Sen. Mei 25th, 2026

Kecamatan Talibura

Delapan Tahun “Telanjang”, Masjid Baitusshodiq Nangahale Menanti Kepedulian Umat

Oleh : Faidin

Ada yang tak pernah berhenti di Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur di wilayah timur Negeri ini, meski waktu telah berjalan delapan tahun lamanya: Adzan yang terus berkumandang dari Masjid Baitusshodiq.

Di balik suara panggilan suci itu, ada kenyataan yang tak bisa ditutup-tutupi. Masjid ini masih berdiri dalam keadaan “telanjang”.

Sebutan yang mungkin terasa keras, tetapi itulah realitas yang ada—bangunan yang belum rampung, fasilitas yang jauh dari layak, dan kondisi fisik yang belum mencerminkan kemuliaan sebuah rumah ibadah.

Namun, di sanalah umat tetap bersujud.

Di lantai yang mungkin belum sepenuhnya nyaman, di bawah atap yang belum sepenuhnya melindungi, di ruang yang sederhana, warga tetap datang. Mereka tidak menunggu masjid itu sempurna untuk beribadah.

Mereka datang dengan kesederhanaan, dengan iman, dengan keyakinan bahwa rumah Allah tetaplah rumah Allah, dalam kondisi apa pun.

Tetapi, apakah kita akan membiarkan kondisi ini terus berlangsung?

Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Dalam kurun waktu itu, generasi anak-anak telah tumbuh, remaja menjadi dewasa, dan banyak perubahan terjadi di berbagai tempat.

Masjid-masjid lain berdiri megah, direnovasi, bahkan dilengkapi fasilitas modern. Sementara itu, Masjid Baitusshodiq masih bertahan dalam kondisi yang sama—menunggu.

Menunggu siapa?

Menunggu kita.

Ini bukan sekadar persoalan pembangunan fisik. Ini adalah cermin dari sejauh mana kepedulian kita sebagai umat. Apakah kita benar-benar merasakan bahwa masjid adalah tanggung jawab bersama? Ataukah kita tanpa sadar membiarkannya menjadi beban segelintir orang saja?

Fakta di lapangan menunjukkan, masyarakat setempat bukan tidak berbuat. Mereka sudah berusaha. Mereka sudah memberi, sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Namun, keterbatasan ekonomi membuat langkah mereka tidak bisa melaju sejauh yang diharapkan.

Mereka tidak berhenti. Tetapi mereka juga tidak bisa berjalan sendiri.

Di titik inilah, suara hati kita diuji.

Kita hidup di zaman di mana berbagi menjadi sangat mudah. Dalam hitungan detik, bantuan bisa dikirim ke berbagai penjuru negeri.

Kita sering tergerak oleh berbagai peristiwa besar—bencana alam, krisis kemanusiaan, atau isu-isu nasional. Kita menunjukkan empati, kita berdonasi, kita peduli.

Namun terkadang, yang dekat justru luput dari perhatian.

Masjid Baitusshodiq Nangahale bukan cerita jauh. Ia nyata. Ia ada. Ia berdiri, menunggu sentuhan tangan-tangan yang peduli.

Bayangkan seorang anak kecil yang belajar mengaji di dalam masjid itu. Duduk di lantai yang sederhana, dengan fasilitas seadanya, tetapi dengan semangat yang besar.

Bayangkan seorang orang tua yang tetap datang untuk shalat berjamaah, meski kondisi bangunan belum layak. Bayangkan doa-doa yang dipanjatkan di dalamnya—doa tentang rezeki, tentang kesehatan, tentang masa depan.

Semua itu terjadi di dalam sebuah masjid yang belum selesai dibangun.

Lalu, di mana kita?

Sering kali kita berpikir bahwa kontribusi harus besar agar berarti. Kita menunggu memiliki lebih banyak untuk bisa memberi. Padahal, sejarah umat ini justru dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan bersama-sama.

Satu orang memberi sedikit. Yang lain ikut menambahkan. Lalu bertambah lagi. Hingga akhirnya, yang kecil itu menjadi besar.

Masjid Baitusshodiq tidak membutuhkan keajaiban. Ia membutuhkan kebersamaan.

Ia membutuhkan kita untuk berhenti sejenak, melihat, dan bertanya pada diri sendiri: apakah kita ingin menjadi bagian dari perubahan ini?

Keutamaan membangun masjid bukanlah hal baru. Ia sering kita dengar, sering kita baca. Namun mungkin, kita jarang dihadapkan pada kesempatan yang begitu nyata di depan mata kita sendiri.

