Rab. Sep 23rd, 2026

bencana Flores

Jusuf Kalla Ke Maumere, “Rumah Tak Hancur, Mengapa Mereka Belum Berani Pulang?”

SIKKA, Bajopos.com | Ada rumah yang hanya retak. Ada yang bahkan masih berdiri kokoh. Namun, bagi sebagian warga terdampak gempa di Kabupaten Sikka, pulang ternyata bukan sekadar soal apakah rumah masih layak ditempati.

Pulang membutuhkan rasa aman. Dan rasa aman itulah yang belum sepenuhnya kembali.

Potret itu terlihat ketika Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI sekaligus Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla (JK), menemui warga yang masih bertahan di Posko Pengungsian Gelora Samador, Jumat (28/8/2026) pagi.

Di hadapan JK, seorang pengungsi mengungkapkan alasan dirinya belum berani kembali ke rumah.

Rumahnya memang hanya mengalami keretakan ringan. Namun setiap kali membayangkan harus tidur kembali di rumah, terutama pada malam hari, rasa cemas muncul.

“Kalau kami pulang sebentar, hati kami masih berdebar-debar. Malam terjadi apa-apa,” ujarnya.

JK kemudian bertanya singkat.

“Takut lagi?”

“Takut lagi, masih,” jawab warga tersebut.

Jawaban itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi di baliknya ada trauma yang tidak bisa diukur menggunakan meteran kerusakan bangunan.

Dinding bisa diperiksa. Retakan bisa dihitung. Tetapi rasa takut tidak punya ukuran.

Pengungsi lainnya bahkan mengaku semakin khawatir karena di rumah mereka terdapat anak-anak kecil dan bayi.

“Kalau sampai di rumah kami punya hati sudah deg-deg begitu. Malam… kejadian malam,” katanya.

“Malam kembali lagi?” tanya JK.

“Iya, malam. Apalagi ada cucu, anak-anak kecil semua, bayi-bayi. Yang kami takutkan ini,” jawabnya.

Bukan Tak Mau Pulang, Tapi Belum Berani

Di titik inilah persoalan pengungsian pascagempa menjadi lebih kompleks.

Warga bukan tidak ingin kembali ke rumah. Mereka ingin pulang.

Mereka ingin kembali memasak di dapur sendiri, tidur di kamar sendiri, membuka pintu rumah sendiri dan menjalani kehidupan seperti sebelum gempa.

Tetapi ingatan tentang guncangan membuat malam hari menjadi sesuatu yang menakutkan.

Bagi keluarga yang memiliki bayi dan anak kecil, keputusan untuk pulang bahkan terasa jauh lebih berat.

Sebab, jika gempa kembali terjadi, bukan hanya keselamatan diri yang dipikirkan. Ada anak-anak yang harus diselamatkan.

Karena itu, kepulangan pengungsi seharusnya tidak hanya dilihat dari kondisi fisik bangunan, tetapi juga dari kesiapan mental dan rasa aman penghuninya.

Kata JK, Kehidupan Harus Kembali

JK meminta masyarakat bersabar. Menurut dia, setelah masa tanggap darurat, kehidupan harus perlahan dipulihkan.

“Yang penting untuk sekarang ini harus rehabilitasi dan juga perbaikan kehidupan, kembali pekerjaan nanti pada waktunya. Anak-anak sekolah tentu kembali ke sekolah, perbaikan-perbaikan semuanya,” kata JK.

Ia memastikan PMI terus membantu kebutuhan masyarakat terdampak bencana.

“Palang Merah selalu membantu sejak awal dan juga kebutuhan-kebutuhan sehari-hari, apa-apa yang dibutuhkan. Hari ini ada kapal bantuan di Labuan Bajo, disebarkan ke seluruh daerah Flores,” ujarnya.

Menurut JK, penanganan bencana membutuhkan gotong royong semua pihak.

“Karena bagi kita semua sesama manusia, tentu harus selalu sama-sama membantu,” katanya.

Sembako Diminta, Masa Depan Anak Juga Dipikirkan

Ketika JK bertanya mengenai kebutuhan mendesak warga, jawaban pengungsi terdengar hampir bersamaan.

“Sembako! Sembako, Pak!”

Namun dari tengah kerumunan muncul suara lain.

“Kebutuhan sekolah… Beasiswa buat anak sekolah… Sembako, Pak! Beasiswa.”

Permintaan itu menunjukkan satu hal: warga tidak ingin selamanya hidup dalam situasi darurat.

Mereka ingin kembali berdaya.

Mereka ingin anak-anak kembali sekolah.

Mereka ingin kehidupan ekonomi kembali berjalan.

Dan mereka ingin bantuan yang diterima hari ini menjadi jembatan menuju kehidupan normal, bukan membuat mereka terus bergantung pada posko.

JK pun meminta masyarakat bersabar.

“Karena itu, saya minta kesabaran Ibu-Ibu. Nanti kita selesaikan semuanya bantuan yang ada. Baik tentang materi, tentang pendidikan, dan sebagainya,” katanya.

Dalam suasana yang sebelumnya serius, JK sempat melontarkan candaan. Para pengungsi pun tertawa.

Di tengah ketakutan yang masih tersisa, tawa itu menjadi pengingat bahwa pemulihan bukan hanya tentang membangun kembali rumah.

Pemulihan juga berarti mengembalikan keceriaan.

655 Jiwa Masih Bertahan

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, mengatakan jumlah pengungsi di Gelora Samador terus berubah seiring proses pemulangan warga.

“Sampai hari ini sekiranya data terakhir dari tadi malam sampai pagi tadi sisa 600-an, 655 jiwa,” kata Juventus.

Pemerintah terus berkoordinasi dengan BNPB dan BMKG untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang benar mengenai perkembangan situasi gempa.

Juventus juga meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak jelas sumbernya, terutama kabar yang beredar melalui media sosial.

“Kami berdasarkan arahan dari BNPB, dari BMKG, untuk terus melakukan komunikasi menyampaikan perihal kondisi riil hari ini dan memberikan kekuatan kepada mereka, seluruh masyarakat kami bahwa tidak perlu percaya yang hoaks, informasi-informasi di sosial media dan lain sebagainya yang bisa kemudian menyesatkan,” ujarnya.

Mengobati Luka yang Tak Terlihat

Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis warga.

Menurut Juventus, aktivitas psikososial bagi anak-anak terus dilakukan di lokasi pengungsian dengan melibatkan relawan dari Kementerian Sosial. Pendampingan juga diberikan kepada orang tua.

“Selain kita siapkan kebutuhan makan, minum, dan tidurnya, tetapi aktivitas psikososial untuk anak-anak… kami terus-menerus melakukan pendampingan ini, baik pada anak-anak maupun pada orang tua,” katanya.

Sebab, gempa memang berhenti mengguncang tanah, tetapi rasa takut tidak selalu berhenti pada saat yang sama.

Bagi sebagian warga, suara malam masih mengingatkan mereka pada guncangan.

Bagi orang tua, rumah yang retak masih menyimpan pertanyaan: aman atau tidak jika anak-anak kembali tidur di sana?

Dan bagi mereka yang masih berada di Gelora Samador, bertahan di tenda bukan berarti tidak ingin pulang.

Mereka hanya sedang menunggu satu hal yang paling sederhana, tetapi paling sulit dikembalikan setelah bencana: rasa aman.

Kunjungan JK ke Gelora Samador merupakan bagian dari kunjungan kerjanya ke Kabupaten Sikka setelah bertolak dari Surabaya dan tiba di Bandara Frans Seda, Maumere, Jumat (28/8/2026) sekitar pukul 09.35 Wita.

Reporter : Faidin

Astra Group Peduli Wartawan yang Tetap Bekerja di Tengah Bencana

SIKKA, Bajopos.com | Di tengah bencana gempa bumi yang mengguncang Flores, ada satu kelompok yang kerap luput dari perhatian: para pewarta atau wartawan.

Mereka berada di tengah masyarakat ketika bencana terjadi. Mereka mendatangi lokasi kerusakan, posko pengungsian, rumah-rumah warga terdampak, hingga tempat-tempat yang sulit dijangkau untuk memastikan kondisi masyarakat diketahui publik.

Namun, di balik kamera, mikrofon, buku catatan dan telepon genggam yang digunakan untuk bekerja, para pewarta juga memiliki rumah, keluarga dan kehidupan yang tidak luput dari dampak gempa.

Dengan kata lain, wartawan yang memberitakan korban bencana tidak selalu berada di luar lingkaran korban. Mereka pun bisa menjadi korban yang tetap bekerja.

Pihak ASTRA Group, Vonny Francis menyerahkan paket bantuan kepada Anggota Aliansi Wartawan Sikka (AWAS Sikka).

Karena itu, kepedulian Astra Group terhadap para pewarta terdampak gempa di Kabupaten Sikka patut mendapat apresiasi dan ucapan terima kasih.

Melalui program Nurani Astra Berbagi (Astra SOS), Astra Group menyalurkan bantuan paket sembako kepada 30 jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Rabu (26/8/2026).

Bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi wartawan yang sedang berada dalam situasi sulit akibat bencana, perhatian itu memiliki makna yang jauh lebih besar.

Bukan semata-mata tentang isi paket bantuan, tetapi tentang pesan kemanusiaan yang menyertainya: bahwa mereka yang selama ini bekerja menyampaikan suara masyarakat juga tidak dilupakan ketika mereka sendiri membutuhkan perhatian.

Wartawan Adalah Mitra Astra

Fasilitator Desa Sejahtera Astra Group, Vonny Francis, mengatakan wartawan merupakan mitra Astra, terutama dalam menyampaikan berbagai program perusahaan kepada masyarakat.

“Astra Group menyadari bahwa wartawan itu adalah mitra kami dalam memublikasikan program-program yang Astra Group persembahkan untuk negeri ini melalui program Desa Sejahtera Astra,” ujar Vonny.

Menurutnya, peran wartawan tidak berhenti pada publikasi. Media juga memiliki fungsi penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat sekaligus menjadi bagian dari pengawasan sosial terhadap berbagai program yang dilaksanakan.

“Kehadiran wartawan sering sekali membantu kami untuk mengedukasi masyarakat. Tujuan paling utama adalah bagaimana mengedukasi masyarakat dan juga sekaligus menjadi bagian dari mata masyarakat untuk mengawasi kerja-kerja kami,” jelasnya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara dunia usaha dan media bukan semata-mata hubungan publikasi.

Wartawan adalah mitra dalam menyampaikan informasi, mengedukasi masyarakat, membuka ruang komunikasi, sekaligus membantu memastikan berbagai program yang hadir di tengah masyarakat diketahui dan dipahami dengan baik.

Dalam situasi bencana, peran itu menjadi semakin penting.

Vonny; Saat Wartawan Mengabarkan Bencana, Mereka Juga Terdampak

Vonny menyebut, ketika masyarakat berada di pengungsian, wartawan datang untuk meliput.

Ketika bantuan belum tiba, wartawan memberitakannya.

Ketika ada warga yang kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar, wartawan berusaha mengangkat persoalan tersebut.

Ketika kondisi di lapangan membutuhkan perhatian pemerintah dan masyarakat luas, wartawan menjadi salah satu pihak yang menyampaikan informasi tersebut kepada publik.

Namun, tidak banyak yang bertanya apakah wartawan yang datang ke lokasi itu juga terdampak.

Tidak sedikit pewarta yang harus meninggalkan keluarga demi mengejar informasi. Ada yang bekerja dalam kondisi lelah, kurang tidur, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, bahkan bekerja dalam kondisi rumah dan keluarganya sendiri ikut terdampak gempa.

Disinilah Astra Group memahami bahwa kepedulian Astra menjadi berarti.

