Kam. Apr 16th, 2026

Februari 2026

Negara dan Gereja Perkuat Kolaborasi, Dua SMAK di Sikka Diusulkan Berstatus Negeri

SIKKA, Bajopos.com – Upaya memperluas akses pendidikan Katolik bermutu di Kabupaten Sikka memasuki fase baru. Dalam pertemuan di Lepo Bispu, Senin (23/2/2026), Uskup Edwaldus Martinus Sedu bersama Direktur Pendidikan Katolik Kementerian Agama RI, Albertus Triyatmojo, menyatakan komitmen bersama mendorong alih status dua Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) menjadi sekolah negeri.

Dua sekolah yang diusulkan masuk dalam program tersebut adalah SMAK St. Petrus Kewa Pante dan SMAK St. Benedictus Palu’e. Penegerian ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjawab kebutuhan layanan pendidikan di wilayah kepulauan dan daerah terpencil di Kabupaten Sikka, sekaligus memperkuat mutu pendidikan berbasis iman Katolik.

Direktur Pendidikan Katolik Kementerian Agama RI menegaskan, kebijakan penegerian bukan sekadar perubahan status administratif. Menurutnya, langkah tersebut mencakup transformasi tata kelola pendidikan, mulai dari pembiayaan yang lebih stabil, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga penguatan sistem manajemen sekolah yang sesuai standar nasional pendidikan.

Dengan status negeri, sekolah akan memperoleh dukungan anggaran yang lebih terjamin, akses program peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan, serta peluang pengembangan sarana dan prasarana. Pemerintah, kata dia, berkomitmen mengawal proses sesuai regulasi dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Gereja sebagai pemangku kepentingan utama. Kesiapan dokumen, kejelasan status aset, dukungan yayasan, serta komitmen bersama menjadi prasyarat agar proses penegerian berjalan tertib tanpa menghilangkan kekhasan pendidikan Katolik.

“Identitas dan nilai iman Katolik harus tetap menjadi ruh dalam penyelenggaraan pendidikan, sekaligus memastikan lahirnya generasi unggul secara akademik dan berintegritas,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Uskup Keuskupan Maumere menyatakan dukungan penuh terhadap rencana tersebut. Ia menilai kehadiran negara dalam memperkuat pelayanan pendidikan Katolik merupakan bentuk kolaborasi yang positif dan konstruktif.

Menurutnya, penegerian membuka peluang bagi Gereja untuk memperluas karya pelayanan melalui sistem pendidikan yang lebih profesional, tertata, dan berdaya saing. Dukungan pastoral dan koordinasi internal Gereja akan terus diperkuat agar seluruh tahapan berjalan lancar serta tetap berlandaskan nilai-nilai iman.

Kolaborasi antara Direktorat Pendidikan Katolik Kementerian Agama RI, Keuskupan Maumere, pemerintah daerah, dan elemen Gereja diharapkan menjadi fondasi sistem pendidikan Katolik yang lebih kokoh dan berkelanjutan, sekaligus berdampak nyata bagi pengembangan generasi muda di Nian Tana Sikka.(Faidin)

Dorong Transformasi Sekolah Berasrama, Ditjen Bimas Katolik Kunjungi SMAK Monte Carmelo

SIKKA, Bajopos.com – Arah baru penguatan sekolah berasrama mulai ditegaskan dalam kunjungan kerja Direktur Pendidikan Katolik Kementerian Agama RI, Albertus Triyatmojo, ke SMAK Sta. Maria Monte Carmelo, Senin (23/2/2026).

Kunjungan ini tidak sekadar seremonial, tetapi menjadi momentum evaluasi sekaligus penegasan target mutu yang lebih terukur bagi sekolah tersebut.

Didampingi Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Yosef Rangga Kapodo, rombongan meninjau langsung gedung baru serta sejumlah fasilitas penunjang pembelajaran.

Monitoring ini menjadi bagian dari upaya memastikan kesiapan infrastruktur sebelum sekolah melangkah ke fase penguatan kelembagaan.

Kepala SMAK Sta. Maria Monte Carmelo, Rm. Beny, O.Carm. memaparkan peta jalan pengembangan sekolah, mulai dari peningkatan kualitas akademik hingga pembinaan karakter berbasis asrama.

Menurutnya, pembenahan terus dilakukan agar layanan pendidikan semakin profesional dan responsif terhadap kebutuhan zaman.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Katolik menegaskan bahwa orientasi sekolah harus jelas dan terukur, salah satunya melalui target Akreditasi A.

Ia menekankan bahwa akreditasi bukan sekadar administrasi, melainkan indikator tata kelola, mutu tenaga pendidik, serta efektivitas sistem pembelajaran.

“Mutu pendidikan Katolik harus tampak dalam manajemen yang rapi, proses belajar yang berkualitas, dan dampaknya bagi karakter peserta didik,” tegasnya.

Sebagai sekolah berasrama, Dirut memberi penilaian bahwa SMAK Monte Carmelo memiliki keunggulan dalam pembentukan karakter secara menyeluruh. Kehadiran kapela dan pola pembinaan harian menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai spiritual, kedisiplinan, dan integritas sebagai fondasi pendidikan Katolik.

Selain penguatan akademik, perhatian juga diarahkan pada pengembangan sekolah yang ramah lingkungan. Lingkungan belajar yang bersih, tertata, dan hijau dipandang penting untuk menumbuhkan kesadaran ekologis siswa sejak dini. Simbol komitmen itu diwujudkan melalui penanaman pohon matoa di area sekolah usai peninjauan fasilitas.

Kunjungan tersebut turut melibatkan tim penilai evaluasi kelayakan penegerian serta Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pendidikan Katolik Kanwil Kemenag NTT. Kehadiran tim ini menandai proses pendampingan yang lebih komprehensif dalam memperkuat status dan tata kelola kelembagaan sekolah.

Dengan dukungan yayasan, tenaga pendidik, serta pemerintah, SMAK Monte Carmelo diharapkan mampu bertransformasi menjadi sekolah Katolik yang kompetitif, tidak hanya di tingkat Kabupaten Sikka, tetapi juga di kancah nasional dan internasional. Penguatan mutu, manajemen berkelanjutan, serta kepedulian lingkungan menjadi tiga pilar utama yang kini digenjot secara simultan.(Faidin)

Riset Ungkap Risiko Dekompresi Mengintai Nelayan, Perkuat Hasil Studi Prof. Herawati Tentang Suku Bajo

SIKKA, BAJOPOS.COM – Aktivitas menyelam yang menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat Bajo di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, ternyata menyimpan ancaman serius bagi kesehatan. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan risiko penyakit dekompresi (Decompression Sickness/DCS) pada nelayan penyelam tradisional masih tinggi, terutama akibat pola kerja tanpa standar keselamatan memadai.

Untuk diketahui, penyakit Dekompresi (Decompression Sickness/DCS) adalah gangguan kesehatan akibat penurunan tekanan lingkungan secara drastis, menyebabkan gas (terutama nitrogen) yang terlarut dalam darah dan jaringan membentuk gelembung. Gelembung ini menyumbat aliran darah dan merusak jaringan, umumnya dialami penyelam yang naik terlalu cepat, astronot, atau pekerja di udara bertekanan.

Temuan itu dipublikasikan dalam The Journal of Indonesian Industrial Hygiene Association Volume 1 Nomor 2, Agustus 2025. Studi tersebut merupakan tinjauan sistematis terhadap lima penelitian di Indonesia dan Chili dalam kurun 2016 hingga 2021.

Hasilnya konsisten: masa kerja panjang, frekuensi menyelam lebih dari tiga kali sehari, kedalaman dan lama menyelam, cara naik ke permukaan secara langsung, usia, serta riwayat penyakit menjadi faktor dominan pemicu dekompresi. Dalam salah satu penelitian, kedalaman menyelam disebut meningkatkan risiko hingga puluhan kali lipat.

Sejalan dengan Temuan Prof. Dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D.,

Hasil ini memperkuat penelitian yang sebelumnya dilakukan Prof. Dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D., peneliti genetika molekuler dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang kini terintegrasi dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Dalam risetnya mengenai populasi Suku Bajo di wilayah pesisir Kabupaten Sikka, Herawati menyoroti adaptasi biologis masyarakat Bajo yang dikenal sebagai “pengembara laut”. Secara genetik, mereka memiliki kemampuan menyelam lebih lama dibanding populasi darat.

Namun, adaptasi itu bukan jaminan kebal risiko. Secara praktik, nelayan Bajo di Sikka umumnya mulai menyelam sejak usia belasan tahun. Mereka bisa turun ke laut beberapa kali dalam sehari untuk mencari teripang, lobster, atau biota bernilai ekonomi tinggi. Tidak sedikit yang menggunakan kompresor sederhana tanpa prosedur dekompresi bertahap.

Keluhan Kesehatan yang Nyata

Berbagai laporan kesehatan di komunitas penyelam tradisional menunjukkan gejala yang serupa dengan DCS, seperti: nyeri sendi kronis, pusing dan vertigo setelah menyelam, gangguan pendengaran hingga ketulian, serta mati rasa pada anggota tubuh.

Dalam jurnal tersebut disebutkan, penyelam yang naik ke permukaan secara cepat memiliki risiko hingga enam kali lebih besar mengalami dekompresi dibanding mereka yang naik secara bertahap.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat jumlah nelayan Indonesia mencapai 2,4 juta orang pada 2022. Sebagian besar di wilayah pesisir timur, termasuk NTT, masih menggantungkan hidup pada metode tangkap tradisional yang berisiko tinggi.

Tantangan Keselamatan Kerja

Peneliti menyimpulkan, penyakit dekompresi pada nelayan tradisional kerap terjadi karena tidak terpenuhinya standar keselamatan dan penggunaan alat selam yang tidak sesuai ketentuan.

Di Sikka, persoalan ini tidak hanya soal teknis, tetapi juga sosial dan ekonomi. Bagi masyarakat Bajo, menyelam bukan sekadar pekerjaan, melainkan identitas dan warisan budaya.

Karena itu, intervensi kesehatan kerja dinilai harus mempertimbangkan pendekatan berbasis budaya. Edukasi tentang prosedur naik bertahap, pembatasan frekuensi menyelam, penggunaan alat selam standar, serta pemeriksaan kesehatan berkala menjadi langkah mendesak.

Antara Adaptasi dan Risiko

Riset genetika menunjukkan masyarakat Bajo memiliki keunggulan fisiologis untuk menyelam. Namun studi kesehatan kerja menegaskan bahwa paparan tekanan berulang dalam jangka panjang tetap membawa dampak pada sistem saraf, sendi, dan pendengaran.

Korelasi antara penelitian dekompresi dan studi Prof. Herawati Sudoyo menegaskan satu hal: adaptasi biologis tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan keselamatan kerja.

Dengan semakin meningkatnya tekanan ekonomi di sektor perikanan tradisional, perlindungan kesehatan nelayan Bajo di Sikka menjadi isu yang tak bisa ditunda. Tanpa intervensi yang tepat, risiko dekompresi bukan hanya ancaman individu, tetapi juga ancaman keberlanjutan generasi masyarakat pesisir.(Faidin) 

Menteri Trenggono Turun ke Sikka, Uji Kesiapan Lahan Kampung Nelayan Terpadu

SIKKA, Bajopos.com – Kunjungan kerja Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono ke Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Kamis (26/2/2026), bukan sekadar agenda seremonial.

Kehadirannya untuk meninjau calon lokasi kampung nelayan di Nangahure Lembah, Kelurahan Wuring, menjadi penentu awal apakah daerah ini benar-benar siap masuk dalam peta prioritas pembangunan nasional sektor kelautan.

Menteri dijadwalkan tiba dari Kupang di Bandara Frans Seda Maumere sekitar pukul 07.30 WITA, lalu langsung bergerak ke lokasi pesisir di sebelah barat pangkalan Lanal Maumere, Kecamatan Alok Barat.

Titik tersebut diusulkan sebagai kawasan kampung nelayan terpadu—sebuah konsep pembangunan terintegrasi yang menjadi program strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sikka, Paulus Hilarius Bangkur, menjelaskan kunjungan yang semula direncanakan Rabu (25/2/2026) ditunda sehari.

Meski demikian, ia menilai kehadiran langsung Menteri merupakan sinyal kuat perhatian pusat terhadap potensi perikanan Flores Utara.

“Biasanya survei awal dilakukan tim teknis. Kali ini Menteri turun langsung melihat kondisi lapangan,” ujarnya.

Namun, di balik optimisme itu, tantangan mendasar masih membayangi: ketersediaan lahan minimal satu hektare sesuai ketentuan program kampung nelayan.

Nangahure saat ini hanya memiliki sekitar 6.000 meter persegi. Tiga lokasi lain yang diajukan—Desa Reroroja, Desa Wolomarang, dan Desa Nangahale—juga belum sepenuhnya memenuhi syarat. Bahkan, beberapa titik memerlukan reklamasi pantai akibat keterbatasan lahan kosong milik desa atau kelurahan.

Selain empat titik kampung nelayan, DKP Sikka juga mengusulkan dua lokasi kampung budidaya rumput laut di Desa Parumaan dan Desa Kojadoi, wilayah kepulauan yang selama ini menggantungkan aktivitas ekonomi pada sektor maritim.

Artinya, keputusan akhir bukan hanya soal potensi hasil tangkapan, tetapi juga kesiapan tata ruang dan legalitas lahan.

Jika memenuhi kriteria, kampung nelayan seluas satu hektare itu akan dilengkapi fasilitas strategis: dermaga, Tempat Pelelangan Ikan (TPI), gudang pendingin (cold storage), pabrik es, bengkel nelayan, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), sarana UMKM, hingga perumahan nelayan.

Skema ini dirancang untuk memutus ketergantungan nelayan kepulauan terhadap fasilitas di daratan seperti Kota Maumere dan Nangahale, terutama untuk pengisian BBM dan air bersih.

“Di Nangahure banyak kapal nelayan, termasuk nelayan pemancing tuna. Jika kampung nelayan dibangun, tentu akan sangat bermanfaat,” kata Paulus.

Sementara itu, kawasan Bebeng di Kelurahan Wolomarang—yang sebelumnya pernah dikunjungi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka—masuk dalam konsep kawasan ekonomi perikanan. Proposalnya telah diajukan, namun pemerintah pusat masih memprioritaskan penganggaran melalui APBN untuk program kampung nelayan secara nasional.

Kunjungan Menteri KKP ke Sikka dengan demikian menjadi momen krusial. Bukan hanya tentang survei lokasi, tetapi juga tentang adu kesiapan daerah dalam memenuhi standar program pusat.

Kini, publik pesisir Sikka menanti hasil penilaian teknis KKP. Apakah Nangahure mampu memenuhi syarat luas lahan dan aspek teknis lainnya? Jika ya, kawasan ini berpeluang menjadi simpul baru pertumbuhan ekonomi nelayan di Flores Utara.

Jika tidak, Sikka harus kembali menata strategi agar tidak tertinggal dalam gelombang pembangunan sektor kelautan nasional.(Faidin)

Seandainya Kalian Benar-Benar Tahu Pahala Berpuasa

Oleh : Abdurrahim Yunus, S.Ag

Sabda Nabi: “Setiap amal anak Adam dilipatgandakan; satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat.”

Allah berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’ Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

AESESA NAGEKEO, Bajopos.com – Di sebuah majelis yang tenang, ketika para sahabat duduk mengelilingi Muhammad SAW, terpatri satu pesan agung tentang puasa. Ibadah itu bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan rahasia suci antara hamba dan Rabb-nya—amalan yang nilai dan ganjarannya langsung berada dalam kuasa Allah.

Bagi generasi sahabat, Ramadan adalah musim panen pahala. Namun mereka tetap manusia: ada rasa lapar, haus, dan letih. Di tengah kondisi itu, Rasulullah SAW menguatkan hati mereka dengan kabar yang menenangkan sekaligus menggembirakan.

Beliau bersabda:

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan; satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’ Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Hadis ini bukan sekadar motivasi spiritual, melainkan penegasan tentang keistimewaan puasa dibandingkan ibadah lainnya. Semua amal berpahala, tetapi ketika Allah sendiri berfirman, “Puasa itu untuk-Ku,” maka di sana ada kemuliaan yang tak tertandingi.

Mengapa Puasa Begitu Istimewa?

Pertama, karena ia paling tersembunyi.
Salat terlihat. Sedekah bisa diketahui. Haji tampak jelas. Namun puasa? Ia berlangsung dalam sunyi. Seseorang bisa saja sendirian di ruangan, mampu minum atau makan tanpa diketahui siapa pun. Tetapi ia memilih menahan diri. Mengapa? Karena ia sadar Allah melihatnya.

Di situlah letak kemurnian ikhlas. Puasa menjadi latihan muraqabah—kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak dan niat.

Kedua, karena pahalanya tidak terbatas.
Dalam hadis disebutkan pahala amal bisa berlipat hingga tujuh ratus kali. Tetapi untuk puasa, tidak disebut batasnya. Allah menegaskan, “Aku sendiri yang akan membalasnya.” Artinya, ganjarannya sebanding dengan kedalaman keikhlasan, kesabaran, dan ketakwaan yang tumbuh selama menjalaninya. Semakin berat pengorbanan, semakin besar balasannya.

Ketiga, karena ia melatih kesabaran total.
Puasa mencakup tiga bentuk kesabaran sekasurga, diantaranya; sabar dalam ketaatan, sabar meninggalkan maksiat, sabar menghadapi ujian lapar, haus, dan emosi.

Ramadan bahkan disebut sebagai bulan kesabaran, dan balasan kesabaran tidak lain adalah surga.

Dua Kebahagiaan Orang yang Berpuasa

Rasulullah SAW bersabda:

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu Rabb-nya.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Kebahagiaan pertama sederhana—seteguk air, sebutir kurma, rasa syukur setelah menahan diri seharian. Namun kebahagiaan kedua jauh lebih agung: ketika amal puasa berdiri sebagai saksi di hadapan Allah.

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat.”(HR. Ahmad ibn Hanbal)

Puasa seakan berkata, “Ya Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkan aku memberi syafaat untuknya.”

Pintu Khusus di Surga

Rasulullah SAW juga mengabarkan adanya pintu surga bernama Ar-Rayyan. Pintu itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berpuasa. Ketika mereka masuk, pintu itu ditutup—tidak ada lagi yang memasukinya.

Puasa, dengan demikian, bukan sekadar ibadah harian. Ia menjadi identitas kehormatan di akhirat.

Seandainya Kita Benar-Benar Tahu

Seandainya manusia benar-benar memahami bahwa satu hari puasa di jalan Allah dapat menjauhkan wajah dari api neraka sejauh perjalanan puluhan tahun.

Seandainya mereka sadar bahwa bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi.

Seandainya mereka mengerti bahwa setiap rasa haus dicatat sebagai pahala yang tak terhingga. Barangkali tidak akan ada keluhan, tidak ada penundaan, tidak ada Ramadan yang disia-siakan.

Hikmah yang Lebih Dalam

Puasa mengajarkan empati kepada yang lapar. Ia melatih pengendalian hawa nafsu. Ia menyadarkan bahwa dunia bukan tujuan akhir. Ia menumbuhkan ketergantungan total kepada Allah.

Puasa bukan sekadar ibadah fisik. Ia adalah pendidikan ruhani, proses penyucian jiwa, dan latihan keikhlasan paling murni.

Dan mungkin, jika kita benar-benar memahami nilainya di sisi Allah, kita tidak akan menangis karena lapar—melainkan karena takut kehilangan satu hari tanpa puasa.(Faidin)

Tarawih Terlalu Cepat, Apakah Sah? Muhammadiyah Tekankan Pentingnya Tu’maninah dalam Qiyamu Ramadhan

Bajopos.com – Setiap Ramadhan, masjid dan mushalla di berbagai daerah di Indonesia dipadati jamaah yang antusias menunaikan shalat tarawih. Semangat menghidupkan malam dengan qiyām al-lail menjadi pemandangan yang khas dan menggembirakan.

Namun, dibalik antusiasme itu, muncul fenomena yang kerap menuai perbincangan: pelaksanaan salat tarawih yang dilakukan dengan sangat cepat, bahkan nyaris tanpa jeda ketenangan dalam setiap gerakan.

Lantas, apakah salat tarawih yang tergesa-gesa tetap memenuhi tuntunan syariat?

Dikutip dari Muhammadiyah.or.id, kualitas shalat dalam ajaran Islam tidak semata ditentukan oleh jumlah rakaat, melainkan juga oleh tu’maninah—ketenangan dan kesempurnaan dalam setiap gerakan. Tu’maninah bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian penting yang dapat menentukan sah atau tidaknya shalat.

Penegasan ini merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Dalam hadis yang dicatat oleh Muhammad al-Bukhari, Nabi Muhammad SAW  menegur seseorang yang keliru dalam shalatnya.

Rasulullah menekankan agar setiap gerakan dilakukan hingga benar-benar tenang: rukuk sampai tu’maninah, berdiri tegak dengan sempurna, sujud hingga tenang, dan duduk dengan stabil sebelum berpindah ke gerakan berikutnya.

Meski hadits tersebut berbicara tentang shalat secara umum, sifatnya yang universal menjadikannya dalil bahwa semua jenis shalat—baik fardu maupun sunah—wajib dilakukan dengan tu’maninah.

Artinya, jika ketenangan menjadi syarat sah dalam shalat wajib, maka ketentuan itu juga berlaku dalam shalat sunah, termasuk tarawih.

Lebih lanjut, dikutip dari Muhammadiyah.or.id pun menjelaskan bahwa Qiyāmu Ramadhan pada hakikatnya sejalan dengan shalat malam lainnya seperti tahajud dan witir. Tata caranya mengikuti praktik shalat Nabi.

Hal ini diperkuat oleh riwayat Abu Salamah bin Abdurrahman yang bertanya kepada Aisyah tentang shalat Rasulullah di bulan Ramadan.

Dalam hadits yang juga diriwayatkan Imam al-Bukhari, Aisyah menjelaskan bahwa Nabi tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat, dan setiap rakaat dilakukan dengan bacaan yang panjang dan indah.

Keterangan tersebut menunjukkan dua hal penting: bukan hanya jumlah rakaat yang dijaga, tetapi juga kualitas pelaksanaannya. Shalat Nabi dikenal panjang, tenang, dan penuh kekhusyu’an. Disinilah letak esensi Qiyāmu Ramadan—bukan pada kecepatan, melainkan pada penghayatan.

Tarawih yang dilakukan terlalu cepat hingga menghilangkan tu’maninah berisiko mengurangi kesempurnaan shalat. Bahkan dalam batas tertentu, jika rukun tidak dilakukan dengan ketenangan, minimal dapat berimplikasi pada sah atau tidaknya shalat tersebut.

Ramadhan sejatinya menjadi momentum memperbaiki kualitas ibadah, bukan sekadar mengejar kuantitas rakaat atau durasi yang singkat. Antusiasme jamaah patut diapresiasi, namun pelaksanaan ibadah tetap harus selaras dengan tuntunan Rasulullah SWA—tenang, tertib, dan penuh makna.(Faidin)

Haedar Nashir Tekankan Fondasi Tauhid Murni di Pengkajian Ramadan 1447 H UMT

TANGERANG, Bajopos.com – Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) menjadi pusat konsolidasi ideologi Persyarikatan saat menjadi tuan rumah Pengkajian Ramadan 1447 Hijriah yang digelar Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 24–26 Februari 2026.

Bertempat di Auditorium Lantai 19 UMT, kegiatan ini dihadiri lebih dari 1.000 peserta dari Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah serta civitas akademika Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Banten dan Daerah Khusus Jakarta.

Pengkajian Ramadan tahun ini tidak sekadar menjadi forum kajian rutin menjelang bulan suci, tetapi juga ruang strategis untuk memperteguh arah gerakan Islam berkemajuan di tengah dinamika sosial dan keumatan yang terus berubah.

Rektor UMT, Dr. H. Desri Arwen, M.Pd., menegaskan komitmen kampusnya dalam memperkuat nilai-nilai keislaman berbasis keilmuan dan kaderisasi. Menurutnya, UMT siap menjadi episentrum penguatan akidah sekaligus pengembangan kader Muhammadiyah.

“UMT sebagai kampus unggul siap menjadi pusat penguatan akidah dan pengembangan kader Muhammadiyah,” ujarnya dalam sambutan pembukaan, Selasa (24/2/2026).

Senada dengan itu, Ketua Majelis Pembinaan Kader SDI PP Muhammadiyah, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, M.P.A., menekankan bahwa penguatan akidah merupakan fondasi utama gerakan Muhammadiyah.

Ia mengingatkan bahwa tanpa basis teologis yang kokoh, gerakan dakwah akan kehilangan arah di tengah kompleksitas tantangan zaman.

Sorotan utama kegiatan ini tertuju pada pidato iftitah Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.

Dalam paparan bertema “Akidah Islam Berkemajuan: Memperluas Paham Tauhid Murni Tinjauan Ideologis, Filosofis, dan Praksis”, Haedar menegaskan pentingnya memperluas pemahaman tauhid secara komprehensif—tidak hanya dalam ranah teologis, tetapi juga dalam praktik kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, dan kebangsaan.

Menurutnya, Pengkajian Ramadan harus dimaknai sebagai momentum strategis untuk meneguhkan akidah dan memperluas wawasan keislaman agar gerakan Muhammadiyah tetap relevan dan mencerahkan umat.

“Pengkajian Ramadan ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi momentum strategis untuk meneguhkan akidah, memperluas wawasan keislaman, dan memperkuat gerakan dakwah Muhammadiyah agar semakin berkemajuan dan mencerahkan umat,” tegas Haedar.

Dalam rangkaian acara, dilakukan pula penandatanganan nota kesepahaman antara Bank Syariah Nasional dan PP Muhammadiyah yang ditandai dengan penyerahan bantuan tiga unit motor angkut sampah untuk mendukung operasional kampus UMT. Dukungan serupa juga datang dari Sinar Mas yang menyerahkan bantuan mushaf Al-Qur’an sebagai bagian dari penguatan dakwah dan literasi keislaman.

Melalui Pengkajian Ramadan 1447 H ini, Muhammadiyah menegaskan kembali komitmennya pada penguatan tauhid murni sebagai landasan ideologis, filosofis, dan praksis dalam menyongsong Ramadan—serta dalam menapaki peran keumatan dan kebangsaan di era modern.(Faidin)

Asal-Usul Orang Bajo Masih Misterius, Peneliti Uji Hipotesis

Nusa Tenggara Timur, Bajopos.com – Di balik reputasi sebagai pelaut paling tangguh di Nusantara, asal-usul Orang Bajo hingga kini masih menjadi perdebatan ilmiah. Beragam teori bermunculan, mulai dari legenda Johor di Malaysia hingga hipotesis migrasi dari Sungai Barito di Kalimantan, namun belum satu pun yang benar-benar teruji secara komprehensif.

Dikutip dari National Geographic Indonesia, Orang Bajo—yang juga dikenal sebagai Sama Bajau, Orang Laut, atau Gipsi Laut—telah berabad-abad mengarungi perairan Asia Tenggara. Mereka kini tersebar di wilayah timur Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Filipina bagian selatan, terutama di kawasan Segitiga Terumbu Karang.

Ahli linguistik Phillippe Grange dari Universite La Rochelle mengungkapkan, berbagai teori telah diajukan untuk menjelaskan asal-usul komunitas maritim tersebut. Salah satu yang paling populer menyebut Orang Bajo berasal dari Johor.

Teori ini bertumpu pada legenda tentang Puteri Johor yang hilang. Dalam kisah tersebut, Orang Bajo diminta mencari sang puteri dan tidak boleh kembali sebelum menemukannya. Sejak saat itu, mereka diyakini terus mengembara di laut dan tidak pernah kembali ke tanah asal.

Namun, menurut Grange, teori tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. “Secara dongeng memang ada keterkaitan, tetapi tidak ada bukti arkeologi maupun linguistik yang menunjukkan bahwa Orang Bajo berasal dari Johor,” ujarnya dalam seminar bertema Austronesia Diaspora yang digelar Lembaga Eijkman di Jakarta.

Teori lain yang berkembang mengaitkan Orang Bajo dengan muara Sungai Barito. Hipotesis ini diperkuat oleh kemiripan sejumlah kosakata antara bahasa Dayak Ngaju dan Sama Bajau. Robert Blust dari University of Hawaii bahkan menyebut Orang Bajo mulai melaut sekitar abad ke-8 Masehi, bertepatan dengan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya.

Dalam skenario tersebut, Orang Bajo diduga berperan mendukung jaringan perdagangan maritim Sriwijaya dan kemudian bermigrasi ke wilayah Sulu di Filipina. Setelah invasi suku Tausug pada abad ke-13 dan penyebaran Islam pada abad ke-15, mereka kembali menyebar ke selatan hingga Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Meski demikian, para peneliti mengakui bahwa teori ini pun masih sebatas hipotesis.

Antropolog Tony Rudyansjah dari Universitas Indonesia menilai perpindahan Orang Bajo bisa saja terjadi secara sukarela seiring berkembangnya perdagangan maritim pada abad ke-8. Namun ia menegaskan bahwa penelitian lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan kebenarannya.

Upaya terbaru kini mengarah pada penelitian genetika molekuler. Herawati Sudojo dari Lembaga Eijkman menyatakan bahwa pengambilan dan perbandingan sampel DNA Orang Bajo dari berbagai wilayah dapat membantu memetakan jalur migrasi dan hubungan kekerabatan mereka.

Menurutnya, penelitian ini tidak hanya penting untuk mengungkap asal-usul Orang Bajo, tetapi juga berpotensi memberi gambaran lebih luas tentang migrasi manusia Austronesia, bahkan hingga ke Madagaskar.

Hingga kini, misteri asal-usul Orang Bajo masih terbuka. Di tengah berbagai hipotesis, satu hal yang pasti: komunitas ini telah membuktikan diri sebagai bagian penting dari sejarah maritim Nusantara, dengan laut sebagai ruang hidup sekaligus jejak perjalanan panjang yang belum sepenuhnya terungkap

Sumber : National Geographic Indonesia

Tertimbun Rumput & Bambu Dalam Insiden Kematian Siswi di Sikka Diduga Akibat Penganiayaan Berat

SIKKA, Bajopos.com – Penemuan jasad STN di Dusun Woloklereng, Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, pada Senin, 23/02/2026, membuka babak penyelidikan serius aparat kepolisian. Hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) mengarah pada indikasi penganiayaan berat.

KBO Reskrim Polres Sikka, I Nyoman Aryasa, menyatakan penyidik masih mendalami seluruh kemungkinan. Pemeriksaan dilakukan terhadap sejumlah pihak yang memiliki keterkaitan atau mengetahui peristiwa tersebut.

“Kita tidak bisa memastikan satu orang yang diperiksa terlibat atau tidak. Nanti semuanya akan berkembang. Update berikutnya akan kami sampaikan,” ujarnya dalam konferensi pers di Mapolres Sikka, Selasa (24/2/2026).

Seorang pria telah diamankan sekitar pukul 09.00 Wita oleh tim Satreskrim untuk dimintai keterangan. Kasi Humas Polres Sikka, Ipda Leonardus Tunga, menegaskan bahwa status pria tersebut masih sebatas saksi yang diduga mengetahui kejadian.

“Yang bersangkutan masih dalam pemeriksaan. Tetapi faktanya bahwa kita sudah mengamankan satu orang yang mengetahui kasus tersebut,” kata Leonardus.

Rangkaian peristiwa bermula pada Jumat, 20 Februari 2026, saat korban pergi ke rumah salah satu kerabat untuk mengambil gitar miliknya. Hingga malam hari sekitar pukul 20.00 Wita, korban tak kembali. Upaya pencarian keluarga tak membuahkan hasil hingga laporan kehilangan diajukan ke Polsek Kewapante pada Minggu, 21 Februari 2026.

Pencarian berlanjut ke area sekitar Kali Watuwogat. Bau menyengat yang tercium dari tumpukan rumput dan kayu bambu yang disusun melintang menjadi petunjuk awal. Setelah diperiksa, jasad korban ditemukan dalam kondisi tertutup dan tersembunyi.

Penyidik kini fokus mengurai kronologi pasti, dimana sejak korban meninggalkan rumah hingga ditemukan tewas, serta kemungkinan adanya upaya menghilangkan jejak di lokasi kejadian.

Sementara itu, pihak kepolisian memastikan penyelidikan dilakukan secara komprehensif untuk mengungkap fakta di balik kematian siswi tersebut.(Fn) 

Hasil Gelar Jadi Dasar Penersangkaan Pemilik Eltras Cafe Masuk TPPO

SIKKA, Bajopos.com – Proses penetapan tersangka dalam kasus dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Eltras Cafe dan Karaoke, Kabupaten Sikka, resmi dilakukan setelah penyidik menggelar perkara dan menyimpulkan telah terpenuhinya unsur pidana serta alat bukti yang sah.

Penetapan tersebut disampaikan Kasi Humas Polres Sikka, Iptu Leonardus Tunga, S.M., dan KBO Satreskrim Polres Sikka, Iptu I Nyoman Ariasa dalam konferensi pers di Mapolres Sikka, Selasa (24/02/2026)

Dalam penyampaian yang disampaikan KBO Satreskrim Polres Sikka, Iptu I Nyoman Ariasa bahwa sebelumnya gelar perkara telah dilaksanakan pada Senin (23/02/2026) dan dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim Iptu Dionisius Siga, S.Tr.K., dengan melibatkan pejabat internal serta perwakilan dari Ditres PPA PPO Polda NTT.

Dalam forum gelar perkara itu, penyidik memaparkan hasil penyidikan terkait dugaan eksploitasi terhadap 13 orang korban. Berdasarkan hasil pemeriksaan saksi-saksi, korban, serta pengumpulan barang bukti, penyidik menyatakan telah mengantongi lebih dari dua alat bukti yang sah sebagaimana diatur dalam KUHAP.

KBO menegaskan bahwa mekanisme gelar perkara menjadi tahapan krusial sebelum penetapan status hukum seseorang.

“Penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik memperoleh lebih dari dua alat bukti yang sah. Dalam gelar perkara, seluruh peserta menyepakati bahwa unsur dugaan tindak pidana perdagangan orang telah terpenuhi sesuai ketentuan perundang-undangan,” ujarnya.

Dari hasil gelar perkara tersebut, dua orang masing-masing berinisial YCG dan MAR (pemilik Eltras Cafe, red) resmi ditetapkan sebagai tersangka.

KBO menjelaskan, setelah penetapan tersangka, penyidik langsung menindaklanjuti dengan melengkapi administrasi penyidikan, menerbitkan surat panggilan kepada para tersangka, serta menjadwalkan pemeriksaan lanjutan dalam kapasitas sebagai tersangka.

“Pada hari Kamis kami menjadwalkan akan melakukan pemeriksaan terhadap keduanya sebagai tersangka,” ujarnya.

Selain itu, penyidik kata KBO akan melakukan penyitaan tambahan terhadap barang bukti yang memiliki keterkaitan dengan dugaan TPPO tersebut, menyusun serta melengkapi berkas perkara, sebelum dilimpahkan ke jaksa penuntut umum untuk proses hukum lebih lanjut.

Menurut KBO, seluruh tahapan dilakukan secara profesional, objektif, dan transparan guna memastikan proses penegakan hukum berjalan sesuai prosedur.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi serta mempercayakan sepenuhnya penanganan perkara kepada aparat penegak hukum.(Fn)

Dua Tersangka TPPO di Eltras Cafe Ditetapkan, Polres Sikka Klaim Kantongi Bukti Kuat dan Sudah Gelar Perkara

SIKKA, Bajopos.com – Dua orang resmi menyandang status tersangka dalam kasus dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Eltras Cafe, Bar & Karaoke, Kabupaten Sikka. Penetapan tersebut dilakukan setelah penyidik mengklaim telah mengantongi alat bukti yang cukup dan menggelar perkara secara internal.

Melalui Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim), Polres Sikka mengumumkan perkembangan terbaru penanganan kasus itu dalam konferensi pers di Mapolres Sikka, Selasa (24/02/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Kasi Humas Polres Sikka Iptu Leonardus Tunga, S.M., dan KBO Satreskrim Polres Sikka Iptu I Nyoman Ariasa.

KBO Satreskrim, Iptu I Nyoman Ariasa menegaskan, penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik memperoleh lebih dari dua alat bukti yang sah sebagaimana diatur dalam KUHAP. Menurutnya, proses tersebut telah melalui mekanisme gelar perkara internal yang diklaim berjalan objektif dan profesional.

“Berdasarkan alat bukti tersebut, peserta gelar perkara sepakat bahwa telah terpenuhi unsur dugaan tindak pidana perdagangan orang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” ujarnya.

Di katakan KBO, kasus ini merupakan tindak lanjut dari penyidikan terhadap aktivitas di Eltras Cafe, Bar & Karaoke yang diduga melibatkan praktik eksploitasi terhadap 13 orang korban.

Juga, kata dia, dalam gelar perkara yang dipimpin Kasat Reskrim IPTU Dionisius Siga, S.Tr.K., serta dihadiri pejabat internal dan perwakilan Ditres PPA PPO Polda NTT, dua orang berinisial YCG dan MAR resmi ditetapkan sebagai tersangka.

Penyidik, lanjut KBO, akan segera melengkapi administrasi penetapan tersangka dan mengirimkan surat panggilan yang dijadwalkan pada Kamis, (26/02/2026). Selain itu, pemeriksaan lanjutan akan dilakukan, berkas perkara disusun dan dilengkapi, sebelum dilimpahkan ke kejaksaan untuk proses hukum berikutnya.

Polisi juga memastikan akan melakukan penyitaan terhadap barang bukti lain yang memiliki keterkaitan dengan dugaan tindak pidana tersebut guna memperkuat pembuktian di tahap penuntutan.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 455 ayat (1) dan ayat (2) juncto Pasal 20 huruf a dan huruf c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP jo UU Nomor 1 Tahun 2026.

Keduanya terancam pidana penjara paling singkat tiga tahun dan paling lama 15 tahun, serta denda kategori 4 hingga kategori 7 atau Rp200 juta sampai Rp5 miliar.(Fn)

Mahasiswi Matematika UNIMOF Taklukkan 757 Peserta Nasional

SIKKA, Bajopos.com – Ditengah dinamika persaingan akademik nasional yang semakin kompetitif, satu nama dari timur Indonesia mencuri perhatian. Mahasiswi Semester VI Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Maumere (UNIMOF), Alsanta Herlina Dahimong, sukses mempersembahkan Medali Emas dalam ajang Kejuaraan Alberta Nasional 4.0 yang diselenggarakan oleh CV Alberta Nusa Competition pada 23–25 Januari 2026.

Prestasi ini bukan sekadar kemenangan individu, melainkan penegasan bahwa kampus di wilayah timur Indonesia mampu berdiri sejajar dalam kompetisi berskala nasional. Dari total 757 peserta seluruh Indonesia yang mengikuti lomba secara daring, Alsanta tampil unggul dalam cabang Matematika yang digelar pada 25 Januari 2026.

Selama dua jam, peserta dihadapkan pada 25 soal pilihan ganda dengan tingkat kesulitan berjenjang mulai dari easy hingga very hard. Sistem penilaian tanpa toleransi jawaban salah maupun kosong menuntut presisi tinggi, kecermatan strategi, serta ketahanan mental dalam mengelola waktu. Dalam atmosfer kompetisi yang ketat inilah Alsanta menunjukkan kapasitas akademik dan kematangan berpikirnya.

Mengusung tema inspiratif tentang perjuangan dan kerja keras, ajang ini menjadi panggung pembuktian kualitas generasi muda Indonesia. Alsanta mampu menjaga fokus, mengatur ritme pengerjaan soal, dan memaksimalkan setiap peluang poin hingga akhirnya keluar sebagai peraih medali emas.

Keberhasilan tersebut lahir dari proses panjang: disiplin belajar, konsistensi latihan, serta keberanian menghadapi tantangan. “Keberanian bukanlah tidak adanya rasa takut, melainkan kemauan untuk bertindak meskipun takut. Karena keberuntungan berpihak pada mereka yang berani,” ungkap Alsanta.

Ketua Program Studi Pendidikan Matematika UNIMOF, Dian Nan Brylliant, M.Mat., menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil pembinaan akademik berkelanjutan yang diterapkan di lingkungan kampus. Menurutnya, partisipasi aktif mahasiswa dalam kompetisi menjadi bagian penting dari penguatan literasi numerik, kemampuan berpikir kritis, serta pembentukan mental juang.

Prestasi ini sekaligus menjadi pesan kuat bahwa kualitas tidak ditentukan oleh letak geografis. Dari Maumere, semangat berprestasi terus tumbuh dan menembus batas. Program Studi Pendidikan Matematika UNIMOF kembali menegaskan eksistensinya sebagai ruang lahirnya talenta unggul yang siap bersaing di tingkat nasional.

Momentum emas ini diharapkan menjadi energi baru bagi mahasiswa lainnya untuk berani mengambil tantangan, memperluas pengalaman kompetitif, dan terus mengasah kapasitas diri. Universitas Muhammadiyah Maumere tidak hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk pejuang intelektual yang siap membawa nama daerah dan institusi ke panggung yang lebih luas.(Faidin)

Mayat Siswi SMP Ditemukan Tertutup Rerumputan dan Bambu, Polisi Dalami Penyebab Kematian

SIKKA, Bajopos.com – Misteri hilangnya seorang siswi SMP di Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, berakhir tragis. STN (14), pelajar kelas II SMP MBC Ohe yang dilaporkan hilang sejak Jumat (20/02/2026).

Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno, melalui Kasi Humas Polres Sikka, Iptu Leonardus Tunga, dalam laporan resmi yang diterima Bajopos.com mengungkap STN ditemukan tak bernyawa di Kali Watuwogat, Dusun Woloklereng, Desa Rubit, Senin (23/02) sekitar pukul 14.00 WITA.

Temuan jasad korban kini menimbulkan tanda tanya, baik dari warga sekitar maupun keluarga dekat korban karena tubuhnya ditemukan di bawah batu dalam kondisi tertutup tumpukan rerumputan serta kayu bambu yang dipalang dari atas.

Untuk diketahui, lokasi penemuan jasad korbanpun tak jauh dari rumah kerabat yang sebelumnya menurut laporan didatangi korban untuk mengambil gitar miliknya.

Kronologi Kejadian

Berdasarkan kronologi yang dihimpun, pada Jumat siang korban pamit ke rumah kerabat untuk mengambil gitar yang dipinjam. Namun hingga pukul 20.00 WITA, korban tak kunjung kembali.

Keluarga telah melakukan pencarian ke sejumlah kerabat, tetapi hasilnya nihil. Laporan kehilangan resmi dibuat pada Minggu (22/2/2026) di Polsek Kewapante.

Pencarian bersama aparat terus dilakukan. Pada Senin siang, keluarga kembali menyisir area sekitar lokasi terakhir korban terlihat. Sementara itu, saksi EM (46) mengaku mencium bau menyengat saat berada di sekitar aliran kali.

Saat melakukan pemeriksaan lebih dekat, terlihat sosok tubuh di bawah batu dengan tumpukan rumput dan bambu di atasnya. Ia kemudian memanggil saksi lain, YEB (32), serta anggota keluarga lain untuk memastikan temuan tersebut.

Kepala Desa Rubit segera melaporkan peristiwa itu ke Polsek Kewapante. Sekitar pukul 15.00 WITA, Kapolsek bersama personel dan Tim Inafis dari Polres Sikka tiba di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Jenazah korban selanjutnya dievakuasi ke RSUD TC Hillers Maumere.

Pihak kepolisian telah memeriksa saksi-saksi dan menerima laporan resmi dari keluarga di SPKT Polres Sikka. Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan untuk memastikan penyebab kematian korban, termasuk mendalami kondisi lokasi penemuan dan rentang waktu sejak korban dinyatakan hilang.

Hingga kini, polisi belum menyimpulkan penyebab kematian dan menyatakan proses lidik masih berjalan. Aparat mengimbau masyarakat tidak berspekulasi sembari menunggu hasil penyelidikan resmi.(Fn)

Anggaran Tembus Rp15,3 Triliun, KIP Kuliah 2026 Siap Biayai Lebih dari 1 Juta Mahasiswa

JAKARTA, Bajopos.com – Pemerintah terus memperkuat Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah sebagai instrumen utama memperluas akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, anggaran program ini meningkat signifikan dalam enam tahun terakhir.

Berdasarkan data Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi (PPAPT), anggaran KIP Kuliah pada 2020 sebesar Rp6,5 triliun. Angka tersebut melonjak menjadi Rp14,9 triliun pada 2025 dengan sasaran lebih dari 1 juta mahasiswa. Pada 2026, pemerintah kembali menaikkan alokasi menjadi Rp15,3 triliun untuk menjangkau 1.047.221 mahasiswa di seluruh Indonesia.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menegaskan KIP Kuliah merupakan “Jembatan Harapan” bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Ia memastikan para penerima tidak hanya dibebaskan dari biaya kuliah, tetapi juga mendapatkan bantuan biaya hidup, serta tidak diperkenankan adanya pungutan tambahan dari pihak perguruan tinggi.

Distribusi Berbasis Data Terpadu

Distribusi kuota KIP Kuliah dilakukan berbasis data pemegang Kartu Indonesia Pintar jenjang SMA/sederajat, Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), serta PPKE desil 1–4. Prioritas diberikan kepada lulusan yang lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) maupun Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) di perguruan tinggi negeri (PTN).

Sementara itu, kuota untuk perguruan tinggi swasta (PTS) dikelola Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) dengan mempertimbangkan akreditasi program studi.

Kebijakan ini memastikan penerima KIP Kuliah benar-benar berasal dari keluarga miskin atau rentan miskin yang memiliki potensi akademik baik. Sebagai gambaran, jumlah penerima di Universitas Negeri Medan meningkat tajam dari 1.000 mahasiswa pada 2024 menjadi lebih dari 3.000 mahasiswa pada 2025. Sebaliknya, di Universitas Gadjah Mada, jumlah penerima menurun dari 1.900 menjadi 708 mahasiswa karena jumlah pendaftar yang memenuhi kriteria lebih sedikit.

Integrasi Data dan Pengawasan Ketat

Pelaksanaan program ini diperkuat dengan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025 tentang Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), yang menjadi dasar integrasi dan validasi data penerima bantuan. Pemerintah menekankan penyaluran KIP Kuliah dilakukan secara akuntabel dan berbasis data, disertai evaluasi rutin agar tepat sasaran.

Sejak diluncurkan, KIP Kuliah menjadi salah satu pilar penting dalam penguatan sumber daya manusia Indonesia. Dengan dukungan pembiayaan penuh, mahasiswa dapat fokus menyelesaikan studi tanpa terbebani persoalan ekonomi.

“Kami mengajak seluruh anak Indonesia dari keluarga kurang mampu untuk tidak khawatir melanjutkan pendidikan tinggi. KIP Kuliah siap mendukung masa depan mereka,” ujar Menteri Brian.

Pengaduan dan Informasi KIP Kuliah:
Laman: lapor.go.id
Pusat Panggilan ULT Kemdiktisaintek: 126
Email: ult@kemdiktisaintek.go.id
WhatsApp: +62 851-8606-9126

Evakuasi Dramatis Warnai Penemuan Remaja Hilang di Hewokloang

SIKKA, Bajopos.com – Upaya pencarian remaja putri yang dilaporkan hilang sejak Jumat (20/2/2026) berakhir duka. STN (14), warga Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa pada Senin (23/2/2026) sore di kawasan terpencil Napun Koja Gelo, Dusun Woloklereng.

Siswi kelas VIII SMP MBC Ohe itu ditemukan sekitar pukul 15.00 WITA di area kali yang jauh dari permukiman warga. Lokasi penemuan berjarak kurang lebih 4 kilometer dari rumah korban di Dusun Romanduru, dengan medan terjal dan sulit diakses kendaraan.

Kondisi geografis yang ekstrem membuat proses evakuasi berlangsung dramatis. Warga setempat menunjukkan solidaritas dengan membantu aparat kepolisian mengevakuasi jenazah. Setelah dimasukkan ke dalam kantong jenazah oleh tim Inafis Polri, jasad korban dipikul menggunakan sebatang bambu oleh tiga warga secara bergantian menuju mobil pick up yang berada di titik akses terdekat.

Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno, melalui Kasi Humas Polres Sikka, Iptu Leonardus Tunga, dikonfirmasi Bajopos.com Senin, (23/02) pukul 22.31 membenarkan penemuan tersebut. Menurutnya, tim Inafis telah melakukan identifikasi awal di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

“Tim Inafis Polres Sikka sudah berada di TKP untuk melakukan identifikasi awal dan mengevakuasi jasad korban guna keperluan otopsi,” ujar Iptu Leonardus.

Hingga berita ini diturunkan, jenazah korban telah dibawa ke RSUD TC Hillers Maumere untuk menjalani otopsi guna memastikan penyebab kematian. Polisi masih mendalami kasus tersebut dan belum menyampaikan keterangan lebih lanjut terkait penyebab pasti kematian korban.

Peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan warga Desa Rubit yang berharap pengungkapan kasus dapat segera dilakukan secara transparan.(Fn)

KDM Siapkan 200 Pengacara dan Ratusan Juta Uang, “Saya Bikin Moratorium”

SIKKA, Bajopos.com – Selain menyiapkan 200 pengacara untuk memberikan pendampingan hukum bagi warga Jawa Barat yang bekerja di luar daerah, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau yang kerap di sapa KDM ini juga menyatakan kesanggupannya membayar kasbon 12 warga Jawa Barat yang bekerja di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, yang nilainya disebut-sebut mencapai ratusan juta rupiah.

Kasbon tersebut diduga menjadi salah satu polemik utama yang dialami warganya sebelum akhirnya Gubernur yang sering ngonten ini turun langsung menjemput dan memulangkan kedua belas warganya yang sebelumnya bekerja di Eltras Pub dan Karaoke.

Meski sebelumnya kedatangan gubernur yang familiar dengan kontennya ini disebut-sebut hanya dalam agenda silaturahmi ke Kota Maumere yang alih-alih akhirnya justru melakukan penjemputan 12 ladies asal Jawa Barat di selter TRuK-F Maumere, Senin 23 Februari 2026 hingga memulangkan kembali ke Kampung halaman di Jawa Barat.

Kang Dedy juga sapaannya, menegaskan, kesediaannya untuk membayar kasbon itu tetap dengan catatan persoalan hak dan kewajiban antara pekerja dan perusahaan harus diperjelas lebih dahulu.

“Nanti kita lihat dulu utangnya diakibatkan oleh apa. Sebelum mereka membayar utangnya, apa kewajiban perusahaan terhadap mereka sudah dipenuhi atau belum. Kalau memang persoalan pembayaran itu ditimbulkan, saya bayarkan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa persoalan utang tidak bisa dilihat sepihak. Menurutnya, perlu dipastikan terlebih dahulu apakah hak-hak pekerja, termasuk pembayaran gaji dan kewajiban lain dari perusahaan, telah dipenuhi sebelum para pekerja dibebani kewajiban melunasi kasbon.

Disisi lain, KDM juga mengumumkan kebijakan moratorium bagi seluruh warga Jawa Barat yang bekerja di luar daerah. Melalui kebijakan tersebut, setiap warga yang bekerja di luar provinsi wajib mendapatkan pendampingan dan perlindungan hukum.

“Saya bikin moratorium untuk seluruh warga Jabar yang kerja di luar, jenis apa pun profesinya, nanti harus ada pendampingan hukum dan perlindungan hukum. Tim hukumnya saya punya 200 pengacara yang nanti bekerja mendampingi mereka, memonitor mereka karena mereka harus lapor apa yang dialami,” jelasnya.

Sebanyak 200 pengacara telah disiapkan untuk mendampingi dan memonitor warga Jawa Barat yang menghadapi persoalan hukum di luar daerah.

Meski kedua belas warga tersebut telah dipulangkan dalam kondisi sehat, Dedi menegaskan proses hukum terkait dugaan tindak pidana perdagangan orang yang tengah ditangani penyidik tetap berjalan.(Fn)

Kang Dedy Siap Tanggung Ratusan Juta, Ini Syaratnya

SIKKA, Bajopos.com – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM juga sapaan familiar nya Kang Dedy menyatakan kesiapannya untuk membayar utang atau kasbon 12 pekerja perempuan di Eltras Pub dan Karaoke Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, dengan catatan persoalan hak dan kewajiban antara pekerja dan perusahaan harus lebih dulu diperjelas.

Pernyataan itu disampaikan KDM saat menjemput para warganya di selter TRuK-F Maumere, Senin (23/2/2026). Ia menegaskan, sebelum mengambil langkah pembayaran, perlu dipastikan lebih dahulu penyebab munculnya utang tersebut.

“Nanti kita lihat dulu utangnya diakibatkan oleh apa. Sebelum mereka membayar utangnya, apa kewajiban perusahaan terhadap mereka sudah dipenuhi atau belum. Kalau memang persoalan pembayaran itu ditimbulkan, saya bayarkan,” ujarnya.

Kasbon 12 pekerja yang disebut-sebut mencapai ratusan juta rupiah menjadi salah satu polemik utama dalam kasus ini. Kuasa hukum pihak Eltras Pub menyebut, dari 13 LC yang sebelumnya ditampung di selter TRuK-F, 12 orang memiliki kasbon, sementara satu orang tidak.

Namun bagi KDM, persoalan utang tidak bisa dilihat sepihak. Ia menekankan pentingnya memastikan apakah hak-hak pekerja, termasuk pembayaran gaji, telah dipenuhi oleh perusahaan sebelum mereka dibebani kewajiban melunasi kasbon.

Sementara itu, pihak Eltras Pub melalui kuasa hukumnya menyatakan masih terdapat kewajiban pembayaran gaji selama 20 hari kerja kepada 13 pekerja dengan total Rp 19.560.000. Mereka juga mengaku telah mengambil langkah hukum terkait kasbon tersebut, termasuk melayangkan somasi.

Terlepas dari perbedaan klaim, KDM menegaskan komitmennya untuk memastikan warganya tidak terbebani persoalan hukum maupun finansial yang dinilai tidak proporsional. Ia juga memastikan proses hukum yang tengah berjalan tetap dilanjutkan, sementara Pemerintah Provinsi Jawa Barat siap memberikan pendampingan hingga perkara tuntas.

Sikap KDM yang secara terbuka menyanggupi pembayaran kasbon itu menjadi sorotan publik, terutama karena nilainya yang tidak sedikit. Namun ia kembali menegaskan, keputusan akhir tetap bergantung pada hasil penelusuran menyeluruh atas sebab-musabab munculnya utang tersebut serta pemenuhan hak para pekerja.(Fn)

Sejumlah LC di Maumere Disebut Menolak Bertemu Dedi Mulyadi, Polemik Kasbon dan Gaji Mengemuka

SIKKA, Bajopos.com – Polemik pemulangan 12 warga Jawa Barat dari Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, kembali memanas setelah muncul pernyataan bahwa sejumlah pekerja perempuan atau ladies di Eltras Pub dan Karaoke disebut tidak bersedia bertemu Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM.

Penolakan itu diungkapkan Kuasa Hukum Eltras Pub, Dominikus Tukan. Ia menyebut, dua pekerja yang sedang hamil sempat dibawa ke selter TRuK-F untuk difasilitasi bertemu KDM. Namun, menurutnya, keduanya tidak bersedia.

“Kami hanya menyampaikan bahwa KDM hendak bertemu. Tetapi mereka meminta bertemu sendiri dan sepengetahuan kami memang tidak mau menemui KDM,” ujar Dominikus.

Ia menambahkan, untuk memastikan sikap para ladies, Ibu Fitri (Pejabat Pemda Sikka, red) bersama Kasat Pol PP Adeodatus Buang Da Cunha disebut sempat menanyakan langsung kepada para pekerja yang berada di kamar kos. Namun, pintu hanya dibuka sedikit dan dari dalam kamar terdengar jawaban bahwa mereka menolak bertemu.

Di sisi lain, KDM menyatakan kesiapannya membantu menyelesaikan persoalan utang atau kasbon 12 pekerja tersebut. Saat menjemput para warganya di TRuK-F Maumere, Senin (23/2/2026), ia menegaskan akan menelusuri terlebih dahulu sumber utang sebelum mengambil langkah pembayaran.

“Nanti kita lihat dulu utangnya diakibatkan oleh apa. Sebelum mereka membayar utangnya, apa kewajiban perusahaan terhadap mereka sudah dipenuhi atau belum. Persoalan pembayaran kalau ditimbulkan, saya bayarkan,” ujarnya.

Kasus ini mencuat setelah 12 warga Jawa Barat dipulangkan dari Maumere dan diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO). KDM hadir langsung untuk memastikan kondisi mereka dalam keadaan sehat dan siap mengikuti proses hukum yang sedang berjalan.

“Proses hukumnya tetap berlanjut. Dari mulai penyelidikan, penetapan tersangka, sampai nanti kalau diperlukan menjadi saksi di pengadilan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat siap melakukan pendampingan sampai masalah ini selesai,” tegasnya.

Sementara itu, Dominikus Tukan memaparkan bahwa dari 13 LC yang sempat ditampung di selter TRuK-F, 12 orang memiliki kasbon dengan nilai disebut mencapai ratusan juta rupiah. Hanya satu orang, Novi, yang tidak memiliki kasbon. Ia juga menyebut kepulangan 13 LC tersebut tanpa sepengetahuan pemilik Eltras Pub, Andi Wonasoba.

Terkait hak pekerja, Dominikus menyatakan kliennya belum membayar gaji selama 20 hari kerja dengan total sebesar Rp 19.560.000 untuk 13 LC. Menurutnya, pihak Eltras Pub telah berniat membayarkan gaji tersebut, namun saat staf mendatangi TRuK-F, proses pembayaran belum dapat dilakukan karena masih harus berkoordinasi dengan penyidik.

“Total gaji yang hendak dibayarkan Rp 19.560.000 untuk 20 hari kerja. Soal kasbon, kami sudah mengambil langkah hukum termasuk melayangkan somasi,” kata Dominikus.

