Sen. Jun 1st, 2026

Februari 2026

Peneliti Dari UNIMOF Ungkap Nilai Karakter di Balik Tradisi Belis Suku Bajo Waturia

SIKKA, Bajopos.com – Tradisi belis dalam adat perkawinan Suku Bajo di Desa Waturia, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, tidak sekadar dimaknai sebagai pemberian material dari pihak laki-laki kepada keluarga perempuan. Sebuah penelitian terbaru justru menegaskan belis sebagai instrumen pembentukan karakter dan penguat kohesi sosial masyarakat.

Temuan itu dipublikasikan dalam Jurnal Transformasi Pendidikan Volume 7 Nomor 1 Januari 2026 melalui artikel berjudul “Analisis Nilai-Nilai Karakter Budaya Belis dalam Adat Perkawinan Suku Bajo di Desa Waturia Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka”. Penelitian tersebut ditulis oleh Astira, Gisela Nuwa, S. Fil, M.Th dan Abdullah Muis Kasim, S. Sos. M. Pd dari Universitas Muhammadiyah Maumere (Unimof).

Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan terdiri atas tokoh adat, tokoh masyarakat, aparat desa, serta pasangan suami istri yang menjalani prosesi adat.

Empat Nilai Utama

Hasil penelitian mengidentifikasi empat nilai karakter utama yang terkandung dalam tradisi belis, yakni kejujuran, tanggung jawab, kehormatan, dan gotong royong.

Nilai kejujuran tercermin dalam proses perundingan antara kedua keluarga saat menentukan bentuk dan jumlah belis. Dalam tahapan adat seperti massuro (lamaran) hingga ngantarang belis (penyerahan belis), keterbukaan menjadi kunci tercapainya kesepakatan yang adil dan menghindari konflik di kemudian hari.

Sementara itu, nilai tanggung jawab terlihat dari kewajiban calon suami memenuhi belis sebagai simbol kesiapan moral, sosial, dan ekonomi sebelum membangun rumah tangga. Dalam praktiknya, kegagalan memenuhi belis dapat berujung pada penundaan bahkan pembatalan pernikahan secara adat.

Adapun nilai kehormatan menempatkan belis sebagai bentuk penghargaan terhadap martabat perempuan dan keluarganya. Belis menjadi simbol legitimasi pernikahan sekaligus pengakuan sosial atas kedudukan perempuan dalam struktur masyarakat Bajo.

Nilai gotong royong juga mengemuka dalam proses pengumpulan belis dan pelaksanaan upacara perkawinan. Keterlibatan keluarga besar dan masyarakat menunjukkan bahwa pernikahan bukan semata urusan dua individu, melainkan peristiwa sosial yang melibatkan komunitas.

Tantangan Modernisasi

Penelitian ini juga mencatat adanya pergeseran makna belis di tengah arus globalisasi dan modernisasi. Sebagian masyarakat mulai memandang belis lebih sebagai beban ekonomi ketimbang simbol penghormatan dan tanggung jawab.

Perubahan perspektif tersebut dinilai berpotensi mengikis makna filosofis tradisi jika tidak diimbangi dengan pemahaman yang memadai, terutama di kalangan generasi muda.

Upaya Pelestarian

Untuk menjaga relevansi tradisi, masyarakat Desa Waturia melakukan sejumlah langkah pelestarian. Di antaranya melalui pewarisan nilai secara turun-temurun dalam keluarga, penegasan peran tokoh adat dalam setiap prosesi perkawinan, pelibatan generasi muda dalam kegiatan adat, serta penyesuaian bentuk belis agar tidak memberatkan secara ekonomi.

Penelitian menyimpulkan bahwa belis memiliki keterkaitan erat dengan adat, agama, dan identitas budaya masyarakat Bajo. Karena itu, pelestariannya tidak hanya penting bagi keberlangsungan tradisi lokal, tetapi juga bagi penguatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.

Di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung, tradisi belis di Waturia menunjukkan bahwa kearifan lokal masih memiliki daya adaptif, tanpa kehilangan esensi nilai yang diwariskan secara turun-temurun.(Faidin)

(KAJIAN RAMADHAN) Hukum Menjual Makanan di Siang Hari

Oleh : Ustadz Abdurrahim Yunus, S.Ag

Ramadhan menjadi bulan yang tidak hanya sarat ibadah, tetapi juga menghadirkan beragam persoalan fikih dalam praktik kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah hukum menjual makanan pada siang hari di bulan puasa.

Secara umum, hukum asal berjualan dalam Islam adalah mubah atau diperbolehkan. Namun, para ulama memberikan batasan ketika aktivitas tersebut berpotensi mengantarkan pada kemaksiatan.

Dalam konteks Ramadhan, menjual makanan kepada orang yang wajib berpuasa dan diduga kuat akan memakannya di siang hari, dinilai terlarang.

Ulama mazhab Syafi’i, Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, menjelaskan dalam kitab I’anah at-Thalibin bahwa setiap tindakan yang mengarah pada kemaksiatan hukumnya tidak diperbolehkan. Ia menegaskan:

(وَقَوْلُهُ مِنْ كُلِّ تَصَرُّفٍ يُفْضِي إلَى مَعْصِيَةٍ) … وَكَذَا بَيعُهُ طَعَامًا عَلمَ أوْ ظَنَّ أنَّهُ يَأْكُلُهُ نهَارًا

Artinya; “Penjelasan dari setiap tindakan yang berdampak pada maksiat… begitu juga (haram) menjual makanan bila yakin atau menduga kuat ia akan memakannya di siang hari Ramadhan.” (I’anah At-Thalibin, III/30).

Sehingga, hal demikian termasuk dalam kategori menjual makanan kepada orang yang diyakini atau diduga kuat akan mengonsumsinya pada siang hari Ramadhan.

Poin utama, yang menjadi dasar keharaman ini adalah konsep i’anah ‘ala al-ma’shiyah atau membantu dalam perbuatan maksiat. Jika aktivitas jual beli itu secara nyata berkontribusi pada pelanggaran kewajiban puasa, maka hukumnya bisa berubah dari mubah menjadi haram.

Namun demikian, hukum tersebut tidak berlaku secara mutlak. Menjual makanan tetap diperbolehkan apabila tidak mengarah pada dukungan terhadap kemaksiatan.

Misalnya, menjual kepada anak kecil yang belum wajib berpuasa, perempuan yang sedang haid, orang sakit, musafir, atau mereka yang memiliki uzur syar’i lainnya. Termasuk pula menjual bahan makanan yang akan dikonsumsi saat berbuka atau untuk persiapan sahur.

Penjelasan serupa juga termuat dalam kitab Yas’alunaka:

فَيَنْبغِى لِهَذَا الشَّخْصِ اَنْ يَكُفَّ عَنْ فَتٰحِ مَطْعَمِهِ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ إذَا كَانَ الَّذِيْنَ يَشْتَرُوْنَ مِنْهُ ويَتَرَدَّدُوْنَ عَلَيْهِ يُفْطرُوْنَ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ بِمَا يَشْتَرُوْنَ مِنهُ وَلَكِنْ إِذَا كَانَ هَذَا الْمَطْعَمُ يَبِيْعُ الْأَشْيَاءَ الَّذِيْنَ يَسْتَخْدِمُهَا مُشْترُوهَا فِي إِعْدَادِ الْإِفْطَارِ بَعْدَ الْغُرُوْبِ اَو السَّحُوْرِ بِاللَّيْلِ فَلَا مَانِعَ شَرْعًا مِنْ فَتْحِهِ

“Hendaklah bagi orang itu untuk menahan diri agar tidak membuka warungnya di siang Ramadhan apabila pembelinya akan tidak berpuasa sebab beli di tempat tersebut. Tetapi apabila warung tersebut menjual makanan yang membantu pembelinya untuk menyiapkan hidangan berbuka saat Maghrib atau hidangan sahur malam maka tidak ada larangan syariat untuk membuka warung tersebut.” (Yas’alunaka, IV/49).

Dalam keterangan tersebut ditegaskan bahwa seorang pemilik warung sebaiknya tidak membuka usahanya di siang Ramadhan jika para pembelinya diketahui akan berbuka (tidak berpuasa) dengan makanan yang dibeli.

Namun, apabila yang dijual adalah kebutuhan untuk persiapan berbuka setelah maghrib atau untuk sahur, maka tidak ada larangan secara syariat untuk tetap membuka usaha.

Dengan demikian, hukum menjual makanan di siang Ramadhan sangat bergantung pada konteks dan tujuan penggunaannya.

Prinsip kehati-hatian serta upaya menghindari keterlibatan dalam kemaksiatan menjadi pertimbangan utama dalam praktik muamalah di bulan suci.(Faidin)

(HIKMAH) Raih Keberkahan Ramadan, Momentum Menjadi Insan Bertakwa

Oleh : Ustadz Abdurrahim Yunus, S.Ag

بسم الله الرحمن الرحيم

Ramadan kembali menyapa umat Islam di seluruh penjuru dunia. Bulan suci ini bukan sekadar pergantian kalender hijriah, melainkan momentum spiritual yang sarat makna, penuh keberkahan, dan menjadi ruang pembuktian kualitas iman setiap Muslim.

Allah SWT menegaskan kewajiban berpuasa dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah 2:183).

Ayat tersebut menegaskan bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sarana membentuk pribadi yang bertakwa. Ramadan hadir sebagai bulan istimewa yang berbeda dari bulan-bulan lainnya karena keutamaan yang Allah SWT limpahkan di dalamnya.

Keagungan Ramadan juga ditegaskan dalam firman Allah SWT:

( شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْه) سورة البقرة: 185

Artinya: “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS Al-Baqarah 2:185).

Ramadan menjadi bulan turunnya Al-Qur’an, kitab suci yang menjadi pedoman hidup umat manusia. Tak heran jika bulan ini selalu dinanti-nantikan, karena di dalamnya tersimpan peluang besar untuk meraih pahala dan ampunan.

Selain puasa wajib, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak ibadah sunah seperti salat tarawih, bersedekah, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, hingga menunaikan umrah bagi yang mampu. Suasana spiritual Ramadan semakin terasa dengan janji Allah SWT yang disampaikan melalui sabda Rasulullah SAW:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

Artinya: “Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR Bukhari No 3277, Muslim No 1079).

Hadits tersebut menggambarkan betapa luasnya rahmat Allah pada bulan ini. Ramadan adalah bulan limpahan ampunan dan pembebasan dari api neraka.

Ulama besar, Imam Al-Ghazali, pernah mengingatkan bahwa puasa merupakan bagian penting dari iman (al-shaum rub’ul iman). Puasa bukanlah perkara ringan. Ia menuntut pengendalian diri dari makan, minum, serta hubungan suami istri—tiga kebutuhan mendasar manusia yang biasa dilakukan setiap hari.

Tanpa iman yang kuat, Ramadan bisa saja berlalu seperti bulan-bulan lainnya, tanpa meninggalkan bekas dalam jiwa. Menahan lapar dan dahaga sejak Subuh hingga Maghrib membutuhkan kesabaran ekstra. Godaan hadir di mana-mana—di rumah, di tempat kerja, bahkan di perjalanan.

Rasulullah SAW juga menyampaikan keistimewaan puasa dalam sebuah hadits qudsi:

عن أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Artinya: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.’” (HR Bukhari, 1761 dan Muslim, 1946).

Hadits ini menunjukkan betapa istimewanya ibadah puasa di sisi Allah SWT. Balasannya langsung dari Allah, tanpa batas yang diketahui manusia.

Karena itu, Ramadan sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah kesabaran, latihan keikhlasan, serta momentum perbaikan diri. Setiap Muslim diajak merenungkan kehadiran bulan suci ini agar tidak berlalu tanpa makna.

Momentum Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amal, memperbaiki akhlak, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Harapannya, selepas Ramadan, setiap insan mampu keluar sebagai pribadi yang lebih bertakwa.

Semoga Ramadan tahun ini benar-benar menjadi jalan meraih keberkahan dan perubahan diri yang lebih baik.(Faidin) 

Di Balik Lensa Zoom, Diana Wahyu Ningsih Petik Makna Kejujuran

“Kalau dalam ujian saja kita bisa patuh karena kamera, maka dalam kehidupan dan ibadah, semestinya kita lebih patuh karena sadar Allah selalu mengawasi.”

SIKKA, Bajopos.com – Di tengah sunyi ruang ujian berbasis daring, sorot kamera Zoom dan sistem pengawasan digital justru menghadirkan refleksi batin yang mendalam bagi seorang guru madrasah di Kabupaten Sikka.

Ujian Akhir Pendidikan Profesi Guru (PPG) Batch 4 Tahun 2026 bukan sekadar tahapan akademik bagi Diana Wahyu Ningsih, S.Pd., tetapi juga momentum spiritual tentang makna kejujuran dan pertanggungjawaban.

Guru yang mengabdi di MIN 1 Sikka itu menuntaskan ujian dengan pengawasan ketat melalui aplikasi Safe Exam Browser (SEB) yang terintegrasi kamera Zoom. Seluruh gerak peserta dipantau, sementara akses perangkat dikunci untuk mencegah kecurangan.

Bagi Diana, suasana itu menghadirkan makna lebih dalam dari sekadar prosedur teknis.

“Ketika kamera terus menyala dan sistem mengawasi setiap aktivitas, saya teringat bahwa dalam kehidupan pun tak ada yang luput dari pengawasan Allah SWT. Ujian ini seperti pengingat kecil tentang Yaumil Hisab,” ujarnya usai menyelesaikan tahapan akhir PPG.

Program PPG sendiri menjadi bagian dari upaya peningkatan profesionalisme guru di bawah pembinaan Kementerian Agama Kabupaten Sikka. Lembaga tersebut mendorong para guru madrasah untuk meraih sertifikasi sebagai standar kompetensi sekaligus penguatan integritas.

Kepala lingkungan pendidikan di madrasah tempatnya mengabdi juga memberikan dukungan penuh. Di MIN 1 Sikka, PPG dipandang bukan sekadar syarat administratif, melainkan proses pembentukan karakter pendidik yang profesional dan berakhlak.

Dalam pelaksanaannya, ujian berbasis SEB dengan pengawasan daring memang dirancang untuk menjamin objektivitas.

Sistem tersebut mengunci seluruh aplikasi lain selama ujian berlangsung dan mewajibkan peserta tetap berada dalam pantauan kamera. Skema ini menjadi simbol transparansi sekaligus komitmen menjaga marwah profesi guru.

Di Kabupaten Sikka, keberhasilan para guru menuntaskan PPG menjadi langkah penting dalam memperkuat kualitas pendidikan Islam. Sertifikasi profesi diharapkan berbanding lurus dengan peningkatan mutu pembelajaran di ruang-ruang kelas madrasah.

Menariknya, capaian Diana hadir menjelang bulan suci Ramadan. Ia memaknai pengalaman ujian sebagai latihan kesadaran akan muraqabah—rasa diawasi oleh Yang Maha Mengetahui.

“Kalau dalam ujian saja kita bisa patuh karena kamera, maka dalam kehidupan dan ibadah, semestinya kita lebih patuh karena sadar Allah selalu mengawasi,” tuturnya.

Dengan selesainya tahapan krusial PPG 2026, Diana dan para guru lainnya di Sikka bersiap mengemban amanah baru. Profesionalisme yang diraih bukan sekadar gelar di atas kertas, melainkan komitmen untuk mendidik generasi muda dengan kompetensi, integritas, dan nilai-nilai spiritual yang kokoh di Bumi Nian Tana. (Faidin)

Dari Bido’ ke Bata: Jejak Perubahan Suku Bajo Daratan di Desa Kasuari

BANGGAI KEPULAUAN, Bajopos.com – Deru ombak tak lagi selalu terdengar dari kolong rumah warga Suku Bajo di Desa Kasuari, Kecamatan Bokan Kepulauan, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Perahu-perahu yang dulu terikat di tiang rumah panggung kini lebih sering bersandar di bibir pantai. Di kampung ini, jejak “gipsi laut” perlahan bertransformasi menjadi masyarakat daratan dengan wajah yang kian modern.

Perubahan itulah yang diteliti akademisi dari Universitas Negeri Gorontalo dalam riset bertajuk Pola Hidup Suku Bajo Daratan di Desa Kasuari. Penelitian tersebut berupaya menjawab dua pertanyaan utama: bagaimana pola hidup Suku Bajo yang kini bermukim di daratan, serta faktor-faktor apa saja yang memengaruhi perubahan tersebut.

Laut sebagai Rumah

Sejak lama, Suku Bajo dikenal sebagai masyarakat yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada laut. Mereka tersebar di berbagai wilayah pesisir Indonesia hingga Asia Tenggara. Dalam berbagai literatur, orang Bajo kerap disebut “orang laut”, bahkan “gipsi laut”, karena tradisi hidup berpindah-pindah menggunakan perahu yang disebut bido’.

Di atas perahu itulah kehidupan dijalani: lahir, tumbuh, berkeluarga, hingga menua. Laut bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan ruang budaya dan spiritual. Ada ungkapan yang menggambarkan kedekatan itu: memindahkan orang Bajo ke darat ibarat memindahkan penyu ke darat—sesuatu yang dianggap tidak alamiah. Namun waktu membawa perubahan.

Titik Balik Perkampungan

Di Desa Kasuari, komunitas Bajo diketahui pertama kali bermukim di Pulau Toroh Au, tepatnya di Desa Timpaus, sebelum kemudian mencari lokasi baru yang lebih strategis. Faktor ketersediaan sumber air bersih, kemudahan pemasaran hasil tangkapan, serta potensi ekonomi menjadi pertimbangan utama hingga akhirnya menetap di Kasuari.

Berbeda dengan gambaran klasik permukiman Bajo yang menjorok ke laut dengan rumah panggung bertiang kayu dan beratap rumbia, wajah Kasuari kini berubah. Rumah-rumah permanen berdinding bata dan beratap seng berdiri kokoh di daratan. Kolong rumah tak lagi menjadi tempat parkir perahu atau memancing ikan.

Penelitian dari Universitas Negeri Gorontalo mencatat, perubahan fisik hunian berjalan seiring dengan perubahan pola hidup. Masyarakat Bajo di Kasuari tak lagi sepenuhnya bergantung pada laut. Selain melaut, sebagian warga mulai memanfaatkan potensi darat, termasuk sektor pertanian.

