Sen. Mei 25th, 2026

Spiritualitas

Iblis dan Belerofon: Menakar Jarak Antara Puncak dan Kejatuhan

Oleh: Ikbal Tehuayo

KISAH IBLIS dan BELEROFON serupa tapi tak sama. Serupa karena keduanya adalah cerita tentang kesombongan. Identik karena keduanya ingin terlihat hebat. Tak beda karena kesombongan adalah jalan mendekati kejatuhan. Sama karena keduanya menceritakan keangkuhan.

Tak sama karena Iblis diceritakan kitab suci, Belerofon diceritakan mitologi. Iblis angkuh pada perintah Tuhan, Belerofon angkuh karena ingin sejajar dengan para Dewa.

Iblis-Belerofon adalah dua cerita berjarak panjang. Kemunculannya berada di puncak waktu ribuan tahun. Lokus kejadiannya pun di dua tempat yang tak serupa.

Iblis-Belerofon bukanlah pantun apalagi syair tanpa makna. Keduanya bukan cerita simulasi yang berisi kepura-puraan. Pun keduanya bukan adonan puitik lelucon.

Membunuh monster atas perintah raja tampaknya bukan hal yang sulit bagi Belerofon, layak dibilang lelaki tangguh tanpa takut pada bayang-bayang kematian. Ketangguhannya layak dicontek kaum rebahan malas gerak.

Sialnya, ketangguhan Belerofon membuatnya merasa sombong. Ia ingin terbang lebih tinggi ke Gunung Olimpus agar sejajar dengan para Dewa. Zeus murka lalu mengutuknya menjadi buta dan pincang.

Iblis juga membibit-telurkan kesombongan, memandang dirinya mulia lalu enggan mendengar Tuhan. Baginya, tak patut dirinya yang mulia bersujud pada Adam yang didesain Tuhan dengan tanah yang kotor.

Iblis-Belerofon dua cerminan bagi kita, untuk berkaca jauh ke dalam jiwa. Kesombongan kadang mengakar lalu mengarat, mengalir lewat tutur dan perilaku, seiring menguap waktu menyeret pada penyesalan.

Tercipta dengan desain akal sempurna, baiknya difungsikan lebih awal untuk mendeteksi segala sikap dan perilaku setiap pergaulan antar-sesama. Bisa jadi ada butiran-butiran kesombongan yang terucap, bibit-bibit keangkuhan yang terlihat, sehingga lebih dini mengevaluasi segala perilaku yang berlangsung dalam keseharian kita.

Iblis-Belerofon hadir dengan merasa lebih besar, ujungnya dikecilkan; merasa lebih mulia, akhirnya dihinakan; merasa paling tinggi, akhirnya direndahkan. Sombong bukanlah suatu kehebatan, melainkan tanda kehancuran.

Dua cerita yang syarat hikmah ini harusnya dimaknai kehadirannya bukanlah kebetulan. Ia hadir merangsang pikiran untuk menata kelola kehidupan yang lebih bermakna.

Mental Iblis-Belerofon tak boleh hinggap lalu menetap di dalam jiwa kita. Jadikan kerendahan diri sebagai pedang untuk menebasnya, jadikan rasa syukur sebagai benteng pelindung, dan jadikan sifat memberi sebagai pedang untuk membunuhnya.

Iblis-Belerofon tak bisa diraba, apalagi ditangkap wujudnya. Namun, saban hari hadir di setiap gerak langkah. Ia ada dalam tutur, tampak dalam perilaku. Segala gerak kita berpotensi dirasuki Iblis-Belerofon.

Pada bingkai sejarah, tak sedikit keruntuhan berakar dari kesombongan. Di sana ada Fir’aun, Namrud, dan Karun. Tentu masih banyak lagi kisah-kisah kesombongan yang berujung kejatuhan.

Dari Fir’aun kita cicipi makna, bahwa kedudukan yang mulia tak akan bisa menolong saat kehancuran datang menerkam. Pada Namrud ada makna yang elok, yakni tak harus menolak kebenaran karena ditawarkan oleh orang yang terlihat sederhana. Begitupun kisah Karun, harus kita maknai kalau kekayaan harta benda bukanlah jaminan keselamatan bila kesombongan terus menggunung dalam pikiran.

Bila kesombongan pernah terlanjur terucap dari bibir, tampak dari perilaku, maka kembalilah menyapu bersih bibitnya yang terus mengada dalam jiwa, agar kehadiran kita dalam pergaulan antar-sesama tidak seperti Iblis-Belerofon yang menelurkan kesombongan dan merendahkan orang lain lalu ingin terlihat unggul dari semua.

Seandainya Kalian Benar-Benar Tahu Pahala Berpuasa

Oleh : Abdurrahim Yunus, S.Ag

Sabda Nabi: “Setiap amal anak Adam dilipatgandakan; satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat.”

Allah berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’ Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

AESESA NAGEKEO, Bajopos.com – Di sebuah majelis yang tenang, ketika para sahabat duduk mengelilingi Muhammad SAW, terpatri satu pesan agung tentang puasa. Ibadah itu bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan rahasia suci antara hamba dan Rabb-nya—amalan yang nilai dan ganjarannya langsung berada dalam kuasa Allah.

Bagi generasi sahabat, Ramadan adalah musim panen pahala. Namun mereka tetap manusia: ada rasa lapar, haus, dan letih. Di tengah kondisi itu, Rasulullah SAW menguatkan hati mereka dengan kabar yang menenangkan sekaligus menggembirakan.

Beliau bersabda:

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan; satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’ Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Hadis ini bukan sekadar motivasi spiritual, melainkan penegasan tentang keistimewaan puasa dibandingkan ibadah lainnya. Semua amal berpahala, tetapi ketika Allah sendiri berfirman, “Puasa itu untuk-Ku,” maka di sana ada kemuliaan yang tak tertandingi.

Mengapa Puasa Begitu Istimewa?

Pertama, karena ia paling tersembunyi.
Salat terlihat. Sedekah bisa diketahui. Haji tampak jelas. Namun puasa? Ia berlangsung dalam sunyi. Seseorang bisa saja sendirian di ruangan, mampu minum atau makan tanpa diketahui siapa pun. Tetapi ia memilih menahan diri. Mengapa? Karena ia sadar Allah melihatnya.

Di situlah letak kemurnian ikhlas. Puasa menjadi latihan muraqabah—kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap gerak dan niat.

Kedua, karena pahalanya tidak terbatas.
Dalam hadis disebutkan pahala amal bisa berlipat hingga tujuh ratus kali. Tetapi untuk puasa, tidak disebut batasnya. Allah menegaskan, “Aku sendiri yang akan membalasnya.” Artinya, ganjarannya sebanding dengan kedalaman keikhlasan, kesabaran, dan ketakwaan yang tumbuh selama menjalaninya. Semakin berat pengorbanan, semakin besar balasannya.

Ketiga, karena ia melatih kesabaran total.
Puasa mencakup tiga bentuk kesabaran sekasurga, diantaranya; sabar dalam ketaatan, sabar meninggalkan maksiat, sabar menghadapi ujian lapar, haus, dan emosi.

Ramadan bahkan disebut sebagai bulan kesabaran, dan balasan kesabaran tidak lain adalah surga.

Dua Kebahagiaan Orang yang Berpuasa

Rasulullah SAW bersabda:

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu Rabb-nya.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)

Kebahagiaan pertama sederhana—seteguk air, sebutir kurma, rasa syukur setelah menahan diri seharian. Namun kebahagiaan kedua jauh lebih agung: ketika amal puasa berdiri sebagai saksi di hadapan Allah.

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat.”(HR. Ahmad ibn Hanbal)

Puasa seakan berkata, “Ya Rabb, aku telah menahannya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkan aku memberi syafaat untuknya.”

Pintu Khusus di Surga

Rasulullah SAW juga mengabarkan adanya pintu surga bernama Ar-Rayyan. Pintu itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berpuasa. Ketika mereka masuk, pintu itu ditutup—tidak ada lagi yang memasukinya.

Puasa, dengan demikian, bukan sekadar ibadah harian. Ia menjadi identitas kehormatan di akhirat.

Seandainya Kita Benar-Benar Tahu

Seandainya manusia benar-benar memahami bahwa satu hari puasa di jalan Allah dapat menjauhkan wajah dari api neraka sejauh perjalanan puluhan tahun.

Seandainya mereka sadar bahwa bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi.

Seandainya mereka mengerti bahwa setiap rasa haus dicatat sebagai pahala yang tak terhingga. Barangkali tidak akan ada keluhan, tidak ada penundaan, tidak ada Ramadan yang disia-siakan.

Hikmah yang Lebih Dalam

Puasa mengajarkan empati kepada yang lapar. Ia melatih pengendalian hawa nafsu. Ia menyadarkan bahwa dunia bukan tujuan akhir. Ia menumbuhkan ketergantungan total kepada Allah.

Puasa bukan sekadar ibadah fisik. Ia adalah pendidikan ruhani, proses penyucian jiwa, dan latihan keikhlasan paling murni.

Dan mungkin, jika kita benar-benar memahami nilainya di sisi Allah, kita tidak akan menangis karena lapar—melainkan karena takut kehilangan satu hari tanpa puasa.(Faidin)