Kam. Sep 24th, 2026

NTT

Warga Kojagete, Ibu Ninung dan Anaknya Iman Dilaporkan Hilang di Kota Maumere

SIKKA, Bajopos.com — Seorang ibu muda bersama anaknya yakni Ninung dan Iman warga asal Gusung Karang, RT 006/RW 002, Desa Kojagete, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka dilaporkan hilang pada Rabu, 1 April 2026 sekitar pukul 10.00 Wita.

Berita kehilangan ini bermula saat itu korban diketahui berpamitan dari rumah kerabat (bibinya) di Jalan Raya Masjid, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Kota Maumere untuk kembali ke kediamannya di Pulau Kojagete.

Hingga hari ini keduanya belum kembali ke kampungnya dan belum diketahui keberadaannya.

Keluarga berharap bantuan masyarakat untuk membantu proses pencarian.

Adapun identitas korban yakni Ninung (25), seorang ibu rumah tangga, bersama anaknya Iman yang berusia sekitar 10 tahun.

Pelapor yang juga keluarga korban, Zainudin Tasdin (44), menyampaikan bahwa hingga laporan dibuat, Ninung dan anaknya belum tiba di rumah sebagaimana yang direncanakan.

Berbagai upaya pencarian telah dilakukan oleh pihak keluarga, termasuk menghubungi kerabat di sejumlah wilayah seperti Pulau Pemana, Desa Nangahale, Dusun Waipare, hingga Kota Uneng, namun belum membuahkan hasil.

“Kami sudah berusaha mencari dan menghubungi keluarga di beberapa lokasi, tetapi sampai sekarang belum ada kabar keberadaan mereka,” ujar Zainudin.

Atas kejadian tersebut, pihak keluarga telah melaporkan secara resmi pada Kamis, 9/4/2026 ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Alok.

Laporan tersebut tercatat dengan Nomor: 1/GANGGUAN/B/IV/2026/SPKT/POLSEK ALOK/Polres Sikka/Polda NTT, tertanggal 9 April 2026.

Pihak kepolisian bersama keluarga kini terus melakukan upaya pencarian dan mengimbau masyarakat yang mengetahui informasi terkait keberadaan korban agar segera melapor ke kantor polisi terdekat.

Bagi warga yang melihat atau memiliki informasi mengenai Ninung dan Iman, diminta untuk segera menghubungi Polsek Alok, Polres Sikka, atau Call Center Polres Sikka di nomor 110 maupun kontak Humas Polres Sikka di 0822-3765-7607.

Reporter : Faidin
Sumber : Humas Polres Sikka

Menagih Janji “Akses Pusat”: Satu Tahun Kepemimpinan Bupati Sikka Disorot Diaspora

JAKARTA, BAJOPOS.COM – Satu tahun masa kepemimpinan Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, menjadi momentum evaluasi yang memantik sorotan tajam dari kalangan diaspora.

Aliansi Diaspora Maumere Jakarta menilai, periode yang semestinya menjadi fondasi perubahan justru memperlihatkan jurang lebar antara janji politik dan realitas di lapangan.

Gagasan “Maumere Baru” yang dahulu digaungkan dalam kampanye kini dipandang mengalami pergeseran makna. Harapan besar masyarakat, menurut aliansi, belum terjawab secara konkret, sementara sejumlah persoalan mendasar menunjukkan tanda-tanda stagnasi.

Salah satu janji yang paling diingat publik adalah klaim kedekatan Bupati dengan pemerintah pusat. Pernyataan mengenai kepemilikan hampir seluruh nomor kontak menteri di kabinet Presiden Prabowo Subianto sempat membangun optimisme akan percepatan pembangunan daerah.

“Narasi ini sempat menumbuhkan harapan akan percepatan pembangunan melalui akses langsung ke pusat kekuasaan,” ujar aliansi dalam keterangan tertulis, Kamis (2/4/2026).

Namun, kondisi di lapangan justru memperlihatkan kontras. Di Desa Ojang, Kecamatan Talibura, aktivitas belajar mengajar masih diwarnai risiko tinggi. Guru dan siswa terpaksa menyeberangi sungai tanpa jembatan setiap hari demi mencapai sekolah.

“Fenomena ini mencerminkan ketimpangan pembangunan infrastruktur dasar,” tegas aliansi.

Persoalan ini tidak berdiri sendiri. Data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menunjukkan wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk Sikka, masih menghadapi tantangan besar dalam penyediaan jembatan desa akibat faktor geografis dan keterbatasan anggaran. Dampaknya menjalar ke berbagai sektor layanan publik.

Di bidang pendidikan, kondisi SMPN 48 Sa Ate Gaikiu menjadi cerminan krisis fasilitas. Proses belajar berlangsung di bangunan yang nyaris roboh dengan sarana yang minim.

“Hal ini jelas bertentangan dengan standar nasional pendidikan yang mengharuskan tersedianya ruang kelas layak.”

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan rata-rata lama sekolah di NTT masih berada pada kisaran 8,2–8,6 tahun, tertinggal dari rata-rata nasional yang mencapai sekitar 9,1–9,3 tahun.

Keterbatasan infrastruktur pendidikan disebut menjadi salah satu faktor penghambat peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendasar yakni, sejauh mana jaringan nasional tersebut benar-benar berdampak bagi masyarakat di tingkat akar rumput?” pungkas aliansi.

Sorotan juga mengarah pada kebijakan penutupan Pasar PNPM Wuring yang dinilai belum matang. Relokasi ke Pasar Alok tidak berjalan efektif, membuat banyak pedagang memilih berjualan di pinggir jalan dengan risiko penurunan pendapatan dan kecelakaan.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa penataan ekonomi rakyat tidak bisa dilakukan secara sepihak tanpa perencanaan matang.”

Di kawasan perkotaan, wajah Kota Maumere turut diselimuti persoalan klasik. Tumpukan sampah masih terlihat di berbagai titik, mencerminkan lemahnya sistem pengelolaan limbah. Masalah drainase memperparah situasi, dengan genangan air yang kerap muncul saat hujan.

“Dalam konteks perencanaan kota, kondisi ini mengindikasikan kurangnya investasi pada infrastruktur dasar yang krusial,” ujar aliansi.

Kondisi infrastruktur jalan juga tak luput dari kritik. Akses menuju Bandara Frans Seda, sebagai pintu utama mobilitas, dilaporkan rusak dan mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Padahal, menurut Kementerian Perhubungan, kualitas infrastruktur transportasi berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Jalan yang rusak tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga meningkatkan biaya logistik dan menurunkan daya saing wilayah,” tegas aliansi.

Kerusakan serupa terjadi di sejumlah titik strategis, termasuk di depan Rumah Jabatan Bupati dan akses menuju Pasar Alok. Kondisi ini dinilai menghadirkan ironi, karena pusat pemerintahan saja belum tertata dengan baik.

Data BPS menunjukkan belanja infrastruktur merupakan komponen penting dalam APBD untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketika infrastruktur dasar tidak terawat, efektivitas kebijakan pembangunan pun dipertanyakan.

Dalam penilaiannya, aliansi melihat kepemimpinan saat ini lebih menonjolkan pencitraan dibandingkan kerja nyata. Aktivitas di media sosial dianggap tidak sebanding dengan capaian konkret di lapangan.

Perjalanan dinas ke Jakarta pun ikut disorot. Dalam prinsip tata kelola pemerintahan yang baik, penggunaan anggaran publik harus memiliki manfaat yang jelas dan terukur. Tanpa transparansi, kegiatan tersebut berpotensi membebani keuangan daerah.

“Rakyat Sikka tidak butuh pemimpin yang hanya jago melakukan framing dan menggiring opini di media sosial. Rakyat butuh pemimpin yang bekerja nyata.”

Sebagai bentuk desakan, aliansi meminta Bupati segera membuktikan klaim “jaringan pusat” melalui pembangunan konkret, terutama pada infrastruktur dasar seperti jembatan dan sekolah. Mereka juga mendesak agar praktik gimik politik dihentikan, dan fokus dialihkan pada penyelesaian persoalan riil masyarakat.

Selain itu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diminta melakukan audit transparansi anggaran, khususnya terkait perjalanan dinas dan penggunaan sumber daya daerah.

“Jika tidak ada perubahan signifikan dalam sisa masa jabatan, kami menilai kepemimpinan saat ini berpotensi dikenang sebagai periode di mana narasi lebih dominan daripada realitas pembangunan,” tutup aliansi.

Penulis : Petrus Fidelis Ngo

Editor : Redaksi

Pembangunan Masjid Baitusshodiq Nangahale Jadi Simbol Gotong Royong Umat

SIKKA, BAJOPOS.COM – Semangat gotong royong dan nilai-nilai keagamaan terus hidup di tengah masyarakat Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Hal itu tercermin dari perjuangan panjang panitia dan umat dalam menyelesaikan pembangunan Masjid Baitusshodiq yang telah berlangsung lebih dari delapan tahun.

Di tengah keterbatasan, panitia tak berhenti bergerak. Mereka menyambangi rumah-rumah warga, melintasi blok-bkok, lorong, kampung, hingga desa-desa sekitar untuk mengajak partisipasi umat.

Upaya ini menjadi cerminan kuatnya budaya solidaritas dan kepedulian sosial yang menjadi bagian dari jati diri bangsa.

Renovasi masjid dilakukan karena bangunan sebelumnya tidak lagi mampu menampung jumlah jemaah yang terus meningkat, terutama pada momentum hari-hari besar keagamaan.

Kehadiran masjid yang lebih representatif dinilai penting, tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan moral dan persatuan umat.

Namun, perjalanan pembangunan tidaklah mudah. Keterbatasan anggaran membuat proses pengerjaan berjalan bertahap dan hingga kini masih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Panitia pun mengajak umat di seluruh penjuru negeri untuk turut ambil bagian. Selain sebagai wujud kepedulian sosial, kontribusi dalam pembangunan rumah ibadah juga diyakini sebagai investasi spiritual yang bernilai jangka panjang.

“Amal jariyah seperti pembangunan masjid adalah warisan kebaikan yang tidak terputus. Pahalanya terus mengalir, menjadi cahaya bagi pemberinya, bahkan setelah kehidupan di dunia berakhir,” demikian pesan yang disampaikan panitia.

Sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih, para jemaah Masjid Baitusshodiq secara konsisten memanjatkan doa bagi para donatur.

Setiap hari Jumat, doa-doa khusus dipersembahkan, tidak hanya bagi para penyumbang, tetapi juga bagi keluarga mereka yang telah berpulang.

Harapan dipanjatkan agar setiap amal yang diberikan menjadi penolong di akhirat, serta menghadirkan ketenangan dan keberkahan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Nilai ini memperkuat makna bahwa pembangunan masjid bukan sekadar proyek fisik, melainkan juga ikhtiar bersama dalam merajut hubungan spiritual lintas generasi.

Masjid Baitusshodiq Nangahale. (Doc. Panitia)

Masjid Baitusshodiq berlokasi di Jalan Nasional Maumere–Larantuka, Blok E No.14, RT/RW 007/002, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT 86183.

Untuk informasi dan konfirmasi bantuan, masyarakat dapat menghubungi Sunardin, SH, selaku Ketua Bidang Usaha Dana di nomor 0822 1304 5359.

Pembangunan ini diharapkan menjadi bukti bahwa nilai religiusitas dan semangat persatuan tetap menjadi fondasi kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi generasi yang akan datang.

Reporter : Faidin

Mantan Bupati Alor Dua Periode, Amon Djobo Tutup Usia

ALOR, BAJOPOS.COM – Kabar duka menyelimuti masyarakat Kabupaten Alor. Mantan Bupati Alor dua periode, Amon Djobo, dikabarkan meninggal dunia pada Kamis (26/3/2026) petang.

Almarhum menghembuskan napas terakhir di RSUD Kalabahi. Informasi duka ini dibenarkan oleh pihak keluarga melalui salah satu kolega terdekat almarhum, Walter Datemoli.

Semasa hidupnya, Amon Djobo yang akrab disapa AJ pernah menjabat sebagai Bupati Alor selama dua periode, yakni 2013–2018 dan 2018–2023. Ia dikenal sebagai sosok birokrat senior sebelum terjun ke dunia politik.

Almarhum juga diketahui baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-66 pada 22 Februari 2026 lalu.

Sebelum wafat, almarhum memiliki riwayat penyakit jantung. Ia juga merupakan pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan pangkat terakhir Pembina Utama Muda (IV/d).

Kepergian Amon Djobo menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Alor, yang mengenalnya sebagai pemimpin dengan dedikasi panjang bagi daerah.

Reporter : Nursan

Pria Mengamuk di Kewapante, Tiga Warga Dibacok Saat Berkumpul di Dalam Rumah

SIKKA, BAJOPOS.COM – Aksi kekerasan menggemparkan warga Dusun Habihogor, Desa Watukobu, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Rabu (25/3/2026) malam. Seorang pria berinisial S (27) nekat melakukan penganiayaan berat menggunakan senjata tajam jenis parang terhadap tiga orang tetangganya.

Peristiwa berdarah itu terjadi sekitar pukul 21.00 WITA di dalam rumah salah satu korban. Saat kejadian, ketiga korban yakni YK (38), MM (46), dan JNR (29) tengah berkumpul, makan, minum, serta berkaraoke bersama.

Namun suasana santai tersebut berubah mencekam ketika pelaku tiba-tiba masuk ke dalam rumah sambil menghunus parang. Tanpa banyak kata, pelaku langsung menyerang dan membacok para korban secara membabi buta.

Korban yang tidak sempat menyelamatkan diri langsung menjadi sasaran amukan pelaku. Akibatnya, ketiganya mengalami luka berat disertai pendarahan hebat.

Warga yang mengetahui kejadian itu langsung panik. Ketiga korban kemudian dilarikan ke Rumah Sakit St. Gabriel Kewapante untuk mendapatkan perawatan intensif. Lokasi rumah sakit tersebut berjarak sekitar 7 kilometer dari Kota Maumere.

Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno melalui Kasi Humas Polres Sikka, Iptu Leonardus Tunga, membenarkan adanya peristiwa dugaan penganiayaan berat tersebut.

“Benar, telah terjadi dugaan tindak pidana penganiayaan berat pada Rabu, 25 Maret 2026 sekitar pukul 21.00 WITA di Habihogor, Desa Watukobu, Kecamatan Kewapante,” ujar Leonardus Tunga, Kamis (26/3/2026) pagi.

Ia menjelaskan, personel Polsek Kewapante bersama Polres Sikka langsung turun ke tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan olah TKP serta tindakan kepolisian lainnya sesaat setelah laporan diterima.

Selain itu, aparat kepolisian bersama Koramil Kewapante juga bergerak cepat menenangkan warga yang sempat tersulut emosi atas tindakan pelaku.

Hingga kini, motif di balik aksi brutal tersebut belum diketahui dan masih dalam penyelidikan pihak kepolisian.

“Proses penyelidikan sementara masih berjalan. Keterangan lengkap akan disampaikan melalui konferensi pers setelah rangkaian tindakan kepolisian selesai dilakukan,” tambahnya.

Peristiwa ini menambah daftar kasus kekerasan yang terjadi di wilayah Sikka dan menjadi perhatian serius aparat keamanan setempat.

Reporter : Faidin

Darah, Dendam, dan Parang: Luka 5 Tahun yang Pecah di Siang Bolong

SIKKA, BAJOPOS.COM – Siang itu, Selasa (24/3/2026), Jalan Ahmad Yani di Kota Maumere tampak seperti hari biasa. Lalu lintas berjalan, warga beraktivitas, dan tak ada tanda bahwa sebuah dendam lama akan meledak menjadi kekerasan brutal.

Namun sekitar pukul 13.15 WITA, ketenangan itu pecah—sebilah parang berbicara menggantikan kata-kata yang tak pernah selesai selama lima tahun.

Kasus dugaan tindak pidana penganiayaan ini kini ditangani aparat Polres Sikka setelah dilaporkan secara resmi melalui SPKT dengan nomor LP/B/39/III/2026/SPKT/Polres Sikka/Polda Nusa Tenggara Timur.

Korban berinisial A.A (55), seorang petani asal Nangalimang, mengalami luka serius setelah diserang oleh terlapor M.E (55), yang juga berprofesi sebagai petani dan berasal dari wilayah yang sama. Luka sabetan parang mengenai perut sebelah kiri korban, disertai luka gores di bagian siku tangan.

Namun di balik luka fisik itu, tersimpan luka yang jauh lebih lama—dendam keluarga yang disebut-sebut telah membara selama lima tahun.

Dendam yang Dipelihara, Bukan Diselesaikan

Berdasarkan keterangan saksi, konflik antara korban dan terlapor bukanlah persoalan baru. Perselisihan keluarga yang tak kunjung diselesaikan diduga menjadi bara yang terus dipelihara, hingga akhirnya meledak dalam bentuk kekerasan terbuka.

Pertanyaannya, mengapa konflik selama itu tidak pernah menemukan jalan damai?

Di banyak komunitas lokal, persoalan keluarga sering kali diselesaikan secara adat atau kekeluargaan. Namun ketika ruang dialog gagal, dendam justru bisa berubah menjadi “warisan diam”—ditahan, dipendam, dan pada akhirnya mencari jalan keluar yang paling destruktif.

Peristiwa ini menjadi potret bahwa konflik personal yang dibiarkan tanpa mediasi berpotensi berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan.

Serangan Terencana atau Ledakan Emosi?

Fakta bahwa terlapor mendatangi korban dengan membawa parang memunculkan dugaan kuat adanya unsur kesiapan dalam tindakan tersebut. Apakah ini murni luapan emosi sesaat, atau sudah direncanakan?

Polisi masih mendalami motif dan kronologi lebih rinci, termasuk memeriksa saksi-saksi yang berada di lokasi kejadian. Dua saksi telah dimintai keterangan untuk memperkuat konstruksi perkara.

Polisi Bergerak, Publik Menunggu Transparansi

Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno melalui Kasi Humas IPDA Leonardus Tunga membenarkan adanya laporan tersebut. Saat ini, pelapor dan saksi tengah diperiksa oleh penyidik Satreskrim Polres Sikka.

“Laporan sudah kami terima, dan saat ini sedang dalam proses pemeriksaan oleh penyidik,” ujarnya singkat.

Langkah awal kepolisian meliputi penerimaan laporan, pembuatan laporan polisi, penerbitan tanda bukti laporan, hingga mendatangi tempat kejadian perkara (TKP).

Namun publik tentu menunggu lebih dari sekadar proses administratif. Kasus ini membuka ruang pertanyaan lebih luas: bagaimana mekanisme penyelesaian konflik di tingkat akar rumput? Apakah ada peran tokoh masyarakat, aparat desa, atau lembaga adat yang bisa mencegah konflik serupa sebelum berubah menjadi tindak pidana?

Ketika Parang Jadi Bahasa Terakhir

Peristiwa ini bukan sekadar kasus penganiayaan. Ia adalah cermin dari kegagalan komunikasi, rapuhnya penyelesaian konflik, dan absennya intervensi sebelum kekerasan terjadi.

Di tengah masyarakat yang menjunjung nilai kekeluargaan, fakta bahwa konflik lima tahun berakhir dengan sabetan parang menjadi alarm keras: bahwa diam tidak selalu berarti damai.

Dan ketika kata-kata tak lagi dipakai untuk menyelesaikan masalah, parang pun menjadi bahasa terakhir—yang selalu meninggalkan luka, bukan solusi.

Penulis : Faidin
Sumber : Humas Polres Sikka

Kasus di Desa Parumaan: Hendak Melerai, Malah Dikeroyok. Satu Pelaku Gunakan Pisau

SIKKA, BAJOPOS.COM — Seorang nelayan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menjadi korban pengeroyokan saat berusaha melerai keributan di Desa Parumaan, Kecamatan Alok Timur, Sabtu (21/3/2026) sekitar pukul 12.00 Wita.

Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan ke SPKT Polsek Alok pada Minggu (22/3/2026) pukul 15.43 Wita dan tercatat dengan nomor laporan polisi LP/B/9/III/2026/SPKT/Polsek Alok/Polres Sikka/Polda NTT.

Kasi Huma Polres Sikka, Ipda Leonardus Tunga, S.M dikonfirmasi media ini membenarkan peristiwa tersebut.

“Iya Pak, benar sudah dibuatkn LP, sudah masuk ke Unit Reskrim,” tulis Ipda Leo.

Disampaikan bahwa pelapor yang juga merupakan korban berinisial A (38), seorang nelayan asal Napung Gelang, Desa Darat Pantai, Kecamatan Talibura, mengalami luka akibat insiden tersebut.

Berdasarkan laporan yang diterima, kejadian bermula dari keributan antara sejumlah pihak di sekitar lokasi. Korban yang datang dengan maksud melerai justru menjadi sasaran pengeroyokan oleh dua terlapor, yakni B dan Aco, yang sama-sama berprofesi sebagai nelayan dan berdomisili di wilayah Perumaan, Kecamatan Alok Timur.

Dalam kejadian itu, korban di pukul berulang kali menggunakan tangan. Selain itu, salah satu terlapor, Aco, diduga menggunakan senjata tajam berupa pisau dan menusuk korban di bagian telapak tangan kanan.

Akibatnya, korban mengalami pembengkakan di bagian belakang telinga kiri serta luka robek pada telapak tangan kanan.

Dua saksi diketahui berada di lokasi saat kejadian, masing-masing berinisial Y (21), seorang mahasiswa, dan K (25), seorang nelayan. Keduanya merupakan warga Desa Darat Pantai, Kecamatan Talibura.

Kapolsek Alok melalui laporan resmi dan kemudian di kirimkan kepada wartawan menyebutkan bahwa pihak kepolisian telah menerima laporan, membuat tanda bukti laporan, serta mengamankan barang bukti terkait kasus tersebut.

Saat ini, penanganan perkara masih dalam proses penyelidikan oleh Polsek Alok, Polres Sikka.

Kasus ini menambah daftar tindak kekerasan yang terjadi di wilayah pesisir, khususnya yang melibatkan sesama nelayan.

Polisi mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan menyelesaikan persoalan secara damai guna menghindari tindakan yang berujung pidana.

Reporter : Faidin
Sumber : Humas Polres Sikka

Banjir Rob Rendam Desa Permaan, Air Laut Masuk hingga ke Dalam Rumah Warga

SIKKA, BAJOPOS.COM – Desa Permaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kembali dilanda banjir rob akibat tingginya permukaan air laut. Peristiwa ini terpantau terjadi pada Senin, 23 Maret 2026.

Warga setempat mengungkapkan bahwa kenaikan air laut sudah berlangsung selama tiga hari terakhir, sejak Sabtu lalu. Namun, kondisi terparah baru dirasakan dalam beberapa hari ini.

“Sejak hari Lebaran (Sabtu, 21 Maret, red) air sudah naik, tapi tidak terlalu tinggi. Sekarang air tinggi sekali,” ujar salah seorang warga.

Pantauan di lokasi menunjukkan air laut tidak hanya menggenangi jalan, tetapi juga telah masuk ke permukiman warga. Sejumlah rumah bahkan terendam hingga ke bagian dapur dan seluruh ruang dalam rumah.

Meski kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan, suasana berbeda justru terlihat di kalangan anak-anak.

Mereka memanfaatkan genangan air sebagai tempat bermain, berenang, hingga saling kejar-kejaran di jalanan yang terendam, menghadirkan keceriaan di tengah situasi banjir.

Di sisi lain, tanggul penahan ombak yang dibangun di pesisir pantai tampak tidak mampu menahan luapan air laut.

Ketinggian air yang meningkat akibat faktor musim menyebabkan air melampaui tanggul tersebut.

Warga mengaku kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Banjir rob disebut menjadi fenomena musiman yang semakin parah dari waktu ke waktu, seiring meningkatnya permukaan air laut.

Masyarakat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah untuk penanganan jangka panjang, guna mencegah dampak yang lebih besar terhadap permukiman warga di wilayah pesisir.

Reporter : Faidin

Air Laut Naik ke Badan Jalan Darat Pantai, Jalan Terendam Akses Warga Terganggu

SIKKA, BAJOPOS.COM – Fenomena air laut naik kembali terjadi di Desa Darat Pantai, Dusun Wairuwa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Minggu (22/03/2026) siang.

Air laut terlihat menggenangi badan jalan utama yang biasa dilalui warga, meskipun di sepanjang sisi jalan ditumbuhi tanaman mangrove yang berjejer.

Kondisi genangan air laut yang diperkirakan mencapai 1 kilo meter ini sempat terekam dalam video warga dan viral di media sosial.

Dalam rekaman tersebut, air laut tampak meluap hingga ke jalan, mengganggu aktivitas pengguna kendaraan, khususnya pengendara sepeda motor.

Seorang warga yang melintas dan enggan disebutkan namanya mengaku kesal dengan kondisi tersebut. Ia khawatir air asin yang menggenangi jalan dapat merusak kendaraan.

“Ini kasihan, air laut masuk di jalan di Darat Pantai, motor karat semua yang lewat. Kasihan,” ujarnya dalam video yang beredar.

Menurutnya, kejadian ini bukan pertama kali terjadi. Warga berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan tersebut, mengingat jalan tersebut merupakan akses penting bagi masyarakat setempat.

Sementara itu, upaya konfirmasi telah dilakukan media ini kepada Anggota DPRD Kabupaten Sikka dari daerah pemilihan (Dapil) III yang meliputi wilayah salah satunya Desa Darat Pantai, Fransiskus Parera, yang akrab disapa Pang. Namun hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan belum memberikan keterangan resmi.

Kiriman pesan WhatsApp konfirmasi media ini tampak centang dua warna biru.

Fenomena naiknya air laut ini diduga berkaitan dengan pasang tinggi serta kondisi geografis wilayah pesisir. Meski terdapat mangrove yang berfungsi sebagai penahan abrasi, kenyataannya belum mampu sepenuhnya mencegah air laut masuk ke badan jalan.

Warga berharap adanya langkah konkret, seperti pembangunan tanggul atau penanganan pesisir secara berkelanjutan, guna menghindari kerusakan infrastruktur dan dampak lebih luas terhadap aktivitas masyarakat.

Reporter : Faidin

Tangis Para Janda yang Tumpah: Andaikan Suamiku Masih Hidup

SIKKA, BAJOPOS.COM – Idul Fitri seharusnya menjadi hari paling membahagiakan. Hari ketika pelukan menjadi lebih hangat, tawa terdengar lebih lepas, dan rumah-rumah dipenuhi rasa syukur.

Namun, Sabtu pagi (21/3/2026) di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, kebahagiaan itu berubah menjadi lautan haru.

Tangis tak lagi bisa ditahan, terutama ketika khutbah Idul Fitri yang disampaikan KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. menyentuh satu luka yang paling dalam: kehilangan.

“Wahai para janda… andaikan suamimu masih hidup…”

Kalimat itu terdengar pelan, tetapi menghantam keras. Seolah membuka pintu kenangan yang selama ini berusaha ditutup.

Di antara ribuan jamaah, ada perempuan-perempuan yang berdiri tegar. Wajah mereka rapi, pakaian mereka indah. Namun di balik itu, ada ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh siapa pun.

Hari raya yang dulu mereka sambut bersama pasangan, kini harus dijalani sendiri.

Tak ada lagi sosok yang membangunkan sahur. Tak ada lagi tangan yang menggenggam saat berangkat salat. Tak ada lagi suara yang menyapa di pagi hari raya.

Yang tersisa hanyalah kenangan—dan penyesalan yang datang terlambat.

Dalam khutbahnya, Alifuddin menggambarkan perasaan yang mungkin tak pernah terucap oleh banyak janda.

“Jika suamiku masih ada, aku akan bahagia bersama anak-anakku…”

Kalimat yang tampak sederhana, tetapi menyayat dalam. Karena di baliknya, ada rindu yang tidak akan pernah terjawab. Ada harapan yang tidak mungkin terulang.

Hari itu, banyak yang tak kuasa menahan air mata.

Beberapa jamaah menutup wajah dengan kedua tangan. Ada yang menunduk dalam-dalam, bahunya bergetar. Tangis tidak lagi disembunyikan.

Bukan hanya para janda yang menangis. Mereka yang masih memiliki pasangan pun ikut larut. Karena di saat yang sama, muncul kesadaran yang menyesakkan: Bahwa suatu hari, kehilangan itu bisa datang kepada siapa saja.

Khutbah itu tidak hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga penyesalan.

Penyesalan bagi mereka yang mungkin selama ini masih memiliki pasangan, tetapi belum sepenuhnya menghargai kebersamaan.

Penyesalan bagi mereka yang pernah menyakiti, mengabaikan, atau menunda kasih sayang—hingga waktu tak lagi memberi kesempatan.

“Kenapa aku tidak lebih baik dulu…?”

Pertanyaan itu seolah bergema di dalam hati banyak orang.

Namun semua itu datang ketika waktu tidak bisa diputar kembali.

Idul Fitri yang seharusnya menjadi momen berkumpul, justru menjadi saat paling sunyi bagi sebagian orang. Di rumah-rumah, ada kursi yang kosong. Ada tempat tidur yang tak lagi terisi. Ada suara yang tak lagi terdengar.

Dan di dalam hati, ada rindu yang terus hidup. Rindu yang tidak bisa dipeluk. Rindu yang hanya bisa dipanjatkan lewat doa. Tangis yang mengguyur pagi itu bukan sekadar emosi sesaat.

Ia adalah cermin kehidupan. Bahwa kehilangan bukan cerita orang lain—melainkan sesuatu yang pasti akan datang. Bahwa setiap kebersamaan memiliki batas waktu.

Dan bahwa yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan itu sendiri, tetapi penyesalan yang datang setelahnya.

Di Lapangan Marannu pagi itu, Idul Fitri tidak hanya menghadirkan kebahagiaan.

Ia menghadirkan kesadaran yang dalam—untuk lebih menghargai yang masih ada,
untuk lebih mencintai sebelum terlambat,
dan untuk tidak menunggu kehilangan baru menyadari arti kebersamaan.

Sebab bagi mereka yang telah kehilangan, satu kalimat akan terus hidup dalam hati:

“Andaikan suamiku masih hidup…”

Dan kalimat itu, hari itu, benar-benar mengguyur air mata.

Reporter : Faidin

Khutbah ‘Id: Hidup Gelisah Karena Keberkahan Hidup yang Tiada, Materi Bukan Pemicu Utama

SIKKA, BAJOPOS.COM – Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (21/3/2026), tidak hanya menyentuh soal kematian dan amal, tetapi juga menyoroti satu persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: kegelisahan hidup.

Di hadapan ribuan jamaah, KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. menyinggung fenomena yang kerap dialami banyak orang—memiliki harta, pekerjaan, bahkan kehidupan yang terlihat mapan, namun tetap merasa tidak tenang.

“Kerja siang malam, tetapi Allah cabut keberkahannya,” ujarnya dalam khutbah.

Pernyataan itu menggambarkan kondisi yang dinilai semakin umum terjadi, di mana usaha yang dilakukan tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan hidup yang dirasakan.

Menurut Alifuddin, kegelisahan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi atau kurangnya materi, tetapi karena hilangnya keberkahan dalam kehidupan.

Ia menjelaskan, keberkahan bukan hanya soal jumlah, tetapi tentang manfaat dan ketenangan yang dirasakan dari apa yang dimiliki.

“Banyak orang tidak tahu ke mana uangnya habis. Rumah ada, tetapi tidak nyaman. Hidup terasa sempit,” katanya.

Fenomena itu, menurutnya, menjadi tanda bahwa ada yang tidak beres dalam hubungan manusia dengan Tuhan.

Dalam khutbahnya, ia menyebut bahwa salah satu bentuk “musibah” yang bisa menimpa manusia bukan hanya bencana alam, tetapi dicabutnya keberkahan dari kehidupan.

Akibatnya, seseorang tetap merasa gelisah meskipun secara lahiriah terlihat berkecukupan.

“Makan ada, tetapi tidak terasa nikmat. Tidur ada, tetapi tidak nyenyak,” ujarnya.

Alifuddin menegaskan, kegelisahan tersebut berkaitan erat dengan kualitas ibadah, khususnya salat. Ia menyebut, hubungan manusia dengan Allah menjadi kunci utama dalam menghadirkan ketenangan hidup.

“Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu,” tegasnya.

Menurutnya, salat bukan sekadar kewajiban, tetapi menjadi fondasi dalam membangun ketenangan batin. Ketika salat dijaga dengan baik, maka aspek kehidupan lainnya akan ikut membaik.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia sering kali membuat manusia lalai. Kesibukan bekerja, mengejar materi, dan memenuhi kebutuhan hidup membuat banyak orang menjauh dari nilai-nilai spiritual.

Padahal, menurutnya, semakin jauh seseorang dari Allah, semakin besar pula potensi kegelisahan yang dirasakan.

“Hidup seperti tidak punya arah, padahal semua ada,” ujarnya.

Khutbah tersebut juga menjadi refleksi setelah bulan Ramadan. Selama Ramadan, banyak umat Islam yang lebih disiplin dalam beribadah, lebih tenang, dan lebih terkontrol dalam menjalani kehidupan.

Namun setelah Ramadan berlalu, kondisi tersebut sering kali tidak bertahan.

“Ramadan melatih kita untuk tenang. Pertanyaannya, apakah itu kita bawa setelahnya?” kata Alifuddin.

Ia menegaskan, ketenangan hidup bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari kedekatan dengan Allah dan konsistensi dalam menjalankan ibadah.

Tanpa itu, menurutnya, manusia akan terus berada dalam kondisi gelisah, meskipun memiliki segala hal yang diinginkan.

Pesan tentang kegelisahan hidup ini menjadi salah satu bagian penting dalam khutbah Idul Fitri di Nangahale. Selain bersifat reflektif, pesan tersebut juga menjadi kritik terhadap pola hidup masyarakat yang cenderung mengejar materi tanpa diimbangi dengan kekuatan spiritual.

Di akhir khutbah, jamaah diajak untuk kembali memperbaiki hubungan dengan Allah sebagai jalan keluar dari kegelisahan yang dirasakan.

Sebab, sebagaimana disampaikan dalam khutbah itu, ketenangan bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada keberkahan yang diberikan.

Reporter : Faidin

Khutbah ‘Id: KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi: Dibelakang Kita Ada Kubur

SIKKA, BAJOPOS.COM – Suasana haru menyelimuti pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (21/3/2026).

Di tengah gema takbir dan kebahagiaan hari raya, khutbah yang disampaikan KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. justru mengajak jamaah menatap satu kenyataan yang kerap dihindari: kematian.

Dalam khutbahnya, Alifuddin menegaskan bahwa kehidupan dunia hanya bersifat sementara, sementara kubur adalah tempat persinggahan pertama menuju kehidupan akhirat.

“Di belakang kita ada kubur. Itulah rumah kita yang sebenarnya,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah.

Kalimat itu terasa jauh lebih kuat, bukan sekadar kiasan. Dari posisi mimbar tempat ia berdiri, hanya berjarak sekitar tiga meter, tampak jelas jejeran kubur di belakangnya.

Tanah-tanah yang telah mengeras, nisan-nisan yang berdiri sunyi, seolah menjadi saksi bisu atas setiap kata yang diucapkan.

Tampak hari itu, jamaah tak hanya mendengar, tetapi juga melihat langsung arah yang dimaksud.

Suasana yang semula penuh suka cita mendadak berubah. Hening. Beberapa jamaah menunduk. Sebagian lainnya mulai meneteskan air mata.

Untuk menguatkan pesannya, Alifuddin menyampaikan sebuah kisah yang menyentuh tentang seorang anak yatim pada hari raya.

Ia menggambarkan seorang anak perempuan kecil yang menangis sendirian di bawah pohon saat Idul Fitri, sementara orang lain bergembira. Pakaiannya kotor, wajahnya penuh kesedihan.

Ketika ditanya, anak itu mengaku telah kehilangan ayahnya yang gugur dalam perjuangan. Ibunya kemudian menikah lagi, dan ia diusir dari rumah.

“Bagaimana aku tidak menangis? Andaikan ayahku masih hidup, aku pasti tidak seperti ini,” demikian kisah yang disampaikan.

Cerita itu membuat suasana semakin emosional. Di tengah kebahagiaan hari raya, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa tidak semua orang merasakan kebahagiaan yang sama.

Dari kisah itu, Alifuddin mengaitkannya dengan realitas kehidupan dan kematian. Ia mengingatkan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali ke tanah, meninggalkan orang-orang yang dicintai.

Di belakang mimbar itu, jejeran kubur seolah menjadi penegas yang tak terbantahkan. “Kubur adalah tempat pertama dari semua tempat di akhirat, sekaligus tempat terakhir dari kehidupan dunia,” katanya.

Ia menegaskan, apa yang dialami seseorang di alam kubur sangat ditentukan oleh amal selama hidup.

Khutbah tersebut juga mengajak jamaah untuk mengingat orang tua dan keluarga yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Ia mempertanyakan keberadaan ibu dan ayah yang dahulu membesarkan, namun kini telah berada di alam kubur—seperti yang tampak di belakangnya pagi itu.

“Di mana ibumu hari ini? Di mana ayahmu?” ucapnya.

Pertanyaan itu menjadi momen paling menyentuh. Banyak jamaah terlihat menutup wajah, mengingat orang tua yang telah tiada. Tangis pun pecah di beberapa barisan.

Alifuddin juga mengingatkan bahwa kematian datang tanpa peringatan. Tidak ada yang bisa memastikan umur seseorang akan sampai pada Ramadan berikutnya. “Kematian datang tiba-tiba, tanpa bisa ditunda,” tegasnya.

Ia menilai, kesadaran akan kematian seharusnya mendorong manusia untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan memperbanyak amal sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah mati.

Dalam khutbahnya, ia kembali menegaskan pentingnya menjaga kualitas ibadah, terutama salat, sebagai fondasi kehidupan. “Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu,” ujarnya.

Pesan itu disampaikan sebagai solusi atas kegelisahan hidup manusia, sekaligus sebagai bekal menghadapi kehidupan di alam kubur.

Khutbah Idul Fitri di Nangahale hari itu tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga momentum refleksi mendalam bagi umat.

Di tengah kebahagiaan hari raya, jamaah diingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Bahwa di balik tawa dan kebersamaan, ada satu kenyataan yang tidak bisa dihindari.

Bahwa suatu hari nanti, setiap orang akan menyusul mereka yang telah lebih dahulu pergi. Dan pagi itu, pengingat itu tidak jauh—hanya berjarak sekitar tiga meter, tepat di belakang mimbar.

Reporter : Faidin

Kampus Ramadan dan Skripsi Takwa: Pesan Tajam di Balik Khutbah Idul Fitri Nangahale

SIKKA, BAJOPOS.COM – Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (21/3/2026), tidak hanya berisi ajakan spiritual, tetapi juga kritik tajam terhadap cara umat memaknai Ramadan.

