Februari 20, 2026

Menangisi Ramadhan yang Belum Tiba: Belajar Cinta dari Mu’adz bin Jabal

Oleh : H. Al Amin, SH, M.Pd,

Ada orang-orang yang menanti Ramadan dengan daftar belanja. Ada pula yang menanti dengan daftar agenda buka bersama. Namun, ada satu sosok agung yang menanti Ramadan dengan air mata—bukan karena sedih menyambutnya, tetapi karena takut tak lagi berjumpa dengannya.

Ia adalah Mu’adz bin Jabal, sahabat Nabi (Muhammad SAW,red) yang dikenal paling memahami perkara halal dan haram. Kecerdasannya diakui, keilmuannya dihormati. Namun sisi yang paling menyentuh dari dirinya bukan sekadar keluasan ilmunya, melainkan kedalaman cintanya pada ibadah.

Diriwayatkan, ketika ajal menjemputnya, Mu’adz menangis. Para sahabat mungkin mengira ia takut menghadapi kematian. Namun air mata itu bukan karena gentar pada takdir, bukan pula karena berat meninggalkan dunia. Ia berkata:

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa aku tidak mencintai dunia dan tidak ingin berlama-lama di dalamnya untuk mengalirkan sungai atau menanam pepohonan. Namun, aku menangis karena akan kehilangan rasa haus di siang hari yang panas, perjuangan menghidupkan malam, dan berdesakan bersama para ulama dalam majelis zikir.”

Betapa dalam kalimat itu. Ia menangisi puasa. Ia merindukan dahaga. Ia mencintai lelahnya qiyamul lail. Bagi Mu’adz, Ramadan bukan sekadar kewajiban syariat, melainkan kekasih yang selalu dinanti.

Pergeseran Makna Persiapan

Ada perbedaan mencolok antara generasi sahabat dan kita hari ini. Para sahabat berdoa enam bulan sebelum Ramadan agar dipertemukan dengannya, dan enam bulan setelahnya agar amal mereka diterima. Fokus mereka adalah kesiapan ruhani.

Hari ini, sering kali persiapan kita lebih dominan pada aspek fisik: stok bahan makanan, pakaian lebaran, hingga rencana lokasi berbuka puasa bersama. Semua itu tidak keliru, tetapi kisah Mu’adz mengingatkan bahwa inti Ramadan bukan pada gemerlap suasananya, melainkan pada getaran jiwa saat beribadah.

Ramadan seharusnya dirindukan karena ia menghadirkan kesempatan untuk kembali dekat kepada Allah, bukan sekadar momentum seremonial tahunan.

Menghargai Waktu di Tengah Distraksi

Di era digital, kita sering merasa waktu berjalan cepat namun terasa kosong. Banyak yang “menunggu azan magrib” dengan menggulir layar ponsel tanpa arah. Detik-detik Ramadan berlalu dalam distraksi.

Mu’adz mengajarkan perspektif yang berbeda: setiap siang yang haus adalah investasi akhirat. Setiap malam yang terjaga adalah tangga menuju derajat kemuliaan. Hingga kehilangan satu Ramadan saja cukup membuat seorang sahabat menangis.

Pertanyaannya, apakah kita pernah menangisi Ramadan yang berlalu tanpa makna?

Spiritual Quotient vs Materialisme

Zaman modern sering mengukur kebahagiaan dari apa yang dimiliki: rumah, kendaraan, jabatan, atau popularitas. Namun Mu’adz menunjukkan bahwa kebahagiaan tertinggi justru terletak pada kemampuan menundukkan hawa nafsu.

Puasa adalah latihan pengendalian diri. Ia bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan ego, amarah, dan keserakahan. Dalam konteks kekinian, puasa adalah terapi spiritual dan kesehatan mental di tengah gempuran tren konsumerisme dan budaya instan.

Self-control adalah kemewahan spiritual yang semakin langka.

Ramadan sebagai “Digital Detox” dan “Soul Recharge”

Kerinduan para sahabat kepada Ramadan adalah bentuk cinta yang tulus. Mereka melihatnya sebagai kesempatan mencuci jiwa yang berdebu oleh dosa dan kelalaian. Ramadan adalah ruang perbaikan diri, ruang hening di tengah kebisingan dunia.

Bagi kita hari ini, Ramadan bisa menjadi momentum digital detox—mengurangi kebisingan layar dan memperbanyak dialog dengan Allah. Ia juga menjadi soul recharge—mengisi ulang energi spiritual agar kita tidak kehilangan arah dalam kehidupan modern yang serba cepat.

Barangkali kita belum mampu menangisi Ramadan sebagaimana Mu’adz. Namun setidaknya, kita bisa mulai belajar merindukannya. Merindukan sujud yang lebih lama. Merindukan doa yang lebih khusyuk. Merindukan dahaga yang mengantarkan pada takwa.

Jika seorang sahabat menangis karena takut kehilangan Ramadan, maka kita seharusnya bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar mencintainya?

Penulis adalah H. Al Amin, SH, M.Pd, lahir di Sukun, 26 Juli 1984. Ia merupakan mantan Ketua PCNU Kabupaten Sikka (2015–2020 dan 2020–2023). Saat ini berprofesi sebagai ASN Penyuluh Agama Islam pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka. Ia juga pendiri Yayasan Daarul Amiin Maumere sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Daarul Amiin Maumere.

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *