Kam. Sep 24th, 2026

Sedekah

Peringatan Maulid Nabi di Masjid Al-Fatah Makassar, Menterjemahkan Kecintaan Kepada Rasulullah

MAKASSAR, Bajopos.com | Malam itu, Masjid Al-Fatah Hertasning, Makassar, bukan sekadar menjadi tempat berkumpulnya jamaah. Masjid tersebut berubah menjadi ruang untuk kembali mengingat sosok yang akhlaknya menjadi teladan umat: Nabi Muhammad SAW.

Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW digelar Pengurus Masjid Al-Fatah Hertasning, Sabtu (5/9/2026) malam, sekitar pukul 20.07 WITA.

Mengangkat tema “Meneladani Rasulullah SAW: Esensi Maulid dalam Membangun Generasi Berakhlak”, kegiatan berlangsung khidmat dengan dihadiri jamaah dari berbagai kalangan.

Namun, sebelum lantunan ayat suci dan tausiah menggema, Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Fatah Hertasning, H. Natsir Barlin, terlebih dahulu menyampaikan pesan yang tak kalah penting.

Ia mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu mengungkap dan menemukan pelaku pencurian yang terjadi beberapa hari sebelumnya di lingkungan masjid.

Apresiasi diberikan kepada pihak kepolisian, media sosial, hingga media elektronik yang turut membantu memberikan informasi kepada masyarakat.

Di hadapan jamaah, Natsir juga mengingatkan agar setiap orang tetap waspada dan menjaga barang bawaan masing-masing.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa masjid bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga ruang bersama yang membutuhkan kepedulian dan rasa tanggung jawab seluruh jamaah.

Maulid Bukan Sekadar Tradisi

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Kalam Ilahi yang dipimpin Ustadz Ramadhani, selaku imam Masjid Al-Fatah Hertasning.

Ketua Panitia, Drs. Kusnadi, M.Pd, dalam sambutannya menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi di Masjid Al-Fatah Hertasning diupayakan terlaksana setiap tahun.

Bukan semata-mata karena tradisi, tetapi sebagai ikhtiar untuk terus menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW.

Kusnadi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan, terutama para donatur yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Ia juga memberikan penghargaan kepada para ibu yang ikut mempersiapkan konsumsi, termasuk kaddo minyak dan telur yang menjadi salah satu ciri khas dalam peringatan Maulid.

Suasana pun sesekali pecah oleh humor Kusnadi ketika menggambarkan keberadaan Remaja Masjid.

“Remaja masjid di sini unik, rata-rata giginya belum tumbuh sempurna,” ujarnya dengan nada bercanda.

Sambutan tersebut ditutup dengan pantun:

“Buah pinang buah pepaya
Akar dan buahnya bisa jadi obat
Selamat datang di Masjid Al-Fatah
Kehadiran Bapak-Ibu buat kami tambah semangat.”

Dari Al-Fatah Menuju Hijrah Hati

Pesan utama malam itu kemudian disampaikan Al-Ustadz Dr. H. Sa’ad Kafrawi, S.H., M.H., C.Med.

Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah tidak berhenti pada kemeriahan Maulid, tetapi menggali makna yang lebih dalam dari peringatan kelahiran Rasulullah SAW.

Ia mengulas makna nama Al-Fatah yang berarti “terbuka”, sementara Muhajirin berarti orang-orang yang berhijrah.

Menurutnya, kedua makna tersebut dapat menjadi simbol perjalanan spiritual manusia.

Hati harus terbuka untuk menerima kebenaran dan siap berhijrah menuju jalan yang diridai Allah SWT.

“Hijrah” dalam konteks itu bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga perubahan sikap, perilaku dan akhlak.

Karena itu, menurut Ustadz Sa’ad, Maulid seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana kita telah meneladani Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari?

Ia juga mendorong pengurus masjid memanfaatkan perkembangan teknologi dengan memiliki akun media sosial.

Dengan demikian, ceramah dan berbagai kegiatan keagamaan tidak berhenti di dalam dinding masjid, tetapi dapat menjangkau jamaah yang tidak sempat hadir secara langsung.

Antara Merayakan dan Memperingati

Dalam ceramahnya, Ustadz Sa’ad juga mengajak jamaah memahami perbedaan antara istilah “merayakan” dan “memperingati” Maulid.

Menurutnya, merayakan cenderung memiliki konotasi pesta dan foya-foya, sedangkan memperingati lebih diarahkan kepada upaya mengambil pelajaran dan keteladanan dari kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Ia juga mengingatkan agar perbedaan pandangan mengenai Maulid tidak menjadi alasan untuk saling menyalahkan.

Menurutnya, jangan hanya mengatakan sebuah kegiatan tidak memiliki dalil, sementara pada saat yang sama tidak ada pula dalil yang secara khusus melarangnya.

Terlebih, menurut dia, kegiatan Maulid diisi dengan hal-hal positif seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah makanan dan mempererat silaturahmi, selama pelaksanaannya tidak mengandung kemusyrikan maupun perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Cinta kepada Rasulullah Dibuktikan dengan Berbagi

Pesan paling kuat yang disampaikan Ustadz Sa’ad adalah tentang akhlak Rasulullah SAW dalam memperlakukan sesama.

Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang gemar berbagi dan membalas keburukan dengan kebaikan.

Akhlak tersebut, kata dia, menjadi salah satu kekuatan dakwah Rasulullah. Bukan dengan kebencian, tetapi dengan kasih sayang dan keteladanan.

Dari situlah lahir sebuah pesan sederhana namun mendalam: cinta kepada Rasulullah tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus terlihat dalam perbuatan.

Berbagi kepada sesama, menjaga silaturahmi, memaafkan kesalahan, berbuat baik bahkan kepada orang yang berbuat buruk, merupakan bagian dari upaya meneladani akhlak Nabi.

“Cinta tertinggi adalah berbagi,” menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam ceramah tersebut.

Akhlak Rasulullah bahkan mampu mengetuk hati banyak orang yang sebelumnya memusuhi beliau. Tidak sedikit orang yang kemudian memeluk Islam dan menjadi sahabat Rasulullah setelah menyaksikan langsung kemuliaan akhlaknya.

Peringatan Maulid di Masjid Al-Fatah Hertasning akhirnya tidak hanya menjadi agenda tahunan.

Ia menjadi sebuah pengingat bahwa kelahiran Rasulullah SAW semestinya menghadirkan kelahiran kembali akhlak mulia dalam diri umat.

Sebab, Maulid akan kehilangan maknanya jika hanya berhenti pada acara dan seremonial.

Cinta kepada Rasulullah menemukan maknanya ketika akhlak beliau mulai hidup dalam perilaku umatnya.

Penulis : Ikbal Tehuayo

RAMADHAN Bulan Ibadah dan Ukhuwah

HIKMAH RAMADHAN

Oleh : Ust. Dr. Muhammad Dwi Fajri, M.Pd.I

RAMADHAN bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah ruang pendidikan spiritual yang telah ditetapkan sejak tahun kedua Hijrah, tepatnya pada bulan Sya’ban, sebulan sebelum kewajiban puasa dijalankan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.

Penetapan waktu itu memberi pesan penting: ibadah besar membutuhkan persiapan matang, bukan hanya fisik, tetapi juga pemahaman akan makna dan tujuannya.

Dalam praktiknya, puasa sering kali direduksi menjadi rutinitas tahunan. Kita menyaksikan tidak sedikit orang yang mampu menahan makan dan minum, tetapi gagal menjaga lisan dan perilaku.

Padahal, substansi puasa melampaui dimensi biologis. Ia menuntut pengendalian diri secara utuh—menjaga ucapan dari dusta dan ghibah, menahan amarah, serta membangun relasi sosial yang sehat.

Dengan kata lain, puasa memiliki dua poros utama: vertikal kepada Allah (hablumminallah) dan horizontal kepada sesama manusia (hablumminannas).

Ramadhan sebagai Bulan Ibadah

Ramadhan adalah momentum khusus dan terbatas. Khusus karena ia ditujukan bagi orang-orang beriman; terbatas karena hadir hanya sekali dalam setahun.

Di dalamnya terdapat kemuliaan yang tidak dijumpai pada bulan lain, seperti turunnya Al-Qur’an dan kehadiran Lailatul Qadar.

