BERAU, Bajopos.com | Ketika tanah mulai mengering dan panas semakin menyengat, manusia biasanya mencari jalan untuk bertahan. Tetapi, ketika ikhtiar manusia berhadapan dengan sesuatu yang berada di luar kuasanya, hanya ada satu hal yang bisa dilakukan: menengadah dan memohon.
Itulah yang terjadi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Minggu, 30 Agustus 2026.
Di tengah kemarau panjang yang belum juga berakhir, tak hanya masyarakat, Pemerintah Kabupaten Berau, TNI, Polri pun membersamai masyarakat menggelar Shalat Istisqa memohon hujan di Lapangan GOR Pemuda, Tanjung Redeb.
Mereka datang membawa satu harapan yang sama: semoga langit kembali menurunkan air hujan.
Pemandangan ini menarik. Sebab keyakinan terhadap hubungan manusia dengan alam selama ini tidak hanya hidup dalam cerita, tradisi dan kebiasaan masyarakat.
Dalam situasi tertentu, pemerintah pun turut mengambil bagian dalam ruang spiritual yang diyakini masyarakat sebagai bentuk ikhtiar.
Tampak, berbagai para jemaah sholat hari itu dalam suasana kekhusyuan, melaksanakan sholat memohon turun hujan.
Bukan karena pemerintah tidak memiliki cara lain. Bukan pula karena persoalan kemarau dapat diselesaikan hanya dengan doa.
Tetapi, ada kesadaran bahwa menghadapi alam membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan dan perhitungan manusia. Ada ikhtiar yang harus dilakukan, ada lingkungan yang harus dijaga, dan ada doa yang dipanjatkan.
Kemarau panjang di Kabupaten Berau bukan persoalan sederhana. Minimnya curah hujan dan cuaca panas membuat kebutuhan air masyarakat semakin penting untuk diperhatikan.
Pada saat yang sama, lingkungan yang kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, Shalat Istisqa hari itu seolah menjadi dua pesan sekaligus. Pertama, manusia memohon agar hujan diturunkan. Kedua, manusia diingatkan untuk tidak menjadi penyebab bencana yang lebih besar.
Pemerintah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
Sebab, tidak cukup hanya memohon hujan apabila manusia sendiri abai menjaga lingkungan. Doa meminta hujan, sementara tangan tetap harus menjaga bumi. Disitulah makna kebersamaan menjadi penting.
Masyarakat memiliki keyakinan dan cara sendiri dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Pemerintah memiliki kewenangan dan tanggung jawab untuk mengambil kebijakan.
Namun, ketika kemarau datang dan ancaman kebakaran membayangi, keduanya bertemu dalam satu kepentingan: menjaga kehidupan.
Lapangan GOR Pemuda akhirnya menjadi saksi bagaimana manusia menghadapi kemarau bukan hanya dengan rasa cemas, tetapi juga dengan harapan. Mereka menengadah kepada langit.
Sementara, bumi dibawah kaki mereka menunggu setetes demi setetes air yang selama ini menjadi sumber kehidupan.
Termasuk Amalan Sunnah
Hujan adalah sebuah peristiwa presipitasi berwujud cairan yang jatuh ke permukaan bumi. Peristiwa hujan merupakan sesuatu yang tidak asing lagi didengar oleh banyak orang.
Allah SWT berfirman :
(14) وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا
”Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.” (QS. An Naba’ [78] : 14)
Hujan salah satu kekuasaan Allah SWT, Yang Maha Kuasa dan mengatur seluruh alam semesta ini. Hujan juga nikmat dari Allah yang patut untuk disyukuri. Sebagai seorang muslim, kita dianjurkan untuk bersyukur dengan membaca do’a di bawah ini;
اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً
“Allahumma shoyyiban naafi’aa [Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].”
Adapun, 3 Amalan Sunnah Ketika Turun Hujan sebagai berikut;
1. Memanjatkan Do’a
Dalam sebuah hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ تَحْتَ المَطَرِ
“Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan.”
2. Janganlah Mencela Hujan!
Setiap orang mengetahui bahwasanya hujan merupakan nikmat dari Allah SWT. Namun sangat disayangkan, ketika hujan turun ia merasa aktivitasnya terganggu, muncullah kata-kata celaan “Yaa Allah, kenapa hujan segala sih!”.
Mencela merupakan salah satu yang dilarang oleh Rasulullah SAW, termasuk mencela ketika hujan turun dengan alasan apapun.
3. Dianjurkan Berwudhu Dengan Air Hujan
Rasulullah SAW ketika melihat hujan yang mengalir deras bersabda,
اُخْرُجُوا بِنَا إلَى هَذَا الَّذِي جَعَلَهُ اللَّهُ طَهُورًا ، فَنَتَطَهَّرَمِنْهُ وَنَحْمَدَ اللّهَ عَلَيْهِ
Artinya : “Keluarlah bersama kami menuju air yang Allah jadikan sebagai alat untuk bersuci” Lalu kami semua bersuci menggunakan air tersebut dan memuji nikmat Allah.
Entah kapan hujan akan turun. Tetapi pesan dari Shalat Istisqa hari itu jelas: manusia boleh memiliki teknologi, kebijakan dan segala macam cara untuk menghadapi alam, tetapi tetap harus menyadari bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar daripada kemampuan manusia.
Dan ketika langit belum juga turunkan hujan, manusia memilih untuk terlebih dahulu meneteskan air mata dalam doa.
Reporter : Andi

