Rab. Sep 23rd, 2026

Gempa Flores

Masjid Baiturrahim Diberi Tanda Merah, Umat di Nebura Terpaksa Shalat di Luar

SIKKA, Bajopos.com | Puluhan tahun menjadi tempat umat Muslim menunaikan ibadah, Masjid Baiturrahim Nebura di Desa Koja Gete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini tak lagi bisa digunakan.

Bangunan masjid yang telah berusia puluhan tahun itu mengalami kerusakan cukup parah setelah gempa yang mengguncang wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Sejumlah bagian dinding retak, sementara kondisi bangunan secara keseluruhan membutuhkan rehabilitasi berat.

Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, bantuan untuk perbaikan masjid nyaris tak kunjung datang.

Pengurus Masjid Baiturrahim Nebura, Suhut Firmansyah, mengatakan sejak gempa besar Flores 1992 yang berpusat di Pulau Babi, masjid tersebut baru tiga kali mendapat rehabilitasi ringan melalui bantuan Kesra.

Setelah itu, belum ada bantuan rehabilitasi kembali, sementara kondisi bangunan terus menua.

“Selama ini setelah gempa 1992, masjid ini baru dilakukan rehab ringan sebanyak tiga kali dari bantuan Kesra. Setelah itu sampai sekarang belum ada bantuan, sementara kondisinya sudah harus rehab berat,” kata Suhut, Jumat (11/9/2026).

Masjid Baiturrahim memiliki sejarah panjang yang tak bisa dilepaskan dari tragedi gempa dan tsunami Flores 1992 silam.

Tiang-tiang yang digunakan pada bangunan masjid saat ini merupakan bagian dari masjid lama yang sebelumnya berdiri di kawasan pinggir pantai.

Setelah gempa 1992, pengurus bersama umat memindahkan masjid ke wilayah yang lebih tinggi karena dinilai lebih jauh dari ancaman kawasan pantai.

Namun, lebih dari tiga dekade kemudian, bangunan tersebut kembali menghadapi persoalan serius.

Usia bangunan yang sudah tua berpadu dengan dampak gempa terbaru membuat kondisi masjid semakin mengkhawatirkan.

Dipasang Tanda Merah, Umat Shalat di Luar

Persoalan Masjid Baiturrahim Nebura kini bukan lagi sebatas kebutuhan renovasi.

Pihak Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sikka bahkan telah datang meninjau kondisi bangunan dan memasang tanda merah sebagai peringatan agar masjid untuk sementara tidak digunakan.

“Kemarin mereka dari PU datang pasang tanda merah. Katanya tidak bisa digunakan dulu karena rusaknya parah akibat gempa kemarin. Jadi harus salat di luar,” ujar Suhut.

Kondisi tersebut membuat umat harus melaksanakan ibadah di luar bangunan masjid.

Bagi masyarakat setempat, situasi ini tentu bukan perkara sederhana. Masjid merupakan pusat kegiatan keagamaan umat, tetapi kini justru menjadi bangunan yang harus dijauhi karena alasan keselamatan.

Menanti Perhatian Pemerintah

Pengurus masjid berharap pemerintah dapat mempercepat realisasi bantuan apabila memang tersedia program bantuan untuk rumah ibadah.

Harapan itu muncul di tengah kebutuhan mendesak agar Masjid Baiturrahim dapat kembali digunakan dengan aman.

Suhut berharap proses bantuan untuk rehabilitasi masjid tidak berlarut-larut.

“Semoga bantuan rehabilitasi bisa dipercepat kalau benar ada anggaran bantuan untuk rumah ibadah,” ujarnya.

Kondisi Masjid Baiturrahim Nebura menjadi potret lain dari kebutuhan rumah ibadah yang membutuhkan perhatian serius setelah bencana.

Masjid yang dibangun dan dipelihara umat selama puluhan tahun itu kini tidak hanya menghadapi persoalan usia, tetapi juga kerusakan akibat gempa.

Tanda merah yang terpasang di depan bangunan seakan menjadi pesan terbuka: rumah ibadah itu membutuhkan pertolongan sebelum kerusakannya semakin parah.

Umat di Nebura kini hanya bisa menunggu—antara shalat di luar dan harapan agar pemerintah serta pihak-pihak yang peduli segera datang membawa solusi.

Reporter : Faidin

Tak Hanya Sekolah Butuh Pemulihan, Rasa Aman Anak-anak Harus

SIKKA, Bajopos.com | Ketika bencana berlalu, yang tersisa tidak selalu berupa rumah yang retak, bangunan yang rusak, atau fasilitas umum yang harus diperbaiki.

Pada anak-anak, jejak bencana bisa tersimpan jauh lebih dalam—di balik rasa takut, kecemasan, bahkan keengganan untuk kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

Karena itu, bagi Anak-anak usia Sekolah Dasar seperti salah satunya SDI Iligetang, kehadiran Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, di tengah para siswa bukan sekadar agenda kunjungan kepala daerah.

Lebih dari itu, kehadiran tersebut dipandang sebagai pesan bahwa pemulihan pascabencana juga harus menyentuh sisi yang tidak terlihat: psikologis anak-anak.

Bupati Sikka hadir langsung bersama tim dalam kegiatan trauma healing yang menyasar para siswa.

Suasana sekolah pun diarahkan menjadi ruang bagi anak-anak untuk kembali merasa aman, nyaman, bermain, berinteraksi, dan perlahan melepaskan bayang-bayang ketakutan akibat bencana.

Wakil Kepala SDI Iligetang, Maria Yuldensia Kila, mengatakan kehadiran Bupati Sikka memberikan makna tersendiri bagi para siswa maupun tenaga pendidik.

Pernyataan itu disampaikan Maria saat dikonfirmasi awak media usai kegiatan, Senin (31/8/2026).

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Bupati Sikka yang sudah hadir dan memberikan perhatian kepada anak-anak kami. Kegiatan seperti ini sangat membantu anak-anak untuk kembali merasa tenang, nyaman, dan bersemangat,” ujar Maria.

Menurutnya, setelah menghadapi situasi bencana, kebutuhan anak tidak berhenti pada makanan, tempat tinggal, maupun fasilitas pendidikan. Ada kebutuhan lain yang sering kali tidak terlihat, yakni rasa aman dan dukungan emosional.

Anak yang terlihat kembali masuk sekolah belum tentu sepenuhnya pulih. Mereka bisa saja masih menyimpan ketakutan, kecemasan, atau pengalaman traumatis yang memengaruhi cara mereka belajar dan berinteraksi.

Di titik inilah sekolah memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.

Guru dituntut tidak hanya mengejar ketertinggalan pelajaran, tetapi juga mampu membaca perubahan perilaku siswa.

Anak yang menjadi lebih pendiam, mudah takut, sulit berkonsentrasi, atau menunjukkan perubahan emosi setelah bencana membutuhkan perhatian dan pendampingan.

“Kami dari pihak sekolah sangat mengapresiasi perhatian Pemerintah Kabupaten Sikka. Anak-anak membutuhkan suasana yang membuat mereka merasa aman dan diperhatikan. Kehadiran Bapak Bupati bersama tim dalam kegiatan ini memberikan semangat baru bagi kami untuk terus mendampingi anak-anak,” katanya.

Bagi SDI Iligetang, trauma healing karena itu bukan sekadar permainan untuk menghibur anak-anak setelah bencana.

Ia menjadi bagian dari proses mengembalikan keberanian anak untuk menjadi anak-anak kembali—bermain tanpa rasa takut, belajar tanpa dihantui kecemasan, serta kembali percaya bahwa sekolah adalah tempat yang aman.

Maria berharap kegiatan pendampingan psikososial tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat.

“Kami berharap pendampingan seperti ini tidak berhenti sampai di sini. Anak-anak membutuhkan proses untuk benar-benar kembali pulih dan siap mengikuti kegiatan belajar seperti biasa,” tambahnya.

Harapan tersebut menjadi penting karena pemulihan pascabencana tidak bisa diukur hanya dari seberapa cepat rumah dibangun kembali atau fasilitas umum diperbaiki.

Ada pula pertanyaan yang lebih mendasar: sudahkah anak-anak kembali merasa aman?

Pemerintah Kabupaten Sikka melalui kegiatan trauma healing di lingkungan pendidikan menunjukkan bahwa jawaban atas pertanyaan tersebut juga menjadi bagian dari agenda pemulihan.

Sebab, membangun kembali sebuah sekolah mungkin membutuhkan material dan tenaga. Namun membangun kembali keberanian seorang anak setelah mengalami bencana membutuhkan waktu, perhatian, pendampingan dan rasa aman yang terus-menerus.

Kehadiran Bupati Sikka di tengah siswa SDI Iligetang akhirnya membawa pesan yang lebih luas: pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali apa yang terlihat.

Yang retak bukan hanya bangunan. Dalam diri sebagian anak, rasa aman pun bisa ikut retak. Dan keduanya sama-sama membutuhkan perhatian untuk dipulihkan.

Reporter : Faidin

Bak Air Pecah, Rumah Retak di Dobo, Kabupaten Sikka dan Bantuan Pemerintah yang Belum Terasa

SIKKA, Bajopos.com | Gempa bumi bukan hanya meninggalkan retakan pada rumah warga Dusun Dobo, Desa Ian Tena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka.

Guncangan juga memecahkan puluhan bak penampungan air, membuat warga kini menghadapi persoalan baru: kesulitan mendapatkan air bersih.

Di dusun yang dihuni sekitar 33 kepala keluarga dengan 28 rumah itu, jejak gempa masih terlihat jelas. Sejumlah rumah mengalami kerusakan pada bagian dinding. Retakan membuat warga belum berani kembali tidur di dalam rumah karena dihantui kekhawatiran akan gempa susulan.

Sebagian warga akhirnya memilih bertahan di luar rumah dengan perlindungan seadanya.

Rumah warga yang rusak parah dan belum mendapat perhatian pemerintah. (Doc. Aris Halilintar).

Namun, persoalan tidak berhenti pada rumah yang rusak.

Bak-bak penampungan air yang selama ini menjadi tumpuan kebutuhan warga juga pecah akibat guncangan.

Sergius Moa, warga Dobo, mengatakan kerusakan bak air semakin memperparah kondisi warga yang sejak awal memang kesulitan mendapatkan sumber air.

“Bak air ada yang pecah akibat gempa. Sampai sekarang kami masih kesulitan mendapatkan air,” kata Sergius.

Menurutnya, Dusun Dobo memang tidak memiliki mata air. Warga selama ini hanya mengandalkan air hujan atau membeli air menggunakan tangki.

Ketika bak penampungan pecah, persoalan air pun berubah menjadi ancaman serius bagi kebutuhan sehari-hari warga.

“Di sini tidak ada mata air. Kami hanya mengandalkan air hujan dan kalau tidak ada, kami beli dari tangki,” ujarnya.

Bantuan Pemerintah Belum Terasa

Di tengah kondisi tersebut, Sergius mengaku warga Dobo hingga kini belum mendapatkan bantuan dari pemerintah desa maupun Pemerintah Kabupaten Sikka.

Bantuan yang telah diterima warga, kata dia, justru datang dari komunitas Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Caritas.

“Kami sampai sekarang belum mendapat sentuhan dari pemerintah desa maupun kabupaten. Bantuan yang sudah kami terima baru dari komunitas AMAN dan Caritas,” katanya.

Keluhan tersebut menjadi gambaran lain dari kondisi warga terdampak gempa yang berada jauh dari pusat perhatian.

Mereka tidak hanya membutuhkan bantuan pangan. Mereka membutuhkan air untuk hidup dan tempat yang aman untuk tidur.

Sergius menuturkan, kondisi rumah yang mengalami kerusakan membuat warga masih diliputi ketakutan.

“Rumah batu, seluruh dindingnya pecah. Kami masih takut masuk dan tidur di dalam rumah,” ujar Sergius saat ditemui di kediamannya di Dobo.

Pantauan di lokasi menunjukkan sebagian warga masih memilih tidur dan beraktivitas di luar rumah. Ruang terbuka menjadi pilihan karena dianggap lebih aman dibandingkan kembali ke bangunan yang telah mengalami keretakan.

