Februari 20, 2026

(QULTUM) Imam Masjid An-Nur : Ramadhan sebagai Momentum Taubat dan Bekal Akhirat

SIKKA, BAJOPOS.COM – Imam Masjid An-Nur Nangahale, H. Muhammad Badri, mengajak umat Islam untuk memaksimalkan bulan suci Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri dan memperbanyak amal saleh. Pesan tersebut disampaikannya saat mengisi kultum (kuliah tujuh menit) dari mimbar Masjid An-Nur Nangahale pada malam salat tarawih. Kamis, 19/02/2026 malam.

Dalam tausiyahnya, H. Muhammad Badri mengawali dengan ungkapan syukur karena masih diberi kesempatan bertemu dengan bulan suci Ramadhan. Menurutnya, pertemuan dengan Ramadhan adalah bukti kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya.

“Kita patut bersyukur karena tidak semua orang diberi kesempatan bertemu Ramadhan. Maka syukur itu harus dibuktikan dengan mengamalkan apa yang diperintahkan Allah,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia menegaskan, sangat merugi seseorang yang bertemu Ramadhan tetapi tidak memanfaatkannya untuk bertaubat. Setiap manusia, kata dia, pasti akan meninggalkan dunia ini tanpa terkecuali.

“Orang kaya mati, orang miskin mati, pejabat mati, rakyat biasa pun mati. Yang dinilai oleh Allah hanyalah ketakwaan kita,” tegasnya.

Menurutnya, ketakwaan tercermin dari sikap hati-hati dalam menggunakan nikmat Allah, baik berupa harta maupun waktu. Orang yang benar-benar takut kepada Allah akan memanfaatkan keduanya sesuai dengan tuntunan-Nya.

H. Muhammad Badri juga mengingatkan bahwa Ramadhan merupakan kesempatan emas untuk menebus kelalaian di masa lalu. Allah memberikan berbagai amalan dengan pahala berlipat ganda, seperti membaca Al-Qur’an dan bersedekah.

Ia mengutip sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang tidak terputus meski seseorang telah wafat:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

Ia menjelaskan, sedekah jariyah adalah amalan yang manfaatnya terus dirasakan, seperti pembangunan masjid atau fasilitas umum. Ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir pahalanya ketika diamalkan dan diajarkan kembali. Sementara doa anak saleh menjadi penolong bagi orang tua di alam kubur.

“Rugi sekali jika sebelum meninggal kita tidak meninggalkan salah satu dari tiga amalan tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, bahkan para ulama yang memiliki banyak murid tetap merasa takut kepada Allah. Terlebih lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dijamin kemuliaannya, tetap menunjukkan ketundukan dan rasa takut yang luar biasa kepada Allah. Apalagi manusia biasa yang penuh dosa, sudah seharusnya lebih banyak bermuhasabah.

Dalam kesempatan itu, jamaah juga diingatkan agar tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat, sementara ibadah seperti salat tarawih justru diabaikan. Menurutnya, belum tentu seseorang dapat kembali bertemu Ramadhan di tahun berikutnya, bahkan belum tentu mampu menyelesaikan Ramadhan tahun ini.

“Jangan hanya sibuk memperbaiki urusan dunia, sementara akhirat kita abaikan. Dunia akan kita tinggalkan, tetapi amal akan menjadi bekal selamanya,” pesannya.

Menutup kultum, H. Muhammad Badri mengajak jamaah memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya dan memperbanyak amal sebagai persiapan menghadapi kematian.

“Semoga yang benar datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan segala kekurangan berasal dari saya sebagai manusia biasa,” tutupnya.

Reporter : Faidin
Editor : Redaksi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *