Oleh : Ust. Dr. Muhammad Dwi Fajri, M.Pd.I (Dosen Uhamka)
Selamat datang Ramadhan. Marhaban yaa Ramadhan. Inilah bulan yang sangat mulia, yang kehadirannya disambut gegap gempita oleh kaum muslimin dan muslimat seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Dalam tradisi masyarakat Indonesia, kehadiran Ramadhan disambut dengan berbagai aktivitas, di antaranya pengajian tarhib, silaturahim, pawai, bersih-bersih masjid, dan kegiatan sosial lainnya.
Ramadhan adalah tamu agung dengan misi besar yang kerap terabaikan, yakni sebagai momentum pembaruan spiritual dan penguatan kesalehan sosial.
Pertanyaan bagi kita yang telah menunaikan puasa berulang kali adalah, apakah puasa Ramadhan yang selama ini kita jalankan benar-benar menghadirkan peningkatan spiritual dan sosial dalam diri?
Pembaharuan Ruhani
Kehidupan manusia yang sibuk dan sesak dengan keinginan duniawi kerap menyebabkan hati menjadi tertutup. Hati yang diselimuti debu materialisme, egoisme, dan ambisi duniawi membuat manusia lupa pada tujuan hidup yang utama.
Alih-alih menghadirkan kebahagiaan, ambisi duniawi justru sering melahirkan kehampaan dan kelelahan jiwa.
Sebagian orang menumpuk harta dalam jumlah besar, namun tetap merasa kurang dan terus mengejarnya dengan berbagai cara. Ibarat meminum air laut, semakin diminum semakin haus.
Seteguk yang diminum terasa melegakan, tetapi sejatinya hanya menambah dahaga. Kebahagiaan dan ketenangan bukan ditentukan oleh seberapa banyak harta yang berada dalam genggaman, melainkan seberapa lapang hati bersyukur atas nikmat yang diterima.
Ramadhan hadir memberi jeda agar manusia berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia dan menyadari bahwa manusia bukan sekadar entitas jasmaniah yang tampak oleh mata, tetapi juga entitas ruhaniah yang merindukan makna.
Ramadhan menyadarkan untuk menyucikan ruhani sebagai ikhtiar kembali kepada diri sejati yang bebas dari hasad dan kesombongan. Ibadah puasa dan shalat yang dijalankan bukan sekadar rutinitas mekanis, melainkan jalan pencerahan bagi akal budi.
Puasa melatih manusia mengaktifkan akal sebagai pengendali diri agar tidak tunduk pada dorongan perut dan hawa nafsu sebagai simbol kepentingan duniawi.
Dengan akal yang aktif, manusia dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Demikian pula kekhusyukan shalat yang diintensifkan selama Ramadhan diharapkan menjadi jalan penyadaran diri seorang hamba di hadapan Tuhan.
Melalui shalat, berbagai atribut kebesaran duniawi ditanggalkan. Manusia diingatkan bahwa di hadapan Sang Pencipta, ia hanyalah seorang hamba yang kecil, dengan tugas utama menyembah dan menyerahkan seluruh jiwa raga kepada-Nya.
Kesalehan Sosial
Namun bagi seorang muslim, kesalehan di atas sajadah tidaklah cukup. Puasa sebagai lapar yang disengaja menghadirkan dimensi kesalehan sosial. Rasa haus dan lapar yang direncanakan itu bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga melatih empati terhadap sesama, merasakan apa yang diderita orang lain.
Orang yang berpuasa karena perintah agama masih memiliki harapan untuk berbuka saat Magrib dengan berbagai pilihan makanan. Berbeda dengan kaum miskin dan duafa yang merasakan lapar bukan karena pilihan, melainkan karena ketiadaan.
Karena itu, momentum Ramadhan memperkuat radar empati seorang shaaim. Empati tersebut diwujudkan melalui gerakan infak, sedekah, dan zakat, terutama pada penghujung Ramadhan.
Pesan kesalehan sosial ini ditegaskan Rasulullah SAW dalam sabda-Nya, “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun,” (HR. Tirmidzi).
Dalam hadits lain disebutkan, “Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan,’” (HR. At-Tirmidzi).
Kedua hadits tersebut mendorong umat Islam untuk memperkuat tradisi berbagi selama bulan Ramadhan.
Konsekuensi dari kesalehan sosial tidak berhenti pada gerakan personal, tetapi juga terwujud dalam gerakan bersama yang terorganisir melalui lembaga amil zakat milik pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan keagamaan, seperti BAZNAS, LAZISMU, dan LAZISNU.
Ramadhan merupakan bulan titik balik bagi setiap muslim untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dengan syarat melakukan pembaruan ruhiyah dan penguatan kesalehan sosial.
Semoga puasa Ramadhan yang dijalankan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai wujud kesalehan vertikal, serta semakin mendekatkan diri kepada sesama manusia, khususnya kaum miskin dan duafa, sebagai wujud kesalehan horizontal.