Ini bukan tentang membangun dari nol. Ini tentang melanjutkan yang sudah ada. Ini tentang menyempurnakan apa yang sudah dimulai oleh saudara-saudara kita di Nangahale.

Delapan tahun penantian adalah waktu yang panjang. Terlalu panjang jika harus terus dibiarkan. Setiap hari yang berlalu tanpa perubahan adalah kesempatan yang hilang—kesempatan untuk berbuat, untuk berbagi, untuk menanam amal jariyah.

Kita tidak pernah tahu amal mana yang akan menyelamatkan kita. Bisa jadi bukan yang besar, tetapi yang ikhlas. Bisa jadi bukan yang terlihat, tetapi yang terus mengalir.

Dan membantu menyelesaikan sebuah masjid—tempat di mana ibadah akan terus berlangsung—adalah salah satu bentuk amal yang tidak pernah terputus.

Opini ini bukan untuk menyalahkan. Ini adalah panggilan. Panggilan yang lahir dari kenyataan yang ada, dari fakta yang tidak bisa diabaikan, dan dari harapan yang masih menyala.

Harapan bahwa umat ini masih peduli.
Harapan bahwa masih ada tangan-tangan yang tergerak.

Harapan bahwa Masjid Baitusshodiq tidak akan terus “telanjang” di tahun-tahun yang akan datang.

Kita tidak harus menunggu orang lain memulai. Kita bisa menjadi bagian dari awal itu.

Mungkin bukan kita yang menyelesaikan semuanya. Tetapi setidaknya, kita menjadi bagian dari perjalanan itu.

Bagi para dermawan, pembaca yang budiman, dan siapa saja yang hatinya tergerak untuk ikut ambil bagian dalam pembangunan Masjid Baitusshodiq Nangahale, uluran tangan Anda sangat berarti.

Kontribusi dapat disalurkan dengan menghubungi Ketua Panitia Pembangunan: Sunardin, SH.

Tidak ada bantuan yang terlalu kecil. Tidak ada niat baik yang sia-sia.

Karena pada akhirnya, ketika masjid itu berdiri kokoh nanti—ketika lantainya telah rapi, atapnya telah sempurna, dan jamaahnya semakin banyak—akan ada bagian kecil dari kita di dalamnya.

Dalam setiap sujud.
Dalam setiap doa.
Dalam setiap ayat yang dilantunkan.

Delapan tahun sudah cukup menjadi cerita. Kini saatnya kita menulis akhir yang berbeda.

Bukan lagi tentang masjid yang “telanjang”.
Tetapi tentang umat yang bangkit, bersatu, dan saling menguatkan.

Penulis adalah Wartawan media BAJOPOS.COM

Abrasi Nangahale Kian Menggerus, Warga Sindir Ketidakhadiran Bupati di HUT AWAS

SIKKA, BAJOPOS.COM – Abrasi di pesisir Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, semakin mengkhawatirkan. Selain mengancam rumah warga dan bangunan sekolah, gelombang pasang kini dilaporkan telah menggerus badan jalan aspal di jalur pesisir pantai yang menjadi akses vital masyarakat.

Momentum peringatan hari ulang tahun ke-12 Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Sabtu (14/02/2026), yang diisi dengan aksi tanam mangrove di Dusun Namandoi, juga menjadi ruang curhat warga terkait kondisi tersebut.

Dalam wawancara terpisah, seorang warga Nangahale yang meminta namanya tidak dipublikasikan mengungkapkan kekecewaannya atas ketidakhadiran Bupati Sikka dalam kegiatan tersebut.

“Pantai ini sudah menggerus jalan aspal pesisir. Kami lihat sendiri setiap tahun makin mendekat. Mungkin Bupati takut lihat langsung kondisi di sini,” ujarnya.

“MTs dan MIS ini dua sekolah yang nyaria selalu di liburkan jika ombak sudah mulai besar. Tahun lalu sampai tempias ke dalam kelas ombaknya, akhirnya diliburkan. Termasum kalau rob sekolah MIS ini banjir tidak ada model sekolah. Lalu dimana pemerintah?,” tanya warga dalam kisahnya.

Pernyataan itu mencerminkan keresahan sebagian masyarakat yang merasa persoalan abrasi belum mendapat perhatian maksimal. Menurut warga, kehadiran kepala daerah di lokasi terdampak dinilai penting, bukan sekadar simbolis, tetapi untuk memastikan adanya langkah nyata penanganan.

Abrasi di Nangahale disebut tidak lagi sekadar mengikis bibir pantai, tetapi telah merambah infrastruktur publik. Jalan aspal pesisir yang biasa dilalui warga untuk aktivitas ekonomi dan pendidikan kini terancam rusak permanen jika tidak segera diperkuat.

Sebelumnya, Kepala Desa Nangahale, Sahanudin, juga menyampaikan bahwa dua lembaga pendidikan—MTs Al-Fatah dan MIS Al-Fatah Nangahale—serta belasan rumah warga dan rumah produksi garam rakyat berada dalam zona rawan abrasi.

Ketua AWAS, Mario WP Sina, menegaskan bahwa penanaman sekitar 270 anakan mangrove dalam peringatan HUT ke-12 menjadi bentuk kepedulian konkret terhadap kondisi pesisir. Namun ia mengakui, upaya tersebut perlu ditindaklanjuti dengan kebijakan dan program pemerintah yang lebih komprehensif.

“Kami berharap semua pihak, termasuk pemerintah daerah, bisa melihat ini sebagai situasi darurat lingkungan. Abrasi bukan lagi ancaman masa depan, tapi sudah terjadi hari ini,” ujarnya.

Warga Nangahale berharap ada penanganan terpadu, mulai dari pembangunan talud atau pemecah gelombang, rehabilitasi mangrove secara berkelanjutan, hingga kajian teknis untuk menyelamatkan jalan pesisir yang mulai tergerus.

Di tengah ombak yang terus menghantam daratan, suara warga semakin keras terdengar. Mereka tak hanya menanam mangrove bersama para jurnalis, tetapi juga menanam harapan agar pemerintah hadir melihat langsung kenyataan di pantai Nangahale—sebelum lebih banyak daratan yang hilang.(Faidin)

Abrasi Nangahale Terus Menggerus, Sekolah dan Rumah Warga di Ujung Ancaman

SIKKA, BAJOPOS.COM – Deru ombak di pesisir Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, tak lagi sekadar irama alam. Ia kini menjadi penanda kecemasan. Abrasi yang terus menggerus garis pantai membuat jarak antara laut dan permukiman warga semakin menipis, menghadirkan ancaman nyata bagi sekolah, rumah, hingga sumber penghidupan masyarakat.

Kondisi itu kembali disuarakan dalam momentum peringatan hari ulang tahun ke-12 Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Sabtu (14/02/2026). Alih-alih merayakan dengan seremoni, para jurnalis memilih menanam mangrove di Dusun Namandoi sebagai bentuk solidaritas terhadap warga yang terdampak abrasi.

Kepala Desa Nangahale, Sahanudin, menegaskan bahwa abrasi bukan lagi ancaman jangka panjang, melainkan persoalan yang sedang berlangsung. Garis pantai terus mundur, mendekati dua lembaga pendidikan—MTs Al-Fatah dan MIS Al-Fatah Nangahale—serta belasan rumah warga dan rumah produksi garam rakyat.

“Kalau tidak ada penanganan serius, bukan tidak mungkin bangunan sekolah dan rumah warga akan semakin terancam. Kami butuh solusi jangka panjang, bukan hanya penanganan sementara,” ujarnya.

Abrasi di Nangahale dipicu kombinasi faktor alam dan perubahan lingkungan. Gelombang tinggi, berkurangnya vegetasi penahan pantai, serta dampak perubahan iklim mempercepat proses pengikisan. Tanpa sabuk hijau mangrove yang kuat, daratan menjadi rentan terhadap hantaman ombak.

Sebanyak kurang lebih 270 anakan mangrove ditanam dalam aksi bertema “AWAS Peduli dan Hijaukan Sikka”. Ketua AWAS, Mario WP Sina, mengatakan bahwa pemilihan Nangahale sebagai lokasi kegiatan merupakan bentuk keberpihakan terhadap wilayah yang membutuhkan perhatian serius.

“Kami melihat langsung kondisi abrasi di sini. Mangrove adalah benteng alami. Ini langkah kecil, tapi kami berharap menjadi pemicu gerakan yang lebih besar,” katanya.

Mangrove dikenal efektif meredam gelombang, menahan sedimen, serta mencegah intrusi air laut. Selain itu, ekosistem ini menjadi habitat berbagai biota laut yang mendukung ekonomi nelayan. Namun, penanaman mangrove saja dinilai belum cukup tanpa perencanaan terpadu dari pemerintah daerah.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Sikka segera mengambil langkah komprehensif, mulai dari pembangunan struktur pengaman pantai, rehabilitasi kawasan pesisir, hingga edukasi berkelanjutan tentang pelestarian lingkungan.

Momentum HUT AWAS juga dirangkaikan dengan operasi pangan murah bekerja sama dengan Perum Bulog Cabang Maumere, sebagai bentuk dukungan terhadap ketahanan ekonomi warga pesisir yang terdampak.

