Sen. Mei 25th, 2026

AWAS

Abrasi Nangahale Kian Menggerus, Warga Sindir Ketidakhadiran Bupati di HUT AWAS

SIKKA, BAJOPOS.COM – Abrasi di pesisir Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, semakin mengkhawatirkan. Selain mengancam rumah warga dan bangunan sekolah, gelombang pasang kini dilaporkan telah menggerus badan jalan aspal di jalur pesisir pantai yang menjadi akses vital masyarakat.

Momentum peringatan hari ulang tahun ke-12 Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Sabtu (14/02/2026), yang diisi dengan aksi tanam mangrove di Dusun Namandoi, juga menjadi ruang curhat warga terkait kondisi tersebut.

Dalam wawancara terpisah, seorang warga Nangahale yang meminta namanya tidak dipublikasikan mengungkapkan kekecewaannya atas ketidakhadiran Bupati Sikka dalam kegiatan tersebut.

“Pantai ini sudah menggerus jalan aspal pesisir. Kami lihat sendiri setiap tahun makin mendekat. Mungkin Bupati takut lihat langsung kondisi di sini,” ujarnya.

“MTs dan MIS ini dua sekolah yang nyaria selalu di liburkan jika ombak sudah mulai besar. Tahun lalu sampai tempias ke dalam kelas ombaknya, akhirnya diliburkan. Termasum kalau rob sekolah MIS ini banjir tidak ada model sekolah. Lalu dimana pemerintah?,” tanya warga dalam kisahnya.

Pernyataan itu mencerminkan keresahan sebagian masyarakat yang merasa persoalan abrasi belum mendapat perhatian maksimal. Menurut warga, kehadiran kepala daerah di lokasi terdampak dinilai penting, bukan sekadar simbolis, tetapi untuk memastikan adanya langkah nyata penanganan.

Abrasi di Nangahale disebut tidak lagi sekadar mengikis bibir pantai, tetapi telah merambah infrastruktur publik. Jalan aspal pesisir yang biasa dilalui warga untuk aktivitas ekonomi dan pendidikan kini terancam rusak permanen jika tidak segera diperkuat.

Sebelumnya, Kepala Desa Nangahale, Sahanudin, juga menyampaikan bahwa dua lembaga pendidikan—MTs Al-Fatah dan MIS Al-Fatah Nangahale—serta belasan rumah warga dan rumah produksi garam rakyat berada dalam zona rawan abrasi.

Ketua AWAS, Mario WP Sina, menegaskan bahwa penanaman sekitar 270 anakan mangrove dalam peringatan HUT ke-12 menjadi bentuk kepedulian konkret terhadap kondisi pesisir. Namun ia mengakui, upaya tersebut perlu ditindaklanjuti dengan kebijakan dan program pemerintah yang lebih komprehensif.

“Kami berharap semua pihak, termasuk pemerintah daerah, bisa melihat ini sebagai situasi darurat lingkungan. Abrasi bukan lagi ancaman masa depan, tapi sudah terjadi hari ini,” ujarnya.

Warga Nangahale berharap ada penanganan terpadu, mulai dari pembangunan talud atau pemecah gelombang, rehabilitasi mangrove secara berkelanjutan, hingga kajian teknis untuk menyelamatkan jalan pesisir yang mulai tergerus.

Di tengah ombak yang terus menghantam daratan, suara warga semakin keras terdengar. Mereka tak hanya menanam mangrove bersama para jurnalis, tetapi juga menanam harapan agar pemerintah hadir melihat langsung kenyataan di pantai Nangahale—sebelum lebih banyak daratan yang hilang.(Faidin)

Abrasi Nangahale Terus Menggerus, Sekolah dan Rumah Warga di Ujung Ancaman

SIKKA, BAJOPOS.COM – Deru ombak di pesisir Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, tak lagi sekadar irama alam. Ia kini menjadi penanda kecemasan. Abrasi yang terus menggerus garis pantai membuat jarak antara laut dan permukiman warga semakin menipis, menghadirkan ancaman nyata bagi sekolah, rumah, hingga sumber penghidupan masyarakat.

Kondisi itu kembali disuarakan dalam momentum peringatan hari ulang tahun ke-12 Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Sabtu (14/02/2026). Alih-alih merayakan dengan seremoni, para jurnalis memilih menanam mangrove di Dusun Namandoi sebagai bentuk solidaritas terhadap warga yang terdampak abrasi.

Kepala Desa Nangahale, Sahanudin, menegaskan bahwa abrasi bukan lagi ancaman jangka panjang, melainkan persoalan yang sedang berlangsung. Garis pantai terus mundur, mendekati dua lembaga pendidikan—MTs Al-Fatah dan MIS Al-Fatah Nangahale—serta belasan rumah warga dan rumah produksi garam rakyat.

“Kalau tidak ada penanganan serius, bukan tidak mungkin bangunan sekolah dan rumah warga akan semakin terancam. Kami butuh solusi jangka panjang, bukan hanya penanganan sementara,” ujarnya.

Abrasi di Nangahale dipicu kombinasi faktor alam dan perubahan lingkungan. Gelombang tinggi, berkurangnya vegetasi penahan pantai, serta dampak perubahan iklim mempercepat proses pengikisan. Tanpa sabuk hijau mangrove yang kuat, daratan menjadi rentan terhadap hantaman ombak.

Sebanyak kurang lebih 270 anakan mangrove ditanam dalam aksi bertema “AWAS Peduli dan Hijaukan Sikka”. Ketua AWAS, Mario WP Sina, mengatakan bahwa pemilihan Nangahale sebagai lokasi kegiatan merupakan bentuk keberpihakan terhadap wilayah yang membutuhkan perhatian serius.

“Kami melihat langsung kondisi abrasi di sini. Mangrove adalah benteng alami. Ini langkah kecil, tapi kami berharap menjadi pemicu gerakan yang lebih besar,” katanya.

Mangrove dikenal efektif meredam gelombang, menahan sedimen, serta mencegah intrusi air laut. Selain itu, ekosistem ini menjadi habitat berbagai biota laut yang mendukung ekonomi nelayan. Namun, penanaman mangrove saja dinilai belum cukup tanpa perencanaan terpadu dari pemerintah daerah.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Sikka segera mengambil langkah komprehensif, mulai dari pembangunan struktur pengaman pantai, rehabilitasi kawasan pesisir, hingga edukasi berkelanjutan tentang pelestarian lingkungan.

Momentum HUT AWAS juga dirangkaikan dengan operasi pangan murah bekerja sama dengan Perum Bulog Cabang Maumere, sebagai bentuk dukungan terhadap ketahanan ekonomi warga pesisir yang terdampak.

Keterlibatan berbagai unsur—TNI, Polri, pemerintah desa, lembaga pendidikan, hingga organisasi kepemudaan—menunjukkan bahwa persoalan abrasi bukan isu sektoral, melainkan tanggung jawab bersama.

Di Nangahale, abrasi bukan lagi cerita tentang masa depan yang jauh. Ia adalah realitas hari ini. Setiap meter tanah yang hilang menjadi pengingat bahwa perlindungan pesisir harus menjadi prioritas. Jika tidak, bukan hanya garis pantai yang terkikis, tetapi juga ruang hidup dan harapan masyarakat pesisir Sikka.(Faidin)

HUT ke-12 Aliansi Wartawan Sikka Dihadapkan pada Ancaman Abrasi Nangahale

SIKKA, BAJOPOS.COM – Peringatan hari ulang tahun ke-12 Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) tahun ini tidak digelar di ruang pertemuan atau panggung seremoni. Para jurnalis memilih berdiri di atas lumpur pesisir, menanam mangrove di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (14/02/2026), sebagai bentuk keberpihakan pada warga yang terancam abrasi.

Dengan mengusung tema “AWAS Peduli dan Hijaukan Sikka”, sebanyak kurang lebih 270 anakan mangrove ditanam di kawasan Dusun Namandoi. Aksi tersebut menjadi refleksi bahwa kerja jurnalistik tidak berhenti pada pemberitaan, tetapi juga menjelma menjadi gerakan sosial yang menyentuh langsung persoalan masyarakat.

Kepala Desa Nangahale, Sahanudin, menyampaikan bahwa abrasi yang terus terjadi merupakan ancaman nyata bagi warganya.

“Ada dua lembaga sekolah yang terancam, yakni MTs Al-Fatah dan MIS Al-Fatah Nangahale. Selain itu, belasan rumah warga serta rumah produksi garam milik rakyat juga berada dalam kondisi berbahaya akibat abrasi,” ujarnya.

Menurutnya, penanaman mangrove menjadi langkah awal yang penting, namun ia berharap ada intervensi lebih serius dari Pemerintah Kabupaten Sikka untuk penanganan abrasi secara komprehensif dan berkelanjutan.

Ketua AWAS, Mario WP Sina, menegaskan bahwa pemilihan Nangahale bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut memiliki potensi ekosistem mangrove yang perlu diperkuat sebagai benteng alami pesisir.

Ia menambahkan, mangrove memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem, menahan gelombang, sekaligus menjadi habitat berbagai biota laut yang menopang kehidupan nelayan dan masyarakat pesisir.

Tak hanya isu lingkungan, momentum HUT ke-12 AWAS juga diarahkan pada penguatan ekonomi warga. Bersama Perum Bulog Kantor Cabang Maumere, AWAS menggelar operasi pangan murah bagi masyarakat Desa Nangahale. Program ini ditujukan untuk membantu warga memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat lokal.

Kepala Bulog Cabang Maumere, Martin Luther Sesa, turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama unsur TNI-Polri diantaranya Kapolsek Waigete, I Wayan Artawan, SH mewakili Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno, S.I.K. bersama personil dan Kepala Staf Kodim (Kasdim) 1603/Sikka, Mayor Cba Dominggus M. Antamani mewakili Dandim 1603/Sikka, Letkol Arm Denny Riesta Permana bersama personil, Kejaksaan Negeri Maumere, dan dihadiri warga setempat.

Selanjutnya, dari lembaga pendidikan setempat, hadir pula dari warga sekolah MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale dan MTs Muhammadiyah Al Fatah Nangahale, perwakilan organisasi Persatuan Olahraga Dusun Namandoi (PON).

Keterlibatan lintas sektor ini memperlihatkan bahwa isu lingkungan dan ketahanan pangan bukan tanggung jawab satu pihak semata. Sinergi yang terbangun diharapkan menjadi model kolaborasi berkelanjutan dalam menjaga pesisir Sikka.

Memasuki usia ke-12 tahun, AWAS menegaskan komitmennya untuk terus hadir sebagai pengawal informasi publik sekaligus bagian dari gerakan sosial di daerah. Di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan ekonomi, jurnalisme dituntut tak hanya kritis lewat tulisan, tetapi juga solutif melalui aksi nyata.

Di Nangahale, peringatan ulang tahun itu menjadi simbol bahwa pena dan bibit mangrove bisa berjalan beriringan—mengabarkan persoalan sekaligus menanam harapan bagi masa depan pesisir Sikka.(Faidin)

Aliansi Wartawan Sikka Tanam Mangrove dan Gelar Pangan Murah Gandeng Bulog Peringati HUT ke-12 AWAS dan HPN

SIKKA, BAJOPOS.COM – Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) menggandeng Perum Bulog Kabupaten Sikka untuk menggelar pangan murah berupa paket sembako bagi masyarakat Desa Nangahale, Kecamatan Talibura. Kegiatan tersebut akan dirangkaikan dengan aksi penanaman mangrove oleh Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) di Dusun Namandoi, Sabtu (14/02/2026).

Agenda bertajuk “AWAS Peduli dan Hijaukan Sikka” ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-12 AWAS sekaligus momentum Hari Pers Nasional (HPN).

Kegiatan dijadwalkan berlangsung mulai pukul 09.00 Wita dan melibatkan berbagai unsur, mulai dari lembaga pendidikan (siswa dan guru), pemerintah desa dan kecamatan, Koramil, Polsek Waigete, Kodim 1603/Sikka, Polres Sikka, hingga sejumlah instansi pemerintah daerah.

Tak hanya itu, kegiatan ini pun turut mengundang Bupati Sikka, Juventus Yoris Prima Kago (Jupik) dan Ketua DPRD Sikka, Stefanus Sumandi untuk turut membersamai kegiatan ini.

Kepala Bulog Cabang Maumere, Martin Luther Sesa, memastikan dukungan pihaknya dalam penyediaan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Program pangan murah ini diharapkan membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat lokal.

Ketua AWAS, Mario WP Sina, mengatakan peringatan ulang tahun organisasi tahun ini difokuskan pada kegiatan yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.

“Kami ingin HUT ke-12 AWAS tidak sekadar seremoni, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata. Penanaman mangrove ini sedang kami siapkan secara matang agar pelaksanaannya tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujarnya.

Begitupun terhadap pangan murah, dalam sinergitas yang di bangun AWAS kemudian menggandeng Bulog menggelar pangan murah di Posko titik kumpul di Lapangan Bajo Maritim Dusun Namandoi.

Menurut Mario, kawasan pesisir Nangahale dipilih karena memiliki potensi ekosistem mangrove yang perlu dijaga dan diperkuat. Mangrove berperan penting dalam menahan abrasi, menjaga kualitas lingkungan pesisir, serta menjadi habitat berbagai biota laut.

Ia menegaskan, kegiatan penanaman tidak berhenti pada seremoni semata. AWAS membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah desa, sekolah, komunitas lingkungan, serta masyarakat setempat untuk memastikan adanya perawatan dan pengawasan bersama terhadap anakan mangrove yang ditanam.

Selain itu, keterlibatan TNI dan Polri bersama sejumlah instansi pemerintah daerah diharapkan memperkuat sinergi lintas sektor dalam menjaga ekosistem pesisir di Kabupaten Sikka.

Memasuki usia ke-12 tahun, AWAS menegaskan komitmennya untuk terus hadir bukan hanya sebagai pengawal informasi publik, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan sosial dan lingkungan di daerah.

Melalui kegiatan ini, AWAS berharap kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga kawasan pesisir semakin tumbuh dan berkelanjutan.(Faidin)