SIKKA, BAJOPOS.COM – Abrasi di pesisir Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, semakin mengkhawatirkan. Selain mengancam rumah warga dan bangunan sekolah, gelombang pasang kini dilaporkan telah menggerus badan jalan aspal di jalur pesisir pantai yang menjadi akses vital masyarakat.
Momentum peringatan hari ulang tahun ke-12 Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Sabtu (14/02/2026), yang diisi dengan aksi tanam mangrove di Dusun Namandoi, juga menjadi ruang curhat warga terkait kondisi tersebut.
Dalam wawancara terpisah, seorang warga Nangahale yang meminta namanya tidak dipublikasikan mengungkapkan kekecewaannya atas ketidakhadiran Bupati Sikka dalam kegiatan tersebut.
“Pantai ini sudah menggerus jalan aspal pesisir. Kami lihat sendiri setiap tahun makin mendekat. Mungkin Bupati takut lihat langsung kondisi di sini,” ujarnya.
“MTs dan MIS ini dua sekolah yang nyaria selalu di liburkan jika ombak sudah mulai besar. Tahun lalu sampai tempias ke dalam kelas ombaknya, akhirnya diliburkan. Termasum kalau rob sekolah MIS ini banjir tidak ada model sekolah. Lalu dimana pemerintah?,” tanya warga dalam kisahnya.
Pernyataan itu mencerminkan keresahan sebagian masyarakat yang merasa persoalan abrasi belum mendapat perhatian maksimal. Menurut warga, kehadiran kepala daerah di lokasi terdampak dinilai penting, bukan sekadar simbolis, tetapi untuk memastikan adanya langkah nyata penanganan.
Abrasi di Nangahale disebut tidak lagi sekadar mengikis bibir pantai, tetapi telah merambah infrastruktur publik. Jalan aspal pesisir yang biasa dilalui warga untuk aktivitas ekonomi dan pendidikan kini terancam rusak permanen jika tidak segera diperkuat.
Sebelumnya, Kepala Desa Nangahale, Sahanudin, juga menyampaikan bahwa dua lembaga pendidikan—MTs Al-Fatah dan MIS Al-Fatah Nangahale—serta belasan rumah warga dan rumah produksi garam rakyat berada dalam zona rawan abrasi.
Ketua AWAS, Mario WP Sina, menegaskan bahwa penanaman sekitar 270 anakan mangrove dalam peringatan HUT ke-12 menjadi bentuk kepedulian konkret terhadap kondisi pesisir. Namun ia mengakui, upaya tersebut perlu ditindaklanjuti dengan kebijakan dan program pemerintah yang lebih komprehensif.
“Kami berharap semua pihak, termasuk pemerintah daerah, bisa melihat ini sebagai situasi darurat lingkungan. Abrasi bukan lagi ancaman masa depan, tapi sudah terjadi hari ini,” ujarnya.
Warga Nangahale berharap ada penanganan terpadu, mulai dari pembangunan talud atau pemecah gelombang, rehabilitasi mangrove secara berkelanjutan, hingga kajian teknis untuk menyelamatkan jalan pesisir yang mulai tergerus.
Di tengah ombak yang terus menghantam daratan, suara warga semakin keras terdengar. Mereka tak hanya menanam mangrove bersama para jurnalis, tetapi juga menanam harapan agar pemerintah hadir melihat langsung kenyataan di pantai Nangahale—sebelum lebih banyak daratan yang hilang.(Faidin)

