Februari 20, 2026

Abrasi Nangahale Terus Menggerus, Sekolah dan Rumah Warga di Ujung Ancaman

SIKKA, BAJOPOS.COM – Deru ombak di pesisir Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, tak lagi sekadar irama alam. Ia kini menjadi penanda kecemasan. Abrasi yang terus menggerus garis pantai membuat jarak antara laut dan permukiman warga semakin menipis, menghadirkan ancaman nyata bagi sekolah, rumah, hingga sumber penghidupan masyarakat.

Kondisi itu kembali disuarakan dalam momentum peringatan hari ulang tahun ke-12 Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Sabtu (14/02/2026). Alih-alih merayakan dengan seremoni, para jurnalis memilih menanam mangrove di Dusun Namandoi sebagai bentuk solidaritas terhadap warga yang terdampak abrasi.

Kepala Desa Nangahale, Sahanudin, menegaskan bahwa abrasi bukan lagi ancaman jangka panjang, melainkan persoalan yang sedang berlangsung. Garis pantai terus mundur, mendekati dua lembaga pendidikan—MTs Al-Fatah dan MIS Al-Fatah Nangahale—serta belasan rumah warga dan rumah produksi garam rakyat.

“Kalau tidak ada penanganan serius, bukan tidak mungkin bangunan sekolah dan rumah warga akan semakin terancam. Kami butuh solusi jangka panjang, bukan hanya penanganan sementara,” ujarnya.

Abrasi di Nangahale dipicu kombinasi faktor alam dan perubahan lingkungan. Gelombang tinggi, berkurangnya vegetasi penahan pantai, serta dampak perubahan iklim mempercepat proses pengikisan. Tanpa sabuk hijau mangrove yang kuat, daratan menjadi rentan terhadap hantaman ombak.

Sebanyak kurang lebih 270 anakan mangrove ditanam dalam aksi bertema “AWAS Peduli dan Hijaukan Sikka”. Ketua AWAS, Mario WP Sina, mengatakan bahwa pemilihan Nangahale sebagai lokasi kegiatan merupakan bentuk keberpihakan terhadap wilayah yang membutuhkan perhatian serius.

“Kami melihat langsung kondisi abrasi di sini. Mangrove adalah benteng alami. Ini langkah kecil, tapi kami berharap menjadi pemicu gerakan yang lebih besar,” katanya.

Mangrove dikenal efektif meredam gelombang, menahan sedimen, serta mencegah intrusi air laut. Selain itu, ekosistem ini menjadi habitat berbagai biota laut yang mendukung ekonomi nelayan. Namun, penanaman mangrove saja dinilai belum cukup tanpa perencanaan terpadu dari pemerintah daerah.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Sikka segera mengambil langkah komprehensif, mulai dari pembangunan struktur pengaman pantai, rehabilitasi kawasan pesisir, hingga edukasi berkelanjutan tentang pelestarian lingkungan.

Momentum HUT AWAS juga dirangkaikan dengan operasi pangan murah bekerja sama dengan Perum Bulog Cabang Maumere, sebagai bentuk dukungan terhadap ketahanan ekonomi warga pesisir yang terdampak.

Keterlibatan berbagai unsur—TNI, Polri, pemerintah desa, lembaga pendidikan, hingga organisasi kepemudaan—menunjukkan bahwa persoalan abrasi bukan isu sektoral, melainkan tanggung jawab bersama.

Di Nangahale, abrasi bukan lagi cerita tentang masa depan yang jauh. Ia adalah realitas hari ini. Setiap meter tanah yang hilang menjadi pengingat bahwa perlindungan pesisir harus menjadi prioritas. Jika tidak, bukan hanya garis pantai yang terkikis, tetapi juga ruang hidup dan harapan masyarakat pesisir Sikka.(Faidin)

Berita Terkait

One thought on “Abrasi Nangahale Terus Menggerus, Sekolah dan Rumah Warga di Ujung Ancaman”
  1. Semakin tahun abrasi yang penduduk rasakan imbasnya semakin membesar. Dulu garis pantai desa nangahale berada jauh ke bawah, dan sekarang bahkan jalan rayapun sudah dikikisnya besar besaran. Kami takutnya dua sekolah yang ada di bibir pantai ini menjadi imbasnya kalau dubiarkan 2 atau 3 tahun ke depan. Harapan kami untuk pemerintah bukalah mata sedikit saja untuk menjaga keamanan serta kenyamanan masyarakat desa nangahale. 🙏🏻

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *