Jum. Jun 5th, 2026

Faidin Att Thohir

HUT ke-12 Aliansi Wartawan Sikka Dihadapkan pada Ancaman Abrasi Nangahale

SIKKA, BAJOPOS.COM – Peringatan hari ulang tahun ke-12 Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) tahun ini tidak digelar di ruang pertemuan atau panggung seremoni. Para jurnalis memilih berdiri di atas lumpur pesisir, menanam mangrove di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (14/02/2026), sebagai bentuk keberpihakan pada warga yang terancam abrasi.

Dengan mengusung tema “AWAS Peduli dan Hijaukan Sikka”, sebanyak kurang lebih 270 anakan mangrove ditanam di kawasan Dusun Namandoi. Aksi tersebut menjadi refleksi bahwa kerja jurnalistik tidak berhenti pada pemberitaan, tetapi juga menjelma menjadi gerakan sosial yang menyentuh langsung persoalan masyarakat.

Kepala Desa Nangahale, Sahanudin, menyampaikan bahwa abrasi yang terus terjadi merupakan ancaman nyata bagi warganya.

“Ada dua lembaga sekolah yang terancam, yakni MTs Al-Fatah dan MIS Al-Fatah Nangahale. Selain itu, belasan rumah warga serta rumah produksi garam milik rakyat juga berada dalam kondisi berbahaya akibat abrasi,” ujarnya.

Menurutnya, penanaman mangrove menjadi langkah awal yang penting, namun ia berharap ada intervensi lebih serius dari Pemerintah Kabupaten Sikka untuk penanganan abrasi secara komprehensif dan berkelanjutan.

Ketua AWAS, Mario WP Sina, menegaskan bahwa pemilihan Nangahale bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut memiliki potensi ekosistem mangrove yang perlu diperkuat sebagai benteng alami pesisir.

Ia menambahkan, mangrove memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem, menahan gelombang, sekaligus menjadi habitat berbagai biota laut yang menopang kehidupan nelayan dan masyarakat pesisir.

Tak hanya isu lingkungan, momentum HUT ke-12 AWAS juga diarahkan pada penguatan ekonomi warga. Bersama Perum Bulog Kantor Cabang Maumere, AWAS menggelar operasi pangan murah bagi masyarakat Desa Nangahale. Program ini ditujukan untuk membantu warga memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat lokal.

Kepala Bulog Cabang Maumere, Martin Luther Sesa, turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama unsur TNI-Polri diantaranya Kapolsek Waigete, I Wayan Artawan, SH mewakili Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno, S.I.K. bersama personil dan Kepala Staf Kodim (Kasdim) 1603/Sikka, Mayor Cba Dominggus M. Antamani mewakili Dandim 1603/Sikka, Letkol Arm Denny Riesta Permana bersama personil, Kejaksaan Negeri Maumere, dan dihadiri warga setempat.

Selanjutnya, dari lembaga pendidikan setempat, hadir pula dari warga sekolah MIS Muhammadiyah Al Fatah Nangahale dan MTs Muhammadiyah Al Fatah Nangahale, perwakilan organisasi Persatuan Olahraga Dusun Namandoi (PON).

Keterlibatan lintas sektor ini memperlihatkan bahwa isu lingkungan dan ketahanan pangan bukan tanggung jawab satu pihak semata. Sinergi yang terbangun diharapkan menjadi model kolaborasi berkelanjutan dalam menjaga pesisir Sikka.

Memasuki usia ke-12 tahun, AWAS menegaskan komitmennya untuk terus hadir sebagai pengawal informasi publik sekaligus bagian dari gerakan sosial di daerah. Di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan ekonomi, jurnalisme dituntut tak hanya kritis lewat tulisan, tetapi juga solutif melalui aksi nyata.

Di Nangahale, peringatan ulang tahun itu menjadi simbol bahwa pena dan bibit mangrove bisa berjalan beriringan—mengabarkan persoalan sekaligus menanam harapan bagi masa depan pesisir Sikka.(Faidin)

Pak Arif Dampingi Siswa MIS Muhammadiyah Wuring Tanamkan Semangat Literasi di Disarpus Sikka

SIKKA, BAJOPOS.COM – Peran guru kembali terlihat nyata dalam kegiatan Wisata Literasi yang digelar di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Jumat (13/2/2026).

Pak Arif yang merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF) ini bersama dua rekannya, Ibu Afika dan Pak Musalim, mendampingi 52 siswa MIS Muhammadiyah Wuring mengikuti rangkaian kegiatan literasi dengan penuh semangat.

Sejak awal kunjungan, Pak Arif tampak aktif mengarahkan para siswa agar tertib dan fokus mengikuti setiap sesi pengenalan perpustakaan. Ia juga memberi motivasi kepada anak-anak agar tidak ragu bertanya dan memanfaatkan kesempatan belajar di luar kelas tersebut.

Dalam beberapa kesempatan, Pak Arif membantu menjelaskan kembali materi yang disampaikan petugas perpustakaan dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami siswa.

Pendampingan ini menjadi bagian penting dalam memastikan tujuan kegiatan, yakni menumbuhkan minat baca dan mengenalkan fungsi perpustakaan, dapat tercapai secara maksimal.

Kegiatan Wisata Literasi tersebut tidak hanya memberikan pengalaman baru bagi siswa, tetapi juga memperlihatkan sinergi antara sekolah dan Disarpus dalam membangun budaya literasi sejak dini.

Dengan keterlibatan aktif guru seperti Pak Arif dan rekan-rekannya, diharapkan semangat membaca dan belajar tidak hanya tumbuh di perpustakaan, tetapi juga terus berlanjut di lingkungan sekolah maupun rumah.(Faidin)

Budayakan Membaca Sejak Dini, Siswa MIS Muhammadiyah Wuring Ikut Wisata Literasi

SIKKA, BAJOPOS.COM – Sebanyak 52 siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Muhammadiyah Wuring mengikuti kegiatan Wisata Literasi di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Jumat pagi, 13 Februari 2026.

Kunjungan edukatif tersebut didampingi oleh tiga guru, yakni Ibu Afika, Pak Musalim, dan Pak Arif. Rombongan disambut langsung oleh jajaran Disarpus dalam suasana penuh antusias di Maumere.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales, menjelaskan bahwa kegiatan Wisata Literasi bertujuan menumbuhkan minat baca sejak usia dini, sekaligus memperkenalkan fungsi perpustakaan dan lembaga kearsipan dalam mendukung pendidikan serta pembangunan daerah.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin anak-anak mengenal perpustakaan sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar, bukan hanya sekadar tempat menyimpan buku,” ujarnya kepada media, Jumat (13/2/2026).

Dalam kunjungan tersebut, para peserta didik mendapatkan pelayanan perpustakaan secara langsung. Mereka diperkenalkan dengan berbagai koleksi buku, ruang baca anak, hingga layanan literasi yang tersedia di Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Sikka.

Tak hanya itu, siswa-siswi juga memperoleh penjelasan mengenai tugas dan fungsi jabatan struktural di lingkungan Disarpus, mulai dari Kepala Dinas (Kadis), Sekretaris Dinas (Sekdis), hingga Kepala Bidang (Kabid). Edukasi ini diberikan sebagai bagian dari pengenalan dunia birokrasi dan pelayanan publik sejak dini.

Very Awales menegaskan bahwa program Wisata Literasi merupakan salah satu strategi Disarpus dalam mendekatkan layanan perpustakaan kepada pelajar serta membangun budaya literasi di Kabupaten Sikka.

“Kami berharap anak-anak semakin gemar membaca dan memahami bahwa perpustakaan adalah ruang belajar sepanjang hayat,” katanya.

Ia menambahkan, Disarpus Kabupaten Sikka terus membuka diri bagi sekolah-sekolah yang ingin mengikuti program Wisata Literasi sebagai upaya memperkuat literasi pelajar dan memperkenalkan fungsi lembaga kearsipan serta perpustakaan di daerah.

Dengan kegiatan seperti ini, diharapkan generasi muda Sikka semakin terbiasa membaca, berpikir kritis, serta memiliki wawasan luas sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.(Faidin)

Transformasi Peran ASN Kemenag, Kakanwil NTT Tekankan Pembinaan Umat Hadapi Tantangan Zaman

SIKKA, BAJOPOS.COM – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, Fransiskus Kariyanto, menegaskan urgensi transformasi peran Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam menyiapkan umat yang mampu menjawab tantangan zaman.

Penegasan itu disampaikannya saat memberikan pembinaan kepada ASN di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Kamis (12/02/2026), di Aula Kantor Kemenag Sikka.

Kegiatan tersebut menjadi momentum penguatan jati diri ASN Kementerian Agama sebagai representasi negara yang tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga mengemban amanah moral dan sosial dalam menjaga kehidupan keagamaan masyarakat.

Dalam arahannya, Fransiskus menegaskan bahwa ASN Kementerian Agama adalah pelayan umat, penggerak moderasi beragama, sekaligus perekat harmoni sosial di tengah keberagaman bangsa.

“ASN Kementerian Agama bukan sekadar aparatur birokrasi, tetapi wajah negara dalam memberikan pelayanan dan pembinaan umat. Karena itu, setiap ASN harus mampu menjadi teladan dalam sikap, perilaku, dan integritas,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa tugas ASN Kementerian Agama memiliki dimensi strategis karena menyentuh langsung aspek pembinaan keagamaan, pendidikan keagamaan, pelayanan kehidupan beragama, serta penguatan nilai-nilai toleransi. ASN dituntut menghadirkan pelayanan yang tidak hanya memenuhi kewajiban birokrasi, tetapi juga memberi dampak nyata terhadap kualitas kehidupan umat.

Menurutnya, menyiapkan umat masa depan harus dilakukan melalui pembinaan berkelanjutan, penguatan karakter religius, serta pengembangan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perubahan sosial dan kemajuan teknologi.

“Menyiapkan umat masa depan berarti kita sedang menyiapkan generasi yang kuat secara spiritual, unggul secara intelektual, dan mampu bersaing di tengah dinamika global,” ujarnya.

Fransiskus juga menegaskan bahwa arah pembangunan keagamaan ke depan harus berpedoman pada kebijakan strategis Kementerian Agama melalui delapan program prioritas Asta Protas Tahun 2025–2029. Program tersebut menjadi peta jalan transformasi pelayanan keagamaan yang menitikberatkan pada penguatan moderasi beragama, peningkatan kualitas pendidikan keagamaan, transformasi kelembagaan, serta penguatan tata kelola pelayanan publik.

Menurutnya, implementasi Asta Protas merupakan instrumen penting untuk memastikan pelayanan Kementerian Agama mampu menjawab tantangan global sekaligus menjaga nilai-nilai keagamaan sebagai karakter bangsa.

Ia juga mengingatkan bahwa tantangan menyiapkan umat masa depan semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi digital, perubahan pola interaksi sosial, serta meningkatnya dinamika kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut menuntut ASN memperkuat budaya kerja berlandaskan nilai ASN BerAKHLAK sebagai identitas moral sekaligus standar profesionalisme aparatur.

ASN, lanjutnya, diharapkan mampu bekerja secara adaptif, inovatif, dan kolaboratif, serta menjunjung tinggi integritas dan loyalitas terhadap tugas pelayanan publik.

“Keberhasilan ASN Kementerian Agama tidak diukur dari banyaknya pekerjaan yang diselesaikan, tetapi dari sejauh mana pelayanan kita memberikan manfaat nyata dan meningkatkan kepercayaan masyarakat,” jelasnya.

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya pola kerja yang berorientasi pada hasil dan dampak pelayanan. ASN dituntut memiliki perencanaan kerja yang terarah, responsif terhadap kebutuhan masyarakat, serta mampu membangun sinergi lintas sektor.

Menurutnya, keberhasilan ASN Kementerian Agama tercermin dari meningkatnya kualitas kehidupan beragama, terjaganya kerukunan umat, serta tumbuhnya generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan sosial.

Mengakhiri arahannya, Fransiskus mengajak seluruh ASN Kementerian Agama di Kabupaten Sikka untuk terus meningkatkan kompetensi, menjaga integritas, serta memperkuat kerja sama dalam melaksanakan tugas pelayanan publik. Ia berharap ASN mampu menjadi garda terdepan dalam membangun kehidupan beragama yang rukun, harmonis, dan berkelanjutan, sekaligus menyiapkan umat yang siap menghadapi tantangan masa depan.(Faidin)

Aliansi Wartawan Sikka Tanam Mangrove dan Gelar Pangan Murah Gandeng Bulog Peringati HUT ke-12 AWAS dan HPN

SIKKA, BAJOPOS.COM – Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) menggandeng Perum Bulog Kabupaten Sikka untuk menggelar pangan murah berupa paket sembako bagi masyarakat Desa Nangahale, Kecamatan Talibura. Kegiatan tersebut akan dirangkaikan dengan aksi penanaman mangrove oleh Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) di Dusun Namandoi, Sabtu (14/02/2026).

Agenda bertajuk “AWAS Peduli dan Hijaukan Sikka” ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-12 AWAS sekaligus momentum Hari Pers Nasional (HPN).

Kegiatan dijadwalkan berlangsung mulai pukul 09.00 Wita dan melibatkan berbagai unsur, mulai dari lembaga pendidikan (siswa dan guru), pemerintah desa dan kecamatan, Koramil, Polsek Waigete, Kodim 1603/Sikka, Polres Sikka, hingga sejumlah instansi pemerintah daerah.

Tak hanya itu, kegiatan ini pun turut mengundang Bupati Sikka, Juventus Yoris Prima Kago (Jupik) dan Ketua DPRD Sikka, Stefanus Sumandi untuk turut membersamai kegiatan ini.

Kepala Bulog Cabang Maumere, Martin Luther Sesa, memastikan dukungan pihaknya dalam penyediaan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Program pangan murah ini diharapkan membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat lokal.

Ketua AWAS, Mario WP Sina, mengatakan peringatan ulang tahun organisasi tahun ini difokuskan pada kegiatan yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.

“Kami ingin HUT ke-12 AWAS tidak sekadar seremoni, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata. Penanaman mangrove ini sedang kami siapkan secara matang agar pelaksanaannya tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujarnya.

Begitupun terhadap pangan murah, dalam sinergitas yang di bangun AWAS kemudian menggandeng Bulog menggelar pangan murah di Posko titik kumpul di Lapangan Bajo Maritim Dusun Namandoi.

Menurut Mario, kawasan pesisir Nangahale dipilih karena memiliki potensi ekosistem mangrove yang perlu dijaga dan diperkuat. Mangrove berperan penting dalam menahan abrasi, menjaga kualitas lingkungan pesisir, serta menjadi habitat berbagai biota laut.

Ia menegaskan, kegiatan penanaman tidak berhenti pada seremoni semata. AWAS membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah desa, sekolah, komunitas lingkungan, serta masyarakat setempat untuk memastikan adanya perawatan dan pengawasan bersama terhadap anakan mangrove yang ditanam.

Selain itu, keterlibatan TNI dan Polri bersama sejumlah instansi pemerintah daerah diharapkan memperkuat sinergi lintas sektor dalam menjaga ekosistem pesisir di Kabupaten Sikka.

Memasuki usia ke-12 tahun, AWAS menegaskan komitmennya untuk terus hadir bukan hanya sebagai pengawal informasi publik, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan sosial dan lingkungan di daerah.

Melalui kegiatan ini, AWAS berharap kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menjaga kawasan pesisir semakin tumbuh dan berkelanjutan.(Faidin) 

Gubernur NTT Daftar Jadi Anggota KSP Obor Mas

SIKKA, BAJOPOS.COM – Komitmen memperkuat ekonomi kerakyatan di Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali ditegaskan melalui kunjungan kerja ke Kantor Pusat KSP Obor Mas di Jalan Kesehatan, Maumere, Kamis (12/2/2026).

Dalam kunjungan tersebut, rombongan Pemerintah Provinsi NTT bersama Pemerintah Kabupaten Sikka dan DPRD NTT mendorong penguatan koperasi sekaligus memastikan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) berjalan transparan dan tepat sasaran.

Kunjungan itu dihadiri bersama Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago dan Wakil Ketua DPRD NTT Roby Tulus. Rombongan disambut langsung oleh General Manager KSP Obor Mas, Leonardus Frediyanto Moat Lering, bersama jajaran manajemen dan karyawan.

Dalam pertemuan tersebut, dilakukan peninjauan aktivitas operasional koperasi, dialog bersama pengurus dan karyawan, serta pemaparan mengenai peran strategis KSP Obor Mas dalam mendukung pembiayaan UMKM dan memperluas inklusi keuangan di NTT.

Ditegaskan bahwa koperasi harus menjadi pilar utama ekonomi kerakyatan. Karena itu, penguatan tata kelola, digitalisasi layanan keuangan, serta peningkatan literasi masyarakat dinilai menjadi langkah penting agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas.

Sebagai bentuk dukungan nyata, dalam kesempatan itu juga dilakukan pendaftaran sebagai anggota KSP Obor Mas. Langkah tersebut disebut sebagai simbol komitmen Pemerintah Provinsi NTT dalam memperkuat koperasi berbasis komunitas sebagai motor penggerak ekonomi rakyat.

Selain itu, penyaluran KUR di NTT ditegaskan harus benar-benar menyentuh masyarakat miskin dan pelaku usaha mikro yang membutuhkan. Pengawasan akan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan pemerintah provinsi, kabupaten/kota, DPRD hingga DPR RI agar setiap rupiah yang disalurkan berdampak langsung pada pemberdayaan dan pengembangan usaha rakyat.

Pemerintah Provinsi NTT juga berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi dan inovasi guna memperluas akses pembiayaan. Sinergi antara program KUR dan penguatan koperasi seperti KSP Obor Mas dinilai sebagai langkah konkret untuk menekan angka kemiskinan, memperkuat UMKM, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah.(Faidin)

Melki Laka Lena Beri Kuliah Umum di STIKES St. Elisabeth, Dorong Transformasi Mental dan Lulusan Tembus Pasar Global

SIKKA, BAJOPOS.COM – Kunjungan Gubernur NTT, Melkiades Laka Lena sekaligus memberi kuliah umum di STIKES St. Elisabeth Keuskupan Maumere, Kamis (12/2/2026), menjadi momentum penegasan pentingnya transformasi mental dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam suasana diskusi yang hangat dan penuh semangat, mahasiswa dan civitas akademika diajak untuk tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga membangun karakter, etika pelayanan, dan semangat kemanusiaan dalam praktik kesehatan.

Disampaikan bahwa Undang-Undang Kesehatan yang baru disahkan telah melebur 11 undang-undang sebelumnya guna menghapus ego sektoral di bidang kesehatan. Dengan regulasi baru tersebut, dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya diharapkan berjalan setara dan saling menguatkan.

“Pelayanan kesehatan adalah kerja tim. Yang paling utama adalah kemanusiaan,” tegasnya di hadapan ratusan mahasiswa.

Secara khusus, pesan juga ditujukan kepada mahasiswa keperawatan. Ditekankan bahwa kualitas perawat tidak hanya diukur dari keterampilan klinis, tetapi juga dari sikap dan keramahan dalam melayani pasien.

“Jangan sampai ‘muka asam’. Perlakukan pasien seperti saudara sendiri. Hospitality menentukan kesembuhan dan kepercayaan,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan pasar kerja lokal, mahasiswa didorong untuk memperluas pandangan hingga ke level global. Disebutkan bahwa kebutuhan tenaga perawat di dunia mencapai jutaan orang, sehingga peluang kerja terbuka lebar bagi lulusan yang kompeten dan siap bersaing.

Lulusan STIKES St. Elisabeth—yang sebelumnya dikenal sebagai SPK/AKPER Lela—dinilai memiliki reputasi kuat, tangguh, dan religius. Mahasiswa pun diminta tidak hanya bercita-cita menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), tetapi berani bermimpi besar dengan menguasai bahasa asing dan menembus pasar internasional.

Saat ini, STIKES St. Elisabeth terus bertransformasi dengan mengelola Program Studi Fisioterapi pertama di NTT, Informatika Medis, serta D3 Keperawatan. Jumlah mahasiswa tercatat sebanyak 643 orang yang berasal dari berbagai daerah.

Bahkan, 28 lulusan sedang dalam proses penempatan kerja ke Jepang, sementara lulusan lainnya mengikuti berbagai program kerja sama internasional.

Pemerintah Provinsi NTT menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan lembaga pendidikan swasta, termasuk melalui dukungan beasiswa dan peningkatan sarana prasarana yang berdampak langsung pada mutu pendidikan.

Kunjungan tersebut diakhiri dengan apresiasi atas sambutan dari Yayasan dan seluruh keluarga besar STIKES St. Elisabeth, serta ajakan bersama untuk menyiapkan tenaga kesehatan NTT yang profesional, berkarakter, dan siap bersaing di kancah global.(Faidin)

Aliansi Wartawan Sikka Akan Tanam Mangrove di Desa Nangahale, Dusun Namandoi

SIKKA, BAJOPOS.COM – Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) tengah mematangkan rencana penanaman anakan mangrove di kawasan hutan bakau Dusun Namandoi, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura. Kegiatan tersebut disiapkan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-12 AWAS.

Aksi bertajuk “AWAS Peduli dan Hijaukan Sikka” itu saat ini masih dalam tahap perencanaan teknis, mulai dari koordinasi lokasi penanaman, penyediaan bibit mangrove, hingga pelibatan masyarakat setempat. Meski dalam perencanaan tersebut dipastikan akan diselenggarakan pada Sabtu, 14/02/2026 dan diperkirakan pada pukul 09.00 Wita.

Ketua AWAS, Mario WP Sina, mengatakan momentum ulang tahun organisasi tahun ini diarahkan pada kegiatan yang berdampak langsung bagi lingkungan dan masyarakat.

“Kami ingin HUT ke-12 AWAS tidak sekadar seremoni, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata. Penanaman mangrove ini sedang kami siapkan secara matang agar pelaksanaannya tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, kawasan pesisir Nangahale dipilih karena memiliki potensi ekosistem mangrove yang perlu dijaga dan diperkuat. Mangrove berfungsi menahan abrasi, menjaga kualitas lingkungan pesisir, serta menjadi habitat penting bagi biota laut.

Dalam perencanaan tersebut, AWAS juga membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah desa, lembaga pendidikan, komunitas lingkungan, dan masyarakat sekitar agar kegiatan tidak berhenti pada seremoni tanam semata, melainkan berlanjut pada perawatan dan pengawasan bersama.

Tak hanya itu, berbagai instansi pun kata dia nantinya akan turut serta dalam kegiatan ini, diantaranya TNI dan Polri juga beberapa instansi pemerintah daerah.

AWAS berharap, melalui langkah awal yang sedang disusun ini, kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir di Kabupaten Sikka semakin tumbuh.

Memasuki usia ke-12 tahun, AWAS menegaskan komitmennya untuk terus hadir, tidak hanya sebagai pengawal informasi publik, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan sosial dan lingkungan di daerah.(Faidin)

Di Balik Ulang Tahun AWAS, Ada Rumah yang Hangus dan Harapan yang Disemai

SIKKA, BAJOPOS.COM – Di bawah guyuran hujan deras, sebuah tenda darurat di Dusun Wolon Gerat, Desa Heopuat, Kecamatan Hewokloang, Kamis (12/2/2026) sore, menjadi saksi pertemuan antara duka dan solidaritas. Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) merayakan makna ulang tahunnya yang ke-12—bukan dengan seremoni, tetapi dengan aksi nyata.

AWAS menyerahkan bantuan sosial berupa paket sembako kepada Mama Maria Noeng (74), korban kebakaran rumah yang terjadi pada Rabu (4/2/2026) sekitar pukul 12.30 Wita. Peristiwa itu menghanguskan rumah tinggalnya hingga tak menyisakan satu pun harta benda.

Penyerahan bantuan dilakukan langsung di tenda darurat yang kini menjadi tempat berteduh sementara bagi Mama Maria dan keluarganya. Momen tersebut turut disaksikan Anggota BPD Desa Heopuat, Yohanis Paskalis.

Ketua AWAS, Mario WP Sina, mengatakan kegiatan sosial tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-12 AWAS yang jatuh pada 14 Februari 2026.

“AWAS sebagai wadah profesional wartawan di Kabupaten Sikka akan genap berusia 12 tahun. Momentum ini kami maknai dengan tema ‘AWAS Peduli dan Hijaukan Sikka’,” ujar Mario.

Ia menegaskan, peringatan ulang tahun kali ini tidak difokuskan pada perayaan simbolik, melainkan diwujudkan melalui aksi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

“Kami ingin kehadiran AWAS tidak hanya dalam pemberitaan, tetapi juga nyata dirasakan masyarakat, terutama mereka yang sedang mengalami musibah. Semoga bantuan ini dapat sedikit meringankan beban keluarga,” katanya.

Selain aksi kemanusiaan, AWAS juga menjadwalkan kegiatan penanaman mangrove di kawasan hutan bakau Dusun Namondoi, Desa Nangahale, Sabtu (14/2/2026). Kegiatan tersebut menjadi bentuk komitmen organisasi dalam mendukung pelestarian lingkungan dan menjaga ekosistem pesisir Kabupaten Sikka.

Di sisi lain, musibah yang menimpa Mama Maria menyisakan cerita pilu. Saat kebakaran terjadi, ia sedang mengikuti kegiatan posyandu lansia. Di rumah itu, ia tinggal bersama seorang anak yang mengalami gangguan jiwa dan seorang cucu berusia 11 tahun yang kini duduk di kelas VI SDN Wegok Natar.

Seluruh isi rumah hangus terbakar. Tidak ada barang yang berhasil diselamatkan, kecuali dokumen penting berupa KTP dan Kartu Keluarga (KK) yang sebelumnya telah dibawa saat proses validasi bantuan oleh Dinas Sosial di Kantor Desa Heopuat.

“Saya berterima kasih atas perhatian dan bantuan ini,” ucap Mama Maria dengan suara lirih.

Anggota BPD Desa Heopuat, Yohanis Paskalis, menyebut Mama Maria merupakan salah satu janda kurang mampu di desa tersebut. Rumah yang terbakar diketahui baru dibangun sekitar tahun 2022.

“Kami akan mengupayakan bantuan stimulan perumahan dari dana desa berupa bahan bangunan senilai Rp15 juta untuk membantu pembangunan kembali rumah Mama Maria,” jelas Yohanis.

Saat ini, korban masih sangat membutuhkan bantuan, khususnya material bangunan, agar dapat kembali memiliki tempat tinggal yang layak huni.

Di tengah abu yang tersisa, solidaritas menjadi api baru yang menghangatkan—bahwa di usia ke-12, AWAS memilih berdiri bukan hanya sebagai penyampai kabar, tetapi juga bagian dari harapan.(Faidin)

Arsip Tak Lagi Sekadar Tumpukan Berkas, Siswa SMKS St. Thomas Maumere Belajar Menjaga Memori Bangsa

SIKKA, BAJOPOS.COM – Arsip bukan sekadar tumpukan kertas lama yang disimpan di lemari. Di tangan yang tepat, arsip menjadi jejak sejarah dan memori kolektif bangsa. Kesadaran itulah yang ingin ditanamkan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (DISARPUS) Kabupaten Sikka kepada siswa-siswi SMKS St. Thomas Maumere melalui kegiatan pendampingan pengelolaan arsip.

Kegiatan tersebut melibatkan tiga bidang sekaligus, yakni Bidang Pembinaan Arsip, Bidang Pengelolaan Arsip, dan Bidang Pengawasan Arsip. Para siswa mendapatkan kesempatan belajar langsung di lingkungan kerja DISARPUS Kabupaten Sikka selama tiga hari.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka, Very Awales, mengatakan pendampingan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mendukung penguatan kompetensi peserta didik, khususnya di bidang kearsipan dan perpustakaan.

“Pendampingan ini bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada siswa-siswi dalam pengelolaan arsip, mulai dari penataan, klasifikasi, hingga pemeliharaan arsip sesuai standar kearsipan,” kata Very Awales kepada media di Maumere, Kamis (12/2/2026).

Selama masa praktik, para siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat langsung dalam proses kerja di berbagai bidang, termasuk di sekretariat dinas. Mereka mendapatkan materi tentang tata kelola arsip dinamis, sistem klasifikasi arsip, penggunaan sarana dan prasarana kearsipan, hingga pengenalan tugas dan fungsi perangkat daerah dalam penyelenggaraan kearsipan.

Tak hanya itu, siswa-siswi juga diperkenalkan dengan layanan perpustakaan serta peran strategis perpustakaan sebagai pusat literasi dan sumber belajar masyarakat. Pengenalan ini diharapkan membuka wawasan mereka tentang pentingnya pengelolaan informasi yang tertib, sistematis, dan berkelanjutan.

Very Awales menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar program praktik rutin, tetapi bagian dari upaya membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya arsip sebagai aset daerah dan bangsa.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi pengalaman praktik, tetapi juga menjadi bekal bagi siswa untuk siap bersaing di dunia kerja dan turut menjaga memori kolektif bangsa melalui pengelolaan arsip yang baik,” pungkasnya.

Melalui pendampingan ini, DISARPUS Sikka berharap minat generasi muda terhadap profesi arsiparis dan pustakawan semakin tumbuh, sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia di bidang kearsipan dan literasi di Kabupaten Sikka.(Faidin) 

DISARPUS, Sikka, SMKS St Thomas Maumere, Kearsipan, Perpustakaan, Literasi, Pendidikan, Arsip,

 

Obligasi Jadi Kartu As Baru Agar NTT Tak Ketergantungan APBN 

SIKKA, BAJOPOS.COM – Di tengah ketatnya transfer anggaran pusat, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai melirik jalan baru untuk membiayai pembangunan: menerbitkan obligasi daerah. Dalam pertemuan strategis Partai Golkar yang dibungkus dengan gelaran ‘Saresehan Nasional’ di Capa Resort, Kabupaten Sikka, Kamis (12/2/2026), gagasan ini mengemuka sebagai terobosan untuk memutus ketergantungan berkepanjangan terhadap APBN.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan, sudah saatnya NTT berani berdiri di atas kaki sendiri dalam pembiayaan pembangunan.

“Ini bukan lagi soal mau atau tidak mau, ini kebutuhan mendesak. Kita punya pelabuhan, pariwisata, sumber daya alam, tapi kita sering lumpuh karena keterbatasan modal. Obligasi daerah adalah cara kita menjemput energi dari rakyat sendiri, termasuk diaspora NTT,” tegas Melki.

Menurutnya, skema obligasi memungkinkan pemerintah daerah menghimpun dana publik secara legal dan terukur untuk membiayai proyek-proyek produktif yang memiliki arus kas (cash flow) jelas. Dengan demikian, proyek strategis tidak lagi harus menunggu antrean panjang dari pusat.

Sarasehan nasional bertema “Obligasi Daerah Sebagai Salah Satu Alternatif Pembiayaan Daerah dan Instrumen Investasi Publik” ini menjadi forum penting merumuskan langkah konkret.

Hadir sebagai pembicara Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Melchias Markus Mekeng, Dirjen Pemeriksaan Keuangan BPK RI Widhi Widayat, Dirjen Perimbangan Keuangan Kemenkeu RI Askolani, serta Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surabaya Didin Fatihudi.

Melchias Markus Mekeng menekankan, penerbitan obligasi daerah bukan sekadar wacana politik, melainkan langkah serius yang membutuhkan fondasi regulasi dan tata kelola kuat.

“Investor tidak bodoh. Mereka tidak akan membeli kertas kosong dengan risiko tinggi. Karena itu Fraksi Golkar sedang memperjuangkan Undang-Undang Obligasi Daerah agar surat utang daerah memiliki kekuatan dan kredibilitas setara Surat Utang Negara,” ujar Mekeng.

Ia mengingatkan, dana obligasi tidak boleh dipakai untuk belanja konsumtif seperti perjalanan dinas atau rapat di hotel mewah. Dana harus diarahkan pada proyek produktif seperti pembangunan pelabuhan, penguatan infrastruktur pariwisata, rumah sakit spesialis, serta fasilitas kesehatan dan layanan publik strategis lainnya.

“Harus ada cash flow. Kalau tidak, kita hanya mewariskan beban kepada generasi berikutnya,” tegasnya.

Mekeng menyebut, obligasi daerah juga menjadi ujian integritas kepala daerah. Laporan keuangan harus sehat dan transparan karena akan disaring ketat oleh BPK, Kementerian Keuangan hingga Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bahkan, lembaga pemeringkat seperti Pefindo akan menilai kesehatan fiskal daerah sebelum obligasi dilepas ke pasar.

“Pembayaran bunga tidak boleh telat satu hari, pokoknya tidak boleh mundur satu hari. Kalau default, rating jatuh dan kepercayaan hilang,” tandas anggota DPR RI empat periode ini.

Ia menargetkan Rancangan Undang-Undang Obligasi Daerah dapat masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2026, bahkan diharapkan rampung tahun ini. Mekeng menilai banyak daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat sudah siap, namun payung hukum belum tersedia.

“NTT jangan ketinggalan. Anggaran di publik itu tersedia ribuan triliun. Selama governance, akuntabilitas dan transparansi kita tertib, kita layak menerbitkan obligasi,” katanya.

Sarasehan ini merupakan yang keenam digelar Fraksi Partai Golkar MPR RI sebagai bagian dari penyusunan naskah akademis yang akan diserahkan ke DPR RI. Tahap berikutnya akan digelar workshop teknis untuk membahas neraca keuangan, proyeksi pendapatan, serta kesiapan biro keuangan daerah.

Hadir dalam kegiatan ini Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Ketua DPRD NTT Emi Nomleni, para bupati dan wakil bupati se-NTT, pimpinan DPRD kabupaten/kota, Forkopimda, Bank NTT, perbankan Himbara, organisasi mahasiswa hingga perwakilan kampus di Maumere.

Jika skema ini berhasil diwujudkan, NTT berpotensi menjadi pelopor inovasi pembiayaan daerah di Indonesia Timur—menggeser stigma dari provinsi bergantung menjadi provinsi inovator dalam tata kelola fiskal.

Langkah ini menandai perubahan paradigma pembangunan: dari menunggu transfer pusat, menuju kemandirian fiskal berbasis investasi publik.(Faidin)

Satresnarkoba Polres Sikka Tangkap Terduga Pengedar di Maumere, Diduga Oknum PPPK Setda

SIKKA, BAJOPOS.COM – Aparat Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Sikka kembali mengungkap kasus jaringan peredaran narkoba di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang pria diamankan dalam operasi yang digelar pada Kamis, 12 Februari 2026, sekitar pukul 13.30 WITA.

Penangkapan dilakukan di wilayah hukum Polres Sikka oleh tim yang dipimpin langsung Kasat Resnarkoba Polres Sikka, Iptu Yakobus K. Sanam, S.H.

Saat dikonfirmasi Bajopos.com Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno, S.I.K melalui Kasi Humas Polres Sikka, Ipda Leonardus Tungga, membenarkan adanya pengungkapan kasus tersebut.

“Benar, pada hari Kamis tanggal 12 Februari 2026 sekitar pukul 13.30 WITA, bertempat di wilayah hukum Polres Sikka, Tim Satresnarkoba Polres Sikka yang dipimpin oleh Kasat Resnarkoba telah mengamankan seorang laki-laki yang diduga melakukan tindak pidana narkoba. Sementara tim masih di lapangan. Kami akan rilis ke publik setelah penyelidikan,” ujar Ipda Leonardus Tungga melalui pesan WhatsApp.

Menurut Leo, proses pengembangan kasus masih berlangsung sehingga kepolisian belum dapat membeberkan secara rinci jenis narkotika yang diamankan maupun peran spesifik terduga dalam jaringan tersebut. Bahkan saat ditanya soal inisial diduga pelaku, Leo pun belum merespon.

“Bahan keterangan (baket) lengkapnya akan kami jelaskan melalui press release Humas Polres Sikka,” tambahnya.

Sementara itu, beredar informasi dari sejumlah media online bahwa terduga pelaku berinisial D disebut-sebut berstatus sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang bertugas di salah satu bagian pada Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Sikka.

Namun, saat dikonfirmasi terkait dugaan status tersebut, pihak Humas Polres Sikka belum memberikan tanggapan lebih lanjut.

Hingga berita ini diturunkan, Bajopos.com masih menunggu keterangan resmi lanjutan dari Polres Sikka mengenai status hukum terduga pelaku, kronologi lengkap penangkapan, serta barang bukti yang berhasil diamankan dalam operasi tersebut.(Faidin

Mahasiswa IFTK Ledalero Rancang Website Perpustakaan Daerah Sikka

SIKKA, BAJOPOS.COM – Transformasi digital di sektor literasi daerah terus didorong. Mahasiswa Program Studi (Prodi) Sistem Informasi Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero akan membantu merancang dan membangun website resmi Perpustakaan Umum Daerah Frans Seda Kabupaten Sikka.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Sikka, Very Awales, saat menerima kunjungan mahasiswa Prodi Sistem Informasi IFTK Ledalero di ruang kerjanya, Kamis (12/02/2026).

Menurut Very Awales, pengembangan website perpustakaan merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas layanan informasi kepada masyarakat. Ia menyambut baik inisiatif kolaborasi tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap transformasi digital di lingkungan perpustakaan daerah.

“Website ini nantinya diharapkan menjadi pusat informasi dan layanan digital perpustakaan, sehingga masyarakat dapat mengakses informasi koleksi, layanan, serta berbagai kegiatan literasi secara lebih mudah dan cepat,” ujarnya.

Very yang juga merupakan alumni IFTK Ledalero menjelaskan, melalui website tersebut masyarakat tidak hanya dapat mengetahui daftar koleksi buku yang tersedia, tetapi juga memperoleh informasi terkait jadwal layanan, kegiatan literasi, program edukasi, hingga pengumuman penting lainnya.

