Kam. Sep 24th, 2026

Desa Nangahale

SFF Hadir di Desa Nangahale, Pulihkan Keceriaan Anak-Anak dan Beri Dukungan Psikososial Pasca Gempa

SIKKA, Bajopos.com | Suasana ceria menyelimuti anak-anak warga Dusun Namandoi, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Kamis (27/8/2026) sore.

Di tengah situasi pascagempa Flores yang mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026, komunitas Shoes for Flores (SFF) Maumere hadir menyapa ratusan anak untuk memberikan dukungan psikososial sekaligus menghadirkan kembali ruang bermain dan kegembiraan bagi mereka.

Desa Nangahale merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Talibura yang cukup terdampak gempa yang berpusat di wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat, termasuk anak-anak, masih dibayangi rasa cemas dan trauma.

Kehadiran SFF pun tidak sekadar membawa bantuan, tetapi juga mengajak anak-anak sejenak melupakan suasana sulit yang mereka alami.

Sore itu, waktu diisi dengan berbagai permainan, bernyanyi dan menari. Kaka Kikan, sapaan akrab salah satu pendamping, bersama Kaka Meylinda Mukin, memandu anak-anak mengikuti setiap gerakan dan irama.

Ratusan anak tampak riang membentuk lingkaran sambil berpegangan tangan. Mereka bergerak mengikuti irama yang diberikan para pendamping.

Tawa dan sorak kegembiraan pun pecah. Anak-anak menari serentak dalam satu komando, tanpa canggung menunjukkan keceriaan mereka.

Petikan gitar kecil juga ikut menghidupkan suasana. Alunan musik dan nyanyian membuat sore di Dusun Namandoi terasa berbeda.

Untuk sesaat, wajah-wajah yang sebelumnya dibayangi ketakutan akibat gempa berubah menjadi senyum dan tawa.

Dukungan psikososial ini dinilai penting karena trauma yang dirasakan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan gempa yang baru terjadi.

Sebagian orang tua di wilayah tersebut juga masih memiliki ingatan terhadap bencana tsunami Flores 1992.

Pengalaman traumatis yang pernah dialami generasi sebelumnya menjadi bagian dari kekhawatiran yang turut dirasakan keluarga ketika gempa kembali mengguncang Flores.

Para orang tua pun tampak menemani anak-anak mereka mengikuti kegiatan tersebut. Kehadiran mereka menjadi dukungan tersendiri bagi anak-anak agar dapat kembali merasa aman dan nyaman di tengah situasi pascabencana.

Selain kegiatan psikososial, SFF juga membagikan paket makanan dan minuman kepada anak-anak. Sebanyak 250 paket bantuan disiapkan khusus untuk anak-anak di Dusun Namandoi.

Paket tersebut berisi sejumlah makanan dan minuman, di antaranya; biskuit, Milo, Clevo, dan Dancow.

Sementara itu, untuk roti merupakan bantuan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenPPPA) melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kabupaten Sikka yang selanjutnya di berikan kepada anak-anak melalui komunitas SFF.

Selanjutnya, tim bergerak menuju dusun Nangahale.

Kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah dan memenuhi kebutuhan logistik.

Anak-anak juga membutuhkan perhatian, ruang bermain, pendampingan serta kesempatan untuk kembali tersenyum setelah melewati situasi yang menegangkan.

Di Dusun Namandoi, sore itu, tawa anak-anak menjadi bagian kecil dari proses pemulihan Flores—bahwa di balik luka akibat bencana, selalu ada harapan yang harus dijaga.

Reporter : Faidin

Tiga Tahun Menahan Sakit, Naufal Berharap Uluran Tangan Pemerintah

SIKKA, Bajopos.com | Di tengah hiruk-pikuk kehidupan di posko pengungsian Desa Nangahale, Kabupaten Sikka, sebuah kisah tentang seorang anak berusia tiga tahun bernama Naufal Aldani menyentuh hati.

Sejak lahir, Naufal harus berjuang menghadapi masalah serius pada saluran pencernaannya yang membuat dirinya kesulitan buang air besar (BAB).

Kondisi Naufal terungkap ketika Ibu Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena atau yang akrab disapa Ibu Asti Laka Lena, bersama Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, istri Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, mengunjungi Posko Pengungsian Desa Nangahale, Minggu (23/8/2026) siang.

Di tengah suasana pengungsian akibat gempa, perhatian kedua perempuan yang turut mendampingi masyarakat itu tertuju kepada Naufal yang saat itu berada dalam pelukan ibunya, Aida.

Menurut keterangan keluarga, Naufal mengalami kondisi bawaan sejak lahir yang menyebabkan dirinya tidak dapat BAB secara normal.

Keluarga menyebut Naufal pernah mengalami kondisi yang berkaitan dengan Hirschsprung dan dugaan atresia ani, sementara saat ini anak tersebut disebut memiliki lubang anus tetapi tetap mengalami kesulitan berat ketika BAB.

Untuk membantu mengeluarkan kotorannya, Naufal bahkan disebut harus menggunakan alat bantu melalui lubang anus. Kondisi tersebut membuat kehidupan Naufal dan keluarganya jauh dari kehidupan anak-anak seusianya.

Bagi seorang anak berusia tiga tahun, BAB yang seharusnya menjadi proses alami justru menjadi perjuangan yang harus dihadapi berulang kali.

Di balik tubuh kecil Naufal, ada perjuangan panjang yang belum selesai.

Aida, ibu Naufal, mengaku sangat berharap anaknya dapat menjalani operasi sehingga bisa memperoleh kesembuhan dan menjalani kehidupan sebagaimana anak-anak lainnya.

Namun, harapan itu terbentur kondisi ekonomi keluarga.

Aida bersama suaminya belum mampu membiayai penanganan medis yang dibutuhkan Naufal.

Kisah tersebut sontak mengundang keprihatinan Ibu Asti Laka Lena. Ia kemudian memanggil Kepala Desa Nangahale untuk memastikan kondisi yang dialami Naufal serta mengetahui lebih jauh situasi keluarga tersebut.

Sementara itu, Ny. Fista Sambuari Kago menyampaikan akan melakukan koordinasi bersama warga dan pihak terkait guna mencari solusi bagi penanganan Naufal.

Ia bahkan langsung meminta nomor telepon keluarga agar komunikasi dapat dilakukan dengan lebih mudah dalam upaya membantu penanganan medis anak tersebut.

Di hadapan Aida yang memangku Naufal, Ibu Asti dan Ny. Fista memberikan semangat.

Momen itu menjadi harapan baru bagi keluarga kecil tersebut yang selama tiga tahun menghadapi perjuangan panjang tanpa kepastian kapan anak mereka bisa mendapatkan penanganan yang layak.

Pemerintah Diharapkan Hadir

Kisah Naufal bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang sakit. Ini adalah potret keluarga sederhana yang membutuhkan kehadiran negara ketika kemampuan ekonomi tidak mampu menjangkau biaya pengobatan.

Karena itu, pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi diharapkan tidak berhenti pada kunjungan dan pendataan.

Harapan terbesar keluarga Naufal adalah adanya tindakan nyata, mulai dari pemeriksaan medis menyeluruh, rujukan ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis anak atau bedah anak, hingga memastikan kebutuhan operasi dan perawatan lanjutan dapat dipenuhi.

Penanganan kondisi seperti Hirschsprung atau kelainan anorektal membutuhkan pemeriksaan dan penanganan oleh tenaga medis yang kompeten. Diagnosis pasti pun harus ditegakkan oleh dokter melalui pemeriksaan medis, bukan hanya berdasarkan dugaan keluarga.

Di tengah kondisi pengungsian, kebutuhan Naufal menjadi semakin mendesak. Anak itu membutuhkan perhatian khusus agar kondisi kesehatannya tidak semakin memburuk.

Naufal mungkin hanya seorang anak kecil dari sebuah keluarga sederhana di Nangahale.

Namun, perjuangannya mengingatkan bahwa di tengah bencana dan kesulitan hidup, masih ada anak-anak yang membutuhkan pertolongan untuk mendapatkan hak paling dasar: hidup sehat dan tumbuh sebagaimana anak-anak lainnya.

Kini, harapan itu tertuju kepada pemerintah dan semua pihak yang memiliki kepedulian.

Semoga kunjungan Ibu Asti Laka Lena dan Ny. Fista Sambuari Kago menjadi awal dari jalan panjang menuju kesembuhan Naufal.

Sebab, tidak seharusnya seorang anak berusia tiga tahun terus menanggung sakit hanya karena keluarganya tidak mampu membiayai pengobatan.

Reporter : Faidin

Ibu Gub NTT Minta Koperasi dan Perbankan Beri Relaksasi Pinjaman bagi Pengungsi Gempa Nangahale

SIKKA, Bajopos.com | Ibu Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Ny. Mindriyati Astiningsih atau yang akrab disapa Asti Laka Lena, meminta lembaga keuangan, termasuk koperasi yang menerapkan sistem pinjaman harian, memberikan kelonggaran pembayaran kepada warga terdampak gempa bumi.

Permintaan tersebut disampaikan Ibu Asti saat mengunjungi posko pengungsian mandiri di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Minggu (23/8/2026).

Ibu Asti menilai masyarakat yang saat ini berada di pengungsian sedang menghadapi kondisi sulit dan membutuhkan ruang untuk memulihkan diri, keselamatan keluarga, serta kehidupan ekonominya.

Menurutnya, sejumlah lembaga keuangan dan perbankan pemerintah maupun lembaga keuangan besar telah memberikan kebijakan relaksasi kredit bagi masyarakat terdampak bencana.

Namun, ia menyoroti keberadaan koperasi yang menerapkan sistem pinjaman atau cicilan harian agar mengambil kebijakan serupa.