Pesan untuk memaksimalkan ibadah di bulan ini ditegaskan dalam hadis riwayat Muhammad yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Barangsiapa yang shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Hadits ini bukan sekadar janji pengampunan, tetapi dorongan persuasif agar umat Islam meningkatkan kualitas ibadahnya.

Hadits lain menyebutkan bahwa ketika Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu (HR. Bukhari & Muslim).

Secara majazi, ini menggambarkan terbukanya peluang kebaikan dan menyempitnya ruang kemaksiatan. Maka tidak mengherankan jika masjid-masjid lebih ramai, lantunan tadarus menggema, dan semangat sedekah meningkat.

Namun, pertanyaan krusialnya adalah: apakah intensitas ibadah itu berlanjut setelah Ramadhan usai? Jika tidak, maka Ramadhan hanya menjadi euforia spiritual sesaat. Padahal, ia sejatinya adalah titik tolak pembentukan ritme ibadah yang berkelanjutan.

Ramadhan sebagai Bulan Ukhuwah

Islam tidak berdiri hanya pada relasi vertikal. Puasa juga dirancang untuk memperbaiki relasi sosial. Rasulullah SAW mengingatkan: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari). Pesan ini tegas: puasa tanpa penjagaan lisan kehilangan substansinya.

Lisan kerap menjadi sumber konflik. Pepatah “mulutmu harimaumu” menemukan relevansinya di sini. Ucapan yang tidak terkontrol dapat merusak persaudaraan, memicu fitnah, dan memecah belah komunitas. Sebaliknya, lisan yang terjaga menjadi fondasi ukhuwah.

Dimensi sosial Ramadhan juga tampak dalam anjuran berbagi. Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan bahwa sedekah paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.

Hadits lain menyatakan bahwa memberi makan orang yang berpuasa mendatangkan pahala setara tanpa mengurangi pahala yang diberi. Spirit berbagi ini memperkuat solidaritas sosial dan mengikis sekat-sekat ekonomi.

Menyatukan Dua Dimensi

Ramadhan hadir untuk menyinergikan dua kekuatan: kedalaman ibadah dan keluasan ukhuwah. Hubungan yang intens dengan Allah melahirkan ketenangan batin. Sementara hubungan harmonis dengan sesama menghadirkan keberkahan sosial. Keduanya tidak dapat dipisahkan.

Jika puasa hanya memperkuat hubungan vertikal tanpa memperbaiki hubungan horizontal, maka ada yang terlewat dari misi besarnya. Sebaliknya, jika ukhuwah tumbuh tanpa landasan spiritual yang kokoh, ia mudah goyah oleh kepentingan sesaat.

Karena itu, Ramadhan seharusnya menjadi bulan evaluasi kolektif. Apakah ibadah kita semakin berkualitas? Apakah lisan kita semakin terjaga? Apakah kepedulian sosial kita meningkat? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah puasa kita sekadar ritual atau benar-benar transformasional.

Olehnya, Ramadhan bukan hanya sekedar sebulan penuh ibadah, tetapi tentang bagaimana membangun karakter yang bertahan sebelas bulan berikutnya.

Dari masjid ke ruang publik juga dari sajadah ke kehidupan sosial, tentu seharusnya Ramadhan menjadi perenungan serta pengajaran bahwa kesalehan pribadi harus berbanding lurus dengan kesalehan sosial. Disanalah ibadah dan ukhuwah bertemu, dan di sanalah keberkahan menemukan maknanya.

(QULTUM) Ramadhan Merupakan Momentum Tajdid Ruhani dan Kesalehan Sosial

Oleh : Ust. Dr. Muhammad Dwi Fajri, M.Pd.I (Dosen Uhamka)

Selamat datang Ramadhan. Marhaban yaa Ramadhan. Inilah bulan yang sangat mulia, yang kehadirannya disambut gegap gempita oleh kaum muslimin dan muslimat seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Dalam tradisi masyarakat Indonesia, kehadiran Ramadhan disambut dengan berbagai aktivitas, di antaranya pengajian tarhib, silaturahim, pawai, bersih-bersih masjid, dan kegiatan sosial lainnya.

Ramadhan adalah tamu agung dengan misi besar yang kerap terabaikan, yakni sebagai momentum pembaruan spiritual dan penguatan kesalehan sosial.

