Kam. Sep 24th, 2026

Kecamatan Hewokloang

Demontrasi Mahasiswa Menuntut Keadilan atas Kematian Siswi SMP di Rubit Berujung Bentrok di Depan Polres Sikka

SIKKA, Bajopos.com – Aksi organisasi mahasiswa, yakni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) St. Thomas Morus Cabang Maumere dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sikka berujung bentrok.

Aksi demontrasi yang awalnya dimulai dengan orasi damai, berujung pada ketegangan dan bentrokan fisik di depan Markas Kepolisian Resor Sikka, Rabu (4/3/2026).

Dua organisasi tersebut datang bersama keluarga korban untuk menuntut keadilan atas meninggalnya STN (14), siswi SMP MBC Ohe yang ditemukan tak bernyawa di Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, termasuk kakak korban yang sempat hadir  membersamai aksi siang itu.

Sejak siang hari, massa mulai berkumpul di depan gerbang Mapolres Sikka. Orasi dilakukan secara bergantian, menuntut penyelidikan yang dinilai harus lebih transparan, profesional, dan tanpa kompromi.

Masa aksi memaksa memasuki Polres Sikka dan bertemu Kapolres. Doc. Bajopos.com/Faidin.

PMKRI menjadi kelompok pertama yang mencoba membangun komunikasi dengan aparat. Setelah melalui negosiasi, perwakilan mereka sempat diizinkan masuk ke Polres untuk beraudiensi. Meski mahasiswa diijinkan masuk lalu keluar lagi dan meminta masuk kembali.

Saat diarahkan masuk beraudiens, di dalam ruangan pertemuan itu tidak berlangsung lama. Mahasiswa kembali keluar ke bagian halaman Polres Sikka dan melanjutkan orasi dengan mobil yang turut ikut dimasukkan ke halaman. Mahasiswa keluar kembali beralasan tidak bersedia melanjutkan audiensi jika Kapolres Sikka tidak hadir langsung di ruangan menemui mahasiswa.

Meski sebelumnya, pihak kepolisian menyampaikan bahwa Kapolres sedang berada di luar daerah. Hingga hari itupun mahasiswa bertahan di halaman Polres, menunggu kehadiran pimpinan tertinggi di institusi tersebut.

Masa aksi saling dorong bersama petugas kepolisian memaksa hendak masuk menemui Kapolres. Doc. Bajopos.com/Faidin.

Ketegangan di Gerbang

Situasi mulai memanas saat giliran GMNI Cabang Sikka mengambil alih aksi. Massa mendesak agar diizinkan masuk dan bertemu langsung dengan Kapolres.

Permintaan untuk menghadirkan Kapolres, bahkan meminta Kapolres yang sementara berada di luar daerah di hubungi melalui sambungan video call, namun permintaan itu tidak mendapat respons sesuai harapan mereka mahasiswa.

Akhirnya, larangan masuk ke halaman Mapolres memicu aksi dorong-mendorong di pintu gerbang. Aparat yang berjaga dengan tameng dan pentungan membentuk barikade rapat. Massa mencoba menerobos, sementara polisi mempertahankan formasi.

Di tengah ketegangan, terjadi aksi saling dorong yang berubah menjadi bentrokan fisik. Sebagian mahasiswa mendorong dan menendang tameng petugas, sementara, beberapa aparat terlihat melayangkan pukulan, hingga adu jotos pun tak terhindarkan.

Salah satu titik ketegangan paling mencolok terjadi di depan pintu SPKT Polres Sikka. Seorang pria berbaju biru yang diduga anggota kepolisian terlihat mengejar seorang mahasiswa di tengah kerumunan di luar pintu masuk hingga menggiringnya ke area bagian dalam penjagaan.

Dalam situasi ricuh tersebut, seorang mahasiswa tampak jatuh dan mengalami luka gores cukup panjang di bagian leher.

Masa aksi membakar ban yang sempat menggangu lalu lintas di depan Polres Sikka. Doc. Bajopos.com/Faidin.

Ban Terbakar dan Jalan Raya Terganggu

Sebelum bentrokan pecah, massa sempat membakar ban bekas di jalan raya depan Mapolres. Kepulan asap hitam membuat sejumlah pengendara roda dua memilih berbalik arah, tampak ibu-ibu yang di bonceng berbaju putih dengan bawahan celana hitam panjang seperti pakaian ASN. Namun, ada pula pengendara yang nekat melintas di tengah asap dan kerumunan aksi.

Di sela-sela ketegangan, sempat terjadi saling olok antara mahasiswa dan aparat. Bahasa tubuh dan gestur bernada kelakar terlihat di beberapa momen, meski di sisi lain reaksi serius dari peserta aksi maupun petugas membuat suasana cepat berubah tegang.