“Kalau dari lembaga keuangan atau perbankan pemerintah atau yang besar-besar memang sudah memberikan kebijakan untuk memberi kelonggaran, relaksasi untuk masyarakat, termasuk pengungsi yang sekarang sedang mengungsi, untuk sementara tidak membayar kreditnya dulu,” ujar Ibu Asti.

Ia kemudian meminta koperasi harian juga menunjukkan kepedulian terhadap kondisi masyarakat yang sedang terdampak bencana.

“Tetapi yang koperasi harian ini saya minta, kami minta, dan ini sudah kita laporkan juga ke Pak Gubernur, ke Pak Bupati juga, untuk mereka juga mempunyai hati, mempunyai kebijakan yang sama,” tegasnya.

Jangan Kejar Pengungsi Bayar Pinjaman

Ibu Asti menegaskan, masyarakat yang sedang menghadapi masa kebencanaan seharusnya tidak dibebani lagi dengan tekanan pembayaran pinjaman.

Ia meminta para penagih memberikan kesempatan kepada warga untuk fokus pada keselamatan dan pemulihan kehidupan mereka.

“Semua sedang terdampak, sedang kesulitan. Jadi biarkan masyarakat bisa menjalani keprihatinan masa kebencanaan ini dengan tenang, dengan fokus pada keselamatan diri. Jangan kejar-kejar mereka,” katanya.

Bahkan, Ibu Asti meminta masyarakat melaporkan apabila ada pihak koperasi atau penagih yang tetap melakukan penagihan secara agresif kepada warga terdampak.

“Saya sudah minta, siapa yang kejar, tulis namanya, lapor ke Bapak Desa. Bapak Desa akan urus sampai dengan tingkat kabupaten,” ujarnya.

Ia menambahkan, apabila terdapat pihak yang tidak mengindahkan kondisi kemanusiaan tersebut, pemerintah dapat mengambil langkah lebih lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.

Pengungsi Mandiri Jadi Perhatian

Dalam kunjungannya, Ibu Asti juga menyoroti kondisi pengungsi mandiri yang tersebar di berbagai lokasi. Menurutnya, kondisi geografis NTT menjadi tantangan tersendiri dalam menjangkau seluruh warga terdampak.

Ia menyebut pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten terus berupaya menjangkau masyarakat di enam kabupaten yang paling terdampak gempa.

“Kalau yang namanya pengungsian pasti masih dalam keterbatasan. Tapi saya pikir dari Bapak Desa, seluruh perangkat, kemudian relawan dan tenaga kesehatan juga sudah ada, sudah mengupayakan yang terbaik,” katanya.

Ibu Asti mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat di tengah keterbatasan. Menurutnya, kondisi sulit tidak boleh membuat ada warga yang terabaikan.

“Semua supaya tidak ada satu pun yang kemudian ditinggalkan. Semua makan, meskipun sedikit semua makan,” ujarnya.

Ia berharap kondisi kebencanaan segera berlalu sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas dan memulihkan kehidupan ekonomi mereka.

Bantuan Harus Berbasis Data

Terkait warga yang mengungsi secara mandiri di rumah keluarga atau rumah warga lainnya, Ibu Asti menegaskan penyaluran bantuan harus tetap berbasis data.

Menurutnya, struktur pemerintahan hingga tingkat dusun, RT dan RW memiliki peran penting untuk mendata warga yang terdampak, termasuk mereka yang tidak tinggal di tenda atau posko tetapi belum mampu menjalankan aktivitas ekonomi secara normal.

“Semua kalau bekerja harus berdasarkan data. Jadi pasti kita lewat semua struktur yang ada, yang sudah ada,” jelasnya.

Ia mengatakan, warga yang tetap tinggal di rumah tetapi kehilangan kemampuan untuk beraktivitas dan memenuhi kebutuhan ekonomi juga harus masuk dalam pendataan.

“Kalau misalnya dia tahu ada warganya, ada yang masih mengungsi, maksudnya masih tetap tinggal di tempatnya, tetapi dia belum bisa beraktivitas, menjalankan aktivitas ekonominya, itu didata juga karena mereka kesulitan,” pungkasnya.

Reporter : Faidin

Danlanal Maumere Tegaskan Bantuan Gempa Agar Tepat Sasaran dan Dibagi Adil, Jangan Ada Pengungsi Terlewat

SIKKA, Bajopos.com | Penyaluran bantuan bagi warga terdampak gempa bumi Flores di sejumlah posko pengungsian di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, mendapat perhatian serius dari Komandan Lanal (Danlanal) Maumere, Kolonel Laut (P) Yoyok Ary N.A.S., M.Tr.Opsla.

Pesan tegas disampaikan Komandan Lanal Maumere di tengah proses pendistribusian bantuan CSR Telkomsel bersama Lanal Maumere kepada para pengungsi, Jumat (21/8/2026).

Yoyok menekankan agar bantuan yang telah disalurkan benar-benar diterima oleh masyarakat yang terdampak, dibagikan secara adil dan tidak menimbulkan ketimpangan di antara para pengungsi.

Pesan tersebut disampaikan saat dirinya bersama jajaran Lanal Maumere mendampingi distribusi bantuan di sejumlah titik pengungsian, termasuk Desa Nangahale, Posko Tanjung Darat, Posko Kantor Kecamatan Talibura, Posko Eks Pasar Talibura hingga Desa Henga, Dusun Henga.

Dalam kesempatan tersebut, perhatian Komandan Lanal tidak hanya tertuju pada proses pengangkutan dan penyerahan bantuan. Ia juga menyambangi langsung para pengungsi dan berkomunikasi dengan pihak yang bertanggung jawab di lokasi.

Jangan Sampai Bantuan Tidak Merata

Komandan Lanal Maumere meminta kepala desa dan pengelola posko memastikan bantuan yang diterima dari pihak luar disalurkan kepada warga sesuai data dan kondisi riil di lapangan.

Pesan tersebut menjadi penting mengingat sebelumnya sempat muncul keluhan dan protes warga terkait pembagian bantuan di sejumlah lokasi pengungsian.

Menurut Yoyok, bantuan kemanusiaan yang datang merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang sedang mengalami musibah. Karena itu, proses pembagiannya harus dilakukan secara transparan, adil dan mengutamakan warga yang benar-benar membutuhkan.

Ia meminta tidak boleh ada warga terdampak yang terlewatkan, sementara bantuan justru menumpuk atau tidak tersalurkan kepada penerima yang membutuhkan.

Komandan Lanal Turun Langsung ke Posko

Kolonel Laut (P) Yoyok Ary N.A.S. bersama istrinya, Ny. Diani Yoyok Ary, Ketua Cabang 3 Daerah Kodaeral VII, turut menyambangi para pengungsi dari posko ke posko.

Keduanya tampak memberikan motivasi kepada warga yang masih bertahan di tenda pengungsian setelah gempa yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.

Suasana haru terlihat ketika Yoyok duduk bersama para pengungsi. Perhatiannya tertuju kepada para lansia dan anak-anak yang masih harus menjalani hari-hari di tengah keterbatasan di lokasi pengungsian.

Kehadiran tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan moral kepada warga yang hingga hari ketujuh pascagempa masih belum sepenuhnya dapat kembali ke rumah.

Kawal Distribusi Bantuan Telkomsel

Dalam kegiatan tersebut, Lanal Maumere membantu distribusi bantuan dari program CSR Telkomsel Peduli Gempa Flores 2026.

Bantuan yang disalurkan antara lain makanan ringan, mi instan, air mineral, tikar, selimut, obat-obatan dan vitamin.

Bantuan diangkut menggunakan mobil truk dan mobil box Lanal Maumere untuk kemudian didistribusikan ke sejumlah titik pengungsian.

Territory Mobile Consumer Business (TMCB)/PIC Telkomsel, M. Iskandar Syah, sebelumnya menjelaskan bahwa distribusi bantuan dilakukan berdasarkan koordinasi dengan pemerintah daerah dan koordinator posko.

Telkomsel juga telah berpesan agar bantuan yang disalurkan dapat diterima secara merata dan tepat sasaran.

Sementara itu, kehadiran Lanal Maumere menjadi bagian dari upaya memastikan proses distribusi berjalan dengan baik di lapangan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut ibu-ibu anggota Lanal Maumere (Jalasenastri), serta prajurit Lanal Maumere lainnya.

Pesan Komandan Lanal Maumere menjadi pengingat bahwa dalam situasi bencana, bantuan bukan sekadar soal jumlah yang disalurkan, tetapi bagaimana bantuan tersebut benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan secara adil dan tepat sasaran.

Reporter : Faidin

Kolaborasi Telkomsel dan Lanal Maumere Sambungkan Senyuman Melalui Program CSR, Peduli Gempa Flores

SIKKA, Bajopos.com | Kepedulian terhadap warga terdampak gempa bumi Flores terus ditunjukkan Telkomsel melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) atau (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan) Peduli Gempa Flores 2026.

Tak hanya menyasar wilayah perkotaan, bantuan Telkomsel didorong hingga ke titik-titik pengungsian yang berada jauh dari pusat Kabupaten Sikka.

Pada Jumat (21/8/2026), atau hari ketujuh pascagempa, Telkomsel bersama Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Maumere menyambangi sejumlah posko pengungsian di Kecamatan Talibura, termasuk Desa Nangahale.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari distribusi CSR Telkomsel yang dilakukan secara bertahap untuk memastikan bantuan menjangkau masyarakat yang terdampak langsung bencana.

Territory Mobile Consumer Business (TMCB)/PIC Telkomsel, M. Iskandar Syah, mengatakan penyaluran bantuan kali ini merupakan gelombang kedua atau bagian kedua dari program CSR Telkomsel untuk korban gempa.

“Jadi hari ini kami habis kegiatan CSR dari Telkomsel Pusat. Kebetulan ini gelombang kedua atau part kedua dan alhamdulillah kami juga didukung oleh Lanal Maumere dalam distribusi sumbangan ke posko-posko,” ujar Iskandar kepada awak media.

Menurutnya, data penerima bantuan diperoleh melalui koordinasi dengan pemerintah daerah sehingga pendistribusian diarahkan ke titik-titik pengungsian yang membutuhkan.

“Bagian data ini kami bekerja sama dengan Pemda. Untuk yang kedua ini kami ke arah timur,” jelasnya.

Nangahale Jadi Titik Awal

Desa Nangahale menjadi titik pertama yang disambangi Telkomsel dan Lanal Maumere. Berdasarkan data yang diterima Telkomsel, terdapat sekitar 3.345 jiwa yang mengungsi di wilayah tersebut.

Dari Nangahale, rombongan kemudian bergerak menuju Kecamatan Talibura. Di wilayah ini bantuan didistribusikan ke tiga titik, yakni Posko Tanjung Garat, Posko Kantor Kecamatan Talibura, dan Posko Eks Pasar Talibura.

Perjalanan distribusi kemudian berlanjut ke titik terakhir di Desa Henga, Dusun Henga.

Iskandar menegaskan, Telkomsel berupaya agar program CSR tersebut tidak hanya berhenti di wilayah yang mudah dijangkau, tetapi benar-benar sampai kepada masyarakat terdampak.

“Dari segi masyarakat yang terdampak atau yang mengungsi jelas, dan ini juga salah satu upaya kami untuk menyalurkan program CSR sampai ke masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Ia menyebut bantuan yang diberikan merupakan bentuk tanggung jawab Telkomsel dalam menjalankan mandat dari pusat.

Namun, Iskandar mengingatkan bahwa bantuan tersebut bukan dimaksudkan untuk menggantikan seluruh kebutuhan pengungsi.

“Bantuan ini bukan untuk menggantikan kebutuhan sehari-hari atau memenuhi seluruh kebutuhan sehari-hari, melainkan sebagai pelengkap apa yang kurang. Setidaknya yang kurang kita cukupi,” ujarnya.

Makanan, Air Mineral hingga Obat dan Vitamin

Dalam program CSR tersebut, Telkomsel menyalurkan berbagai kebutuhan dasar pengungsi. Bantuan antara lain berupa makanan ringan, mi instan, air mineral, tikar, selimut, obat-obatan serta vitamin.

Menurut Iskandar, pemberian vitamin dan obat-obatan menjadi penting karena kondisi pengungsian yang berlangsung berhari-hari dapat menyebabkan warga mengalami berbagai kekurangan, terutama kebutuhan penunjang kesehatan.

“Kita tahu di tempat pengungsian pasti ada kekurangan vitamin. Kami berharap vitamin ataupun obat-obatan yang kami berikan benar-benar bisa digunakan oleh pengungsi sebagai sarana untuk mereka tetap sehat,” katanya.

Memasuki hari ketujuh pascagempa, Telkomsel juga berharap kondisi segera pulih sehingga masyarakat dapat kembali ke rumah masing-masing.

“Kita berdoa bersama agar bencana ini cepat selesai, disudahi dan tidak terjadi lagi. Kita berharap semua pengungsi bisa kembali ke rumah dengan nyaman, kembali ke keluarga, sehingga bisa menjalani hidup seperti biasanya,” tutur Iskandar.

CSR Telkomsel Menjangkau Sikka, Nagekeo hingga Reo

Program Peduli Gempa Flores 2026 tidak hanya menyasar Kabupaten Sikka.

Iskandar menjelaskan, distribusi CSR Telkomsel juga dilakukan di sejumlah wilayah terdampak lainnya di Flores, termasuk Nagekeo, Manggarai dan kawasan Reo.

“Teman-teman yang lain tersebar di Nagekeo. Itu yang CSR pertama. Yang CSR kedua sedang berlangsung untuk area Manggarai dan juga sekitarnya sampai ke Reo. Dan juga Mbay yang kemarin terkena bencana,” jelasnya.

Telkomsel juga menyiapkan distribusi lanjutan ke wilayah barat Flores. Menurut Iskandar, rencana tersebut akan dikoordinasikan setelah pihak manajemen Telkomsel melakukan kunjungan ke Labuan Bajo.

Jaringan Telkomsel Dipastikan Pulih 100 Persen

Selain bantuan logistik, Telkomsel juga menaruh perhatian besar terhadap keberlangsungan jaringan telekomunikasi pascagempa.

Iskandar mengatakan, sejak hari pertama setelah bencana, Telkomsel langsung melakukan pemulihan jaringan.

“Di hari H1 setelah bencana, kami sudah mulai melakukan perbaikan dari 85 persen. Sampai H3 kami sudah bisa mengklaim 100 persen karena kami sudah memastikan seluruh site ataupun BTS yang tersebar di Flores ini bisa pulih semuanya,” ungkapnya.

Menurut dia, pemulihan jaringan menjadi bagian penting dalam penanganan bencana karena komunikasi sangat dibutuhkan untuk koordinasi, penyelamatan, distribusi bantuan maupun memastikan kondisi masyarakat di daerah terdampak.

Telkomsel juga berkoordinasi dengan PLN karena operasional BTS membutuhkan pasokan listrik. Dalam kondisi darurat, BTS juga memiliki cadangan baterai yang hanya mampu bertahan selama beberapa jam.

“Makanya saling kolaborasi. Kita membutuhkan PLN, PLN juga membutuhkan kita untuk sarana komunikasi mereka,” ujarnya.

Selain pemulihan jaringan, Telkomsel juga sempat memberikan layanan internet gratis, telepon gratis dan SMS gratis pada hari pertama setelah gempa. Program tersebut diberikan sebagai bagian dari upaya menjaga komunikasi masyarakat di wilayah bencana tetap tersambung.

Telkomsel Minta Bantuan Tepat Sasaran

Terkait mekanisme penyaluran, Iskandar menjelaskan Telkomsel tidak menyerahkan seluruh bantuan secara langsung kepada masyarakat karena distribusi dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan koordinator posko.

Menurutnya, data penerima dan pembagian bantuan menjadi kewenangan koordinator posko sesuai mekanisme yang telah ditetapkan.

“Untuk penyaluran bantuan sebenarnya ada sangkut pautnya dengan Pemda. Jadi kami tidak bisa menyalurkan secara langsung karena ada aturan dari BPBD agar bantuan disalurkan ke koordinator posko. Dari koordinator posko yang mendata dan membagikan bantuan tersebut,” jelasnya.

Pernyataan ini menjadi penting di tengah munculnya keluhan dari sebagian warga terkait penyaluran bantuan yang dinilai belum merata dan terdapat warga yang mengaku belum mendapatkan bantuan atau menerima bantuan dalam jumlah yang tidak sebanding dengan kebutuhan.

Iskandar mengatakan, Telkomsel telah menyampaikan pesan kepada penanggung jawab posko agar bantuan yang diterima benar-benar dibagikan secara merata.

“Kami memesankan kepada penanggung jawab posko langsung di depan pengungsi bahwa kami berharap sekali bantuan ini bisa merata dan juga tepat sasaran. Apapun yang tersisa harus dibagikan, tidak ada yang tersisa di tempat pengumpulan bantuan tersebut,” tegasnya.

Lanal Maumere Ikut Kawal Distribusi

Dalam kegiatan tersebut, Telkomsel mendapat dukungan dari Lanal Maumere. Komandan Lanal Maumere, Kolonel Laut (P) Yoyok Ary N.A.S., M.Tr.Opsla, didampingi istrinya, Ny. Diani Yoyok Ary, Ketua Cabang 3 Daerah Kodaeral VII, turut menyambangi sejumlah posko pengungsian.

Keduanya tampak memberikan motivasi kepada para pengungsi dari satu posko ke posko lainnya.

Di salah satu lokasi, Komandan Lanal bahkan duduk bersama para pengungsi. Suasana haru terlihat ketika perhatiannya tertuju kepada para lansia dan anak-anak yang masih bertahan di tenda pengungsian setelah gempa mengguncang Flores.

Di tengah sorotan warga terhadap pembagian bantuan yang sebelumnya sempat diwarnai protes, Komandan Lanal Maumere juga memberikan pesan kepada kepala desa agar memastikan bantuan yang diterima masyarakat dibagikan secara adil dan tepat sasaran.

Dalam pendistribusian tersebut turut hadir ibu-ibu anggota Lanal Maumere (Jalasenastri), serta prajurit Lanal Maumere lainnya.

Bantuan diangkut menggunakan mobil truk Lanal Maumere dan mobil box Lanal Maumere, kemudian didistribusikan ke titik-titik pengungsian yang telah ditentukan.

Melalui program CSR Peduli Gempa Flores 2026 ini, Telkomsel tidak hanya berupaya menghadirkan bantuan kebutuhan dasar bagi para pengungsi, tetapi juga memastikan konektivitas komunikasi tetap hidup di tengah situasi bencana.

Bagi Telkomsel, tersambungnya komunikasi menjadi bagian penting dari upaya pemulihan, sementara bantuan kemanusiaan diharapkan dapat menjadi penguat bagi warga Flores yang masih bertahan di pengungsian.

Telkomsel Sambungkan Senyuman, dari konektivitas hingga kepedulian untuk warga terdampak gempa Flores.

Reporter : Faidin

Pengungsi di Nangahale Digigit Ular hingga Ada yang Meninggal, Perhatian Pemda Sikka Hanya di Posko Lapangan Samador

SIKKA, Bajopos.com | Kondisi pengungsian warga terdampak gempa bumi di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, kembali memunculkan keprihatinan.

Minimnya fasilitas pengungsian yang memadai dinilai membuat warga berada dalam kondisi rentan, bahkan memunculkan insiden gigitan ular hingga seorang pengungsi meninggal dunia.

Informasi yang dihimpun Bajopos.com dari salah seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan menyebutkan, seorang perempuan bernama Hasmida, warga Desa Nangahale, mengalami gigitan ular di sekitar lokasi pengungsian pada Rabu malam, 19 Agustus 2026.

Korban kemudian mendapat penanganan di Puskesmas Watubaing sebelum dirujuk ke RSUD Tc. Hillers Maumere. Hingga Kamis, 20 Agustus 2026, perkembangan kondisi kesehatan Hasmida belum diketahui secara pasti.

Warga tersebut menilai kejadian itu menjadi alarm serius bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka agar tidak hanya berfokus pada penyaluran bantuan di pusat kota, tetapi juga memastikan keamanan dan keselamatan warga yang bertahan di lokasi-lokasi pengungsian terpencil.

“Di Posko Pengungsian Nangahale ada yang digigit ular sampai dirujuk dari posko, lalu dibawa ke Puskesmas kemudian di rujuk ke rumah sakit Umum (RSUD Tc. Hillers Maumere, red) ” ujar sumber tersebut.

Menurutnya, persoalan lain yang sangat memprihatinkan adalah keterbatasan fasilitas tempat tinggal sementara.

Sebagian warga masih bertahan dengan kondisi seadanya, menggunakan terpal dan kain sebagai alas maupun pelindung dari cuaca malam.

Kondisi tersebut, kata dia, menjadi semakin memprihatinkan karena warga Nangahale bukan hanya menghadapi trauma akibat gempa bumi terbaru, tetapi juga memiliki pengalaman traumatis akibat tsunami Flores 1992.

Sebab, dari sekian pengungsi dewasa hingga orang tua di Nangahale hampir seluruhnya merupakan korban Tsunami 1992 di Pulau Babi.

Pengungsi Meninggal

Sorotan semakin tajam setelah seorang warga bernama Usman, kelahiran Pulau Beter, 31 Desember 1959, meninggal dunia pada Kamis pagi, 20 Agustus 2026, diperkirakan pukul 12.36.

Usman diketahui memiliki riwayat sakit sebelumnya. Namun, menurut informasi keluarga dan warga di lokasi, kondisi kesehatannya memburuk selama berada di pengungsian.

Di lokasi pengungsian, Usman disebut hanya tidur beralaskan terpal dan kain seadanya dengan kondisi tempat terbuka. Pada malam hari, kondisi tersebut membuat tubuhnya rentan terhadap udara dingin.

Ia kemudian mengalami sesak napas dan batuk-batuk hingga terjatuh di lokasi pengungsian.

Warga selanjutnya membawa Usman ke Puskesmas Watubaing untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, nyawanya tidak tertolong dan ia meninggal dunia pada Kamis pagi.

Meski demikian, warga tidak serta-merta menyimpulkan bahwa kematian Usman semata-mata disebabkan oleh kondisi pengungsian. Riwayat penyakit yang telah dimiliki sebelumnya tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Namun, keterbatasan fasilitas pengungsian dinilai turut menjadi persoalan serius yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah.

“Kasihan. Setidaknya ada perhatian dari pemerintah agar warga merasa aman selama berada di pengungsian,” ungkap sumber tersebut.

Bantuan Dinilai Terlalu Terpusat

Di tengah kondisi tersebut, muncul kritik terhadap pola penyaluran bantuan Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka yang dinilai masih terlalu terpusat di wilayah perkotaan, khususnya di Lapangan Samador Maumere.

Warga mempertanyakan mengapa konsentrasi bantuan lebih banyak diarahkan ke pusat kota, sementara masyarakat di wilayah terdampak seperti Nangahale masih menghadapi persoalan mendasar, mulai dari tempat berteduh, alas tidur, keamanan lingkungan pengungsian hingga perlindungan terhadap kelompok rentan.

“Perhatian pemerintah hari ini terpusat lebih banyak di kota, di Lapangan Samador. Sementara pengungsi yang sangat merasakan dampak dan trauma akibat gempa serta tsunami 1992 justru ada di Desa Nangahale,” kata sumber tersebut.

Kondisi ini dinilai perlu menjadi bahan evaluasi Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka.

Penanganan bencana tidak cukup hanya dengan memastikan bantuan tersedia, tetapi juga memastikan bantuan tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat yang paling membutuhkan dan berada di lokasi pengungsian yang rawan.

Terlebih, Desa Nangahale merupakan salah satu wilayah yang memiliki catatan sejarah kelam tsunami Flores 1992.

Trauma masyarakat terhadap bencana laut dan gempa masih menjadi bagian dari pengalaman kolektif warga hingga saat ini.

Karena itu, warga berharap Pemda Sikka tidak melihat penanganan pengungsi hanya dari jumlah bantuan yang telah disalurkan, tetapi juga dari aspek keselamatan, kesehatan, tempat tinggal sementara dan perlindungan warga selama berada di pengungsian.

Insiden gigitan ular terhadap Hasmida dan meninggalnya Usman menjadi pengingat bahwa keselamatan pengungsi harus menjadi prioritas.

Pemerintah daerah diharapkan segera memastikan ketersediaan tenda yang layak, terpal yang memadai, penerangan, sanitasi, fasilitas kesehatan serta pengamanan lingkungan di setiap titik pengungsian, termasuk di Desa Nangahale.

Warga juga berharap distribusi bantuan tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota, melainkan menjangkau desa-desa terdampak yang masyarakatnya masih bertahan di pengungsian dalam kondisi serba terbatas.

Reporter : Faidin

Hari Kelima, Pengungsi Gempa di Nangahale, Warga Dusun Namandoi Keluhkan Bantuan Tak Merata “Perangkat Desa Urus Keluarga Saja”

SIKKA, Bajopos.com | Memasuki hari kelima pascagempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, kondisi para pengungsi di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, masih memprihatinkan.

Hingga Rabu, 19 Agustus 2026, para warga terdampak yang mengungsi di sejumlah titik di Desa Nangahale, mengaku belum mendapatkan tenda pengungsian. Mereka masih bertahan dengan perlengkapan seadanya, termasuk terpal yang digunakan sebagai alas maupun pelindung sementara.

Kondisi tersebut paling banyak dikeluhkan warga terdampak asal Dusun Namandoi, Desa Nangahale.

Mereka mempertanyakan pola penyaluran bantuan yang dinilai belum merata, terutama terkait pembagian terpal dan kebutuhan dasar lainnya.

Sejumlah warga bahkan menilai terdapat perlakuan yang tidak adil dalam pendistribusian bantuan kepada para pengungsi.

“Kepala Desa hanya urus keluarganya, perangkat desa lainnya juga sama, hanya urus keluarga masing-masing,” keluh warga kepada media ini.

Keluhan itu muncul karena kebutuhan warga di lokasi pengungsian tidak seluruhnya dapat terpenuhi secara merata.

“Yang kami persoalkan bukan bantuan siapa yang dapat dan siapa yang tidak. Kami hanya ingin pembagian dilakukan secara merata dan  adil karena semua yang mengungsi sama-sama terdampak,” demikian keluhan warga yang dihimpun di lokasi pengungsian.

Ketiadaan tenda menjadi persoalan serius karena para pengungsi harus bertahan selama berhari-hari dalam kondisi terbuka.

Terpal yang tersedia pun sebagian hanya digunakan sebagai alas di tanah, sementara perlindungan yang layak dari panas, hujan, maupun angin masih menjadi kebutuhan mendesak.

Situasi ini semakin memprihatinkan karena kelompok rentan turut berada di tengah pengungsian. Anak-anak dalam jumlah banyak harus menjalani hari-hari mereka di lokasi pengungsian dengan fasilitas terbatas.

Selain anak-anak, terdapat pula penyandang disabilitas yang ikut mengungsi. Kondisi mereka membutuhkan perhatian dan fasilitas khusus agar dapat menjalani masa pengungsian secara aman dan layak.

Kondisi tersebut membuat warga berharap pemerintah dan seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan bencana tidak hanya berfokus pada pendataan, tetapi juga memastikan bantuan benar-benar sampai kepada seluruh warga yang membutuhkan.

Bagi warga Dusun Namandoi, persoalan tenda bukan sekadar kebutuhan tempat berteduh. Setelah lima hari meninggalkan rumah akibat gempa, mereka membutuhkan kepastian bahwa keselamatan dan kebutuhan dasar seluruh pengungsi diperhatikan secara adil.

Apalagi, trauma akibat gempa masih dirasakan warga. Sebagian memilih tetap bertahan di lokasi pengungsian karena khawatir kembali ke rumah, sementara fasilitas pengungsian yang tersedia belum sepenuhnya mampu memberikan rasa aman.

Warga berharap pemerintah segera turun langsung melihat kondisi pengungsian di Dusun Namandoi dan memastikan tidak ada kelompok pengungsi yang terlewat dalam distribusi bantuan.

“Jangan sampai ada warga yang merasa dianaktirikan. Kami semua korban gempa dan sama-sama membutuhkan bantuan,” ujar warga yang enggan di sebut namanya ditengah kondisi pengungsian yang memasuki hari kelima.

Situasi di Nangahale menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada evakuasi warga. Perlindungan terhadap kelompok rentan, penyediaan tenda yang layak, pemerataan bantuan, serta pengawasan distribusi menjadi bagian penting dari tanggung jawab penanganan pascabencana.

Hingga hari kelima, warga Dusun Namandoi masih menunggu perhatian dan tindakan nyata agar mereka tidak terus bertahan hanya dengan terpal seadanya di tengah kondisi yang serba terbatas.