Kondisi ini membuat persoalan warga Dobo datang berlapis.

Rumah retak menghilangkan rasa aman. Bak air pecah mengganggu akses air. Sementara bantuan pemerintah, menurut pengakuan warga, belum juga mereka rasakan.

Warga tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan.

Mereka hanya membutuhkan air bersih, tempat berlindung yang aman, serta kehadiran pemerintah untuk melihat langsung kondisi mereka.

Bagi warga Dobo, perhatian pemerintah bukan sekadar soal bantuan yang datang dalam bentuk barang.

Lebih dari itu, mereka ingin memastikan bahwa setelah gempa mengguncang rumah-rumah mereka, mereka tidak ikut kehilangan rasa percaya bahwa masih ada pemerintah yang berdiri bersama mereka.

Reporter : Aris Halilintar
Editor : Redaksi

SFF Hadir di Desa Nangahale, Pulihkan Keceriaan Anak-Anak dan Beri Dukungan Psikososial Pasca Gempa

SIKKA, Bajopos.com | Suasana ceria menyelimuti anak-anak warga Dusun Namandoi, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Kamis (27/8/2026) sore.

Di tengah situasi pascagempa Flores yang mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026, komunitas Shoes for Flores (SFF) Maumere hadir menyapa ratusan anak untuk memberikan dukungan psikososial sekaligus menghadirkan kembali ruang bermain dan kegembiraan bagi mereka.

Desa Nangahale merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Talibura yang cukup terdampak gempa yang berpusat di wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat, termasuk anak-anak, masih dibayangi rasa cemas dan trauma.

Kehadiran SFF pun tidak sekadar membawa bantuan, tetapi juga mengajak anak-anak sejenak melupakan suasana sulit yang mereka alami.

Sore itu, waktu diisi dengan berbagai permainan, bernyanyi dan menari. Kaka Kikan, sapaan akrab salah satu pendamping, bersama Kaka Meylinda Mukin, memandu anak-anak mengikuti setiap gerakan dan irama.

Ratusan anak tampak riang membentuk lingkaran sambil berpegangan tangan. Mereka bergerak mengikuti irama yang diberikan para pendamping.

Tawa dan sorak kegembiraan pun pecah. Anak-anak menari serentak dalam satu komando, tanpa canggung menunjukkan keceriaan mereka.

Petikan gitar kecil juga ikut menghidupkan suasana. Alunan musik dan nyanyian membuat sore di Dusun Namandoi terasa berbeda.

Untuk sesaat, wajah-wajah yang sebelumnya dibayangi ketakutan akibat gempa berubah menjadi senyum dan tawa.

Dukungan psikososial ini dinilai penting karena trauma yang dirasakan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan gempa yang baru terjadi.

Sebagian orang tua di wilayah tersebut juga masih memiliki ingatan terhadap bencana tsunami Flores 1992.

Pengalaman traumatis yang pernah dialami generasi sebelumnya menjadi bagian dari kekhawatiran yang turut dirasakan keluarga ketika gempa kembali mengguncang Flores.

Para orang tua pun tampak menemani anak-anak mereka mengikuti kegiatan tersebut. Kehadiran mereka menjadi dukungan tersendiri bagi anak-anak agar dapat kembali merasa aman dan nyaman di tengah situasi pascabencana.

Selain kegiatan psikososial, SFF juga membagikan paket makanan dan minuman kepada anak-anak. Sebanyak 250 paket bantuan disiapkan khusus untuk anak-anak di Dusun Namandoi.

Paket tersebut berisi sejumlah makanan dan minuman, di antaranya; biskuit, Milo, Clevo, dan Dancow.

Sementara itu, untuk roti merupakan bantuan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenPPPA) melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kabupaten Sikka yang selanjutnya di berikan kepada anak-anak melalui komunitas SFF.

Selanjutnya, tim bergerak menuju dusun Nangahale.

Kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah dan memenuhi kebutuhan logistik.

Anak-anak juga membutuhkan perhatian, ruang bermain, pendampingan serta kesempatan untuk kembali tersenyum setelah melewati situasi yang menegangkan.

Di Dusun Namandoi, sore itu, tawa anak-anak menjadi bagian kecil dari proses pemulihan Flores—bahwa di balik luka akibat bencana, selalu ada harapan yang harus dijaga.

Reporter : Faidin

Astra Group Peduli Wartawan yang Tetap Bekerja di Tengah Bencana

SIKKA, Bajopos.com | Di tengah bencana gempa bumi yang mengguncang Flores, ada satu kelompok yang kerap luput dari perhatian: para pewarta atau wartawan.

Mereka berada di tengah masyarakat ketika bencana terjadi. Mereka mendatangi lokasi kerusakan, posko pengungsian, rumah-rumah warga terdampak, hingga tempat-tempat yang sulit dijangkau untuk memastikan kondisi masyarakat diketahui publik.

Namun, di balik kamera, mikrofon, buku catatan dan telepon genggam yang digunakan untuk bekerja, para pewarta juga memiliki rumah, keluarga dan kehidupan yang tidak luput dari dampak gempa.

Dengan kata lain, wartawan yang memberitakan korban bencana tidak selalu berada di luar lingkaran korban. Mereka pun bisa menjadi korban yang tetap bekerja.

Pihak ASTRA Group, Vonny Francis menyerahkan paket bantuan kepada Anggota Aliansi Wartawan Sikka (AWAS Sikka).

Karena itu, kepedulian Astra Group terhadap para pewarta terdampak gempa di Kabupaten Sikka patut mendapat apresiasi dan ucapan terima kasih.

Melalui program Nurani Astra Berbagi (Astra SOS), Astra Group menyalurkan bantuan paket sembako kepada 30 jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Rabu (26/8/2026).

Bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi wartawan yang sedang berada dalam situasi sulit akibat bencana, perhatian itu memiliki makna yang jauh lebih besar.

Bukan semata-mata tentang isi paket bantuan, tetapi tentang pesan kemanusiaan yang menyertainya: bahwa mereka yang selama ini bekerja menyampaikan suara masyarakat juga tidak dilupakan ketika mereka sendiri membutuhkan perhatian.

Wartawan Adalah Mitra Astra

Fasilitator Desa Sejahtera Astra Group, Vonny Francis, mengatakan wartawan merupakan mitra Astra, terutama dalam menyampaikan berbagai program perusahaan kepada masyarakat.

“Astra Group menyadari bahwa wartawan itu adalah mitra kami dalam memublikasikan program-program yang Astra Group persembahkan untuk negeri ini melalui program Desa Sejahtera Astra,” ujar Vonny.

Menurutnya, peran wartawan tidak berhenti pada publikasi. Media juga memiliki fungsi penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat sekaligus menjadi bagian dari pengawasan sosial terhadap berbagai program yang dilaksanakan.

“Kehadiran wartawan sering sekali membantu kami untuk mengedukasi masyarakat. Tujuan paling utama adalah bagaimana mengedukasi masyarakat dan juga sekaligus menjadi bagian dari mata masyarakat untuk mengawasi kerja-kerja kami,” jelasnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara dunia usaha dan media bukan semata-mata hubungan publikasi.

Wartawan adalah mitra dalam menyampaikan informasi, mengedukasi masyarakat, membuka ruang komunikasi, sekaligus membantu memastikan berbagai program yang hadir di tengah masyarakat diketahui dan dipahami dengan baik.

Dalam situasi bencana, peran itu menjadi semakin penting.

Vonny; Saat Wartawan Mengabarkan Bencana, Mereka Juga Terdampak

Vonny menyebut, ketika masyarakat berada di pengungsian, wartawan datang untuk meliput.

Ketika bantuan belum tiba, wartawan memberitakannya.

Ketika ada warga yang kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar, wartawan berusaha mengangkat persoalan tersebut.

Ketika kondisi di lapangan membutuhkan perhatian pemerintah dan masyarakat luas, wartawan menjadi salah satu pihak yang menyampaikan informasi tersebut kepada publik.

Namun, tidak banyak yang bertanya apakah wartawan yang datang ke lokasi itu juga terdampak.

Tidak sedikit pewarta yang harus meninggalkan keluarga demi mengejar informasi. Ada yang bekerja dalam kondisi lelah, kurang tidur, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, bahkan bekerja dalam kondisi rumah dan keluarganya sendiri ikut terdampak gempa.

Disinilah Astra Group memahami bahwa kepedulian Astra menjadi berarti.

Bantuan kepada wartawan terdampak kata Vonny bukan berarti memberikan keistimewaan kepada pers. Ini adalah bentuk kepedulian kemanusiaan kepada individu yang kebetulan berprofesi sebagai wartawan.

Mereka juga korban. Mereka juga memiliki keluarga. Mereka juga memiliki kebutuhan dasar.

Dan yang tidak kalah penting, mereka tetap memilih bekerja ketika situasi belum sepenuhnya pulih.

Atas perhatian tersebut, ucapan terima kasih layak disampaikan kepada Astra Group melalui program Nurani Astra Berbagi.

Di tengah banyaknya perhatian yang tertuju kepada warga yang kehilangan rumah, berada di pengungsian atau membutuhkan bantuan, kata Vonny, Astra justru memilih melihat sisi lain yang sering terlupakan: para pewarta yang juga terdampak, tetapi tetap berdiri membawa suara masyarakat.

Bantuan ini tiada lain, sekaligus mengingatkan bahwa dalam situasi bencana, kita tidak boleh hanya melihat siapa yang diberitakan sebagai korban.

Kita juga perlu melihat siapa yang terus bekerja untuk memberitakan mereka.

Wartawan membantu masyarakat memperoleh informasi. Tetapi pada saat yang sama, wartawan juga membutuhkan dukungan, perhatian dan kepedulian ketika bencana ikut menyentuh kehidupan mereka.

Apa yang dilakukan Astra hari ini hemat Vonny, memberikan pesan sederhana namun penting, dimana kepedulian kemanusiaan seharusnya tidak mengenal profesi.

Kepedulian yang Diharapkan Menjadi Gerakan Bersama

Ia mengutarakan bahwa kepedulian Astra terhadap wartawan terdampak gempa diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan sesaat, tetapi menjadi inspirasi bagi berbagai pihak.

“Pemerintah, dunia usaha, lembaga sosial, organisasi kemasyarakatan dan seluruh elemen masyarakat dapat melihat bahwa wartawan juga merupakan bagian dari ekosistem penanggulangan bencana,” kata Vonny.

“Mereka memang bukan petugas evakuasi. Mereka bukan tenaga medis. Mereka bukan relawan logistik. Tetapi wartawan membantu memastikan apa yang terjadi di lapangan diketahui publik,” ujar Vonny.

Ia menekankan bahwa dalam penanganan bencana, informasi yang benar juga merupakan bagian dari pertolongan.

Karena itu, kata Dia, ketika seorang wartawan terdampak bencana tetap memilih bekerja, yang seharusnya hadir bukan hanya tuntutan agar mereka terus memberitakan keadaan, tetapi juga kepedulian terhadap kondisi mereka.

“Hari ini, Astra telah menunjukkan bahwa wartawan tidak harus selalu dilihat sebagai orang yang datang untuk meliput korban. Wartawan juga bisa menjadi korban. Dan ketika mereka menjadi korban namun tetap bekerja untuk menyuarakan kondisi masyarakat, perhatian terhadap mereka bukanlah sebuah keistimewaan, melainkan bentuk penghargaan terhadap kemanusiaan dan profesi yang mereka jalankan,” ucapnya.

Ia sebagai pribadi pun berterima kasih kepada Asrta Group karena telah melihat mereka yang selama ini berdiri di belakang berita.

“Semoga kepedulian ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap berita tentang bencana, ada pewarta yang juga sedang berjuang—dan mungkin, pada saat yang sama, sedang berjuang untuk keluarganya sendiri,” tutupnya.

Reporter : Faidin

Tetap Mengabarkan, Astra Group Peduli Media, 30 Jurnalis di Sikka Terima Paket Sembako Pasca Gempa

SIKKA, Bajopos.com | Di tengah situasi sulit pascagempa bumi yang mengguncang Flores, para jurnalis di Kabupaten Sikka tetap berada di garis depan untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang akurat, cepat, dan berimbang.

Di tengah kondisi tersebut, Astra Group menunjukkan kepeduliannya terhadap insan pers dengan menyalurkan bantuan paket sembako kepada 30 jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Rabu (26/8/2026).

Bantuan tersebut disalurkan melalui Divisi Environmental and Social Responsibility (ESR) Astra Korporasi dalam program pilar kemanusiaan Nurani Astra Berbagi (Astra SOS).

Anggota AWAS Sikka Terima bantuan dari ASTRA Group.

Fasilitator Desa Sejahtera Astra Group, Vonny Francis, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk apresiasi sekaligus solidaritas Astra terhadap wartawan yang selama ini menjadi mitra strategis dalam menyampaikan berbagai program perusahaan kepada masyarakat.

“Astra Group menyadari bahwa wartawan itu adalah mitra kami dalam memublikasikan program-program yang Astra Group persembahkan untuk negeri ini melalui program Desa Sejahtera Astra,” ujar Vonny.

Menurutnya, peran wartawan tidak sebatas memberitakan berbagai program pemberdayaan masyarakat, tetapi juga memiliki posisi penting dalam mengedukasi masyarakat sekaligus menjalankan fungsi kontrol sosial.

Kehadiran pers, kata Vonny, sangat membantu dalam memastikan berbagai program pemberdayaan dapat dipahami dan diawasi secara bersama-sama.

“Kehadiran wartawan sering sekali membantu kami untuk mengedukasi masyarakat. Tujuan paling utama adalah bagaimana mengedukasi masyarakat dan juga sekaligus menjadi bagian dari mata masyarakat untuk mengawasi kerja-kerja kami, sekaligus juga memberikan masukan dan pendidikan soal pemberdayaan masyarakat yang benar,” jelasnya.

Vonny juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran korporasi Astra Group, khususnya Divisi ESR, yang telah mendukung pelaksanaan program Nurani Astra Berbagi.

Ia menyebut sejumlah pihak yang turut mendukung program tersebut, di antaranya Pak Boy Kelana, Ibu Diah Suran Febrianti, dan Mbak Yulika.

Apresiasi AWAS

Ketua Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Mario WP Sina, menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Astra Group serta Vonny Francis atas kepedulian yang diberikan kepada para jurnalis di tengah situasi pascabencana.

Menurut Mario, bantuan tersebut tidak sekadar bernilai secara materi, tetapi juga menjadi dukungan moral bagi para wartawan yang tetap menjalankan tugas jurnalistik di tengah kondisi sulit.

“Bantuan paket sembako ini bukan hanya bernilai secara materi, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian dan dukungan moral bagi rekan-rekan media yang di tengah kondisi terdampak bencana tetap berusaha menjalankan tugas jurnalistik, menyampaikan informasi kepada masyarakat, serta mengawal perkembangan penanganan gempa di Kabupaten Sikka,” ungkap Mario.

Ia berharap perhatian Astra Group tersebut dapat membantu meringankan kebutuhan para jurnalis sekaligus menjadi penyemangat bagi insan pers untuk terus menjalankan tugasnya secara profesional.

Bagi AWAS, perhatian tersebut juga menjadi pengingat bahwa di tengah bencana, jurnalis bukan hanya berada di balik kamera atau komputer, tetapi ikut turun ke lapangan, menyaksikan langsung kondisi masyarakat, dan memastikan suara warga terdampak sampai kepada publik serta para pemangku kepentingan.

Sinergi antara dunia usaha dan insan pers tersebut diharapkan terus terjalin, terutama dalam mengawal proses pemulihan pascagempa, distribusi bantuan, serta pemberdayaan masyarakat di wilayah Flores.

Di tengah upaya masyarakat untuk bangkit dari bencana, kepedulian semacam ini menjadi bagian penting dari semangat gotong royong—bahwa mereka yang terus bekerja menyuarakan kondisi korban bencana juga membutuhkan perhatian dan dukungan.

Reporter : Faidin

Wakil Bupati Sikka Serahkan 20 Unit Tenda untuk Korban Gempa Beberapa Titik di Kecamatan Talibura

SIKKA, Bajopos.com | Wakil Bupati Sikka, Ir. Simon Subandi Supriadi, menyerahkan bantuan berupa 20 unit tenda kepada warga terdampak gempa bumi di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu, 22/8/2026.

Bantuan tenda tersebut disalurkan sebagai bentuk perhatian dan kepedulian Pemerintah Kabupaten Sikka terhadap warga yang hingga kini masih membutuhkan tempat berlindung yang aman dan layak setelah rumah mereka terdampak bencana gempa bumi.

Penyerahan bantuan dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Sikka kepada warga terdampak di Kecamatan Talibura. Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan tempat tinggal sementara, terutama bagi masyarakat yang memilih bertahan di lokasi pengungsian mandiri karena kondisi rumah yang mengalami kerusakan atau masih merasa khawatir terhadap gempa susulan.

Wakil Bupati Sikka, Ir. Simon Subandi Supriadi, menegaskan bahwa pemerintah daerah terus berupaya memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana dapat terpenuhi selama masa tanggap darurat.

Menurutnya, penanganan pascagempa tidak hanya berfokus pada distribusi logistik, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan dan tempat berlindung yang memadai.

“Pemerintah Kabupaten Sikka terus berupaya hadir bersama masyarakat dalam situasi sulit ini. Bantuan tenda ini diharapkan dapat memberikan rasa aman dan membantu warga yang membutuhkan tempat berlindung sementara,” ujar Wabup Simon.

Ia juga mengajak masyarakat untuk tetap tenang, mengikuti arahan petugas di lapangan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Pemerintah Kabupaten Sikka bersama BPBD, TNI-Polri, perangkat kecamatan dan desa, relawan serta berbagai pihak hingga saat ini terus melakukan penanganan dan pendataan terhadap dampak gempa bumi di sejumlah wilayah Kabupaten Sikka.

Kecamatan Talibura menjadi salah satu wilayah yang turut merasakan dampak gempa dengan kerusakan pada rumah warga dan fasilitas umum. Penyaluran bantuan secara bertahap terus dilakukan untuk menjangkau masyarakat, baik yang berada di camp pengungsian maupun pengungsi mandiri.

Dengan adanya bantuan 20 unit tenda ini, pemerintah berharap warga terdampak dapat menjalani masa tanggap darurat dengan lebih aman dan nyaman sembari menunggu proses penanganan serta pemulihan pascabencana.

Reporter: Faidin

Danlanal Maumere Tegaskan Bantuan Gempa Agar Tepat Sasaran dan Dibagi Adil, Jangan Ada Pengungsi Terlewat

SIKKA, Bajopos.com | Penyaluran bantuan bagi warga terdampak gempa bumi Flores di sejumlah posko pengungsian di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, mendapat perhatian serius dari Komandan Lanal (Danlanal) Maumere, Kolonel Laut (P) Yoyok Ary N.A.S., M.Tr.Opsla.

Pesan tegas disampaikan Komandan Lanal Maumere di tengah proses pendistribusian bantuan CSR Telkomsel bersama Lanal Maumere kepada para pengungsi, Jumat (21/8/2026).

Yoyok menekankan agar bantuan yang telah disalurkan benar-benar diterima oleh masyarakat yang terdampak, dibagikan secara adil dan tidak menimbulkan ketimpangan di antara para pengungsi.

Pesan tersebut disampaikan saat dirinya bersama jajaran Lanal Maumere mendampingi distribusi bantuan di sejumlah titik pengungsian, termasuk Desa Nangahale, Posko Tanjung Darat, Posko Kantor Kecamatan Talibura, Posko Eks Pasar Talibura hingga Desa Henga, Dusun Henga.

Dalam kesempatan tersebut, perhatian Komandan Lanal tidak hanya tertuju pada proses pengangkutan dan penyerahan bantuan. Ia juga menyambangi langsung para pengungsi dan berkomunikasi dengan pihak yang bertanggung jawab di lokasi.

Jangan Sampai Bantuan Tidak Merata

Komandan Lanal Maumere meminta kepala desa dan pengelola posko memastikan bantuan yang diterima dari pihak luar disalurkan kepada warga sesuai data dan kondisi riil di lapangan.

Pesan tersebut menjadi penting mengingat sebelumnya sempat muncul keluhan dan protes warga terkait pembagian bantuan di sejumlah lokasi pengungsian.

Menurut Yoyok, bantuan kemanusiaan yang datang merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang sedang mengalami musibah. Karena itu, proses pembagiannya harus dilakukan secara transparan, adil dan mengutamakan warga yang benar-benar membutuhkan.

Ia meminta tidak boleh ada warga terdampak yang terlewatkan, sementara bantuan justru menumpuk atau tidak tersalurkan kepada penerima yang membutuhkan.

Komandan Lanal Turun Langsung ke Posko

Kolonel Laut (P) Yoyok Ary N.A.S. bersama istrinya, Ny. Diani Yoyok Ary, Ketua Cabang 3 Daerah Kodaeral VII, turut menyambangi para pengungsi dari posko ke posko.

Keduanya tampak memberikan motivasi kepada warga yang masih bertahan di tenda pengungsian setelah gempa yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.

Suasana haru terlihat ketika Yoyok duduk bersama para pengungsi. Perhatiannya tertuju kepada para lansia dan anak-anak yang masih harus menjalani hari-hari di tengah keterbatasan di lokasi pengungsian.

Kehadiran tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan moral kepada warga yang hingga hari ketujuh pascagempa masih belum sepenuhnya dapat kembali ke rumah.

Kawal Distribusi Bantuan Telkomsel

Dalam kegiatan tersebut, Lanal Maumere membantu distribusi bantuan dari program CSR Telkomsel Peduli Gempa Flores 2026.

Bantuan yang disalurkan antara lain makanan ringan, mi instan, air mineral, tikar, selimut, obat-obatan dan vitamin.

Bantuan diangkut menggunakan mobil truk dan mobil box Lanal Maumere untuk kemudian didistribusikan ke sejumlah titik pengungsian.

Territory Mobile Consumer Business (TMCB)/PIC Telkomsel, M. Iskandar Syah, sebelumnya menjelaskan bahwa distribusi bantuan dilakukan berdasarkan koordinasi dengan pemerintah daerah dan koordinator posko.

Telkomsel juga telah berpesan agar bantuan yang disalurkan dapat diterima secara merata dan tepat sasaran.

Sementara itu, kehadiran Lanal Maumere menjadi bagian dari upaya memastikan proses distribusi berjalan dengan baik di lapangan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut ibu-ibu anggota Lanal Maumere (Jalasenastri), serta prajurit Lanal Maumere lainnya.

Pesan Komandan Lanal Maumere menjadi pengingat bahwa dalam situasi bencana, bantuan bukan sekadar soal jumlah yang disalurkan, tetapi bagaimana bantuan tersebut benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan secara adil dan tepat sasaran.

Reporter : Faidin

Kolaborasi Telkomsel dan Lanal Maumere Sambungkan Senyuman Melalui Program CSR, Peduli Gempa Flores

SIKKA, Bajopos.com | Kepedulian terhadap warga terdampak gempa bumi Flores terus ditunjukkan Telkomsel melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) atau (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan) Peduli Gempa Flores 2026.

Tak hanya menyasar wilayah perkotaan, bantuan Telkomsel didorong hingga ke titik-titik pengungsian yang berada jauh dari pusat Kabupaten Sikka.

Pada Jumat (21/8/2026), atau hari ketujuh pascagempa, Telkomsel bersama Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Maumere menyambangi sejumlah posko pengungsian di Kecamatan Talibura, termasuk Desa Nangahale.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari distribusi CSR Telkomsel yang dilakukan secara bertahap untuk memastikan bantuan menjangkau masyarakat yang terdampak langsung bencana.

Territory Mobile Consumer Business (TMCB)/PIC Telkomsel, M. Iskandar Syah, mengatakan penyaluran bantuan kali ini merupakan gelombang kedua atau bagian kedua dari program CSR Telkomsel untuk korban gempa.

