Kam. Sep 24th, 2026

Flores Timur

Tempurung Kelapa dan Kisah Perempuan Flores Timur Menyalakan Harapan

FLORES TIMUR, BAJOPOS.COM | Di Desa Lamabunga, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, memasak pernah menjadi persoalan yang tidak sederhana.

Kelangkaan minyak tanah membuat harga melambung tinggi, sementara kayu bakar yang selama ini menjadi andalan semakin sulit diperoleh, terutama bagi warga lanjut usia yang sudah tidak lagi mampu mencari kayu ke kebun.

Namun di tengah keterbatasan itu, lahirlah sebuah perubahan besar yang berawal dari sesuatu yang selama ini dianggap limbah: tempurung kelapa.

Melalui pendampingan Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS), limbah kelapa kini menjelma menjadi briket ramah lingkungan yang bukan hanya menggantikan bahan bakar fosil, tetapi juga menjadi sumber pendapatan baru bagi perempuan-perempuan desa.

Transformasi tersebut menjadi bukti bahwa energi bersih bukan sekadar isu lingkungan, melainkan jalan menuju kemandirian ekonomi masyarakat.

Elisabeth Bulu sedang menggoreng kue menggunakan briket kelapa. (Doc. Bajopos.com/MM).

Salah satu yang merasakan langsung manfaatnya adalah Elisabeth Bulu (70).

Di usianya yang tak lagi muda, Elisabeth mengaku dahulu sangat bergantung pada minyak tanah. Ketika minyak langka dan kayu bakar sulit didapat, aktivitas memasak menjadi pekerjaan yang berat.

“Kayu api banyak di kebun, tetapi siapa yang pergi cari. Anak-anak punya kesibukan masing-masing,” tuturnya saat ditemui Wartawan di halaman Rumah Susun Keuskupan Larantuka, Senin (29/6/2026).

Sejak bergabung dalam Komunitas Ina Sayang binaan YPPS pada 2023, kehidupannya perlahan berubah.

Bersama anggota komunitas lainnya, Elisabeth belajar mengolah tempurung kelapa menjadi briket.

“Sejak empat tahun lalu saya bergabung dalam komunitas Ina Sayang dampingan YPPS. Kami membuat briket, kami menggunakannya, sekaligus menjualnya,” ujarnya.

Briket yang dihasilkan terbukti lebih hemat, bersih, serta tidak menghasilkan asap maupun bau seperti kayu bakar.

“Kalau memasak air atau sayur juga lebih cepat,” katanya.

Awalnya, sebagian warga sempat ragu menggunakan briket karena khawatir panasnya merusak peralatan memasak. Namun kekhawatiran itu tidak terbukti.

Kini, justru saat musim hujan ketika kayu bakar sulit didapat dan minyak tanah langka, briket menjadi penyelamat kebutuhan rumah tangga.

Limbah Bernilai Ekonomi

Program yang dijalankan YPPS tidak berhenti pada produksi briket.

Para petani kelapa didampingi mulai dari proses budidaya hingga pengolahan hasil panen menggunakan Rumah Jemur Energi Matahari (REM) untuk menghasilkan kopra premium yang lebih bersih dan berkualitas dibandingkan metode pengasapan tradisional.

Setelah daging kelapa diproses menjadi kopra, tempurungnya tidak lagi dibuang.

Tempurung dibakar menjadi arang, kemudian ditumbuk atau digiling, dicampur tepung kanji sebagai perekat, dicetak menggunakan cetakan khusus, lalu dijemur hingga kering menjadi briket siap pakai.

Dengan sistem tersebut, hampir seluruh bagian kelapa memiliki nilai ekonomi.

Produksi briket komunitas Elisabeth kini mencapai sekitar 300 kilogram setiap tahun dan dipasarkan tidak hanya di Pulau Adonara, tetapi juga ke Larantuka hingga Maumere.

Hasil penjualan tersebut menjadi sumber tambahan penghasilan sekaligus memperkuat kas kelompok.

Perempuan Menjadi Motor Penggerak

Ketua Komunitas Ina Sayang sekaligus Koordinator Desa Lamabunga, Mama Asti, mengatakan pasar sebenarnya telah tersedia, baik untuk kopra premium maupun briket.

Tantangan terbesar justru terletak pada kapasitas produksi.

Jumlah Rumah Jemur Energi Matahari masih terbatas sehingga banyak petani masih mengeringkan kopra dengan cara tradisional menggunakan asap.

Perbedaan harga memang tidak terlalu besar.

Kopra biasa dihargai sekitar Rp9.000 per kilogram, sedangkan kopra premium mencapai sekitar Rp9.500 per kilogram, bergantung pada kondisi pasar.

Sementara untuk briket, permintaan terus meningkat.

“Kami justru kewalahan melakukan promosi. Ke depan kami ingin berkolaborasi dengan anak-anak muda supaya mereka membantu memasarkan produk melalui media sosial,” kata Mama Asti.

Komunitas Ina Sayang sendiri memiliki 23 anggota aktif yang terdiri dari perempuan, lansia hingga penyandang disabilitas.

Selain memproduksi briket dan kopra premium, seluruh anggota juga diwajibkan mengikuti program simpan pinjam komunitas.

Tahun lalu, kas kelompok mencapai Rp32 juta.

Sementara dalam enam bulan pertama tahun ini, tabungan anggota telah menembus Rp20 juta.

Simpan Pinjam dari Uang Anggota Sendiri

Selain energi bersih, YPPS juga memperkuat ekonomi masyarakat melalui program Saving Internal Lending Community (SILC).

Melky Koli Baran, Direktur YPPS Flores Timur. (Doc. Bajopos.com/MM).

Direktur YPPS, Melky Koli Baran, menjelaskan bahwa SILC merupakan sistem literasi keuangan yang terinspirasi dari model yang dikembangkan Caritas Amerika dan disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat Flores Timur.

Menurutnya, mayoritas warga memiliki penghasilan harian yang relatif kecil sehingga sulit menabung di lembaga keuangan formal.

Melalui SILC, anggota menyisihkan tabungan setiap minggu mulai Rp10 ribu hingga maksimal Rp500 ribu.

Batas maksimal tersebut diterapkan agar seluruh anggota memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi.

Setelah memasuki minggu kelima, anggota sudah dapat mengajukan pinjaman dengan bunga lima persen.

Dana yang dikelola sepenuhnya berasal dari anggota, tanpa suntikan dana dari yayasan.

“Seluruh uang itu milik kelompok. Yayasan tidak membantu sepeser pun,” tegas Melky.

Dana tersebut dimanfaatkan untuk membeli aset produktif seperti mesin parut kelapa maupun perlengkapan pesta yang kemudian disewakan kepada masyarakat.

Koperasi Komunitas Tumbuh dari Briket

Keberhasilan serupa juga dirasakan Komunitas Wolosina Watoboki di Desa Bantala, Kecamatan Lewolema.

Regina Azi menunjukan briket yang diolah dari tempurung. (Doc. Bajopos.com/MM).

Bendahara kelompok, Regina Azi, mengatakan keuntungan dari penjualan briket tidak hanya meningkatkan pendapatan anggota, tetapi juga menjadi modal membangun koperasi komunitas.

Saat ini kelompok tersebut memiliki dana simpanan mencapai Rp76 juta pada minggu ke-18 siklus tabungan.

Pada tahun 2025, total akumulasi simpanan anggota yang dibagikan mencapai Rp186 juta.

Anggota kelompok yang berjumlah 20 orang itu rutin memproduksi sekitar 10 kilogram briket per hari.

Permintaan datang dari Kabupaten Sikka, Larantuka hingga sejumlah gereja yang memanfaatkan briket untuk pembakaran dupa.

“Anggota yang memiliki anak sekolah sangat terbantu dengan koperasi ini,” ujar Regina.

Selain dana simpan pinjam, komunitas juga memiliki dana sosial untuk membantu anggota yang sakit maupun menghadapi kebutuhan darurat.

Dari Energi Bersih Menuju Desa Mandiri

Setiap tahun, YPPS menggelar forum diseminasi praktik baik sebagai ruang berbagi pengalaman antar komunitas dampingan.

Forum tersebut menjadi ajang evaluasi sekaligus penyusunan strategi pengembangan program.

“Tahun ini kami mengangkat tema Dari Energi Bersih Menuju Kemandirian Ekonomi,” kata Melky.

Saat ini YPPS mendampingi enam desa di empat kecamatan di Flores Timur.

Ke depan, jangkauan program akan terus diperluas agar semakin banyak masyarakat menikmati manfaat transisi energi berbasis potensi lokal.

Selain tempurung kelapa, YPPS juga tengah mengembangkan pemanfaatan cangkang kemiri sebagai bahan baku briket.

Di sektor hulu, yayasan ini juga memperkuat keberlanjutan komoditas kelapa melalui program penanaman sekitar 3.000 bibit kelapa di berbagai desa dampingan sepanjang tahun lalu.

Menurut Melky, seluruh program tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar fosil sekaligus memperkuat ekonomi keluarga melalui pemanfaatan sumber daya lokal.

“Kita perlu mengembangkan potensi lokal agar tidak terus bergantung pada bahan bakar fosil yang menghasilkan polusi,” ujarnya.

Bagi YPPS, transisi energi bukan hanya soal mengganti bahan bakar. Lebih dari itu, transisi energi menjadi jalan untuk melahirkan desa-desa yang mandiri, tangguh menghadapi perubahan iklim, sekaligus menempatkan perempuan sebagai penggerak utama ekonomi keluarga dan komunitas.

Dari sepotong tempurung kelapa yang dahulu dibuang, kini lahir harapan baru bagi masa depan Flores Timur—lebih hijau, lebih mandiri, dan lebih sejahtera.

Reporter : MM | Editor : Redaksi

KSOP El Say Maumere Kosong Tim Ukur Akibat Langgar SOP, Sebelumnya Hanya Satu

MAUMERE, Bajopos.com | Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV El Say Maumere, Ryan Partigor Hutabarat, menegaskan bahwa pelayanan pengukuran kapal di wilayah kerjanya saat ini terdampak karena satu-satunya petugas ukur kapal yang dimiliki KSOP, yakni Kardi, telah dihentikan sementara dari tugas pengukuran akibat melakukan tindakan di luar kewenangannya.

Penegasan tersebut disampaikan Ryan saat memberikan klarifikasi kepada wartawan di ruang kerjanya terkait polemik pelayanan pengukuran kapal yang belakangan menjadi sorotan masyarakat.

Menurut Ryan, KSOP El Say Maumere hanya memiliki satu orang petugas yang berwenang melakukan pengukuran kapal, yakni Kardi.

Karena keterbatasan sumber daya tersebut, hampir seluruh permohonan pengukuran kapal di wilayah kerja KSOP bergantung pada petugas tersebut.

“Orang satu-satunya di KSOP yang bisa melakukan pengukuran hanya dia. Jumlah kapal yang diukur banyak sekali. Akhirnya banyak masyarakat yang meminta bantuan langsung kepada dia,” ujar Ryan.

Namun, Ryan menjelaskan bahwa Kardi melakukan pelanggaran prosedur karena ikut membantu pemohon mencarikan pihak yang dapat membuat gambar kapal, yang sebenarnya bukan bagian dari tugas seorang petugas ukur.

Menurutnya, dalam standar operasional prosedur (SOP), tugas petugas ukur hanya melakukan pengukuran setelah seluruh dokumen persyaratan, termasuk gambar kapal, telah lengkap dan diverifikasi.

“Secara tugas dia hanya mengukur kapal. Tidak sampai mengurus gambar kapal. Itu bukan tugasnya,” tegas Ryan.

Ryan mengungkapkan, banyak pemilik kapal yang tidak memiliki email, akun permohonan, maupun kemampuan mengurus persyaratan teknis sehingga meminta bantuan langsung kepada Kardi.

Akibatnya, Kardi kerap menjadi penghubung antara pemohon dengan pihak yang bisa membuat gambar kapal menggunakan AutoCAD.

Padahal, menurut Ryan, siapa pun dapat membuat gambar kapal selama memiliki kemampuan teknis dan memenuhi standar yang dipersyaratkan. KSOP tidak menunjuk pihak tertentu untuk pekerjaan tersebut.

“Kesalahannya karena dia menjadi perantara. Akhirnya masyarakat bisa berpikir uang yang diberikan untuk gambar itu diterima oleh dia. Itu yang tidak boleh,” katanya.

Atas pelanggaran tersebut, Ryan mengaku telah menjatuhkan sanksi kepada Kardi dengan menghentikan sementara yang bersangkutan dari tugas pengukuran kapal selama enam bulan.

“Dia tidak boleh mengukur lagi selama enam bulan,” tegas Ryan.

Akibat sanksi tersebut, Ryan mengaku untuk sementara pelayanan pengukuran kapal di KSOP El Say Maumere juga dihentikan guna mencegah persoalan serupa kembali terjadi.

“Saya stop dulu. Saya tidak mau terjadi lagi persoalan seperti ini,” ujarnya.

Ryan juga menepis anggapan bahwa biaya yang muncul dalam proses pengukuran kapal merupakan pungutan tanpa dasar. Ia menjelaskan bahwa biaya yang timbul dalam pelaksanaan pengukuran kapal telah diatur dalam PP Nomor 15 Tahun 2016 tentang PNBP serta Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 45 Tahun 2021, yang menyebutkan bahwa biaya akomodasi, transportasi, dan biaya lain dalam pelaksanaan pengukuran dibebankan kepada pemohon sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ryan berharap masyarakat memahami bahwa persoalan yang terjadi bukan berkaitan dengan tugas pengukuran kapal itu sendiri, melainkan karena petugas ukur membantu pekerjaan yang berada di luar kewenangannya sehingga menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.

Reporter : Faidin

Julie Sutrisno Laiskodat dalam Refleksi Idul Adha, “Mengikis Ego dan Menyembelih Sifat Buruk”

FLORES TIMUR, Bajopos.com | Gema takbir Idul Adha berkumandang di seluruh penjuru tanah Lamaholot, Kabupaten Flores Timur, Rabu (27/5/2026).

Dari mushala ke mushala dan masjid ke masjid, suara takbir saling bersahutan menghadirkan suasana religius yang penuh haru dan kebersamaan.

Di tengah lantunan kalimat tauhid itu, umat Muslim dari berbagai kalangan larut dalam suka cita hari raya kurban. Anak-anak, orang tua, kaum muda, hingga para lansia menyambut Idul Adha dengan hati penuh syukur dan pengharapan.

Momentum sakral tersebut juga diwarnai dengan penyerahan hewan kurban dari Anggota DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat kepada Takmir Masjid Attaqwa Witihama melalui perwakilannya.

Bantuan satu ekor sapi itu kemudian diterima langsung oleh panitia pemotongan hewan kurban tahun 2026.

Bagi Julie Sutrisno Laiskodat, Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan atau seremoni penyembelihan hewan kurban.

Lebih dari itu, Idul Adha merupakan refleksi spiritual tentang bagaimana manusia belajar mengikis ego dan menyembelih sifat-sifat buruk dalam dirinya.

“Hari Raya Idul Adha adalah momentum bertemunya dua peristiwa besar dalam Islam, yakni Ibadah Haji dan Ibadah Kurban. Keduanya mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan dan kepatuhan kepada Allah SWT,” ujar Julie.

Ia menuturkan, kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam yang diperintahkan menyembelih putranya sendri yaitu Nabi Ismail Alaihissalam (sebelum akhirnya diangkat menjadi nabi) menjadi simbol ketundukan totalitas seorang hamba kepada Tuhan.

Ketika Nabi Ibrahim Alaihissalam menunjukkan ketaatan dan keikhlasan kala itu, Allah SWT kemudian menggantikan Nabi Ismail dengan seekor kambing jantan sebagai bentuk kasih sayang dan penghargaan atas pengorbanan tersebut.

Julie Sutrisno Laiskodat pun berpandangan bahwa nilai terbesar dari Idul Adha sesungguhnya bukan terletak pada darah hewan kurban, melainkan pada ketulusan hati manusia dalam berbagi dan mengorbankan kepentingan pribadi demi sesama dan semata-mata hanya mengharap pembalasan di akhirat dari Tuhan.

“Momentum Idul Adha adalah tindakan nyata untuk menyadarkan diri kita bahwa kepedulian harus terus dibangun agar dapat memberi manfaat bagi sesama,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa Idul Adha menjadi ruang introspeksi diri bagi umat manusia untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT maupun hubungan sosial dengan sesama manusia.