Bantuan kepada wartawan terdampak kata Vonny bukan berarti memberikan keistimewaan kepada pers. Ini adalah bentuk kepedulian kemanusiaan kepada individu yang kebetulan berprofesi sebagai wartawan.

Mereka juga korban. Mereka juga memiliki keluarga. Mereka juga memiliki kebutuhan dasar.

Dan yang tidak kalah penting, mereka tetap memilih bekerja ketika situasi belum sepenuhnya pulih.

Atas perhatian tersebut, ucapan terima kasih layak disampaikan kepada Astra Group melalui program Nurani Astra Berbagi.

Di tengah banyaknya perhatian yang tertuju kepada warga yang kehilangan rumah, berada di pengungsian atau membutuhkan bantuan, kata Vonny, Astra justru memilih melihat sisi lain yang sering terlupakan: para pewarta yang juga terdampak, tetapi tetap berdiri membawa suara masyarakat.

Bantuan ini tiada lain, sekaligus mengingatkan bahwa dalam situasi bencana, kita tidak boleh hanya melihat siapa yang diberitakan sebagai korban.

Kita juga perlu melihat siapa yang terus bekerja untuk memberitakan mereka.

Wartawan membantu masyarakat memperoleh informasi. Tetapi pada saat yang sama, wartawan juga membutuhkan dukungan, perhatian dan kepedulian ketika bencana ikut menyentuh kehidupan mereka.

Apa yang dilakukan Astra hari ini hemat Vonny, memberikan pesan sederhana namun penting, dimana kepedulian kemanusiaan seharusnya tidak mengenal profesi.

Kepedulian yang Diharapkan Menjadi Gerakan Bersama

Ia mengutarakan bahwa kepedulian Astra terhadap wartawan terdampak gempa diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan sesaat, tetapi menjadi inspirasi bagi berbagai pihak.

“Pemerintah, dunia usaha, lembaga sosial, organisasi kemasyarakatan dan seluruh elemen masyarakat dapat melihat bahwa wartawan juga merupakan bagian dari ekosistem penanggulangan bencana,” kata Vonny.

“Mereka memang bukan petugas evakuasi. Mereka bukan tenaga medis. Mereka bukan relawan logistik. Tetapi wartawan membantu memastikan apa yang terjadi di lapangan diketahui publik,” ujar Vonny.

Ia menekankan bahwa dalam penanganan bencana, informasi yang benar juga merupakan bagian dari pertolongan.

Karena itu, kata Dia, ketika seorang wartawan terdampak bencana tetap memilih bekerja, yang seharusnya hadir bukan hanya tuntutan agar mereka terus memberitakan keadaan, tetapi juga kepedulian terhadap kondisi mereka.

“Hari ini, Astra telah menunjukkan bahwa wartawan tidak harus selalu dilihat sebagai orang yang datang untuk meliput korban. Wartawan juga bisa menjadi korban. Dan ketika mereka menjadi korban namun tetap bekerja untuk menyuarakan kondisi masyarakat, perhatian terhadap mereka bukanlah sebuah keistimewaan, melainkan bentuk penghargaan terhadap kemanusiaan dan profesi yang mereka jalankan,” ucapnya.

Ia sebagai pribadi pun berterima kasih kepada Asrta Group karena telah melihat mereka yang selama ini berdiri di belakang berita.

“Semoga kepedulian ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap berita tentang bencana, ada pewarta yang juga sedang berjuang—dan mungkin, pada saat yang sama, sedang berjuang untuk keluarganya sendiri,” tutupnya.

Reporter : Faidin

Tetap Mengabarkan, Astra Group Peduli Media, 30 Jurnalis di Sikka Terima Paket Sembako Pasca Gempa

SIKKA, Bajopos.com | Di tengah situasi sulit pascagempa bumi yang mengguncang Flores, para jurnalis di Kabupaten Sikka tetap berada di garis depan untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang akurat, cepat, dan berimbang.

Di tengah kondisi tersebut, Astra Group menunjukkan kepeduliannya terhadap insan pers dengan menyalurkan bantuan paket sembako kepada 30 jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Rabu (26/8/2026).

Bantuan tersebut disalurkan melalui Divisi Environmental and Social Responsibility (ESR) Astra Korporasi dalam program pilar kemanusiaan Nurani Astra Berbagi (Astra SOS).

Anggota AWAS Sikka Terima bantuan dari ASTRA Group.

Fasilitator Desa Sejahtera Astra Group, Vonny Francis, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk apresiasi sekaligus solidaritas Astra terhadap wartawan yang selama ini menjadi mitra strategis dalam menyampaikan berbagai program perusahaan kepada masyarakat.

“Astra Group menyadari bahwa wartawan itu adalah mitra kami dalam memublikasikan program-program yang Astra Group persembahkan untuk negeri ini melalui program Desa Sejahtera Astra,” ujar Vonny.

Menurutnya, peran wartawan tidak sebatas memberitakan berbagai program pemberdayaan masyarakat, tetapi juga memiliki posisi penting dalam mengedukasi masyarakat sekaligus menjalankan fungsi kontrol sosial.

Kehadiran pers, kata Vonny, sangat membantu dalam memastikan berbagai program pemberdayaan dapat dipahami dan diawasi secara bersama-sama.

“Kehadiran wartawan sering sekali membantu kami untuk mengedukasi masyarakat. Tujuan paling utama adalah bagaimana mengedukasi masyarakat dan juga sekaligus menjadi bagian dari mata masyarakat untuk mengawasi kerja-kerja kami, sekaligus juga memberikan masukan dan pendidikan soal pemberdayaan masyarakat yang benar,” jelasnya.

Vonny juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran korporasi Astra Group, khususnya Divisi ESR, yang telah mendukung pelaksanaan program Nurani Astra Berbagi.

Ia menyebut sejumlah pihak yang turut mendukung program tersebut, di antaranya Pak Boy Kelana, Ibu Diah Suran Febrianti, dan Mbak Yulika.

Apresiasi AWAS

Ketua Aliansi Wartawan Sikka (AWAS), Mario WP Sina, menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Astra Group serta Vonny Francis atas kepedulian yang diberikan kepada para jurnalis di tengah situasi pascabencana.

Menurut Mario, bantuan tersebut tidak sekadar bernilai secara materi, tetapi juga menjadi dukungan moral bagi para wartawan yang tetap menjalankan tugas jurnalistik di tengah kondisi sulit.

“Bantuan paket sembako ini bukan hanya bernilai secara materi, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian dan dukungan moral bagi rekan-rekan media yang di tengah kondisi terdampak bencana tetap berusaha menjalankan tugas jurnalistik, menyampaikan informasi kepada masyarakat, serta mengawal perkembangan penanganan gempa di Kabupaten Sikka,” ungkap Mario.

Ia berharap perhatian Astra Group tersebut dapat membantu meringankan kebutuhan para jurnalis sekaligus menjadi penyemangat bagi insan pers untuk terus menjalankan tugasnya secara profesional.

Bagi AWAS, perhatian tersebut juga menjadi pengingat bahwa di tengah bencana, jurnalis bukan hanya berada di balik kamera atau komputer, tetapi ikut turun ke lapangan, menyaksikan langsung kondisi masyarakat, dan memastikan suara warga terdampak sampai kepada publik serta para pemangku kepentingan.

Sinergi antara dunia usaha dan insan pers tersebut diharapkan terus terjalin, terutama dalam mengawal proses pemulihan pascagempa, distribusi bantuan, serta pemberdayaan masyarakat di wilayah Flores.

Di tengah upaya masyarakat untuk bangkit dari bencana, kepedulian semacam ini menjadi bagian penting dari semangat gotong royong—bahwa mereka yang terus bekerja menyuarakan kondisi korban bencana juga membutuhkan perhatian dan dukungan.

Reporter : Faidin

Hari ke 2 Operasi SAR Gempa M 7,7, 112 Orang Terdampak di Enam Kabupaten di Wilayah Flores, 48 Meninggal

MBAY, Bajopos.com | Memasuki hari kedua, Minggu (16/8/2026), Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Timur Laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus dilakukan Tim SAR Gabungan.

Sejak pukul 06.00 WITA, personel bersama Alat Utama (Alut) SAR dikerahkan ke sejumlah titik yang menjadi prioritas operasi. Pencarian hari kedua difokuskan di dua wilayah utama, yakni Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo, dan kawasan Reo, Kabupaten Manggarai.

Kepala Kantor SAR Maumere sekaligus SAR Mission Coordinator (SMC), Fathur Rahman, mengatakan akses menuju sejumlah wilayah terdampak yang sebelumnya sempat terhambat akibat longsor mulai dapat dilalui petugas.

“Tim Rescue Pos SAR Manggarai Barat yang bertugas melakukan pencarian di wilayah Manggarai Timur, per pukul 06.00 WITA, telah berhasil mengakses jalur darat di wilayah Reo yang sebelumnya terdampak longsor. Dengan terbukanya akses tersebut, pencarian dapat kembali diperluas untuk menjangkau wilayah-wilayah yang membutuhkan pertolongan,” ujar Fathur Rahman.

Ia menambahkan, Tim SAR Gabungan terus melakukan penyisiran dan pendataan di lapangan. Koordinasi dengan BPBD dan berbagai unsur potensi SAR juga diperkuat untuk memastikan wilayah terdampak dapat dijangkau.

112 Orang Terdampak di 6 Kabupaten

Berdasarkan hasil pendataan dan verifikasi sementara hingga pukul 08.30 WITA, tercatat 112 orang terdampak gempa, terdiri atas 48 orang meninggal dunia dan 64 orang mengalami luka berat maupun luka ringan.

Namun, angka tersebut perlu ditegaskan sebagai data sementara yang berasal dari enam kabupaten terdampak, yakni Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Sikka, Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai, Kabupaten Nagekeo, dan Kabupaten Ngada.

Dengan demikian, jumlah 112 orang tersebut bukan merupakan angka keseluruhan korban untuk seluruh wilayah Flores maupun Nusa Tenggara Timur.

Data tersebut merupakan hasil pendataan sementara dari enam kabupaten yang telah dihimpun dan diverifikasi oleh unsur terkait hingga Minggu pagi.

Jumlah korban masih sangat mungkin berubah seiring proses pencarian, pendataan, dan verifikasi yang terus berlangsung di lapangan. Tim SAR Gabungan bersama BPBD dan unsur potensi SAR masih bergerak untuk memastikan kondisi masyarakat di wilayah-wilayah terdampak.

Selain korban jiwa dan luka-luka, petugas juga terus melakukan pemantauan terhadap dampak lain yang ditimbulkan gempa, termasuk kondisi permukiman, akses transportasi, serta kemungkinan adanya warga yang membutuhkan evakuasi maupun bantuan darurat.

Akses Mulai Terbuka

Terbukanya kembali akses darat menuju wilayah Reo yang sebelumnya terdampak longsor menjadi salah satu perkembangan penting dalam operasi SAR hari kedua.

Kondisi tersebut memungkinkan personel untuk memperluas penyisiran dan menjangkau wilayah yang sebelumnya mengalami hambatan akses. Tim di lapangan juga terus berkoordinasi untuk menentukan titik-titik yang membutuhkan prioritas penanganan.

Tim SAR Gabungan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Masyarakat juga diminta mengikuti arahan petugas di lapangan serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Informasi mengenai perkembangan korban dan kondisi wilayah terdampak diharapkan diperoleh dari sumber resmi dan pihak yang berwenang.

Operasi SAR akan terus dilaksanakan untuk mencari dan memberikan pertolongan kepada masyarakat terdampak sekaligus memastikan data korban dapat dihimpun secara akurat.

Reporter : Faidin | Sumber Basarnas Maumere