“Jadi hari ini kami habis kegiatan CSR dari Telkomsel Pusat. Kebetulan ini gelombang kedua atau part kedua dan alhamdulillah kami juga didukung oleh Lanal Maumere dalam distribusi sumbangan ke posko-posko,” ujar Iskandar kepada awak media.

Menurutnya, data penerima bantuan diperoleh melalui koordinasi dengan pemerintah daerah sehingga pendistribusian diarahkan ke titik-titik pengungsian yang membutuhkan.

“Bagian data ini kami bekerja sama dengan Pemda. Untuk yang kedua ini kami ke arah timur,” jelasnya.

Nangahale Jadi Titik Awal

Desa Nangahale menjadi titik pertama yang disambangi Telkomsel dan Lanal Maumere. Berdasarkan data yang diterima Telkomsel, terdapat sekitar 3.345 jiwa yang mengungsi di wilayah tersebut.

Dari Nangahale, rombongan kemudian bergerak menuju Kecamatan Talibura. Di wilayah ini bantuan didistribusikan ke tiga titik, yakni Posko Tanjung Garat, Posko Kantor Kecamatan Talibura, dan Posko Eks Pasar Talibura.

Perjalanan distribusi kemudian berlanjut ke titik terakhir di Desa Henga, Dusun Henga.

Iskandar menegaskan, Telkomsel berupaya agar program CSR tersebut tidak hanya berhenti di wilayah yang mudah dijangkau, tetapi benar-benar sampai kepada masyarakat terdampak.

“Dari segi masyarakat yang terdampak atau yang mengungsi jelas, dan ini juga salah satu upaya kami untuk menyalurkan program CSR sampai ke masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Ia menyebut bantuan yang diberikan merupakan bentuk tanggung jawab Telkomsel dalam menjalankan mandat dari pusat.

Namun, Iskandar mengingatkan bahwa bantuan tersebut bukan dimaksudkan untuk menggantikan seluruh kebutuhan pengungsi.

“Bantuan ini bukan untuk menggantikan kebutuhan sehari-hari atau memenuhi seluruh kebutuhan sehari-hari, melainkan sebagai pelengkap apa yang kurang. Setidaknya yang kurang kita cukupi,” ujarnya.

Makanan, Air Mineral hingga Obat dan Vitamin

Dalam program CSR tersebut, Telkomsel menyalurkan berbagai kebutuhan dasar pengungsi. Bantuan antara lain berupa makanan ringan, mi instan, air mineral, tikar, selimut, obat-obatan serta vitamin.

Menurut Iskandar, pemberian vitamin dan obat-obatan menjadi penting karena kondisi pengungsian yang berlangsung berhari-hari dapat menyebabkan warga mengalami berbagai kekurangan, terutama kebutuhan penunjang kesehatan.

“Kita tahu di tempat pengungsian pasti ada kekurangan vitamin. Kami berharap vitamin ataupun obat-obatan yang kami berikan benar-benar bisa digunakan oleh pengungsi sebagai sarana untuk mereka tetap sehat,” katanya.

Memasuki hari ketujuh pascagempa, Telkomsel juga berharap kondisi segera pulih sehingga masyarakat dapat kembali ke rumah masing-masing.

“Kita berdoa bersama agar bencana ini cepat selesai, disudahi dan tidak terjadi lagi. Kita berharap semua pengungsi bisa kembali ke rumah dengan nyaman, kembali ke keluarga, sehingga bisa menjalani hidup seperti biasanya,” tutur Iskandar.

CSR Telkomsel Menjangkau Sikka, Nagekeo hingga Reo

Program Peduli Gempa Flores 2026 tidak hanya menyasar Kabupaten Sikka.

Iskandar menjelaskan, distribusi CSR Telkomsel juga dilakukan di sejumlah wilayah terdampak lainnya di Flores, termasuk Nagekeo, Manggarai dan kawasan Reo.

“Teman-teman yang lain tersebar di Nagekeo. Itu yang CSR pertama. Yang CSR kedua sedang berlangsung untuk area Manggarai dan juga sekitarnya sampai ke Reo. Dan juga Mbay yang kemarin terkena bencana,” jelasnya.

Telkomsel juga menyiapkan distribusi lanjutan ke wilayah barat Flores. Menurut Iskandar, rencana tersebut akan dikoordinasikan setelah pihak manajemen Telkomsel melakukan kunjungan ke Labuan Bajo.

Jaringan Telkomsel Dipastikan Pulih 100 Persen

Selain bantuan logistik, Telkomsel juga menaruh perhatian besar terhadap keberlangsungan jaringan telekomunikasi pascagempa.

Iskandar mengatakan, sejak hari pertama setelah bencana, Telkomsel langsung melakukan pemulihan jaringan.

“Di hari H1 setelah bencana, kami sudah mulai melakukan perbaikan dari 85 persen. Sampai H3 kami sudah bisa mengklaim 100 persen karena kami sudah memastikan seluruh site ataupun BTS yang tersebar di Flores ini bisa pulih semuanya,” ungkapnya.

Menurut dia, pemulihan jaringan menjadi bagian penting dalam penanganan bencana karena komunikasi sangat dibutuhkan untuk koordinasi, penyelamatan, distribusi bantuan maupun memastikan kondisi masyarakat di daerah terdampak.

Telkomsel juga berkoordinasi dengan PLN karena operasional BTS membutuhkan pasokan listrik. Dalam kondisi darurat, BTS juga memiliki cadangan baterai yang hanya mampu bertahan selama beberapa jam.

“Makanya saling kolaborasi. Kita membutuhkan PLN, PLN juga membutuhkan kita untuk sarana komunikasi mereka,” ujarnya.

Selain pemulihan jaringan, Telkomsel juga sempat memberikan layanan internet gratis, telepon gratis dan SMS gratis pada hari pertama setelah gempa. Program tersebut diberikan sebagai bagian dari upaya menjaga komunikasi masyarakat di wilayah bencana tetap tersambung.

Telkomsel Minta Bantuan Tepat Sasaran

Terkait mekanisme penyaluran, Iskandar menjelaskan Telkomsel tidak menyerahkan seluruh bantuan secara langsung kepada masyarakat karena distribusi dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan koordinator posko.

Menurutnya, data penerima dan pembagian bantuan menjadi kewenangan koordinator posko sesuai mekanisme yang telah ditetapkan.

“Untuk penyaluran bantuan sebenarnya ada sangkut pautnya dengan Pemda. Jadi kami tidak bisa menyalurkan secara langsung karena ada aturan dari BPBD agar bantuan disalurkan ke koordinator posko. Dari koordinator posko yang mendata dan membagikan bantuan tersebut,” jelasnya.

Pernyataan ini menjadi penting di tengah munculnya keluhan dari sebagian warga terkait penyaluran bantuan yang dinilai belum merata dan terdapat warga yang mengaku belum mendapatkan bantuan atau menerima bantuan dalam jumlah yang tidak sebanding dengan kebutuhan.

Iskandar mengatakan, Telkomsel telah menyampaikan pesan kepada penanggung jawab posko agar bantuan yang diterima benar-benar dibagikan secara merata.

“Kami memesankan kepada penanggung jawab posko langsung di depan pengungsi bahwa kami berharap sekali bantuan ini bisa merata dan juga tepat sasaran. Apapun yang tersisa harus dibagikan, tidak ada yang tersisa di tempat pengumpulan bantuan tersebut,” tegasnya.

Lanal Maumere Ikut Kawal Distribusi

Dalam kegiatan tersebut, Telkomsel mendapat dukungan dari Lanal Maumere. Komandan Lanal Maumere, Kolonel Laut (P) Yoyok Ary N.A.S., M.Tr.Opsla, didampingi istrinya, Ny. Diani Yoyok Ary, Ketua Cabang 3 Daerah Kodaeral VII, turut menyambangi sejumlah posko pengungsian.

Keduanya tampak memberikan motivasi kepada para pengungsi dari satu posko ke posko lainnya.

Di salah satu lokasi, Komandan Lanal bahkan duduk bersama para pengungsi. Suasana haru terlihat ketika perhatiannya tertuju kepada para lansia dan anak-anak yang masih bertahan di tenda pengungsian setelah gempa mengguncang Flores.

Di tengah sorotan warga terhadap pembagian bantuan yang sebelumnya sempat diwarnai protes, Komandan Lanal Maumere juga memberikan pesan kepada kepala desa agar memastikan bantuan yang diterima masyarakat dibagikan secara adil dan tepat sasaran.

Dalam pendistribusian tersebut turut hadir ibu-ibu anggota Lanal Maumere (Jalasenastri), serta prajurit Lanal Maumere lainnya.

Bantuan diangkut menggunakan mobil truk Lanal Maumere dan mobil box Lanal Maumere, kemudian didistribusikan ke titik-titik pengungsian yang telah ditentukan.

Melalui program CSR Peduli Gempa Flores 2026 ini, Telkomsel tidak hanya berupaya menghadirkan bantuan kebutuhan dasar bagi para pengungsi, tetapi juga memastikan konektivitas komunikasi tetap hidup di tengah situasi bencana.

Bagi Telkomsel, tersambungnya komunikasi menjadi bagian penting dari upaya pemulihan, sementara bantuan kemanusiaan diharapkan dapat menjadi penguat bagi warga Flores yang masih bertahan di pengungsian.

Telkomsel Sambungkan Senyuman, dari konektivitas hingga kepedulian untuk warga terdampak gempa Flores.

Reporter : Faidin

Ironis! Pengungsi Gempa di Nangahale, Warga Akui Hanya Dapat 1 hingga 4 Mok Beras

SIKKA, Bajopos.com | Di tengah ribuan warga yang masih bertahan di pengungsian akibat gempa bumi Flores, keluhan mengenai ketimpangan distribusi bantuan kembali mencuat di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Warga mengaku bantuan yang mereka terima sangat terbatas. Ada yang hanya mendapatkan beras satu gelas, satu butir telur dan satu bungkus mi instan, sementara warga lainnya mengaku hanya menerima sekitar empat mok beras dan dua bungkus mi instan.

Padahal, sebagian dari mereka harus bertahan bersama beberapa anggota keluarga, termasuk anak-anak, dalam tenda darurat yang kondisinya jauh dari layak.

Salah seorang warga, Nurbayana M. Ali, mengungkapkan kekecewaannya terhadap mekanisme pembagian bantuan yang dinilai tidak menjamin semua pengungsi memperoleh bagian secara merata.

Menurutnya, bantuan seharusnya dikemas terlebih dahulu berdasarkan jumlah penerima dan kemudian diberikan langsung kepada setiap keluarga.

“Maksudnya saya itu bantuan jangan dikasih seperti ini. Berapa macam jenis bantuan, isi saja di kresek. Beras itu mau satu biji atau dua biji. Sarimi juga seperti itu, isi di kresek. Tinggal baca nama, lalu kasih ke penerima bantuan,” ujarnya.

Nurbayana mempertanyakan nasib warga yang tidak kebagian ketika bantuan dibagikan melalui mekanisme tertentu.

“Kalau seperti ini ada yang dapat, ada yang tidak. Macam kami yang tidak dapat ini bagaimana?” keluhnya.

Hanya 4 Mok Beras dan 2 Bungkus Mie Instan

Nurbayana mengaku bantuan pemerintah yang diterimanya sejauh ini sangat minim.

Ia menyebut hanya mendapatkan sekitar empat mok atau gelas beras.

Jumlah tersebut berasal dari pembagian sekitar 5 kilogram beras untuk tiga tenda, kemudian dibagi lagi kepada empat kepala keluarga. Akibatnya, bagian yang diterima Nurbayana hanya sekitar empat mok.

Selain itu, ia mengaku hanya menerima dua bungkus mi instan.

Bagi keluarga dengan beberapa anak, jumlah tersebut menurutnya jelas tidak mencukupi.

“Tidak cukup, bagi saya tidak cukup,” tegas Nurbayana dengan penuh kecewa.

Ia juga mengaku sebelumnya tidak mendapatkan terpal untuk tempat berlindung, meskipun anak-anaknya harus bertahan di lokasi pengungsian.

