Tujuh Telur, Satu Cerita, dan Pengakuan di Panggung Jurnalistik Japfa 2026
JAKARTA, Bajopos.com | Sebuah cerita sederhana tentang seorang anak dan tujuh butir telur membawa jurnalis Dailyklik.id, Deddy Gunawan Hutajulu, menorehkan prestasi dalam kontestasi Anugerah Karya Jurnalistik Japfa 2026.
Melalui karya berjudul “Ayfa, Tujuh Telur dan Batas Sebuah Klaim”, Deddy meraih Juara Harapan 3 dalam kategori Karya Jurnalistik Online. Penghargaan tersebut menjadi apresiasi atas karya jurnalistik yang mengangkat perjalanan 18 tahun Japfa for Kids dalam mendukung isu kesehatan dan gizi anak.
Yang menarik, kekuatan karya Deddy tidak berhenti pada cerita tentang tujuh butir telur.
Ia menjadikan telur sebagai pintu masuk untuk membawa pembaca menyelami persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana pemenuhan gizi anak berlangsung dalam kehidupan nyata, bagaimana sebuah program diterima masyarakat, serta bagaimana klaim mengenai manfaat sebuah program dapat dilihat dan diuji melalui pengalaman di lapangan.
Tujuh Telur Menjadi Sebuah Pertanyaan
Judul “Ayfa, Tujuh Telur dan Batas Sebuah Klaim” menjadi bagian penting dari kekuatan tulisan tersebut.
Deddy tidak sekadar menempatkan seorang anak sebagai tokoh dalam sebuah cerita, tetapi menjadikan pengalaman Ayfa sebagai titik berangkat untuk mempertanyakan sesuatu yang lebih mendasar.
Apa arti tujuh butir telur bagi seorang anak?
Pertanyaan itu kemudian berkembang menjadi persoalan mengenai pangan, kesehatan, kecukupan gizi, serta dampak nyata sebuah program bagi mereka yang menjadi penerima manfaat.
Dengan pendekatan tersebut, persoalan gizi tidak disajikan sebatas angka, data atau narasi program. Deddy menghadirkannya melalui pengalaman manusia—sebuah pendekatan yang membuat isu besar tentang gizi anak terasa lebih dekat dengan pembaca.
Di situlah karya tersebut menemukan kekuatannya. Tujuh telur bukan lagi sekadar tujuh telur. Ia menjadi simbol dari sebuah pengalaman yang kemudian membuka ruang bagi pertanyaan jurnalistik tentang manfaat, dampak, dan batas sebuah klaim.
Karya yang Berangkat dari Lapangan
Kontestasi Anugerah Karya Jurnalistik Japfa 2026 mempertemukan karya-karya jurnalistik yang mengangkat berbagai sisi persoalan kesehatan dan gizi anak.
Cerita yang dihadirkan para peserta datang dari beragam latar, mulai dari sekolah, guru, anak-anak, hingga pengalaman masyarakat di berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan Indonesia bagian timur.
Dalam kategori Karya Jurnalistik Online, Juara 1 diraih Dudy Oskandar dari beritapagi.co.id, Juara 2 diraih Muhammad Mutaqin dari TVRI News.com, sedangkan Juara 3 diraih Ardi dari RRI Merauke.
Sementara itu, Deddy Gunawan Hutajulu melalui karya “Ayfa, Tujuh Telur dan Batas Sebuah Klaim” berhasil meraih Juara Harapan 3.
Posisi tersebut menambah catatan dalam perjalanan jurnalistik Deddy, khususnya dalam mengolah isu sosial melalui cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Bukan Sekadar Penghargaan
Penghargaan dalam sebuah lomba jurnalistik bukan hanya berbicara mengenai posisi pemenang. Di balik sebuah karya terdapat proses memilih sudut pandang, menemukan persoalan, menggali cerita, kemudian menyusunnya menjadi tulisan yang mampu membawa pembaca melihat realitas dari perspektif yang berbeda.
Karya Deddy memperlihatkan bagaimana isu gizi anak dapat didekati dari cerita yang sangat sederhana. Seorang anak. Tujuh butir telur. Lalu sebuah pertanyaan tentang batas sebuah klaim.
Dari sana, lahir sebuah tulisan yang menghubungkan cerita personal dengan persoalan publik: pangan, kesehatan, gizi anak, program sosial, serta harapan terhadap tumbuhnya generasi yang lebih sehat.
Bagi Deddy Gunawan Hutajulu, “Ayfa, Tujuh Telur dan Batas Sebuah Klaim” kini bukan hanya sebuah judul tulisan yang masuk dalam kontestasi Anugerah Karya Jurnalistik Japfa 2026.
Judul itu bukti sebuah karya jurnalistik tidak selalu harus dimulai dari persoalan besar.
Kadang, tujuh butir telur sudah cukup untuk membuka pertanyaan besar tentang kehidupan.(Faidin)

