Februari 20, 2026

Iman, Ilmu, dan Amal dalam Pandangan Buya Hamka

Oleh: Muhammad Dwifajri (Dosen Uhamka, Jakarta)

Iman dalam ajaran Islam bukan sekadar pengakuan lisan. Ia adalah pusat keyakinan yang menuntut pembuktian dalam tindakan nyata. Dalam pandangan Buya Hamka, pernyataan “Amantu billâh” (aku beriman kepada Allah) bukan hanya ucapan simbolik, melainkan pengakuan kesadaran bahwa seseorang telah mengenal dan meyakini Allah sepenuh hati.

Pernyataan itu dilanjutkan dengan “wa aslamtu lahu”—aku berserah diri kepada-Nya. Artinya, keimanan tidak berhenti pada keyakinan batin, tetapi berlanjut pada sikap tunduk dan patuh terhadap seluruh perintah dan larangan Allah sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Di sinilah iman menjelma menjadi Islam dalam makna yang utuh: kepasrahan total (kaffah) kepada kehendak Ilahi.

Iman dan Amal: Dua Sisi yang Tak Terpisahkan

Hamka menegaskan, hubungan iman dan amal ibarat budi dan perangai. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Iman tanpa amal adalah pengakuan kosong, sementara amal tanpa iman kehilangan kemurnian dan arah.

Menurutnya, amal mencakup kerja, usaha, kegiatan hidup, serta pelaksanaan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Iman yang benar akan melahirkan amal saleh; dan amal saleh menjadi bukti hidupnya iman. Dalam kerangka berpikir Islam, agama tidak bisa dipisahkan dari lima unsur pokok: akidah, amal dan aktivitas hidup, undang-undang, kekuasaan, serta pemerintahan.

Karena itu, akidah yang kuat akan memancarkan amal yang kuat pula. Hamka bahkan menegaskan bahwa tidak pernah dijumpai dalam Al-Qur’an pernyataan iman yang berdiri sendiri tanpa diiringi amal saleh. Semakin kokoh iman seseorang, semakin nyata pula ketaatannya dalam menjalankan perintah agama.

Sebaliknya, iman yang tidak berbuah amal disebut Hamka sebagai “pendustaan jiwa”. Pengakuan tanpa bukti hanya akan melahirkan kehampaan spiritual. Dalam konteks sosial, kondisi ini dapat menggerus makna Islam dalam kehidupan masyarakat. Nama boleh saja Islam, tetapi ruhnya telah hilang.

Pandangan ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Ma’un ayat 1–7, yang menegaskan bahwa pendusta agama adalah mereka yang mengabaikan anak yatim, enggan memberi makan orang miskin, serta lalai dan riya dalam salatnya. Ayat ini menjadi kritik keras terhadap praktik keberagamaan yang berhenti pada ritual, tetapi kosong dari kepedulian sosial.

Rusak dan binasanya hati karena amal dan iman yang tak berpadu ini disandarkan Hamka pada firman Allah S. W.T.

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ – فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ – فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ
الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ ࣖ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria, dan enggan (memberikan) bantuan.” (Q.S Al-Mâûn [107]: 1 – 7)

Bagi Hamka, salat yang tidak melahirkan kepekaan sosial dan keikhlasan hanyalah gerakan tanpa makna. Takbir yang diucapkan dengan lisan tidak bernilai jika hati tidak benar-benar mengagungkan Allah. Inilah bentuk keterputusan antara iman dan amal yang ia kritik tajam.

Ilmu sebagai Fondasi Iman

Selain amal, iman juga memiliki hubungan erat dengan ilmu. Hamka menekankan bahwa iman yang kokoh harus bertumpu pada kesadaran intelektual. Semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin dekat ia kepada Allah.

Akal, menurut Hamka, adalah anugerah yang mengantarkan manusia kepada pengenalan terhadap Sang Pencipta. Ia mengajak manusia merenungi alam: daun yang bergoyang, desir angin, debur ombak. Semua itu menjadi jalan bagi akal dan hati untuk menyadari keberadaan Allah.

Proses pengenalan ini tidak berhenti pada pancaindra, tetapi berlanjut pada perenungan batin. Hati—yang oleh Hamka dimaknai sebagai pusat kesadaran ruhani—akan semakin terang ketika akal digunakan secara jujur dan mendalam. Dari sinilah iman tumbuh sebagai hasil perjalanan intelektual dan spiritual, bukan sekadar warisan turun-temurun.

Hamka bahkan mengutip hadis Nabi yang menyatakan bahwa agama berkaitan erat dengan akal. Maksudnya, keberagamaan yang sehat menuntut kesadaran dan pemahaman, bukan sekadar ikut-ikutan. Iman yang tidak didasari ilmu mudah goyah, karena tidak berakar pada kesadaran pribadi.

Kesatuan yang Integral

Dalam perspektif Hamka, iman, ilmu, dan amal memang berbeda secara konsep, tetapi tidak dapat dipisahkan dalam praktik kehidupan. Ilmu memperkuat iman, iman menggerakkan amal, dan amal menjadi bukti hidupnya iman.

Keimanan yang lahir dari perjalanan akal dan disertai kesediaan untuk tunduk kepada Allah akan menghadirkan kepuasan batin yang mendalam. Sebaliknya, iman yang hanya menjadi slogan tanpa ilmu dan amal akan kehilangan maknanya.

Di tengah tantangan zaman modern, gagasan Hamka ini tetap relevan. Umat tidak cukup hanya bangga dengan identitas keislaman. Yang lebih penting adalah menghadirkan iman yang cerdas, amal yang nyata, dan ilmu yang membimbing keduanya. Sebab, sebagaimana ditegaskan Hamka, kelezatan iman hanya dirasakan oleh mereka yang menggunakan akal dan membuktikan keyakinannya dalam perbuatan.

Penulis : Dosen UHAMKA

Editor : Faidin

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *