Jum. Jul 31st, 2026

Terduga Pelaku Kematian Siswa SMP di Rubit Kabur Saat Dirawat, Polisi Diminta Jelaskan Prosedur Pengawalan

SIKKA, Bajopos.com – Proses hukum atas kasus kematian tragis S.T.N, siswa SMP MBC Ohe, kembali memasuki babak baru. S.G, pria yang dikenal sebagai dukun dan telah diamankan sebagai terduga pelaku utama, dilaporkan melarikan diri dari pengawasan aparat kepolisian pada Jumat (27/2/2026) sore.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, S.G kabur saat menjalani perawatan medis di RSUD Tc Hillers Maumere setelah sebelumnya mengeluhkan kondisi kesehatannya. Terduga disebut memanfaatkan momentum pemeriksaan tersebut untuk meninggalkan lokasi tanpa terdeteksi petugas.

Kasus ini sendiri berkaitan dengan penemuan jenazah S.T.N di Kali Watuwogat, Desa Rubit, pada Senin (23/2) lalu, yang sempat menggegerkan warga setempat. Sejak saat itu, perhatian publik tertuju pada penanganan perkara oleh Polres Sikka.

Informasi awal mengenai kaburnya S.G pertama kali beredar dari pihak keluarga korban. Dikutip dari Tajukntt.id, perwakilan keluarga korban, Polikarpus Heret, menyampaikan kekecewaannya atas peristiwa tersebut.

“Pelaku kabur dengan menumpang ojek. Sore tadi informasi yang kami terima, ia sempat menuju ke rumah keluarganya di Nebe. Sekarang posisinya sudah tidak tahu lari ke mana lagi,” ujar Polikarpus, Jumat (27/2/2026) malam.

Keluarga korban mempertanyakan standar pengamanan terhadap tersangka kasus kriminal berat. Fakta bahwa terduga dapat meninggalkan rumah sakit, bahkan menggunakan jasa ojek, memunculkan tanda tanya publik terkait prosedur pengawalan yang diterapkan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan rinci dari kepolisian mengenai kronologi lengkap kaburnya S.G dari area rumah sakit. Kasi Humas Polres Sikka, IPDA Leonardus Tunga, saat dikonfirmasi media, hanya memberikan respons singkat.

“Mohon waktu,” tulis IPDA Leo. Jumad, (27/02) malam via WhatsApp.

Kasus kematian S.T.N sebelumnya telah menyita perhatian warga Desa Rubit dan masyarakat Kabupaten Sikka selama sepekan terakhir. Kaburnya terduga pelaku kini menambah kekhawatiran baru, terutama terkait kelanjutan proses hukum serta rasa aman masyarakat.

Aparat kepolisian diharapkan segera memberikan keterangan resmi sekaligus langkah-langkah konkret untuk menangkap kembali terduga pelaku dan memastikan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya.(Faidin)

Ibadah Tak Kunjung Mengubah Keadaan? Memahami Janji Allah, Ujian Hidup, dan Perspektif Ulama

Oleh: Redaksi

 

SIKKA, Bajopos.com – Di tengah dinamika kehidupan umat, kerap muncul satu pertanyaan yang menggugah nurani: mengapa ada orang yang rajin berdoa, tekun sholat, istiqamah bersedekah, serta aktif dalam berbagai ibadah lainnya, namun kehidupan dunianya seolah tidak banyak berubah? Rezeki terasa sempit, usaha belum membuahkan hasil besar, dan persoalan datang silih berganti.

Pertanyaan ini bukan sekadar keluhan emosional. Ia menyentuh wilayah akidah, pemahaman tentang takdir, serta cara pandang terhadap janji Allah dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah ﷺ.

Tulisan ini mencoba mengurai persoalan tersebut dalam perspektif nash syar’i dan penjelasan para ulama, dengan tetap berpijak pada kaidah jurnalistik yang berimbang dan argumentatif.

Janji Allah dalam Al-Qur’an: Pasti, Namun Tidak Sempit

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.”
(QS. Ghafir: 60)

Ayat ini sering dijadikan sandaran utama bahwa doa pasti dikabulkan. Namun, pengabulan dalam perspektif Allah tidak selalu identik dengan pemenuhan permintaan secara instan.

Dalam ayat lain Allah menegaskan:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
(QS. At-Talaq: 2–3)

Ayat ini memberi jaminan jalan keluar dan rezeki. Namun, apakah rezeki selalu berbentuk kekayaan? Apakah jalan keluar selalu berarti bebas dari masalah?

Al-Qur’an sendiri memberikan perspektif lebih luas:

فَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini menjadi landasan bahwa ukuran baik dan buruk tidak selalu sama antara manusia dan Allah.

Hadits: Doa Selalu Dijawab

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung dosa dan tidak memutus silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: dikabulkan segera, disimpan baginya di akhirat, atau dijauhkan darinya keburukan yang sebanding.”
(HR. Ahmad)

Hadits ini menegaskan satu hal penting: tidak ada doa yang sia-sia.

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, jawaban doa bisa jadi ditunda karena Allah mengetahui waktu terbaik untuk memberikannya. Bahkan, terkadang Allah menahan sesuatu dari hamba-Nya karena kasih sayang-Nya, bukan karena murka-Nya.

Dengan demikian, keterlambatan perubahan duniawi bukanlah indikator kegagalan ibadah.

Ujian adalah Keniscayaan Iman

Allah berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi?”
(QS. Al-‘Ankabut: 2)

Dan firman-Nya:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
(QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini menunjukkan bahwa ujian adalah sunnatullah.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisal mereka, kemudian yang semisal mereka.”
(HR. Tirmidzi)

Jika parameter keberhasilan adalah bebas dari kesulitan, maka para nabi justru tampak paling “tidak berhasil”. Padahal mereka adalah manusia paling mulia di sisi Allah.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa beratnya ujian merupakan tanda kuatnya iman dan tingginya derajat seseorang di sisi Allah.

Dunia Bukan Ukuran Mutlak

Sering kali problem terletak pada orientasi. Allah memperingatkan:

مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ ۝ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ
(QS. Hud: 15–16)

Sebaliknya, Allah menegaskan:

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ
(QS. An-Nahl: 96)

Artinya, dunia hanyalah fase sementara. Bisa jadi seseorang tidak mengalami lonjakan materi, tetapi mendapatkan ketenangan hati, keluarga yang harmonis, kesehatan, atau keselamatan dari musibah besar—dan itu semua adalah bentuk perubahan yang sering luput dari perhitungan manusia.

Muhasabah: Apakah Sudah Ada Perubahan Internal?

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menjadi dasar penting bahwa perubahan eksternal sering kali didahului perubahan internal.

Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa dosa dapat menjadi penghalang turunnya keberkahan. Maka selain memperbanyak ibadah secara kuantitas, kualitasnya pun harus diperbaiki: keikhlasan, kekhusyukan, kejujuran dalam mencari nafkah, serta menjauhi maksiat.

Doa tanpa usaha adalah kelalaian. Usaha tanpa doa adalah kesombongan. Islam menuntut keduanya berjalan beriringan.

Perspektif Akhirat: Tempat Jawaban Sempurna

Ada satu dimensi yang sering dilupakan: akhirat.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa kelak seorang hamba akan melihat pahala doa-doanya yang tidak dikabulkan di dunia, lalu ia berharap seandainya tidak ada satu pun doanya yang dikabulkan di dunia, karena begitu besar balasan yang Allah simpan untuknya di akhirat.

Inilah perspektif yang mengubah cara pandang: kegagalan dunia belum tentu kegagalan sejati.

Olehnya, perlu di ingat bahwa ibadah yang tampak tidak mengubah keadaan dunia bukanlah tanda kesia-siaan. Ia bisa jadi sedang membangun fondasi yang lebih kokoh: kesabaran, ketundukan, dan kedekatan dengan Allah.

Perubahan hidup tidak selalu berbentuk kekayaan atau jabatan. Kadang ia hadir dalam bentuk hati yang lebih tenang, jiwa yang lebih sabar, dan iman yang lebih kuat menghadapi badai.

Dalam perspektif Al-Qur’an dan Hadits, janji Allah pasti benar. Namun manusia dituntut untuk memahami bahwa ukuran keberhasilan bukan hanya dunia, melainkan keselamatan abadi di akhirat. Dan di sanalah seluruh doa yang tertunda akan menemukan jawabannya secara sempurna.

Ancaman Juga Siksa Menanti Siapapun yang Meremehkan ‘Tidak Puasa Ramadhan’

Sabda Nabi “Siapa yang berbuka satu hari di bulan Ramadhan tanpa rukhsah dan tanpa sakit, maka ia tidak akan mampu menggantinya walaupun berpuasa sepanjang tahun (HR. Abu Dawud).”

Oleh : Abdurahim Yunus S.HI

NAGEKEO, Bajopos.com – Ramadhan adalah bulan yang Allah muliakan di atas seluruh bulan. Di dalamnya Al-Qur’an diturunkan, pahala dilipatgandakan, dan pintu-pintu surga dibuka. Namun di balik kemuliaan itu, terdapat ancaman keras bagi siapa saja yang dengan sengaja meremehkan kewajiban puasa tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini merupakan perintah tegas. Puasa Ramadhan bukan tradisi tahunan atau pilihan pribadi, melainkan kewajiban langsung dari Allah kepada setiap muslim yang baligh, berakal, dan mampu.

Puasa Ramadhan juga termasuk salah satu rukun Islam. Dalam hadits sahih yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa Islam dibangun di atas lima perkara, dan beliau menyebutkan di antaranya adalah puasa Ramadhan (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj).

Karena itu, siapa yang dengan sengaja meninggalkan puasa tanpa uzur seperti sakit atau safar, berarti ia telah meremehkan salah satu pilar utama agama. Para ulama menjelaskan, jika seseorang mengingkari kewajibannya maka ia dapat terjatuh pada kekafiran. Adapun jika ia mengakui kewajiban itu namun meninggalkannya karena malas atau meremehkan, maka ia telah melakukan dosa besar yang sangat berat.

Ancaman keras bagi orang yang sengaja berbuka tanpa alasan tergambar dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bahili RA. Rasulullah SAW menceritakan mimpi tentang sekelompok orang yang digantung terbalik, mulut mereka robek hingga ke tengkuk dan darah mengalir deras. Ketika beliau bertanya siapa mereka, dijawab: mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum halal waktunya.

Dalam riwayat lain dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang berbuka satu hari di bulan Ramadhan tanpa rukhsah dan tanpa sakit, maka ia tidak akan mampu menggantinya walaupun berpuasa sepanjang tahun (HR. Abu Dawud). Ini menunjukkan betapa besar kedudukan satu hari puasa Ramadhan.

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa setiap amal akan dimintai pertanggungjawaban. Allah berfirman dalam QS. Al-Hijr ayat 92–93:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْـَٔلَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ
عَمَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.”

Pada hari itu manusia berdiri dalam keadaan haus, takut, dan penuh penyesalan. Matahari didekatkan, keringat menenggelamkan manusia sesuai kadar amalnya. Orang yang dahulu enggan menahan lapar dan dahaga karena Allah akan merasakan dahaga yang jauh lebih dahsyat di Padang Mahsyar.

Namun sebesar apa pun dosa, pintu taubat tetap terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 53:

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”

Karena itu, jika pernah meninggalkan puasa dengan sengaja, segeralah bertaubat dengan taubat nasuha: menyesali perbuatan, bertekad tidak mengulanginya, dan mengganti puasa yang ditinggalkan.

Ramadhan adalah kesempatan emas menuju ampunan. Jangan sampai ia menjadi saksi kelalaian kita di hadapan Allah. Semoga Allah menjaga kita dari meremehkan kewajiban-Nya dan menjadikan Ramadhan sebagai sebab keselamatan kita di dunia dan akhirat. Aamiin.(Faidin)

Adat, Tarian, dan Struktur Sosial Suku Bajo

SIKKA, Bajopos.com – Di tengah hamparan laut yang menjadi ruang hidupnya, Suku Bajo membangun tatanan sosial yang bertumpu pada adat. Di atas rumah-rumah panggung yang berdiri di perairan, nilai kehormatan, aturan perkawinan, hingga tarian perang diwariskan sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas mereka.

Adat sebagai Penjaga Harga Diri

Dalam masyarakat Bajo, adat bukan sekadar aturan, melainkan penjaga pakayya—harga diri keluarga. Nilai ini paling tampak dalam sistem perkawinan.

Perkawinan resmi melalui proses peminangan yang dikenal sebagai Massuro menjadi bentuk yang paling umum. Prosesi ini berlaku bagi seluruh lapisan masyarakat, baik bangsawan maupun masyarakat biasa, dengan perbedaan pada kelengkapan ritual adat. Dalam setiap tahapan, keluarga besar terlibat, menegaskan bahwa perkawinan adalah urusan kolektif, bukan semata hubungan pribadi.

Namun dinamika sosial juga mengenal Silaiyang atau kawin lari. Dalam praktik ini, pasangan yang sepakat melarikan diri menuju rumah penghulu atau anggota adat untuk meminta perlindungan dan dinikahkan. Peristiwa ini kerap dianggap mencoreng pakayya keluarga perempuan.

Pada masa lalu, keluarga yang merasa dipermalukan dapat mengambil tindakan keras demi menegakkan kehormatan. Kini, ketika pasangan telah berada dalam perlindungan penghulu, mereka tidak dapat diganggu. Penghulu berkewajiban mengurus proses pernikahan, termasuk melalui mekanisme wali hakim apabila keluarga perempuan menolak memberikan restu.

Meski sah secara adat dan agama, hubungan kedua keluarga belum tentu pulih. Diperlukan proses sipamapporah atau permintaan maaf agar relasi sosial kembali harmonis. Dalam konteks ini, adat berfungsi sebagai penengah konflik sekaligus pemulih keseimbangan sosial.

Selain itu, terdapat pula Perkawinan Duduk (Sitingkoloang), yakni ketika salah satu pihak mendatangi rumah keluarga pasangannya dan menyerahkan diri sebagai bentuk kesungguhan cinta. Proses ini dilanjutkan dengan musyawarah keluarga (sitummu).

Adat juga secara tegas melarang perkawinan dengan hubungan darah dekat, baik garis lurus ke atas maupun ke bawah, serta saudara kandung dan keturunan terdekat lainnya. Aturan ini memperlihatkan kuatnya struktur kekerabatan dalam masyarakat Bajo.

Tradisi unik lainnya adalah malam pertama pengantin baru yang dilepas ke laut menggunakan perahu. Pasangan tersebut menghabiskan malam di atas air—simbol bahwa kehidupan rumah tangga mereka menyatu dengan laut sebagai sumber kehidupan.

Struktur Sosial dan Kehidupan Komunitas

Komunitas Bajo umumnya hidup berkelompok di atas laut, menempati rumah-rumah yang berdiri di atas tiang tanpa jembatan penghubung. Pola ini membentuk ikatan internal yang kuat, sekaligus menciptakan jarak sosial tertentu dengan komunitas darat.

Dalam interaksi sehari-hari, bahasa Bajo menjadi identitas utama. Di antara sesama warga, penggunaan bahasa ini diwajibkan sebagai bentuk pemeliharaan jati diri kolektif.

Laut menjadi pusat kehidupan sosial. Selain sebagai sumber ekonomi, laut juga memiliki makna simbolik dan spiritual. Sejak lama, orang tua mereka menggantungkan hidup dari hasil laut tanpa batasan wilayah tangkap seperti yang berlaku saat ini.

Di beberapa wilayah, seperti di Kepulauan Wakatobi, komunitas Bajo hidup berdampingan secara administratif dengan masyarakat setempat, namun tetap mempertahankan ruang sosial tersendiri. Pola ini memperlihatkan bagaimana mereka menjaga kohesi internal sekaligus beradaptasi dengan sistem pemerintahan modern.

Tarian sebagai Ekspresi Adat

Ekspresi budaya Bajo juga tercermin dalam seni tari dan bela diri tradisional.

Tarian Manca menjadi salah satu tarian paling populer, terutama dalam pesta perkawinan resmi (Massuro). Tarian ini dibawakan oleh dua orang pamanca yang saling berhadapan sambil membawa pedang. Gerakannya mengikuti irama sarroni (seruling) dan gandah (gendang).

Manca bukan sekadar hiburan, tetapi simbol keberanian, ketangkasan, dan kehormatan. Para pamanca umumnya telah berlatih sejak kecil, sehingga gerakan mereka lentur dan selaras dengan musik pengiring.

Sementara itu, Sile’ Kampoh (Silat Kampung) menjadi dasar dari gerakan Manca. Silat ini tidak dapat dipelajari sembarang orang; syaratnya harus cukup umur dan menjalani masa latihan hingga empat minggu untuk mencapai kemahiran dasar.

Bagi masyarakat Bajo, silat bukan hanya teknik bela diri, melainkan jalan hidup yang mencerminkan kedisiplinan, keberanian, dan tanggung jawab sosial. Jurus-jurus yang dipelajari dalam silat kampung diterapkan dalam tarian Manca, memperlihatkan keterkaitan antara seni dan pertahanan diri.

Adat yang Bertahan di Tengah Perubahan

Modernisasi membawa perubahan dalam banyak aspek kehidupan Bajo, termasuk pola ekonomi dan teknologi penangkapan ikan. Namun dalam ranah sosial dan budaya, adat tetap menjadi fondasi utama.

Dari tata cara perkawinan yang menjaga pakayya, mekanisme musyawarah dalam menyelesaikan konflik, hingga tarian pedang yang menggema dalam pesta adat, Suku Bajo menunjukkan bahwa identitas mereka tidak hanya dibentuk oleh laut, tetapi juga oleh sistem nilai yang kokoh.

Di atas air yang terus bergerak, adat menjadi jangkar—menjaga keseimbangan antara kehormatan keluarga, solidaritas komunitas, dan warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.(Faidin)

Suku Bajo, Penjaga Tradisi Bahari Nusantara

SIKKA, Bajopos.com Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan suku dan budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Salah satu kelompok etnik yang memiliki karakter kuat dan keunikan tersendiri adalah Suku Bajo. Komunitas ini dikenal luas sebagai masyarakat bahari yang kehidupannya sangat erat dengan laut.

Suku Bajo tersebar di berbagai wilayah Indonesia bagian timur, terutama di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara. Mereka juga dikenal dengan sebutan Bajau, Badjaw, Sama, atau Same. Sejak dahulu, Suku Bajo dikenal sebagai bangsa penjelajah lautan. Mereka hidup berpindah-pindah menggunakan perahu dan mengandalkan posisi bintang sebagai penunjuk arah saat berlayar.

Seiring perkembangan zaman, pola hidup nomaden tersebut perlahan berubah. Masyarakat Bajo mulai menetap dan membangun rumah-rumah panggung di atas perairan dangkal sebagai tempat tinggal. Walaupun tidak lagi sepenuhnya hidup di atas perahu, identitas mereka sebagai masyarakat maritim tetap kuat. Mayoritas masyarakat Bajo bekerja sebagai nelayan dan dikenal sangat mahir menyelam.

Dalam perjalanan sejarahnya, Suku Bajo memiliki kisah panjang yang selalu berkaitan dengan laut. Pada masa lalu, sebagian kelompok mereka dikenal sebagai perompak laut yang tangguh. Kemampuan navigasi dan penguasaan perairan Nusantara membuat mereka disegani. Namun, seiring waktu, mereka meninggalkan praktik tersebut dan beralih menjadi nelayan serta pelaut tradisional yang menetap di wilayah pesisir.

Kehidupan sosial masyarakat Bajo sangat bergantung pada hasil laut. Aktivitas sehari-hari mereka diisi dengan memancing, menjaring, hingga memanah ikan menggunakan cara-cara tradisional. Hasil tangkapan biasanya dijual kepada masyarakat di pesisir atau pulau terdekat. Selain menangkap ikan, sebagian masyarakat Bajo kini juga mulai mengembangkan budidaya komoditas bahari seperti lobster, udang, dan ikan kerapu.

Permukiman mereka dikenal unik karena dibangun di atas laut. Rumah adat Suku Bajo disebut lepa-lepa, berupa rumah panggung yang terapung atau berdiri di atas perairan dangkal. Rumah ini terbuat dari kayu tahan air yang diikat dengan tali rotan kuat, sementara lantainya menggunakan bambu yang disusun rapat untuk menjaga keseimbangan. Di dalamnya terdapat ruang tamu, kamar tidur, dapur, serta tempat penyimpanan hasil laut. Rumah bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keluarga dan adat.

Keunikan Suku Bajo juga terlihat dari bahasa dan keseniannya. Bahasa Bajo termasuk dalam rumpun Austronesia dengan beragam dialek. Dalam tradisi budaya, mereka memiliki tarian khas seperti Tari Katreji dan Tari Lariangi yang ditampilkan dalam upacara adat maupun festival lokal. Selain itu, masyarakat Bajo juga dikenal memiliki keahlian dalam membuat perahu tradisional, termasuk kapal phinisi yang kini banyak dimanfaatkan sebagai kapal wisata di Labuan Bajo.

Dalam hal busana adat, Suku Bajo memiliki pakaian tradisional yang mencerminkan identitas maritim mereka. Pakaian adat pria disebut Sarija, terdiri dari sigar (ikat kepala), kamas (baju atasan), saluar (celana), dan bidah (sarung). Sementara itu, pakaian adat perempuan disebut Samara yang terdiri dari Sigada, Kamada, Juada, dan Roktaha. Busana ini umumnya menggunakan warna-warna cerah, dipadukan dengan kain sarung bermotif serta aksesoris sederhana yang disesuaikan dengan acara dan status sosial.

Suku Bajo dapat ditemukan di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Permukiman mereka terdapat di Teluk Tomini, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah; Kepulauan Sula di Maluku Utara; Pulau Bungin di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat; serta di Kepulauan Wakatobi yang dikenal sebagai salah satu konsentrasi terbesar komunitas Bajo di Indonesia. Ciri khas permukiman tersebut adalah kampung terapung yang selalu berdampingan langsung dengan laut.

Suku Bajo menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat Indonesia mampu hidup berdampingan dengan alam laut secara turun-temurun. Dengan sejarah panjang, kehidupan sosial yang khas, serta kekayaan budaya yang tetap terjaga, Suku Bajo turut memperkaya mozaik keberagaman budaya Indonesia sebagai negara maritim.(Faidin)

Kabupaten Sikka Disiapkan Jadi Hub Tuna Nasional

SIKKA, Bajopos.com – Setelah sehari sebelumnya menjejak Kampung Nelayan Merah Putih di Sulamu, Kabupaten Kupang, langkah Sakti Wahyu Trenggono belum berhenti.

Kamis (26/2/2026), ia berdiri di pesisir Nangahure Lembah, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Maumere, menatap hamparan laut yang diproyeksikan menjadi simpul baru ekonomi nelayan di Flores bagian timur.

Kunjungan itu bukan sekadar seremoni. Di lokasi Kampung Nelayan Merah Putih Wuring, Menteri Kelautan dan Perikanan melihat langsung titik yang akan ditata menjadi kawasan terpadu.

“Ini salah satu lokasi yang akan dibangun kampung nelayan merah putih. Kemarin di Kupang dan hari ini ke Sikka. Saya minta kampung nelayan bisa didaftarkan untuk kita cek dan evaluasi untuk kita integrasikan,” ujar Trenggono.

Ia menegaskan, kampung nelayan bukan hanya deretan bangunan, melainkan ekosistem ekonomi. Di atas lahan itu direncanakan berdiri sedikitnya 18 fasilitas penting: gerbang utama, akses jalan, masjid, pos jaga, bengkel nelayan, kios perbekalan dan kios pemasaran, tempat pembuangan sampah, kantor pengelola, SPDN, TPI, docking, MCK, tambatan perahu, pabrik es, cold storage, menara tangki air hingga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Tak berhenti di infrastruktur, Kementerian juga menyiapkan skema pasar. “Nantinya akan ada offtaker, pihak yang membeli produk dari nelayan. Kami juga akan memberikan bantuan kapal di bawah lima gross ton,” ungkapnya. Kapal fiberglass berukuran 5 GT itu, menurutnya, akan disesuaikan jumlahnya dengan kebutuhan.

Trenggono mengakui baru pertama kali berkunjung ke Kabupaten Sikka. Namun ia telah mendengar reputasi Sikka sebagai salah satu pusat perikanan tuna. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah segera menyiapkan lahan agar seluruh fasilitas bisa dibangun terintegrasi. Anggaran yang disiapkan berkisar Rp13 miliar hingga Rp22 miliar.

Di hadapan pemerintah daerah, ia juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan. Penangkapan ikan harus dijaga agar tetap lestari sehingga generasi mendatang tetap menikmati hasil laut.

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, menyambut kunjungan tersebut sebagai sinyal kuat keseriusan pemerintah pusat. Menurutnya, kehadiran langsung menteri di lokasi menjadi kabar gembira bagi daerah.

“Kami diminta segera membuat konsep. Sudah pasti akan dibangun kampung nelayan di wilayah ini,” ujarnya.

Juventus juga mengungkapkan, Menteri meminta data 68 desa pesisir di Sikka untuk dipetakan bersama, termasuk melibatkan Lanal Maumere. Nantinya akan ditentukan desa mana yang menjadi pusat (hub) dan mana yang menjadi penyangga.

Gambaran besarnya, satu kawasan akan menjadi inti distribusi dan pengolahan, sementara desa-desa lain menopang produksi. Bahkan, ada harapan satu daerah di Flores bagian timur bisa menjadi hub yang mengoordinasikan potensi kelautan dan perikanan secara kolaboratif.

“Sekarang di depan mata kita, kita kerjakan dulu apa yang diminta KKP agar bisa segera direalisasikan,” pungkasnya.

Dari pesisir Wuring, gagasan besar itu mulai dirajut—membangun bukan hanya kampung nelayan, tetapi poros baru ekonomi laut di timur Indonesia.(Faidin)

 

Kejari Sikka Naikkan Status Kasus Watergen Desa Semparong ke Penyidikan

SIKKA, Bajopos.com– Kejaksaan Negeri Sikka resmi menaikkan status perkara dugaan tindak pidana korupsi Pekerjaan Penyediaan Air Bersih Teknologi Watergen di Desa Semparong, Kabupaten Sikka, Tahun Anggaran 2022 ke tahap penyidikan.

Peningkatan status tersebut disampaikan Kepala Seksi Intelijen Kejari Sikka, Okky Prastyo Ajie, S.H., M.H., dalam press release kepada media, Kamis (26/2/2026).

Kepala Kejaksaan Negeri Sikka, Armadha Tangdibali, S.H., M.H., melalui Kasi Intelijen menjelaskan, perkara ini bermula saat Pemerintah Kabupaten Sikka mengajukan anggaran sebesar Rp2.294.430.005,00. Anggaran tersebut bersumber dari Dana Pinjaman PEN PT SMI untuk pengadaan di Dinas PUPR.

Proyek penyediaan air bersih berbasis teknologi Watergen itu dilaksanakan dengan jangka waktu 100 hari kalender. Namun dalam perjalanannya, dilakukan tiga kali adendum perpanjangan waktu hingga 10 Oktober 2023.

Berdasarkan hasil penyelidikan terhadap sembilan orang serta laporan temuan BPK, ditemukan sejumlah dugaan penyimpangan. Tim penyidik mengungkap adanya indikasi awal, salah satunya terkait dugaan penggelembungan harga (mark up) dalam penetapan HPS/RAB mesin Watergen.

Kejaksaan terus mendalami seluruh bukti guna memastikan penegakan hukum yang transparan dan akuntabel dalam menuntaskan perkara tersebut.

“Terkait dugaan tindak pidana korupsi pekerjaan penyediaan air bersih teknologi watergen Desa Semparong TA 2022 oleh Kepala Kejaksaan Negeri telah ditingkatkan ke tahap penyidikan,” tulisnya  terpisah.

Dengan peningkatan ke tahap penyidikan, Kejari Sikka kini berfokus pada pengumpulan alat bukti untuk mengungkap secara terang dugaan tindak pidana korupsi dalam proyek tersebut.(Faidin)

Wuring Bersiap Jadi Episentrum Baru Perikanan Sikka

SIKKA, Bajopos.com – Di tepi Pantai Nangahure Lembah, Kelurahan Wuring, percakapan sederhana tentang “kolam labu” membuka gambaran besar tentang masa depan ratusan nelayan.

Saat meninjau lokasi Kampung Nelayan Wuring, Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Sakti Wahyu Trenggono sempat bertanya, “Ini ya kolamnya?” Pertanyaan itu dijawab dengan kisah panjang relokasi nelayan pasca tsunami 1992 dan pembangunan kolam yang berlangsung sejak 2001 hingga 2022 oleh Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sikka, Paulus Hilarius Bangkur yang paten menempati Dinas Perikanan beberapa periode ini.

Kini, kawasan yang dihuni nelayan pindahan dari Wolomarang itu bersiap memasuki babak baru.

Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut menyatakan komitmennya untuk mengucurkan anggaran hingga Rp 22 miliar untuk Pemerintah Kabupaten Sikka yang akan difokuskan pada pembangunan ‘Kampung Nelayan Wuring‘ guna meningkatkan kesejahteraan sekitar 385 nelayan di Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat.

“Kami akan bangun banyak fasilitas, yang paling utama adalah dermaga, kemudian ada pabrik es, cold storage, perbekalan, dan bantuan kapal,” jelas Menteri Trenggono saat meninjau langsung lokasi di Gang Kampung KB Nangahure Lembah.

Tentunya, pembangunan ini bukan sekadar proyek fisik. Namun dirancang sebagai pusat aktivitas kelautan dan perikanan di Kabupaten Sikka.

Trenggono menegaskan, kehadiran kampung nelayan modern diharapkan mendorong masyarakat pesisir menjadi lebih produktif dan lebih sejahtera. Namun, prasyaratnya jelas: kesiapan lahan.

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, memastikan lahan telah tersedia. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sikka, Paulus Hilarius Bangkur, menyebut luas lahan yang disiapkan kurang lebih 6.400 meter persegi.

Di hadapan Menteri, Kadis Kelautan dan Perikanan Sikka yang kerap disapa Paul memaparkan rancangan layout yang mencakup 18 item penting.

Mulai dari gerbang utama dan akses jalan, masjid, pos jaga, bengkel nelayan, kios perbekalan dan pemasaran, tempat pembuangan sampah, kantor pengelola, SPDN, TPI, docking, MCK, tambatan perahu, pabrik es, cold storage, menara tangki air, hingga IPAL.

Rancangan ini menunjukkan bahwa kampung nelayan yang dibangun bukan sekadar deretan bangunan, melainkan ekosistem terpadu dari hulu ke hilir.

Sementara itu, Menteri Trenggono juga meminta Bupati segera mendaftarkan 18 desa sebagai objek sasaran kampung nelayan di Kabupaten Sikka. Dari 18 titik tersebut akan dievaluasi untuk ditentukan satu lokasi sebagai pusat dan lainnya sebagai penyangga. Bupati memastikan proses pendaftaran segera dilakukan.

Profil dan keragaan perikanan dan Peta Layout Calon Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Kelurahan Wuring.

Meski berada di Jakarta, di hadapan 385 nelayan, Menteri Trenggono mengungkap alasan kehadirannya di Sikka. Ia mengatakan mengetahui betul bahwa Kabupaten Sikka merupakan salah satu pusat perikanan tuna, dengan jumlah nelayan yang besar dan aktif. Pemerintah pusat pun memastikan bantuan kapal fiber berkapasitas 5 GT akan diberikan kepada nelayan, meski jumlah armada masih dalam tahap koordinasi.

Dari kolam labu yang dibangun bertahap selama dua dekade hingga rencana dermaga modern dan cold storage, Wuring tengah bergerak dari ruang bertahan menuju ruang tumbuh.

Jika seluruh rencana terealisasi, Kampung Nelayan Wuring bukan hanya menjadi simbol bantuan anggaran puluhan miliar rupiah, tetapi juga tonggak transformasi ekonomi pesisir di Kabupaten Sikka.(Faidin)

Tim Buser Polres Sikka Ringkus Dua Orang Terkait Kematian Siswa SMP di Lokasi Berbeda

SIKKA, Bajopos.com – Tim Buru Sergap (Buser) Polres Sikka bergerak cepat mengamankan dua orang yang diduga terkait kasus kematian S.T.N, siswa SMP MBC Ohe yang ditemukan meninggal dunia di Kali Watuwogat, Desa Rubit.

Korban sebelumnya dilaporkan hilang oleh keluarga sejak Jumat (20/2/2026). Setelah dilakukan pencarian selama empat hari, jasad korban ditemukan warga di aliran sungai tersebut pada Senin (23/2/2026) siang.

Berdasarkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan koordinasi dengan tim medis RSUD Tc. Hillers Maumere, korban diduga kuat mengalami penganiayaan berat sebelum meninggal dunia.

“Dugaan awalnya seperti itu (dibunuh,red). Kami terus mendalami bukti-bukti di lapangan,” ujar Kaur Bin Ops Reserse Kriminal Polres Sikka, IPTU I Nyoman Ariasa, dalam konferensi pers, Selasa (24/2/2026).

Diringkus di Dua Lokasi

Dilansir dari Tajukntt.id bahwa dalam pengembangan penyelidikan, Tim Buser Polres Sikka mengamankan SG (40) di wilayah Nebe pada Selasa (24/2/2026) sekitar pukul 09.00 WITA. Sementara FGR yang diperkirakan berusia 16 tahun diamankan di rumah keluarganya di Kampung Wolotopo, Kabupaten Ende, pada Selasa siang.

Kepala Desa Rubit, Polikarpus Heret, membenarkan bahwa keduanya merupakan warga Kampung Woloklereng, Desa Rubit. FGR diketahui merupakan siswa kelas IX SMP MBC Ohe atau kakak kelas korban.

“Saat ini keduanya sudah dibawa ke Mapolres Sikka untuk proses penyelidikan lebih lanjut,” ungkap Polikarpus saat ditemui di Polsek Kewapante, Rabu (25/2/2026) sore.

Kasie Humas Polres Sikka, IPDA Leonardus Tunga, mengatakan pihaknya telah mengamankan SG yang diduga mengetahui kasus tersebut dan masih menjalani pemeriksaan.

“Yang bersangkutan masih diperiksa tetapi faktanya kita sudah mengamankan satu orang yang mengetahui kasus tersebut,” ujarnya pada Selasa (24/2).

Terkait detail penanganan terhadap FGR, IPDA Leonardus Tunga menyebut pihaknya masih melakukan koordinasi internal dan belum ada keterangan tambahan dari Kasat Reskrim.

Saat ini, kedua terduga telah diamankan di Mapolres Sikka untuk proses penyelidikan lebih lanjut.(Fn)

SMAK St. Yosef Tana Ai Didorong Jadi Pusat Pendidikan Katolik Berkualitas

SIKKA, Bajopos.com – Kehadiran gedung baru di SMAK St. Yosef Tana Ai bukan sekadar penambahan ruang belajar. Lebih dari itu, pembangunan tersebut menjadi simbol dorongan serius pemerintah untuk memastikan pendidikan keagamaan di daerah terus bertumbuh dan relevan dengan tantangan zaman.

Momentum ini mengemuka dalam kunjungan Direktur Pendidikan Katolik Kementerian Agama RI, Albertus Triyatmojo, Selasa (24/2/2026). Ia meninjau langsung gedung yang telah rampung dibangun sekaligus berdialog dengan seluruh unsur sekolah.

Dalam perspektif penguatan mutu, keberadaan fasilitas baru dipandang sebagai fondasi awal. Namun, Albertus menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak berhenti pada bangunan fisik. Infrastruktur, menurutnya, harus berjalan seiring dengan pembelajaran yang terkelola baik serta peningkatan kapasitas dan profesionalitas guru.

“Gedung yang baik harus melahirkan proses belajar yang lebih efektif dan membentuk karakter peserta didik,” tekannya di hadapan para guru dan siswa.

Pembangunan ini menjadi bagian dari strategi Kementerian Agama untuk memperluas akses dan meningkatkan layanan pendidikan keagamaan, khususnya di wilayah Tana Ai. Ruang kelas yang lebih representatif diharapkan menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan kondusif, sehingga siswa dapat berkembang secara akademik maupun spiritual.

Kunjungan tersebut juga diisi dengan dialog terbuka bersama Ketua Yayasan, Kepala Sekolah, guru, dan peserta didik. Forum itu menjadi ruang evaluasi sekaligus penguatan komitmen bersama dalam membangun budaya mutu, disiplin, dan integritas di lingkungan sekolah.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Yosef Rangga Kapodo, menyampaikan apresiasi atas perhatian Direktorat Pendidikan Katolik terhadap sekolah-sekolah di daerah. Ia menilai dukungan tersebut memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap eksistensi SMAK St. Yosef Tana Ai sebagai lembaga pendidikan Katolik yang terus berkembang.

Sebagai bagian dari implementasi program prioritas Kementerian Agama, kegiatan ditutup dengan penanaman pohon di lingkungan sekolah. Langkah ini menegaskan bahwa penguatan pendidikan berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Dengan rampungnya gedung baru dan terbangunnya semangat kolaborasi antarunsur sekolah, SMAK St. Yosef Tana Ai diharapkan semakin mantap melahirkan generasi yang berkarakter, berintegritas, dan siap berkontribusi bagi masyarakat Nian Tana Sikka.(Faidin)

Penegerian Dua SMAK di Sikka Masuk Tahap Penguatan

SIKKA, Bajopos.com – Upaya peningkatan kualitas sekaligus perluasan akses pendidikan keagamaan Katolik di Kabupaten Sikka terus bergerak ke tahap yang lebih konkret. Hal itu mengemuka dalam pertemuan antara Direktur Pendidikan Katolik Kementerian Agama RI, Albertus Triyatmojo, dan Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, Selasa (24/2/2026), di ruang kerja Bupati Sikka.

Audiensi tersebut turut melibatkan Tim Visitasi Penilai, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, para ketua yayasan, kepala SMAK se-Kabupaten Sikka, serta Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pendidikan Katolik Kanwil Kemenag Provinsi NTT. Dalam pertemuan itu penekanannya lebih kepada pentingnya kebijakan pendidikan yang terarah serta berdampak langsung bagi masyarakat.

Albertus Triyatmojo menegaskan bahwa rencana penegerian SMAK St. Petrus Kewa Pante dan SMAK St. Benedictus Palu’e merupakan bagian dari agenda strategis pemerintah pusat untuk memperkuat pendidikan keagamaan di daerah.

Menurutnya, proses alih status menjadi sekolah negeri tidak semata administratif, melainkan harus berjalan sesuai ketentuan regulasi, terukur, dan berorientasi pada peningkatan mutu layanan. Penegerian diharapkan memperkuat tata kelola kelembagaan, mendorong peningkatan sarana-prasarana, serta memperkokoh kapasitas sumber daya manusia di lingkungan sekolah.

Ia juga menekankan pentingnya kesiapan aspek teknis, mulai dari ketersediaan lahan hingga dukungan pemerintah daerah. Seluruh persyaratan tersebut dinilai krusial agar kebijakan penegerian benar-benar memberi manfaat jangka panjang bagi generasi muda di Kabupaten Sikka.

Selain membahas dua SMAK yang diusulkan untuk dinegerikan, audiensi juga menyoroti kebutuhan pembebasan lahan untuk akses jalan menuju SMAK St. Maria Monte Carmelo. Akses yang memadai dipandang penting guna menjamin kelancaran kegiatan belajar mengajar sekaligus keselamatan warga sekolah.

Menanggapi hal itu, Bupati Juventus Prima Yoris Kago menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap pengembangan pendidikan keagamaan di Sikka. Ia menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sikka untuk mendukung penuh proses penegerian sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia.

Pemerintah daerah, lanjutnya, siap menindaklanjuti aspek teknis yang menjadi kewenangan daerah, termasuk dukungan penyediaan akses dan fasilitas penunjang pendidikan melalui kolaborasi lintas sektor.

Pertemuan ini dinilai menjadi momentum penting dalam memperkuat fondasi pendidikan keagamaan Katolik di Nian Tana Sikka. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para penyelenggara pendidikan diharapkan melahirkan kebijakan yang berkelanjutan, transformatif, dan memberi dampak nyata bagi peningkatan mutu pendidikan di daerah.(Faidin)

Visitasi Penegerian SMAK St. Petrus Kewa Pante Uji Kesiapan Tata Kelola dan Legalitas Aset

SIKKA, Bajopos.com – Proses alih status SMAK St. Petrus Kewa Pante menuju sekolah negeri memasuki tahap krusial. Direktur Pendidikan Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia, Albertus Triyatmojo, turun langsung memimpin visitasi dan evaluasi kelayakan penegerian di sekolah tersebut, Selasa (24/2/2026).

Visitasi ini bukan sekadar agenda seremonial. Tim penilai melakukan audit menyeluruh terhadap kesiapan lembaga, mulai dari kelengkapan dokumen administratif, legalitas dan status lahan, struktur organisasi, hingga data pendidik dan tenaga kependidikan. Aspek akademik, jumlah peserta didik, serta kondisi ruang kelas dan fasilitas pendukung turut menjadi perhatian utama.

Albertus menegaskan, penegerian harus berdiri di atas prinsip objektivitas dan akuntabilitas. Menurutnya, perubahan status bukan sekadar administratif, melainkan transformasi tata kelola yang berimplikasi pada mutu layanan pendidikan.

“Visitasi ini memotret kondisi riil sekolah sekaligus menjadi dasar penyusunan rekomendasi perbaikan. Penegerian harus membawa dampak nyata bagi kualitas pembelajaran dan profesionalitas guru,” ujarnya.

Dalam sesi dialog, tim juga menggali komitmen yayasan dan pihak sekolah, khususnya terkait kesiapan penyerahan aset sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Proses ini dinilai penting untuk memastikan tidak ada kendala hukum maupun administratif di kemudian hari.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Yosef Rangga Kapodo, menekankan bahwa pihaknya mengawal proses tersebut secara serius dan terukur. Ia menyebut visitasi sebagai tahapan penentu sebelum rekomendasi penegerian diterbitkan.

“Semua persyaratan harus dipenuhi secara sistematis. Jika terealisasi, penegerian ini diharapkan menjadi titik tolak peningkatan mutu pendidikan keagamaan di Kabupaten Sikka,” katanya.

Dukungan pemerintah pusat melalui Direktorat Pendidikan Katolik dinilai menjadi energi tambahan bagi sekolah untuk terus berbenah. Harapannya, status negeri nantinya memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan keagamaan sekaligus mendorong lahirnya generasi yang beriman, cerdas, dan berkarakter.

Sebagai bagian dari implementasi Asta Protas Kementerian Agama, khususnya penguatan kepedulian ekologis, kegiatan ditutup dengan penanaman pohon matoa di lingkungan sekolah. Simbol ini menegaskan bahwa pembangunan pendidikan berjalan seiring dengan komitmen menjaga kelestarian lingkungan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Camat Kewapante, Ketua Yayasan, Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pendidikan Katolik Kanwil Kemenag Provinsi NTT, serta para guru. Kehadiran berbagai unsur ini memperlihatkan sinergi lintas pihak dalam mengawal proses penegerian agar berjalan transparan dan berdampak bagi masyarakat Nian Tana Sikka.(Faidin)

Negara dan Gereja Perkuat Kolaborasi, Dua SMAK di Sikka Diusulkan Berstatus Negeri

SIKKA, Bajopos.com – Upaya memperluas akses pendidikan Katolik bermutu di Kabupaten Sikka memasuki fase baru. Dalam pertemuan di Lepo Bispu, Senin (23/2/2026), Uskup Edwaldus Martinus Sedu bersama Direktur Pendidikan Katolik Kementerian Agama RI, Albertus Triyatmojo, menyatakan komitmen bersama mendorong alih status dua Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) menjadi sekolah negeri.

Dua sekolah yang diusulkan masuk dalam program tersebut adalah SMAK St. Petrus Kewa Pante dan SMAK St. Benedictus Palu’e. Penegerian ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjawab kebutuhan layanan pendidikan di wilayah kepulauan dan daerah terpencil di Kabupaten Sikka, sekaligus memperkuat mutu pendidikan berbasis iman Katolik.

Direktur Pendidikan Katolik Kementerian Agama RI menegaskan, kebijakan penegerian bukan sekadar perubahan status administratif. Menurutnya, langkah tersebut mencakup transformasi tata kelola pendidikan, mulai dari pembiayaan yang lebih stabil, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga penguatan sistem manajemen sekolah yang sesuai standar nasional pendidikan.

Dengan status negeri, sekolah akan memperoleh dukungan anggaran yang lebih terjamin, akses program peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan, serta peluang pengembangan sarana dan prasarana. Pemerintah, kata dia, berkomitmen mengawal proses sesuai regulasi dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Gereja sebagai pemangku kepentingan utama. Kesiapan dokumen, kejelasan status aset, dukungan yayasan, serta komitmen bersama menjadi prasyarat agar proses penegerian berjalan tertib tanpa menghilangkan kekhasan pendidikan Katolik.

“Identitas dan nilai iman Katolik harus tetap menjadi ruh dalam penyelenggaraan pendidikan, sekaligus memastikan lahirnya generasi unggul secara akademik dan berintegritas,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Uskup Keuskupan Maumere menyatakan dukungan penuh terhadap rencana tersebut. Ia menilai kehadiran negara dalam memperkuat pelayanan pendidikan Katolik merupakan bentuk kolaborasi yang positif dan konstruktif.

Menurutnya, penegerian membuka peluang bagi Gereja untuk memperluas karya pelayanan melalui sistem pendidikan yang lebih profesional, tertata, dan berdaya saing. Dukungan pastoral dan koordinasi internal Gereja akan terus diperkuat agar seluruh tahapan berjalan lancar serta tetap berlandaskan nilai-nilai iman.

Kolaborasi antara Direktorat Pendidikan Katolik Kementerian Agama RI, Keuskupan Maumere, pemerintah daerah, dan elemen Gereja diharapkan menjadi fondasi sistem pendidikan Katolik yang lebih kokoh dan berkelanjutan, sekaligus berdampak nyata bagi pengembangan generasi muda di Nian Tana Sikka.(Faidin)

Dorong Transformasi Sekolah Berasrama, Ditjen Bimas Katolik Kunjungi SMAK Monte Carmelo

SIKKA, Bajopos.com – Arah baru penguatan sekolah berasrama mulai ditegaskan dalam kunjungan kerja Direktur Pendidikan Katolik Kementerian Agama RI, Albertus Triyatmojo, ke SMAK Sta. Maria Monte Carmelo, Senin (23/2/2026).

Kunjungan ini tidak sekadar seremonial, tetapi menjadi momentum evaluasi sekaligus penegasan target mutu yang lebih terukur bagi sekolah tersebut.

Didampingi Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka, Yosef Rangga Kapodo, rombongan meninjau langsung gedung baru serta sejumlah fasilitas penunjang pembelajaran.

Monitoring ini menjadi bagian dari upaya memastikan kesiapan infrastruktur sebelum sekolah melangkah ke fase penguatan kelembagaan.

Kepala SMAK Sta. Maria Monte Carmelo, Rm. Beny, O.Carm. memaparkan peta jalan pengembangan sekolah, mulai dari peningkatan kualitas akademik hingga pembinaan karakter berbasis asrama.

Menurutnya, pembenahan terus dilakukan agar layanan pendidikan semakin profesional dan responsif terhadap kebutuhan zaman.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Katolik menegaskan bahwa orientasi sekolah harus jelas dan terukur, salah satunya melalui target Akreditasi A.

Ia menekankan bahwa akreditasi bukan sekadar administrasi, melainkan indikator tata kelola, mutu tenaga pendidik, serta efektivitas sistem pembelajaran.

“Mutu pendidikan Katolik harus tampak dalam manajemen yang rapi, proses belajar yang berkualitas, dan dampaknya bagi karakter peserta didik,” tegasnya.

Sebagai sekolah berasrama, Dirut memberi penilaian bahwa SMAK Monte Carmelo memiliki keunggulan dalam pembentukan karakter secara menyeluruh. Kehadiran kapela dan pola pembinaan harian menjadi ruang strategis untuk menanamkan nilai spiritual, kedisiplinan, dan integritas sebagai fondasi pendidikan Katolik.

Selain penguatan akademik, perhatian juga diarahkan pada pengembangan sekolah yang ramah lingkungan. Lingkungan belajar yang bersih, tertata, dan hijau dipandang penting untuk menumbuhkan kesadaran ekologis siswa sejak dini. Simbol komitmen itu diwujudkan melalui penanaman pohon matoa di area sekolah usai peninjauan fasilitas.

Kunjungan tersebut turut melibatkan tim penilai evaluasi kelayakan penegerian serta Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pendidikan Katolik Kanwil Kemenag NTT. Kehadiran tim ini menandai proses pendampingan yang lebih komprehensif dalam memperkuat status dan tata kelola kelembagaan sekolah.

Dengan dukungan yayasan, tenaga pendidik, serta pemerintah, SMAK Monte Carmelo diharapkan mampu bertransformasi menjadi sekolah Katolik yang kompetitif, tidak hanya di tingkat Kabupaten Sikka, tetapi juga di kancah nasional dan internasional. Penguatan mutu, manajemen berkelanjutan, serta kepedulian lingkungan menjadi tiga pilar utama yang kini digenjot secara simultan.(Faidin)

Riset Ungkap Risiko Dekompresi Mengintai Nelayan, Perkuat Hasil Studi Prof. Herawati Tentang Suku Bajo

SIKKA, BAJOPOS.COM – Aktivitas menyelam yang menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat Bajo di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, ternyata menyimpan ancaman serius bagi kesehatan. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan risiko penyakit dekompresi (Decompression Sickness/DCS) pada nelayan penyelam tradisional masih tinggi, terutama akibat pola kerja tanpa standar keselamatan memadai.

Untuk diketahui, penyakit Dekompresi (Decompression Sickness/DCS) adalah gangguan kesehatan akibat penurunan tekanan lingkungan secara drastis, menyebabkan gas (terutama nitrogen) yang terlarut dalam darah dan jaringan membentuk gelembung. Gelembung ini menyumbat aliran darah dan merusak jaringan, umumnya dialami penyelam yang naik terlalu cepat, astronot, atau pekerja di udara bertekanan.

Temuan itu dipublikasikan dalam The Journal of Indonesian Industrial Hygiene Association Volume 1 Nomor 2, Agustus 2025. Studi tersebut merupakan tinjauan sistematis terhadap lima penelitian di Indonesia dan Chili dalam kurun 2016 hingga 2021.

Hasilnya konsisten: masa kerja panjang, frekuensi menyelam lebih dari tiga kali sehari, kedalaman dan lama menyelam, cara naik ke permukaan secara langsung, usia, serta riwayat penyakit menjadi faktor dominan pemicu dekompresi. Dalam salah satu penelitian, kedalaman menyelam disebut meningkatkan risiko hingga puluhan kali lipat.

Sejalan dengan Temuan Prof. Dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D.,

Hasil ini memperkuat penelitian yang sebelumnya dilakukan Prof. Dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D., peneliti genetika molekuler dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang kini terintegrasi dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Dalam risetnya mengenai populasi Suku Bajo di wilayah pesisir Kabupaten Sikka, Herawati menyoroti adaptasi biologis masyarakat Bajo yang dikenal sebagai “pengembara laut”. Secara genetik, mereka memiliki kemampuan menyelam lebih lama dibanding populasi darat.

Namun, adaptasi itu bukan jaminan kebal risiko. Secara praktik, nelayan Bajo di Sikka umumnya mulai menyelam sejak usia belasan tahun. Mereka bisa turun ke laut beberapa kali dalam sehari untuk mencari teripang, lobster, atau biota bernilai ekonomi tinggi. Tidak sedikit yang menggunakan kompresor sederhana tanpa prosedur dekompresi bertahap.

Keluhan Kesehatan yang Nyata

Berbagai laporan kesehatan di komunitas penyelam tradisional menunjukkan gejala yang serupa dengan DCS, seperti: nyeri sendi kronis, pusing dan vertigo setelah menyelam, gangguan pendengaran hingga ketulian, serta mati rasa pada anggota tubuh.

Dalam jurnal tersebut disebutkan, penyelam yang naik ke permukaan secara cepat memiliki risiko hingga enam kali lebih besar mengalami dekompresi dibanding mereka yang naik secara bertahap.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat jumlah nelayan Indonesia mencapai 2,4 juta orang pada 2022. Sebagian besar di wilayah pesisir timur, termasuk NTT, masih menggantungkan hidup pada metode tangkap tradisional yang berisiko tinggi.

Tantangan Keselamatan Kerja

Peneliti menyimpulkan, penyakit dekompresi pada nelayan tradisional kerap terjadi karena tidak terpenuhinya standar keselamatan dan penggunaan alat selam yang tidak sesuai ketentuan.

Di Sikka, persoalan ini tidak hanya soal teknis, tetapi juga sosial dan ekonomi. Bagi masyarakat Bajo, menyelam bukan sekadar pekerjaan, melainkan identitas dan warisan budaya.

Karena itu, intervensi kesehatan kerja dinilai harus mempertimbangkan pendekatan berbasis budaya. Edukasi tentang prosedur naik bertahap, pembatasan frekuensi menyelam, penggunaan alat selam standar, serta pemeriksaan kesehatan berkala menjadi langkah mendesak.

Antara Adaptasi dan Risiko

Riset genetika menunjukkan masyarakat Bajo memiliki keunggulan fisiologis untuk menyelam. Namun studi kesehatan kerja menegaskan bahwa paparan tekanan berulang dalam jangka panjang tetap membawa dampak pada sistem saraf, sendi, dan pendengaran.

Korelasi antara penelitian dekompresi dan studi Prof. Herawati Sudoyo menegaskan satu hal: adaptasi biologis tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan keselamatan kerja.

Dengan semakin meningkatnya tekanan ekonomi di sektor perikanan tradisional, perlindungan kesehatan nelayan Bajo di Sikka menjadi isu yang tak bisa ditunda. Tanpa intervensi yang tepat, risiko dekompresi bukan hanya ancaman individu, tetapi juga ancaman keberlanjutan generasi masyarakat pesisir.(Faidin) 

Menteri Trenggono Turun ke Sikka, Uji Kesiapan Lahan Kampung Nelayan Terpadu

SIKKA, Bajopos.com – Kunjungan kerja Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono ke Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Kamis (26/2/2026), bukan sekadar agenda seremonial.

Kehadirannya untuk meninjau calon lokasi kampung nelayan di Nangahure Lembah, Kelurahan Wuring, menjadi penentu awal apakah daerah ini benar-benar siap masuk dalam peta prioritas pembangunan nasional sektor kelautan.

Menteri dijadwalkan tiba dari Kupang di Bandara Frans Seda Maumere sekitar pukul 07.30 WITA, lalu langsung bergerak ke lokasi pesisir di sebelah barat pangkalan Lanal Maumere, Kecamatan Alok Barat.

Titik tersebut diusulkan sebagai kawasan kampung nelayan terpadu—sebuah konsep pembangunan terintegrasi yang menjadi program strategis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sikka, Paulus Hilarius Bangkur, menjelaskan kunjungan yang semula direncanakan Rabu (25/2/2026) ditunda sehari.

Meski demikian, ia menilai kehadiran langsung Menteri merupakan sinyal kuat perhatian pusat terhadap potensi perikanan Flores Utara.

“Biasanya survei awal dilakukan tim teknis. Kali ini Menteri turun langsung melihat kondisi lapangan,” ujarnya.

Namun, di balik optimisme itu, tantangan mendasar masih membayangi: ketersediaan lahan minimal satu hektare sesuai ketentuan program kampung nelayan.

Nangahure saat ini hanya memiliki sekitar 6.000 meter persegi. Tiga lokasi lain yang diajukan—Desa Reroroja, Desa Wolomarang, dan Desa Nangahale—juga belum sepenuhnya memenuhi syarat. Bahkan, beberapa titik memerlukan reklamasi pantai akibat keterbatasan lahan kosong milik desa atau kelurahan.

Selain empat titik kampung nelayan, DKP Sikka juga mengusulkan dua lokasi kampung budidaya rumput laut di Desa Parumaan dan Desa Kojadoi, wilayah kepulauan yang selama ini menggantungkan aktivitas ekonomi pada sektor maritim.

Artinya, keputusan akhir bukan hanya soal potensi hasil tangkapan, tetapi juga kesiapan tata ruang dan legalitas lahan.

Jika memenuhi kriteria, kampung nelayan seluas satu hektare itu akan dilengkapi fasilitas strategis: dermaga, Tempat Pelelangan Ikan (TPI), gudang pendingin (cold storage), pabrik es, bengkel nelayan, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), sarana UMKM, hingga perumahan nelayan.

Skema ini dirancang untuk memutus ketergantungan nelayan kepulauan terhadap fasilitas di daratan seperti Kota Maumere dan Nangahale, terutama untuk pengisian BBM dan air bersih.

“Di Nangahure banyak kapal nelayan, termasuk nelayan pemancing tuna. Jika kampung nelayan dibangun, tentu akan sangat bermanfaat,” kata Paulus.

Sementara itu, kawasan Bebeng di Kelurahan Wolomarang—yang sebelumnya pernah dikunjungi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka—masuk dalam konsep kawasan ekonomi perikanan. Proposalnya telah diajukan, namun pemerintah pusat masih memprioritaskan penganggaran melalui APBN untuk program kampung nelayan secara nasional.

Kunjungan Menteri KKP ke Sikka dengan demikian menjadi momen krusial. Bukan hanya tentang survei lokasi, tetapi juga tentang adu kesiapan daerah dalam memenuhi standar program pusat.

Kini, publik pesisir Sikka menanti hasil penilaian teknis KKP. Apakah Nangahure mampu memenuhi syarat luas lahan dan aspek teknis lainnya? Jika ya, kawasan ini berpeluang menjadi simpul baru pertumbuhan ekonomi nelayan di Flores Utara.

Jika tidak, Sikka harus kembali menata strategi agar tidak tertinggal dalam gelombang pembangunan sektor kelautan nasional.(Faidin)

Seandainya Kalian Benar-Benar Tahu Pahala Berpuasa

Oleh : Abdurrahim Yunus, S.Ag

Sabda Nabi: “Setiap amal anak Adam dilipatgandakan; satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat.”

Allah berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’ Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

AESESA NAGEKEO, Bajopos.com – Di sebuah majelis yang tenang, ketika para sahabat duduk mengelilingi Muhammad SAW, terpatri satu pesan agung tentang puasa. Ibadah itu bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan rahasia suci antara hamba dan Rabb-nya—amalan yang nilai dan ganjarannya langsung berada dalam kuasa Allah.

Bagi generasi sahabat, Ramadan adalah musim panen pahala. Namun mereka tetap manusia: ada rasa lapar, haus, dan letih. Di tengah kondisi itu, Rasulullah SAW menguatkan hati mereka dengan kabar yang menenangkan sekaligus menggembirakan.

Beliau bersabda:

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan; satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’ Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Hadis ini bukan sekadar motivasi spiritual, melainkan penegasan tentang keistimewaan puasa dibandingkan ibadah lainnya. Semua amal berpahala, tetapi ketika Allah sendiri berfirman, “Puasa itu untuk-Ku,” maka di sana ada kemuliaan yang tak tertandingi.

Mengapa Puasa Begitu Istimewa?

Pertama, karena ia paling tersembunyi.
Salat terlihat. Sedekah bisa diketahui. Haji tampak jelas. Namun puasa? Ia berlangsung dalam sunyi. Seseorang bisa saja sendirian di ruangan, mampu minum atau makan tanpa diketahui siapa pun. Tetapi ia memilih menahan diri. Mengapa? Karena ia sadar Allah melihatnya.

Di situlah letak kemurnian ikhlas. Puasa menjadi latihan muraqabah—kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak dan niat.

Kedua, karena pahalanya tidak terbatas.
Dalam hadis disebutkan pahala amal bisa berlipat hingga tujuh ratus kali. Tetapi untuk puasa, tidak disebut batasnya. Allah menegaskan, “Aku sendiri yang akan membalasnya.” Artinya, ganjarannya sebanding dengan kedalaman keikhlasan, kesabaran, dan ketakwaan yang tumbuh selama menjalaninya. Semakin berat pengorbanan, semakin besar balasannya.

Ketiga, karena ia melatih kesabaran total.
Puasa mencakup tiga bentuk kesabaran sekasurga, diantaranya; sabar dalam ketaatan, sabar meninggalkan maksiat, sabar menghadapi ujian lapar, haus, dan emosi.

Ramadan bahkan disebut sebagai bulan kesabaran, dan balasan kesabaran tidak lain adalah surga.

Dua Kebahagiaan Orang yang Berpuasa

Rasulullah SAW bersabda:

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu Rabb-nya.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Kebahagiaan pertama sederhana—seteguk air, sebutir kurma, rasa syukur setelah menahan diri seharian. Namun kebahagiaan kedua jauh lebih agung: ketika amal puasa berdiri sebagai saksi di hadapan Allah.

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat.”(HR. Ahmad ibn Hanbal)

Puasa seakan berkata, “Ya Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkan aku memberi syafaat untuknya.”

Pintu Khusus di Surga

Rasulullah SAW juga mengabarkan adanya pintu surga bernama Ar-Rayyan. Pintu itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berpuasa. Ketika mereka masuk, pintu itu ditutup—tidak ada lagi yang memasukinya.

Puasa, dengan demikian, bukan sekadar ibadah harian. Ia menjadi identitas kehormatan di akhirat.

Seandainya Kita Benar-Benar Tahu

Seandainya manusia benar-benar memahami bahwa satu hari puasa di jalan Allah dapat menjauhkan wajah dari api neraka sejauh perjalanan puluhan tahun.

Seandainya mereka sadar bahwa bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi.

Seandainya mereka mengerti bahwa setiap rasa haus dicatat sebagai pahala yang tak terhingga. Barangkali tidak akan ada keluhan, tidak ada penundaan, tidak ada Ramadan yang disia-siakan.

Hikmah yang Lebih Dalam

Puasa mengajarkan empati kepada yang lapar. Ia melatih pengendalian hawa nafsu. Ia menyadarkan bahwa dunia bukan tujuan akhir. Ia menumbuhkan ketergantungan total kepada Allah.

Puasa bukan sekadar ibadah fisik. Ia adalah pendidikan ruhani, proses penyucian jiwa, dan latihan keikhlasan paling murni.

Dan mungkin, jika kita benar-benar memahami nilainya di sisi Allah, kita tidak akan menangis karena lapar—melainkan karena takut kehilangan satu hari tanpa puasa.(Faidin)

Tarawih Terlalu Cepat, Apakah Sah? Muhammadiyah Tekankan Pentingnya Tu’maninah dalam Qiyamu Ramadhan

Bajopos.com – Setiap Ramadhan, masjid dan mushalla di berbagai daerah di Indonesia dipadati jamaah yang antusias menunaikan shalat tarawih. Semangat menghidupkan malam dengan qiyām al-lail menjadi pemandangan yang khas dan menggembirakan.

Namun, dibalik antusiasme itu, muncul fenomena yang kerap menuai perbincangan: pelaksanaan salat tarawih yang dilakukan dengan sangat cepat, bahkan nyaris tanpa jeda ketenangan dalam setiap gerakan.

Lantas, apakah salat tarawih yang tergesa-gesa tetap memenuhi tuntunan syariat?

Dikutip dari Muhammadiyah.or.id, kualitas shalat dalam ajaran Islam tidak semata ditentukan oleh jumlah rakaat, melainkan juga oleh tu’maninah—ketenangan dan kesempurnaan dalam setiap gerakan. Tu’maninah bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian penting yang dapat menentukan sah atau tidaknya shalat.

Penegasan ini merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Dalam hadis yang dicatat oleh Muhammad al-Bukhari, Nabi Muhammad SAW  menegur seseorang yang keliru dalam shalatnya.

Rasulullah menekankan agar setiap gerakan dilakukan hingga benar-benar tenang: rukuk sampai tu’maninah, berdiri tegak dengan sempurna, sujud hingga tenang, dan duduk dengan stabil sebelum berpindah ke gerakan berikutnya.

Meski hadits tersebut berbicara tentang shalat secara umum, sifatnya yang universal menjadikannya dalil bahwa semua jenis shalat—baik fardu maupun sunah—wajib dilakukan dengan tu’maninah.

Artinya, jika ketenangan menjadi syarat sah dalam shalat wajib, maka ketentuan itu juga berlaku dalam shalat sunah, termasuk tarawih.

Lebih lanjut, dikutip dari Muhammadiyah.or.id pun menjelaskan bahwa Qiyāmu Ramadhan pada hakikatnya sejalan dengan shalat malam lainnya seperti tahajud dan witir. Tata caranya mengikuti praktik shalat Nabi.

Hal ini diperkuat oleh riwayat Abu Salamah bin Abdurrahman yang bertanya kepada Aisyah tentang shalat Rasulullah di bulan Ramadan.

Dalam hadits yang juga diriwayatkan Imam al-Bukhari, Aisyah menjelaskan bahwa Nabi tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat, dan setiap rakaat dilakukan dengan bacaan yang panjang dan indah.

Keterangan tersebut menunjukkan dua hal penting: bukan hanya jumlah rakaat yang dijaga, tetapi juga kualitas pelaksanaannya. Shalat Nabi dikenal panjang, tenang, dan penuh kekhusyu’an. Disinilah letak esensi Qiyāmu Ramadan—bukan pada kecepatan, melainkan pada penghayatan.

Tarawih yang dilakukan terlalu cepat hingga menghilangkan tu’maninah berisiko mengurangi kesempurnaan shalat. Bahkan dalam batas tertentu, jika rukun tidak dilakukan dengan ketenangan, minimal dapat berimplikasi pada sah atau tidaknya shalat tersebut.

Ramadhan sejatinya menjadi momentum memperbaiki kualitas ibadah, bukan sekadar mengejar kuantitas rakaat atau durasi yang singkat. Antusiasme jamaah patut diapresiasi, namun pelaksanaan ibadah tetap harus selaras dengan tuntunan Rasulullah SWA—tenang, tertib, dan penuh makna.(Faidin)

Haedar Nashir Tekankan Fondasi Tauhid Murni di Pengkajian Ramadan 1447 H UMT

TANGERANG, Bajopos.com – Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) menjadi pusat konsolidasi ideologi Persyarikatan saat menjadi tuan rumah Pengkajian Ramadan 1447 Hijriah yang digelar Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 24–26 Februari 2026.

Bertempat di Auditorium Lantai 19 UMT, kegiatan ini dihadiri lebih dari 1.000 peserta dari Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah serta civitas akademika Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Banten dan Daerah Khusus Jakarta.

Pengkajian Ramadan tahun ini tidak sekadar menjadi forum kajian rutin menjelang bulan suci, tetapi juga ruang strategis untuk memperteguh arah gerakan Islam berkemajuan di tengah dinamika sosial dan keumatan yang terus berubah.

Rektor UMT, Dr. H. Desri Arwen, M.Pd., menegaskan komitmen kampusnya dalam memperkuat nilai-nilai keislaman berbasis keilmuan dan kaderisasi. Menurutnya, UMT siap menjadi episentrum penguatan akidah sekaligus pengembangan kader Muhammadiyah.

“UMT sebagai kampus unggul siap menjadi pusat penguatan akidah dan pengembangan kader Muhammadiyah,” ujarnya dalam sambutan pembukaan, Selasa (24/2/2026).

Senada dengan itu, Ketua Majelis Pembinaan Kader SDI PP Muhammadiyah, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, M.P.A., menekankan bahwa penguatan akidah merupakan fondasi utama gerakan Muhammadiyah.

Ia mengingatkan bahwa tanpa basis teologis yang kokoh, gerakan dakwah akan kehilangan arah di tengah kompleksitas tantangan zaman.

Sorotan utama kegiatan ini tertuju pada pidato iftitah Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.

Dalam paparan bertema “Akidah Islam Berkemajuan: Memperluas Paham Tauhid Murni Tinjauan Ideologis, Filosofis, dan Praksis”, Haedar menegaskan pentingnya memperluas pemahaman tauhid secara komprehensif—tidak hanya dalam ranah teologis, tetapi juga dalam praktik kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, dan kebangsaan.

Menurutnya, Pengkajian Ramadan harus dimaknai sebagai momentum strategis untuk meneguhkan akidah dan memperluas wawasan keislaman agar gerakan Muhammadiyah tetap relevan dan mencerahkan umat.

“Pengkajian Ramadan ini bukan sekadar agenda rutin, tetapi momentum strategis untuk meneguhkan akidah, memperluas wawasan keislaman, dan memperkuat gerakan dakwah Muhammadiyah agar semakin berkemajuan dan mencerahkan umat,” tegas Haedar.

Dalam rangkaian acara, dilakukan pula penandatanganan nota kesepahaman antara Bank Syariah Nasional dan PP Muhammadiyah yang ditandai dengan penyerahan bantuan tiga unit motor angkut sampah untuk mendukung operasional kampus UMT. Dukungan serupa juga datang dari Sinar Mas yang menyerahkan bantuan mushaf Al-Qur’an sebagai bagian dari penguatan dakwah dan literasi keislaman.

Melalui Pengkajian Ramadan 1447 H ini, Muhammadiyah menegaskan kembali komitmennya pada penguatan tauhid murni sebagai landasan ideologis, filosofis, dan praksis dalam menyongsong Ramadan—serta dalam menapaki peran keumatan dan kebangsaan di era modern.(Faidin)

Asal-Usul Orang Bajo Masih Misterius, Peneliti Uji Hipotesis

Nusa Tenggara Timur, Bajopos.com – Di balik reputasi sebagai pelaut paling tangguh di Nusantara, asal-usul Orang Bajo hingga kini masih menjadi perdebatan ilmiah. Beragam teori bermunculan, mulai dari legenda Johor di Malaysia hingga hipotesis migrasi dari Sungai Barito di Kalimantan, namun belum satu pun yang benar-benar teruji secara komprehensif.

Dikutip dari National Geographic Indonesia, Orang Bajo—yang juga dikenal sebagai Sama Bajau, Orang Laut, atau Gipsi Laut—telah berabad-abad mengarungi perairan Asia Tenggara. Mereka kini tersebar di wilayah timur Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Filipina bagian selatan, terutama di kawasan Segitiga Terumbu Karang.

Ahli linguistik Phillippe Grange dari Universite La Rochelle mengungkapkan, berbagai teori telah diajukan untuk menjelaskan asal-usul komunitas maritim tersebut. Salah satu yang paling populer menyebut Orang Bajo berasal dari Johor.

Teori ini bertumpu pada legenda tentang Puteri Johor yang hilang. Dalam kisah tersebut, Orang Bajo diminta mencari sang puteri dan tidak boleh kembali sebelum menemukannya. Sejak saat itu, mereka diyakini terus mengembara di laut dan tidak pernah kembali ke tanah asal.

Namun, menurut Grange, teori tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. “Secara dongeng memang ada keterkaitan, tetapi tidak ada bukti arkeologi maupun linguistik yang menunjukkan bahwa Orang Bajo berasal dari Johor,” ujarnya dalam seminar bertema Austronesia Diaspora yang digelar Lembaga Eijkman di Jakarta.

Teori lain yang berkembang mengaitkan Orang Bajo dengan muara Sungai Barito. Hipotesis ini diperkuat oleh kemiripan sejumlah kosakata antara bahasa Dayak Ngaju dan Sama Bajau. Robert Blust dari University of Hawaii bahkan menyebut Orang Bajo mulai melaut sekitar abad ke-8 Masehi, bertepatan dengan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya.

Dalam skenario tersebut, Orang Bajo diduga berperan mendukung jaringan perdagangan maritim Sriwijaya dan kemudian bermigrasi ke wilayah Sulu di Filipina. Setelah invasi suku Tausug pada abad ke-13 dan penyebaran Islam pada abad ke-15, mereka kembali menyebar ke selatan hingga Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Meski demikian, para peneliti mengakui bahwa teori ini pun masih sebatas hipotesis.

Antropolog Tony Rudyansjah dari Universitas Indonesia menilai perpindahan Orang Bajo bisa saja terjadi secara sukarela seiring berkembangnya perdagangan maritim pada abad ke-8. Namun ia menegaskan bahwa penelitian lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan kebenarannya.

Upaya terbaru kini mengarah pada penelitian genetika molekuler. Herawati Sudojo dari Lembaga Eijkman menyatakan bahwa pengambilan dan perbandingan sampel DNA Orang Bajo dari berbagai wilayah dapat membantu memetakan jalur migrasi dan hubungan kekerabatan mereka.

Menurutnya, penelitian ini tidak hanya penting untuk mengungkap asal-usul Orang Bajo, tetapi juga berpotensi memberi gambaran lebih luas tentang migrasi manusia Austronesia, bahkan hingga ke Madagaskar.

Hingga kini, misteri asal-usul Orang Bajo masih terbuka. Di tengah berbagai hipotesis, satu hal yang pasti: komunitas ini telah membuktikan diri sebagai bagian penting dari sejarah maritim Nusantara, dengan laut sebagai ruang hidup sekaligus jejak perjalanan panjang yang belum sepenuhnya terungkap

Sumber : National Geographic Indonesia