Kondisi tersebut membuatnya semakin mempertanyakan pemerataan bantuan.

“Seperti kemarin saya saja tidak dapat terpal. Ini saya punya anak-anak itu di atas,” katanya.

Nurbayana bahkan menyebut proses pembagian bantuan sebelumnya sempat diwarnai aksi saling berebut.

“Seperti kemarin itu baku rebut-rebut itu semua. Mereka sistem keluarga. Jadi kami ini bagaimana?” ujarnya.

Ia meminta agar pemberi bantuan yang datang tidak hanya menyerahkan bantuan kepada koordinator, tetapi turun langsung ke setiap tenda.

“Kalau kita mau bagi, jangan lagi lewat ini. Kita sendiri turun bagi ke tiap tenda,” sarannya.

Menurutnya, cara tersebut lebih adil karena bantuan dapat langsung diketahui dan diterima oleh keluarga yang membutuhkan.

Muhayati Dapat 1 Gelas Beras, 1 Telur dan 1 Bungkus Mie

Keluhan serupa disampaikan Muhayati, salah seorang warga yang ditemui wartawan di lokasi pengungsian.

Saat ditemui, Muhayati duduk bersama anaknya di bawah tenda bekas jemuran ikan. Tenda berukuran sekitar 2×3 meter tersebut terlihat kusam dan sudah robek di sejumlah bagian. Sementara, itu tetangganya hanya beralas terpal lusuh yang disambung karpet robek bekas yang sudah tidak layak pakai.

Lebih memprihatinkan, tenda kecil milik Muhayati tersebut menjadi tempat berteduh bagi empat kepala keluarga dengan delapan anak kecil dengan kondisi tanpa dinding.

Muhayati mengaku bantuan yang diterimanya sejauh ini dari salah satu pihak hanya berupa 1 gelas beras, 1 butir telur ayam dan 1 bungkus mie instan.

Dengan jumlah tersebut, kebutuhan beberapa keluarga yang tinggal dalam satu tenda tentu jauh dari terpenuhi.

Kondisi ini menjadi gambaran nyata bagaimana sebagian korban gempa masih harus bertahan dengan bantuan pangan dalam jumlah sangat terbatas.

3.381 Pengungsi, Tapi Bantuan Dipertanyakan

Di sisi lain, Camat Talibura Fransiskus Ismail menyampaikan bahwa jumlah pengungsi di Kecamatan Talibura berdasarkan data pemerintah mencapai 3.381 orang, tersebar di lima desa.

Desa Nangahale menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar, yakni sekitar 2.581 orang.

Fransiskus sebelumnya mengatakan bantuan pemerintah melalui Posko BPBD Kabupaten Sikka telah masuk ke Kecamatan Talibura sejak 17 Agustus 2026 dan telah didistribusikan ke seluruh desa.

Bantuan tersebut antara lain berupa beras, mi instan, telur, air mineral, obat-obatan dan perlengkapan bayi.

Menurut Fransiskus, distribusi dilakukan berdasarkan data pengungsi secara by name by address.

Namun, pernyataan tersebut kini berhadapan dengan keluhan warga di lapangan yang mengaku menerima bantuan dalam jumlah sangat kecil.

Pertanyaannya kemudian: jika data penerima sudah by name by address, mengapa masih ada warga yang hanya mendapatkan satu gelas beras, satu telur dan satu bungkus mi instan?

Mengapa pula ada warga yang mengaku hanya menerima empat mok beras dan dua bungkus mi instan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang memiliki beberapa anak?

Pengungsi Mandiri Mengaku Belum Tersentuh

Persoalan semakin kompleks karena tidak semua korban memilih tinggal di posko resmi.

Sebagian warga mengungsi secara mandiri di halaman rumah, depan bangunan, maupun lokasi lainnya.

Fransiskus sendiri mengakui bahwa pemerintah Kecamatan Talibura belum mendapatkan arahan lanjutan mengenai penanganan warga yang mengungsi secara mandiri.

“Yang untuk sementara ini yang kita tangani itu adalah mereka yang berada di tenda-tenda pengungsian. Sementara yang mengungsi mandiri, kita di kecamatan belum mendapatkan arahan lanjutan,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa warga yang berada di luar posko resmi berpotensi tidak mendapatkan bantuan dengan porsi yang sama.

Jangan Sampai Bantuan Banyak di Atas Kertas, Minim di Tangan Warga

Kondisi ini seharusnya menjadi bahan evaluasi serius pemerintah daerah dan pengelola posko.

Sebab, ukuran keberhasilan penyaluran bantuan bukan hanya berdasarkan berapa banyak bantuan yang masuk ke kecamatan atau desa, tetapi berapa banyak bantuan yang benar-benar diterima setiap keluarga terdampak sesuai kebutuhan mereka.

Warga tidak membutuhkan sekadar pencatatan administrasi. Mereka membutuhkan beras yang cukup untuk makan, makanan untuk anak-anak, terpal atau tenda untuk berlindung, air minum dan kebutuhan dasar lainnya.

Ketika seorang warga dengan beberapa anak hanya mendapatkan empat mok beras dan dua bungkus mi instan, sementara warga lainnya hanya memperoleh satu gelas beras, satu telur dan satu bungkus mi instan, maka wajar apabila muncul pertanyaan tentang sejauh mana prinsip pemerataan benar-benar diterapkan.

Pemerintah juga perlu membuka mekanisme distribusi secara transparan agar tidak muncul prasangka bahwa bantuan hanya berputar di antara kelompok tertentu.

Keluhan warga harus dijadikan bahan evaluasi, bukan sekadar dianggap sebagai persoalan teknis di lapangan.

Sebab, di tengah situasi darurat bencana, satu gelas beras bagi sebuah keluarga bukan sekadar angka. Itu adalah gambaran tentang bagaimana negara hadir atau justru belum hadir bagi warganya.

Reporter : Faidin

Camat Talibura Akui Pengungsi Mandiri Belum Mendapat Arahan Penanganan, Bantuan Pemerintah Disalurkan Melalui Posko Desa

SIKKA, Bajopos.com | Penanganan warga terdampak gempa bumi di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapat sorotan setelah masih adanya keluhan warga yang mengungsi secara mandiri karena belum mendapatkan bantuan pemerintah.

Hal tersebut terungkap dalam wawancara wartawan dengan Camat Talibura, Fransiskus Ismail, di sela-sela pendropingan bantuan dari pihak Telkomsel bersama Lanal Maumere, Kamis (21/8/2026).

Fransiskus menjelaskan, bantuan dari pemerintah melalui Posko Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka telah masuk ke Kecamatan Talibura sejak 17 Agustus 2026 dan kemudian didistribusikan ke seluruh desa.

“Untuk bantuan dari pemerintah melalui Posko BPBD itu sudah masuk per tanggal 17 Agustus kemarin dan sudah kita distribusikan ke semua desa. Hari ini kembali masuk di kantor camat dan kita baru distribusi lagi ke semua desa,” jelasnya.

Menurutnya, bantuan yang disalurkan berupa kebutuhan dasar masyarakat terdampak bencana. Bantuan tersebut antara lain beras, mi instan, telur, air mineral, obat-obatan hingga perlengkapan bayi.

Fransiskus mengatakan, jumlah bantuan disesuaikan dengan data pengungsi yang disampaikan pemerintah kecamatan kepada BPBD secara by name by address.

“Bantuan itu berupa logistik, beras, mie, telur, air mineral, obat-obatan, perlengkapan bayi, yang disesuaikan dengan jumlah pengungsi yang kita ajukan lewat data yang kita berikan kepada BPBD, by name, by address,” katanya.

3.381 Pengungsi, Nangahale Terbanyak

Camat Talibura menyebutkan, berdasarkan data hingga saat ini terdapat 3.381 pengungsi yang tersebar di lima desa di Kecamatan Talibura.

Jumlah terbesar berada di Desa Nangahale dengan sekitar 2.581 orang.

Namun, di tengah distribusi bantuan tersebut, masih terdapat keluhan dari warga yang memilih mengungsi secara mandiri dan merasa belum mendapatkan perhatian pemerintah.

Menanggapi hal itu, Fransiskus mengakui bahwa pada fase awal bencana, pemerintah menghadapi kendala pendataan karena jumlah warga yang mengungsi belum dapat dipastikan.

“Memang dengan kondisi awal, saat pengungsi mulai datang ke tempat pengungsian, untuk kita mengakomodir secara perorangan itu waktu itu data kita juga belum pasti,” ujarnya.

Ia menjelaskan, bantuan pemerintah kemudian disalurkan melalui posko-posko yang telah dibentuk di masing-masing desa. Pengelolaan bantuan di lapangan selanjutnya menjadi tanggung jawab koordinator posko.

Pemerintah kecamatan, kata dia, telah mengimbau agar setiap posko membentuk dapur umum secara terpusat sehingga bantuan konsumsi dapat dinikmati secara merata oleh seluruh pengungsi.

Pengungsi Mandiri Belum Mendapat Arahan

Sorotan lainnya menyangkut warga yang mengungsi secara mandiri, baik di halaman rumah, depan bangunan, maupun lokasi lainnya di luar posko resmi.

Fransiskus secara terbuka menyatakan bahwa hingga saat ini pihak Kecamatan Talibura belum mendapatkan arahan lanjutan terkait penanganan kelompok pengungsi mandiri tersebut.

“Yang untuk sementara ini yang kita tangani itu adalah mereka yang berada di tenda-tenda pengungsian. Sementara yang mengungsi mandiri, kita di kecamatan belum mendapatkan arahan lanjutan,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena sejumlah warga terdampak gempa di wilayah Talibura sebelumnya mengeluhkan belum meratanya bantuan, terutama mereka yang memilih melakukan evakuasi secara mandiri.

Kondisi ini menunjukkan masih adanya celah dalam sistem penanganan pengungsi, khususnya dalam memastikan warga yang berada di luar posko resmi tetap terdata dan mendapatkan kebutuhan dasar.

Keamanan dan Kondisi Pengungsi Jadi Tanggung Jawab Koordinator Posko

Terkait keamanan dan kondisi kesehatan warga di lokasi pengungsian, termasuk adanya laporan warga yang digigit ular serta warga yang sakit hingga meninggal dunia, Camat Talibura mengatakan pemerintah telah membentuk koordinator di setiap posko.

Menurutnya, koordinator posko diharapkan dapat mengawasi berbagai persoalan yang muncul di lokasi pengungsian, mulai dari kebersihan, kesehatan hingga keamanan.

“Dengan pengurus posko, koordinator posko ini, kita berharap bahwa segala macam hal yang terjadi di dalam posko itu harus menjadi bagian dari tanggung jawab dan juga dipikirkan oleh teman-teman koordinator posko,” katanya.

Khusus di Desa Nangahale, pemerintah telah membentuk satu posko induk dan empat posko penyangga.

Namun, Fransiskus mengakui bahwa pemerintah kecamatan tidak dapat mengawasi setiap posko secara detail satu per satu.

“Tentunya kami dari pemerintah Kecamatan tidak bisa masuk ke dalam posko itu secara detail satu persatu,” ujarnya.

Karena itu, koordinasi di tingkat posko menjadi sangat penting untuk memastikan persoalan warga segera ditangani dan dilaporkan kepada pemerintah apabila membutuhkan intervensi lebih lanjut.

Pemerintah Diminta Pastikan Bantuan Tidak Berhenti di Posko

Pernyataan Camat Talibura tersebut sekaligus menjadi catatan bagi pemerintah daerah agar mekanisme distribusi bantuan tidak hanya berorientasi pada posko resmi, tetapi juga menjangkau warga yang melakukan evakuasi secara mandiri.

Apalagi, berdasarkan data pemerintah kecamatan, jumlah pengungsi mencapai ribuan orang dengan Desa Nangahale sebagai wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar.

Pemerataan bantuan, pendataan ulang, pemenuhan kebutuhan kesehatan, keamanan serta perlindungan kelompok rentan menjadi pekerjaan penting pemerintah selama masa tanggap darurat.

Di akhir wawancara, Camat Talibura mengajak seluruh pengungsi untuk memanfaatkan bantuan yang telah diberikan secara baik.

