mereka berharap pendataan terhadap warga terdampak tidak hanya berfokus pada titik-titik pengungsian terpusat, tetapi juga menjangkau warga yang memilih membangun tempat perlindungan sendiri di sekitar rumah mereka.

Tujuh Hari Bertahan dengan Keterbatasan

Bagi warga Danga Au, tujuh hari pascagempa bukan waktu yang singkat. Mereka harus bertahan di tengah trauma, keterbatasan makanan, tempat tidur yang tidak layak, serta ketidakpastian kapan bisa kembali ke rumah.

Tenda darurat yang dibangun dari terpal menjadi tempat berlindung bagi keluarga, sementara puing-puing rumah masih berada di sekitar lokasi.

Warga berharap pemerintah dan seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan bencana dapat segera melakukan validasi ulang terhadap data korban dan titik-titik pengungsian mandiri agar tidak ada masyarakat terdampak yang terlewat dari penyaluran bantuan.

Pemerataan Bantuan Harus Menjadi Prioritas

Bencana alam memang tidak dapat diprediksi. Namun, pemerataan bantuan merupakan hal yang masih dapat diupayakan melalui pendataan dan koordinasi yang baik.

Tujuh hari telah berlalu, tetapi warga di Kampung Danga Au dan sekitarnya masih bertahan dengan kekuatan sendiri di tengah puing-puing rumah mereka.

Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak agar data korban, kerusakan, serta titik-titik pengungsian mandiri segera divalidasi dan diperbarui.

Di tengah trauma akibat gempa dan ancaman gempa susulan, keadilan dalam penyaluran bantuan sangat dibutuhkan agar seluruh warga terdampak merasa diperhatikan dan tidak berjalan sendiri menghadapi bencana.

Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari BNPB Kabupaten Nagekeo terkait mekanisme penyaluran bantuan ke wilayah Kampung Danga Au dan sekitarnya, khususnya bagi masyarakat yang memilih mengungsi secara mandiri dan mendirikan tenda darurat di sekitar rumah mereka.

Reporter : Yofan Ben Dhae
Editor : Faidin

Diduga HP Hasil Curian Dijual Murah di Lokasi Pengungsian Desa Nangahale

SIKKA, Bajopos.com | Situasi di lokasi pengungsian korban gempa bumi di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, kembali menjadi perhatian.

Di tengah kondisi warga yang masih bertahan di pengungsian, muncul informasi mengenai seseorang pria yang diduga menjual sejumlah unit telepon seluler (HP) dengan harga jauh di bawah harga pasaran.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, beberapa unit HP tersebut ditawarkan dengan harga berkisar Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per unit. Bahkan, perangkat yang ditawarkan disebut memiliki kapasitas RAM mulai dari 8 GB hingga 16 GB.

Namun, terdapat kejanggalan. Sejumlah HP yang dijual dalam kondisi terkunci pola (pattern lock) dan orang yang menawarkan perangkat tersebut disebut tidak mengetahui cara membuka kuncinya.

Kondisi tersebut menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat. Warga menduga HP-HP tersebut bukan barang milik penjual, melainkan kemungkinan berasal dari hasil pencurian.

Meski demikian, dugaan tersebut belum dapat dipastikan dan masih membutuhkan penyelidikan aparat kepolisian. Identitas penjual maupun asal-usul masing-masing perangkat juga belum diketahui secara jelas.

Keberadaan transaksi tersebut menjadi perhatian serius mengingat lokasi pengungsian saat ini dihuni warga yang tengah berada dalam situasi rentan pascagempa.

Kondisi darurat dan kepadatan pengungsian dinilai dapat membuka peluang terjadinya tindak kriminal, termasuk pencurian barang milik warga terdampak.

Warga berharap aparat keamanan segera melakukan pengecekan terhadap informasi tersebut, termasuk menelusuri asal-usul HP yang dijual serta memastikan apakah ada laporan kehilangan barang elektronik dari para pengungsi.

Jika terbukti merupakan barang hasil kejahatan, aparat diminta mengambil langkah hukum sesuai ketentuan yang berlaku sekaligus mengembalikan barang kepada pemiliknya.

Masyarakat juga diimbau tidak tergiur membeli HP dengan harga yang tidak wajar, terlebih apabila perangkat tersebut tidak dilengkapi identitas kepemilikan yang jelas dan masih dalam kondisi terkunci.

Bajopos.com masih berupaya memperoleh informasi lebih lanjut dari pihak kepolisian dan pihak terkait mengenai dugaan penjualan HP tersebut.

Reporter : Faidin

Relawan Muhammadiyah Sikka Siapkan Sekolah Darurat di Barak Pengungsian Mandiri

SIKKA, Bajopos.com | Kepedulian terhadap anak-anak terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka mulai menyentuh barak pengungsian mandiri di depan Kantor Bupati Sikka.

Pada Kamis, 20 Agustus 2026, Team Tangguh Relawan Muhammadiyah Sikka melakukan asesmen lapangan sebagai langkah awal persiapan pembukaan Klaster Pendidikan di lokasi tersebut.

Barak pengungsian mandiri itu dihuni warga yang memilih bertahan di lokasi pengungsian sejak gempa pertama mengguncang wilayah Flores.

Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan pendidikan dan pemulihan psikologis anak-anak menjadi perhatian yang mulai didorong oleh para relawan.

Sebanyak tujuh personel Relawan Muhammadiyah Sikka turun langsung ke lokasi. Sebelum melakukan pendataan terhadap anak-anak usia sekolah, para relawan terlebih dahulu menggelar kegiatan trauma healing dengan mengajak anak-anak bernyanyi bersama dan bermain berbagai permainan.

Suasana yang sebelumnya dipenuhi kekhawatiran akibat bencana perlahan berubah menjadi lebih ceria. Anak-anak diajak bermain dan bernyanyi untuk membantu mengurangi rasa takut serta trauma yang masih mereka rasakan.

Para relawan juga memberikan hadiah kepada anak-anak sebagai bentuk dukungan dan penyemangat.

Darman Eldin mengatakan, berdasarkan asesmen awal, terdapat sekitar 96 jiwa yang berada di pengungsian mandiri tersebut. Mereka terdiri dari anak-anak dan warga dengan jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA.

Menurutnya, pendataan tersebut penting dilakukan untuk mengetahui kebutuhan pendidikan anak-anak selama mereka masih berada di lokasi pengungsian.

“Jumlah pengungsian mandiri sekitar 96 jiwa, dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA,” kata Darman Eldin.

Ia menjelaskan, asesmen yang dilakukan tidak hanya untuk mengetahui jumlah anak sekolah, tetapi juga menjadi dasar dalam menyiapkan program pendidikan darurat yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Darman menyampaikan, setelah dilakukan evaluasi bersama Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sikka, Relawan Muhammadiyah Sikka berencana membuka sekolah darurat di barak pengungsian mandiri tersebut.

“Insyaa Allah dalam waktu dekat, setelah evaluasi bersama Ketua PDM Sikka, Team Relawan Muhammadiyah Sikka akan melakukan sekolah darurat di barak pengungsian mandiri di depan Kantor Bupati Sikka,” ujarnya.

Rencana pembukaan sekolah darurat tersebut diharapkan dapat memberikan ruang belajar bagi anak-anak pengungsi sekaligus menjadi bagian dari proses pemulihan mereka pascabencana.

Di tengah situasi pengungsian yang masih berlangsung, kehadiran relawan tidak hanya dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan logistik, tetapi juga memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak untuk belajar dan memperoleh pendampingan psikososial.

Langkah Relawan Muhammadiyah Sikka ini menjadi upaya penting agar anak-anak yang terdampak gempa tidak kehilangan kesempatan belajar meski harus menjalani kehidupan sementara di barak pengungsian.

Reporter : Faidin