Februari 20, 2026

Membiarkan Berbeda: Ikhtiar Memahami Kehendak Tuhan

Oleh:

Muhammad Dwifajri (Dosen Uhamka)

Dunia tidak pernah lahir dalam satu warna. Sejak awal, kehidupan bergerak dalam ragam bentuk, bahasa, keyakinan, dan kepentingan. Perbedaan bukanlah anomali, melainkan jejak paling nyata dari kehendak Tuhan atas semesta.

Persoalannya, manusia kerap gelisah menghadapi yang tak seragam. Ego, baik sebagai individu maupun kelompok, sering memaksakan satu tafsir kebenaran seolah-olah hanya ada satu sudut pandang yang sah.

Di titik inilah perbedaan berubah menjadi sumber ketegangan. Padahal, bisa jadi disanalah ujian sesungguhnya: mampukah kita membiarkan yang berbeda tetap ada tanpa merasa terancam?

Membiarkan berbeda bukan sikap pasif, apalagi menyerah. Ia adalah ikhtiar sadar untuk membaca kehendak Tuhan dalam realitas yang majemuk. Setiap manusia hadir dengan latar, pengalaman, dan kapasitas yang tak sama. Ketika kita menahan diri dari menghakimi, sesungguhnya kita sedang belajar memahami “bahasa” Tuhan yang termaktub dalam keragaman itu sendiri.

Keragaman sebagai Keniscayaan

Dalam lintasan sejarah, perbedaan adalah fakta sosial yang tak terhindarkan—dari budaya dan bahasa hingga struktur ekonomi. Bagi seorang Muslim, keragaman bukan sekadar realitas sosiologis, tetapi bagian dari keyakinan teologis. Ia berakar pada Tauhid: bahwa segala yang terjadi, termasuk perbedaan, berada dalam lingkup kehendak-Nya.

Melalui tafsir Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, pluralitas dipahami bukan sebagai pemantik konflik, melainkan sebagai tanda kebesaran Tuhan.

Pertama, keragaman adalah kehendak Ilahi. Dalam Surah Hud [11]: 118–119 ditegaskan, Tuhan mampu saja menjadikan manusia seragam. Namun Dia tidak menghendakinya.

Buya Hamka mengingatkan, hanya cara pandang sempit yang menginginkan keseragaman total. Bagi akal yang lapang, perbedaan justru menghadirkan dinamika. “Ramailah hidup ini,” tulis Hamka, karena adanya ragam.

Kedua, manusia berasal dari satu asal. Surah Al-Baqarah [2]: 213 menegaskan kesatuan kemanusiaan. Perbedaan fisik dan sosial hanyalah hasil perjalanan sejarah dan lingkungan. Konflik muncul bukan semata karena perbedaan, melainkan karena dengki dan kepentingan sempit yang mengaburkan fitrah.

Ketiga, kebebasan berkeyakinan berjalan seiring etika toleransi. Surah Al-Kahfi [18]: 29 menegaskan kebebasan memilih, sementara Surah Al-An’am [6]: 108 melarang penghinaan terhadap keyakinan lain.

Larangan ini bukan sekadar strategi sosial, melainkan pengakuan bahwa hidayah adalah otoritas Tuhan. Menghormati perbedaan adalah bagian dari menjaga iman.

Menuju Harmoni Lita’arafu

Keragaman, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Hujurat [49]: 13, adalah jalan untuk saling mengenal—lita’arafu. Dalam kerangka pemikiran Hamka, setidaknya ada empat sikap yang perlu diteguhkan.

Pertama, penerimaan: mengakui perbedaan sebagai kenyataan yang ditakdirkan. Kemudian, Kedua, pertumbuhan: menjadikan perbedaan sebagai ruang dialog dan pembelajaran. Selanjutnya, yang ketiga, persaudaraan: menyadari kesatuan asal-usul kemanusiaan. Dan keempat, toleransi aktif: menjaga harmoni tanpa merendahkan yang lain.

Pada akhirnya, memahami takdir berarti percaya bahwa di balik ragam yang tampak, ada harmoni yang sedang dijalin. Ukuran kemuliaan di hadapan Tuhan bukanlah identitas sosial, melainkan ketakwaan. Maka, menghargai perbedaan bukan sekadar etika sosial, tetapi bentuk penghormatan kepada Sang Pengatur Kehidupan.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *