Sen. Jun 1st, 2026

Delapan Tahun “Telanjang”, Masjid Baitusshodiq Nangahale Menanti Kepedulian Umat

Oleh : Faidin

Ada yang tak pernah berhenti di Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur di wilayah timur Negeri ini, meski waktu telah berjalan delapan tahun lamanya: Adzan yang terus berkumandang dari Masjid Baitusshodiq.

Di balik suara panggilan suci itu, ada kenyataan yang tak bisa ditutup-tutupi. Masjid ini masih berdiri dalam keadaan “telanjang”.

Sebutan yang mungkin terasa keras, tetapi itulah realitas yang ada—bangunan yang belum rampung, fasilitas yang jauh dari layak, dan kondisi fisik yang belum mencerminkan kemuliaan sebuah rumah ibadah.

Namun, di sanalah umat tetap bersujud.

Di lantai yang mungkin belum sepenuhnya nyaman, di bawah atap yang belum sepenuhnya melindungi, di ruang yang sederhana, warga tetap datang. Mereka tidak menunggu masjid itu sempurna untuk beribadah.

Mereka datang dengan kesederhanaan, dengan iman, dengan keyakinan bahwa rumah Allah tetaplah rumah Allah, dalam kondisi apa pun.

Tetapi, apakah kita akan membiarkan kondisi ini terus berlangsung?

Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Dalam kurun waktu itu, generasi anak-anak telah tumbuh, remaja menjadi dewasa, dan banyak perubahan terjadi di berbagai tempat.

Masjid-masjid lain berdiri megah, direnovasi, bahkan dilengkapi fasilitas modern. Sementara itu, Masjid Baitusshodiq masih bertahan dalam kondisi yang sama—menunggu.

Menunggu siapa?

Menunggu kita.

Ini bukan sekadar persoalan pembangunan fisik. Ini adalah cermin dari sejauh mana kepedulian kita sebagai umat. Apakah kita benar-benar merasakan bahwa masjid adalah tanggung jawab bersama? Ataukah kita tanpa sadar membiarkannya menjadi beban segelintir orang saja?

Fakta di lapangan menunjukkan, masyarakat setempat bukan tidak berbuat. Mereka sudah berusaha. Mereka sudah memberi, sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Namun, keterbatasan ekonomi membuat langkah mereka tidak bisa melaju sejauh yang diharapkan.

Mereka tidak berhenti. Tetapi mereka juga tidak bisa berjalan sendiri.

Di titik inilah, suara hati kita diuji.

Kita hidup di zaman di mana berbagi menjadi sangat mudah. Dalam hitungan detik, bantuan bisa dikirim ke berbagai penjuru negeri.

Kita sering tergerak oleh berbagai peristiwa besar—bencana alam, krisis kemanusiaan, atau isu-isu nasional. Kita menunjukkan empati, kita berdonasi, kita peduli.

Namun terkadang, yang dekat justru luput dari perhatian.

Masjid Baitusshodiq Nangahale bukan cerita jauh. Ia nyata. Ia ada. Ia berdiri, menunggu sentuhan tangan-tangan yang peduli.

Bayangkan seorang anak kecil yang belajar mengaji di dalam masjid itu. Duduk di lantai yang sederhana, dengan fasilitas seadanya, tetapi dengan semangat yang besar.

Bayangkan seorang orang tua yang tetap datang untuk shalat berjamaah, meski kondisi bangunan belum layak. Bayangkan doa-doa yang dipanjatkan di dalamnya—doa tentang rezeki, tentang kesehatan, tentang masa depan.

Semua itu terjadi di dalam sebuah masjid yang belum selesai dibangun.

Lalu, di mana kita?

Sering kali kita berpikir bahwa kontribusi harus besar agar berarti. Kita menunggu memiliki lebih banyak untuk bisa memberi. Padahal, sejarah umat ini justru dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan bersama-sama.

Satu orang memberi sedikit. Yang lain ikut menambahkan. Lalu bertambah lagi. Hingga akhirnya, yang kecil itu menjadi besar.

Masjid Baitusshodiq tidak membutuhkan keajaiban. Ia membutuhkan kebersamaan.

Ia membutuhkan kita untuk berhenti sejenak, melihat, dan bertanya pada diri sendiri: apakah kita ingin menjadi bagian dari perubahan ini?

Keutamaan membangun masjid bukanlah hal baru. Ia sering kita dengar, sering kita baca. Namun mungkin, kita jarang dihadapkan pada kesempatan yang begitu nyata di depan mata kita sendiri.

Ini bukan tentang membangun dari nol. Ini tentang melanjutkan yang sudah ada. Ini tentang menyempurnakan apa yang sudah dimulai oleh saudara-saudara kita di Nangahale.

Delapan tahun penantian adalah waktu yang panjang. Terlalu panjang jika harus terus dibiarkan. Setiap hari yang berlalu tanpa perubahan adalah kesempatan yang hilang—kesempatan untuk berbuat, untuk berbagi, untuk menanam amal jariyah.

Kita tidak pernah tahu amal mana yang akan menyelamatkan kita. Bisa jadi bukan yang besar, tetapi yang ikhlas. Bisa jadi bukan yang terlihat, tetapi yang terus mengalir.

Dan membantu menyelesaikan sebuah masjid—tempat di mana ibadah akan terus berlangsung—adalah salah satu bentuk amal yang tidak pernah terputus.

Opini ini bukan untuk menyalahkan. Ini adalah panggilan. Panggilan yang lahir dari kenyataan yang ada, dari fakta yang tidak bisa diabaikan, dan dari harapan yang masih menyala.

Harapan bahwa umat ini masih peduli.
Harapan bahwa masih ada tangan-tangan yang tergerak.

Harapan bahwa Masjid Baitusshodiq tidak akan terus “telanjang” di tahun-tahun yang akan datang.

Kita tidak harus menunggu orang lain memulai. Kita bisa menjadi bagian dari awal itu.

Mungkin bukan kita yang menyelesaikan semuanya. Tetapi setidaknya, kita menjadi bagian dari perjalanan itu.

Bagi para dermawan, pembaca yang budiman, dan siapa saja yang hatinya tergerak untuk ikut ambil bagian dalam pembangunan Masjid Baitusshodiq Nangahale, uluran tangan Anda sangat berarti.

Kontribusi dapat disalurkan dengan menghubungi Ketua Panitia Pembangunan: Sunardin, SH.

Tidak ada bantuan yang terlalu kecil. Tidak ada niat baik yang sia-sia.

Karena pada akhirnya, ketika masjid itu berdiri kokoh nanti—ketika lantainya telah rapi, atapnya telah sempurna, dan jamaahnya semakin banyak—akan ada bagian kecil dari kita di dalamnya.

Dalam setiap sujud.
Dalam setiap doa.
Dalam setiap ayat yang dilantunkan.

Delapan tahun sudah cukup menjadi cerita. Kini saatnya kita menulis akhir yang berbeda.

Bukan lagi tentang masjid yang “telanjang”.
Tetapi tentang umat yang bangkit, bersatu, dan saling menguatkan.

Penulis adalah Wartawan media BAJOPOS.COM

Pisang Kepok Nyaris Hilang di Sikka, Petani Tertekan Serangan Penyakit Sejak 2020

SIKKA, BAJOPOS.COM – Serangan penyakit darah pisang atau blood disease bacterium (BDB) yang terjadi sejak 2020 hingga kini terus menghantui petani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Dampaknya tidak hanya menurunkan produksi, tetapi juga membuat pisang kepok—komoditas andalan daerah—nyaris hilang dari peredaran.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh petani dan pedagang. Keterbatasan pasokan dari dalam daerah memaksa mereka mendatangkan pisang dari luar wilayah seperti Kabupaten Flores Timur dan Lembata.

Don, pedagang pisang di Pasar Alok Maumere, mengaku situasi tersebut sangat memukul usaha yang dijalaninya.

“Untuk di Kabupaten Sikka, pisang kepok yang menjadi salah satu andalan ekonomi petani sudah hilang dari peredaran. Kami terpaksa membeli dari luar daerah,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).

Menurut dia, kondisi ini turut meningkatkan beban modal usaha. Untuk mendapatkan pasokan, ia harus mengeluarkan biaya hingga Rp10 juta guna membeli sekitar dua pikap pisang dari luar daerah.

Di tingkat pedagang, harga jual pisang saat ini mencapai sekitar Rp70.000 per tandan. Meski demikian, tingginya permintaan pasar, termasuk untuk pengiriman ke luar daerah seperti Surabaya, belum mampu diimbangi dengan ketersediaan stok.

“Kami kesulitan memenuhi permintaan karena barangnya terbatas,” katanya.

Don berharap Dinas Pertanian Kabupaten Sikka segera mengambil langkah konkret untuk memutus rantai penyebaran penyakit tersebut. Ia juga mendorong adanya solusi teknis yang lebih efektif di tingkat petani.

“Harapan kami, pemerintah bisa segera menghadirkan solusi agar penyakit ini bisa dikendalikan dan produksi pisang kembali normal,” ujarnya.

Dampak kelangkaan pisang kepok tidak hanya dirasakan dari sisi ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek sosial dan budaya masyarakat setempat. Di Sikka, pisang menjadi salah satu komponen penting dalam berbagai kegiatan adat, termasuk prosesi perkawinan.

Martinus, warga Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan adat akibat langkanya pisang di daerahnya.

“Untuk urusan adat perkawinan, kami sampai harus membeli pisang dari Flores Timur karena di sini sudah sulit didapat,” tuturnya.

Sejumlah pihak menilai, penanganan penyakit tanaman seperti BDB membutuhkan pendekatan terpadu. Upaya tersebut meliputi pengendalian di tingkat kebun, penggunaan bibit sehat, hingga edukasi kepada petani terkait praktik budidaya yang aman.

Tanpa langkah terkoordinasi, penyebaran penyakit dikhawatirkan akan terus meluas dan memperparah kondisi pertanian lokal.

Hingga kini, para petani di Sikka masih berharap adanya solusi nyata untuk mengakhiri persoalan yang telah berlangsung selama enam tahun tersebut.

Bagi mereka, keberhasilan mengendalikan penyakit ini bukan hanya soal pemulihan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan tradisi dan kehidupan sosial masyarakat.

Penulis : Redaksi

Banjir Rob Rendam Desa Permaan, Air Laut Masuk hingga ke Dalam Rumah Warga

SIKKA, BAJOPOS.COM – Desa Permaan, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kembali dilanda banjir rob akibat tingginya permukaan air laut. Peristiwa ini terpantau terjadi pada Senin, 23 Maret 2026.

Warga setempat mengungkapkan bahwa kenaikan air laut sudah berlangsung selama tiga hari terakhir, sejak Sabtu lalu. Namun, kondisi terparah baru dirasakan dalam beberapa hari ini.

“Sejak hari Lebaran (Sabtu, 21 Maret, red) air sudah naik, tapi tidak terlalu tinggi. Sekarang air tinggi sekali,” ujar salah seorang warga.

Pantauan di lokasi menunjukkan air laut tidak hanya menggenangi jalan, tetapi juga telah masuk ke permukiman warga. Sejumlah rumah bahkan terendam hingga ke bagian dapur dan seluruh ruang dalam rumah.

Meski kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan, suasana berbeda justru terlihat di kalangan anak-anak.

Mereka memanfaatkan genangan air sebagai tempat bermain, berenang, hingga saling kejar-kejaran di jalanan yang terendam, menghadirkan keceriaan di tengah situasi banjir.

Di sisi lain, tanggul penahan ombak yang dibangun di pesisir pantai tampak tidak mampu menahan luapan air laut.

Ketinggian air yang meningkat akibat faktor musim menyebabkan air melampaui tanggul tersebut.

Warga mengaku kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Banjir rob disebut menjadi fenomena musiman yang semakin parah dari waktu ke waktu, seiring meningkatnya permukaan air laut.

Masyarakat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah untuk penanganan jangka panjang, guna mencegah dampak yang lebih besar terhadap permukiman warga di wilayah pesisir.

Reporter : Faidin

Air Laut Naik ke Badan Jalan Darat Pantai, Jalan Terendam Akses Warga Terganggu

SIKKA, BAJOPOS.COM – Fenomena air laut naik kembali terjadi di Desa Darat Pantai, Dusun Wairuwa, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Minggu (22/03/2026) siang.

Air laut terlihat menggenangi badan jalan utama yang biasa dilalui warga, meskipun di sepanjang sisi jalan ditumbuhi tanaman mangrove yang berjejer.

Kondisi genangan air laut yang diperkirakan mencapai 1 kilo meter ini sempat terekam dalam video warga dan viral di media sosial.

Dalam rekaman tersebut, air laut tampak meluap hingga ke jalan, mengganggu aktivitas pengguna kendaraan, khususnya pengendara sepeda motor.

Seorang warga yang melintas dan enggan disebutkan namanya mengaku kesal dengan kondisi tersebut. Ia khawatir air asin yang menggenangi jalan dapat merusak kendaraan.

“Ini kasihan, air laut masuk di jalan di Darat Pantai, motor karat semua yang lewat. Kasihan,” ujarnya dalam video yang beredar.

Menurutnya, kejadian ini bukan pertama kali terjadi. Warga berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan tersebut, mengingat jalan tersebut merupakan akses penting bagi masyarakat setempat.

Sementara itu, upaya konfirmasi telah dilakukan media ini kepada Anggota DPRD Kabupaten Sikka dari daerah pemilihan (Dapil) III yang meliputi wilayah salah satunya Desa Darat Pantai, Fransiskus Parera, yang akrab disapa Pang. Namun hingga berita ini diturunkan, yang bersangkutan belum memberikan keterangan resmi.

Kiriman pesan WhatsApp konfirmasi media ini tampak centang dua warna biru.

Fenomena naiknya air laut ini diduga berkaitan dengan pasang tinggi serta kondisi geografis wilayah pesisir. Meski terdapat mangrove yang berfungsi sebagai penahan abrasi, kenyataannya belum mampu sepenuhnya mencegah air laut masuk ke badan jalan.

Warga berharap adanya langkah konkret, seperti pembangunan tanggul atau penanganan pesisir secara berkelanjutan, guna menghindari kerusakan infrastruktur dan dampak lebih luas terhadap aktivitas masyarakat.

Reporter : Faidin

Tangis Para Janda yang Tumpah: Andaikan Suamiku Masih Hidup

SIKKA, BAJOPOS.COM – Idul Fitri seharusnya menjadi hari paling membahagiakan. Hari ketika pelukan menjadi lebih hangat, tawa terdengar lebih lepas, dan rumah-rumah dipenuhi rasa syukur.

Namun, Sabtu pagi (21/3/2026) di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, kebahagiaan itu berubah menjadi lautan haru.

Tangis tak lagi bisa ditahan, terutama ketika khutbah Idul Fitri yang disampaikan KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. menyentuh satu luka yang paling dalam: kehilangan.

“Wahai para janda… andaikan suamimu masih hidup…”

Kalimat itu terdengar pelan, tetapi menghantam keras. Seolah membuka pintu kenangan yang selama ini berusaha ditutup.

Di antara ribuan jamaah, ada perempuan-perempuan yang berdiri tegar. Wajah mereka rapi, pakaian mereka indah. Namun di balik itu, ada ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh siapa pun.

Hari raya yang dulu mereka sambut bersama pasangan, kini harus dijalani sendiri.

Tak ada lagi sosok yang membangunkan sahur. Tak ada lagi tangan yang menggenggam saat berangkat salat. Tak ada lagi suara yang menyapa di pagi hari raya.

Yang tersisa hanyalah kenangan—dan penyesalan yang datang terlambat.

Dalam khutbahnya, Alifuddin menggambarkan perasaan yang mungkin tak pernah terucap oleh banyak janda.

“Jika suamiku masih ada, aku akan bahagia bersama anak-anakku…”

Kalimat yang tampak sederhana, tetapi menyayat dalam. Karena di baliknya, ada rindu yang tidak akan pernah terjawab. Ada harapan yang tidak mungkin terulang.

Hari itu, banyak yang tak kuasa menahan air mata.

Beberapa jamaah menutup wajah dengan kedua tangan. Ada yang menunduk dalam-dalam, bahunya bergetar. Tangis tidak lagi disembunyikan.

Bukan hanya para janda yang menangis. Mereka yang masih memiliki pasangan pun ikut larut. Karena di saat yang sama, muncul kesadaran yang menyesakkan: Bahwa suatu hari, kehilangan itu bisa datang kepada siapa saja.

Khutbah itu tidak hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga penyesalan.

Penyesalan bagi mereka yang mungkin selama ini masih memiliki pasangan, tetapi belum sepenuhnya menghargai kebersamaan.

Penyesalan bagi mereka yang pernah menyakiti, mengabaikan, atau menunda kasih sayang—hingga waktu tak lagi memberi kesempatan.

“Kenapa aku tidak lebih baik dulu…?”

Pertanyaan itu seolah bergema di dalam hati banyak orang.

Namun semua itu datang ketika waktu tidak bisa diputar kembali.

Idul Fitri yang seharusnya menjadi momen berkumpul, justru menjadi saat paling sunyi bagi sebagian orang. Di rumah-rumah, ada kursi yang kosong. Ada tempat tidur yang tak lagi terisi. Ada suara yang tak lagi terdengar.

Dan di dalam hati, ada rindu yang terus hidup. Rindu yang tidak bisa dipeluk. Rindu yang hanya bisa dipanjatkan lewat doa. Tangis yang mengguyur pagi itu bukan sekadar emosi sesaat.

Ia adalah cermin kehidupan. Bahwa kehilangan bukan cerita orang lain—melainkan sesuatu yang pasti akan datang. Bahwa setiap kebersamaan memiliki batas waktu.

Dan bahwa yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan itu sendiri, tetapi penyesalan yang datang setelahnya.

Di Lapangan Marannu pagi itu, Idul Fitri tidak hanya menghadirkan kebahagiaan.

Ia menghadirkan kesadaran yang dalam—untuk lebih menghargai yang masih ada,
untuk lebih mencintai sebelum terlambat,
dan untuk tidak menunggu kehilangan baru menyadari arti kebersamaan.

Sebab bagi mereka yang telah kehilangan, satu kalimat akan terus hidup dalam hati:

“Andaikan suamiku masih hidup…”

Dan kalimat itu, hari itu, benar-benar mengguyur air mata.

Reporter : Faidin

Personel Polsek Waigete dan Koramil Talibura Amankan Sholat Idul Fitri di Lapangan Nangahale

SIKKA, BAJOPOS.COM – Pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, berlangsung aman dan kondusif pada Sabtu, 21 Maret 2026 pagi.

Sejak pagi hari, ribuan jamaah dari berbagai kemasjidan di wilayah Kecamatan Talibura memadati lokasi untuk menunaikan ibadah Sholat Idul Fitri secara berjamaah. Kehadiran umat Muslim dari berbagai desa tersebut mencerminkan tingginya semangat kebersamaan dalam merayakan hari kemenangan.

Dalam pelaksanaannya, pengamanan dilakukan secara maksimal oleh personel dari Polsek Waigete dan Koramil Talibura yang tampak antusias menjalankan tugas di lapangan.

Kapolsek Waigete, Iptu I Wayan Artawan, S.H turut hadir dan memimpin langsung pengamanan guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar tanpa gangguan.

Kehadiran aparat keamanan memberikan rasa aman dan nyaman bagi para jamaah yang mengikuti ibadah.

Petugas gabungan terlihat melakukan pengaturan arus lalu lintas, penataan parkir kendaraan, serta pengawasan di sekitar lokasi guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan. Koordinasi antara aparat kepolisian dan TNI berjalan baik sehingga situasi tetap terkendali.

Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Baitusshodiq Nangahale, Damsik Raja Ado Pehan, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan aparat keamanan yang telah mendukung kelancaran kegiatan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak Polsek Waigete dan Koramil Talibura yang telah membantu melakukan pengamanan sehingga pelaksanaan Sholat Idul Fitri dapat berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif. Kehadiran ribuan jamaah hari ini juga menunjukkan kuatnya kebersamaan umat di wilayah Talibura,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini tidak terlepas dari kerja sama semua pihak, baik panitia, aparat keamanan, maupun masyarakat.

“Semoga momentum Idul Fitri ini semakin mempererat tali silaturahmi dan persatuan di tengah masyarakat,” tambahnya.

Dengan sinergi antara aparat keamanan, panitia, dan masyarakat, pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Nangahale tahun ini berjalan dengan tertib, aman, dan penuh kekhusyukan.

Reporter : Faidin

Khutbah ‘Id: Hidup Gelisah Karena Keberkahan Hidup yang Tiada, Materi Bukan Pemicu Utama

SIKKA, BAJOPOS.COM – Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (21/3/2026), tidak hanya menyentuh soal kematian dan amal, tetapi juga menyoroti satu persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: kegelisahan hidup.

Di hadapan ribuan jamaah, KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. menyinggung fenomena yang kerap dialami banyak orang—memiliki harta, pekerjaan, bahkan kehidupan yang terlihat mapan, namun tetap merasa tidak tenang.

“Kerja siang malam, tetapi Allah cabut keberkahannya,” ujarnya dalam khutbah.

Pernyataan itu menggambarkan kondisi yang dinilai semakin umum terjadi, di mana usaha yang dilakukan tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan hidup yang dirasakan.

Menurut Alifuddin, kegelisahan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi atau kurangnya materi, tetapi karena hilangnya keberkahan dalam kehidupan.

Ia menjelaskan, keberkahan bukan hanya soal jumlah, tetapi tentang manfaat dan ketenangan yang dirasakan dari apa yang dimiliki.

“Banyak orang tidak tahu ke mana uangnya habis. Rumah ada, tetapi tidak nyaman. Hidup terasa sempit,” katanya.

Fenomena itu, menurutnya, menjadi tanda bahwa ada yang tidak beres dalam hubungan manusia dengan Tuhan.

Dalam khutbahnya, ia menyebut bahwa salah satu bentuk “musibah” yang bisa menimpa manusia bukan hanya bencana alam, tetapi dicabutnya keberkahan dari kehidupan.

Akibatnya, seseorang tetap merasa gelisah meskipun secara lahiriah terlihat berkecukupan.

“Makan ada, tetapi tidak terasa nikmat. Tidur ada, tetapi tidak nyenyak,” ujarnya.

Alifuddin menegaskan, kegelisahan tersebut berkaitan erat dengan kualitas ibadah, khususnya salat. Ia menyebut, hubungan manusia dengan Allah menjadi kunci utama dalam menghadirkan ketenangan hidup.

“Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu,” tegasnya.

Menurutnya, salat bukan sekadar kewajiban, tetapi menjadi fondasi dalam membangun ketenangan batin. Ketika salat dijaga dengan baik, maka aspek kehidupan lainnya akan ikut membaik.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia sering kali membuat manusia lalai. Kesibukan bekerja, mengejar materi, dan memenuhi kebutuhan hidup membuat banyak orang menjauh dari nilai-nilai spiritual.

Padahal, menurutnya, semakin jauh seseorang dari Allah, semakin besar pula potensi kegelisahan yang dirasakan.

“Hidup seperti tidak punya arah, padahal semua ada,” ujarnya.

Khutbah tersebut juga menjadi refleksi setelah bulan Ramadan. Selama Ramadan, banyak umat Islam yang lebih disiplin dalam beribadah, lebih tenang, dan lebih terkontrol dalam menjalani kehidupan.

Namun setelah Ramadan berlalu, kondisi tersebut sering kali tidak bertahan.

“Ramadan melatih kita untuk tenang. Pertanyaannya, apakah itu kita bawa setelahnya?” kata Alifuddin.

Ia menegaskan, ketenangan hidup bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari kedekatan dengan Allah dan konsistensi dalam menjalankan ibadah.

Tanpa itu, menurutnya, manusia akan terus berada dalam kondisi gelisah, meskipun memiliki segala hal yang diinginkan.

Pesan tentang kegelisahan hidup ini menjadi salah satu bagian penting dalam khutbah Idul Fitri di Nangahale. Selain bersifat reflektif, pesan tersebut juga menjadi kritik terhadap pola hidup masyarakat yang cenderung mengejar materi tanpa diimbangi dengan kekuatan spiritual.

Di akhir khutbah, jamaah diajak untuk kembali memperbaiki hubungan dengan Allah sebagai jalan keluar dari kegelisahan yang dirasakan.

Sebab, sebagaimana disampaikan dalam khutbah itu, ketenangan bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada keberkahan yang diberikan.

Reporter : Faidin

Khutbah ‘Id: KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi: Dibelakang Kita Ada Kubur

SIKKA, BAJOPOS.COM – Suasana haru menyelimuti pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (21/3/2026).

Di tengah gema takbir dan kebahagiaan hari raya, khutbah yang disampaikan KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. justru mengajak jamaah menatap satu kenyataan yang kerap dihindari: kematian.

Dalam khutbahnya, Alifuddin menegaskan bahwa kehidupan dunia hanya bersifat sementara, sementara kubur adalah tempat persinggahan pertama menuju kehidupan akhirat.

“Di belakang kita ada kubur. Itulah rumah kita yang sebenarnya,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah.

Kalimat itu terasa jauh lebih kuat, bukan sekadar kiasan. Dari posisi mimbar tempat ia berdiri, hanya berjarak sekitar tiga meter, tampak jelas jejeran kubur di belakangnya.

Tanah-tanah yang telah mengeras, nisan-nisan yang berdiri sunyi, seolah menjadi saksi bisu atas setiap kata yang diucapkan.

Tampak hari itu, jamaah tak hanya mendengar, tetapi juga melihat langsung arah yang dimaksud.

Suasana yang semula penuh suka cita mendadak berubah. Hening. Beberapa jamaah menunduk. Sebagian lainnya mulai meneteskan air mata.

Untuk menguatkan pesannya, Alifuddin menyampaikan sebuah kisah yang menyentuh tentang seorang anak yatim pada hari raya.

Ia menggambarkan seorang anak perempuan kecil yang menangis sendirian di bawah pohon saat Idul Fitri, sementara orang lain bergembira. Pakaiannya kotor, wajahnya penuh kesedihan.

Ketika ditanya, anak itu mengaku telah kehilangan ayahnya yang gugur dalam perjuangan. Ibunya kemudian menikah lagi, dan ia diusir dari rumah.

“Bagaimana aku tidak menangis? Andaikan ayahku masih hidup, aku pasti tidak seperti ini,” demikian kisah yang disampaikan.

Cerita itu membuat suasana semakin emosional. Di tengah kebahagiaan hari raya, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa tidak semua orang merasakan kebahagiaan yang sama.

Dari kisah itu, Alifuddin mengaitkannya dengan realitas kehidupan dan kematian. Ia mengingatkan bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali ke tanah, meninggalkan orang-orang yang dicintai.

Di belakang mimbar itu, jejeran kubur seolah menjadi penegas yang tak terbantahkan. “Kubur adalah tempat pertama dari semua tempat di akhirat, sekaligus tempat terakhir dari kehidupan dunia,” katanya.

Ia menegaskan, apa yang dialami seseorang di alam kubur sangat ditentukan oleh amal selama hidup.

Khutbah tersebut juga mengajak jamaah untuk mengingat orang tua dan keluarga yang telah lebih dahulu meninggal dunia. Ia mempertanyakan keberadaan ibu dan ayah yang dahulu membesarkan, namun kini telah berada di alam kubur—seperti yang tampak di belakangnya pagi itu.

“Di mana ibumu hari ini? Di mana ayahmu?” ucapnya.

Pertanyaan itu menjadi momen paling menyentuh. Banyak jamaah terlihat menutup wajah, mengingat orang tua yang telah tiada. Tangis pun pecah di beberapa barisan.

Alifuddin juga mengingatkan bahwa kematian datang tanpa peringatan. Tidak ada yang bisa memastikan umur seseorang akan sampai pada Ramadan berikutnya. “Kematian datang tiba-tiba, tanpa bisa ditunda,” tegasnya.

Ia menilai, kesadaran akan kematian seharusnya mendorong manusia untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan memperbanyak amal sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah mati.

Dalam khutbahnya, ia kembali menegaskan pentingnya menjaga kualitas ibadah, terutama salat, sebagai fondasi kehidupan. “Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu,” ujarnya.

Pesan itu disampaikan sebagai solusi atas kegelisahan hidup manusia, sekaligus sebagai bekal menghadapi kehidupan di alam kubur.

Khutbah Idul Fitri di Nangahale hari itu tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga momentum refleksi mendalam bagi umat.

Di tengah kebahagiaan hari raya, jamaah diingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Bahwa di balik tawa dan kebersamaan, ada satu kenyataan yang tidak bisa dihindari.

Bahwa suatu hari nanti, setiap orang akan menyusul mereka yang telah lebih dahulu pergi. Dan pagi itu, pengingat itu tidak jauh—hanya berjarak sekitar tiga meter, tepat di belakang mimbar.

Reporter : Faidin

Kampus Ramadan dan Skripsi Takwa: Pesan Tajam di Balik Khutbah Idul Fitri Nangahale

SIKKA, BAJOPOS.COM – Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Marannu, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Sabtu (21/3/2026), tidak hanya berisi ajakan spiritual, tetapi juga kritik tajam terhadap cara umat memaknai Ramadan.

Dalam khutbahnya, KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. mengibaratkan Ramadan sebagai “kampus” tempat umat Islam dididik selama satu bulan penuh. Sementara Idul Fitri disebutnya sebagai momentum “kelulusan”.

“Saudara-saudara sekalian adalah mahasiswa terbaik lulusan kampus Ramadan,” ujarnya di hadapan jamaah.

Namun pernyataan itu tidak berhenti sebagai pujian. Ia justru diikuti pertanyaan mendasar yang menyentuh inti ibadah Ramadan: apakah umat benar-benar lulus dengan nilai takwa?

Alifuddin menjelaskan, selama Ramadan umat Islam menjalani proses pendidikan yang intens. Mulai dari menahan lapar dan dahaga, mengendalikan emosi, hingga memperbanyak ibadah seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah.

Menurutnya, seluruh rangkaian itu bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan proses pembentukan karakter dan integritas keimanan.

“Puasa itu bukan hanya menahan lapar, tetapi membentuk manusia yang bertakwa,” tegasnya.

Ia menambahkan, berbeda dengan pendidikan formal, hasil dari “kampus Ramadan” tidak diumumkan secara terbuka. Penilaian sepenuhnya menjadi hak Allah.

“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang menilainya,” katanya mengutip hadis qudsi.

Lebih jauh, Alifuddin mengingatkan bahwa Idul Fitri bukan akhir dari proses tersebut. Justru setelah Ramadan, setiap Muslim dihadapkan pada “ujian lanjutan” dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengibaratkan hal itu sebagai “skripsi takwa” yang harus dikerjakan sepanjang hidup.

“Skripsi kita adalah takwa sepanjang hayat,” ujarnya.

Menurutnya, indikator keberhasilan Ramadan tidak hanya terlihat selama bulan puasa, tetapi terutama setelahnya. Konsistensi dalam menjaga salat, kedisiplinan beribadah, serta sikap dalam kehidupan sosial menjadi ukuran utama.

Dalam khutbahnya, ia juga menyinggung fenomena yang kerap terjadi di tengah masyarakat, yakni meningkatnya aktivitas ibadah selama Ramadan, namun menurun drastis setelahnya.

Masjid yang sebelumnya penuh, kembali lengang. Aktivitas keagamaan yang semarak, perlahan memudar.

Hal itu dinilai sebagai tanda bahwa nilai-nilai Ramadan belum sepenuhnya tertanam.

“Jangan sampai kita hanya semangat di bulan Ramadan, tetapi kehilangan arah setelahnya,” kata Alifuddin.

Ia menegaskan, takwa bukan konsep yang berhenti pada satu waktu, melainkan harus terus dijaga dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam pekerjaan, keluarga, maupun interaksi sosial.

Menurutnya, konsistensi tersebut menjadi tantangan utama bagi umat Islam setelah melewati Ramadan.

“Kalau setelah Ramadan kita kembali seperti semula, maka perlu dipertanyakan hasil pendidikan kita selama sebulan,” ujarnya.

Khutbah itu juga mengingatkan jamaah bahwa tidak ada jaminan setiap orang akan kembali bertemu Ramadan di tahun berikutnya. Karena itu, momentum Ramadan harus dimanfaatkan secara maksimal sebagai sarana perbaikan diri.

“Tidak ada yang bisa menjamin kita masih hidup untuk Ramadan berikutnya,” katanya.

Pesan tentang “kampus Ramadan” dan “skripsi takwa” menjadi salah satu bagian paling kuat dalam khutbah tersebut. Selain mengandung makna reflektif, pesan itu juga menjadi kritik sosial terhadap pola keberagamaan yang cenderung musiman.

Di akhir khutbah, Alifuddin mengajak jamaah untuk menjaga nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga Idul Fitri benar-benar menjadi titik awal perubahan, bukan sekadar perayaan tahunan.

“Pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing, apa hasil Ramadan yang kita dapatkan,” tutupnya.

Reporter : Faidin

Masjid “Telanjang” 8 Tahun: Ketika Umat Sibuk Menghias Diri, Rumah Allah Menunggu Disempurnakan

SIKKA, BAJOPOS.COM – Pagi Idul Fitri, Sabtu, 21 Maret 2026, Lapangan Marannu di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, dipenuhi lautan manusia.

Umat Muslim datang dari berbagai sudut kampung, mengenakan pakaian terbaik mereka. Anak-anak berlarian dengan wajah ceria, orang tua saling bersalaman, dan gema takbir mengalun memenuhi udara.

Hari itu adalah hari kemenangan.

Namun di balik kebahagiaan yang tampak, terselip sebuah kegelisahan yang perlahan dibuka dalam khutbah Idul Fitri oleh KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc.—sebuah kegelisahan tentang rumah Allah yang telah lama “terlupakan”.

“Masjid Nangahale masih telanjang…”

Kalimat itu sederhana, tetapi mengguncang.

Sejenak, suasana yang semula riuh menjadi hening. Ribuan pasang mata tertuju ke arah mimbar. Sebagian mulai menunduk. Yang lain tampak gelisah. Ada yang diam-diam menyeka air mata.

Masjid yang dimaksud adalah Masjid Baitusshodiq Nangahale—sebuah rumah ibadah yang telah memasuki tahun kedelapan dalam kondisi belum rampung. Direhabilitasi dengan harapan menjadi pusat ibadah yang layak, namun hingga kini pembangunannya tak kunjung selesai.

Delapan tahun.

Waktu yang cukup panjang untuk membangun rumah, menyekolahkan anak, bahkan merubah kehidupan seseorang. Namun bagi masjid itu, delapan tahun adalah penantian yang tak kunjung usai.

Dindingnya belum sepenuhnya berdiri kokoh. Kubah yang diimpikan belum juga menghiasi langit kampung. Ia berdiri dalam diam, seperti tubuh yang belum dipakaikan baju—terbuka, menunggu, dan seolah memanggil.

Di saat yang sama, kehidupan di sekitarnya terus berjalan. Rumah-rumah warga perlahan berubah menjadi lebih baik. Kendaraan baru mulai mengisi halaman. Pakaian-pakaian baru hadir setiap hari raya.

Namun masjid itu tetap sama.

Seolah-olah ia berada di antara prioritas yang terus ditunda.

Dalam khutbahnya, sang khatib tidak hanya menyampaikan pesan—ia menggugah hati.

Ia mengibaratkan masjid itu seakan berbicara kepada umatnya sendiri.

“Jika kalian punya pakaian yang bagus, kenapa kalian biarkan aku telanjang? Jika kalian memiliki yang indah, kenapa aku tidak kalian indahkan?”

Tak ada jawaban.

Hanya keheningan yang menggantung di udara.

Kalimat itu seperti cermin yang dipaksa dihadapkan kepada setiap jamaah. Di hari ketika semua orang berusaha tampil terbaik, ternyata ada satu hal yang justru luput dari perhatian—rumah tempat mereka bersujud.

Khutbah itu kemudian membawa jamaah pada perenungan yang lebih dalam.

Tentang harta, tentang kepemilikan, dan tentang apa yang sebenarnya akan dibawa pulang ketika kehidupan ini berakhir.

“Mobil yang kau punya itu bukan milikmu. Baju yang kau pakai itu bukan milikmu. Yang menjadi milikmu adalah apa yang engkau sedekahkan di jalan Allah.”

Pesan itu menghantam kesadaran.

Di tengah kehidupan yang terus mengejar kenyamanan dunia, manusia sering kali lupa bahwa yang abadi bukanlah apa yang dimiliki, tetapi apa yang diberikan.

Masjid Baitusshodiq yang “telanjang” itu menjadi simbol nyata dari kepedulian yang belum tuntas. Dari iman yang mungkin masih tersimpan di hati, tetapi belum sepenuhnya diwujudkan dalam tindakan nyata.

Tangis mulai terdengar lebih jelas.

Di antara saf-saf jamaah, beberapa orang tak lagi mampu menahan haru. Ada yang menunduk dalam-dalam, ada yang menutup wajah dengan kedua tangan.

Bukan karena mereka tidak tahu.

Tetapi karena mereka baru benar-benar menyadari.

Delapan tahun bukan sekadar angka. Ia adalah pengingat tentang waktu yang terlewat, tentang kesempatan yang mungkin terabaikan, tentang niat baik yang belum menjadi amal.

Khutbah itu tidak berhenti pada teguran.

Ia berlanjut dengan ajakan, bahkan harapan.

Sang khatib mengingatkan bahwa keberkahan hidup tidak selalu diukur dari banyaknya harta, tetapi dari sejauh mana harta itu digunakan di jalan Allah.

Ia mengingatkan tentang sedekah yang tidak akan mengurangi, justru menambah. Tentang janji Allah yang pasti, berbeda dengan janji manusia yang sering tak terwujud.

“Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu.”

Kalimat itu kembali menguatkan—bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal sederhana, dari kesadaran, dari niat yang tulus.

Di penghujung khutbah, suasana semakin haru.

Doa panjang dipanjatkan. Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk seluruh umat, untuk orang tua yang telah tiada, untuk keluarga, dan untuk kampung Nangahale.

“Ya Allah, beri kami rezeki agar kami bisa menyelesaikan rumah-Mu ini…”

Ribuan tangan terangkat serempak. Wajah-wajah yang sebelumnya tersenyum kini basah oleh air mata. Bibir bergetar, menyebut nama Allah dengan penuh harap.

Di bawah terik matahari pagi, doa itu terasa begitu tulus.

Ada rasa malu yang tak terucap. Ada penyesalan yang perlahan muncul. Namun di saat yang sama, ada harapan—bahwa semuanya belum terlambat.

Hari itu, Idul Fitri di Nangahale tidak hanya menjadi perayaan kemenangan setelah Ramadan.

Ia berubah menjadi momentum kebangkitan kesadaran.

Tentang sebuah masjid yang telah delapan tahun menunggu untuk disempurnakan.

Tentang umat yang mungkin tidak kekurangan harta, tetapi belum sepenuhnya menghadirkan kepedulian.

Dan tentang satu pertanyaan yang kini tertinggal di hati setiap jamaah:

Apakah kita akan terus menghias diri,
sementara rumah Allah di kampung kita sendiri masih “telanjang”?

Reporter : Faidin

Tangis Pecah di Lapangan Marannu, Ketika Khutbah Idul Fitri Menggugah Luka, Rindu, dan Penyesalan

SIKKA, BAJOPOS.COM – Pagi itu, Sabtu, 21 Maret 2026, langit di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, tampak cerah. Hamparan Lapangan Marannu dipenuhi umat Muslim yang datang dengan pakaian terbaik mereka. Senyum, pelukan, dan ucapan maaf bersahutan, menandai hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.

Namun, suasana haru perlahan menyelimuti ketika khutbah Idul Fitri dimulai.

Di atas mimbar sederhana, KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc. berdiri dengan suara lantang. Tak sekadar menyampaikan khutbah, ia seperti sedang membuka satu per satu lembaran hati para jamaah. Kalimat demi kalimat yang keluar dari lisannya menggema, bukan hanya di lapangan, tetapi jauh menembus relung jiwa.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilham…”

Takbir yang dilantunkan berulang itu awalnya terdengar seperti biasa. Namun perlahan berubah menjadi getaran yang mengoyak perasaan. Beberapa jamaah mulai menunduk. Ada yang mengusap mata. Tangis pertama pecah—pelan, lalu menular.

Khutbah itu tidak hanya bicara tentang kemenangan. Ia justru mengingatkan tentang kehilangan.

Tentang waktu yang mungkin tak akan kembali.

Tentang Ramadan yang telah pergi—dan belum tentu bisa ditemui lagi.

“Tidak ada jaminan kita akan bertemu Ramadan tahun depan,” ucap sang khatib dengan suara bergetar. Kalimat itu seperti menghantam kesadaran banyak orang. Di antara ribuan jamaah, mungkin ada yang diam-diam bertanya dalam hati: ini Ramadan terakhirku atau bukan?

Suasana semakin sunyi. Angin pagi seolah ikut berhenti.

Dalam khutbahnya, Alifuddin mengajak jamaah menoleh ke belakang—bukan secara fisik, tetapi batin. Ia menggambarkan sebuah kenyataan yang tak bisa dihindari: kematian.

“Di belakang sana adalah rumah kita yang sebenarnya,” katanya.

Sebagian jamaah tak kuasa menahan air mata. Bayangan tentang kubur, tentang orang tua yang telah tiada, tentang keluarga yang sudah lebih dulu pergi, hadir tanpa diundang.

Ia lalu bertanya, seakan langsung kepada setiap hati:

“Di mana ibumu hari ini?”

Kalimat sederhana itu justru paling menyayat.

Bagi mereka yang masih memiliki ibu, pertanyaan itu menjadi pengingat yang menyesakkan. Bagi yang telah kehilangan, luka lama kembali terbuka. Isak tangis pun terdengar lebih jelas di beberapa sudut lapangan.

“Ibu yang mengandung kita sembilan bulan, yang mempertaruhkan nyawa… di mana dia sekarang?” lanjutnya.

Tak sedikit jamaah yang menunduk lebih dalam. Ada yang memejamkan mata. Ada pula yang tak lagi mampu menyembunyikan tangisnya.

Khutbah itu juga menghadirkan kisah menyentuh tentang seorang anak kecil di hari raya—seorang gadis yatim yang menangis di bawah pohon, sementara orang lain bergembira.

“Ayahku telah tiada… ibuku menikah lagi… aku diusir dari rumah,” kisah itu dilantunkan dengan suara lirih.

Cerita itu seperti cermin. Di tengah gemuruh takbir dan kebahagiaan, ternyata masih ada luka-luka yang tersembunyi. Ada anak-anak yang merayakan Idul Fitri tanpa pelukan ayah. Tanpa kasih ibu.

Beberapa jamaah terlihat menutup wajah mereka. Tangis tak lagi bisa dibendung.

Tak berhenti di situ, khutbah juga menyinggung kehidupan yang sering kali terasa penuh, namun sebenarnya kosong dari keberkahan.

“Kerja siang malam, tapi Allah cabut keberkahannya,” ucapnya tegas.

Hening kembali menyelimuti.

Kalimat itu seperti menampar realitas banyak orang—tentang rezeki yang terasa sempit, rumah tangga yang gelisah, hidup yang kehilangan arah. Bukan karena kurang usaha, tetapi karena ada yang hilang: kedekatan dengan Allah.

“Perbaiki salatmu, maka Allah akan perbaiki hidupmu.”

Pesan itu sederhana, tetapi terasa berat bagi yang menyadari betapa seringnya lalai.

Di penghujung khutbah, suara sang khatib melemah. Ia tak lagi hanya berbicara—ia berdoa. Doa panjang yang dipanjatkan dengan penuh harap.

“Ya Allah, jika nama kami ada dalam daftar penghuni neraka, hapuskanlah…”

Doa itu menggema. Di bawah terik matahari pagi, ribuan tangan terangkat. Bibir bergetar. Air mata mengalir tanpa suara.

Ia menyebut satu per satu: ibu, ayah, istri, suami, anak-anak, sahabat—semua dimohonkan ampunan. Bahkan mereka yang telah berada di alam kubur.

“Ya Allah, di belakang kami ada kubur ibu kami… ampuni mereka…”

Kalimat itu membuat tangis pecah lebih keras. Tak sedikit jamaah yang tersedu, mengingat orang-orang tercinta yang telah pergi dan tak akan pernah kembali.

Hari itu, Idul Fitri di Lapangan Marannu bukan hanya tentang kemenangan. Ia menjadi ruang perenungan yang dalam—tentang hidup yang sementara, tentang kematian yang pasti, dan tentang cinta yang sering terlambat disadari.

Ketika khutbah berakhir, jamaah tak langsung beranjak. Beberapa masih duduk, menenangkan diri. Sebagian saling berpelukan lebih lama dari biasanya.

Seolah mereka sadar, waktu bersama orang-orang tercinta tidak akan selamanya ada.

Di tengah gema takbir yang perlahan mereda, satu pesan tertinggal kuat di hati:

Bahwa Idul Fitri bukan sekadar kembali suci.

Tetapi juga tentang kembali—sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Reporter : Faidin

KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi Besok Khutbah Idul Fitri di Lapangan Marannu Nangahale

SIKKA, BAJOPOS.COM – Umat Muslim di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, akan melaksanakan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah pada Sabtu, 21 Maret 2026 pagi di Lapangan Marannu.

Menjelang pelaksanaan hari raya tersebut, penceramah kondang KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi, S.Ag., Lc dijadwalkan akan mengisi khutbah Idul Fitri dan kehadirannya menjadi perhatian besar masyarakat. Hingga kini, umat Muslim di wilayah sekitar, termasuk panitia penyelenggara, tengah antusias menunggu kedatangan pengkhotbah tersebut yang berdasarkan informasi yang diterima media ini masih dalam perjalanan menuju Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Kehadiran ulama tersebut diperkirakan akan menjadi magnet tersendiri yang menarik ribuan jamaah dari berbagai wilayah di Kecamatan Talibura dan sekitarnya untuk memadati Lapangan Marannu.

Khutbah Idul Fitri nantinya akan disampaikan langsung oleh KH. Alifuddin Al-Ayyubi yang dikenal luas sebagai ulama dengan gaya dakwah yang sejuk, namun dilantunkan dengan suara khas yang tegas sehingga mampu menghidupkan suasana di tengah jamaah. Karakter penyampaian tersebut dinilai mampu menyentuh hati sekaligus membangkitkan semangat spiritual umat dalam merayakan hari kemenangan.

Pelaksanaan sholat dijadwalkan dimulai pukul 07.00 WITA hingga selesai. Panitia telah melakukan berbagai persiapan, mulai dari penataan lokasi lapangan, pengaturan saf jamaah, hingga koordinasi dengan aparat keamanan guna memastikan kegiatan berjalan tertib dan lancar.

Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Masjid Baitusshodiq Nangahale, Damsik Raja Ado Pehan, menyampaikan bahwa kehadiran ulama kondang tersebut merupakan bentuk keseriusan panitia dalam memberikan pelayanan terbaik bagi umat Muslim di Nangahale.

“Kami merasa bersyukur karena tahun ini masyarakat Nangahale dapat melaksanakan Sholat Idul Fitri bersama ulama yang memiliki kapasitas keilmuan dan pengalaman dakwah yang luas. Ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kualitas keimanan dan kebersamaan umat,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk memanfaatkan momen Idul Fitri sebagai sarana mempererat tali silaturahmi dan memperkuat persatuan di tengah kehidupan sosial.

“Kami mengimbau jamaah untuk datang lebih awal, menjaga ketertiban, serta bersama-sama menciptakan suasana ibadah yang khusyuk dan penuh kekhidmatan,” tambahnya.

Momentum Idul Fitri ini tidak hanya menjadi penanda berakhirnya ibadah puasa Ramadhan, tetapi juga sebagai titik awal untuk membangun kehidupan yang lebih baik, baik secara spiritual maupun sosial di tengah masyarakat.

Dengan kehadiran KH. M. Alifuddin Al-Ayyubi dan dukungan penuh dari masyarakat, pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Lapangan Marannu Nangahale diharapkan berlangsung aman, lancar, dan memberikan kesan mendalam bagi seluruh jamaah yang hadir.

Reporter : Faidin

Ketua PDM Sikka: Puasa Bentuk Integritas, Korupsi Bertentangan dengan Iman

SIKKA, BAJOPOS.COM – Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sikka, Moh. Ihsan Wahab, S.HI, M.Pd,. menegaskan bahwa ibadah puasa Ramadan sejatinya membentuk manusia yang berintegritas dan berkeadaban.

Hal itu disampaikannya dalam khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Darussalam Waioti, Kecamatan Alok Timur, Jumat (20/3/2026).

Menurut Ihsan, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan proses pembentukan karakter yang menuntut kejujuran, pengendalian diri, serta tanggung jawab moral dalam kehidupan sehari-hari.

“Puasa membentuk manusia yang berintegritas. Tidak mungkin orang yang benar-benar memahami makna puasa masih melakukan korupsi, karena itu bertentangan dengan iman dan merusak peradaban,” tegasnya.

Ia menjelaskan, selama satu bulan penuh umat Islam dilatih untuk menahan diri bahkan dari hal-hal yang dibolehkan. Latihan ini, kata dia, seharusnya melahirkan kesadaran untuk menjauhi perbuatan yang jelas-jelas dilarang, seperti korupsi, manipulasi, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Lebih lanjut, Ihsan menilai praktik korupsi bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai keimanan dan kemanusiaan. Tindakan tersebut, menurutnya, merusak sendi-sendi kehidupan sosial dan menghambat kemajuan bangsa.

“Korupsi tidak hanya merugikan negara, tetapi juga menghancurkan kepercayaan publik dan merusak tatanan moral masyarakat. Ini adalah ancaman serius bagi peradaban,” ujarnya.

Dalam khutbahnya, ia juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an secara tegas melarang umat Islam memakan harta orang lain dengan cara batil, termasuk melalui praktik suap dan kecurangan.

Ihsan menambahkan, hasil dari ibadah puasa seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari, seperti kejujuran dalam bekerja, amanah dalam jabatan, serta kepedulian terhadap sesama, terutama kelompok lemah.

“Integritas adalah buah dari ketakwaan. Jika puasa dijalankan dengan benar, maka ia akan melahirkan pribadi yang bersih, jujur, dan bertanggung jawab,” katanya.

Ia pun mengajak seluruh umat Islam, khususnya para pemimpin dan penyelenggara negara, untuk menjadikan momentum Idul Fitri sebagai titik balik memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai keadaban dan integritas.

“Jangan biarkan ibadah kita berhenti di ritual. Jadikan puasa sebagai fondasi membangun bangsa yang bersih dari korupsi dan berkeadaban,” pungkasnya.

Reporter : Faidin

Dari Spirit Ramadhan ke Jihad Keadaban: Pesan Idul Fitri 1447 H di Sikka

SIKKA, BAJOPOS.COM – Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Darussalam Waioti, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Jumat (20/3/2026), tidak hanya dimaknai sebagai hari kemenangan, tetapi juga sebagai titik awal jihad memperkokoh nilai keadaban bangsa.

Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sikka, Moh. Ihsan Wahab, S.HI., M.Pd., yang mengajak umat Islam untuk melanjutkan spirit Ramadhan dalam kehidupan nyata.

Moh. Ihsan Wahab, S. HI, M. Pd di Momen Idul Fitri 1447 H di Sikka. Doc. Bajopos.com/ Faidin.

Khutbah diawali dengan salam dan puji syukur kepada Allah SWT serta ajakan untuk meningkatkan ketakwaan:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعِيدَ ضِيَافَةً لِلْأَنَامِ، وَجَعَلَهُ مِنْ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ، حَرَّمَ فِيهِ الصِّيَامَ، وَأَحَلَّ فِيهِ الطَّعَامَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِقُ الْعَالَمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خَيْرُ الْأَنَامِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Dalam khutbahnya, disampaikan bahwa Idul Fitri merupakan hari suka cita bagi seluruh umat Islam setelah menjalani proses panjang pembinaan spiritual selama bulan Ramadhan. Proses tersebut, menurutnya, adalah upaya penyadaran kembali akan pentingnya kehidupan ruhaniah yang transendental, yang selama ini sering tertutupi oleh dominasi kehidupan material yang profan.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Ia menjelaskan bahwa manusia hidup di bawah ketentuan Allah SWT hanya sementara di bumi. Namun, dalam realitasnya, manusia kerap terjebak dalam “tarikan gravitasi” kehidupan duniawi yang begitu kuat, hingga melupakan asal-usul ruh yang berasal dari Allah SWT.

Suasana Idul Fitri Muhammadiyah di Kabupaten Sikka yang terpusat di Kemesjidan Darussalam Waioti. Doc. Faidin.

Puasa, lanjutnya, menjadi sarana untuk melawan tarikan tersebut. Ibadah ini melatih manusia agar mampu mengangkat derajat dirinya secara spiritual, sedikit demi sedikit mendekati kesadaran ilahiah melalui ketakwaan dan kekhusyukan.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa capaian spiritual selama Ramadhan bukanlah akhir dari perjalanan. Justru setelah Idul Fitri, umat Islam diuji kembali untuk membuktikan kualitas iman melalui jihad dan kesabaran.

Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرُ اللَّهِ قَرِيبٌ

Dalam konteks kehidupan berbangsa, jihad dimaknai sebagai perjuangan luas untuk mengatasi krisis nilai keadaban yang kini terjadi di berbagai lini kehidupan. Ia menekankan bahwa nilai keadaban seperti keadilan, amanah, kejujuran, sopan santun, serta keberpihakan kepada kelompok lemah merupakan bagian penting dari jihad yang harus diperjuangkan bersama.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Khutbah tersebut juga menyoroti bahwa puasa Ramadhan sejatinya merupakan proses pembentukan karakter yang berkeadaban. Nilai-nilai yang dibangun melalui puasa meliputi keimanan, pengendalian diri, serta kehati-hatian dalam setiap tindakan.

Ibadah puasa melatih manusia untuk menahan diri, bahkan dari hal-hal yang pada dasarnya diperbolehkan. Tujuannya agar manusia lebih mampu menghindari hal-hal yang jelas dilarang, seperti kezaliman, korupsi, ketidakjujuran, serta sikap tidak amanah.

Ia menegaskan bahwa perilaku seperti korupsi tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak kesucian jiwa, menzalimi orang lain, serta menghancurkan peradaban.

Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Selain pembentukan karakter, puasa juga mengajarkan empati sosial. Pengalaman menahan lapar dan dahaga selama Ramadhan menjadi sarana untuk merasakan penderitaan kaum miskin dan mereka yang kekurangan.

Momen para pekerja media bersilaturahmi bersama keluarga besar Muhammadiyah di Kabupaten Sikka. Doc. Bajopos.com/Faidin

Dari pengalaman tersebut, diharapkan tumbuh kepedulian untuk membantu sesama, sehingga distribusi kesejahteraan tidak hanya berpusat pada kelompok yang mampu.

اللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Ia menegaskan bahwa keberpihakan kepada kaum lemah akan menghadirkan pertolongan Allah SWT bagi kehidupan bangsa.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Lebih lanjut, khutbah tersebut mengajak umat Islam untuk menjaga kelembutan hati sebagai buah dari proses penyucian jiwa selama Ramadhan. Kelembutan hati ini harus diwujudkan dalam kehidupan sosial melalui sikap saling menghormati, tidak saling menzalimi, serta menghindari konflik yang merusak persatuan.

Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membangun kebersamaan dan memanfaatkan seluruh potensi untuk menciptakan masa depan yang berkeadaban.

Di akhir khutbah, khatib mengajak jamaah untuk memanjatkan doa, memohon ampunan, keberkahan, serta keselamatan bagi umat Islam dan bangsa:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَجَمِيعَ عِبَادَاتِنَا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Khutbah ini menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum melanjutkan perjuangan moral untuk membangun bangsa yang berkeadaban.

Penulis : Faidin

Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriyah di Sikka, Ketua PDM Sikka Tekankan Jihad Keadaban Bangsa

SIKKA, BAJOPOS.COM – Khutbah Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Darussalam Waioti, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Jumat (20/3/2026), mengangkat tema “Jihad Memperkokoh Nilai Keadaban Bangsa”.

Khutbah yang disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sikka, Moh. Ihsan Wahab, menekankan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan spiritual, tetapi momentum untuk memperkuat nilai-nilai keadaban dalam kehidupan berbangsa.

Dalam pembukaan khutbahnya, khatib mengajak jamaah meningkatkan ketakwaan kepada Allah, seraya mengingatkan bahwa hari raya merupakan anugerah sekaligus ujian bagi umat manusia setelah menjalani ibadah Ramadan.

“Ibadah puasa yang telah kita jalani sejatinya adalah proses penyadaran ruhani, untuk mengangkat manusia dari dominasi kehidupan material menuju kesadaran transendental,” ujar Ihsan di hadapan jamaah.

Menurutnya, manusia kerap terjebak dalam tarikan kehidupan duniawi. Karena itu, puasa hadir sebagai sarana untuk melawan “gravitasi” materialisme, agar manusia kembali menyadari asal-usul spiritualnya dan mendekat kepada Sang Pencipta.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa capaian spiritual selama Ramadan tidak serta-merta menjamin keselamatan tanpa adanya perjuangan nyata. Mengutip pesan Al-Qur’an, ia menegaskan bahwa surga hanya diperuntukkan bagi mereka yang berjihad dan bersabar.

“Jihad tidak semata dimaknai sebagai perjuangan fisik, tetapi mencakup upaya luas dalam memperbaiki kehidupan, termasuk mengatasi krisis keadaban yang kini melanda berbagai lini kehidupan bangsa,” tegasnya.

Ia menyoroti pentingnya penguatan nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, amanah, sopan santun, serta keberpihakan kepada kelompok lemah sebagai bagian dari jihad sosial yang harus diwujudkan.

Lebih lanjut, Ihsan menjelaskan bahwa ibadah puasa mengajarkan pengendalian diri, bahkan terhadap hal-hal yang dibolehkan. Hal ini, kata dia, menjadi latihan untuk menjauhi perbuatan yang diharamkan seperti korupsi, ketidakjujuran, dan kezaliman.

“Puasa membentuk manusia yang berintegritas. Tidak mungkin orang yang benar-benar memahami makna puasa masih melakukan korupsi, karena itu bertentangan dengan iman dan merusak peradaban,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan jamaah tentang larangan memakan harta secara batil, termasuk praktik suap dan penyalahgunaan kekuasaan, yang dinilai menjadi ancaman serius bagi keadaban bangsa.

Selain itu, puasa dinilai mampu menumbuhkan empati sosial. Dengan merasakan lapar dan dahaga, umat Islam diajak untuk peduli terhadap kaum lemah dan tidak mampu.

“Keadaban bangsa akan terbangun jika ada keberpihakan nyata kepada mereka yang lemah. Ketika kita menolong sesama, maka pertolongan Allah akan datang kepada kita,” katanya.

Dalam bagian akhir khutbah, Ihsan mengajak seluruh jamaah untuk menjaga kelembutan hati yang telah ditempa selama Ramadan, serta memperkuat persatuan dan kebersamaan antar sesama anak bangsa.

“Jangan saling menzalimi, jangan merusak kepercayaan. Gunakan seluruh potensi yang ada untuk membangun masa depan bangsa yang berkeadaban,” pesannya.

Khutbah ditutup dengan doa bersama, memohon ampunan, keberkahan, serta keselamatan bagi umat Islam dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Penulis : Faidin

Aksi Aliansi Peduli Demokrasi di Depan Polda NTT Ricuh, Massa dan Polisi Terlibat Bentrok

KUPANG, BAJOPOS.COM – Aksi demonstrasi yang digelar Aliansi Peduli Demokrasi di depan Markas Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (Polda NTT), Rabu (18/3/2026), berakhir ricuh setelah terjadi bentrokan antara massa aksi dan aparat kepolisian.

Aksi tersebut merupakan bentuk protes atas dugaan intimidasi dan kekerasan terhadap dua wartawan media Deteksi NTT, sekaligus menyoroti kasus dugaan penelantaran keluarga oleh salah satu oknum anggota Polri.

Aliansi yang terdiri dari sejumlah organisasi, seperti SEMMUT, FMN, LMID, KEMANURI, serta jurnalis, menuntut penanganan tegas terhadap Brigpol Samuel Demes Talan. Oknum polisi tersebut diduga melakukan kekerasan terhadap wartawan Defiandi Selan (Pemimpin Redaksi Deteksi NTT) dan Nino Ninmusu saat menjalankan tugas jurnalistik.

Dalam orasi, massa menyebut kedua wartawan mengalami intimidasi, kekerasan fisik hingga cekikan, serta teror. Selain itu, Brigpol SDT juga disorot terkait dugaan penelantaran istri dan anak.

Sejak awal aksi, massa menegaskan bahwa demonstrasi dilakukan sebagai mimbar bebas untuk menyuarakan aspirasi secara terbuka dan damai.

Pemicu Kericuhan

Situasi mulai memanas ketika sebuah mobil Daihatsu Sigra berwarna hitam diduga menyerempet massa yang tengah berorasi. Massa kemudian berupaya menghadang kendaraan tersebut.

Namun, dalam situasi tersebut aparat kepolisian menutup akses, sehingga memicu ketegangan yang berujung bentrokan di badan jalan.

Di tengah kericuhan, alat pengeras suara milik massa dilaporkan hilang. Aliansi menduga hilangnya perangkat tersebut sebagai bentuk upaya menghambat jalannya aksi.

Ketegangan semakin meningkat setelah massa menolak tawaran negosiasi dari pihak kepolisian. Mereka menilai dialog yang ditawarkan hanya bertujuan meredam dan membatasi ruang penyampaian aspirasi.

Salah satu orator aksi, Flori, menilai situasi yang terjadi bukan kebetulan.

“Ini bukan kebetulan, tetapi indikasi adanya upaya menciptakan kekacauan untuk menghentikan aksi rakyat,” ujarnya dalam orasi.

Penjelasan Kepolisian dan Bantahan Massa

Sementara itu, Kapolresta Kupang menyampaikan bahwa aksi massa seharusnya tidak digelar karena bertepatan dengan hari libur nasional dan berpotensi mengganggu ketertiban umum. Meski demikian, aparat disebut tetap memberikan toleransi terhadap jalannya aksi.

Pernyataan tersebut dibantah oleh pihak aliansi. Mereka mengaku telah menyampaikan surat pemberitahuan resmi kepada kepolisian sebelum aksi dilaksanakan.

Aliansi menilai aparat seharusnya mengawal jalannya demonstrasi agar berlangsung aman, bukan membiarkan situasi berkembang menjadi tidak terkendali.

Dalam pernyataan sikapnya, massa juga mengkritik aparat yang dinilai bertindak represif serta menuding adanya kecenderungan pembungkaman terhadap kebebasan berekspresi dan pers.

Tuntutan Massa

Dalam aksi tersebut, Aliansi Peduli Demokrasi menyampaikan sejumlah tuntutan, di antaranya:

1. Menegakkan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers sebagai jaminan kebebasan pers di Indonesia.

2. Mendesak Polda NTT segera memecat Brikpol Semuel Demes Talan, pelaku pemukulan, perampasan motor dan identitas, serta ancaman dan teror terhadap wartawan.

3. Mendesak rezim Prabowo–Gibran bertanggung jawab penuh atas tindakan represif dan kriminalisasi terhadap rakyat yang berjuang.

4. Menuntut Polda NTT bertanggung jawab atas peristiwa kriminalisasi terhadap wartawan.

5. Wujudkan pendidikan ilmiah, demokratis, dan mengabdi pada rakyat.
6. Tangkap pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS.

7. Hentikan segala bentuk intimidasi, pembungkaman, dan kekerasan fisik terhadap pers.

8. Tarik TNI/Polri dari Papua dan hentikan segala bentuk pelanggaran HAM di Papua.

9. Tolak relokasi dan berikan kepastian tanah kepada masyarakat eks-Timor Timur.

10. Mendesak Kapolda NTT dan Propam Polda NTT menindak tegas Brikpol Semuel Demes Talan atas dugaan kekerasan, intimidasi, dan ancaman terhadap wartawan.

11. Menuntut agar Brikpol Semuel Demes Talan segera dinonaktifkan dari jabatannya selama proses pemeriksaan berlangsung guna menjamin objektivitas dan transparansi.

12. Meminta kepolisian memproses secara hukum dugaan penganiayaan, perampasan, dan penghalangan kerja jurnalistik sesuai ketentuan hukum, termasuk UU Pers.

13. Mendesak agar sepeda motor milik wartawan Deviandi Selan dan identitas (BPJS) milik wartawan Nino Nimnusu segera dipastikan aman, karena penyitaan tanpa dasar hukum adalah perbuatan melawan hukum.

14. Menuntut jaminan perlindungan terhadap wartawan korban intimidasi dan kekerasan, serta memastikan tidak ada intimidasi lanjutan terhadap korban maupun media DeteksiNTT.com.

15. Mendesak Propam Polda NTT transparan dalam penanganan laporan dugaan penelantaran keluarga yang telah dilaporkan istri Brikpol Semuel Demes Talan sejak September 2025.

16. Menegaskan bahwa kekerasan dan intimidasi terhadap wartawan adalah ancaman terhadap kebebasan pers, sehingga aparat wajib menjamin keselamatan wartawan saat bertugas.

17. Copot Kapolda NTT yang dinilai gagal membina anggotanya.

Selain itu, massa juga menyuarakan isu-isu yang lebih luas, seperti penegakan HAM, penghentian kekerasan terhadap aktivis, hingga kritik terhadap kebijakan nasional.

Aksi yang semula direncanakan berlangsung damai tersebut akhirnya dibubarkan di tengah situasi yang tidak kondusif.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari pihak Polda NTT terkait kronologi lengkap bentrokan maupun langkah penanganan terhadap insiden tersebut.(Faidin) 

Brigpol SDT Terancam Dipecat, Istri Resmi Laporkan Dugaan Penelantaran Sejak 2020 ke Polda NTT

KUPANG, BAJOPOS.COM – Kasus yang melibatkan oknum anggota Polri, Brigpol SDT (40), kembali menjadi sorotan publik. Setelah sebelumnya dilaporkan atas dugaan penganiayaan terhadap wartawan media Deteksi NTT, kini ia kembali dilaporkan oleh istri sahnya, Welmince Rohi Doma (37), atas dugaan penelantaran istri dan anak yang disebut telah berlangsung sejak tahun 2020.

Laporan tersebut secara resmi dilayangkan ke Mapolda Nusa Tenggara Timur pada Selasa (17/03/2026) malam. Berdasarkan pantauan awak media, Welmince datang didampingi kerabat serta dua kuasa hukumnya, yakni Andre Lado, S.H., dan Rusydi S. Maga, S.H., dari Kantor Advokat Andre Lado & Partners.

Laporan diterima dengan nomor LP/B/97/III/2026/SPKT/POLDA NUSA TENGGARA TIMUR sekitar pukul 21.51 WITA. Penyidik dari unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) kemudian menerapkan Pasal 428 UU Nomor 1 Tahun 2023.

Namun demikian, penerapan pasal yang dinilai masih bersifat umum tersebut memunculkan pertanyaan dari sejumlah pihak terkait objektivitas penanganan kasus, mengingat terlapor merupakan anggota aktif Polri yang berdinas di RS Bhayangkara Drs. Titus Uly Kupang.

Diduga Hentikan Nafkah Sejak 2020

Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan penelantaran bermula sejak tahun 2020. Saat itu, Brigpol SDT disebut memutus pemberian nafkah dengan cara memblokir rekening gaji, sehingga istri dan anaknya mengalami kesulitan ekonomi.

Tidak hanya itu, pihak korban juga mengungkapkan adanya persoalan rumah tangga sejak awal pernikahan. Brigpol SDT diduga pernah menghamili dua perempuan lain, yang masing-masing kemudian memiliki anak biologis darinya.

Kasus tersebut, menurut sumber, sempat mencuat namun tidak berlanjut hingga tuntas, sehingga menimbulkan persepsi di tengah masyarakat bahwa yang bersangkutan “kebal hukum”.

Terseret Kasus Penganiayaan Wartawan

Di sisi lain, Brigpol SDT juga tengah menghadapi proses hukum lain terkait dugaan penganiayaan terhadap seorang wartawan media Deteksi NTT. Dalam kasus tersebut, ia juga dilaporkan atas dugaan pengancaman serta perampasan dokumen pribadi berupa kartu BPJS Kesehatan dan satu unit sepeda motor milik korban.

Kasus itu kini sedang ditangani oleh Propam Polda NTT, baik dari sisi etik maupun pidana umum.

Sejumlah kalangan, khususnya insan pers, mendesak agar penanganan kasus dilakukan secara transparan dan tegas. Bahkan, muncul dorongan agar Brigpol SDT dijatuhi sanksi tegas hingga pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) jika terbukti bersalah.

Kuasa Hukum Minta Penanganan Transparan

Kuasa hukum korban, Andre Lado, menyatakan pihaknya menghormati proses hukum yang berjalan dan berharap kasus ini segera dituntaskan.

“Secara hukum, penelantaran istri dan anak diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT, dengan ancaman pidana maksimal tiga tahun penjara atau denda Rp15 juta. Untuk anak, juga diatur dalam UU Perlindungan Anak dengan ancaman lebih berat,” jelasnya.

Sementara itu, Rusydi S. Maga menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawal proses hukum hingga tuntas.

“Tidak boleh ada perlakuan berbeda di depan hukum. Siapapun pelakunya, termasuk aparat penegak hukum, harus diproses secara transparan dan akuntabel. Keadilan bagi korban tidak bisa ditawar,” tegasnya.

Sorotan Publik ke Polda NTT

Kasus ini turut menjadi perhatian masyarakat luas di Nusa Tenggara Timur. Kinerja aparat kepolisian dalam menangani perkara yang melibatkan anggotanya sendiri kini kembali diuji, terutama dalam menjamin prinsip keadilan dan transparansi hukum.

Publik berharap Polda NTT dapat menangani perkara ini secara profesional tanpa intervensi, demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri.(Faidin)

Idul Fitri: Merawat Kemenangan melalui Keseimbangan Spiritual dan Sosial

Oleh: Dr. Muhammad Dwi Fajri, S.Sos.I., M.Pd.I. (Dosen UHAMKA)

GEMA TAKBIR yang membahana di seluruh pelosok negeri menandai berakhirnya madrasah Ramadhan.

Idul Fitri sering kali kita maknai sebagai hari kemenangan, sebuah titik finis setelah satu bulan penuh bergelut dengan lapar, dahaga, dan pengekangan hawa nafsu.

Namun, pertanyaan reflektif yang perlu kita ajukan adalah: kemenangan seperti apa yang sedang kita rayakan? Apakah ia hanya sebatas kemenangan seremonial, ataukah ia merupakan kemenangan substantif yang mengubah struktur kesadaran spiritual dan sosial kita?

Idul Fitri sejatinya bukanlah sekadar perayaan ritual atau kemeriahan budaya yang ditandai dengan pakaian baru dan hidangan khas. Lebih dari itu, ia adalah titik balik transformasi.

Kemenangan yang sesungguhnya terletak pada kemampuan seorang muslim untuk menjaga ritme keseimbangan antara hubungan vertikal kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan horizontal kepada sesama manusia (hablum minannas).

Indikator Kekuatan Spiritual

Ramadhan hadir sebagai jeda dari hiruk-pikuk duniawi yang sering kali melelahkan jiwa. Di dalamnya, kita diajak menyadari bahwa manusia bukan sekadar entitas fisik, melainkan makhluk ruhaniyah yang membutuhkan nutrisi spiritual (nilai-nilai ketuhanan).

Keberhasilan transformasi spiritual seseorang pasca-Ramadhan dapat dilihat dari beberapa indikator utama.

Pertama, munculnya ketenangan batin (tuma’ninah). Seseorang dengan kekuatan spiritual yang kokoh memiliki resiliensi atau daya lentur yang tinggi; ia tidak mudah terombang-ambing oleh badai ujian dunia karena sandarannya hanya Allah SWT.

Kedua, integritas yang mewujud dalam kejujuran. Ada keselarasan mutlak antara apa yang ada di hati, apa yang diucapkan lisan, dan apa yang dilakukan oleh anggota badan.

Dalam konteks profesional, keselarasan ini menjadi fondasi etika kerja yang luhur. Bagi seorang pejabat publik, integritas berarti kebijakan yang diambil benar-benar demi kemaslahatan rakyat, bukan titipan kepentingan yang dibungkus retorika manis.