Hingga kini, persoalan kasbon, pembayaran gaji, serta dugaan TPPO masih dalam proses penanganan aparat penegak hukum. Sementara pernyataan adanya penolakan pertemuan dengan KDM menambah babak baru dalam dinamika kasus yang menyita perhatian publik tersebut.(Fn)

Kang Dedy Jemput 12 Pekerja Asal Jabar di Maumere, Proses Hukum Dugaan TPPO Tetap Berjalan

SIKKA, Bajopos.com – Kunjungan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi ke Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Senin (23/2/2026), berujung pada pemulangan 12 pekerja perempuan asal Jawa Barat yang sebelumnya ditampung di shelter TRuK-F. Mereka diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) berkedok pekerjaan sebagai ladies companion (LC) di Eltras Pub dan Karaoke.

Dedi Mulyadi yang akrab disapa Kang Dedy atau KDM sapaan singkatnya tiba di Bandara Frans Seda menggunakan pesawat carter milik Susi Air dari Ende. Sehari sebelumnya, ia mendarat di Labuan Bajo. Setibanya di Maumere, KDM langsung menuju Kantor TRuK-F di Jalan Ahmad Yani untuk melakukan pertemuan internal bersama Jaringan HAM Sikka dan pihak terkait.

Dari 13 pekerja yang semula direncanakan pulang, satu orang telah lebih dahulu kembali ke Jawa Barat. Sementara, sebanyak 12 orang diberangkatkan melalui Bandara Frans Seda menuju Labuan Bajo sebelum melanjutkan perjalanan ke Jawa Barat. Para pekerja keluar dari shelter dengan pengawalan dan langsung menuju kendaraan yang telah disiapkan.

KDM memastikan kondisi para pekerja dalam keadaan sehat sebelum diberangkatkan. “Dalam rangka memastikan yang 12 korban ini dalam keadaan sehat, selamat, dan baik sehingga bisa kembali ke Jawa Barat,” ujarnya kepada awak media.

Ia menegaskan, pemulangan para pekerja tidak menghentikan proses hukum yang sedang berjalan di Polres Sikka. “Proses hukumnya tetap berlanjut. Mereka siap mengikuti seluruh tahapan, mulai dari penyidikan, penetapan tersangka, hingga menjadi saksi di pengadilan jika diperlukan,” kata KDM.

Kasus ini mencuat setelah Jaringan HAM Kabupaten Sikka mengungkap dugaan eksploitasi fisik dan seksual terhadap 13 pekerja Eltras Pub dalam rapat dengar pendapat bersama DPRD Sikka pada 9 Februari 2026. Dalam forum tersebut dipaparkan dugaan adanya sistem denda terhadap pekerja, termasuk sanksi jutaan rupiah jika menolak melayani tamu, serta sejumlah pungutan internal lainnya.

Untuk diketahui, para pekerja berasal dari sejumlah daerah di Jawa Barat, antara lain Bandung, Cianjur, dan Karawang, dengan rentang usia 17 hingga 26 tahun. Perekrutan disebut berlangsung dalam periode 2023 hingga 2025. Mereka dijanjikan upah Rp8 juta per bulan beserta fasilitas tempat tinggal dan kebutuhan kerja. Namun dalam perjalanannya, muncul keluhan terkait ketidakjelasan upah dan dugaan perlakuan kekerasan saat bekerja.

Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti dan saat ini ditangani Satuan Reskrim Polres Sikka. Di sisi lain, kuasa hukum Eltras Pub membantah adanya unsur TPPO dan menyatakan operasional usaha berjalan sesuai ketentuan.

Dalam kunjungan tersebut, KDM didampingi sejumlah kepala daerah dari Jawa Barat, di antaranya Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian dan Bupati Karawang Aep Syaepuloh. Orang nomor satu di Jawa Barat itu menyatakan akan memberikan pendampingan hukum dan psikososial kepada para pekerja hingga proses hukum selesai.

Pemulangan dilakukan dengan pengawalan dan koordinasi antar pemerintah daerah. Sementara itu, aparat penegak hukum di Sikka masih melanjutkan penyidikan untuk memastikan ada atau tidaknya unsur tindak pidana dalam kasus tersebut.(Fn)

Skor Toleransi Beragama di Nian Tana Sikka Tinggi, Studi Akademisi UMM Ungkap Kekuatan Tradisi dan Dialog Lintas Iman

SIKKA, Bajopos.com – Kehidupan umat beragama di Nian Tana Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur, kembali mendapat perhatian akademik. Sebuah riset yang dipublikasikan dalam International Journal of Research in Engineering, Science and Management (Volume 7, Edisi 6, Juni 2024) mencatat tingkat toleransi beragama masyarakat di Nian Tana Sikka berada pada kategori tinggi.

Data hasil penelitian yang terima Bajopos.com dari salah satunya (peneliti, red) pada Minggu, 22/02/2026 mencatat bahwa penelitian berjudul “Measuring Religious Tolerance Scale in the Multi-Religious Community: A Case Study in Nian Tana Sikka, Indonesia” itu dilakukan oleh Abdullah Muis Kasim, Bambang Tri Sasongko Adi, Oman Sukmana, dan Wahyudi dari Universitas Muhammadiyah Malang.

Dalam studi tersebut, para peneliti mengembangkan Religious Tolerance Scale (RTS) yang mengukur lima dimensi utama, diantaranya; penghormatan terhadap keberagaman agama, partisipasi dalam kegiatan lintas iman, dukungan terhadap lembaga lintas agama, integrasi tradisi dan praktik keagamaan, serta resolusi dan mediasi konflik.

Hasil pengukuran menunjukkan skor 64 dari rentang maksimal 75. Angka itu menempatkan Nian Tana Sikka dalam kategori toleransi tinggi.

Miniatur Keberagaman di Timur Flores

Nian Tana Sikka merupakan bagian dari wilayah Sikka di bagian timur Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dimana berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2023, jumlah penduduk Kabupaten Sikka mencapai sekitar 335 ribu jiwa dengan mayoritas masyarakat menganut Katolik Roma, dengan kehadiran komunitas Muslim, Protestan, Hindu, dan Buddha.

Jejak sejarah mencatat pengaruh misionaris Portugis sejak abad ke-16 yang memperkenalkan Katolik di wilayah ini. Namun, keberagaman agama yang berkembang tidak memunculkan sekat sosial yang tajam. Sebaliknya, masyarakat membangun pola hidup berdampingan melalui tradisi dan nilai budaya lokal.

Dalam praktiknya, umat Katolik membantu pengamanan saat perayaan Idul Fitri. Sebaliknya, umat Muslim turut menjaga ketertiban ketika berlangsung perayaan keagamaan umat Kristiani. Kunjungan dan saling memberi ucapan saat hari raya menjadi kebiasaan yang mengakar dalam kehidupan sosial.

Peran FKUB dan Tradisi Lokal

Penelitian tersebut juga menyoroti peran strategis Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sikka. Lembaga ini aktif menggelar dialog lintas agama, sosialisasi nilai kerukunan, serta memediasi potensi konflik.

Di sisi lain, tradisi lokal menjadi fondasi kuat harmoni sosial. Ritual adat seperti Reba dan praktik pertanian Sako Seng memadukan unsur budaya dan keagamaan. Sejumlah ritus adat yang berakar dari kepercayaan leluhur kini diselaraskan dengan doa-doa Katolik maupun nilai agama lain, tanpa menghilangkan makna aslinya.

Pendekatan kultural tersebut dinilai memperkuat kohesi sosial, dimana praktik toleransi tidak berhenti pada sikap saling menerima, melainkan diwujudkan dalam keterlibatan aktif dalam kegiatan lintas iman dan kehidupan sosial sehari-hari.

Model Kerukunan

Secara teoritis, para peneliti mengaitkan praktik toleransi di Nian Tana Sikka dengan konsep modal sosial dan modal budaya. Jaringan relasi antar warga, partisipasi komunal, serta peran tokoh adat dan tokoh agama menjadi pilar utama dalam menjaga harmoni.

Olehnya, penelitian ini merekomendasikan penguatan inisiatif lintas iman, pelestarian tradisi lokal, serta integrasi nilai budaya dalam kurikulum pendidikan. Dukungan kebijakan pemerintah daerah juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan kerukunan.

Dengan skor RTS yang tinggi dan praktik sosial yang inklusif, Nian Tana Sikka dinilai layak menjadi model pengelolaan keberagaman bagi daerah lain di Indonesia.(Faidin)