Reporter : Faidin

Hari Ketiga Mengungsi, 27 Ibu Hamil di Nangahale Masih Tanpa Tenda Pemerintah

Talibura, Bajopos.com | Memasuki hari ketiga pascagempa bumi M7,7, sebanyak 27 ibu hamil masih bertahan bersama ratusan warga lainnya di lokasi pengungsian Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Meski angka ini masih ada yang menyebut bahwa ibu hamil yang berada dalam pengungsian hanya terdapat 4 orang, jumlah lainnya memilih bertahan di kediaman masih-masing.

Ironisnya, hingga hari ini, Senin, 17 Agustus 2026, para pengungsi tersebut belum mendapatkan tenda pengungsian yang disiapkan pemerintah. Warga masih bertahan dengan fasilitas seadanya, sementara terpal digunakan sebagai alas untuk tidur dan beristirahat.

“Ada satu orang Ibu hamil dalam keadaan di infus karena sakit tanpa tenda pengungsian. Kasihan,” ujar warga yang enggan disebut namanya.

Kondisi ini menjadi sorotan serius karena para pengungsi bukan hanya orang dewasa dalam kondisi sehat. Di antara 393 kepala keluarga atau 1.551 jiwa yang mengungsi, terdapat 27 ibu hamil, 75 ibu menyusui, 179 lansia, 90 balita, 603 anak-anak, serta 19 penyandang disabilitas.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Berdasarkan pemutakhiran BMKG, pusat gempa berada di laut sekitar 30 kilometer arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.

Guncangan kuat itu dirasakan di sejumlah wilayah Flores, termasuk Kabupaten Sikka.

Tiga Hari Bertahan dengan Fasilitas Seadanya

Sejak meninggalkan rumah setelah gempa, warga Nangahale memilih bertahan di lima titik pengungsian yang dianggap lebih aman.

Namun hingga hari ketiga, belum tersedianya tenda pengungsian dari pemerintah membuat warga masih mengandalkan fasilitas yang mereka miliki.

Terpal digunakan sebagai alas tidur dan tempat beristirahat. Kondisi tersebut tentu belum memberikan perlindungan sebagaimana fungsi tenda pengungsian.

Terlebih, warga harus menghadapi kemungkinan panas, hujan, angin, serta kondisi lingkungan lainnya selama berada di lokasi pengungsian.

Situasi menjadi semakin memprihatinkan bagi 27 ibu hamil yang membutuhkan tempat istirahat yang lebih aman dan nyaman.

1.551 Jiwa Tersebar di Lima Titik

Pendataan pengungsian mandiri masyarakat Desa Nangahale mencatat sebanyak 393 KK atau 1.551 jiwa mengungsi.

Jumlah tersebut terdiri atas 762 laki-laki dan 768 perempuan.

Lima titik pengungsian tersebut yakni:

Posko 1 Bukit Tujabao: 21 KK/69 jiwa.
Posko 2 Gereja Nangahale: 17 KK/47 jiwa.
Posko 3 belakang SMK Bagian Timur: 154 KK/610 jiwa.
Posko 4 belakang SMK Bagian Barat: 70 KK/350 jiwa.
Posko 5 belakang SMP 46 Nangahale: 131 KK/475 jiwa.

Posko 3 menjadi lokasi dengan jumlah pengungsi terbanyak, mencapai 610 jiwa.

Mengapa Tenda Belum Tersedia?

Informasi yang diterima Bajopos.com sebelumnya menyebutkan bahwa salah satu kendala penyaluran tenda adalah rekapitulasi laporan dari Kecamatan Talibura belum diterima BPBD Kabupaten Sikka, sementara laporan dari Desa Nangahale disebut telah dikirimkan.

Jika persoalan tersebut menjadi penyebab belum tersalurkannya tenda hingga hari ketiga, kondisi ini tentu perlu segera mendapat perhatian.

Sebab dalam situasi bencana, proses administrasi dan koordinasi semestinya berjalan cepat mengikuti kebutuhan warga di lapangan.

Apalagi, jumlah pengungsi sudah jelas dan lokasi pengungsian telah diketahui.

Camat Talibura Belum Memberikan Penjelasan

Terkait persoalan tersebut, Camat Talibura belum memberikan penjelasan kepada media ini.

Upaya konfirmasi telah dilakukan, namun nomor telepon Camat Talibura tidak dapat dihubungi.

Karena itu, informasi mengenai kendala pelaporan dari tingkat kecamatan hingga BPBD belum dapat dikonfirmasi langsung kepada pihak kecamatan.

Media ini tetap memberikan ruang kepada Pemerintah Kecamatan Talibura maupun BPBD Kabupaten Sikka untuk menjelaskan kondisi tersebut, termasuk langkah yang sedang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan warga Nangahale.

27 Ibu Hamil Menjadi Sorotan

Kondisi 27 ibu hamil di lokasi pengungsian menjadi bagian yang paling membutuhkan perhatian.

Mereka tidak hanya membutuhkan makanan dan air minum, tetapi juga tempat beristirahat yang layak serta akses terhadap layanan kesehatan.

Dalam kondisi pascabencana, kebutuhan ibu hamil tidak dapat disamakan dengan pengungsi lainnya.

Apabila harus bertahan berhari-hari tanpa tempat perlindungan yang memadai, kondisi tersebut berpotensi menambah beban fisik dan psikologis.

Karena itu, pemerintah diharapkan segera memastikan tersedianya tenda pengungsian atau tempat perlindungan yang layak bagi seluruh warga, terutama kelompok rentan.

10 Rumah Warga Mengalami Kerusakan

Selain persoalan pengungsian, pendataan sementara juga mencatat 10 rumah warga mengalami kerusakan.

Kesepuluh kepala keluarga tersebut yakni Sulman, Tahrip, Nasring, Kasahir, Hamsani, Tahap, Rawine, Risal, Halija, dan Indra.

Enam warga berada di Dusun Namandoi dan empat lainnya berada di Dusun Nangahale.

Data tersebut masih memerlukan verifikasi untuk mengetahui tingkat kerusakan masing-masing rumah dan memastikan apakah bangunan masih layak dihuni.

Trauma Pulau Babi Membuat Warga Memilih Mengungsi

Keputusan warga untuk bertahan di pengungsian juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah bencana Pulau Babi.

Pada 12 Desember 1992, gempa bumi dahsyat disusul tsunami melanda wilayah Flores bagian timur.

Berdasarkan data dalam laporan masyarakat, sebanyak 263 orang meninggal dunia dari sekitar 700 penduduk Pulau Babi.

Warga yang selamat kemudian dipindahkan, termasuk ke Desa Nangahale.

Pengalaman tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat.

Karena itu, ketika gempa M7,7 kembali mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, sebagian warga memilih tidak mengambil risiko dengan tetap berada di rumah.

Mereka membawa keluarga dan memilih bertahan di lokasi yang dianggap lebih aman.

Pemerintah Diminta Segera Hadir

Hari ketiga pengungsian seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk memastikan seluruh kebutuhan dasar warga telah terpenuhi.

Dengan jumlah 1.551 jiwa, pemerintah perlu memastikan ketersediaan tenda atau tempat perlindungan, makanan, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, kebutuhan bayi dan anak-anak, serta perlindungan khusus bagi kelompok rentan.

Khusus 27 ibu hamil, kebutuhan tempat berteduh yang layak tidak semestinya menunggu lebih lama.

Warga telah memilih menyelamatkan diri dari ancaman gempa. Kini mereka membutuhkan pemerintah untuk memastikan bahwa tempat mereka mengungsi juga aman dan layak.

Tiga hari sudah mereka bertahan. Terpal masih menjadi alas. Tenda pemerintah belum tersedia. Dan di antara mereka, 27 ibu hamil masih menunggu tempat perlindungan yang layak.

Persoalannya kini bukan lagi sekadar soal data pengungsi.

Ini tentang seberapa cepat pemerintah hadir ketika warganya sedang membutuhkan perlindungan.

Reporter : Faidin

1.551 Warga Nangahale di Pengungsian Tanpa Tenda Jadi dari Pemerintah, Warga Tidur Pakai Terpal

Talibura, Bajopos.com | Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, membuat ratusan keluarga di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, meninggalkan rumah dan mengungsi ke sejumlah lokasi yang dianggap lebih aman.

Berdasarkan pemutakhiran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut berpusat di laut sekitar 30 kilometer arah timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.

Guncangan kuat tersebut turut dirasakan di Kabupaten Sikka. Di Desa Nangahale, kepanikan warga diperparah oleh pengalaman traumatis masyarakat yang pernah menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami Pulau Babi pada 12 Desember 1992.

Kini, setelah gempa kembali mengguncang Flores, sebanyak 393 kepala keluarga (KK) atau 1.551 jiwa memilih mengungsi secara mandiri dan tersebar di lima titik pengungsian.

Tenda Pengungsian Belum Ada

Namun, di tengah kondisi tersebut, hingga saat ini belum tersedia tenda pengungsian yang disiapkan pemerintah untuk warga di lokasi-lokasi pengungsian tersebut.

Hingga memasuki hati kedua pengungsian pasca gempa, warga terpaksa bertahan dengan fasilitas seadanya. Terpal yang tersedia digunakan terutama sebagai alas untuk tidur dan beristirahat, sementara warga masih membutuhkan tempat perlindungan yang lebih layak untuk menghadapi situasi pascagempa.

393 KK dan 1.551 Jiwa Mengungsi

Berdasarkan pendataan pengungsian mandiri masyarakat Desa Nangahale, terdapat 393 KK atau 1.551 jiwa yang tersebar di lima titik.

Jumlah tersebut terdiri atas 762 laki-laki dan 768 perempuan.

Sementara kelompok rentan yang tercatat meliputi 27 ibu hamil, 75 ibu menyusui, 179 lansia, 90 balita, 603 anak-anak, serta 19 penyandang disabilitas.

Lima titik pengungsian tersebut adalah:

Posko 1 Bukit Tujabao: 21 KK atau 69 jiwa. Posko 2 Gereja Nangahale: 17 KK atau 47 jiwa. Posko 3 belakang SMK Bagian Timur: 154 KK atau 610 jiwa. Posko 4 belakang SMK Bagian Barat: 70 KK atau 350 jiwa. Posko 5 belakang SMP 46 Nangahale: 131 KK atau 475 jiwa.

Posko 3 menjadi lokasi dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 610 jiwa dari 154 KK, disusul Posko 5 dengan 475 jiwa dari 131 KK.

Besarnya jumlah pengungsi tersebut membuat kebutuhan akan tempat perlindungan yang layak menjadi semakin mendesak.

Belum Ada Tenda Pemerintah, Warga Gunakan Terpal sebagai Alas

Kondisi di lokasi pengungsian menjadi sorotan karena warga yang memilih meninggalkan rumah belum mendapatkan tenda pengungsian dari pemerintah.

Warga masih bertahan dengan fasilitas yang tersedia secara mandiri. Terpal digunakan untuk mengalasi tempat mereka tidur dan beristirahat, bukan sebagai tenda pengungsian yang memadai.

Situasi tersebut menjadi perhatian karena pengungsi tidak hanya terdiri dari orang dewasa. Di antara 1.551 jiwa terdapat 603 anak-anak, 90 balita, 179 lansia, 27 ibu hamil, 75 ibu menyusui, dan 19 penyandang disabilitas.

Kondisi ini membuat kebutuhan terhadap tempat berteduh yang layak semakin penting, terutama apabila warga harus bertahan di lokasi pengungsian dalam beberapa hari ke depan.

Warga membutuhkan perlindungan dari panas, hujan, angin, serta kondisi lingkungan yang kurang mendukung.

Warga Mengungsi karena Trauma dan Takut Kembali ke Rumah

Keputusan warga untuk mengungsi tidak terlepas dari trauma panjang akibat bencana Pulau Babi.

Pada 12 Desember 1992, gempa bumi dahsyat yang disusul tsunami melanda wilayah Flores bagian timur.

Pulau Babi menjadi salah satu kawasan yang mengalami dampak sangat parah. Berdasarkan data dalam laporan masyarakat, 263 orang meninggal dunia dari sekitar 700 penduduk Pulau Babi.

Pasca bencana, pemerintah mengosongkan Pulau Babi dan warga yang selamat dipindahkan ke sejumlah wilayah, termasuk Desa Nangahale.

Bagi masyarakat yang pernah mengalami langsung tragedi tersebut, gempa pada 15 Agustus 2026 kembali membangkitkan rasa takut.

Guncangan rumah, benda-benda yang bergerak, kepanikan warga, dan kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya bencana susulan membuat masyarakat memilih berada di luar rumah.

Bagi mereka, mengungsi merupakan langkah untuk memastikan keselamatan keluarga.

10 Rumah Warga Terdata Mengalami Kerusakan

Selain menyebabkan warga mengungsi, gempa juga berdampak terhadap rumah warga.

Hasil pendataan sementara mencatat 10 kepala keluarga yang rumahnya terdata mengalami kerusakan.

Mereka adalah Sulman, Tahrip, Nasring, Kasahir, Hamsani, Tahap, Rawine, Risal, Halija, dan Indra.

Enam kepala keluarga pertama berada di Dusun Namandoi, sedangkan empat lainnya berada di Dusun Nangahale.

Data tersebut masih merupakan pendataan awal dan membutuhkan verifikasi lebih lanjut untuk mengetahui tingkat kerusakan setiap bangunan.

Pemeriksaan kelayakan rumah menjadi penting sebelum warga kembali, terutama untuk memastikan bangunan tidak membahayakan keselamatan penghuni.

Bukan Hanya Tenda, Pengungsi Membutuhkan Perlindungan yang Layak

Kondisi pengungsian di Nangahale menunjukkan bahwa kebutuhan warga bukan hanya persoalan logistik.

Ketersediaan tenda pengungsian menjadi salah satu kebutuhan mendesak agar warga memiliki tempat berteduh yang layak.

Terpal yang digunakan sebagai alas memang dapat membantu warga mengurangi kontak langsung dengan tanah, tetapi tidak dapat menggantikan fungsi tenda sebagai tempat perlindungan.

Apalagi, terdapat kelompok rentan dalam jumlah cukup besar.

Ibu hamil membutuhkan tempat istirahat yang aman. Ibu menyusui memerlukan ruang yang lebih nyaman. Lansia membutuhkan perlindungan dari cuaca dan kondisi lingkungan. Balita dan anak-anak juga membutuhkan tempat yang aman selama berada di pengungsian.

Penyandang disabilitas membutuhkan akses dan fasilitas pengungsian yang mudah serta aman.

Pemerintah Diharapkan Segera Hadir di Lima Titik Pengungsian

Dengan jumlah pengungsi mencapai 1.551 jiwa, pemerintah diharapkan segera melakukan penanganan secara menyeluruh di lima lokasi pengungsian.

Selain mendata jumlah warga, pemerintah perlu memastikan tersedianya tenda atau tempat perlindungan yang layak, makanan, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, kebutuhan bayi dan anak-anak, serta kebutuhan khusus kelompok rentan.

Pendataan terhadap 10 rumah yang mengalami kerusakan juga perlu segera diverifikasi.

Tidak kalah penting adalah dukungan psikososial bagi warga, mengingat sebagian masyarakat Nangahale memiliki pengalaman traumatis akibat tsunami Pulau Babi 1992.

Gempa Berhenti, tetapi Warga Masih Bertahan di Pengungsian

Gempa M7,7 yang berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, telah berlalu. Namun, ketakutan warga Nangahale belum sepenuhnya hilang.

Sebanyak 393 KK atau 1.551 jiwa masih memilih bertahan di lima titik pengungsian.

Di tengah situasi tersebut, belum tersedianya tenda pengungsian dari pemerintah membuat warga harus menggunakan fasilitas seadanya. Terpal digunakan sebagai alas untuk tidur dan beristirahat, sementara kebutuhan terhadap tempat berteduh yang layak masih menjadi perhatian.

Bagi masyarakat Nangahale, persoalan ini bukan hanya tentang tempat tidur.

Ini tentang rasa aman.

Mereka telah meninggalkan rumah karena takut terhadap dampak gempa dan kemungkinan bahaya susulan. Kini mereka membutuhkan kepastian bahwa di tempat pengungsian pun mereka mendapatkan perlindungan yang layak.

Terlebih, di antara mereka terdapat anak-anak, balita, lansia, ibu hamil, ibu menyusui, dan penyandang disabilitas.

Kecamatan Belum Kasih Laporan

Camat Talibura, Fransiskus Ismail, dikonfirmasi media ini belum memberi penjelasan. Nomornya tidak bisa dihubungi.

Meski, media ini mendapat informasi bahwa ketiadaan tenda jadi hingga hari kedua bagi warga pengungsi dari Desa Nangahale tersebut sebab rekapan laporan dari Kecamatan Talibura belum diterima pihak BPBD Kabupaten Sikka. Meski laporan dari desa sudah dikirim.

Gempa mungkin telah berhenti mengguncang tanah, tetapi warga Nangahale masih membutuhkan tempat yang aman untuk beristirahat, memulihkan diri, dan menunggu sampai keadaan benar-benar dinyatakan aman.

Reporter : Faidin

Dibalik Pelaminan Itu Ada Orang-Orang yang Tak Lagi Bisa Kami Peluk

Oleh: Faidin

Jurnalis dan Kakak Kandung Andra

Pernikahan selalu identik dengan kebahagiaan. Di dalamnya ada tawa, doa, pelukan, dan harapan tentang masa depan yang akan dijalani oleh dua insan yang dipersatukan.

Namun bagi saya, Sabtu, 6 Juni 2026, di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, tidak hanya menghadirkan kebahagiaan.

Hari itu, adik kandung saya, Andra, menikah dengan Fitriani.

Sebagai kakak, tentu saya bersyukur dapat menyaksikan langsung prosesi yang sakral tersebut. Saya melihat sendiri bagaimana Andra duduk di hadapan penghulu, mengucapkan ijab kabul dengan lancar, lalu berubah status dari seorang pemuda menjadi seorang suami.

Tepuk tangan bergema. Ucapan selamat berdatangan. Keluarga dan kerabat saling bersalaman. Tidak sedikit yang mengabadikan momen itu dengan telepon genggam mereka.

Namun di tengah keramaian dan kebahagiaan tersebut, pikiran saya justru melayang kepada orang-orang yang tidak lagi hadir.

Saya menyadari bahwa setiap keluarga memiliki cerita kehilangan. Akan tetapi, ada momen-momen tertentu dalam kehidupan yang membuat kehilangan itu terasa kembali nyata. Salah satunya adalah pernikahan.

Karena pada hari pernikahan, keluarga biasanya berkumpul dalam jumlah yang lengkap. Mereka datang untuk menyaksikan satu babak penting dalam perjalanan hidup seseorang. Di situlah kita mulai menyadari siapa saja yang tidak lagi berada di antara kita.

Hari itu, saya melihat pelaminan yang indah. Tetapi saya juga melihat kursi-kursi yang secara batin terasa kosong.

Kosong karena ada orang-orang yang semestinya hadir, namun telah lebih dahulu dipanggil Sang Pencipta.

Yang pertama terlintas dalam pikiran saya adalah ibu kami, almarhumah Munawara.

Beliau telah lama meninggalkan kami.

Waktu memang telah berjalan begitu jauh sejak kepergiannya. Kami tumbuh dewasa. Kami menjalani hidup masing-masing. Kami belajar menerima kenyataan bahwa ada takdir yang tidak bisa ditolak.

Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Kerinduan kepada seorang ibu.

Bagi seorang anak, kehilangan ibu bukanlah kehilangan yang selesai dalam satu atau dua tahun. Kehilangan itu hidup bersama waktu.

Ia muncul dalam berbagai bentuk.

Kadang hadir ketika melihat anak-anak lain dipeluk ibunya.

Kadang hadir saat menghadapi kesulitan hidup.

Dan kadang hadir begitu kuat ketika ada peristiwa besar dalam keluarga.

Pada hari pernikahan Andra, kerinduan itu datang kembali.

Saya membayangkan bagaimana seandainya ibu masih hidup.

Mungkin beliau adalah orang yang paling sibuk sejak pagi.

Mungkin beliau yang memastikan seluruh keluarga telah siap.

Mungkin beliau yang berulang kali menanyakan kebutuhan pengantin.

Mungkin beliau yang paling bahagia melihat anaknya duduk di pelaminan.

Tetapi semua kemungkinan itu berhenti menjadi kenyataan ketika kematian datang lebih dahulu.

Hari itu, Andra menikah tanpa bisa lagi mencium tangan ibunya.

Hari itu, kami berkumpul tanpa kehadiran perempuan yang pernah menjadi pusat kehidupan keluarga kami.

Dan itulah kenyataan yang tidak pernah mudah diterima meskipun telah bertahun-tahun berlalu.

Di sisi lain, keluarga kami juga belum lama menghadapi kehilangan yang lain.

Paman kami, almarhum Al Fatah, telah berpulang.

Kepergiannya masih terasa begitu dekat.

Bahkan suasana duka itu seakan kembali hidup ketika saya menyadari bahwa panggung akad nikah dan resepsi berdiri tepat di depan rumah beliau.

Rumah itu terlihat jelas dari pelaminan.

Pintunya terbuka.

Jendelanya menghadap ke arah lokasi acara.

Sepanjang hari, rumah tersebut seperti menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh rangkaian pernikahan.

Bagi orang lain, mungkin itu hanya sebuah rumah biasa.

Namun bagi keluarga kami, rumah itu menyimpan banyak cerita.

Al Fatah bukan sekadar paman bagi Andra.

Beliau adalah bagian dari perjalanan yang mengantarkan Andra menuju hari pernikahannya.

Ketika hubungan Andra dan Fitriani mulai dijajaki, beliau ikut hadir.

Ketika keluarga mulai membicarakan masa depan keduanya, beliau ikut memberi pandangan.

Bahkan dalam proses lamaran, beliau menjadi salah satu delegasi keluarga yang datang membawa maksud baik kepada keluarga calon mempelai perempuan.

Beliau ikut membuka jalan menuju pernikahan itu.

Karena itulah terasa begitu ironis ketika hari yang dinantikan akhirnya tiba, tetapi beliau tidak lagi ada untuk menyaksikannya.

Beliau meninggalkan seorang istri, Erni.

Beliau meninggalkan Ainun Syakilah.

Beliau meninggalkan Fadlan yang sedang menempuh pendidikan agama di pondok pesantren.

Dan beliau meninggalkan Faqih yang masih kecil.

Ketika saya memandang rumah itu dari pelaminan, yang terlintas dalam pikiran saya bukan hanya kehilangan seorang anggota keluarga.

Yang terlintas adalah betapa cepatnya kehidupan berubah.

Hari ini seseorang hadir dalam percakapan keluarga.

Besok namanya hanya tinggal kenangan.

Hari ini seseorang ikut merencanakan sebuah kebahagiaan.

Besok ia hanya dikenang dalam kebahagiaan itu.

Pernikahan Andra membuat saya kembali memahami bahwa kehidupan manusia sesungguhnya sangat rapuh.

Kita sering merencanakan banyak hal untuk masa depan.

Kita membayangkan akan berada di suatu tempat pada waktu tertentu.

Kita berjanji akan menyaksikan berbagai peristiwa bersama orang-orang yang kita cintai.

Tetapi pada akhirnya, tidak semua rencana berada dalam kendali manusia.

Ada yang sempat sampai pada tujuan.

Ada yang hanya sempat mengantar sampai di tengah jalan.

Hari itu saya juga teringat kepada almarhum M. Taher Rahima dan almarhumah Jane.

Mereka adalah generasi yang lebih dahulu membangun fondasi keluarga besar kami.

Banyak nilai yang hingga hari ini masih hidup berasal dari mereka.

Tentang kerja keras.

Tentang menjaga silaturahmi.

Tentang pentingnya saling membantu.

Tentang bagaimana keluarga harus tetap berdiri dalam keadaan apa pun.

Mereka memang telah lama tiada.

Namun ketika para cucu dan keluarga besar berkumpul memenuhi pelataran resepsi malam itu, saya merasakan bahwa warisan mereka masih hidup.

Warisan itu bukan berupa harta benda.

Melainkan kebersamaan.

Karena sesungguhnya ukuran keberhasilan sebuah keluarga tidak hanya dilihat dari apa yang mereka miliki.

Tetapi dari bagaimana mereka tetap menjaga hubungan satu sama lain meskipun waktu terus berjalan.

Menjelang malam, pelataran resepsi semakin padat.

Para cucu dan cece dari keluarga besar M. Taher Rahima dan Rajana hadir memeriahkan acara.

Keluarga datang dari berbagai tempat.

Anak-anak berlarian di sekitar panggung.

Para ibu sibuk melayani tamu.

Sementara para tetua duduk mengenang cerita-cerita lama.

Dari kejauhan, suasana itu tampak seperti sebuah pesta keluarga yang penuh kebahagiaan.

Dan memang demikian adanya.

Tetapi jika diperhatikan lebih dalam, ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pesta pernikahan.

Ada rasa syukur karena masih diberi kesempatan berkumpul.

Ada kesadaran bahwa tidak semua anggota keluarga masih dapat hadir.

Ada pemahaman bahwa setiap pertemuan selalu berjalan berdampingan dengan kemungkinan perpisahan.

Mungkin itulah sebabnya saya melihat beberapa anggota keluarga sesekali terdiam.

Mereka tersenyum.

Namun mata mereka tampak menyimpan kenangan.

Karena di setiap keluarga selalu ada orang-orang yang tidak benar-benar pergi.

Mereka tetap hidup melalui cerita yang terus diceritakan.

Melalui nilai-nilai yang diwariskan.

Melalui kebiasaan yang masih dipertahankan.

Melalui doa-doa yang tidak pernah berhenti dipanjatkan.

Pernikahan Andra dan Fitriani pada akhirnya bukan hanya tentang dua insan yang dipersatukan.

Pernikahan itu juga menjadi pengingat tentang perjalanan panjang sebuah keluarga.

Perjalanan yang dipenuhi suka dan duka.

Perjalanan yang menghadirkan kelahiran dan kematian.

Perjalanan yang mempertemukan orang-orang, lalu perlahan memisahkan mereka melalui waktu.

Sebagai kakak, saya tentu berharap Andra dan Fitriani dapat membangun rumah tangga yang bahagia.

Namun lebih dari itu, saya berharap mereka selalu mengingat bahwa kebahagiaan yang mereka rasakan hari ini tidak lahir begitu saja.

Di baliknya ada doa orang tua.

Ada pengorbanan keluarga.

Ada kasih sayang para leluhur.

Dan ada kenangan tentang orang-orang yang telah lebih dahulu pergi.

Karena sesungguhnya, pada hari itu saya merasa pelaminan tidak hanya dihadiri oleh mereka yang tampak oleh mata.

Di pelaminan itu ada cinta seorang ibu yang telah lama tiada.

Ada harapan seorang paman yang tidak sempat menyaksikan akhir perjalanan yang ia bantu mulai.

Ada warisan kakek dan nenek yang masih hidup dalam diri anak-cucu mereka.

Dan ada doa-doa yang terus mengalir dari mereka yang telah pulang kepada Tuhan.

Mereka memang tidak lagi bisa kami peluk.

Tidak lagi bisa kami ajak berbincang.

Tidak lagi bisa kami dudukkan di kursi-kursi kehormatan.

Tetapi pada hari pernikahan Andra, saya percaya mereka tetap hadir dalam cara yang paling sederhana.

Melalui kenangan.

Melalui cinta.

Dan melalui kerinduan yang tidak pernah benar-benar berakhir.

Penulis adalah Jurnalis dan Kakak Kandung Andra

Petugas Dinas Pertanian Sikka Pastikan Hewan Kurban di Nangahale Sehat dan Layak

SIKKA, Bajopos.com | Petugas Pengawas Hewan Kurban dari Dinas Pertanian Kabupaten Sikka melakukan pemeriksaan ketat terhadap hewan kurban di sejumlah lokasi penyembelihan di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, pada momentum Hari Raya Idul adha 1447 Hijriah.

Pengawasan dilakukan untuk memastikan seluruh hewan kurban yang disembelih memenuhi standar kesehatan hewan, aman dikonsumsi masyarakat, serta sesuai dengan prinsip kesejahteraan hewan dan syariat Islam.

Petugas Pengawas Hewan Kurban Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, drh. Yosephina Leto Lapilia, kepada wartawan menjelaskan bahwa pihaknya melakukan dua tahapan pemeriksaan, yakni antemortem dan postmortem.

“Pemeriksaan antemortem dilakukan sebelum hewan dipotong untuk memastikan kondisi kesehatan hewan, sedangkan postmortem dilakukan setelah penyembelihan dengan memeriksa organ-organ dalam hewan,” jelasnya di lokasi penyembelihan, Rabu (27/5/2026).