Ia juga mengingatkan warga agar secara perlahan mulai mempersiapkan diri untuk kembali ke rumah apabila kondisi telah memungkinkan, namun tetap mengutamakan kewaspadaan.

“Traumatis itu boleh, tetapi ada waktunya. Saatnya kita harus bersiap-siap untuk pulang ke rumah, tentunya dengan sikap waspada itu menjadi penting,” pungkasnya.

Reporter : Faidin

Hari ke-7 Pascagempa, Warga Danga Au Masih Bertahan di Tenda Darurat

NAGEKEO, Bajopos.com | Memasuki hari ketujuh pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Mbay dan sejumlah wilayah di Flores, kondisi warga Kampung Danga Au, Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, masih memprihatinkan.

Puluhan kepala keluarga bersama ibu-ibu dan anak-anak memilih mengungsi secara mandiri di depan puing-puing rumah mereka. Warga mengaku masih takut kembali ke dalam rumah karena khawatir terhadap gempa susulan, sementara sebagian rumah mengalami kerusakan dan sudah tidak layak ditempati.

Di lokasi pengungsian mandiri, warga hanya mendirikan tenda darurat menggunakan terpal dan kayu sisa bangunan rumah yang roboh.

Dalam pantauan jurnalis Bajopos.com di lokasi terdampak, sejumlah warga mengeluhkan distribusi bantuan yang dinilai belum merata. Beberapa keluarga mengaku bantuan yang pernah diterima jumlahnya sangat terbatas dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan selama beberapa hari.

“Bantuan yang kami terima sangat sedikit. Kalau untuk makan, hanya cukup sekali makan dan langsung habis,” keluh salah seorang warga.

Warga juga menyampaikan bahwa hingga Jumat, 21 Agustus 2026, bantuan logistik yang masuk melalui posko BNPB Nagekeo belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat yang memilih mengungsi secara mandiri di Kampung Danga Au dan sekitarnya.

Menurut warga, bantuan dari pemerintah daerah dan sejumlah pihak baru diterima sekitar dua kali. Sementara itu, mereka melihat bantuan lebih banyak terpusat di posko-posko pengungsian yang berada di sekitar ibu kota kabupaten maupun sejumlah titik pengungsian di wilayah perbukitan.

“Kami tidur di depan puing-puing rumah dengan tenda seadanya dan makan seadanya. Sampai sekarang bantuan belum semuanya sampai ke sini seperti yang diterima masyarakat yang mengungsi di tenda-tenda besar dari BNPB, Basarnas, Dinsos dan lainnya,” ujar warga lainnya.

Kondisi tersebut membuat warga yang mengungsi secara mandiri merasa perlu mendapatkan perhatian yang sama. Mereka berharap pendataan terhadap warga terdampak tidak hanya berfokus pada titik-titik pengungsian terpusat, tetapi juga menjangkau warga yang memilih membangun tempat perlindungan sendiri di sekitar rumah mereka.

Tujuh Hari Bertahan dengan Keterbatasan

Bagi warga Danga Au, tujuh hari pascagempa bukan waktu yang singkat. Mereka harus bertahan di tengah trauma, keterbatasan makanan, tempat tidur yang tidak layak, serta ketidakpastian kapan bisa kembali ke rumah.

Tenda darurat yang dibangun dari terpal menjadi tempat berlindung bagi keluarga, sementara puing-puing rumah masih berada di sekitar lokasi.

Warga berharap pemerintah dan seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan bencana dapat segera melakukan validasi ulang terhadap data korban dan titik-titik pengungsian mandiri agar tidak ada masyarakat terdampak yang terlewat dari penyaluran bantuan.

Pemerataan Bantuan Harus Menjadi Prioritas

Bencana alam memang tidak dapat diprediksi. Namun, pemerataan bantuan merupakan hal yang masih dapat diupayakan melalui pendataan dan koordinasi yang baik.

Tujuh hari telah berlalu, tetapi warga di Kampung Danga Au dan sekitarnya masih bertahan dengan kekuatan sendiri di tengah puing-puing rumah mereka.

Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pihak agar data korban, kerusakan, serta titik-titik pengungsian mandiri segera divalidasi dan diperbarui.

Di tengah trauma akibat gempa dan ancaman gempa susulan, keadilan dalam penyaluran bantuan sangat dibutuhkan agar seluruh warga terdampak merasa diperhatikan dan tidak berjalan sendiri menghadapi bencana.

Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari BNPB Kabupaten Nagekeo terkait mekanisme penyaluran bantuan ke wilayah Kampung Danga Au dan sekitarnya, khususnya bagi masyarakat yang memilih mengungsi secara mandiri dan mendirikan tenda darurat di sekitar rumah mereka.

Reporter : Yofan Ben Dhae
Editor : Faidin

Diduga HP Hasil Curian Dijual Murah di Lokasi Pengungsian Desa Nangahale

SIKKA, Bajopos.com | Situasi di lokasi pengungsian korban gempa bumi di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, kembali menjadi perhatian.

Di tengah kondisi warga yang masih bertahan di pengungsian, muncul informasi mengenai seseorang pria yang diduga menjual sejumlah unit telepon seluler (HP) dengan harga jauh di bawah harga pasaran.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, beberapa unit HP tersebut ditawarkan dengan harga berkisar Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per unit. Bahkan, perangkat yang ditawarkan disebut memiliki kapasitas RAM mulai dari 8 GB hingga 16 GB.

Namun, terdapat kejanggalan. Sejumlah HP yang dijual dalam kondisi terkunci pola (pattern lock) dan orang yang menawarkan perangkat tersebut disebut tidak mengetahui cara membuka kuncinya.

Kondisi tersebut menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat. Warga menduga HP-HP tersebut bukan barang milik penjual, melainkan kemungkinan berasal dari hasil pencurian.

Meski demikian, dugaan tersebut belum dapat dipastikan dan masih membutuhkan penyelidikan aparat kepolisian. Identitas penjual maupun asal-usul masing-masing perangkat juga belum diketahui secara jelas.

Keberadaan transaksi tersebut menjadi perhatian serius mengingat lokasi pengungsian saat ini dihuni warga yang tengah berada dalam situasi rentan pascagempa.

Kondisi darurat dan kepadatan pengungsian dinilai dapat membuka peluang terjadinya tindak kriminal, termasuk pencurian barang milik warga terdampak.

Warga berharap aparat keamanan segera melakukan pengecekan terhadap informasi tersebut, termasuk menelusuri asal-usul HP yang dijual serta memastikan apakah ada laporan kehilangan barang elektronik dari para pengungsi.

Jika terbukti merupakan barang hasil kejahatan, aparat diminta mengambil langkah hukum sesuai ketentuan yang berlaku sekaligus mengembalikan barang kepada pemiliknya.

Masyarakat juga diimbau tidak tergiur membeli HP dengan harga yang tidak wajar, terlebih apabila perangkat tersebut tidak dilengkapi identitas kepemilikan yang jelas dan masih dalam kondisi terkunci.

Bajopos.com masih berupaya memperoleh informasi lebih lanjut dari pihak kepolisian dan pihak terkait mengenai dugaan penjualan HP tersebut.

Reporter : Faidin

Relawan Muhammadiyah Sikka Siapkan Sekolah Darurat di Barak Pengungsian Mandiri

SIKKA, Bajopos.com | Kepedulian terhadap anak-anak terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka mulai menyentuh barak pengungsian mandiri di depan Kantor Bupati Sikka.

Pada Kamis, 20 Agustus 2026, Team Tangguh Relawan Muhammadiyah Sikka melakukan asesmen lapangan sebagai langkah awal persiapan pembukaan Klaster Pendidikan di lokasi tersebut.

Barak pengungsian mandiri itu dihuni warga yang memilih bertahan di lokasi pengungsian sejak gempa pertama mengguncang wilayah Flores.

Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan pendidikan dan pemulihan psikologis anak-anak menjadi perhatian yang mulai didorong oleh para relawan.

Sebanyak tujuh personel Relawan Muhammadiyah Sikka turun langsung ke lokasi. Sebelum melakukan pendataan terhadap anak-anak usia sekolah, para relawan terlebih dahulu menggelar kegiatan trauma healing dengan mengajak anak-anak bernyanyi bersama dan bermain berbagai permainan.

Suasana yang sebelumnya dipenuhi kekhawatiran akibat bencana perlahan berubah menjadi lebih ceria. Anak-anak diajak bermain dan bernyanyi untuk membantu mengurangi rasa takut serta trauma yang masih mereka rasakan.

Para relawan juga memberikan hadiah kepada anak-anak sebagai bentuk dukungan dan penyemangat.

Darman Eldin mengatakan, berdasarkan asesmen awal, terdapat sekitar 96 jiwa yang berada di pengungsian mandiri tersebut. Mereka terdiri dari anak-anak dan warga dengan jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA.

Menurutnya, pendataan tersebut penting dilakukan untuk mengetahui kebutuhan pendidikan anak-anak selama mereka masih berada di lokasi pengungsian.

“Jumlah pengungsian mandiri sekitar 96 jiwa, dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA,” kata Darman Eldin.

Ia menjelaskan, asesmen yang dilakukan tidak hanya untuk mengetahui jumlah anak sekolah, tetapi juga menjadi dasar dalam menyiapkan program pendidikan darurat yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Darman menyampaikan, setelah dilakukan evaluasi bersama Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sikka, Relawan Muhammadiyah Sikka berencana membuka sekolah darurat di barak pengungsian mandiri tersebut.

“Insyaa Allah dalam waktu dekat, setelah evaluasi bersama Ketua PDM Sikka, Team Relawan Muhammadiyah Sikka akan melakukan sekolah darurat di barak pengungsian mandiri di depan Kantor Bupati Sikka,” ujarnya.

Rencana pembukaan sekolah darurat tersebut diharapkan dapat memberikan ruang belajar bagi anak-anak pengungsi sekaligus menjadi bagian dari proses pemulihan mereka pascabencana.

Di tengah situasi pengungsian yang masih berlangsung, kehadiran relawan tidak hanya dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan logistik, tetapi juga memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak untuk belajar dan memperoleh pendampingan psikososial.

Langkah Relawan Muhammadiyah Sikka ini menjadi upaya penting agar anak-anak yang terdampak gempa tidak kehilangan kesempatan belajar meski harus menjalani kehidupan sementara di barak pengungsian.

Reporter : Faidin

Pengungsi di Nangahale Digigit Ular hingga Ada yang Meninggal, Perhatian Pemda Sikka Hanya di Posko Lapangan Samador

SIKKA, Bajopos.com | Kondisi pengungsian warga terdampak gempa bumi di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, kembali memunculkan keprihatinan.

Minimnya fasilitas pengungsian yang memadai dinilai membuat warga berada dalam kondisi rentan, bahkan memunculkan insiden gigitan ular hingga seorang pengungsi meninggal dunia.

Informasi yang dihimpun Bajopos.com dari salah seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan menyebutkan, seorang perempuan bernama Hasmida, warga Desa Nangahale, mengalami gigitan ular di sekitar lokasi pengungsian pada Rabu malam, 19 Agustus 2026.

Korban kemudian mendapat penanganan di Puskesmas Watubaing sebelum dirujuk ke RSUD Tc. Hillers Maumere. Hingga Kamis, 20 Agustus 2026, perkembangan kondisi kesehatan Hasmida belum diketahui secara pasti.

Warga tersebut menilai kejadian itu menjadi alarm serius bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka agar tidak hanya berfokus pada penyaluran bantuan di pusat kota, tetapi juga memastikan keamanan dan keselamatan warga yang bertahan di lokasi-lokasi pengungsian terpencil.

“Di Posko Pengungsian Nangahale ada yang digigit ular sampai dirujuk dari posko, lalu dibawa ke Puskesmas kemudian di rujuk ke rumah sakit Umum (RSUD Tc. Hillers Maumere, red) ” ujar sumber tersebut.

Menurutnya, persoalan lain yang sangat memprihatinkan adalah keterbatasan fasilitas tempat tinggal sementara.

