Kam. Sep 24th, 2026

Air Bersih

Renungan Lewor Goban: Jangan Titipkan Kunci Kebahagiaanmu di Saku Orang Lain

“Perjuangkan hak boleh, tapi jangan gantungkan kebahagiaan pada pejabat.”

SEBUAH KALIMAT bijak yang disampaikan Romo Polykarpus Sola, “Yang menggantungkan kebahagiaan diri pada orang lain, itu artinya siap-siap untuk bisa saja kecewa”, menjadi bahan permenungan bagi Muhamad Yusuf Lewor Goban, masyarakat Tana Ai, warga Dusun Tuawatu, Desa Likonggete, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Bagi Yusuf, kalimat yang disebutnya sederhana itu justru terasa sangat dalam ketika dikaitkan dengan berbagai pengalaman yang mereka alami di Likonggete.

“Jangan titipkan kunci kebahagiaanmu di saku orang lain,” demikian Yusuf memaknai pesan Romo Polykarpus.

Menurutnya, manusia kerap menggantungkan harapan kebahagiaan kepada orang lain, termasuk kepada kepala desa, bantuan sosial, pembangunan fasilitas publik maupun pengakuan dari lingkungan sekitar.

Ketika harapan tersebut tidak sesuai kenyataan, kekecewaan pun muncul.

Yusuf mencontohkan persoalan bantuan sosial yang menurutnya dialami Saferius Salimpin. Ia menyebut nama Saferius tercatat dalam data laptop Dinas Sosial pada Januari, Maret dan Juni 2025, namun menurutnya bantuan tersebut tidak pernah sampai ke tangan yang bersangkutan.

Persoalan tersebut, kata Yusuf, dapat memunculkan rasa kecewa, marah dan sakit hati.

Namun, ia melihat ada pelajaran yang lebih dalam dari situasi tersebut. Menurutnya, memperjuangkan hak tetap harus dilakukan, tetapi kebahagiaan pribadi tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada keputusan atau kebaikan manusia lain.

“Kita boleh menuntut hak, seperti bansos dan air bersih, tetapi jangan gantungkan seluruh hidup dan kebahagiaan kita pada mereka. Kita tuntut karena itu hak, tetapi bahagia kita tetap kita jaga sendiri,” tulis Yusuf dalam refleksinya.

Kebahagiaan dan Perspektif Hukum

Dalam tulisannya, Yusuf juga mencoba menghubungkan pesan tersebut dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia dan pemerintahan desa.

Ia merujuk UUD 1945, UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia serta UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Menurut Yusuf, hak warga negara dan kewajiban pemerintah harus tetap diperjuangkan melalui jalur yang benar. Namun, perjuangan terhadap hak tersebut tidak berarti seseorang harus menyerahkan seluruh ketenangan batinnya kepada pihak yang memiliki kewenangan.

Ia menilai masyarakat perlu tetap mandiri dan berani melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan.

“Pelajaran hukumnya: kita boleh menuntut hak, tetapi jangan gantungkan seluruh hidup dan kebahagiaan kita pada mereka,” tulisnya.

Menemukan Pesan yang Sama dalam Kekristenan

Menariknya, Yusuf yang mengidentifikasi dirinya sebagai seorang Muslim juga melihat pesan Romo Polykarpus dari perspektif rohani Katolik.

Ia merujuk sejumlah bagian Kitab Suci dan Katekismus Gereja Katolik mengenai kebahagiaan sejati, ketergantungan kepada Tuhan serta kerinduan manusia akan Allah.

Menurut Yusuf, pesan tersebut mengingatkan bahwa manusia tidak seharusnya menjadikan manusia lain sebagai sumber utama kebahagiaannya.

Ia kemudian menemukan nilai yang serupa dalam ajaran Islam.

Dari Perspektif Islam

Yusuf mengutip Surah Ar-Ra’d ayat 28 tentang ketenteraman hati melalui mengingat Allah serta Surah Al-Insyirah ayat 8 mengenai pentingnya berharap kepada Tuhan.

Ia juga merujuk hadis riwayat Tirmidzi mengenai pesan untuk menjaga hubungan dengan Allah.

Bagi Yusuf, berbagai ajaran tersebut memiliki satu benang merah: manusia boleh berharap dan berjuang, tetapi tempat menggantungkan hati dan ketenangan hidup bukanlah kepada sesama manusia.

Dalam pemahamannya, sikap tersebut berkaitan dengan tawakal dan keteguhan hati untuk tidak menggantungkan diri sepenuhnya kepada makhluk.

Tetap Berjuang, Tanpa Kehilangan Kebahagiaan

Pada bagian akhir refleksinya, Yusuf menegaskan bahwa renungan tersebut tidak membuatnya berhenti memperjuangkan persoalan yang menurutnya menjadi hak masyarakat.

Ia menyatakan tetap akan berjuang bersama Saferius Salimpin untuk persoalan bantuan sosial, pembangunan air bersih yang disebutnya mangkrak, serta persoalan semen yang menurutnya belum terselesaikan.

Baginya, memperjuangkan keadilan merupakan bagian dari tanggung jawab moral.

Namun, perjuangan tersebut tidak boleh membuat seseorang kehilangan kebahagiaan dan ketenangan batin.

“Saya tidak akan membiarkan kekecewaan itu merusak kebahagiaan saya,” tulisnya.

Yusuf menegaskan bahwa ukuran kebahagiaan bagi dirinya bukan terletak pada apakah seorang pejabat memenuhi harapannya atau tidak, melainkan pada keyakinan bahwa ia telah berkata jujur, berani menyuarakan persoalan dan berusaha berjalan di jalan yang diyakininya benar.

“Jika Camat Talibura tanggal 18 September nanti berbuat adil, Alhamdulillah. Jika tidak, saya tetap bahagia karena saya sudah berjuang di jalan yang benar,” tulisnya.

Pada akhirnya, Yusuf merangkum seluruh perenungannya dalam satu kalimat:

“Kebahagiaan saya tidak ada di tangan Kepala Desa, tapi ada di dalam dada saya sendiri, bersama Tuhan.”

Refleksi tersebut sekaligus menjadi ungkapan terima kasih Yusuf kepada Romo Polykarpus Sola atas kalimat yang menurutnya telah memberikan ruang permenungan di tengah perjuangan dan persoalan yang dihadapi masyarakat di Likonggete.

Penulis : M. Yusuf Lewor Gobang
Editor : Redaksi

Bak Air Pecah, Rumah Retak di Dobo, Kabupaten Sikka dan Bantuan Pemerintah yang Belum Terasa

SIKKA, Bajopos.com | Gempa bumi bukan hanya meninggalkan retakan pada rumah warga Dusun Dobo, Desa Ian Tena, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka.

Guncangan juga memecahkan puluhan bak penampungan air, membuat warga kini menghadapi persoalan baru: kesulitan mendapatkan air bersih.

Di dusun yang dihuni sekitar 33 kepala keluarga dengan 28 rumah itu, jejak gempa masih terlihat jelas. Sejumlah rumah mengalami kerusakan pada bagian dinding. Retakan membuat warga belum berani kembali tidur di dalam rumah karena dihantui kekhawatiran akan gempa susulan.

Sebagian warga akhirnya memilih bertahan di luar rumah dengan perlindungan seadanya.

Rumah warga yang rusak parah dan belum mendapat perhatian pemerintah. (Doc. Aris Halilintar).

Namun, persoalan tidak berhenti pada rumah yang rusak.

Bak-bak penampungan air yang selama ini menjadi tumpuan kebutuhan warga juga pecah akibat guncangan.

Sergius Moa, warga Dobo, mengatakan kerusakan bak air semakin memperparah kondisi warga yang sejak awal memang kesulitan mendapatkan sumber air.

“Bak air ada yang pecah akibat gempa. Sampai sekarang kami masih kesulitan mendapatkan air,” kata Sergius.

Menurutnya, Dusun Dobo memang tidak memiliki mata air. Warga selama ini hanya mengandalkan air hujan atau membeli air menggunakan tangki.

Ketika bak penampungan pecah, persoalan air pun berubah menjadi ancaman serius bagi kebutuhan sehari-hari warga.

“Di sini tidak ada mata air. Kami hanya mengandalkan air hujan dan kalau tidak ada, kami beli dari tangki,” ujarnya.

Bantuan Pemerintah Belum Terasa

Di tengah kondisi tersebut, Sergius mengaku warga Dobo hingga kini belum mendapatkan bantuan dari pemerintah desa maupun Pemerintah Kabupaten Sikka.

Bantuan yang telah diterima warga, kata dia, justru datang dari komunitas Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Caritas.

“Kami sampai sekarang belum mendapat sentuhan dari pemerintah desa maupun kabupaten. Bantuan yang sudah kami terima baru dari komunitas AMAN dan Caritas,” katanya.

Keluhan tersebut menjadi gambaran lain dari kondisi warga terdampak gempa yang berada jauh dari pusat perhatian.

Mereka tidak hanya membutuhkan bantuan pangan. Mereka membutuhkan air untuk hidup dan tempat yang aman untuk tidur.

Sergius menuturkan, kondisi rumah yang mengalami kerusakan membuat warga masih diliputi ketakutan.

“Rumah batu, seluruh dindingnya pecah. Kami masih takut masuk dan tidur di dalam rumah,” ujar Sergius saat ditemui di kediamannya di Dobo.

Pantauan di lokasi menunjukkan sebagian warga masih memilih tidur dan beraktivitas di luar rumah. Ruang terbuka menjadi pilihan karena dianggap lebih aman dibandingkan kembali ke bangunan yang telah mengalami keretakan.

Kondisi ini membuat persoalan warga Dobo datang berlapis.

Rumah retak menghilangkan rasa aman. Bak air pecah mengganggu akses air. Sementara bantuan pemerintah, menurut pengakuan warga, belum juga mereka rasakan.

Warga tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan.

Mereka hanya membutuhkan air bersih, tempat berlindung yang aman, serta kehadiran pemerintah untuk melihat langsung kondisi mereka.

Bagi warga Dobo, perhatian pemerintah bukan sekadar soal bantuan yang datang dalam bentuk barang.

Lebih dari itu, mereka ingin memastikan bahwa setelah gempa mengguncang rumah-rumah mereka, mereka tidak ikut kehilangan rasa percaya bahwa masih ada pemerintah yang berdiri bersama mereka.

Reporter : Aris Halilintar
Editor : Redaksi

Pemkab Nagekeo Audiensi dengan Bappenas, Usulkan Kebijakan Khusus untuk Percepat Pembangunan Infrastruktur

NAGEKEO, Bajopos.com | Pemerintah Kabupaten Nagekeo menggelar audiensi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) guna menyampaikan sejumlah kebutuhan strategis daerah yang memerlukan dukungan kebijakan dari pemerintah pusat.

Audiensi tersebut dipimpin Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Gratianus Muga Sada, didampingi Ketua DPRD Kabupaten Nagekeo Safar Laga Rema serta Kepala Bidang PPEPD Baperida Kabupaten Nagekeo.

Dalam pertemuan itu, Pemerintah Kabupaten Nagekeo mengajukan permohonan afirmasi, relaksasi, dispensasi, dan fasilitasi terkait alokasi belanja pembangunan infrastruktur.

Usulan tersebut dinilai penting untuk mendukung percepatan pelaksanaan tiga program super prioritas Kabupaten Nagekeo, yakni pembangunan dan perbaikan jalan, penyediaan akses air bersih bagi masyarakat, serta pemerataan pasokan listrik di seluruh wilayah kabupaten.

Wakil Bupati Nagekeo Gonzalo Gratianus Muga Sada menegaskan bahwa dukungan pemerintah pusat sangat dibutuhkan agar berbagai program pembangunan yang telah direncanakan dapat terlaksana secara optimal dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

“Kami sangat berharap diberikan perhatian dan kebijakan khusus terkait alokasi belanja infrastruktur di Kabupaten Nagekeo, agar pembangunan dapat berjalan sesuai target dan bermanfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Gonzalo.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, meningkatkan kualitas pelayanan dasar, serta memperkuat konektivitas antarwilayah di Kabupaten Nagekeo.

Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Nagekeo, Safar Laga Rema, menyatakan dukungan penuh lembaganya terhadap langkah yang dilakukan pemerintah daerah dalam memperjuangkan kebutuhan pembangunan di tingkat pusat.

“DPRD mendukung dan siap membantu pemerintah daerah dalam melakukan sinkronisasi antara program yang disusun pemerintah pusat dengan kebutuhan dan program pembangunan di daerah,” katanya.

Safar menilai sinergi antara pemerintah daerah, DPRD, dan pemerintah pusat menjadi kunci dalam memastikan program pembangunan berjalan efektif dan tepat sasaran sesuai kebutuhan masyarakat.

Melalui audiensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Nagekeo berharap adanya dukungan kebijakan dan alokasi anggaran yang lebih fleksibel dari pemerintah pusat sehingga program-program prioritas daerah dapat direalisasikan secara bertahap dan berkelanjutan.

Reporter : Zainudin Abdullah
Editor : Faidin