Menurut Yosephina, pemeriksaan antemortem telah dilakukan sejak Selasa (26/5/2026) sore terhadap seluruh hewan kurban yang akan dipotong di wilayah Nangahale.

Ia menyebutkan, pemeriksaan meliputi suhu tubuh hewan menggunakan termometer, pemeriksaan fisik mulai dari mata, hidung, kulit, hingga lubang anus, termasuk memastikan tidak ada luka maupun penyakit pada hewan.

“Kami juga memeriksa umur dan bobot hewan. Untuk sapi kurban harus berumur di atas dua tahun dengan bobot rata-rata 200 sampai 300 kilogram,” ujarnya.

Dari hasil pemeriksaan, seluruh hewan kurban yang disembelih di wilayah tersebut dinyatakan sehat dan layak dipotong.

“Hasil pemeriksaan menunjukkan semua hewan sehat dan memenuhi syarat untuk dikurbankan,” katanya.

Pada hari penyembelihan, kata Yosephina, terdapat lima ekor sapi yang dipotong di Masjid An-Nur Nangahale, satu ekor sapi di MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale, serta satu ekor sapi dan dua ekor kambing di Masjid Baitusshodiq.

Ia juga memastikan seluruh hewan kurban berasal dari wilayah Kecamatan Talibura dan tidak didatangkan dari luar daerah.

Selain pemeriksaan kesehatan hewan, tim pengawas turut memantau penerapan standar operasional prosedur (SOP) di lokasi penyembelihan.

Yosephina mengapresiasi fasilitas penyembelihan di Masjid An-Nur Nangahale yang dinilai sudah cukup baik karena memiliki kandang jepit, tempat penampungan darah, serta pemisahan lokasi pemotongan, pencincangan, dan pengepakan daging.

“Pengelolaan seperti ini penting untuk menjaga kebersihan dan mencegah pencemaran pada daging kurban,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan para petugas penyembelihan agar menjaga kebersihan diri selama menangani daging kurban.

“Petugas yang memotong harus steril, tidak memakai sandal, dan tidak boleh merokok saat menangani daging,” tegasnya.

Sementara itu, kegiatan penyembelihan hewan kurban di MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale mendapat bantuan satu ekor sapi dari LazisMu Uhamka melalui Universitas Muhammadiyah Maumere yang diperuntukkan khusus bagi para siswa di sekolah tersebut.

Kegiatan pemotongan dan pembagian hewan kurban turut dihadiri Ketua PCM Talibura, Tajudin Obawala, S.Pd., M.Pd bersama masyarakat setempat.

Reporter : Faidin

RUMAH ZAKAT Kembali Salurkan 116 Karung Beras Fidyah di Desa Nangahale, Warga Terharu dan Bersyukur

SIKKA, Bajopos.com | Rintik hujan mengguyur Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, tak menyurutkan semangat warga untuk menerima paket bantuan fidyah dari lembaga “Rumah Zakat”.

Pada, Sabtu, 16/5/2026, sebanyak 116 karung paket beras disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan dalam kegiatan sosial yang berlangsung penuh haru dan rasa syukur.

Awalnya, penyaluran bantuan direncanakan berlangsung di Masjid Baitushodiq Nangahale, Blok E, Dusun Nangahale. Namun karena cuaca yang tidak bersahabat, kegiatan kemudian dipindahkan ke rumah salah satu warga agar proses distribusi tetap berjalan lancar.

Meski diguyur hujan, warga tampak tertib mengantre sambil menunggu nama mereka dipanggil satu per satu untuk menerima bantuan secara langsung.

Raut bahagia terlihat jelas di wajah para penerima manfaat yang merasa terbantu dengan hadirnya paket beras fidyah tersebut.

Salah seorang penerima bantuan, Ardie, mengaku sangat bersyukur atas perhatian yang diberikan oleh Rumah Zakat kepada masyarakat kecil di Nangahale.

“Terima kasih kepada Rumah Zakat atas pemberian paket beras untuk kami. Sangat berharga sekali. Semoga Allah memberikan limpahan rezeki serta kesehatan selalu untuk para donatur,” ujarnya dalam Bahasa Bajo yang kemudian diterjemahkan.

Melalui program penyaluran fidyah ini, Rumah Zakat menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan sekaligus menjadi penghubung kebaikan antara para donatur dan penerima manfaat.

Diketahui, Rumah Zakat merupakan Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) yang bergerak dalam pengelolaan dan penyaluran dana zakat, infak, sedekah, serta dana kemanusiaan lainnya.

Lembaga ini menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat melalui empat pilar utama, yakni pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan atau kemanusiaan.

Program pendidikan diwujudkan melalui bantuan beasiswa dan fasilitas belajar, sedangkan sektor ekonomi difokuskan pada bantuan modal usaha dan pelatihan kewirausahaan.

Di bidang kesehatan, Rumah Zakat menghadirkan layanan pemeriksaan gratis, klinik, hingga program perbaikan gizi.

Sementara pada sektor lingkungan dan kemanusiaan, lembaga ini aktif dalam aksi tanggap bencana, pelestarian lingkungan, serta program Desa Berdaya.

Rumah Zakat melalui Person in Charge (PIC) Rumah Zakat, Arifin Latif membagikan paket bantuan. Warga tampak antri. (Doc. Bajopos.com/Faidin).

Person in Charge (PIC) Rumah Zakat, Arifin Latif, mengaku bangga melihat antusiasme masyarakat Desa Nangahale dalam kegiatan penyaluran fidyah tersebut.

“Saya selaku PIC Rumah Zakat merasa bangga dan terharu atas partisipasi penerima manfaat fidyah di Desa Nangahale yang begitu luar biasa antusiasnya atas bantuan ini,” katanya.

Ia menegaskan bahwa dirinya bersama tim akan terus mengabdikan diri demi kemaslahatan umat, termasuk masyarakat Desa Nangahale.

“Harapan kami, semoga para donatur Rumah Zakat juga dapat membantu mendorong pembangunan Masjid Baitushodiq Nangahale dan semoga Allah membalas segala kebaikan para donatur,” lanjutnya.

Ketua Panitia Pembangunan Masjid Baitushodiq Nangahale, Zul Halim, turut menyampaikan apresiasi kepada para donatur Rumah Zakat atas kepedulian mereka terhadap masyarakat di wilayah tersebut.

Ia menyebut, bantuan kali ini merupakan kali kedua yang diberikan Rumah Zakat di Desa Nangahale. Sebelumnya, pada 23 April 2026 lalu, lembaga tersebut juga menyalurkan 38 pasang sepatu untuk anak-anak pelosok negeri di Blok D Desa Nangahale.

“Sekarang Rumah Zakat kembali hadir dengan bantuan paket beras fidyah sebanyak 116 karung. Ini tentu sangat membantu masyarakat kami,” ujarnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat setempat, Jumaldi Dakir, mengaku terharu atas kepedulian yang terus diberikan kepada warga.

“Kami merasa bersyukur dengan bantuan ini. Semoga kebaikan ini tidak berhenti sampai di sini dan semoga tim Rumah Zakat tidak putus asa dalam membantu masyarakat,” katanya.

Ia juga menyatakan komitmennya untuk mendukung berbagai program sosial Rumah Zakat di Desa Nangahale.

“Saya selaku tokoh masyarakat akan mendukung program dari Rumah Zakat di desa kami, yaitu Desa Nangahale,” tandasnya.

Reporter : Faidin

Aliansi Wartawan Sikka Akan Tanam Mangrove di Desa Nangahale, Dusun Namandoi

SIKKA, BAJOPOS.COM – Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) tengah mematangkan rencana penanaman anakan mangrove di kawasan hutan bakau Dusun Namandoi, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura. Kegiatan tersebut disiapkan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-12 AWAS.

Aksi bertajuk “AWAS Peduli dan Hijaukan Sikka” itu saat ini masih dalam tahap perencanaan teknis, mulai dari koordinasi lokasi penanaman, penyediaan bibit mangrove, hingga pelibatan masyarakat setempat. Meski dalam perencanaan tersebut dipastikan akan diselenggarakan pada Sabtu, 14/02/2026 dan diperkirakan pada pukul 09.00 Wita.

Ketua AWAS, Mario WP Sina, mengatakan momentum ulang tahun organisasi tahun ini diarahkan pada kegiatan yang berdampak langsung bagi lingkungan dan masyarakat.

“Kami ingin HUT ke-12 AWAS tidak sekadar seremoni, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata. Penanaman mangrove ini sedang kami siapkan secara matang agar pelaksanaannya tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, kawasan pesisir Nangahale dipilih karena memiliki potensi ekosistem mangrove yang perlu dijaga dan diperkuat. Mangrove berfungsi menahan abrasi, menjaga kualitas lingkungan pesisir, serta menjadi habitat penting bagi biota laut.

Dalam perencanaan tersebut, AWAS juga membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah desa, lembaga pendidikan, komunitas lingkungan, dan masyarakat sekitar agar kegiatan tidak berhenti pada seremoni tanam semata, melainkan berlanjut pada perawatan dan pengawasan bersama.

Tak hanya itu, berbagai instansi pun kata dia nantinya akan turut serta dalam kegiatan ini, diantaranya TNI dan Polri juga beberapa instansi pemerintah daerah.

AWAS berharap, melalui langkah awal yang sedang disusun ini, kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir di Kabupaten Sikka semakin tumbuh.

Memasuki usia ke-12 tahun, AWAS menegaskan komitmennya untuk terus hadir, tidak hanya sebagai pengawal informasi publik, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan sosial dan lingkungan di daerah.(Faidin)