Komunikasi di Balik Ketegangan

Menariknya, di balik barikade dan dorong-mendorong, terlihat pula komunikasi intensif antara beberapa mahasiswa dan aparat. Dari kejauhan, tampak percakapan yang disertai saling memegang tangan dan bahu, bahkan sesekali tersenyum dan tertawa. Meski isi pembicaraan tak terdengar jelas, bahasa tubuh keduanya menunjukkan adanya upaya persuasif untuk meredam situasi.

Setelah bentrokan mereda, penjagaan akhirnya mengijinkan. Massa kemudian dipersilakan masuk ke halaman Mapolres Sikka untuk melanjutkan orasi dan menyampaikan pernyataan sikap.

Rencana Menginap di Halaman Polres

Aksi tidak berhenti pada orasi. Mahasiswa bahkan mendirikan tenda di halaman Mapolres Sikka dan berencana bertahan, meski hujan sempat mengguyur lokasi aksi.

Ketua GMNI Sikka, Wilfridus Igo, dalam orasinya menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk keprihatinan sekaligus desakan agar kepolisian bekerja secara profesional dan mendalam.

“Kami menuntut penyelidikan yang jujur, transparan, dan dilakukan dengan telaah hukum yang mendalam agar keadilan bagi korban di Desa Rubit ditegakkan,” teriaknya di tengah kerumunan massa.

Mahasiswa bertahan di halaman Mapolres Sikka, menunggu kepastian untuk bertemu langsung dengan Kapolres sebagai bentuk tanggung jawab moral dan institusional atas penanganan kasus kematian siswi SMP tersebut hingga menjelang malam.

Meski masa pulang dan membongkar tenda kembali, namun dipastikan akan kembali pada besok pagi pukul 06.00, bahkan dalam wawancara terpisah mahasiswa akan menduduki ruangan Kapolres jika Kapolres tidak datang menemui massa. (Faidin)

Sekolah di Sekitar TKP Kematian STN Mendadak Sepi, Warga Mengaku Masih Diliputi Rasa Takut

SIKKA, Bajopos.com – Pasca meninggalnya STN secara tidak wajar di Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, suasana di sejumlah sekolah sekitar lokasi kejadian mendadak berubah drastis. Aktivitas belajar mengajar tak lagi seramai biasanya. Kepanikan dan rasa was-was masih menyelimuti warga.

Pantauan sumber media ini yang merupakan warga Desa Rubit menyebutkan, sejak pagi hingga malam hari kondisi wilayah sekitar masih dalam pengawasan masyarakat. Tidak hanya lingkungan pemukiman, aktivitas sekolah pun turut dipantau.

Sumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, salah satu alasan orang tua enggan menyekolahkan anak mereka karena ayah pelaku disebut-sebut masih berkeliaran.

“Alasannya karena bapak pelaku masih berkeliaran, jadi orang tua takut dan belum berani lepas anak-anak mereka ke sekolah,” ujarnya Selasa, 03/03/2026.

Ia menyebutkan, saat ini aktivitas di tingkat SMP mulai kembali berjalan, namun belum sepenuhnya normal. Masih ada siswa yang diliputi ketakutan.

“Sekarang SMP sudah mulai ada aktivitas, tapi masih sepi. Masih ada siswa yang takut ke sekolah. Tidak seperti biasa. Suasananya mencekam,” katanya.

Beberapa siswa bahkan disebut harus diantar langsung oleh orang tua mereka agar berani mengikuti pelajaran.

“Banyak yang harus diantar orang tua dulu baru mau masuk sekolah,” tambahnya.

Sekolah-sekolah yang terlihat sepi berdasarkan pantauan di antaranya SDK Watuwitir, SDK Ohe, dan SMP MBC Ohe. Kondisi serupa juga dirasakan sekolah lain yang berada tidak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP).

Bangkoor Masih Was-Was

Sementara itu, sumber lain dari wilayah Bangkoor mengisahkan hal senada. Ia menyebut warga di daerahnya juga masih dalam kondisi panik. Bahkan, sebagian masyarakat belum berani beraktivitas normal seperti berkebun.

“Kemarin sempat heboh kalau saksi Saverius Gewar (SG) bersembunyi di sekitar Bangkoor. Jadi orang-orang masih takut,” tuturnya.

Menurutnya, para orang tua kini jauh lebih was-was dibanding hari-hari sebelumnya.

“Orang tua lebih was-was sekarang,” kata sumber tersebut.

Ia juga mengirimkan video berdurasi 29 detik yang memperlihatkan kepanikan warga saat melihat kendaraan bermotor melintas di jalan raya.

Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa video tersebut direkam ketika SG dikabarkan menghilang setelah sempat ditemukan warga di Dusun Nebe A.

“Ini video waktu SG menghilang setelah ditemukan warga di Dusun Nebe A. Jadi warga panik dan berdiri di sepanjang jalan,” ungkapnya.

Sumber tersebut yang mengaku sebagai warga Bangkoor juga menambahkan bahwa istri SG diketahui berasal dari Desa Mamai.

“Kebetulan saya warga Bangkoor. Istrinya yang bersangkutan itu warga Desa Mamai. Untuk keluarganya, jujur saya baru tahu juga kalau SG ini istrinya merupakan warga Mamai,” terangnya.

Hingga kini, suasana di sejumlah titik di Kecamatan Hewokloang masih belum sepenuhnya kondusif. Trauma dan ketakutan warga tampak masih membekas, terutama bagi orang tua dan anak-anak sekolah yang terdampak langsung oleh peristiwa tragis tersebut. (Faidin)

Dugaan Pelaku Lain Menguat, Ketimpangan Fisik dan Lokasi Penemuan Jasad. Dikerjakan Seorang Anak Kecil?

SIKKA, Bajopos.com – Kasus meninggalnya STN (14), siswi SMP MBC Ohe di Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, NTT, terus menyisakan tanda tanya. Di tengah proses hukum yang berjalan, keluarga korban mulai menyoroti kemungkinan adanya pelaku lain di balik tragedi tersebut.

Ayah korban, Herman Yoseph, secara terbuka mengungkapkan kecurigaannya bahwa jasad putrinya tidak mungkin dipindahkan seorang diri oleh tersangka yang telah ditetapkan polisi.

Ia menduga, ada pihak lain yang turut membantu memindahkan tubuh korban dari rumah pelaku hingga ke Kali Watuwogat.

“Bodi anak saya lebih besar, lebih tinggi dari si laki-laki itu (pelaku), lagaknya seperti laki-laki,” ujarnya dengan nada tegas.

Pemindahan Jasad dan Perbandingan Fisik Tak Logis Pekerjaan Satu Orang Anak

Menurut keterangan keluarga, STN memiliki berat badan sekitar 54 kilogram dengan tinggi badan 160 sentimeter. Secara fisik, kata pihak keluarga, korban tampak lebih besar dibandingkan tersangka FRG yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Sikka.

Keluarga mempertanyakan logika pemindahan jasad tersebut. Jika benar tubuh korban dipindahkan dari rumah pelaku menuju kali, maka jarak dan kondisi medan menjadi faktor penting yang dinilai sulit dilakukan seorang diri, terlebih jika memperhitungkan perbedaan postur tubuh.

STN diketahui merupakan anak ketiga dari pasangan Maria Yohana Nona dan Herman Yoseph. Ia adalah satu-satunya anak perempuan di keluarga tersebut dan menetap bersama orang tuanya di Kampung Romanduru, Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang.

Sejauh ini, aparat kepolisian telah menetapkan FRG sebagai tersangka dalam kasus meninggalnya remaja tersebut.

Namun, perkembangan lain turut menyedot perhatian publik. SG, yang disebut sebagai ayah tersangka dan berstatus saksi dalam kasus ini, sempat dikabarkan menghilang dan disebut-sebut diburu sejak Minggu, 1 Maret 2026.

Pihak Polres Sikka sebelumnya menegaskan bahwa SG tidak kabur dan proses hukum tetap berjalan sesuai prosedur.

Kendati demikian, isu mengenai keberadaan saksi kunci itu semakin memperkuat kecurigaan sebagian pihak bahwa ada peran lain yang belum sepenuhnya terungkap.

Sejumlah warga di sekitar lokasi kejadian juga berharap penyidik dapat mendalami kemungkinan adanya keterlibatan lebih dari satu orang.

Selain aspek fisik, analisis forensik, jejak di lokasi, serta rekonstruksi kejadian dinilai menjadi kunci untuk menjawab dugaan tersebut.(Faidin)

Tertimbun Rumput & Bambu Dalam Insiden Kematian Siswi di Sikka Diduga Akibat Penganiayaan Berat

SIKKA, Bajopos.com – Penemuan jasad STN di Dusun Woloklereng, Desa Rubit, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, pada Senin, 23/02/2026, membuka babak penyelidikan serius aparat kepolisian. Hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) mengarah pada indikasi penganiayaan berat.

KBO Reskrim Polres Sikka, I Nyoman Aryasa, menyatakan penyidik masih mendalami seluruh kemungkinan. Pemeriksaan dilakukan terhadap sejumlah pihak yang memiliki keterkaitan atau mengetahui peristiwa tersebut.

“Kita tidak bisa memastikan satu orang yang diperiksa terlibat atau tidak. Nanti semuanya akan berkembang. Update berikutnya akan kami sampaikan,” ujarnya dalam konferensi pers di Mapolres Sikka, Selasa (24/2/2026).

Seorang pria telah diamankan sekitar pukul 09.00 Wita oleh tim Satreskrim untuk dimintai keterangan. Kasi Humas Polres Sikka, Ipda Leonardus Tunga, menegaskan bahwa status pria tersebut masih sebatas saksi yang diduga mengetahui kejadian.

“Yang bersangkutan masih dalam pemeriksaan. Tetapi faktanya bahwa kita sudah mengamankan satu orang yang mengetahui kasus tersebut,” kata Leonardus.

Rangkaian peristiwa bermula pada Jumat, 20 Februari 2026, saat korban pergi ke rumah salah satu kerabat untuk mengambil gitar miliknya. Hingga malam hari sekitar pukul 20.00 Wita, korban tak kembali. Upaya pencarian keluarga tak membuahkan hasil hingga laporan kehilangan diajukan ke Polsek Kewapante pada Minggu, 21 Februari 2026.

Pencarian berlanjut ke area sekitar Kali Watuwogat. Bau menyengat yang tercium dari tumpukan rumput dan kayu bambu yang disusun melintang menjadi petunjuk awal. Setelah diperiksa, jasad korban ditemukan dalam kondisi tertutup dan tersembunyi.

Penyidik kini fokus mengurai kronologi pasti, dimana sejak korban meninggalkan rumah hingga ditemukan tewas, serta kemungkinan adanya upaya menghilangkan jejak di lokasi kejadian.

Sementara itu, pihak kepolisian memastikan penyelidikan dilakukan secara komprehensif untuk mengungkap fakta di balik kematian siswi tersebut.(Fn) 

Mayat Siswi SMP Ditemukan Tertutup Rerumputan dan Bambu, Polisi Dalami Penyebab Kematian

SIKKA, Bajopos.com – Misteri hilangnya seorang siswi SMP di Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, berakhir tragis. STN (14), pelajar kelas II SMP MBC Ohe yang dilaporkan hilang sejak Jumat (20/02/2026).

Kapolres Sikka, AKBP Bambang Supeno, melalui Kasi Humas Polres Sikka, Iptu Leonardus Tunga, dalam laporan resmi yang diterima Bajopos.com mengungkap STN ditemukan tak bernyawa di Kali Watuwogat, Dusun Woloklereng, Desa Rubit, Senin (23/02) sekitar pukul 14.00 WITA.

Temuan jasad korban kini menimbulkan tanda tanya, baik dari warga sekitar maupun keluarga dekat korban karena tubuhnya ditemukan di bawah batu dalam kondisi tertutup tumpukan rerumputan serta kayu bambu yang dipalang dari atas.

Untuk diketahui, lokasi penemuan jasad korbanpun tak jauh dari rumah kerabat yang sebelumnya menurut laporan didatangi korban untuk mengambil gitar miliknya.

Kronologi Kejadian

Berdasarkan kronologi yang dihimpun, pada Jumat siang korban pamit ke rumah kerabat untuk mengambil gitar yang dipinjam. Namun hingga pukul 20.00 WITA, korban tak kunjung kembali.

Keluarga telah melakukan pencarian ke sejumlah kerabat, tetapi hasilnya nihil. Laporan kehilangan resmi dibuat pada Minggu (22/2/2026) di Polsek Kewapante.

Pencarian bersama aparat terus dilakukan. Pada Senin siang, keluarga kembali menyisir area sekitar lokasi terakhir korban terlihat. Sementara itu, saksi EM (46) mengaku mencium bau menyengat saat berada di sekitar aliran kali.

Saat melakukan pemeriksaan lebih dekat, terlihat sosok tubuh di bawah batu dengan tumpukan rumput dan bambu di atasnya. Ia kemudian memanggil saksi lain, YEB (32), serta anggota keluarga lain untuk memastikan temuan tersebut.

Kepala Desa Rubit segera melaporkan peristiwa itu ke Polsek Kewapante. Sekitar pukul 15.00 WITA, Kapolsek bersama personel dan Tim Inafis dari Polres Sikka tiba di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Jenazah korban selanjutnya dievakuasi ke RSUD TC Hillers Maumere.

Pihak kepolisian telah memeriksa saksi-saksi dan menerima laporan resmi dari keluarga di SPKT Polres Sikka. Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan untuk memastikan penyebab kematian korban, termasuk mendalami kondisi lokasi penemuan dan rentang waktu sejak korban dinyatakan hilang.

Hingga kini, polisi belum menyimpulkan penyebab kematian dan menyatakan proses lidik masih berjalan. Aparat mengimbau masyarakat tidak berspekulasi sembari menunggu hasil penyelidikan resmi.(Fn)