SIKKA, BAJOPOS.COM – Perubahan cuaca dan meningkatnya risiko gelombang laut di perairan utara Flores kian menekan kehidupan nelayan perempuan di Ndete, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Hasil tangkapan menurun, risiko keselamatan meningkat, sementara akses bantuan dinilai belum merata.
Peristiwa yang dialami Merawati (69) pada pertengahan November 2025 menjadi gambaran nyata kondisi tersebut. Saat menjaring ikan sekitar 400 meter dari pantai Ndete, cuaca yang awalnya cerah mendadak berubah. Hujan deras turun disertai angin kencang dan gelombang tinggi yang mengguncang sampan kayu tanpa mesin yang ditumpanginya.
“Siangnya cerah sekali, jauh malam tiba-tiba hujan,” ujar Merawati saat ditemui di rumah panggungnya yang menghadap laut, Minggu (7/12/2025).
Ia mengaku harus segera menurunkan jangkar setelah diteriaki rekannya, Hamjanur, agar tidak terseret arus lebih jauh ke tengah. Sepanjang malam, ia bertahan di tengah cuaca buruk hingga azan subuh terdengar. Hasil tangkapannya hanya tiga ekor ikan kecil, tak cukup untuk dijual.
Hasil Tangkapan Menurun
Merawati merupakan warga keturunan suku Bajo yang sejak 1997 melaut sendiri. Ia mengaku perubahan cuaca dalam sekitar satu dekade terakhir kerap mengecoh naluri tradisionalnya membaca tanda alam.
“Dulu kalau lihat ke utara hitam pekat, pasti hujan. Sekarang sepanjang hari teduh, malamnya baru hujan,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Hamjanur (70). Dalam sekali melaut semalaman, ia kadang hanya mendapatkan tiga hingga delapan ekor ikan. “Paling banyak 15 ekor, tapi tidak setiap hari,” ujarnya.
Padahal, tiga dekade lalu mereka cukup memancing beberapa meter dari pantai dan hasilnya bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Kini, untuk memperoleh 10–15 ekor ikan saja sudah sulit. Ikan batu, kerapu, dan ikan merah yang dulu melimpah kini makin jarang.
Desa Reroroja sendiri berpenduduk 2.192 jiwa, dengan 184 orang tercatat sebagai nelayan. Wilayah ini berada sekitar 31 kilometer dari Kota Maumere dan berbatasan dengan Kabupaten Ende.
Data BMKG Ungkap Suhu Laut Naik
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peningkatan suhu perairan Indonesia sebesar 0,19 derajat Celcius setiap 10 tahun. Prakirawan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Madya Klimatologi II Kupang, Ryan Sudrajat, menyebut kondisi ini meningkatkan kerentanan kawasan maritim terhadap cuaca ekstrem.
“Kenaikan suhu laut memicu fenomena marine heatwave, yang berdampak pada migrasi ikan dan penurunan populasi di titik-titik tertentu,” ujarnya, Senin (9/2/2026).
BMKG juga mencatat perubahan tren tinggi gelombang laut di NTT dalam 10–15 tahun terakhir. Tinggi gelombang yang sebelumnya berkisar 1,25–2,5 meter, pada musim tertentu dapat mencapai empat meter atau lebih, terutama saat musim barat dan munculnya bibit siklon tropis pada periode Oktober hingga April.
Peringatan dini rutin dikeluarkan BMKG secara mingguan, harian hingga per jam, terutama saat terdeteksi potensi siklon tropis di sekitar wilayah NTT.
Risiko Tinggi, Peralatan Minim
Di Ndete, terdapat tujuh nelayan perempuan yang aktif melaut, yakni Merawati, Hamjanur, Asri Jani (62), Narwise Tani (62), Sunarti (42), Nawari (42), dan Marsiana (52).
Mereka menggunakan sampan kayu tanpa mesin serta alat tangkap sederhana berupa pancing dan kail. Jika badai datang, mereka hanya mengandalkan jangkar dan pelampung seadanya.

Marsiana, yang telah tujuh tahun melaut setelah suaminya meninggal, mengaku kerap berada dalam dilema antara melaut lebih jauh demi hasil atau bertahan dekat pantai dengan risiko pulang tanpa ikan.
“Kalau dekat pantai tidak dapat ikan. Kalau ke tengah, risikonya besar,” katanya.
Dalam sehari, ia rata-rata memperoleh Rp25 ribu dari hasil penjualan ikan, bahkan kadang hanya Rp10 ribu. Uang itu digunakan untuk kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak. Untuk kebutuhan mendesak, ia terpaksa meminjam di koperasi harian.
Akses Kartu Nelayan Dipersoalkan
Merawati dan rekan-rekannya mengaku belum pernah memperoleh bantuan khusus maupun sosialisasi mitigasi risiko melaut. Mereka juga tidak memiliki kartu nelayan.
“Kami tidak punya kartu nelayan. Mungkin dianggap nelayan itu hanya laki-laki,” ujar Merawati.
Anggota Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Ndete, Agnes Sera, membenarkan kondisi tersebut. Ia menilai nelayan perempuan belum menjadi prioritas dalam kebijakan perikanan.
Agnes mengusulkan penerbitan kartu nelayan bagi perempuan agar mereka bisa mengakses bantuan alat tangkap dan modal usaha. Ia juga mendorong adanya pelatihan pengolahan ikan agar hasil tangkapan memiliki nilai tambah dan tidak terbuang saat melimpah.
“Kami punya pelabuhan, tapi masyarakat Ndete lebih banyak jadi penonton,” katanya.
Respons Pemerintah
Kepala Desa Reroroja, Florida Yosefina Ndena, mengakui kehidupan nelayan perempuan di wilayahnya rentan secara ekonomi. Pemerintah desa, kata dia, telah mengakseskan bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi keluarga yang memenuhi kriteria.
“Namun dampak perubahan iklim terhadap keselamatan mereka di laut perlu perhatian serius,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sikka, Paulus Hilarius Bangkur, mengatakan nelayan dapat mengurus KUSUKA (Kartu Pelaku Usaha Perikanan) dengan melengkapi KTP dan kartu keluarga berprofesi sebagai nelayan. Pendataan dilakukan melalui mekanisme Musrenbang desa dan kecamatan.
Meski demikian, para nelayan perempuan di Ndete mengaku harapan mereka sederhana: memiliki sampan sendiri agar tidak perlu berbagi hasil atau menyewa perahu.
“Risiko makin tinggi, hasil sering mengecewakan. Tapi kalau tidak melaut, siapa yang kasih kami makan?” ujar Hamjanur. (Faidin)