Ke depan, platform tersebut direncanakan akan dikembangkan dengan fitur katalog online dan sistem peminjaman berbasis digital. Langkah ini dinilai penting untuk menjawab kebutuhan masyarakat di era serba digital, sekaligus memperluas jangkauan layanan perpustakaan tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Sementara itu, perwakilan mahasiswa Prodi Sistem Informasi IFTK Ledalero menyampaikan bahwa proyek tersebut merupakan bagian dari implementasi keilmuan di bidang teknologi informasi sekaligus bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Dalam prosesnya, mahasiswa akan melakukan analisis kebutuhan sistem, perancangan tampilan antarmuka (user interface), pengembangan sistem, hingga tahap uji coba sebelum website resmi diluncurkan.

Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan pemerintah daerah, sekaligus mendorong peningkatan literasi digital di Kabupaten Sikka.

Dengan hadirnya website resmi Perpustakaan Umum Daerah Frans Seda, Disarpus Kabupaten Sikka optimistis pelayanan publik di bidang literasi dan kearsipan akan semakin modern, transparan, dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.(Faidin)

Ekonomi Biru dan Karbon Biru Jadi Kunci Hadapi Krisis Iklim

MINAHASA UTARA, BAJOPOS.COM – Isu perubahan iklim dinilai masih belum sepenuhnya dipahami masyarakat Indonesia. Berdasarkan survei pada 2019, Indonesia bahkan disebut sebagai salah satu negara dengan tingkat ketidakpercayaan terhadap perubahan iklim yang tinggi.

“Misinformasi dan ketidaktahuan menjadi faktor kunci,” ujar Senior Analyst Ocean Climateworks Centre, Wira Ditama Pratama, dalam kegiatan Green Press Community (GPC) 2026 di Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu (7/2/2026).

Wira menjelaskan, dampak perubahan iklim sangat nyata, terutama di wilayah kelautan dan pesisir. Fenomena banjir rob, abrasi pantai, hingga badai ekstrem menjadi ancaman yang semakin sering terjadi dan dirasakan masyarakat.

“Ada kata kunci menarik yakni kiamat iklim dan bencana ekologi jika menghubungkan kedua isu,” katanya.

Menurutnya, masih berkembang anggapan bahwa ketika sektor kelautan didorong untuk pertumbuhan ekonomi, maka lingkungan akan menjadi korban. Sebaliknya, ketika laut dijaga ketat, perekonomian dinilai akan melambat. Padahal, hasil penelitian Climateworks Centre menunjukkan potensi besar yang dimiliki Indonesia.

Sekitar 75 persen wilayah Indonesia merupakan lautan yang berpotensi menghasilkan hingga 1,3 triliun dolar Amerika Serikat dari sektor ekonomi biru dan aktivitas berbasis kemaritiman.

“Ditambah Indonesia menyimpan 17 persen karbon biru dunia, termasuk mangrove, padang lamun, dan rawa air asin,” beber Wira.

Karbon biru atau blue carbon merupakan karbon yang tersimpan di ekosistem pesisir dan laut. Menjaga ekosistem tersebut, kata Wira, bukan hanya berdampak pada pengurangan emisi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.

Ia menyebut, pengelolaan laut yang berkelanjutan bahkan berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen per tahun. Hal ini dinilai dapat mendukung visi Indonesia Emas 2045.

Untuk mewujudkannya, terdapat tiga langkah utama yang perlu dilakukan. “Mengatasi tata kelola yang terfragmentasi, menyatukan keterbatasan data dan pembiayaan yang belum optimal, serta penguatan ilmu pengetahuan dan data pasar untuk mendorong reformasi tata kelola,” jelasnya.

Sementara itu, Fegi Nurhabni dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengakui isu perubahan iklim dari perspektif kelautan belum menjadi perhatian utama di tingkat internasional.

“Meski begitu kami terus mendorong agar isu ini menjadi global,” ungkapnya.

Menurut Fegi, KKP telah melakukan berbagai langkah mitigasi serta rehabilitasi dan konservasi ekosistem pesisir, termasuk di Sulawesi Utara. Upaya tersebut mencakup lima poin utama, di antaranya perluasan kawasan konservasi laut, pengendalian serta pengawasan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Di sisi akademisi, Mahawan Karuniasa dari ISSG-Foam menekankan pentingnya restorasi ekosistem laut secara bersamaan dengan upaya mitigasi.

“Selain mitigasi kita harus mengajarkan adaptasi terhadap masyarakat yang rentan terutama di wilayah pesisir,” ujarnya.

Restorasi terumbu karang dan mangrove menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan wilayah pesisir terhadap dampak perubahan iklim.

Senada dengan itu, Armyanda Tussadiyah dari Pesisir Lestari menegaskan bahwa karbon biru merupakan salah satu solusi paling efektif dalam menghadapi krisis iklim di sektor kelautan.

“Ekosistem blue carbon memang paling baik dalam penyerapan emisi dan lebih baik daripada pohon-pohon di daratan,” terangnya.

Salah satu ekosistem karbon biru yang memiliki kemampuan serapan tinggi adalah mangrove. Selain menyerap emisi karbon dalam jumlah besar, mangrove juga memberikan perlindungan alami bagi wilayah pesisir serta mendukung penghidupan masyarakat setempat.

Dengan potensi kelautan yang besar, para narasumber sepakat bahwa perubahan paradigma dan penguatan tata kelola menjadi kunci agar Indonesia mampu menjadikan ekonomi biru dan karbon biru sebagai solusi iklim sekaligus motor pertumbuhan ekonomi nasional.(Mar)

Cuaca Tak Menentu, Nelayan Perempuan Ndete Kian Terdesak

SIKKA, BAJOPOS.COM – Perubahan cuaca dan meningkatnya risiko gelombang laut di perairan utara Flores kian menekan kehidupan nelayan perempuan di Ndete, Desa Reroroja, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Hasil tangkapan menurun, risiko keselamatan meningkat, sementara akses bantuan dinilai belum merata.

Peristiwa yang dialami Merawati (69) pada pertengahan November 2025 menjadi gambaran nyata kondisi tersebut. Saat menjaring ikan sekitar 400 meter dari pantai Ndete, cuaca yang awalnya cerah mendadak berubah. Hujan deras turun disertai angin kencang dan gelombang tinggi yang mengguncang sampan kayu tanpa mesin yang ditumpanginya.

“Siangnya cerah sekali, jauh malam tiba-tiba hujan,” ujar Merawati saat ditemui di rumah panggungnya yang menghadap laut, Minggu (7/12/2025).

Ia mengaku harus segera menurunkan jangkar setelah diteriaki rekannya, Hamjanur, agar tidak terseret arus lebih jauh ke tengah. Sepanjang malam, ia bertahan di tengah cuaca buruk hingga azan subuh terdengar. Hasil tangkapannya hanya tiga ekor ikan kecil, tak cukup untuk dijual.

Hasil Tangkapan Menurun

Merawati merupakan warga keturunan suku Bajo yang sejak 1997 melaut sendiri. Ia mengaku perubahan cuaca dalam sekitar satu dekade terakhir kerap mengecoh naluri tradisionalnya membaca tanda alam.

“Dulu kalau lihat ke utara hitam pekat, pasti hujan. Sekarang sepanjang hari teduh, malamnya baru hujan,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Hamjanur (70). Dalam sekali melaut semalaman, ia kadang hanya mendapatkan tiga hingga delapan ekor ikan. “Paling banyak 15 ekor, tapi tidak setiap hari,” ujarnya.

Padahal, tiga dekade lalu mereka cukup memancing beberapa meter dari pantai dan hasilnya bisa mencapai ratusan ribu rupiah. Kini, untuk memperoleh 10–15 ekor ikan saja sudah sulit. Ikan batu, kerapu, dan ikan merah yang dulu melimpah kini makin jarang.

Desa Reroroja sendiri berpenduduk 2.192 jiwa, dengan 184 orang tercatat sebagai nelayan. Wilayah ini berada sekitar 31 kilometer dari Kota Maumere dan berbatasan dengan Kabupaten Ende.

Data BMKG Ungkap Suhu Laut Naik

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat peningkatan suhu perairan Indonesia sebesar 0,19 derajat Celcius setiap 10 tahun. Prakirawan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Madya Klimatologi II Kupang, Ryan Sudrajat, menyebut kondisi ini meningkatkan kerentanan kawasan maritim terhadap cuaca ekstrem.

“Kenaikan suhu laut memicu fenomena marine heatwave, yang berdampak pada migrasi ikan dan penurunan populasi di titik-titik tertentu,” ujarnya, Senin (9/2/2026).

BMKG juga mencatat perubahan tren tinggi gelombang laut di NTT dalam 10–15 tahun terakhir. Tinggi gelombang yang sebelumnya berkisar 1,25–2,5 meter, pada musim tertentu dapat mencapai empat meter atau lebih, terutama saat musim barat dan munculnya bibit siklon tropis pada periode Oktober hingga April.

Peringatan dini rutin dikeluarkan BMKG secara mingguan, harian hingga per jam, terutama saat terdeteksi potensi siklon tropis di sekitar wilayah NTT.

Risiko Tinggi, Peralatan Minim

Di Ndete, terdapat tujuh nelayan perempuan yang aktif melaut, yakni Merawati, Hamjanur, Asri Jani (62), Narwise Tani (62), Sunarti (42), Nawari (42), dan Marsiana (52).

Mereka menggunakan sampan kayu tanpa mesin serta alat tangkap sederhana berupa pancing dan kail. Jika badai datang, mereka hanya mengandalkan jangkar dan pelampung seadanya.

Marsiana (52), Nelayan Perempuan di Ndete, Kabupaten Sikka

Marsiana, yang telah tujuh tahun melaut setelah suaminya meninggal, mengaku kerap berada dalam dilema antara melaut lebih jauh demi hasil atau bertahan dekat pantai dengan risiko pulang tanpa ikan.

“Kalau dekat pantai tidak dapat ikan. Kalau ke tengah, risikonya besar,” katanya.

Dalam sehari, ia rata-rata memperoleh Rp25 ribu dari hasil penjualan ikan, bahkan kadang hanya Rp10 ribu. Uang itu digunakan untuk kebutuhan dapur dan biaya sekolah anak. Untuk kebutuhan mendesak, ia terpaksa meminjam di koperasi harian.

Akses Kartu Nelayan Dipersoalkan

Merawati dan rekan-rekannya mengaku belum pernah memperoleh bantuan khusus maupun sosialisasi mitigasi risiko melaut. Mereka juga tidak memiliki kartu nelayan.

“Kami tidak punya kartu nelayan. Mungkin dianggap nelayan itu hanya laki-laki,” ujar Merawati.

Anggota Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Ndete, Agnes Sera, membenarkan kondisi tersebut. Ia menilai nelayan perempuan belum menjadi prioritas dalam kebijakan perikanan.

Agnes mengusulkan penerbitan kartu nelayan bagi perempuan agar mereka bisa mengakses bantuan alat tangkap dan modal usaha. Ia juga mendorong adanya pelatihan pengolahan ikan agar hasil tangkapan memiliki nilai tambah dan tidak terbuang saat melimpah.

“Kami punya pelabuhan, tapi masyarakat Ndete lebih banyak jadi penonton,” katanya.

Respons Pemerintah

Kepala Desa Reroroja, Florida Yosefina Ndena, mengakui kehidupan nelayan perempuan di wilayahnya rentan secara ekonomi. Pemerintah desa, kata dia, telah mengakseskan bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi keluarga yang memenuhi kriteria.

“Namun dampak perubahan iklim terhadap keselamatan mereka di laut perlu perhatian serius,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sikka, Paulus Hilarius Bangkur, mengatakan nelayan dapat mengurus KUSUKA (Kartu Pelaku Usaha Perikanan) dengan melengkapi KTP dan kartu keluarga berprofesi sebagai nelayan. Pendataan dilakukan melalui mekanisme Musrenbang desa dan kecamatan.

Meski demikian, para nelayan perempuan di Ndete mengaku harapan mereka sederhana: memiliki sampan sendiri agar tidak perlu berbagi hasil atau menyewa perahu.

“Risiko makin tinggi, hasil sering mengecewakan. Tapi kalau tidak melaut, siapa yang kasih kami makan?” ujar Hamjanur. (Faidin)

OSIM MAN 2 Manggarai Ditempa Jadi Pemimpin Visioner Era Digital

MANGGARAI, BAJOPOS.COM – Suasana berbeda tampak di lingkungan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Manggarai, Rabu (11/2/2026). Bukan sekadar pertemuan organisasi, puluhan pengurus Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) justru tengah ditempa menjadi calon pemimpin masa depan melalui kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Terpadu (LDKT).

Mengangkat tema “Membentuk Pemimpin yang Berkarakter, Inovatif dan Berintegritas di Era Digital”, kegiatan ini menjadi ruang pembinaan serius bagi pengurus OSIM periode 2025–2026 bersama perwakilan peserta didik. LDKT dirancang bukan hanya untuk memperkuat struktur organisasi, tetapi juga membangun fondasi karakter dan visi kepemimpinan yang relevan dengan tantangan zaman.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Husen Hajar, menegaskan bahwa LDKT bukan sekadar agenda seremonial tahunan.

“LDKT adalah proses pembinaan. Di sini peserta belajar tentang tanggung jawab, disiplin, serta bagaimana bekerja sama secara efektif dalam organisasi,” ujarnya saat membuka kegiatan.

Menurutnya, kepemimpinan tidak lahir secara instan, melainkan dibentuk melalui latihan, pembiasaan, dan pendampingan yang berkelanjutan.

Kepala MAN 2 Manggarai, Masrum Bata, dalam arahannya menekankan pentingnya kepemimpinan visioner di tengah arus digitalisasi yang kian masif. Ia mengawali materi dengan pembahasan tentang Manajemen Organisasi dan Visi Kepemimpinan, menantang para pengurus OSIM untuk tidak hanya aktif, tetapi juga strategis.

“Pemimpin hari ini harus mampu membaca tantangan zaman. Teknologi harus dimanfaatkan secara positif dan produktif. Organisasi membutuhkan arah yang jelas agar setiap program memiliki dampak nyata,” tegasnya.

Masrum juga menegaskan komitmen madrasah dalam memperkuat pendidikan karakter sebagai pondasi utama generasi unggul. Baginya, kecerdasan tanpa integritas tidak akan membawa perubahan berarti.

Sementara itu, Pembina OSIM MAN 2 Manggarai, Rafik Asril, memastikan bahwa LDKT tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan. Evaluasi dan refleksi akan terus dilakukan agar nilai-nilai yang diperoleh benar-benar diimplementasikan dalam program kerja OSIM.

“Kami ingin nilai kepemimpinan itu hidup dalam keseharian organisasi, bukan hanya saat pelatihan berlangsung,” ungkapnya.

Melalui LDKT ini, OSIM MAN 2 Manggarai diharapkan semakin solid, profesional, dan mampu menjadi motor penggerak kegiatan kesiswaan yang inovatif serta berdampak luas. Kegiatan ini sekaligus menegaskan posisi MAN 2 Manggarai sebagai madrasah yang konsisten menyiapkan generasi berkarakter kuat, berintegritas, dan siap memimpin di era digital.(Faidin) 

Riset Genetik Ungkap Bom Waktu Penyakit Kronis di Komunitas Suku Bajo Sikka

SIKKA, BAJOPOS.COM – Kehidupan pesisir yang selama ini identik dengan laut dan aktivitas fisik ternyata tak sepenuhnya melindungi warga Suku Bajo dari ancaman penyakit kronis.

Sebuah riset genetik dan kesehatan mengungkap fakta mengejutkan: obesitas, hipertensi, kolesterol tinggi hingga gangguan ginjal telah menjadi “bom waktu” kesehatan di tengah komunitas Suku Bajo di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Temuan ini merupakan hasil Studi Genetik dan Kesehatan yang dilakukan Tim Mochtar Riady Institute for Nanotechnology–Universitas Pelita Harapan (MRIN-UPH) berkolaborasi dengan Varian Bio dan Klinik Utama Agradace, yang meneliti warga Suku Bajo di Kampung Wuring, Kecamatan Alok Barat, serta Desa Nangahale, Kecamatan Talibura.

Hasil riset tersebut dipaparkan langsung oleh Prof. Herawati Sudoyo, MS, PhD, pada Senin, 2 Februari 2026, di Klinik Utama Agradace, Kelurahan Wolomarang, Jalan Trans Utara Flores.

Riset yang berlangsung selama 17–22 Juli 2023 itu melibatkan 266 responden berusia 22 hingga 85 tahun, terdiri dari 154 perempuan dan 112 laki-laki. Data menunjukkan, obesitas dan kelebihan berat badan lebih dominan dialami peserta perempuan, dengan 35 persen mengalami obesitas dan 48,1 persen obesitas sentral.

Tak hanya itu, lebih dari 83 persen peserta tercatat mengalami peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL). Kondisi kesehatan kian mengkhawatirkan karena 78 persen peserta menderita tekanan darah di atas normal, sementara 67 persen peserta laki-laki mengalami asam urat tinggi, dan 55 persen di antaranya merupakan perokok aktif.

Dalam aspek metabolik, riset mencatat 16 persen peserta mengalami pra-diabetes, 75 persen berada pada kondisi normal, dan 9 persen telah masuk kategori diabetes.

Sementara itu, pada fungsi ginjal, hasil studi menunjukkan 10 persen peserta mengalami gangguan ginjal kronis, 29 persen mengalami penurunan fungsi ginjal, dan 61 persen masih berada dalam kondisi normal. Gangguan ginjal ini mayoritas dipicu oleh asam urat tinggi dan hipertensi, dengan 55 persen kasus terkait asam urat dan 68 persen berkaitan dengan tekanan darah tinggi.

Prof. Herawati menegaskan, temuan riset ini seharusnya menjadi alarm keras bagi para pemangku kepentingan, terutama dalam merumuskan kebijakan kesehatan yang menitikberatkan pencegahan sejak dini, bukan sekadar pengobatan.

“Melihat data-data hasil riset ini membuat kita harus khawatir. Penyakit semakin tinggi, bahkan ada sekitar 45 orang yang antre untuk cuci darah. Cuci darah itu mahal. Bagaimana kalau kita bisa menurunkan hanya lima orang saja dari hipertensi, obesitas, atau diabetes. Penyakit-penyakit ini akan berdampak ke ginjal, kebutaan, hingga kelemahan otot. Kalau sudah dirawat dan diobati, biayanya sangat tinggi,” ungkap Prof. Herawati.

Ia menjelaskan, obesitas atau kelebihan berat badan erat kaitannya dengan perubahan pola makan dan gaya hidup masyarakat.

“Sekarang orang tidak lagi banyak melakukan aktivitas fisik. Pola makan lebih banyak gorengan dan lemak. Itu membuat tubuh menjadi gemuk. Padahal, gemuk berlebihan itu tidak sehat. Dari situ akan muncul penyakit lain seperti darah tinggi, diabetes, dan penyakit kronis lainnya,” jelasnya.

Menurutnya, dalam dunia kedokteran, pencegahan selalu jauh lebih murah dan lebih efektif dibandingkan pengobatan, terlebih untuk penyakit kronis yang berdampak jangka panjang terhadap kualitas hidup masyarakat.(Faidin)

Mahasiswa Unimof Dorong Guru SMAN 1 Waigete Kenal STEM Berbasis AI

SIKKA, BAJOPOS.COM – Peran mahasiswa tidak hanya berhenti di ruang kuliah. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Maumere (Unimof) justru hadir langsung di ruang kelas SMA Negeri 1 Waigete untuk mendorong perubahan cara belajar mengajar melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan.

Melalui kegiatan Pelatihan Pembelajaran STEM Berbasis Artificial Intelligence (AI) yang digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unimof, mahasiswa bersama dosen pendamping terlibat aktif dalam mendampingi guru-guru SMAN 1 Waigete, Senin (9/2/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 11.15 WITA tersebut diikuti oleh 12 guru dari berbagai mata pelajaran. Pelatihan ini menjadi ruang kolaborasi antara dunia kampus dan sekolah dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital.

Mahasiswa Unimof tidak hanya berperan sebagai peserta, tetapi turut membantu proses pendampingan praktik pembelajaran STEM berbasis AI. Mereka terlibat dalam diskusi, simulasi penggunaan teknologi, hingga penerapan sederhana yang dapat langsung digunakan di kelas.

Ketua Tim Pelaksana, Zakaria Al Farizi, M.Pd, menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa menjadi bagian penting dari penguatan kompetensi calon pendidik.

“Mahasiswa FKIP perlu dibiasakan terjun langsung ke lapangan. Mereka belajar memahami realitas sekolah sekaligus menjadi jembatan transformasi teknologi pembelajaran,” ujarnya.

Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dan diskusi interaktif. Antusiasme guru terlihat sejak awal, terutama ketika mahasiswa dan dosen memperagakan pemanfaatan AI dalam pembelajaran STEM yang aplikatif dan kontekstual.

Pada sesi praktik, peserta dibagi ke dalam empat kelompok sesuai bidang keilmuan. Guru Biologi didampingi dosen Pendidikan Biologi Agustina Kiden Lewar, guru Fisika oleh Zakaria Al Farizi, M.Pd bersama Muhammad Epi Rusdin, M.Pd, guru Kimia oleh Jayadin, M.Pd, dan guru Matematika oleh Dian Nan Brilliant, E.Mat, dengan dukungan mahasiswa sebagai pendamping lapangan.

Salah satu praktik menarik diperlihatkan pada kelompok Fisika yang merancang lampu otomatis berbasis sensor ultrasonik. Mahasiswa membantu menjelaskan konsep kerja alat sekaligus mengaitkannya dengan pembelajaran berbasis STEM.

Sepanjang kegiatan, interaksi antara guru dan mahasiswa berlangsung aktif. Diskusi dua arah tersebut tidak hanya memperkaya wawasan guru, tetapi juga mengasah kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi dan menerapkan ilmu pendidikan di lapangan.

Salah satu peserta pelatihan, Alforusus Wajo, S.Pd, guru Fisika SMAN 1 Waigete, mengapresiasi model kolaborasi tersebut.

“Kehadiran mahasiswa membuat suasana pelatihan lebih hidup. Kami bisa berdiskusi langsung dan saling berbagi pengalaman terkait penggunaan AI dalam pembelajaran,” katanya.

Melalui kegiatan ini, FKIP Universitas Muhammadiyah Maumere berharap kolaborasi dosen, mahasiswa, dan guru dapat terus diperkuat sebagai upaya menciptakan ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Ke depan, mahasiswa Unimof diharapkan tidak hanya menjadi calon guru, tetapi juga agen perubahan yang mampu membawa inovasi pembelajaran hingga ke sekolah-sekolah di daerah. (Faidin)