Di sisi lain, ritual ibadah haji yang berlangsung bersamaan dengan Idul Adha juga memperlihatkan besarnya kerinduan umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Meski harus menunggu bertahun-tahun demi kuota keberangkatan, jutaan umat Muslim tetap berharap bisa menunaikan ibadah ke Tanah Suci sebelum ajal menjemput.

Semangat pengorbanan dan ketulusan itulah yang menurut Julie harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari, terlebih di tengah situasi sosial yang kerap dipenuhi egoisme, perpecahan dan hilangnya rasa peduli.

“Semoga Allah menjadikan setiap helaan napas umat-Nya sebagai bukti cinta, pengabdian dan pengorbanan kepada sesama,” tutupnya.

Reporter : Faidin

Diduga Bom Ikan di Perairan Flores Timur, Nama Kabil Disebut dalam Unggahan Akun X, Polairud Polda NTT ; “Sudah Kami Lidik”

FLORES TIMUR, Bajopos.com | Dugaan praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak kembali mencuat di wilayah perairan Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Informasi tersebut awalnya beredar melalui sebuah postingan akun di platform X yang kemudian ramai diperbincangkan masyarakat pesisir. Namun, unggahan tersebut diketahui telah dihapus (take down) oleh pemilik akun.

Meski demikian, media ini telah lebih dahulu melakukan tangkapan layar terhadap postingan dimaksud sebelum dihapus.

Selain itu, video praktik pengeboman tersebut tersebar luas.

Dalam unggahan itu, seorang pengguna media sosial mengaku resah dengan aktivitas sejumlah oknum nelayan yang disebut kerap menggunakan bom ikan di kawasan pesisir Flores Timur.

Dalam narasi yang diunggah, pemosting meminta bantuan masyarakat, khususnya warga pesisir dan kepulauan Maumere, untuk mengenali perahu yang diduga digunakan para pelaku berwarna putih. Ukuran perahu dengan perkiraan sekitar 1 GT.

Disebutkan pula bahwa aksi para nelayan tersebut sempat didokumentasikan warga setempat saat berada di laut.

“Oknum-oknum nelayan perusak ini sudah sering sekali menangkap ikan pakai bom di wilayah kami tepatnya daerah pesisir Flores Timur,” tulis akun tersebut dalam postingannya sebelum akhirnya dihapus.

Unggahan tersebut juga menyebut bahwa masyarakat sempat meneriaki dan mengusir para pelaku, namun mereka disebut tidak mengindahkan teguran warga.

Dalam postingan itu, pemilik akun turut menuliskan bahwa berdasarkan informasi yang diperoleh setelah unggahan beredar, pemilik perahu yang diduga terlibat disebut bernama Kabil dan berasal dari Pulau Perman (Permaan, red), Maumere.

Namun demikian, informasi tersebut masih sebatas dugaan yang beredar di media sosial dan belum ada penetapan hukum dari aparat penegak hukum.

Terkait informasi tersebut, Bajopos.com telah melakukan konfirmasi kepada anggota Polairud Polda NTT, Marnit Sikka di Maumere, Bripka Putu Sulatra, pada Selasa, (19/5/2026) malam.

Dalam keterangannya melalui pesan WhatsApp, Bripka Putu Sulatra membenarkan bahwa dugaan kasus tersebut telah lama dalam penyelidikan pihak kepolisian.

“Sudah lama ini masih kami lidik,” ujar Bripka Putu Sulatra.

Ia juga menyebut bahwa peristiwa yang dimaksud diduga terjadi sekitar akhir April 2026.

“Akhir April kalau tidak salah,” tambahnya.

Menurutnya, pihak Polairud hingga kini masih terus mengumpulkan informasi dan melakukan pendalaman terhadap dugaan aktivitas destructive fishing tersebut.

“Sudah kami lidik. Tinggal tunggu perkembangan info,” katanya lagi.

Saat ditanya sejauh mana perkembangan penyelidikan dan apakah ada kemungkinan pihak yang diduga terlibat dapat ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO), pihak media ini masih menunggu konfirmasi lanjutan dari Bripka Putu Sulatra maupun pihak terkait lainnya.

Praktik bom ikan sendiri merupakan tindakan ilegal yang dapat merusak ekosistem laut, terumbu karang, dan mengancam keberlangsungan sumber daya perikanan di wilayah pesisir.

Warga berharap aparat penegak hukum dapat segera mengambil langkah tegas agar aktivitas serupa tidak terus berulang di perairan Flores Timur.

Untuk diketahui, dalam kasus serupa, Timsus Dit Polairud Polda NTT kini tengah berhasil mengamankan diduga pelaku pengeboman di perairan Pulau Permaan yang terjadi beberapa bulan lalu.

Petugas mengamankan yang bersangkutan UR di wilayah Kalikur, Kabupaten Lembata pada Senin, 18/5/2026.

Reporter : Dn

MUI dan FKUB Flores Timur Serukan Harmoni Jelang Semana Santa Larantuka

FLOTIM, BAJOPOS.COM – Menjelang perayaan akbar Semana Santa Larantuka, seruan menjaga kerukunan umat beragama menggema dari tokoh lintas iman di Kabupaten Flores Timur.

Momentum bertemunya sejumlah hari besar keagamaan dinilai sebagai ujian sekaligus peluang memperkuat persaudaraan.

Ketua Dewan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Flores Timur, Bakir Doni Pulo, mengajak seluruh umat Islam untuk menjaga suasana kondusif, khususnya bagi umat Katolik yang akan menjalankan rangkaian Paskah.

“Menjelang Paskah, kami sangat mengharapkan umat Islam menjaga ketenangan bagi saudara-saudara kita yang menjalankan ibadah,” ujarnya kepada wartawan.

Menurutnya, Paskah bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat nilai toleransi dan kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk. Ia menegaskan pentingnya menjaga kedamaian di Larantuka sebagai kota religius yang menjadi tujuan ribuan peziarah setiap tahun.

Senada dengan itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Flores Timur, Petrus Pedo Beke, menyoroti keistimewaan tahun ini, di mana tiga hari besar—Nyepi, Idul Fitri, dan Paskah—dirayakan dalam waktu yang berdekatan.

“Ini menjadi kebahagiaan sekaligus tanggung jawab bersama. Kita berharap seluruh rangkaian perayaan berjalan damai dan penuh sukacita,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa pekan suci menjadi waktu penuh rahmat bagi umat Katolik, khususnya di lingkungan Keuskupan Larantuka, yang setiap tahun menggelar tradisi devosional yang sarat makna spiritual.

Lebih lanjut, Petrus menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor demi menjamin keamanan dan kelancaran perayaan. FKUB, kata dia, terus bersinergi dengan TNI, Polri, serta pemerintah daerah dalam membangun komunikasi yang intensif.

“Koordinasi harus terus diperkuat, mengingat banyaknya peziarah dari berbagai daerah. Keamanan menjadi kunci utama,” tegasnya.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah dan aparat keamanan atas komitmen menjaga stabilitas selama rangkaian hari besar keagamaan berlangsung.

Di tengah keberagaman, Flores Timur kembali menunjukkan wajah toleransi—bahwa perbedaan bukan sekat, melainkan kekuatan untuk merawat harmoni bersama.

Reporter : Arsenius Agung
Editor : Redaksi

Pisang Kepok Nyaris Hilang di Sikka, Petani Tertekan Serangan Penyakit Sejak 2020

SIKKA, BAJOPOS.COM – Serangan penyakit darah pisang atau blood disease bacterium (BDB) yang terjadi sejak 2020 hingga kini terus menghantui petani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Dampaknya tidak hanya menurunkan produksi, tetapi juga membuat pisang kepok—komoditas andalan daerah—nyaris hilang dari peredaran.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh petani dan pedagang. Keterbatasan pasokan dari dalam daerah memaksa mereka mendatangkan pisang dari luar wilayah seperti Kabupaten Flores Timur dan Lembata.

Don, pedagang pisang di Pasar Alok Maumere, mengaku situasi tersebut sangat memukul usaha yang dijalaninya.

“Untuk di Kabupaten Sikka, pisang kepok yang menjadi salah satu andalan ekonomi petani sudah hilang dari peredaran. Kami terpaksa membeli dari luar daerah,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).

Menurut dia, kondisi ini turut meningkatkan beban modal usaha. Untuk mendapatkan pasokan, ia harus mengeluarkan biaya hingga Rp10 juta guna membeli sekitar dua pikap pisang dari luar daerah.

Di tingkat pedagang, harga jual pisang saat ini mencapai sekitar Rp70.000 per tandan. Meski demikian, tingginya permintaan pasar, termasuk untuk pengiriman ke luar daerah seperti Surabaya, belum mampu diimbangi dengan ketersediaan stok.

“Kami kesulitan memenuhi permintaan karena barangnya terbatas,” katanya.

Don berharap Dinas Pertanian Kabupaten Sikka segera mengambil langkah konkret untuk memutus rantai penyebaran penyakit tersebut. Ia juga mendorong adanya solusi teknis yang lebih efektif di tingkat petani.

“Harapan kami, pemerintah bisa segera menghadirkan solusi agar penyakit ini bisa dikendalikan dan produksi pisang kembali normal,” ujarnya.

Dampak kelangkaan pisang kepok tidak hanya dirasakan dari sisi ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan budaya masyarakat setempat. Di Sikka, pisang menjadi salah satu komponen penting dalam berbagai kegiatan adat, termasuk prosesi perkawinan.

Martinus, warga Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan adat akibat langkanya pisang di daerahnya.

“Untuk urusan adat perkawinan, kami sampai harus membeli pisang dari Flores Timur karena di sini sudah sulit didapat,” tuturnya.

Sejumlah pihak menilai, penanganan penyakit tanaman seperti BDB membutuhkan pendekatan terpadu. Upaya tersebut meliputi pengendalian di tingkat kebun, penggunaan bibit sehat, hingga edukasi kepada petani terkait praktik budidaya yang aman.

Tanpa langkah terkoordinasi, penyebaran penyakit dikhawatirkan akan terus meluas dan memperparah kondisi pertanian lokal.

Hingga kini, para petani di Sikka masih berharap adanya solusi nyata untuk mengakhiri persoalan yang telah berlangsung selama enam tahun tersebut.

Bagi mereka, keberhasilan mengendalikan penyakit ini bukan hanya soal pemulihan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan tradisi dan kehidupan sosial masyarakat.

Penulis : Redaksi

Moderasi dan Kebersamaan Warnai Gema Ramadhan di Lamakera

FLORES TIMUR, BAJOPOS.COM – Menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Madrasah Aliyah Negeri 2 Flores Timur mengambil peran dalam kegiatan Gema Ramadhan yang dikemas dalam pawai ta’aruf di wilayah Lamakera, Jumat (13/2/2026).

Kegiatan yang melibatkan civitas madrasah bersama sekolah lain dan elemen masyarakat se-Lamakera itu menjadi ruang perjumpaan lintas kalangan dalam suasana religius yang inklusif.

Pawai dimulai dari Watobuku, bergerak menuju Musholla Baburrahman Motonwutun, dan berakhir di Masjid Al Ijtihad Lamakera.

Berbeda dari sekadar seremoni tahunan, pawai tersebut menonjolkan praktik moderasi beragama di lingkungan pendidikan. Guru serta pegawai non-Muslim turut ambil bagian, memperlihatkan semangat toleransi yang hidup dalam keseharian madrasah.

Seluruh peserta mengenakan busana muslim dan mengikuti kegiatan secara tertib sebagai bagian dari syiar menyambut Ramadhan.

Imam Masjid Al Ijtihad Lamakera, Ibrahim R. Dasi, secara resmi melepas rombongan pawai. Ia berharap momentum ini semakin mempererat ukhuwah Islamiyah dan kebersamaan masyarakat dalam memasuki bulan suci.

Sepanjang rute, kegiatan diisi dengan penampilan seni dan budaya Islami, mulai dari marching band hingga lantunan sholawat. Nuansa religius berpadu dengan ekspresi kreatif peserta didik, menjadikan pawai sebagai ruang pembelajaran terbuka di tengah masyarakat.

Bagi siswa MAN 2 Flores Timur, keterlibatan dalam Gema Ramadhan tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga melatih kepercayaan diri, kedisiplinan, kerja sama, serta kepedulian sosial. Madrasah menilai pengalaman langsung di ruang publik menjadi bagian penting dari pembinaan karakter moderat dan toleran.

Keikutsertaan dalam kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen MAN 2 Flores Timur mendukung penguatan moderasi beragama dan harmoni sosial, sejalan dengan arah kebijakan pendidikan Kementerian Agama dalam membangun generasi berkarakter dan inklusif.(Faidin)