Pertanyaan bagi kita yang telah menunaikan puasa berulang kali adalah, apakah puasa Ramadhan yang selama ini kita jalankan benar-benar menghadirkan peningkatan spiritual dan sosial dalam diri?

Pembaharuan Ruhani

Kehidupan manusia yang sibuk dan sesak dengan keinginan duniawi kerap menyebabkan hati menjadi tertutup. Hati yang diselimuti debu materialisme, egoisme, dan ambisi duniawi membuat manusia lupa pada tujuan hidup yang utama.

Alih-alih menghadirkan kebahagiaan, ambisi duniawi justru sering melahirkan kehampaan dan kelelahan jiwa.

Sebagian orang menumpuk harta dalam jumlah besar, namun tetap merasa kurang dan terus mengejarnya dengan berbagai cara. Ibarat meminum air laut, semakin diminum semakin haus.

Seteguk yang diminum terasa melegakan, tetapi sejatinya hanya menambah dahaga. Kebahagiaan dan ketenangan bukan ditentukan oleh seberapa banyak harta yang berada dalam genggaman, melainkan seberapa lapang hati bersyukur atas nikmat yang diterima.

Ramadhan hadir memberi jeda agar manusia berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia dan menyadari bahwa manusia bukan sekadar entitas jasmaniah yang tampak oleh mata, tetapi juga entitas ruhaniah yang merindukan makna.

Ramadhan menyadarkan untuk menyucikan ruhani sebagai ikhtiar kembali kepada diri sejati yang bebas dari hasad dan kesombongan. Ibadah puasa dan shalat yang dijalankan bukan sekadar rutinitas mekanis, melainkan jalan pencerahan bagi akal budi.

Puasa melatih manusia mengaktifkan akal sebagai pengendali diri agar tidak tunduk pada dorongan perut dan hawa nafsu sebagai simbol kepentingan duniawi.

Dengan akal yang aktif, manusia dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Demikian pula kekhusyukan shalat yang diintensifkan selama Ramadhan diharapkan menjadi jalan penyadaran diri seorang hamba di hadapan Tuhan.

Melalui shalat, berbagai atribut kebesaran duniawi ditanggalkan. Manusia diingatkan bahwa di hadapan Sang Pencipta, ia hanyalah seorang hamba yang kecil, dengan tugas utama menyembah dan menyerahkan seluruh jiwa raga kepada-Nya.

Kesalehan Sosial

Namun bagi seorang muslim, kesalehan di atas sajadah tidaklah cukup. Puasa sebagai lapar yang disengaja menghadirkan dimensi kesalehan sosial. Rasa haus dan lapar yang direncanakan itu bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi juga melatih empati terhadap sesama, merasakan apa yang diderita orang lain.

Orang yang berpuasa karena perintah agama masih memiliki harapan untuk berbuka saat Magrib dengan berbagai pilihan makanan. Berbeda dengan kaum miskin dan duafa yang merasakan lapar bukan karena pilihan, melainkan karena ketiadaan.

Karena itu, momentum Ramadhan memperkuat radar empati seorang shaaim. Empati tersebut diwujudkan melalui gerakan infak, sedekah, dan zakat, terutama pada penghujung Ramadhan.

Pesan kesalehan sosial ini ditegaskan Rasulullah SAW dalam sabda-Nya, “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun,” (HR. Tirmidzi).

Dalam hadits lain disebutkan, “Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadhan,’” (HR. At-Tirmidzi).

Kedua hadits tersebut mendorong umat Islam untuk memperkuat tradisi berbagi selama bulan Ramadhan.

Konsekuensi dari kesalehan sosial tidak berhenti pada gerakan personal, tetapi juga terwujud dalam gerakan bersama yang terorganisir melalui lembaga amil zakat milik pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan keagamaan, seperti BAZNAS, LAZISMU, dan LAZISNU.

Ramadhan merupakan bulan titik balik bagi setiap muslim untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dengan syarat melakukan pembaruan ruhiyah dan penguatan kesalehan sosial.

Semoga puasa Ramadhan yang dijalankan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai wujud kesalehan vertikal, serta semakin mendekatkan diri kepada sesama manusia, khususnya kaum miskin dan duafa, sebagai wujud kesalehan horizontal.