Keterlibatan berbagai unsur—TNI, Polri, pemerintah desa, lembaga pendidikan, hingga organisasi kepemudaan—menunjukkan bahwa persoalan abrasi bukan isu sektoral, melainkan tanggung jawab bersama.

Di Nangahale, abrasi bukan lagi cerita tentang masa depan yang jauh. Ia adalah realitas hari ini. Setiap meter tanah yang hilang menjadi pengingat bahwa perlindungan pesisir harus menjadi prioritas. Jika tidak, bukan hanya garis pantai yang terkikis, tetapi juga ruang hidup dan harapan masyarakat pesisir Sikka.(Faidin)

HUT ke-12 Aliansi Wartawan Sikka Dihadapkan pada Ancaman Abrasi Nangahale

SIKKA, BAJOPOS.COM – Peringatan hari ulang tahun ke-12 Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) tahun ini tidak digelar di ruang pertemuan atau panggung seremoni. Para jurnalis memilih berdiri di atas lumpur pesisir, menanam mangrove di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (14/02/2026), sebagai bentuk keberpihakan pada warga yang terancam abrasi.

Dengan mengusung tema “AWAS Peduli dan Hijaukan Sikka”, sebanyak kurang lebih 270 anakan mangrove ditanam di kawasan Dusun Namandoi. Aksi tersebut menjadi refleksi bahwa kerja jurnalistik tidak berhenti pada pemberitaan, tetapi juga menjelma menjadi gerakan sosial yang menyentuh langsung persoalan masyarakat.

Kepala Desa Nangahale, Sahanudin, menyampaikan bahwa abrasi yang terus terjadi merupakan ancaman nyata bagi warganya.

“Ada dua lembaga sekolah yang terancam, yakni MTs Al-Fatah dan MIS Al-Fatah Nangahale. Selain itu, belasan rumah warga serta rumah produksi garam milik rakyat juga berada dalam kondisi berbahaya akibat abrasi,” ujarnya.

Menurutnya, penanaman mangrove menjadi langkah awal yang penting, namun ia berharap ada intervensi lebih serius dari Pemerintah Kabupaten Sikka untuk penanganan abrasi secara komprehensif dan berkelanjutan.

Ketua AWAS, Mario WP Sina, menegaskan bahwa pemilihan Nangahale bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut memiliki potensi ekosistem mangrove yang perlu diperkuat sebagai benteng alami pesisir.

Ia menambahkan, mangrove memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem, menahan gelombang, sekaligus menjadi habitat berbagai biota laut yang menopang kehidupan nelayan dan masyarakat pesisir.

Tak hanya isu lingkungan, momentum HUT ke-12 AWAS juga diarahkan pada penguatan ekonomi warga. Bersama Perum Bulog Kantor Cabang Maumere, AWAS menggelar operasi pangan murah bagi masyarakat Desa Nangahale. Program ini ditujukan untuk membantu warga memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat lokal.

Kepala Bulog Cabang Maumere, Martin Luther Sesa, turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama unsur TNI-Polri diantaranya Kapolsek Waigete, I Wayan Artawan, SH mewakili Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno, S.I.K. bersama personil dan Kepala Staf Kodim (Kasdim) 1603/Sikka, Mayor Cba Dominggus M. Antamani mewakili Dandim 1603/Sikka, Letkol Arm Denny Riesta Permana bersama personil, Kejaksaan Negeri Maumere, dan dihadiri warga setempat.

Selanjutnya, dari lembaga pendidikan setempat, hadir pula dari warga sekolah MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale dan MTs Muhammadiyah Al Fatah Nangahale, perwakilan organisasi Persatuan Olahraga Dusun Namandoi (PON).

Keterlibatan lintas sektor ini memperlihatkan bahwa isu lingkungan dan ketahanan pangan bukan tanggung jawab satu pihak semata. Sinergi yang terbangun diharapkan menjadi model kolaborasi berkelanjutan dalam menjaga pesisir Sikka.

Memasuki usia ke-12 tahun, AWAS menegaskan komitmennya untuk terus hadir sebagai pengawal informasi publik sekaligus bagian dari gerakan sosial di daerah. Di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan ekonomi, jurnalisme dituntut tak hanya kritis lewat tulisan, tetapi juga solutif melalui aksi nyata.

Di Nangahale, peringatan ulang tahun itu menjadi simbol bahwa pena dan bibit mangrove bisa berjalan beriringan—mengabarkan persoalan sekaligus menanam harapan bagi masa depan pesisir Sikka.(Faidin)