Sebagian warga masih bertahan dengan kondisi seadanya, menggunakan terpal dan kain sebagai alas maupun pelindung dari cuaca malam.

Kondisi tersebut, kata dia, menjadi semakin memprihatinkan karena warga Nangahale bukan hanya menghadapi trauma akibat gempa bumi terbaru, tetapi juga memiliki pengalaman traumatis akibat tsunami Flores 1992.

Sebab, dari sekian pengungsi dewasa hingga orang tua di Nangahale hampir seluruhnya merupakan korban Tsunami 1992 di Pulau Babi.

Pengungsi Meninggal

Sorotan semakin tajam setelah seorang warga bernama Usman, kelahiran Pulau Beter, 31 Desember 1959, meninggal dunia pada Kamis pagi, 20 Agustus 2026, diperkirakan pukul 12.36.

Usman diketahui memiliki riwayat sakit sebelumnya. Namun, menurut informasi keluarga dan warga di lokasi, kondisi kesehatannya memburuk selama berada di pengungsian.

Di lokasi pengungsian, Usman disebut hanya tidur beralaskan terpal dan kain seadanya dengan kondisi tempat terbuka. Pada malam hari, kondisi tersebut membuat tubuhnya rentan terhadap udara dingin.

Ia kemudian mengalami sesak napas dan batuk-batuk hingga terjatuh di lokasi pengungsian.

Warga selanjutnya membawa Usman ke Puskesmas Watubaing untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, nyawanya tidak tertolong dan ia meninggal dunia pada Kamis pagi.

Meski demikian, warga tidak serta-merta menyimpulkan bahwa kematian Usman semata-mata disebabkan oleh kondisi pengungsian. Riwayat penyakit yang telah dimiliki sebelumnya tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Namun, keterbatasan fasilitas pengungsian dinilai turut menjadi persoalan serius yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah.

“Kasihan. Setidaknya ada perhatian dari pemerintah agar warga merasa aman selama berada di pengungsian,” ungkap sumber tersebut.

Bantuan Dinilai Terlalu Terpusat

Di tengah kondisi tersebut, muncul kritik terhadap pola penyaluran bantuan Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka yang dinilai masih terlalu terpusat di wilayah perkotaan, khususnya di Lapangan Samador Maumere.

Warga mempertanyakan mengapa konsentrasi bantuan lebih banyak diarahkan ke pusat kota, sementara masyarakat di wilayah terdampak seperti Nangahale masih menghadapi persoalan mendasar, mulai dari tempat berteduh, alas tidur, keamanan lingkungan pengungsian hingga perlindungan terhadap kelompok rentan.

“Perhatian pemerintah hari ini terpusat lebih banyak di kota, di Lapangan Samador. Sementara pengungsi yang sangat merasakan dampak dan trauma akibat gempa serta tsunami 1992 justru ada di Desa Nangahale,” kata sumber tersebut.

Kondisi ini dinilai perlu menjadi bahan evaluasi Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka.

Penanganan bencana tidak cukup hanya dengan memastikan bantuan tersedia, tetapi juga memastikan bantuan tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat yang paling membutuhkan dan berada di lokasi pengungsian yang rawan.

Terlebih, Desa Nangahale merupakan salah satu wilayah yang memiliki catatan sejarah kelam tsunami Flores 1992.

Trauma masyarakat terhadap bencana laut dan gempa masih menjadi bagian dari pengalaman kolektif warga hingga saat ini.

Karena itu, warga berharap Pemda Sikka tidak melihat penanganan pengungsi hanya dari jumlah bantuan yang telah disalurkan, tetapi juga dari aspek keselamatan, kesehatan, tempat tinggal sementara dan perlindungan warga selama berada di pengungsian.

Insiden gigitan ular terhadap Hasmida dan meninggalnya Usman menjadi pengingat bahwa keselamatan pengungsi harus menjadi prioritas.

Pemerintah daerah diharapkan segera memastikan ketersediaan tenda yang layak, terpal yang memadai, penerangan, sanitasi, fasilitas kesehatan serta pengamanan lingkungan di setiap titik pengungsian, termasuk di Desa Nangahale.

Warga juga berharap distribusi bantuan tidak hanya terkonsentrasi di pusat kota, melainkan menjangkau desa-desa terdampak yang masyarakatnya masih bertahan di pengungsian dalam kondisi serba terbatas.

Reporter : Faidin

Terima Ratusan Aduan Masyarakat Perhari, Aliansi Wartawan Sikka Buka 25 Call Center Pengaduan Korban Gempa Flores

SIKKA, Bajopos.com | Aliansi Wartawan Sikka (AWAS) membuka call center pengaduan bagi warga terdampak Gempa Flores di Kabupaten Sikka.

Layanan tersebut dibuka menyusul masih adanya warga terdampak bencana yang mengaku belum mendapatkan bantuan, terutama mereka yang melakukan evakuasi secara mandiri dan membangun posko pengungsian sendiri di desa maupun kelurahan.

Ketua Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Mario W. P. Sina, mengatakan pembukaan call center merupakan bentuk kepedulian insan pers terhadap masyarakat yang terdampak bencana.

“Kami tergerak membuka call center pengaduan sebab banyak warga yang mengadukan kepada kami terkait belum adanya bantuan yang diterima dari pemerintah,” ujar Mario, Kamis (20/8/2026).

Menurut Mario, layanan pengaduan ini dibuka untuk membantu memastikan informasi mengenai kondisi dan kebutuhan warga di lapangan dapat segera diteruskan kepada pihak berwenang. Dengan demikian, distribusi bantuan logistik diharapkan dapat berlangsung lebih cepat, tepat sasaran dan merata.

“Kami ingin memastikan jangan sampai ada warga terdampak yang terlupakan. Setiap pengaduan yang masuk akan menjadi informasi penting untuk disampaikan kepada pihak terkait,” katanya.

Bantuan Dinilai Masih Terpusat

Berdasarkan pemantauan awak media yang bertugas di Kabupaten Sikka, distribusi bantuan sejauh ini lebih banyak difokuskan kepada warga yang berada di lokasi evakuasi terpusat, salah satunya di Gelora Samador da Cunha.

Sementara itu, masih terdapat warga terdampak yang memilih melakukan evakuasi secara mandiri. Mereka membangun tenda-tenda darurat menggunakan perlengkapan seadanya di lingkungan desa maupun kelurahan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian AWAS karena warga yang mengungsi secara mandiri juga merupakan korban bencana yang membutuhkan bantuan dan perlindungan.

Mario mengatakan, perhatian terhadap korban bencana tidak boleh hanya diberikan kepada masyarakat yang berada di lokasi pengungsian terpusat.

“Kita sepakat bahwa fokus utama adalah Pulau Palue yang merupakan wilayah yang paling parah terkena dampak bencana Gempa Flores. Tetapi, mengingat warga terdampak juga tersebar di 20 kecamatan lain, mereka harus juga menjadi prioritas,” ungkapnya.

Menurut dia, pemerataan bantuan penting dilakukan agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial di tengah masyarakat yang sama-sama menjadi korban bencana.

Negara Harus Hadir

Mario juga mengingatkan kembali arahan Kepala BNPB ketika berada di Posko Tanggap Darurat Bencana di Kantor BPBD Kabupaten Sikka.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala BNPB menegaskan bahwa negara harus hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, terutama dalam situasi bencana.

“Setiap orang harus mendapatkan bantuan dan jangan ada satu warga negara pun yang terkena dampak bencana Gempa Flores terlupakan. Negara harus hadir di saat rakyatnya membutuhkan bantuan, apalagi dalam kondisi bencana alam,” tegas Mario, mengutip arahan tersebut.

Karena itu, AWAS memilih mengambil bagian dengan membuka saluran pengaduan melalui jaringan wartawan yang tersebar di Kabupaten Sikka.

Warga terdampak dapat menyampaikan informasi mengenai kondisi pengungsian, kebutuhan mendesak, kerusakan, maupun persoalan distribusi bantuan melalui nomor telepon atau WhatsApp wartawan yang tergabung dalam AWAS.

“Pembukaan call center sebagai bentuk kontribusi awak media sebagai penyambung lidah rakyat agar bisa disampaikan kepada pihak berwenang dalam mengambil kebijakan,” pungkas Mario.

Call Center Pengaduan AWAS

Berikut Wartawan yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), asal Media dan nomor HP/WhatsApp yang bisa dihubungi, diantaranya;

Mario W. P. Sina, wartawan Florespedia.id 081353867075

Ade Riberu, Floresterkini.com 085183851454

Ijas Sagur, Ekorantt.com 081246462015

Ebed de Rosary, Florespos.net 081236097539

Vianey Tinto, Tajukntt.id 082147501571

Marsel Feka, Nttexpress.com 085331053830

Hengky Ola Sura, Ekorantt 081315987716

Yusuf Porwaila, Delikkasus.com 082246304275

Nivan Gomez, Nttpost.com 082346873103

Lukas Lado, Ekorantt 085141043686

Karel Pandu, Gardaflores.com 082145909588

Vicky da Gomez, Suarasikka.com 081246662471

Risto Jomang, Ekorantt 081238534726

Arnlod Welianto, Tribunflores.com 082237233425

Faidin Bajopos.com 085317531207

Wiliam Toka, Tajukntt.id 081239216730

Aris Halilintar, Mutiaratimur.com 082145691123

Sandi Hayon, Kompas.com 081248629021

Albert Cakramento, Newsdaring.com 081236991088

Tovik Koban, TVOne 082247597000

Johny Nura, MNC Group 081353810138

John da Gomez, SCTV/Liputan6 081246875081

Mia Margaretha Holo, Floresa.co 082237466728

Irma Rose, ersepektif.com 081347194392

Maria Dato, Ntthits.com 081246126861

Icha Florida, Wartanusantara.com 085215878354

AWAS berharap call center ini menjadi jembatan informasi antara masyarakat terdampak dengan pemerintah dan pihak-pihak terkait, sehingga setiap warga yang membutuhkan bantuan dapat segera diketahui dan ditindaklanjuti.

Reporter : Faidin

Melanie Subono Kembali Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Nagekeo di Desa Tonggurambang

Nagekeo, Bajopos.com | Kepedulian terhadap masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus mengalir. Bantuan kemanusiaan kembali disalurkan oleh Rumah Harapan bersama Melanie Subono dari Jakarta untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak bencana, Rabu (19/8/2026).

Bantuan tersebut disalurkan melalui Koordinator Rumah Harapan di Kabupaten Lembata, Alfian Rayabelen, untuk kemudian diteruskan kepada warga terdampak gempa di sejumlah wilayah Kabupaten Nagekeo, termasuk masyarakat di Desa Tonggurambang.

Bantuan yang diberikan berupa sembako dan kebutuhan dasar, di antaranya beras, telur, mi instan, air mineral serta sejumlah kebutuhan lainnya yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan warga di lapangan.

Penyaluran bantuan diprioritaskan bagi warga terdampak yang memiliki alamat dan lokasi yang jelas, terutama masyarakat yang hingga kini belum tersentuh bantuan pemerintah maupun bantuan dari pihak lainnya.

Langkah tersebut dilakukan agar bantuan kemanusiaan benar-benar sampai kepada warga yang paling membutuhkan, khususnya mereka yang masih bertahan dalam kondisi sulit setelah gempa bumi mengguncang wilayah Flores.

Salah seorang warga terdampak, Sarif, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada Melanie Subono dan Rumah Harapan atas kepedulian yang diberikan kepada masyarakat Nagekeo.

“Terima kasih banyak kepada Kak Melanie Subono dan Rumah Harapan yang sudah memberikan bantuan kepada kami. Bantuan beras, telur dan air mineral ini sangat berarti bagi warga yang terdampak gempa,” ungkapnya.

Ucapan terima kasih juga disampaikan Hayat. Ia mengapresiasi perhatian Melanie Subono dan Rumah Harapan yang ikut membantu masyarakat terdampak bencana di Nagekeo.

Menurutnya, bantuan seperti ini sangat dibutuhkan warga, terutama dalam situasi pascabencana ketika sebagian masyarakat masih menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi warga terdampak, bantuan yang datang bukan sekadar sembako untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum. Lebih dari itu, bantuan tersebut menjadi tanda bahwa perhatian dan kepedulian terhadap mereka masih terus mengalir.

Kehadiran Rumah Harapan dan Melanie Subono di tengah situasi pascagempa juga menunjukkan bahwa solidaritas kemanusiaan tidak mengenal jarak. Dari Jakarta hingga Nusa Tenggara Timur, kepedulian terus bergerak untuk membantu masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit.

Bagi warga Desa Tonggurambang dan masyarakat terdampak lainnya, bantuan tersebut menjadi penguat semangat untuk terus bertahan dan bangkit setelah bencana.

Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian pascagempa, perhatian dari berbagai pihak menjadi pengingat bagi para penyintas bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masa sulit.

Reporter : Zainudin Abdullah
Editor : Faidin

Ny. Fista Sambuari Kago Gandeng Yayasan Seribu Cita Bangsa Salurkan Bantuan Korban Gempa

Sikka, Bajopos.com | Kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka terus ditunjukkan berbagai pihak.

Tim Penggerak PKK Kabupaten Sikka di bawah kepemimpinan Ny. Fista Sambuari Kago, S.H., menggandeng Yayasan Seribu Cita Bangsa (1000 Days Fund) menyalurkan bantuan kepada warga terdampak gempa yang berada di kawasan Eks Pasar Talibura, Kabupaten Sikka.

Penyaluran bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas terhadap masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit akibat bencana gempa bumi Flores yang berdampak pada sejumlah wilayah di Kabupaten Sikka.

Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Yayasan Seribu Cita Bangsa atau 1000 Days Fund yang telah menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat Kabupaten Sikka.

Menurut Ny. Fista, dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk membantu masyarakat melewati masa tanggap darurat, terutama bagi warga yang kehilangan tempat tinggal, mengalami kerusakan rumah maupun harus mengungsi akibat gempa bumi.

“TP PKK Kabupaten Sikka sangat mengapresiasi kepedulian dan dukungan dari Yayasan Seribu Cita Bangsa. Bantuan ini menjadi bentuk nyata solidaritas bersama untuk masyarakat yang sedang menghadapi musibah,” ujar Ny. Fista.

Ia mengatakan, aksi sosial tersebut sekaligus menegaskan pentingnya membangun sinergi antara pemerintah daerah, TP PKK, dunia usaha, lembaga sosial dan masyarakat dalam merespons berbagai persoalan kemanusiaan.

Ny. Fista menjelaskan, kolaborasi melalui dukungan sosial maupun skema tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dapat menjadi kekuatan penting dalam mempercepat berbagai program pemberdayaan dan pelayanan kepada masyarakat.

“Dukungan dari berbagai pihak menjadi faktor penting dalam mempercepat realisasi program-program PKK di lapangan, terlebih dalam kondisi seperti sekarang ketika masyarakat kita sedang menghadapi musibah,” katanya.

Selain bantuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak, kehadiran TP PKK di lokasi pengungsian juga menjadi bagian dari upaya memberikan penguatan moril kepada warga.

Menurut Ny. Fista, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan berupa kebutuhan dasar, tetapi juga perhatian, pendampingan dan kepedulian dari semua pihak.

TP PKK Kabupaten Sikka, lanjutnya, akan terus mengambil bagian dalam upaya penanganan dampak bencana sesuai dengan kapasitasnya, termasuk melalui kegiatan sosial, pendampingan keluarga dan penguatan kelompok masyarakat.

Ny. Fista berharap kolaborasi seperti yang dilakukan bersama Yayasan Seribu Cita Bangsa dapat terus dikembangkan sehingga semakin banyak masyarakat terdampak gempa yang mendapatkan manfaat dan dukungan.

“Semoga sinergi dan kepedulian seperti ini terus terbangun. Kita ingin memastikan masyarakat Sikka tidak menghadapi musibah ini sendirian. Pemerintah, PKK, lembaga sosial, dunia usaha dan seluruh elemen masyarakat harus bersama-sama hadir dan saling menguatkan,” pungkasnya.

Penyaluran bantuan di Eks Pasar Talibura tersebut menjadi salah satu wujud nyata semangat gotong royong dalam menghadapi bencana. Di tengah kondisi pascagempa, solidaritas dan kolaborasi berbagai pihak diharapkan terus menguat untuk membantu masyarakat Kabupaten Sikka bangkit dan memulihkan kehidupan mereka, katanya.

Reporter : Faidin

Gempa M7,7 Mbay Berdampak Fatal di Sikka, Data 17 Agustus Catat Enam Korban Jiwa. Paling Tragis di Pelabuhan L. Say Maumere

Sikka, Bajopos.com | Dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali memperlihatkan jejak duka di Kabupaten Sikka.

Berdasarkan data korban jiwa dampak bencana gempa bumi di wilayah Kabupaten Sikka per 17 Agustus 2026 pukul 15.00 WITA, tercatat enam orang meninggal dunia.

Gempa tersebut terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 sekitar pukul 04.58 WIB. Berdasarkan pembaruan BMKG, gempa memiliki magnitudo 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer dan episentrum berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Enam korban jiwa yang tercatat dalam data Kabupaten Sikka masing-masing adalah Paji Ratu, Maria Diana Melana, Paskalis Nong, Sophia, Fr. Leonardus Noprianto Waku, dan Bernardus Muda.

Data tersebut menunjukkan bahwa dampak gempa tidak hanya berupa kerusakan bangunan dan kepanikan warga, tetapi juga telah merenggut nyawa masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Sikka.

Salah satu titik paling tragis berada di kawasan Pelabuhan Lorens Say Maumere. Sejumlah korban dilaporkan tertimpa bangunan ruang tunggu pelabuhan.

Pada laporan awal BNPB, dua orang dinyatakan meninggal dunia di kawasan Pelabuhan El Say, Kabupaten Sikka, sementara satu orang lainnya mengalami luka-luka.

Dalam data terbaru Kabupaten Sikka tersebut, korban yang berasal dari sejumlah wilayah tercatat dengan latar belakang berbeda.

Ada korban yang meninggal akibat tertimpa bangunan, sementara korban lainnya meninggal setelah mengalami kondisi kesehatan yang memburuk pascagempa.

Salah satunya, Paskalis Nong, warga Kota Uneng, Kecamatan Alok. Dalam kronologi yang tercantum pada data, korban sebelumnya mengalami sakit dan menjalani pemeriksaan di RSUD T.C. Hillers Maumere.

Setelah gempa, korban dievakuasi ke rumah keluarganya. Kondisinya kemudian memburuk hingga akhirnya meninggal dunia di rumah pada 19 Agustus 2026.

Sementara itu, Fr. Leonardus Noprianto Waku, yang tercatat berasal dari wilayah Nita, dilaporkan mengalami kondisi kritis setelah tertimpa material bangunan lantai dua Asrama Seminari Ritapiret. Korban sempat dirujuk ke RSUD T.C. Hillers Maumere sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Korban lainnya, Sophia, warga Wolokoli, Kecamatan Bola, dilaporkan tertimpa bangunan ruang tunggu pelabuhan. Ia ditemukan sekitar pukul 10.00 WITA dan kemudian dibawa ke RSUD T.C. Hillers Maumere, namun nyawanya tidak tertolong.

Gempa M7,7 tersebut memang berpusat di laut sekitar Mbay, Nagekeo, tetapi guncangannya dirasakan luas di Pulau Flores dan menyebabkan dampak di sejumlah kabupaten.

BMKG mencatat gempa terjadi pada kedalaman relatif dangkal, yakni 15 kilometer, sehingga guncangannya terasa kuat di berbagai wilayah.

Di Sikka, tragedi tersebut menambah panjang daftar warga yang harus menghadapi kehilangan keluarga, kerusakan rumah dan fasilitas umum, serta trauma akibat guncangan yang terjadi pada dini hari.

Enam nama dalam data korban jiwa Kabupaten Sikka itu kini menjadi bagian dari catatan duka akibat gempa besar yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.

Reporter : Faidin

Hari Kelima, Pengungsi Gempa di Nangahale, Warga Dusun Namandoi Keluhkan Bantuan Tak Merata “Perangkat Desa Urus Keluarga Saja”

SIKKA, Bajopos.com | Memasuki hari kelima pascagempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, kondisi para pengungsi di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, masih memprihatinkan.

Hingga Rabu, 19 Agustus 2026, para warga terdampak yang mengungsi di sejumlah titik di Desa Nangahale, mengaku belum mendapatkan tenda pengungsian. Mereka masih bertahan dengan perlengkapan seadanya, termasuk terpal yang digunakan sebagai alas maupun pelindung sementara.

Kondisi tersebut paling banyak dikeluhkan warga terdampak asal Dusun Namandoi, Desa Nangahale.

Mereka mempertanyakan pola penyaluran bantuan yang dinilai belum merata, terutama terkait pembagian terpal dan kebutuhan dasar lainnya.

Sejumlah warga bahkan menilai terdapat perlakuan yang tidak adil dalam pendistribusian bantuan kepada para pengungsi.

“Kepala Desa hanya urus keluarganya, perangkat desa lainnya juga sama, hanya urus keluarga masing-masing,” keluh warga kepada media ini.

Keluhan itu muncul karena kebutuhan warga di lokasi pengungsian tidak seluruhnya dapat terpenuhi secara merata.

“Yang kami persoalkan bukan bantuan siapa yang dapat dan siapa yang tidak. Kami hanya ingin pembagian dilakukan secara merata dan  adil karena semua yang mengungsi sama-sama terdampak,” demikian keluhan warga yang dihimpun di lokasi pengungsian.

Ketiadaan tenda menjadi persoalan serius karena para pengungsi harus bertahan selama berhari-hari dalam kondisi terbuka.

Terpal yang tersedia pun sebagian hanya digunakan sebagai alas di tanah, sementara perlindungan yang layak dari panas, hujan, maupun angin masih menjadi kebutuhan mendesak.

Situasi ini semakin memprihatinkan karena kelompok rentan turut berada di tengah pengungsian. Anak-anak dalam jumlah banyak harus menjalani hari-hari mereka di lokasi pengungsian dengan fasilitas terbatas.

Selain anak-anak, terdapat pula penyandang disabilitas yang ikut mengungsi. Kondisi mereka membutuhkan perhatian dan fasilitas khusus agar dapat menjalani masa pengungsian secara aman dan layak.

Kondisi tersebut membuat warga berharap pemerintah dan seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan bencana tidak hanya berfokus pada pendataan, tetapi juga memastikan bantuan benar-benar sampai kepada seluruh warga yang membutuhkan.

Bagi warga Dusun Namandoi, persoalan tenda bukan sekadar kebutuhan tempat berteduh. Setelah lima hari meninggalkan rumah akibat gempa, mereka membutuhkan kepastian bahwa keselamatan dan kebutuhan dasar seluruh pengungsi diperhatikan secara adil.

Apalagi, trauma akibat gempa masih dirasakan warga. Sebagian memilih tetap bertahan di lokasi pengungsian karena khawatir kembali ke rumah, sementara fasilitas pengungsian yang tersedia belum sepenuhnya mampu memberikan rasa aman.

Warga berharap pemerintah segera turun langsung melihat kondisi pengungsian di Dusun Namandoi dan memastikan tidak ada kelompok pengungsi yang terlewat dalam distribusi bantuan.

“Jangan sampai ada warga yang merasa dianaktirikan. Kami semua korban gempa dan sama-sama membutuhkan bantuan,” ujar warga yang enggan di sebut namanya ditengah kondisi pengungsian yang memasuki hari kelima.

Situasi di Nangahale menjadi pengingat bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada evakuasi warga. Perlindungan terhadap kelompok rentan, penyediaan tenda yang layak, pemerataan bantuan, serta pengawasan distribusi menjadi bagian penting dari tanggung jawab penanganan pascabencana.

Hingga hari kelima, warga Dusun Namandoi masih menunggu perhatian dan tindakan nyata agar mereka tidak terus bertahan hanya dengan terpal seadanya di tengah kondisi yang serba terbatas.

Reporter : Faidin