Bagi seorang pekerja atau karyawan, hal ini mewujud pada dedikasi untuk memberikan performa terbaik dan kejujuran dalam melaporkan hasil kerja, tanpa perlu merasa diawasi oleh atasan karena ia sadar Tuhan selalu mengawasi.

Bagi seorang pedagang, keselarasan ini tampak pada timbangan yang jujur dan transparansi mengenai kualitas barang dagangannya.

Kesalehan Sosial: Buah Nyata dari Puasa

Spiritualitas yang sehat tidak akan berhenti pada kesalehan personal di atas sajadah, melainkan harus meluap menjadi kesalehan sosial.

Puasa sebagai “lapar buatan” seharusnya menajamkan radar empati kita. Kesalehan sosial yang diharapkan muncul setelah Idul Fitri ditandai dengan kepekaan yang tinggi terhadap sesama.

Salah satu pilar utamanya adalah menjaga ukhuwah (persaudaraan) dengan cara yang lebih dewasa.

Dalam menjaga ukhuwah, kita perlu menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang memperdebatkan kebenaran versi masing-masing, tetapi juga tentang membangun kesepakatan dan merawat toleransi.

Menghargai perbedaan pendapat dan latar belakang adalah bentuk kesalehan sosial yang tertinggi.

Kita dituntut untuk menjaga lisan agar tidak menyakiti, serta memastikan kehadiran kita membawa kenyamanan.

Memahami bahwa keragaman adalah keniscayaan memungkinkan kita menjadi penyelesai masalah (problem solver) di tengah masyarakat yang majemuk.

Di ranah publik, hal ini mewujud dalam kedermawanan—kesediaan untuk membantu tanpa memandang perbedaan—serta integritas untuk menjauhi praktik suap dan korupsi demi kepentingan publik yang lebih luas.

Menjaga Momentum Fitrah

Kini, saat kita menanggalkan status sebagai “shaim” (orang yang berpuasa) dan merayakan Idul Fitri, kita diingatkan pada sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti bayi yang baru lahir dari kandungan ibunya.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad).

Janji kesucian ini adalah momentum besar bagi kita untuk memulai lembaran baru. Namun, tantangan sebenarnya baru saja dimulai.

Idul Fitri adalah garis awal untuk mengimplementasikan seluruh pelajaran yang didapat dari madrasah Ramadhan selama sebelas bulan ke depan. Kesucian yang kita raih tidak boleh dikotori lagi dengan penyakit hati maupun perilaku sosial yang destruktif.

Mari kita rawat kemenangan ini dengan tetap konsisten menjaga kekuatan spiritual yang menenangkan jiwa dan kesalehan sosial yang menghangatkan sesama.

Semoga ibadah yang telah kita jalani benar-benar menjadikan kita pribadi yang lebih dekat kepada Sang Pencipta, sekaligus menjadi pribadi yang lebih bijak dalam bersikap di tengah perbedaan.

Inilah esensi kemenangan yang sejati: saat kita kembali suci dengan membawa damai dan manfaat bagi sesama.

Mayoritas Negara Diprediksi Rayakan Idul Fitri 1447 H pada 20 Maret 2026

JAKARTA, BAJOPOS.COM – Mayoritas negara di dunia diperkirakan akan merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat, 20 Maret 2026. Prediksi ini didasarkan pada perhitungan astronomi yang menunjukkan bahwa hilal Syawal tidak mungkin terlihat pada Rabu, 18 Maret 2026.

Direktur Pusat Astronomi Internasional, Mohammed Shawkat Odeh, menjelaskan bahwa negara-negara yang memulai Ramadan pada 18 Februari akan melakukan rukyatul hilal pada 18 Maret. Sementara negara yang mulai berpuasa pada 19 Februari akan melakukan pengamatan pada 19 Maret.

Namun demikian, peluang melihat hilal pada 18 Maret hampir tidak mungkin. “Melihat hilal Syawal pada hari Rabu tidak mungkin karena bulan akan terbenam sebelum matahari, dan konjungsi astronomis terjadi setelah matahari terbenam,” ujar Odeh seperti dikutip dari Gulf News, Rabu (18/3/2026).

Dengan kondisi tersebut, sebagian besar negara diperkirakan akan menyempurnakan Ramadan menjadi 30 hari, sehingga Idul Fitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Untuk pengamatan pada Kamis, 19 Maret, visibilitas hilal juga dinilai sangat terbatas. Di wilayah timur dunia, hilal tidak dapat diamati. Sementara di sebagian Asia Barat dan Afrika, hilal hanya mungkin terlihat menggunakan teleskop dengan kondisi langit yang sangat cerah.

“Sebagian besar negara diperkirakan akan mengumumkan Jumat, 20 Maret sebagai hari pertama Idul Fitri,” kata Odeh.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya potensi perbedaan penetapan. Hal ini disebabkan oleh kesulitan pengamatan hilal di berbagai wilayah dunia Islam.

“Sejumlah negara mungkin tidak dapat mengonfirmasi penampakan hilal, sehingga berpotensi menetapkan Sabtu, 21 Maret sebagai Idul Fitri,” ujarnya.

Secara teknis, kondisi hilal di berbagai kota juga menunjukkan tantangan. Di Jakarta, bulan hanya terbenam sekitar 10 menit setelah matahari dengan usia sekitar 11 jam, sehingga tidak memungkinkan diamati bahkan dengan teleskop.

Sementara di Abu Dhabi dan Riyadh, posisi hilal sedikit lebih tinggi di atas ufuk, namun tetap membutuhkan alat bantu optik serta kondisi atmosfer yang sangat cerah. Adapun di wilayah Eropa Barat dan Afrika Barat, pengamatan dengan mata telanjang juga tergolong sangat sulit.

Odeh menegaskan bahwa visibilitas hilal tidak hanya bergantung pada satu faktor. Selain usia bulan, parameter seperti jarak sudut dari matahari (elongasi) dan ketinggian bulan di atas cakrawala turut menentukan keberhasilan rukyat.

Indonesia Berpotensi Berbeda-Beda

Di Indonesia, potensi perbedaan penetapan Idul Fitri 2026 juga mencuat. Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama Observatorium Bosscha memperkirakan Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Prediksi tersebut mengacu pada posisi hilal pada Kamis, 19 Maret yang dinilai belum memenuhi kriteria baru MABIMS. Dalam kriteria tersebut, awal bulan Hijriah ditetapkan jika tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi mencapai 6,4 derajat.

Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan lebih awal bahwa Idul Fitri 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Keputusan tersebut mengacu pada metode Kalender Hijriah Global Tunggal.

Adapun pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia akan menetapkan secara resmi tanggal Idul Fitri melalui sidang isbat yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026.(Redaksi)

Kapolres Alor Tegaskan Kematian di Lautingara Akibat Tindak Pidana, Bukan Tawuran

KALABAHI, BAJOPOST.COM – Rabu, 18 Maret 2026 – Kepolisian Resor Alor memastikan bahwa kasus kematian M.H.K. alias H. yang terjadi di wilayah Lautingara, Kecamatan Teluk Mutiara, merupakan tindak pidana penganiayaan yang berujung maut, bukan akibat tawuran antar kelompok seperti yang sempat beredar di masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan langsung Kapolres Alor, AKBP Nur Azhari, S.H., dalam konferensi pers yang digelar di Aula Polres Alor, Rabu (18/03/2026). Ia didampingi Kasat Reskrim AKP Amru Ichsan, S.H., serta Kasi Propam IPDA Samsul Bahri D.A.

“Kami pastikan bahwa peristiwa ini bukan tawuran, melainkan penganiayaan yang berujung kematian,” tegas Kapolres.

Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Jumat, 13 Maret 2026, sekitar pukul 09.30 WITA. Berdasarkan hasil penyelidikan, insiden bermula dari perselisihan antara korban dengan tersangka Y.M. alias D (28), warga Kecamatan Teluk Mutiara, yang terjadi pada Kamis malam sebelumnya di wilayah Lipa. Meski sempat dilerai warga, konflik tersebut ternyata menyisakan dendam.

Keesokan harinya, tersangka kembali mencari korban di sekitar pangkalan ojek. Saat korban melintas menggunakan sepeda motor, tersangka langsung melakukan penyerangan menggunakan senjata tajam yang mengenai bagian pinggang kiri korban.

Korban sempat berupaya menyelamatkan diri dengan berlari ke rumah warga, namun nyawanya tidak tertolong meskipun telah mendapatkan penanganan medis.

Kapolres juga mengungkapkan bahwa setelah melakukan penyerangan, tersangka sempat melakukan kekerasan terhadap seorang saksi sebelum akhirnya melarikan diri. Dalam proses penyidikan, polisi telah memeriksa satu pelapor dan lima orang saksi untuk mengungkap secara jelas kronologi kejadian.

Setelah buron selama beberapa hari, tersangka akhirnya berhasil diamankan oleh tim Sat Reskrim Polres Alor pada 17 Maret 2026 di wilayah Kecamatan Alor Timur Laut.

“Selama pelarian, tersangka bersembunyi di kebun dan bertahan hidup dari hasil kebun. Penangkapan ini berkat kerja sama antara kepolisian, keluarga tersangka, dan aparat setempat,” jelas Kapolres.

Barang bukti yang telah diamankan antara lain pakaian korban dan pakaian tersangka yang digunakan saat kejadian. Sementara itu, senjata tajam yang digunakan dalam aksi tersebut masih dalam proses pencarian oleh pihak kepolisian.

Kasat Reskrim AKP Amru Ichsan menambahkan bahwa aksi penganiayaan tersebut dilakukan tersangka seorang diri tanpa keterlibatan pihak lain. Motif sementara diduga karena dendam lama, mengingat korban dan tersangka sebelumnya beberapa kali terlibat perselisihan.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 459 subsider Pasal 458 ayat (1) lebih subsider Pasal 466 ayat (3) KUHP Baru (UU No. 1 Tahun 2023), dengan ancaman pidana maksimal berupa hukuman mati, penjara seumur hidup, atau penjara selama 20 tahun.

Saat ini tersangka telah ditahan di Rumah Tahanan Polres Alor, sementara penyidik terus melengkapi berkas perkara untuk segera dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum.

Mengakhiri keterangannya, Kapolres Alor mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga situasi keamanan dan ketertiban serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk tidak terlibat dalam aksi kekerasan, tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, dan bersama-sama menjaga situasi tetap aman dan kondusif,” tutupnya.

Jurnalis : Nursan