BANGGAI KEPULAUAN, Bajopos.com – Deru ombak tak lagi selalu terdengar dari kolong rumah warga Suku Bajo di Desa Kasuari, Kecamatan Bokan Kepulauan, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Perahu-perahu yang dulu terikat di tiang rumah panggung kini lebih sering bersandar di bibir pantai. Di kampung ini, jejak “gipsi laut” perlahan bertransformasi menjadi masyarakat daratan dengan wajah yang kian modern.
Perubahan itulah yang diteliti akademisi dari Universitas Negeri Gorontalo dalam riset bertajuk Pola Hidup Suku Bajo Daratan di Desa Kasuari. Penelitian tersebut berupaya menjawab dua pertanyaan utama: bagaimana pola hidup Suku Bajo yang kini bermukim di daratan, serta faktor-faktor apa saja yang memengaruhi perubahan tersebut.
Laut sebagai Rumah
Sejak lama, Suku Bajo dikenal sebagai masyarakat yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada laut. Mereka tersebar di berbagai wilayah pesisir Indonesia hingga Asia Tenggara. Dalam berbagai literatur, orang Bajo kerap disebut “orang laut”, bahkan “gipsi laut”, karena tradisi hidup berpindah-pindah menggunakan perahu yang disebut bido’.
Di atas perahu itulah kehidupan dijalani: lahir, tumbuh, berkeluarga, hingga menua. Laut bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan ruang budaya dan spiritual. Ada ungkapan yang menggambarkan kedekatan itu: memindahkan orang Bajo ke darat ibarat memindahkan penyu ke darat—sesuatu yang dianggap tidak alamiah. Namun waktu membawa perubahan.
Titik Balik Perkampungan
Di Desa Kasuari, komunitas Bajo diketahui pertama kali bermukim di Pulau Toroh Au, tepatnya di Desa Timpaus, sebelum kemudian mencari lokasi baru yang lebih strategis. Faktor ketersediaan sumber air bersih, kemudahan pemasaran hasil tangkapan, serta potensi ekonomi menjadi pertimbangan utama hingga akhirnya menetap di Kasuari.
Berbeda dengan gambaran klasik permukiman Bajo yang menjorok ke laut dengan rumah panggung bertiang kayu dan beratap rumbia, wajah Kasuari kini berubah. Rumah-rumah permanen berdinding bata dan beratap seng berdiri kokoh di daratan. Kolong rumah tak lagi menjadi tempat parkir perahu atau memancing ikan.
Penelitian dari Universitas Negeri Gorontalo mencatat, perubahan fisik hunian berjalan seiring dengan perubahan pola hidup. Masyarakat Bajo di Kasuari tak lagi sepenuhnya bergantung pada laut. Selain melaut, sebagian warga mulai memanfaatkan potensi darat, termasuk sektor pertanian.
Teknologi dan Pendidikan
Transformasi juga tampak pada alat produksi dan gaya hidup. Jika dahulu teknologi tangkap yang digunakan sangat sederhana, kini sebagian nelayan Bajo di Kasuari telah memakai peralatan yang lebih modern sehingga mampu menjangkau lokasi tangkap yang lebih strategis dengan hasil lebih besar.
Di sisi lain, rumah tangga mereka juga telah dilengkapi berbagai fasilitas modern. Televisi, pemutar cakram, hingga telepon genggam bukan lagi barang asing. Modernisasi ini menjadi penanda bahwa perubahan tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya.
Potensi sumber daya alam di Kasuari—baik kelautan maupun pertanian—memberi peluang bagi peningkatan kualitas hidup, termasuk membiayai pendidikan anak-anak mereka. Pola pikir yang semakin terbuka turut mendorong pergeseran orientasi hidup dari semata-mata bertahan di laut menuju adaptasi dengan kehidupan darat.
Faktor Pendorong Perubahan
Penelitian tersebut menyimpulkan, ada sejumlah faktor yang memengaruhi kehidupan Suku Bajo hingga memilih bermukim di daratan. Di antaranya: Ketersediaan fasilitas dan akses terhadap kebutuhan dasar seperti air bersih, kemudahan pemasaran hasil tangkapan, perkembangan teknologi penangkapan ikan, pengaruh modernisasi dan interaksi dengan masyarakat luar, serta kebutuhan akan pendidikan dan peningkatan kualitas hidup keluarga.
Proses ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui perjalanan panjang perpindahan dan penyesuaian sosial. Kebiasaan hidup sepenuhnya di atas laut perlahan memudar, digantikan pola menetap dengan struktur sosial yang lebih mapan.
Antara Tradisi dan Modernitas
Meski telah berubah, identitas kebajoan belum sepenuhnya hilang. Keahlian mengarungi ombak dan menangkap ikan tetap menjadi kebanggaan. Laut masih menjadi “pannangmamie ma dilao”—tempat mencari nafkah.
Namun di Kasuari, laut kini bukan satu-satunya ruang hidup. Daratan telah menjadi bagian dari identitas baru. Rumah bata, atap seng, serta perangkat elektronik berdampingan dengan perahu dan jaring.
Penelitian ini diharapkan memberi manfaat bagi pembaca untuk memahami dinamika perubahan pola hidup Suku Bajo secara ilmiah. Selain menjadi rujukan akademik, riset tersebut juga membuka ruang refleksi bahwa kebudayaan tidak pernah statis—ia bergerak mengikuti kebutuhan, tantangan, dan arah zaman.
Di Desa Kasuari, perubahan itu tampak nyata: dari bido’ yang mengarungi samudera, menuju rumah permanen yang berdiri di daratan—tanpa sepenuhnya meninggalkan jejak laut dalam jiwa mereka.(Faidin)