Teknologi dan Pendidikan

Transformasi juga tampak pada alat produksi dan gaya hidup. Jika dahulu teknologi tangkap yang digunakan sangat sederhana, kini sebagian nelayan Bajo di Kasuari telah memakai peralatan yang lebih modern sehingga mampu menjangkau lokasi tangkap yang lebih strategis dengan hasil lebih besar.

Di sisi lain, rumah tangga mereka juga telah dilengkapi berbagai fasilitas modern. Televisi, pemutar cakram, hingga telepon genggam bukan lagi barang asing. Modernisasi ini menjadi penanda bahwa perubahan tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya.

Potensi sumber daya alam di Kasuari—baik kelautan maupun pertanian—memberi peluang bagi peningkatan kualitas hidup, termasuk membiayai pendidikan anak-anak mereka. Pola pikir yang semakin terbuka turut mendorong pergeseran orientasi hidup dari semata-mata bertahan di laut menuju adaptasi dengan kehidupan darat.

Faktor Pendorong Perubahan

Penelitian tersebut menyimpulkan, ada sejumlah faktor yang memengaruhi kehidupan Suku Bajo hingga memilih bermukim di daratan. Di antaranya: Ketersediaan fasilitas dan akses terhadap kebutuhan dasar seperti air bersih, kemudahan pemasaran hasil tangkapan, perkembangan teknologi penangkapan ikan, pengaruh modernisasi dan interaksi dengan masyarakat luar, serta kebutuhan akan pendidikan dan peningkatan kualitas hidup keluarga.

Proses ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui perjalanan panjang perpindahan dan penyesuaian sosial. Kebiasaan hidup sepenuhnya di atas laut perlahan memudar, digantikan pola menetap dengan struktur sosial yang lebih mapan.

Antara Tradisi dan Modernitas

Meski telah berubah, identitas kebajoan belum sepenuhnya hilang. Keahlian mengarungi ombak dan menangkap ikan tetap menjadi kebanggaan. Laut masih menjadi “pannangmamie ma dilao”—tempat mencari nafkah.

Namun di Kasuari, laut kini bukan satu-satunya ruang hidup. Daratan telah menjadi bagian dari identitas baru. Rumah bata, atap seng, serta perangkat elektronik berdampingan dengan perahu dan jaring.

Penelitian ini diharapkan memberi manfaat bagi pembaca untuk memahami dinamika perubahan pola hidup Suku Bajo secara ilmiah. Selain menjadi rujukan akademik, riset tersebut juga membuka ruang refleksi bahwa kebudayaan tidak pernah statis—ia bergerak mengikuti kebutuhan, tantangan, dan arah zaman.

Di Desa Kasuari, perubahan itu tampak nyata: dari bido’ yang mengarungi samudera, menuju rumah permanen yang berdiri di daratan—tanpa sepenuhnya meninggalkan jejak laut dalam jiwa mereka.(Faidin)

Saat Laut Memanggil Lebih Keras dari Bel Sekolah: Dilema Anak-Anak Suku Bajo di Pesisir Sikka

SIKKA, Bajopos.com – Pagi di pesisir Wuring, Kabupaten Sikka, tak selalu diawali dering bel sekolah. Bagi sebagian anak Suku Bajo, hari justru dimulai dengan menarik perahu ke laut, memeriksa jaring, dan berharap hasil tangkapan cukup untuk makan hari itu.

Di komunitas yang hidupnya menyatu dengan laut ini, pendidikan sering kali kalah oleh kebutuhan ekonomi. Anak-anak yang seharusnya duduk di bangku kelas justru tumbuh lebih cepat bersama tanggung jawab yang datang terlalu dini.

Fikri: Dari Bangku SMP ke Geladak Perahu

Fikri masih mengingat jelas mimpinya menjadi nakhoda kapal pelayaran. Namun mimpi itu perlahan memudar setelah ayahnya, Muhammad Saieng, meninggal dunia pada 2016. Sejak itu, ia berhenti sekolah di bangku SMP dan menggantikan peran sang ayah sebagai pencari nafkah.

“Sebenarnya masih ada keinginan saya untuk melanjutkan sekolah, tapi keadaan memaksa,” ujarnya lirih.

Ibunya, Siti Dewi, yang saat itu sakit-sakitan, tak lagi mampu berjualan ikan seperti dulu. Fikri pun memilih turun ke laut. “Saya harus memilih antara sekolah atau membantu keluarga. Saya memilih keluarga,” katanya.

Kini, hari-harinya lebih banyak dihabiskan menyulam jaring dan melaut, bukan membaca buku pelajaran.

Risaldi dan Nazam: Penyesalan yang Disimpan Sendiri

Cerita Fikri berulang pada Risaldi. Setelah ayahnya meninggal pada 2015, ia berhenti sekolah dan fokus mencari ikan demi membiayai adik-adiknya.

“Penyesalan itu pasti ada. Tapi kalau saya tetap sekolah, siapa yang akan menghidupi keluarga?” ungkapnya.

Hal serupa dialami Nazam. Ia meninggalkan bangku SMA untuk membantu ibunya, Nur Bicce, yang berjuang menyekolahkan lima anak setelah sang ayah merantau ke Malaysia.

“Bapak merantau agar kami bisa sekolah. Tapi kalau saya juga terus sekolah, siapa yang bantu ibu?” katanya.

Di pesisir ini, pengorbanan menjadi bagian dari masa tumbuh.

Dinas Pendidikan: Ekonomi dan Pola Pikir

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sikka, Germanus Goleng, saat itu mengakui tingginya angka putus sekolah di wilayah pesisir.

“Secara data, khusus anak suku Bajo memang belum kami klasifikasikan, namun secara umum angka putus sekolah di Sikka sangat tinggi. Dan itu termasuk banyak dari suku Bajo,” katanya.

Menurut Germanus, faktor ekonomi menjadi penyebab utama, diperparah dengan pola pikir yang menganggap bekerja lebih penting daripada sekolah.

“Banyak anak Bajo berpikir, lebih baik melaut dan mendapat uang daripada sekolah,” ujarnya.

Program Pendidikan Kesetaraan Paket A, B, dan C serta Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) telah dijalankan, tetapi tantangan akses dan kesadaran masyarakat masih besar, terutama di wilayah Permaan, Nangahure, Wuring, dan Nangahale.

Sekolah Berjuang Menahan Murid Tetap Tinggal

Kepala MIS Muhammadiyah Wuring, Nur Kholis, menyebut setiap tahun sekitar 12 siswa berhenti sekolah. Kebiasaan hidup nomaden mengikuti musim ikan membuat anak-anak kerap menghilang berbulan-bulan.

“Saat ikan di Wuring berkurang, mereka pindah. Anak-anak ikut pindah dan tiba-tiba hilang tanpa izin,” ujarnya.

Ia juga menyoroti minimnya dorongan orang tua. “Saat kami datangi rumahnya, mereka cuma bilang, ‘kalau anaknya nggak mau sekolah, ya sudah’,” katanya.

Nur Kholis menerapkan kebijakan fleksibel agar siswa yang lama absen tetap bisa kembali belajar. Ia berharap ada aturan yang mewajibkan ijazah minimal sebelum menikah untuk mencegah pernikahan dini.

FREN: Pendidikan Bukan Sekadar Biaya

Upaya perubahan juga datang dari Yayasan Flores Children Development (FREN). Ketua Bidang Advokasi FREN, Maria Nona Lensiandi, mengatakan persoalan utama bukan hanya soal biaya, tetapi cara pandang.

“Kami melihat banyak anak Suku Bajo lebih memilih melaut daripada sekolah karena mereka sudah bisa menghasilkan uang. Ini pola pikir yang harus diubah,” ujarnya.

Melalui Layanan Berbasis Komunitas (LBK), FREN melakukan sosialisasi tentang pendidikan, perlindungan anak, hingga kesehatan remaja. Namun keterbatasan dana membuat intervensi mereka belum maksimal.

“Sampai sekarang, pemerintah belum memberikan respons konkret terhadap usulan kami. Jika ada anggaran khusus, kami yakin kasus putus sekolah ini bisa ditekan,” tambah Maria.

DPRD: Laut Selalu Memberi, Sekolah Sering Diabaikan

Anggota DPRD Sikka, Baharudin, menilai persoalan ini berkaitan erat dengan budaya.

“Sejak dulu, masyarakat Suku Bajo percaya bahwa laut akan selalu memberi rezeki, jadi pendidikan sering kali dianggap tidak terlalu penting,” katanya.

Ia menyebut kesadaran pendidikan sempat meningkat pasca-gempa dan tsunami 1992, namun kebiasaan berpindah tempat tetap menjadi kendala besar.

“Banyak orang tua membiarkan anak mereka berhenti sekolah tanpa ada usaha untuk mendorong mereka melanjutkan pendidikan,” tegasnya.

Antara Ombak dan Masa Depan

Di tengah ombak yang tak pernah berhenti, anak-anak Bajo terus tumbuh dalam realitas yang keras. Mereka belajar tentang tanggung jawab sebelum sempat memahami arti cita-cita.

Namun harapan belum sepenuhnya tenggelam.

“Saya hanya ingin adik-adik saya sekolah, agar mereka tidak mengalami apa yang saya alami,” kata Fikri.

Laut mungkin memanggil mereka setiap hari. Tetapi selama masih ada kepedulian, kebijakan yang berpihak, dan kesadaran yang tumbuh, pendidikan tetap bisa menemukan jalannya—bahkan di atas rumah-rumah kayu yang berdiri di atas air.(Faidin)

Jejak Laut dalam Persepsi Pendidikan Suku Bajo: Studi UGM Ungkap Tantangan dan Rekomendasi Kebijakan

SIKKA, Bajopos.com – Penelitian akademik yang dikutip dari literatur Perpustakaan Universitas Gadjah Mada mengungkap bagaimana persepsi masyarakat Suku Bajo terhadap pendidikan formal dibentuk oleh filosofi hidup yang berakar kuat pada laut. Studi tersebut merupakan tesis S2 MPKD tahun 2009 yang ditulis Harmin dengan pembimbing Bakti Setiawan, M.A., Ph.D.

Penelitian yang dilakukan di Desa Matanauwe itu bertujuan menemukan faktor-faktor yang mendasari pola pikir masyarakat Suku Bajo hingga membentuk persepsi mereka terhadap manfaat pendidikan formal.

Laut sebagai Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan

Suku Bajo dikenal sebagai komunitas maritim yang mendiami wilayah laut di berbagai pulau di Indonesia, termasuk Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Dalam pandangan hidup mereka, laut bukan sekadar ruang geografis, melainkan representasi masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.

Filosofi tersebut memengaruhi orientasi hidup masyarakat Bajo yang terfokus pada laut sebagai pusat pengabdian dan sumber penghidupan.

Daratan dipandang bukan sebagai unsur utama, melainkan pelengkap kehidupan. Cara pandang ini kemudian berdampak pada pola pikir dan perilaku, termasuk dalam melihat manfaat pendidikan formal yang selama ini terpusat di darat.

Bagi masyarakat Bajo, sistem pendidikan formal dinilai kurang memberi manfaat langsung bagi kehidupan mereka yang sepenuhnya bergantung pada laut. Aktivitas melaut, menangkap ikan, serta keterampilan membaca arus dan cuaca dianggap lebih relevan dengan kebutuhan sehari-hari.

Pendidikan Formal Dinilai Kurang Relevan

Penelitian tersebut mencatat bahwa tingkat pendidikan masyarakat Suku Bajo relatif lebih rendah dibandingkan masyarakat yang tinggal di daratan. Rendahnya tingkat pendidikan ini tidak hanya dipengaruhi faktor akses, tetapi juga persepsi kolektif terhadap pentingnya sekolah formal.

Pengetahuan dan keterampilan kelautan diwariskan secara turun-temurun melalui pendidikan informal dan non formal dalam keluarga serta komunitas. Proses pembelajaran berlangsung langsung di laut, yang bagi masyarakat Bajo menjadi ruang belajar sekaligus ruang hidup.

Dari hasil penelitian, ditemukan tiga tema utama yang membentuk persepsi masyarakat terhadap pendidikan formal, yakni:

Formalitas pendidikan, di mana sekolah dipandang sebatas pemenuhan administratif, bukan kebutuhan substantif.

Menjunjung kehidupan tradisional, yaitu kuatnya nilai adat dan pola hidup turun-temurun.

Ketergantungan pada laut, yang menempatkan laut sebagai pusat pembelajaran dan penghidupan.

Ketiga tema tersebut kemudian dikerucutkan menjadi dua konsep besar. Pertama, pendidikan formal dianggap kurang relevan dengan realitas kehidupan masyarakat Bajo. Kedua, laut diposisikan sebagai wahana utama pembelajaran sekaligus sumber ekonomi.

Rekomendasi Program Berbasis Kelautan

Penelitian ini juga memberikan rekomendasi kebijakan. Pemerintah dan para pengambil keputusan didorong untuk merancang program pendidikan formal yang disesuaikan dengan bakat, minat, serta potensi alamiah masyarakat Suku Bajo.

Program yang berbasis laut atau pendidikan kontekstual dinilai lebih efektif. Misalnya, pengembangan kurikulum terkait pengelolaan sumber daya laut, teknologi perikanan, navigasi, hingga kewirausahaan berbasis maritim. Dengan pendekatan tersebut, pendidikan formal dapat menjadi sarana pemberdayaan tanpa mengabaikan identitas dan kearifan lokal masyarakat.

Penelitian ini menegaskan bahwa persoalan pendidikan di komunitas maritim seperti Suku Bajo bukan semata soal infrastruktur atau ketersediaan sekolah. Dimensi budaya memegang peran penting dalam menentukan penerimaan masyarakat terhadap sistem pendidikan nasional.

Studi tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa pembangunan pendidikan di Indonesia yang majemuk memerlukan pendekatan yang kontekstual dan sensitif terhadap karakter sosial-budaya setiap komunitas.

Bagi Suku Bajo, laut bukan hanya ruang mencari nafkah, tetapi juga ruang belajar yang membentuk jati diri mereka dari generasi ke generasi.(Faidin)

Dirpolairud Polda NTT Marnit Sikka Salurkan Ratusan Paket Takjil untuk Nelayan Pesisir

SIKKA, Bajopos.com – Personel Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara Polda Nusa Tenggara Timur (Ditpolairud Polda NTT) melalui Marnit Sikka membagikan ratusan paket takjil kepada nelayan dan masyarakat pesisir di Pelabuhan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Jumat (20/2/2026) pukul 17.00 Wita.

Kegiatan bertajuk Jumat Berkah tersebut melibatkan kru Kapal Patroli Marnit Sikka bersama Bhayangkari. Sasaran utama pembagian takjil adalah nelayan yang masih beraktivitas di laut maupun di dermaga menjelang waktu berbuka puasa.

Sebanyak 350 paket takjil dibagikan dalam kegiatan tersebut, terdiri dari 100 cup bubur kacang hijau, 100 cup kolak ubi, 100 cup es buah, dan 50 bungkus kue.

Di kawasan pesisir Wuring, personel menyasar nelayan yang masih memancing serta menjahit pukat di tepi dermaga. Selain itu, takjil juga diberikan kepada kru kapal pelayaran rakyat asal Sulawesi yang tengah melakukan aktivitas bongkar muat, serta kru kapal perikanan yang menetap di atas kapal selama bulan Ramadan.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut arahan Direktur Polairud Polda NTT, Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution, S.I.K., M.H., agar seluruh personel Polairud di wilayah tugas masing-masing senantiasa peka dan peduli terhadap masyarakat sekitar, khususnya di kawasan pesisir dan perairan.

Paket takjil di wilayah Sikka disiapkan oleh Bhayangkari Polairud Marnit Sikka sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus mempererat kebersamaan di tengah masyarakat pesisir yang menjalankan ibadah puasa.

Usai pembagian takjil, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama para pemangku kepentingan (stakeholder) di lingkungan Pelabuhan Wuring.

Aksi berbagi ini menjadi bagian dari kegiatan serentak Ditpolairud Polda NTT di sejumlah wilayah pesisir dan perairan di Nusa Tenggara Timur selama bulan Ramadan.(Faidin) 

Trump Umumkan Tarif Global 10 Persen, Berlaku Maksimal 150 Hari

JAKARTA, Bajopos.com – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, resmi mengumumkan kebijakan tarif impor global sebesar 10 persen sebagai respons atas pembatalan bea darurat oleh Mahkamah Agung AS. Kebijakan tersebut dijadwalkan berlaku paling lama 150 hari atau sekitar lima bulan.

Pengumuman itu disampaikan Trump pada Jumat (20/2). Ia menyatakan kekecewaannya terhadap putusan Mahkamah Agung yang membatalkan kebijakan tarif sebelumnya. Trump menyebut keputusan tersebut sebagai langkah yang “sangat mengecewakan”, sehingga pemerintahannya mengambil opsi baru melalui instrumen hukum yang tersedia.

Tarif 10 persen tersebut diberlakukan berdasarkan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan AS tahun 1974. Regulasi ini memberikan kewenangan kepada Presiden untuk menetapkan bea masuk hingga 15 persen dalam jangka waktu maksimal 150 hari, terutama dalam kondisi neraca pembayaran yang dianggap bermasalah dan serius.

Mengutip laporan Reuters, Pasal 122 tidak mengharuskan adanya investigasi mendalam atau prosedur administratif yang panjang sebelum kebijakan diterapkan. Artinya, langkah ini dapat diberlakukan secara cepat sebagai respons kebijakan perdagangan.

Selain itu, Trump juga mengumumkan dimulainya investigasi baru berdasarkan Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan. Ketentuan ini memungkinkan pemerintah AS menjatuhkan tarif sebagai balasan atas praktik perdagangan luar negeri yang dinilai tidak adil, seperti pencurian kekayaan intelektual maupun pemaksaan transfer teknologi.

Berbeda dengan Pasal 122, penerapan tarif melalui Pasal 301 mensyaratkan proses investigasi yang dapat berlangsung berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun sebelum keputusan final diambil.

Langkah ini mengingatkan pada kebijakan Trump pada masa jabatan pertamanya, ketika ia menggunakan Pasal 301 untuk mengenakan tarif antara 7,5 persen hingga 25 persen terhadap impor dari China senilai sekitar US$370 miliar. Kebijakan tersebut kemudian tetap dipertahankan selama empat tahun pemerintahan Presiden Joe Biden.

