SIKKA, Bajopos.com | Di tengah bencana gempa bumi yang mengguncang Flores, ada satu kelompok yang kerap luput dari perhatian: para pewarta atau wartawan.
Mereka berada di tengah masyarakat ketika bencana terjadi. Mereka mendatangi lokasi kerusakan, posko pengungsian, rumah-rumah warga terdampak, hingga tempat-tempat yang sulit dijangkau untuk memastikan kondisi masyarakat diketahui publik.
Namun, di balik kamera, mikrofon, buku catatan dan telepon genggam yang digunakan untuk bekerja, para pewarta juga memiliki rumah, keluarga dan kehidupan yang tidak luput dari dampak gempa.
Dengan kata lain, wartawan yang memberitakan korban bencana tidak selalu berada di luar lingkaran korban. Mereka pun bisa menjadi korban yang tetap bekerja.

Karena itu, kepedulian Astra Group terhadap para pewarta terdampak gempa di Kabupaten Sikka patut mendapat apresiasi dan ucapan terima kasih.
Melalui program Nurani Astra Berbagi (Astra SOS), Astra Group menyalurkan bantuan paket sembako kepada 30 jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Rabu (26/8/2026).
Bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi wartawan yang sedang berada dalam situasi sulit akibat bencana, perhatian itu memiliki makna yang jauh lebih besar.
Bukan semata-mata tentang isi paket bantuan, tetapi tentang pesan kemanusiaan yang menyertainya: bahwa mereka yang selama ini bekerja menyampaikan suara masyarakat juga tidak dilupakan ketika mereka sendiri membutuhkan perhatian.
Wartawan Adalah Mitra Astra
Fasilitator Desa Sejahtera Astra Group, Vonny Francis, mengatakan wartawan merupakan mitra Astra, terutama dalam menyampaikan berbagai program perusahaan kepada masyarakat.
“Astra Group menyadari bahwa wartawan itu adalah mitra kami dalam memublikasikan program-program yang Astra Group persembahkan untuk negeri ini melalui program Desa Sejahtera Astra,” ujar Vonny.
Menurutnya, peran wartawan tidak berhenti pada publikasi. Media juga memiliki fungsi penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat sekaligus menjadi bagian dari pengawasan sosial terhadap berbagai program yang dilaksanakan.
“Kehadiran wartawan sering sekali membantu kami untuk mengedukasi masyarakat. Tujuan paling utama adalah bagaimana mengedukasi masyarakat dan juga sekaligus menjadi bagian dari mata masyarakat untuk mengawasi kerja-kerja kami,” jelasnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara dunia usaha dan media bukan semata-mata hubungan publikasi.
Wartawan adalah mitra dalam menyampaikan informasi, mengedukasi masyarakat, membuka ruang komunikasi, sekaligus membantu memastikan berbagai program yang hadir di tengah masyarakat diketahui dan dipahami dengan baik.
Dalam situasi bencana, peran itu menjadi semakin penting.
Vonny; Saat Wartawan Mengabarkan Bencana, Mereka Juga Terdampak
Vonny menyebut, ketika masyarakat berada di pengungsian, wartawan datang untuk meliput.
Ketika bantuan belum tiba, wartawan memberitakannya.
Ketika ada warga yang kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar, wartawan berusaha mengangkat persoalan tersebut.
Ketika kondisi di lapangan membutuhkan perhatian pemerintah dan masyarakat luas, wartawan menjadi salah satu pihak yang menyampaikan informasi tersebut kepada publik.
Namun, tidak banyak yang bertanya apakah wartawan yang datang ke lokasi itu juga terdampak.
Tidak sedikit pewarta yang harus meninggalkan keluarga demi mengejar informasi. Ada yang bekerja dalam kondisi lelah, kurang tidur, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, bahkan bekerja dalam kondisi rumah dan keluarganya sendiri ikut terdampak gempa.
Disinilah Astra Group memahami bahwa kepedulian Astra menjadi berarti.
Bantuan kepada wartawan terdampak kata Vonny bukan berarti memberikan keistimewaan kepada pers. Ini adalah bentuk kepedulian kemanusiaan kepada individu yang kebetulan berprofesi sebagai wartawan.
Mereka juga korban. Mereka juga memiliki keluarga. Mereka juga memiliki kebutuhan dasar.
Dan yang tidak kalah penting, mereka tetap memilih bekerja ketika situasi belum sepenuhnya pulih.
Atas perhatian tersebut, ucapan terima kasih layak disampaikan kepada Astra Group melalui program Nurani Astra Berbagi.
Di tengah banyaknya perhatian yang tertuju kepada warga yang kehilangan rumah, berada di pengungsian atau membutuhkan bantuan, kata Vonny, Astra justru memilih melihat sisi lain yang sering terlupakan: para pewarta yang juga terdampak, tetapi tetap berdiri membawa suara masyarakat.
Bantuan ini tiada lain, sekaligus mengingatkan bahwa dalam situasi bencana, kita tidak boleh hanya melihat siapa yang diberitakan sebagai korban.
Kita juga perlu melihat siapa yang terus bekerja untuk memberitakan mereka.
Wartawan membantu masyarakat memperoleh informasi. Tetapi pada saat yang sama, wartawan juga membutuhkan dukungan, perhatian dan kepedulian ketika bencana ikut menyentuh kehidupan mereka.
Apa yang dilakukan Astra hari ini hemat Vonny, memberikan pesan sederhana namun penting, dimana kepedulian kemanusiaan seharusnya tidak mengenal profesi.
Kepedulian yang Diharapkan Menjadi Gerakan Bersama
Ia mengutarakan bahwa kepedulian Astra terhadap wartawan terdampak gempa diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan sesaat, tetapi menjadi inspirasi bagi berbagai pihak.
“Pemerintah, dunia usaha, lembaga sosial, organisasi kemasyarakatan dan seluruh elemen masyarakat dapat melihat bahwa wartawan juga merupakan bagian dari ekosistem penanggulangan bencana,” kata Vonny.
“Mereka memang bukan petugas evakuasi. Mereka bukan tenaga medis. Mereka bukan relawan logistik. Tetapi wartawan membantu memastikan apa yang terjadi di lapangan diketahui publik,” ujar Vonny.
Ia menekankan bahwa dalam penanganan bencana, informasi yang benar juga merupakan bagian dari pertolongan.
Karena itu, kata Dia, ketika seorang wartawan terdampak bencana tetap memilih bekerja, yang seharusnya hadir bukan hanya tuntutan agar mereka terus memberitakan keadaan, tetapi juga kepedulian terhadap kondisi mereka.
“Hari ini, Astra telah menunjukkan bahwa wartawan tidak harus selalu dilihat sebagai orang yang datang untuk meliput korban. Wartawan juga bisa menjadi korban. Dan ketika mereka menjadi korban namun tetap bekerja untuk menyuarakan kondisi masyarakat, perhatian terhadap mereka bukanlah sebuah keistimewaan, melainkan bentuk penghargaan terhadap kemanusiaan dan profesi yang mereka jalankan,” ucapnya.
Ia sebagai pribadi pun berterima kasih kepada Asrta Group karena telah melihat mereka yang selama ini berdiri di belakang berita.
“Semoga kepedulian ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap berita tentang bencana, ada pewarta yang juga sedang berjuang—dan mungkin, pada saat yang sama, sedang berjuang untuk keluarganya sendiri,” tutupnya.
Reporter : Faidin