Dalam khutbahnya, KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. mengibaratkan Ramadan sebagai “kampus” tempat umat Islam dididik selama satu bulan penuh. Sementara Idul Fitri disebutnya sebagai momentum “kelulusan”.

“Saudara-saudara sekalian adalah mahasiswa terbaik lulusan kampus Ramadan,” ujarnya di hadapan jamaah.

Namun pernyataan itu tidak berhenti sebagai pujian. Ia justru diikuti pertanyaan mendasar yang menyentuh inti ibadah Ramadan: apakah umat benar-benar lulus dengan nilai takwa?

Alifuddin menjelaskan, selama Ramadan umat Islam menjalani proses pendidikan yang intens. Mulai dari menahan lapar dan dahaga, mengendalikan emosi, hingga memperbanyak ibadah seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah.

Menurutnya, seluruh rangkaian itu bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan proses pembentukan karakter dan integritas keimanan.

“Puasa itu bukan hanya menahan lapar, tetapi membentuk manusia yang bertakwa,” tegasnya.

Ia menambahkan, berbeda dengan pendidikan formal, hasil dari “kampus Ramadan” tidak diumumkan secara terbuka. Penilaian sepenuhnya menjadi hak Allah.

“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang menilainya,” katanya mengutip hadis qudsi.

Lebih jauh, Alifuddin mengingatkan bahwa Idul Fitri bukan akhir dari proses tersebut. Justru setelah Ramadan, setiap Muslim dihadapkan pada “ujian lanjutan” dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengibaratkan hal itu sebagai “skripsi takwa” yang harus dikerjakan sepanjang hidup.

“Skripsi kita adalah takwa sepanjang hayat,” ujarnya.

Menurutnya, indikator keberhasilan Ramadan tidak hanya terlihat selama bulan puasa, tetapi terutama setelahnya. Konsistensi dalam menjaga salat, kedisiplinan beribadah, serta sikap dalam kehidupan sosial menjadi ukuran utama.

Dalam khutbahnya, ia juga menyinggung fenomena yang kerap terjadi di tengah masyarakat, yakni meningkatnya aktivitas ibadah selama Ramadan, namun menurun drastis setelahnya.

Masjid yang sebelumnya penuh, kembali lengang. Aktivitas keagamaan yang semarak, perlahan memudar.

Hal itu dinilai sebagai tanda bahwa nilai-nilai Ramadan belum sepenuhnya tertanam.

“Jangan sampai kita hanya semangat di bulan Ramadan, tetapi kehilangan arah setelahnya,” kata Alifuddin.

Ia menegaskan, takwa bukan konsep yang berhenti pada satu waktu, melainkan harus terus dijaga dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam pekerjaan, keluarga, maupun interaksi sosial.

Menurutnya, konsistensi tersebut menjadi tantangan utama bagi umat Islam setelah melewati Ramadan.

“Kalau setelah Ramadan kita kembali seperti semula, maka perlu dipertanyakan hasil pendidikan kita selama sebulan,” ujarnya.

Khutbah itu juga mengingatkan jamaah bahwa tidak ada jaminan setiap orang akan kembali bertemu Ramadan di tahun berikutnya. Karena itu, momentum Ramadan harus dimanfaatkan secara maksimal sebagai sarana perbaikan diri.

“Tidak ada yang bisa menjamin kita masih hidup untuk Ramadan berikutnya,” katanya.

Pesan tentang “kampus Ramadan” dan “skripsi takwa” menjadi salah satu bagian paling kuat dalam khutbah tersebut. Selain mengandung makna reflektif, pesan itu juga menjadi kritik sosial terhadap pola keberagamaan yang cenderung musiman.

Di akhir khutbah, Alifuddin mengajak jamaah untuk menjaga nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Idul Fitri benar-benar menjadi titik awal perubahan, bukan sekadar perayaan tahunan.

“Pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing, apa hasil Ramadan yang kita dapatkan,” tutupnya.

Reporter : Faidin

Masjid “Telanjang” 8 Tahun: Ketika Umat Sibuk Menghias Diri, Rumah Allah Menunggu Disempurnakan

SIKKA, BAJOPOS.COM – Pagi Idul Fitri, Sabtu, 21 Maret 2026, Lapangan Marannu di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, dipenuhi lautan manusia.

Umat Muslim datang dari berbagai sudut kampung, mengenakan pakaian terbaik mereka. Anak-anak berlarian dengan wajah ceria, orang tua saling bersalaman, dan gema takbir mengalun memenuhi udara.

Hari itu adalah hari kemenangan.

Namun di balik kebahagiaan yang tampak, terselip sebuah kegelisahan yang perlahan dibuka dalam khutbah Idul Fitri oleh KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc.—sebuah kegelisahan tentang rumah Allah yang telah lama “terlupakan”.

“Masjid Nangahale masih telanjang…”

Kalimat itu sederhana, tetapi mengguncang.

Sejenak, suasana yang semula riuh menjadi hening. Ribuan pasang mata tertuju ke arah mimbar. Sebagian mulai menunduk. Yang lain tampak gelisah. Ada yang diam-diam menyeka air mata.

Masjid yang dimaksud adalah Masjid Baitusshodiq Nangahale—sebuah rumah ibadah yang telah memasuki tahun kedelapan dalam kondisi belum rampung. Direhabilitasi dengan harapan menjadi pusat ibadah yang layak, namun hingga kini pembangunannya tak kunjung selesai.

Delapan tahun.

Waktu yang cukup panjang untuk membangun rumah, menyekolahkan anak, bahkan merubah kehidupan seseorang. Namun bagi masjid itu, delapan tahun adalah penantian yang tak kunjung usai.

Dindingnya belum sepenuhnya berdiri kokoh. Kubah yang diimpikan belum juga menghiasi langit kampung. Ia berdiri dalam diam, seperti tubuh yang belum dipakaikan baju—terbuka, menunggu, dan seolah memanggil.

Di saat yang sama, kehidupan di sekitarnya terus berjalan. Rumah-rumah warga perlahan berubah menjadi lebih baik. Kendaraan baru mulai mengisi halaman. Pakaian-pakaian baru hadir setiap hari raya.

Namun masjid itu tetap sama.

Seolah-olah ia berada di antara prioritas yang terus ditunda.

Dalam khutbahnya, sang khatib tidak hanya menyampaikan pesan—ia menggugah hati.

Ia mengibaratkan masjid itu seakan berbicara kepada umatnya sendiri.

“Jika kalian punya pakaian yang bagus, kenapa kalian biarkan aku telanjang? Jika kalian memiliki yang indah, kenapa aku tidak kalian indahkan?”

Tak ada jawaban.

Hanya keheningan yang menggantung di udara.

Kalimat itu seperti cermin yang dipaksa dihadapkan kepada setiap jamaah. Di hari ketika semua orang berusaha tampil terbaik, ternyata ada satu hal yang justru luput dari perhatian—rumah tempat mereka bersujud.

Khutbah itu kemudian membawa jamaah pada perenungan yang lebih dalam.

Tentang harta, tentang kepemilikan, dan tentang apa yang sebenarnya akan dibawa pulang ketika kehidupan ini berakhir.

“Mobil yang kau punya itu bukan milikmu. Baju yang kau pakai itu bukan milikmu. Yang menjadi milikmu adalah apa yang engkau sedekahkan di jalan Allah.”

Pesan itu menghantam kesadaran.

Di tengah kehidupan yang terus mengejar kenyamanan dunia, manusia sering kali lupa bahwa yang abadi bukanlah apa yang dimiliki, tetapi apa yang diberikan.

Masjid Baitusshodiq yang “telanjang” itu menjadi simbol nyata dari kepedulian yang belum tuntas. Dari iman yang mungkin masih tersimpan di hati, tetapi belum sepenuhnya diwujudkan dalam tindakan nyata.

Tangis mulai terdengar lebih jelas.

Di antara saf-saf jamaah, beberapa orang tak lagi mampu menahan haru. Ada yang menunduk dalam-dalam, ada yang menutup wajah dengan kedua tangan.

Bukan karena mereka tidak tahu.

Tetapi karena mereka baru benar-benar menyadari.

Delapan tahun bukan sekadar angka. Ia adalah pengingat tentang waktu yang terlewat, tentang kesempatan yang mungkin terabaikan, tentang niat baik yang belum menjadi amal.

Khutbah itu tidak berhenti pada teguran.

Ia berlanjut dengan ajakan, bahkan harapan.

Sang khatib mengingatkan bahwa keberkahan hidup tidak selalu diukur dari banyaknya harta, tetapi dari sejauh mana harta itu digunakan di jalan Allah.

Ia mengingatkan tentang sedekah yang tidak akan mengurangi, justru menambah. Tentang janji Allah yang pasti, berbeda dengan janji manusia yang sering tak terwujud.

“Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu.”

Kalimat itu kembali menguatkan—bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal sederhana, dari kesadaran, dari niat yang tulus.

Di penghujung khutbah, suasana semakin haru.

Doa panjang dipanjatkan. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk seluruh umat, untuk orang tua yang telah tiada, untuk keluarga, dan untuk kampung Nangahale.

“Ya Allah, beri kami rezeki agar kami bisa menyelesaikan rumah-Mu ini…”

Ribuan tangan terangkat serempak. Wajah-wajah yang sebelumnya tersenyum kini basah oleh air mata. Bibir bergetar, menyebut nama Allah dengan penuh harap.

Di bawah terik matahari pagi, doa itu terasa begitu tulus.

Ada rasa malu yang tak terucap. Ada penyesalan yang perlahan muncul. Namun di saat yang sama, ada harapan—bahwa semuanya belum terlambat.

Hari itu, Idul Fitri di Nangahale tidak hanya menjadi perayaan kemenangan setelah Ramadan.

Ia berubah menjadi momentum kebangkitan kesadaran.

Tentang sebuah masjid yang telah delapan tahun menunggu untuk disempurnakan.

Tentang umat yang mungkin tidak kekurangan harta, tetapi belum sepenuhnya menghadirkan kepedulian.

Dan tentang satu pertanyaan yang kini tertinggal di hati setiap jamaah:

Apakah kita akan terus menghias diri,
sementara rumah Allah di kampung kita sendiri masih “telanjang”?

Reporter : Faidin

Tangis Pecah di Lapangan Marannu, Ketika Khutbah Idul Fitri Menggugah Luka, Rindu, dan Penyesalan

SIKKA, BAJOPOS.COM – Pagi itu, Sabtu, 21 Maret 2026, langit di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, tampak cerah. Hamparan Lapangan Marannu dipenuhi umat Muslim yang datang dengan pakaian terbaik mereka. Senyum, pelukan, dan ucapan maaf bersahutan, menandai hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.

Namun, suasana haru perlahan menyelimuti ketika khutbah Idul Fitri dimulai.

Di atas mimbar sederhana, KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. berdiri dengan suara lantang. Tak sekadar menyampaikan khutbah, ia seperti sedang membuka satu per satu lembaran hati para jamaah. Kalimat demi kalimat yang keluar dari lisannya menggema, bukan hanya di lapangan, tetapi jauh menembus relung jiwa.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilham…”

Takbir yang dilantunkan berulang itu awalnya terdengar seperti biasa. Namun perlahan berubah menjadi getaran yang mengoyak perasaan. Beberapa jamaah mulai menunduk. Ada yang mengusap mata. Tangis pertama pecah—pelan, lalu menular.

Khutbah itu tidak hanya bicara tentang kemenangan. Ia justru mengingatkan tentang kehilangan.

Tentang waktu yang mungkin tak akan kembali.

Tentang Ramadan yang telah pergi—dan belum tentu bisa ditemui lagi.

“Tidak ada jaminan kita akan bertemu Ramadan tahun depan,” ucap sang khatib dengan suara bergetar. Kalimat itu seperti menghantam kesadaran banyak orang. Di antara ribuan jamaah, mungkin ada yang diam-diam bertanya dalam hati: ini Ramadan terakhirku atau bukan?

Suasana semakin sunyi. Angin pagi seolah ikut berhenti.

Dalam khutbahnya, Alifuddin mengajak jamaah menoleh ke belakang—bukan secara fisik, tetapi batin. Ia menggambarkan sebuah kenyataan yang tak bisa dihindari: kematian.

“Di belakang sana adalah rumah kita yang sebenarnya,” katanya.

Sebagian jamaah tak kuasa menahan air mata. Bayangan tentang kubur, tentang orang tua yang telah tiada, tentang keluarga yang sudah lebih dulu pergi, hadir tanpa diundang.

Ia lalu bertanya, seakan langsung kepada setiap hati:

“Di mana ibumu hari ini?”

Kalimat sederhana itu justru paling menyayat.

Bagi mereka yang masih memiliki ibu, pertanyaan itu menjadi pengingat yang menyesakkan. Bagi yang telah kehilangan, luka lama kembali terbuka. Isak tangis pun terdengar lebih jelas di beberapa sudut lapangan.

“Ibu yang mengandung kita sembilan bulan, yang mempertaruhkan nyawa… di mana dia sekarang?” lanjutnya.

Tak sedikit jamaah yang menunduk lebih dalam. Ada yang memejamkan mata. Ada pula yang tak lagi mampu menyembunyikan tangisnya.

Khutbah itu juga menghadirkan kisah menyentuh tentang seorang anak kecil di hari raya—seorang gadis yatim yang menangis di bawah pohon, sementara orang lain bergembira.

“Ayahku telah tiada… ibuku menikah lagi… aku diusir dari rumah,” kisah itu dilantunkan dengan suara lirih.

Cerita itu seperti cermin. Di tengah gemuruh takbir dan kebahagiaan, ternyata masih ada luka-luka yang tersembunyi. Ada anak-anak yang merayakan Idul Fitri tanpa pelukan ayah. Tanpa kasih ibu.

Beberapa jamaah terlihat menutup wajah mereka. Tangis tak lagi bisa dibendung.

Tak berhenti di situ, khutbah juga menyinggung kehidupan yang sering kali terasa penuh, namun sebenarnya kosong dari keberkahan.

“Kerja siang malam, tapi Allah cabut keberkahannya,” ucapnya tegas.

Hening kembali menyelimuti.

Kalimat itu seperti menampar realitas banyak orang—tentang rezeki yang terasa sempit, rumah tangga yang gelisah, hidup yang kehilangan arah. Bukan karena kurang usaha, tetapi karena ada yang hilang: kedekatan dengan Allah.

“Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu.”

Pesan itu sederhana, tetapi terasa berat bagi yang menyadari betapa seringnya lalai.

Di penghujung khutbah, suara sang khatib melemah. Ia tak lagi hanya berbicara—ia berdoa. Doa panjang yang dipanjatkan dengan penuh harap.

“Ya Allah, jika nama kami ada dalam daftar penghuni neraka, hapuskanlah…”

Doa itu menggema. Di bawah terik matahari pagi, ribuan tangan terangkat. Bibir bergetar. Air mata mengalir tanpa suara.

Ia menyebut satu per satu: ibu, ayah, istri, suami, anak-anak, sahabat—semua dimohonkan ampunan. Bahkan mereka yang telah berada di alam kubur.

“Ya Allah, di belakang kami ada kubur ibu kami… ampuni mereka…”

Kalimat itu membuat tangis pecah lebih keras. Tak sedikit jamaah yang tersedu, mengingat orang-orang tercinta yang telah pergi dan tak akan pernah kembali.

Hari itu, Idul Fitri di Lapangan Marannu bukan hanya tentang kemenangan. Ia menjadi ruang perenungan yang dalam—tentang hidup yang sementara, tentang kematian yang pasti, dan tentang cinta yang sering terlambat disadari.

Ketika khutbah berakhir, jamaah tak langsung beranjak. Beberapa masih duduk, menenangkan diri. Sebagian saling berpelukan lebih lama dari biasanya.

Seolah mereka sadar, waktu bersama orang-orang tercinta tidak akan selamanya ada.

Di tengah gema takbir yang perlahan mereda, satu pesan tertinggal kuat di hati:

Bahwa Idul Fitri bukan sekadar kembali suci.

Tetapi juga tentang kembali—sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Reporter : Faidin

Aksi Aliansi Peduli Demokrasi di Depan Polda NTT Ricuh, Massa dan Polisi Terlibat Bentrok

KUPANG, BAJOPOS.COM – Aksi demonstrasi yang digelar Aliansi Peduli Demokrasi di depan Markas Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT), Rabu (18/3/2026), berakhir ricuh setelah terjadi bentrokan antara massa aksi dan aparat kepolisian.

Aksi tersebut merupakan bentuk protes atas dugaan intimidasi dan kekerasan terhadap dua wartawan media Deteksi NTT, sekaligus menyoroti kasus dugaan penelantaran keluarga oleh salah satu oknum anggota Polri.

Aliansi yang terdiri dari sejumlah organisasi, seperti SEMMUT, FMN, LMID, KEMANURI, serta jurnalis, menuntut penanganan tegas terhadap Brigpol Samuel Demes Talan. Oknum polisi tersebut diduga melakukan kekerasan terhadap wartawan Defiandi Selan (Pemimpin Redaksi Deteksi NTT) dan Nino Ninmusu saat menjalankan tugas jurnalistik.

Dalam orasi, massa menyebut kedua wartawan mengalami intimidasi, kekerasan fisik hingga cekikan, serta teror. Selain itu, Brigpol SDT juga disorot terkait dugaan penelantaran istri dan anak.

Sejak awal aksi, massa menegaskan bahwa demonstrasi dilakukan sebagai mimbar bebas untuk menyuarakan aspirasi secara terbuka dan damai.

Pemicu Kericuhan

Situasi mulai memanas ketika sebuah mobil Daihatsu Sigra berwarna hitam diduga menyerempet massa yang tengah berorasi. Massa kemudian berupaya menghadang kendaraan tersebut.

Namun, dalam situasi tersebut aparat kepolisian menutup akses, sehingga memicu ketegangan yang berujung bentrokan di badan jalan.

Di tengah kericuhan, alat pengeras suara milik massa dilaporkan hilang. Aliansi menduga hilangnya perangkat tersebut sebagai bentuk upaya menghambat jalannya aksi.

Ketegangan semakin meningkat setelah massa menolak tawaran negosiasi dari pihak kepolisian. Mereka menilai dialog yang ditawarkan hanya bertujuan meredam dan membatasi ruang penyampaian aspirasi.

Salah satu orator aksi, Flori, menilai situasi yang terjadi bukan kebetulan.

“Ini bukan kebetulan, tetapi indikasi adanya upaya menciptakan kekacauan untuk menghentikan aksi rakyat,” ujarnya dalam orasi.

Penjelasan Kepolisian dan Bantahan Massa

Sementara itu, Kapolresta Kupang menyampaikan bahwa aksi massa seharusnya tidak digelar karena bertepatan dengan hari libur nasional dan berpotensi mengganggu ketertiban umum. Meski demikian, aparat disebut tetap memberikan toleransi terhadap jalannya aksi.

Pernyataan tersebut dibantah oleh pihak aliansi. Mereka mengaku telah menyampaikan surat pemberitahuan resmi kepada kepolisian sebelum aksi dilaksanakan.

Aliansi menilai aparat seharusnya mengawal jalannya demonstrasi agar berlangsung aman, bukan membiarkan situasi berkembang menjadi tidak terkendali.

Dalam pernyataan sikapnya, massa juga mengkritik aparat yang dinilai bertindak represif serta menuding adanya kecenderungan pembungkaman terhadap kebebasan berekspresi dan pers.

Tuntutan Massa

Dalam aksi tersebut, Aliansi Peduli Demokrasi menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya:

1. Menegakkan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers sebagai jaminan kebebasan pers di Indonesia.

2. Mendesak Polda NTT segera memecat Brikpol Semuel Demes Talan, pelaku pemukulan, perampasan motor dan identitas, serta ancaman dan teror terhadap wartawan.

3. Mendesak rezim Prabowo–Gibran bertanggung jawab penuh atas tindakan represif dan kriminalisasi terhadap rakyat yang berjuang.

4. Menuntut Polda NTT bertanggung jawab atas peristiwa kriminalisasi terhadap wartawan.

5. Wujudkan pendidikan ilmiah, demokratis, dan mengabdi pada rakyat.
6. Tangkap pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS.

7. Hentikan segala bentuk intimidasi, pembungkaman, dan kekerasan fisik terhadap pers.

8. Tarik TNI/Polri dari Papua dan hentikan segala bentuk pelanggaran HAM di Papua.

9. Tolak relokasi dan berikan kepastian tanah kepada masyarakat eks-Timor Timur.

10. Mendesak Kapolda NTT dan Propam Polda NTT menindak tegas Brikpol Semuel Demes Talan atas dugaan kekerasan, intimidasi, dan ancaman terhadap wartawan.

11. Menuntut agar Brikpol Semuel Demes Talan segera dinonaktifkan dari jabatannya selama proses pemeriksaan berlangsung guna menjamin objektivitas dan transparansi.

12. Meminta kepolisian memproses secara hukum dugaan penganiayaan, perampasan, dan penghalangan kerja jurnalistik sesuai ketentuan hukum, termasuk UU Pers.

13. Mendesak agar sepeda motor milik wartawan Deviandi Selan dan identitas (BPJS) milik wartawan Nino Nimnusu segera dipastikan aman, karena penyitaan tanpa dasar hukum adalah perbuatan melawan hukum.

14. Menuntut jaminan perlindungan terhadap wartawan korban intimidasi dan kekerasan, serta memastikan tidak ada intimidasi lanjutan terhadap korban maupun media DeteksiNTT.com.

15. Mendesak Propam Polda NTT transparan dalam penanganan laporan dugaan penelantaran keluarga yang telah dilaporkan istri Brikpol Semuel Demes Talan sejak September 2025.

16. Menegaskan bahwa kekerasan dan intimidasi terhadap wartawan adalah ancaman terhadap kebebasan pers, sehingga aparat wajib menjamin keselamatan wartawan saat bertugas.

17. Copot Kapolda NTT yang dinilai gagal membina anggotanya.

Selain itu, massa juga menyuarakan isu-isu yang lebih luas, seperti penegakan HAM, penghentian kekerasan terhadap aktivis, hingga kritik terhadap kebijakan nasional.

Aksi yang semula direncanakan berlangsung damai tersebut akhirnya dibubarkan di tengah situasi yang tidak kondusif.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari pihak Polda NTT terkait kronologi lengkap bentrokan maupun langkah penanganan terhadap insiden tersebut.(Faidin) 

Brigpol SDT Terancam Dipecat, Istri Resmi Laporkan Dugaan Penelantaran Sejak 2020 ke Polda NTT

KUPANG, BAJOPOS.COM – Kasus yang melibatkan oknum anggota Polri, Brigpol SDT (40), kembali menjadi sorotan publik. Setelah sebelumnya dilaporkan atas dugaan penganiayaan terhadap wartawan media Deteksi NTT, kini ia kembali dilaporkan oleh istri sahnya, Welmince Rohi Doma (37), atas dugaan penelantaran istri dan anak yang disebut telah berlangsung sejak tahun 2020.

Laporan tersebut secara resmi dilayangkan ke Mapolda Nusa Tenggara Timur pada Selasa (17/03/2026) malam. Berdasarkan pantauan awak media, Welmince datang didampingi kerabat serta dua kuasa hukumnya, yakni Andre Lado, S.H., dan Rusydi S. Maga, S.H., dari Kantor Advokat Andre Lado & Partners.

Laporan diterima dengan nomor LP/B/97/III/2026/SPKT/POLDA NUSA TENGGARA TIMUR sekitar pukul 21.51 WITA. Penyidik dari unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) kemudian menerapkan Pasal 428 UU Nomor 1 Tahun 2023.

Namun demikian, penerapan pasal yang dinilai masih bersifat umum tersebut memunculkan pertanyaan dari sejumlah pihak terkait objektivitas penanganan kasus, mengingat terlapor merupakan anggota aktif Polri yang berdinas di RS Bhayangkara Drs. Titus Uly Kupang.

Diduga Hentikan Nafkah Sejak 2020

Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan penelantaran bermula sejak tahun 2020. Saat itu, Brigpol SDT disebut memutus pemberian nafkah dengan cara memblokir rekening gaji, sehingga istri dan anaknya mengalami kesulitan ekonomi.

Tidak hanya itu, pihak korban juga mengungkapkan adanya persoalan rumah tangga sejak awal pernikahan. Brigpol SDT diduga pernah menghamili dua perempuan lain, yang masing-masing kemudian memiliki anak biologis darinya.

Kasus tersebut, menurut sumber, sempat mencuat namun tidak berlanjut hingga tuntas, sehingga menimbulkan persepsi di tengah masyarakat bahwa yang bersangkutan “kebal hukum”.

Terseret Kasus Penganiayaan Wartawan

Di sisi lain, Brigpol SDT juga tengah menghadapi proses hukum lain terkait dugaan penganiayaan terhadap seorang wartawan media Deteksi NTT. Dalam kasus tersebut, ia juga dilaporkan atas dugaan pengancaman serta perampasan dokumen pribadi berupa kartu BPJS Kesehatan dan satu unit sepeda motor milik korban.

Kasus itu kini sedang ditangani oleh Propam Polda NTT, baik dari sisi etik maupun pidana umum.

Sejumlah kalangan, khususnya insan pers, mendesak agar penanganan kasus dilakukan secara transparan dan tegas. Bahkan, muncul dorongan agar Brigpol SDT dijatuhi sanksi tegas hingga pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) jika terbukti bersalah.

Kuasa Hukum Minta Penanganan Transparan

Kuasa hukum korban, Andre Lado, menyatakan pihaknya menghormati proses hukum yang berjalan dan berharap kasus ini segera dituntaskan.

“Secara hukum, penelantaran istri dan anak diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT, dengan ancaman pidana maksimal tiga tahun penjara atau denda Rp15 juta. Untuk anak, juga diatur dalam UU Perlindungan Anak dengan ancaman lebih berat,” jelasnya.

Sementara itu, Rusydi S. Maga menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawal proses hukum hingga tuntas.

“Tidak boleh ada perlakuan berbeda di depan hukum. Siapapun pelakunya, termasuk aparat penegak hukum, harus diproses secara transparan dan akuntabel. Keadilan bagi korban tidak bisa ditawar,” tegasnya.

Sorotan Publik ke Polda NTT

Kasus ini turut menjadi perhatian masyarakat luas di Nusa Tenggara Timur. Kinerja aparat kepolisian dalam menangani perkara yang melibatkan anggotanya sendiri kini kembali diuji, terutama dalam menjamin prinsip keadilan dan transparansi hukum.

Publik berharap Polda NTT dapat menangani perkara ini secara profesional tanpa intervensi, demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri.(Faidin)

Kapolres Alor Tegaskan Kematian di Lautingara Akibat Tindak Pidana, Bukan Tawuran

KALABAHI, BAJOPOST.COM – Rabu, 18 Maret 2026 – Kepolisian Resor Alor memastikan bahwa kasus kematian M.H.K. alias H. yang terjadi di wilayah Lautingara, Kecamatan Teluk Mutiara, merupakan tindak pidana penganiayaan yang berujung maut, bukan akibat tawuran antar kelompok seperti yang sempat beredar di masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan langsung Kapolres Alor, AKBP Nur Azhari, S.H., dalam konferensi pers yang digelar di Aula Polres Alor, Rabu (18/03/2026). Ia didampingi Kasat Reskrim AKP Amru Ichsan, S.H., serta Kasi Propam IPDA Samsul Bahri D.A.

“Kami pastikan bahwa peristiwa ini bukan tawuran, melainkan penganiayaan yang berujung kematian,” tegas Kapolres.

Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Jumat, 13 Maret 2026, sekitar pukul 09.30 WITA. Berdasarkan hasil penyelidikan, insiden bermula dari perselisihan antara korban dengan tersangka Y.M. alias D (28), warga Kecamatan Teluk Mutiara, yang terjadi pada Kamis malam sebelumnya di wilayah Lipa. Meski sempat dilerai warga, konflik tersebut ternyata menyisakan dendam.

Keesokan harinya, tersangka kembali mencari korban di sekitar pangkalan ojek. Saat korban melintas menggunakan sepeda motor, tersangka langsung melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam yang mengenai bagian pinggang kiri korban.

Korban sempat berupaya menyelamatkan diri dengan berlari ke rumah warga, namun nyawanya tidak tertolong meskipun telah mendapatkan penanganan medis.

Kapolres juga mengungkapkan bahwa setelah melakukan penyerangan, tersangka sempat melakukan kekerasan terhadap seorang saksi sebelum akhirnya melarikan diri. Dalam proses penyidikan, polisi telah memeriksa satu pelapor dan lima orang saksi untuk mengungkap secara jelas kronologi kejadian.

Setelah buron selama beberapa hari, tersangka akhirnya berhasil diamankan oleh tim Sat Reskrim Polres Alor pada 17 Maret 2026 di wilayah Kecamatan Alor Timur Laut.

“Selama pelarian, tersangka bersembunyi di kebun dan bertahan hidup dari hasil kebun. Penangkapan ini berkat kerja sama antara kepolisian, keluarga tersangka, dan aparat setempat,” jelas Kapolres.

Barang bukti yang telah diamankan antara lain pakaian korban dan pakaian tersangka yang digunakan saat kejadian. Sementara itu, senjata tajam yang digunakan dalam aksi tersebut masih dalam proses pencarian oleh pihak kepolisian.

Kasat Reskrim AKP Amru Ichsan menambahkan bahwa aksi penganiayaan tersebut dilakukan tersangka seorang diri tanpa keterlibatan pihak lain. Motif sementara diduga karena dendam lama, mengingat korban dan tersangka sebelumnya beberapa kali terlibat perselisihan.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 459 subsider Pasal 458 ayat (1) lebih subsider Pasal 466 ayat (3) KUHP Baru (UU No. 1 Tahun 2023), dengan ancaman pidana maksimal berupa hukuman mati, penjara seumur hidup, atau penjara selama 20 tahun.

Saat ini tersangka telah ditahan di Rumah Tahanan Polres Alor, sementara penyidik terus melengkapi berkas perkara untuk segera dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum.

Mengakhiri keterangannya, Kapolres Alor mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga situasi keamanan dan ketertiban serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tidak terlibat dalam aksi kekerasan, tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, dan bersama-sama menjaga situasi tetap aman dan kondusif,” tutupnya.

Jurnalis : Nursan

Musrenbang RKPD 2026 Digelar, Pemkab Alor Rumuskan Arah Pembangunan 2027

KALABAHI, BAJOPOS.COM – Pemerintah Kabupaten Alor mulai merumuskan arah pembangunan daerah tahun 2027 melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2026 yang digelar di Aula Gereja Pola Tribuana Kalabahi, Senin (16/3/2026).

Forum perencanaan pembangunan tersebut mengusung tema “Akselerasi Transformasi Ekonomi Berbasis Potensi Lokal dari Kawasan Kepulauan.”

Musrenbang secara resmi dibuka oleh Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Alor, Obeth Bolang, S.Sos., M.AP, yang mewakili Bupati Alor, Iskandar Lakamau, S.H., M.Si.

Dalam sambutan tertulis Bupati yang dibacakan Pj Sekda, ditegaskan bahwa Musrenbang RKPD merupakan forum strategis untuk menyatukan komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan arah pembangunan daerah yang terarah, terukur, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Musrenbang RKPD ini merupakan forum penting untuk menyatukan komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan arah pembangunan Kabupaten Alor ke depan. Setiap program yang direncanakan harus benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat serta mampu mendorong peningkatan kesejahteraan secara nyata,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembangunan Kabupaten Alor ke depan harus bertumpu pada pemanfaatan potensi lokal sebagai wilayah kepulauan.

“Transformasi ekonomi berbasis potensi kepulauan harus menjadi fokus pembangunan daerah. Potensi kelautan, perikanan, pariwisata, pertanian serta kekayaan budaya lokal perlu dikelola secara optimal agar mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat Kabupaten Alor,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan daerah tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, tetapi membutuhkan dukungan dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

“Melalui Musrenbang ini kita berharap lahir gagasan dan program pembangunan yang benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, Pemerintah Kabupaten Alor juga memaparkan sejumlah capaian pembangunan daerah yang menunjukkan tren positif. Salah satunya penurunan angka kemiskinan dari 19,87 persen pada tahun 2024 menjadi 18,29 persen pada tahun 2025.

Selain itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Alor juga mengalami peningkatan dari 67,70 poin pada tahun 2024 menjadi 68,40 poin pada tahun 2025, yang mencerminkan adanya peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui indikator usia harapan hidup, rata-rata lama sekolah, serta tingkat pengeluaran per kapita.

Pemerintah Kabupaten Alor juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Pusat atas berbagai program nasional yang saat ini dilaksanakan di daerah, salah satunya Program Makan Bergizi Gratis.

Untuk mendukung program tersebut, pemerintah daerah merencanakan pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang akan menjangkau 18 kecamatan serta 158 desa dan kelurahan di Kabupaten Alor. Sebanyak 92 dapur SPPG direncanakan dibangun guna mendukung pelaksanaan program tersebut.

Selain meningkatkan kualitas gizi masyarakat, program ini juga diharapkan mampu membuka peluang lapangan kerja bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Pemerintah Kabupaten Alor juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur atas dukungan berbagai program pembangunan di daerah, termasuk program pembangunan rumah layak huni melalui skema kolaborasi 5–5–10.

Program tersebut merupakan kerja sama antara Pemerintah Provinsi sebesar Rp5 juta, Pemerintah Kabupaten sebesar Rp5 juta, serta Pemerintah Desa melalui alokasi dana desa sebesar Rp10 juta untuk mendukung pembangunan rumah layak huni bagi masyarakat.

Namun demikian, pemerintah daerah mengakui bahwa kebutuhan rumah layak huni di Kabupaten Alor masih cukup besar, sementara kemampuan fiskal daerah masih terbatas. Karena itu, dukungan dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat dinilai masih sangat dibutuhkan agar program tersebut dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD Provinsi NTT, Ir. Soleman B. Gorongau, menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten dalam proses perencanaan pembangunan daerah.

“Musrenbang merupakan forum strategis untuk memastikan bahwa perencanaan pembangunan daerah benar-benar selaras dengan kebutuhan masyarakat. Program yang disusun harus realistis dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa DPRD Provinsi NTT akan terus mendorong agar berbagai program pembangunan yang dialokasikan oleh pemerintah provinsi dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah kabupaten.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Alor, Sulaiman Singh, S.H, yang mewakili pimpinan DPRD Kabupaten Alor, menyampaikan bahwa perencanaan pembangunan daerah perlu memperhatikan potensi lokal dan kearifan masyarakat, termasuk dalam pemanfaatan sumber pangan lokal seperti jagung.

Menurutnya, perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini lebih bergantung pada beras perlu menjadi perhatian, mengingat luas lahan sawah di Kabupaten Alor terbatas sementara kebutuhan konsumsi beras terus meningkat.

Ia juga menekankan pentingnya perencanaan pembangunan yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi harus menyesuaikan dengan kondisi riil masyarakat di lapangan serta memperkuat potensi lokal yang dimiliki daerah.

Sementara itu, Ketua Panitia Musrenbang RKPD Kabupaten Alor Tahun 2026, Ais F. Boling, S.TP., M.AP, dalam laporannya menyampaikan bahwa tujuan pelaksanaan Musrenbang RKPD adalah untuk melakukan penajaman, penyelarasan, klarifikasi, serta kesepakatan terhadap tujuan, sasaran, strategi, arah kebijakan, dan program prioritas pembangunan daerah tahun 2027.

Ia menjelaskan kegiatan Musrenbang RKPD tahun ini diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri dari unsur DPRD, perangkat daerah, camat, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, akademisi, serta perwakilan masyarakat.

Sebelum pelaksanaan Musrenbang tingkat kabupaten, proses perencanaan telah diawali dengan Musrenbang Desa dan Musrenbang Kecamatan yang berlangsung pada 2 hingga 20 Februari 2026.

Dari hasil Musrenbang Kecamatan tersebut tercatat sebanyak 270 usulan program pembangunan dari 18 kecamatan. Setelah melalui proses pembahasan di tingkat kabupaten, disepakati 9 usulan prioritas dari setiap kecamatan atau total 162 usulan program yang akan menjadi bagian dari perencanaan pembangunan daerah.

Melalui pelaksanaan Musrenbang RKPD ini, Pemerintah Kabupaten Alor berharap proses perencanaan pembangunan daerah dapat berjalan lebih partisipatif, terarah, dan selaras dengan kebutuhan masyarakat.

Kolaborasi antara pemerintah, DPRD, dunia usaha, serta masyarakat diharapkan mampu mendorong transformasi ekonomi daerah sekaligus mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah kepulauan Kabupaten Alor.

Jurnalis : Nursan

Personel Sihumas Polres Sikka Berbagi Takjil, Pererat Kebersamaan di Bulan Ramadan

SIKKA, BAJOPOS.COM – Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di Kabupaten Sikka terasa semakin hangat dengan kegiatan berbagi yang dilakukan oleh personel Seksi Hubungan Masyarakat (Sihumas) Polres Sikka.

Pada Selasa (17/03/2026) sore, sejumlah personel turun langsung ke jalan untuk membagikan takjil kepada masyarakat yang melintas. Kegiatan tersebut dilaksanakan pukul 16.30 Wita, bertempat di depan Mako Polres Sikka, Kelurahan Kota Baru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka.

Kegiatan dipimpin oleh Kasi Humas Polres Sikka, IPDA Leonardus Tunga, S.M, bersama tiga personel Sihumas Polres Sikka, serta didampingi anggota Bhayangkari Cabang Sikka.

Aksi sosial ini merupakan bentuk kepedulian Polres Sikka terhadap masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan. Takjil berupa makanan ringan dan minuman segar dibagikan secara gratis kepada para pengendara maupun pejalan kaki yang melintas di lokasi.

Senyum dan ucapan terima kasih dari warga menjadi bukti bahwa kegiatan sederhana tersebut membawa kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat.

Kasi Humas Polres Sikka, Ipda Leonardus Tunga, S.M, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi takjil ini tidak hanya bertujuan membantu masyarakat yang sedang berpuasa, tetapi juga untuk mempererat hubungan antara kepolisian dan warga.

“Kami ingin menunjukkan bahwa Polri hadir bukan hanya dalam menjaga keamanan, tetapi juga dalam berbagi kebahagiaan bersama masyarakat,” ujarnya.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat tercipta suasana Ramadan yang penuh kebersamaan, sekaligus memperkuat rasa solidaritas dan kepedulian sosial di tengah masyarakat Kabupaten Sikka.

Kegiatan berakhir pada pukul 17.00 Wita dan berlangsung dengan aman, tertib, serta lancar.

Penulis : Faidin

Sumber : Tribratanewssikka.com