Sementara itu, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyatakan bahwa tarif yang diberlakukan berdasarkan Pasal 301 telah terbukti memiliki ketahanan hukum ketika diuji di pengadilan.

Kebijakan tarif global terbaru ini diperkirakan akan memicu respons dari berbagai negara mitra dagang AS serta berpotensi memengaruhi dinamika perdagangan internasional dalam beberapa bulan ke depan.(Red)

(QULTUM) Makna Taqwa dan Tiga Dimensi Kecerdasan Ummat

SIKKA, BAJOPOS.COM – Momentum Ramadhan dimanfaatkan untuk memperkuat pemahaman keagamaan umat. Hal itu terlihat dalam kuliah tujuh menit (Qultum) yang disampaikan Risman di Masjid An-Nur Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Jumat (21/02/2026) usai sholat Isya, menjelang pelaksanaan shalat Tarawih.

Di hadapan jamaah, Risman mengajak umat Islam untuk mensyukuri nikmat kesehatan, kekuatan, serta kesempatan yang masih diberikan Allah SWT sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dan amalan lainnya di bulan suci Ramadhan.

“Sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT karena atas kasih sayang-Nya kita masih dimudahkan menjalankan puasa dan ibadah lainnya. Semoga seluruh amal ibadah kita diridhai hingga akhir hayat,” ujarnya.

Puasa dan Orientasi Ketaqwaan

Dalam tausyiahnya, Risman menyoroti tujuan utama puasa sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui frasa la‘allakum tattaqun (agar kamu bertakwa). Menurutnya, pesan tersebut menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi sarana pembentukan karakter muslim yang bertakwa.

Ia menjelaskan bahwa takwa selama ini sering dimaknai sebagai menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Namun, makna tersebut perlu dipahami secara lebih komprehensif agar berdampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Agama mengatur dua hubungan besar, yakni hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesamanya. Ketika dua hal ini berjalan seimbang, maka itulah wujud takwa yang sebenarnya,” katanya.

Ilmu, Adab, dan Tradisi Keilmuan

Risman juga menyinggung pentingnya adab dalam menuntut ilmu agama. Ia mengisahkan bagaimana pada masa sahabat, seseorang rela menunggu di depan rumah gurunya dan tertidur hingga esok harinya hanya untuk mempelajari satu hadits. Ketekunan dan penghormatan kepada orang berilmu (guru) menjadi kunci dalam memperoleh keberkahan ilmu.

Menurutnya, ilmu agama saat ini terbuka luas untuk dipelajari, namun tetap membutuhkan kesungguhan dan etika. “Ilmu itu tidak cukup hanya didengar, tetapi perlu keseriusan dan adab dalam mempelajarinya,” ujarnya.

Tiga Dimensi Ketaqwaan

Lebih jauh, Risman menguraikan bahwa ketakwaan dapat dipahami melalui tiga dimensi utama.

Pertama, dimensi intelektual. Umat Islam didorong menggunakan akal untuk memahami ajaran agama, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui seruan agar manusia berpikir. Ilmu menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran beragama yang benar.

Kedua, dimensi spiritual. Ilmu yang harus diwujudkan dalam bentuk amal ibadah. Tanpa pengamalan, ilmu hanya menjadi pengetahuan yang tidak memberi dampak nyata.

Ketiga, dimensi sosial-emosional. Ketakwaan juga tercermin dalam kemampuan menjaga hubungan dengan sesama, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, serta membangun harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.

“Ada orang yang berilmu dan rajin beribadah, tetapi kurang menjaga hubungan sosial. Ini menunjukkan bahwa ketakwaannya belum sempurna, yang demikian belumlah cukup,” tegasnya.

Keteladanan Rasulullah

Sebagai ilustrasi, Risman mengangkat kisah Nabi Muhammad SAW yang pernah melihat seorang pemuda keliru dalam melaksanakan shalat. Rasulullah tidak langsung menegur di tengah pelaksanaan shalat, melainkan menunggu hingga selesai, lalu membimbingnya dengan penuh kelembutan.

Pendekatan tersebut, menurutnya, menjadi contoh nyata bagaimana dakwah dijalankan dengan kebijaksanaan, tanpa menyakiti hati.

“Jika ada kesalahan, luruskan dengan cara yang santun, lalu ajarkan. Itulah akhlak Rasulullah,” ujarnya.

Qultum yang berlangsung singkat itu memberi pesan bahwa Ramadhan merupakan momentum membangun ketakwaan secara menyeluruh—tidak hanya dalam aspek ritual, tetapi juga dalam kecerdasan berpikir, kedalaman spiritual, serta kematangan sosial.

Reporter : Faidin

Sahkah Puasa Tetapi Tidak Shalat? Ini Penjelasan Sejumlah Ulama

SIKKA, BAJOPOS.COM – Di tengah masyarakat muslim, masih ditemukan anggapan bahwa puasa dan shalat adalah dua ibadah yang berdiri sendiri. Sebagian orang merasa tetap sah berpuasa meskipun meninggalkan shalat. Padahal, dalam pandangan banyak ulama, meninggalkan shalat memiliki konsekuensi serius terhadap sah atau tidaknya ibadah lainnya, termasuk puasa.

Pertanyaan mengenai hukum berpuasa namun tidak melaksanakan shalat pernah diajukan kepada ulama besar Arab Saudi, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

Dalam fatwanya yang termuat dalam Majmu’ Fatawa wa Rasa’il, beliau menegaskan bahwa puasa orang yang meninggalkan shalat tidak diterima. Alasannya, menurut beliau, meninggalkan shalat termasuk perbuatan kufur yang mengeluarkan seseorang dari Islam.

Ia berdalil dengan firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 11 yang menegaskan bahwa tanda persaudaraan seagama adalah taubat, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Selain itu, ia mengutip hadis riwayat Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim:

“Pembatas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 82)

Hadis lain yang diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah juga menegaskan:

“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.”

Pendapat bahwa meninggalkan shalat termasuk kekafiran disebut sebagai pandangan mayoritas sahabat Nabi. Seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq, menyatakan bahwa para sahabat tidak menganggap ada amalan yang jika ditinggalkan menyebabkan kekafiran selain shalat.

Hanya Rajin Shalat Saat Ramadhan?

Pertanyaan serupa juga pernah diajukan kepada Al Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta, lembaga fatwa resmi di Arab Saudi. Mereka ditanya tentang seseorang yang hanya rajin shalat dan puasa di bulan Ramadhan, namun meninggalkan shalat setelah Ramadhan berakhir.

Dalam jawabannya, komisi tersebut menegaskan bahwa shalat adalah rukun Islam terpenting setelah dua kalimat syahadat dan wajib bagi setiap muslim. Meninggalkan shalat, baik karena mengingkari kewajibannya maupun karena malas, dinilai sebagai bentuk kekafiran menurut pendapat yang kuat di kalangan ulama.

Mereka kembali mengutip hadits Nabi Muhammad SAW:

“Inti segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi)

Komisi fatwa itu bahkan mengingatkan bahwa beribadah hanya di bulan Ramadhan merupakan bentuk sikap meremehkan agama. Sebagian ulama salaf menyebut, “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah hanya pada bulan Ramadhan saja.”

Fatwa tersebut ditandatangani sejumlah ulama terkemuka, di antaranya Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku ketua komisi saat itu.

Shalat sebagai Tolak Ukur Keislaman

Dalam literatur klasik, perhatian terhadap shalat juga menjadi sorotan para imam mazhab. Ahmad ibn Hanbal pernah menyatakan bahwa siapa saja yang meremehkan shalat berarti telah meremehkan agama. Menurutnya, kadar keislaman seseorang sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu.

Pernyataan para ulama tersebut menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban rutin, melainkan fondasi utama agama. Jika fondasi ini runtuh, maka amalan lain dikhawatirkan tidak bernilai.

Karena itu, para ulama menganjurkan agar setiap muslim menjaga shalatnya sebelum berbicara tentang kesempurnaan ibadah lainnya. Taubat yang tulus, penyesalan atas kelalaian, serta komitmen untuk tidak meninggalkan shalat menjadi langkah awal memperbaiki kualitas keimanan.

Puasa dan shalat bukanlah dua ibadah yang bisa dipisahkan begitu saja. Dalam pandangan banyak ulama, keduanya saling terkait dan menjadi cerminan kesungguhan seorang hamba dalam menjalankan ajaran Islam.(Redaksi)

RAMADHAN Bulan Ibadah dan Ukhuwah

HIKMAH RAMADHAN

Oleh : Ust. Dr. Muhammad Dwi Fajri, M.Pd.I

RAMADHAN bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah ruang pendidikan spiritual yang telah ditetapkan sejak tahun kedua Hijrah, tepatnya pada bulan Sya’ban, sebulan sebelum kewajiban puasa dijalankan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.

Penetapan waktu itu memberi pesan penting: ibadah besar membutuhkan persiapan matang, bukan hanya fisik, tetapi juga pemahaman akan makna dan tujuannya.

Dalam praktiknya, puasa sering kali direduksi menjadi rutinitas tahunan. Kita menyaksikan tidak sedikit orang yang mampu menahan makan dan minum, tetapi gagal menjaga lisan dan perilaku.

Padahal, substansi puasa melampaui dimensi biologis. Ia menuntut pengendalian diri secara utuh—menjaga ucapan dari dusta dan ghibah, menahan amarah, serta membangun relasi sosial yang sehat.

Dengan kata lain, puasa memiliki dua poros utama: vertikal kepada Allah (hablumminallah) dan horizontal kepada sesama manusia (hablumminannas).

Ramadhan sebagai Bulan Ibadah

Ramadhan adalah momentum khusus dan terbatas. Khusus karena ia ditujukan bagi orang-orang beriman; terbatas karena hadir hanya sekali dalam setahun.

Di dalamnya terdapat kemuliaan yang tidak dijumpai pada bulan lain, seperti turunnya Al-Qur’an dan kehadiran Lailatul Qadar.

Pesan untuk memaksimalkan ibadah di bulan ini ditegaskan dalam hadis riwayat Muhammad yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Hadits ini bukan sekadar janji pengampunan, tetapi dorongan persuasif agar umat Islam meningkatkan kualitas ibadahnya.

Hadits lain menyebutkan bahwa ketika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu (HR. Bukhari & Muslim).

Secara majazi, ini menggambarkan terbukanya peluang kebaikan dan menyempitnya ruang kemaksiatan. Maka tidak mengherankan jika masjid-masjid lebih ramai, lantunan tadarus menggema, dan semangat sedekah meningkat.

Namun, pertanyaan krusialnya adalah: apakah intensitas ibadah itu berlanjut setelah Ramadhan usai? Jika tidak, maka Ramadhan hanya menjadi euforia spiritual sesaat. Padahal, ia sejatinya adalah titik tolak pembentukan ritme ibadah yang berkelanjutan.

Ramadhan sebagai Bulan Ukhuwah

Islam tidak berdiri hanya pada relasi vertikal. Puasa juga dirancang untuk memperbaiki relasi sosial. Rasulullah SAW mengingatkan: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari). Pesan ini tegas: puasa tanpa penjagaan lisan kehilangan substansinya.

Lisan kerap menjadi sumber konflik. Pepatah “mulutmu harimaumu” menemukan relevansinya di sini. Ucapan yang tidak terkontrol dapat merusak persaudaraan, memicu fitnah, dan memecah belah komunitas. Sebaliknya, lisan yang terjaga menjadi fondasi ukhuwah.

Dimensi sosial Ramadhan juga tampak dalam anjuran berbagi. Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan bahwa sedekah paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.

Hadits lain menyatakan bahwa memberi makan orang yang berpuasa mendatangkan pahala setara tanpa mengurangi pahala yang diberi. Spirit berbagi ini memperkuat solidaritas sosial dan mengikis sekat-sekat ekonomi.

Menyatukan Dua Dimensi

Ramadhan hadir untuk menyinergikan dua kekuatan: kedalaman ibadah dan keluasan ukhuwah. Hubungan yang intens dengan Allah melahirkan ketenangan batin. Sementara hubungan harmonis dengan sesama menghadirkan keberkahan sosial. Keduanya tidak dapat dipisahkan.

Jika puasa hanya memperkuat hubungan vertikal tanpa memperbaiki hubungan horizontal, maka ada yang terlewat dari misi besarnya. Sebaliknya, jika ukhuwah tumbuh tanpa landasan spiritual yang kokoh, ia mudah goyah oleh kepentingan sesaat.

Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi bulan evaluasi kolektif. Apakah ibadah kita semakin berkualitas? Apakah lisan kita semakin terjaga? Apakah kepedulian sosial kita meningkat? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah puasa kita sekadar ritual atau benar-benar transformasional.

Olehnya, Ramadhan bukan hanya sekedar sebulan penuh ibadah, tetapi tentang bagaimana membangun karakter yang bertahan sebelas bulan berikutnya.

Dari masjid ke ruang publik juga dari sajadah ke kehidupan sosial, tentu seharusnya Ramadhan menjadi perenungan serta pengajaran bahwa kesalehan pribadi harus berbanding lurus dengan kesalehan sosial. Disanalah ibadah dan ukhuwah bertemu, dan di sanalah keberkahan menemukan maknanya.

Indonesia Tegaskan Komitmen Rekonstruksi Gaza dalam Forum Board of Peace di Washington

WASHINGTON DC, BAJOPOS.COM – Pemerintah Indonesia menegaskan kesiapan mengambil peran aktif dalam upaya stabilisasi dan rekonstruksi Gaza pada pertemuan perdana Board of Peace yang berlangsung di kompleks United States Institute of Peace, Washington, D.C., 19 Februari 2026.

Forum internasional tersebut secara resmi meluncurkan mekanisme kolaboratif Board of Peace sebagai wadah koordinasi global untuk penanganan kawasan konflik dan pemulihan pasca perang, dengan fokus awal pada situasi di Gaza.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam pidato pembukaan menyatakan Indonesia siap berkontribusi secara finansial, teknis, maupun diplomatik.

Menurutnya, keterlibatan Indonesia sejalan dengan mandat resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa serta konsistensi sikap Indonesia dalam memperjuangkan kemanusiaan dan perdamaian dunia.

“Indonesia memandang pemulihan Gaza sebagai tanggung jawab bersama komunitas internasional,” tegas Prabowo di hadapan para pemimpin dunia yang hadir.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menyampaikan dukungan terhadap rencana 20 poin yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebagai kerangka menuju stabilitas kawasan Timur Tengah.

Ia menilai rencana tersebut membuka peluang strategis untuk mendorong rekonstruksi berkelanjutan, penguatan institusi sipil, serta pemulihan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Gaza.

Prabowo menyebut Indonesia telah mempelajari dan menyepakati garis besar rencana itu sejak awal, serta siap mengawal implementasinya bersama negara-negara anggota Board of Peace.

Sementara itu, Trump menekankan pentingnya sinergi lintas kawasan guna menciptakan masa depan yang lebih aman dan stabil bagi Timur Tengah dan dunia.

Ia menilai pembentukan Board of Peace sebagai langkah strategis karena melibatkan pemimpin berpengaruh dari berbagai kawasan, termasuk Asia dan Timur Tengah.

Pertemuan ini menjadi tonggak awal penguatan koordinasi internasional dalam merespons konflik global. Partisipasi aktif Indonesia dinilai mencerminkan transformasi peran nasional dari kekuatan regional menjadi aktor penting dalam agenda stabilitas dan perdamaian dunia.

Indonesia juga kembali menegaskan komitmennya terhadap solusi jangka panjang bagi Palestina melalui visi Solusi Dua Negara, penegakan hak-hak rakyat Palestina, serta rekonstruksi menyeluruh pasca konflik.(Redaksi)

Trump Soroti Peran Strategis Indonesia, Puji Kepemimpinan Prabowo di Forum Internasional

WASHINGTON DC, BAJOPOS.COM – Posisi Indonesia dalam percaturan global kembali mendapat sorotan pada pertemuan perdana Board of Peace yang digelar di markas United States Institute of Peace, Rabu (19/2/2026). Dalam forum tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka melontarkan pujian kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.

Dalam suasana resmi di Washington, D.C., Trump menilai Prabowo sebagai pemimpin yang kuat dan disegani di kancah internasional. Ia menyebut Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo menunjukkan peran yang semakin diperhitungkan dalam berbagai isu global, khususnya terkait perdamaian.

Menurut Trump, Indonesia kini bukan sekadar negara dengan jumlah penduduk besar, tetapi telah berkembang menjadi kekuatan yang mendapatkan penghormatan luas dari komunitas internasional. Ia juga menyampaikan apresiasi atas langkah dan kebijakan yang dinilai mampu membaca dinamika geopolitik dunia secara tepat.

Pernyataan tersebut sontak menarik perhatian peserta forum internasional yang dihadiri sejumlah pemimpin dan tokoh dunia. Apresiasi terbuka dari Presiden Amerika Serikat itu dinilai sebagai sinyal pengakuan atas meningkatnya posisi tawar Indonesia di panggung global.

Trump turut menegaskan bahwa Indonesia melakukan pekerjaan luar biasa dalam berbagai inisiatif internasional dan menjadi negara yang suaranya diperhitungkan dalam upaya menjaga stabilitas serta perdamaian dunia.

Momentum ini sekaligus mempertegas hubungan strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat, serta mencerminkan semakin kuatnya peran Indonesia sebagai mitra penting dalam percaturan geopolitik internasional.(Redaksi)

Prabowo Soroti Peningkatan Bantuan Gaza, Indonesia Siap Kirim Tim Awal Misi Internasional

WASHINGTON DC, BAJOPOS.COM – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memaparkan perkembangan terbaru situasi kemanusiaan di Gaza dalam keterangan pers di Washington, D.C., Kamis (19/2/2026). Ia menegaskan bahwa distribusi bantuan bagi warga Palestina menunjukkan tren positif dalam beberapa waktu terakhir.

Menurut Presiden, aliran bantuan berupa makanan dan kebutuhan pokok kini berada pada titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut dinilai sebagai hasil dari koordinasi internasional yang semakin solid serta meningkatnya perhatian global terhadap krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.

Kendati demikian, Prabowo mengingatkan bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang dan kompleks. Ia menekankan pentingnya konsistensi diplomasi, penguatan stabilitas keamanan, serta pengelolaan bantuan secara hati-hati agar upaya yang telah berjalan tidak terhambat dinamika politik dan keamanan di lapangan.

Dalam kesempatan itu, Presiden kembali menegaskan dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina melalui pendekatan Solusi Dua Negara. Ia menyebut skema tersebut sebagai satu-satunya opsi yang realistis untuk menciptakan perdamaian jangka panjang dan berkelanjutan di kawasan.

Lebih lanjut, Prabowo mengungkapkan kesiapan Indonesia untuk terlibat langsung dalam misi internasional bagi Gaza. Pemerintah, kata dia, tengah menyiapkan pengiriman tim pendahulu (advance team) yang direncanakan berangkat dalam satu hingga dua bulan mendatang. Indonesia juga diminta mengisi posisi Deputy Commander dalam struktur misi tersebut, sebuah mandat yang dinilai mencerminkan kepercayaan komunitas internasional terhadap peran dan kapasitas Indonesia.

Pernyataan ini menegaskan komitmen politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif, dengan orientasi kuat pada nilai kemanusiaan serta partisipasi aktif dalam mendorong perdamaian yang adil dan stabil di Timur Tengah.(Redaksi)

AS–Indonesia Resmi Teken Perjanjian Dagang Timbal Balik, Era Baru Kemitraan Ekonomi Dimulai

WASHINGTON DC, BAJOPOS.COM – Pemerintah Amerika Serikat dan Indonesia resmi memasuki babak baru hubungan ekonomi setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengesahkan Perjanjian Perdagangan Timbal Balik di Washington, D.C., Kamis (19/2/2026).

Penandatanganan kesepakatan strategis tersebut menandai penguatan kerja sama bilateral yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai perdagangan, tetapi juga pada pembangunan fondasi ekonomi yang dinilai lebih aman dan berkelanjutan bagi kedua negara.

Dalam pertemuan itu, kedua kepala negara menyampaikan komitmen untuk menjalankan seluruh butir perjanjian secara konsisten. Mereka juga mengapresiasi kinerja tim teknis dari masing-masing negara yang dinilai mampu merampungkan proses negosiasi dalam waktu relatif cepat.

Perjanjian ini diproyeksikan membuka ruang baru bagi arus investasi, memperluas akses pasar, serta menciptakan peluang ekonomi yang lebih besar bagi pelaku usaha di kedua negara. Selain itu, kesepakatan tersebut juga diharapkan memberi kontribusi terhadap stabilitas ekonomi global di tengah dinamika perdagangan internasional.

Sebagai tindak lanjut, Trump dan Prabowo telah menginstruksikan jajaran menteri dan pejabat terkait untuk segera menyusun langkah implementasi. Arah kebijakan ini diyakini menjadi pijakan awal bagi fase kemitraan strategis yang lebih erat antara Amerika Serikat dan Indonesia.

Dengan pengesahan perjanjian ini, kedua negara menegaskan kesiapan mereka untuk memperkuat posisi dalam percaturan ekonomi global sekaligus membangun hubungan dagang yang saling menguntungkan dalam jangka panjang.(Redaksi

Presiden Prabowo Tegaskan Efisiensi Anggaran & Reformasi Tata Kelola di Indonesia Economic Outlook 2026

JAKARTA, BAJOPOS.COM – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmen pemerintah dalam melakukan reformasi besar-besaran terhadap pengelolaan keuangan negara dan pemberantasan korupsi.

Hal itu disampaikan dalam pidato di acara Indonesia Economic Outlook 2026 yang digelar di Auditorium Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Dalam sambutannya, Prabowo mengatakan pemerintah telah berhasil melakukan efisiensi anggaran negara lebih dari Rp300 triliun pada tahun pertama masa kepemimpinannya.

Dana yang berhasil dihemat, menurut Presiden, akan dialihkan untuk mendukung program-program produktif yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Penghematan ini bukan sekadar angka administratif. Ini adalah upaya untuk memastikan anggaran negara diprioritaskan pada hal‐hal yang langsung dirasakan rakyat,” ujar Prabowo dalam pidatonya.

Prabowo juga menekankan bahwa pemangkasan belanja yang tidak produktif — seperti perjalanan dinas yang tidak mendesak, seremonial, serta kegiatan yang tidak berdampak — menjadi salah satu langkah utama dalam mencapai efisiensi tersebut.

Selain itu, Presiden menyampaikan bahwa hasil efisiensi juga mendorong keberlanjutan program MBG yang, menurut data pemerintah, telah meningkatkan konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi di level desa dan lapisan paling bawah masyarakat.

Di sisi lain, Prabowo menyoroti pentingnya pengelolaan aset negara secara optimal. Ia menyampaikan apresiasi atas capaian Danantara — lembaga pengelola investasi negara — yang menurut pemerintah telah mencatat hasil efisiensi dan reformasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Pemerintah pun menargetkan peningkatan kinerja aset negara lebih lanjut ke depan.

Pidato ini sekaligus menegaskan arah kebijakan pemerintah yang mengedepankan tata kelola anggaran yang lebih bersih, efisien, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat sebagai bagian dari upaya mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi negara maju.(Redaksi)

Iman, Ilmu, dan Amal dalam Pandangan Buya Hamka

Oleh: Muhammad Dwifajri (Dosen Uhamka, Jakarta)

Iman dalam ajaran Islam bukan sekadar pengakuan lisan. Ia adalah pusat keyakinan yang menuntut pembuktian dalam tindakan nyata. Dalam pandangan Buya Hamka, pernyataan “Amantu billâh” (aku beriman kepada Allah) bukan hanya ucapan simbolik, melainkan pengakuan kesadaran bahwa seseorang telah mengenal dan meyakini Allah sepenuh hati.

Pernyataan itu dilanjutkan dengan “wa aslamtu lahu”—aku berserah diri kepada-Nya. Artinya, keimanan tidak berhenti pada keyakinan batin, tetapi berlanjut pada sikap tunduk dan patuh terhadap seluruh perintah dan larangan Allah sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Di sinilah iman menjelma menjadi Islam dalam makna yang utuh: kepasrahan total (kaffah) kepada kehendak Ilahi.

Iman dan Amal: Dua Sisi yang Tak Terpisahkan

Hamka menegaskan, hubungan iman dan amal ibarat budi dan perangai. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Iman tanpa amal adalah pengakuan kosong, sementara amal tanpa iman kehilangan kemurnian dan arah.

Menurutnya, amal mencakup kerja, usaha, kegiatan hidup, serta pelaksanaan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Iman yang benar akan melahirkan amal saleh; dan amal saleh menjadi bukti hidupnya iman. Dalam kerangka berpikir Islam, agama tidak bisa dipisahkan dari lima unsur pokok: akidah, amal dan aktivitas hidup, undang-undang, kekuasaan, serta pemerintahan.

Karena itu, akidah yang kuat akan memancarkan amal yang kuat pula. Hamka bahkan menegaskan bahwa tidak pernah dijumpai dalam Al-Qur’an pernyataan iman yang berdiri sendiri tanpa diiringi amal saleh. Semakin kokoh iman seseorang, semakin nyata pula ketaatannya dalam menjalankan perintah agama.

Sebaliknya, iman yang tidak berbuah amal disebut Hamka sebagai “pendustaan jiwa”. Pengakuan tanpa bukti hanya akan melahirkan kehampaan spiritual. Dalam konteks sosial, kondisi ini dapat menggerus makna Islam dalam kehidupan masyarakat. Nama boleh saja Islam, tetapi ruhnya telah hilang.

Pandangan ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Ma’un ayat 1–7, yang menegaskan bahwa pendusta agama adalah mereka yang mengabaikan anak yatim, enggan memberi makan orang miskin, serta lalai dan riya dalam salatnya. Ayat ini menjadi kritik keras terhadap praktik keberagamaan yang berhenti pada ritual, tetapi kosong dari kepedulian sosial.

Rusak dan binasanya hati karena amal dan iman yang tak berpadu ini disandarkan Hamka pada firman Allah S. W.T.

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ – فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ – فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ
الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ ࣖ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria, dan enggan (memberikan) bantuan.” (Q.S Al-Mâûn [107]: 1 – 7)

Bagi Hamka, salat yang tidak melahirkan kepekaan sosial dan keikhlasan hanyalah gerakan tanpa makna. Takbir yang diucapkan dengan lisan tidak bernilai jika hati tidak benar-benar mengagungkan Allah. Inilah bentuk keterputusan antara iman dan amal yang ia kritik tajam.

Ilmu sebagai Fondasi Iman

Selain amal, iman juga memiliki hubungan erat dengan ilmu. Hamka menekankan bahwa iman yang kokoh harus bertumpu pada kesadaran intelektual. Semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin dekat ia kepada Allah.

Akal, menurut Hamka, adalah anugerah yang mengantarkan manusia kepada pengenalan terhadap Sang Pencipta. Ia mengajak manusia merenungi alam: daun yang bergoyang, desir angin, debur ombak. Semua itu menjadi jalan bagi akal dan hati untuk menyadari keberadaan Allah.

Proses pengenalan ini tidak berhenti pada pancaindra, tetapi berlanjut pada perenungan batin. Hati—yang oleh Hamka dimaknai sebagai pusat kesadaran ruhani—akan semakin terang ketika akal digunakan secara jujur dan mendalam. Dari sinilah iman tumbuh sebagai hasil perjalanan intelektual dan spiritual, bukan sekadar warisan turun-temurun.

Hamka bahkan mengutip hadis Nabi yang menyatakan bahwa agama berkaitan erat dengan akal. Maksudnya, keberagamaan yang sehat menuntut kesadaran dan pemahaman, bukan sekadar ikut-ikutan. Iman yang tidak didasari ilmu mudah goyah, karena tidak berakar pada kesadaran pribadi.

Kesatuan yang Integral

Dalam perspektif Hamka, iman, ilmu, dan amal memang berbeda secara konsep, tetapi tidak dapat dipisahkan dalam praktik kehidupan. Ilmu memperkuat iman, iman menggerakkan amal, dan amal menjadi bukti hidupnya iman.

Keimanan yang lahir dari perjalanan akal dan disertai kesediaan untuk tunduk kepada Allah akan menghadirkan kepuasan batin yang mendalam. Sebaliknya, iman yang hanya menjadi slogan tanpa ilmu dan amal akan kehilangan maknanya.

Di tengah tantangan zaman modern, gagasan Hamka ini tetap relevan. Umat tidak cukup hanya bangga dengan identitas keislaman. Yang lebih penting adalah menghadirkan iman yang cerdas, amal yang nyata, dan ilmu yang membimbing keduanya. Sebab, sebagaimana ditegaskan Hamka, kelezatan iman hanya dirasakan oleh mereka yang menggunakan akal dan membuktikan keyakinannya dalam perbuatan.

Penulis : Dosen UHAMKA

Editor : Faidin

(QULTUM) Imam Masjid An-Nur : Ramadhan sebagai Momentum Taubat dan Bekal Akhirat

SIKKA, BAJOPOS.COM – Imam Masjid An-Nur Nangahale, H. Muhammad Badri, mengajak umat Islam untuk memaksimalkan bulan suci Ramadhan sebagai momentum memperbaiki diri dan memperbanyak amal saleh. Pesan tersebut disampaikannya saat mengisi kultum (kuliah tujuh menit) dari mimbar Masjid An-Nur Nangahale pada malam salat tarawih. Kamis, 19/02/2026 malam.

Dalam tausiyahnya, H. Muhammad Badri mengawali dengan ungkapan syukur karena masih diberi kesempatan bertemu dengan bulan suci Ramadhan. Menurutnya, pertemuan dengan Ramadhan adalah bukti kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya.

“Kita patut bersyukur karena tidak semua orang diberi kesempatan bertemu Ramadhan. Maka syukur itu harus dibuktikan dengan mengamalkan apa yang diperintahkan Allah,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia menegaskan, sangat merugi seseorang yang bertemu Ramadhan tetapi tidak memanfaatkannya untuk bertaubat. Setiap manusia, kata dia, pasti akan meninggalkan dunia ini tanpa terkecuali.

“Orang kaya mati, orang miskin mati, pejabat mati, rakyat biasa pun mati. Yang dinilai oleh Allah hanyalah ketakwaan kita,” tegasnya.

Menurutnya, ketakwaan tercermin dari sikap hati-hati dalam menggunakan nikmat Allah, baik berupa harta maupun waktu. Orang yang benar-benar takut kepada Allah akan memanfaatkan keduanya sesuai dengan tuntunan-Nya.

H. Muhammad Badri juga mengingatkan bahwa Ramadhan merupakan kesempatan emas untuk menebus kelalaian di masa lalu. Allah memberikan berbagai amalan dengan pahala berlipat ganda, seperti membaca Al-Qur’an dan bersedekah.

Ia mengutip sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang tidak terputus meski seseorang telah wafat:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

Ia menjelaskan, sedekah jariyah adalah amalan yang manfaatnya terus dirasakan, seperti pembangunan masjid atau fasilitas umum. Ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir pahalanya ketika diamalkan dan diajarkan kembali. Sementara doa anak saleh menjadi penolong bagi orang tua di alam kubur.

“Rugi sekali jika sebelum meninggal kita tidak meninggalkan salah satu dari tiga amalan tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, bahkan para ulama yang memiliki banyak murid tetap merasa takut kepada Allah. Terlebih lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah dijamin kemuliaannya, tetap menunjukkan ketundukan dan rasa takut yang luar biasa kepada Allah. Apalagi manusia biasa yang penuh dosa, sudah seharusnya lebih banyak bermuhasabah.

Dalam kesempatan itu, jamaah juga diingatkan agar tidak menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat, sementara ibadah seperti salat tarawih justru diabaikan. Menurutnya, belum tentu seseorang dapat kembali bertemu Ramadhan di tahun berikutnya, bahkan belum tentu mampu menyelesaikan Ramadhan tahun ini.

“Jangan hanya sibuk memperbaiki urusan dunia, sementara akhirat kita abaikan. Dunia akan kita tinggalkan, tetapi amal akan menjadi bekal selamanya,” pesannya.

Menutup kultum, H. Muhammad Badri mengajak jamaah memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya dan memperbanyak amal sebagai persiapan menghadapi kematian.

“Semoga yang benar datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan segala kekurangan berasal dari saya sebagai manusia biasa,” tutupnya.

Reporter : Faidin
Editor : Redaksi

Doa Buka Puasa Ramadhan Sesuai Sunnah, Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

BULAN RAMADHAN menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Salah satu momen yang paling dinantikan adalah saat berbuka puasa, setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

Berbuka puasa bukan sekadar waktu untuk makan dan minum. Dalam ajaran Islam, waktu tersebut termasuk saat yang mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa doa orang yang berpuasa ketika berbuka termasuk doa yang tidak tertolak, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Riwayat Tirmidzi nomor 2449.

Karena itu, umat Islam dianjurkan memanfaatkan waktu berbuka dengan membaca doa sebagai bentuk syukur dan pengharapan pahala dari Allah SWT.

Berikut beberapa pilihan doa berbuka puasa Ramadhan yang dapat diamalkan, sebagaimana tercantum dalam literatur klasik Al-Adzkar karya Imam Nawawi.

Pilihan Doa Berbuka Puasa Berdasarkan Riwayat Hadis

Terdapat beberapa variasi doa berbuka puasa yang bersumber dari riwayat hadis berbeda. Umat Islam dapat memilih salah satu doa yang mudah dihafal dan dipahami maknanya.

1. Doa Berbuka Puasa Riwayat Abu Daud

Doa ini termasuk yang paling populer dan menekankan rasa syukur atas hilangnya dahaga serta harapan akan pahala.

Teks Arab:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Latin:
Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu, wa tsabatal ajru in syaa Allah.

Artinya:
“Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala, insya Allah.” (HR. Abu Daud)

2. Doa yang Umum Digunakan di Indonesia

Doa ini sangat familiar di tengah masyarakat dan kerap dibaca secara berjamaah.

Teks Arab:

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Latin:
Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘alaa rizqika afthartu birahmatika yaa arhamar raahimin.

Artinya:
“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih.”

3. Doa Syukur atas Pertolongan Allah (Riwayat Ibnu Sunni)

Doa ini berisi pengakuan bahwa kekuatan menjalankan puasa berasal dari pertolongan Allah.

Teks Arab:

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَعَانَنِي فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ

Latin:
Alhamdulillahilladzi a’aananii fashumtu, wa razaqanii faafthartu.

Artinya:
“Segala puji bagi Allah yang telah menolongku sehingga aku dapat berpuasa, dan yang telah memberiku rezeki sehingga aku dapat berbuka.”

4. Doa Memohon Penerimaan Amal (Riwayat Sahabat Ibnu Abbas)

Doa ini menekankan permohonan agar puasa diterima oleh Allah SWT.

Teks Arab:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا، فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Latin:
Allahumma shumnaa wa ‘alaa rizqika aftharnaa, fataqabbal minna innaka antas samii’ul ‘aliim.

Artinya:
“Ya Allah, karena-Mu kami berpuasa, dan dengan rezeki-Mu kami berbuka, maka terimalah dari kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

5. Doa Memohon Ampunan (Riwayat Ibnu Majah)

Waktu berbuka juga menjadi kesempatan untuk memohon ampun atas dosa.

Teks Arab:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِي

Latin:
Allahumma inni as’aluka birahmatikallatii wasi’at kulla syai’in an taghfira lii.

Artinya:
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku.”

Mengamalkan Doa Berbuka Puasa

Mengamalkan doa-doa tersebut tidak harus sekaligus dalam satu waktu. Berikut beberapa langkah agar lebih mudah diterapkan:

Pilih doa yang mudah dihafal agar dapat dibaca dengan khusyuk.

Pahami maknanya sehingga doa tidak sekadar dilafalkan, tetapi dihayati.

Variasikan bacaan agar menambah hafalan doa sunnah.

Manfaatkan waktu menjelang azan Magrib untuk memperbanyak zikir dan doa pribadi.

Berbuka puasa adalah penutup ibadah harian selama Ramadhan. Menyertainya dengan doa menjadi bentuk rasa syukur sekaligus harapan agar ibadah diterima Allah SWT.

Dengan memahami berbagai riwayat doa berbuka puasa, umat Islam memiliki rujukan yang jelas dan dapat mengamalkannya sesuai kemampuan.