Kam. Sep 24th, 2026

Timnas Argentina

Lamine Yamal Bocah yang Belum Lahir Saat Messi Debut Kini Siap Menantang Sang Legenda di Final Piala Dunia 2026

SIKKA, BAJOPOS.COM | Sorotan dunia menjelang final Piala Dunia 2026 tak hanya tertuju pada duel klasik Spanyol kontra Argentina, tetapi juga pada sosok fenomenal Lamine Yamal.

Penyerang muda La Roja itu menjadi simbol lahirnya generasi baru yang kini siap menantang era Lionel Messi di panggung terbesar sepak bola dunia.

Final yang akan berlangsung di New York New Jersey Stadium, Senin (20/7/2026) dini hari WIB, menghadirkan kisah lintas generasi yang begitu menarik. Di satu sisi berdiri Lionel Messi, legenda hidup yang telah menorehkan sejarah selama lebih dari dua dekade.

Di sisi lain hadir Lamine Yamal, pemain muda yang bahkan belum lahir ketika Messi menjalani debut profesionalnya bersama Barcelona pada 16 Oktober 2004.

Fakta tersebut menjadi pembicaraan hangat di berbagai media internasional. Salah satunya bahkan mengingatkan kembali foto lama yang memperlihatkan Messi muda sedang memandikan bayi Lamine Yamal, sebuah momen yang kini terasa seperti pertanda pergantian generasi sepak bola dunia.

Kini, dua sosok yang dipisahkan oleh lebih dari dua dekade perjalanan karier itu akan saling berhadapan dalam pertandingan paling bergengsi di dunia.

Generasi Baru Bernama Lamine Yamal

Meski usianya masih sangat muda, Lamine Yamal telah berkembang menjadi salah satu pemain paling menentukan dalam skuad Spanyol. Kecepatan, kemampuan menggiring bola, visi bermain, hingga keberaniannya menghadapi pemain bertahan membuatnya menjadi ancaman nyata bagi setiap lawan.

Perjalanannya bersama Spanyol menuju final juga memperlihatkan kematangan yang jauh melampaui usianya. La Roja berhasil menyingkirkan Prancis dengan kemenangan 2-0 di semifinal, sementara Argentina melaju usai mengalahkan Inggris 2-1.

Kini seluruh harapan publik Spanyol tertumpu pada generasi emas baru yang dipimpin Rodri, Pedri, Nico Williams, hingga Lamine Yamal.

Bagi Yamal sendiri, final ini bukan sekadar kesempatan merebut trofi Piala Dunia pertama dalam kariernya. Ini juga menjadi panggung untuk membuktikan bahwa sepak bola dunia telah memasuki babak baru.

Dari Era Messi Menuju Era Yamal

Lionel Messi merupakan ikon yang telah menguasai sepak bola dunia selama bertahun-tahun. Ia mengawali debut profesional saat berusia 17 tahun bersama Barcelona pada 2004, sebelum kemudian memenangkan berbagai gelar bergengsi, termasuk Piala Dunia bersama Argentina.

Pada Piala Dunia 2026, sang kapten Albiceleste masih menunjukkan kualitas luar biasa dengan mencatatkan delapan gol dan empat assist hingga menjelang partai final.

Namun, di hadapannya kini berdiri pemain yang lahir ketika namanya sudah mulai dikenal dunia.

Perbandingan usia keduanya menjadi simbol nyata perubahan zaman. Saat Messi menjalani pertandingan profesional pertamanya, sebagian besar pemain Spanyol saat ini masih anak-anak.

Borja Iglesias yang menjadi pemain tertua dalam skuad Spanyol saat ini baru berusia 11 tahun kala itu. Rodri masih berumur delapan tahun, Pedri baru berusia sekitar satu tahun, sedangkan Gavi masih bayi berusia dua bulan.

Sementara itu, Lamine Yamal dan Pau Cubarsí bahkan belum dilahirkan.

Final Sarat Makna

Laga Spanyol melawan Argentina bukan sekadar perebutan trofi. Argentina datang dengan ambisi mempertahankan gelar sekaligus meraih bintang keempat dalam sejarah mereka.

Sebaliknya, Spanyol bertekad merebut gelar Piala Dunia kedua setelah keberhasilan bersejarah pada 2010.

Di tengah ambisi kedua negara, perhatian publik dipastikan akan tertuju kepada Lamine Yamal. Jika mampu membawa Spanyol menjadi juara, namanya akan semakin mengukuhkan status sebagai wajah baru sepak bola dunia.

Sebaliknya, bagi Messi, laga ini bisa menjadi salah satu bab terakhir dalam perjalanan luar biasanya bersama Tim Tango.

Apa pun hasil akhirnya nanti, final Piala Dunia 2026 akan dikenang sebagai pertemuan dua generasi: sang legenda yang telah menginspirasi dunia dan seorang bintang muda yang kini siap melanjutkan estafet kejayaan sepak bola.

Penulis : Faidin

Lionel Messi dan Bab Keenam yang Tak Pernah Ditulis Siapa Pun di Piala Dunia

SIKKA, BAJOPOS.COM | Di sebuah stadion di Kansas City, Amerika Serikat, Rabu (17/6/2026) pagi WIB, Lionel Messi tidak sekadar berjalan memasuki lapangan. Ia melangkah masuk ke dalam sejarah yang belum pernah disentuh pemain mana pun sebelumnya.

Saat memimpin Argentina menghadapi Aljazair pada laga pembuka Piala Dunia 2026, Messi resmi menjadi pesepak bola pertama yang tampil di enam edisi Piala Dunia berbeda. Sebuah pencapaian yang selama puluhan tahun hanya menjadi angan-angan para legenda sepak bola dunia.

Dari remaja kurus berusia 18 tahun yang menjalani debut di Jerman pada 2006 hingga menjadi kapten juara dunia Argentina, perjalanan Messi kini membentang melintasi dua dekade dan enam generasi turnamen sepak bola terbesar di planet ini.

Rekor tersebut terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan penampilan ke-200 Messi bersama Tim Nasional Argentina. Sebuah angka yang menggambarkan konsistensi luar biasa seorang pemain yang tetap bertahan di level tertinggi ketika banyak rival dan rekan seangkatannya telah lama meninggalkan panggung internasional.

Sebelum laga melawan Aljazair, Messi sejajar dengan lima nama besar yang pernah tampil dalam lima edisi Piala Dunia, yakni Cristiano Ronaldo, Antonio Carbajal, Rafael Márquez, Andrés Guardado, dan Lothar Matthäus. Kini, kapten Argentina itu berdiri sendirian di puncak.

Perjalanan itu dimulai pada Piala Dunia 2006 di Jerman. Kala itu Messi muda langsung mencuri perhatian dengan mencetak gol saat Argentina menghancurkan Serbia dan Montenegro 6-0. Tak banyak yang menyangka bahwa dua puluh tahun kemudian, pemain yang sama masih mengenakan seragam Albiceleste di panggung yang sama.

Sejak debut tersebut, Messi tidak pernah absen dari Piala Dunia. Ia tampil pada edisi 2010, 2014, 2018, 2022, dan kini 2026. Rentang waktu yang cukup panjang untuk menyaksikan perubahan generasi, taktik, hingga teknologi sepak bola.

Namun rekor enam Piala Dunia bukan satu-satunya catatan yang dimiliki Messi. Ia juga merupakan pemegang rekor penampilan terbanyak di putaran final Piala Dunia.

Rekor itu dipecahkannya saat Argentina mengalahkan Prancis pada final Piala Dunia 2022 di Qatar, melewati catatan 25 pertandingan milik legenda Jerman, Lothar Matthäus.

Laga kontra Aljazair menjadi pertandingan ke-27 Messi di putaran final Piala Dunia, mempertegas statusnya sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah turnamen tersebut.

Meski demikian, rekor enam edisi Piala Dunia berpotensi segera memiliki “teman”. Cristiano Ronaldo dijadwalkan tampil bersama Portugal menghadapi Republik Demokratik Kongo.

Jika dimainkan, Ronaldo juga akan mencatatkan penampilan pada enam edisi Piala Dunia berbeda. Namun sejarah tetap mencatat Messi sebagai orang pertama yang membuka jalan menuju pencapaian tersebut.

Di tengah euforia rekor, ada satu kenyataan yang membuat momen ini terasa emosional. Messi kini berusia 38 tahun. Ia belum memastikan kapan akan mengakhiri karier internasionalnya, tetapi beberapa kali mengisyaratkan bahwa Piala Dunia 2026 kemungkinan menjadi turnamen terakhirnya bersama Argentina.

Jika benar demikian, maka Kansas City bukan hanya menjadi lokasi lahirnya sebuah rekor. Kota itu bisa saja dikenang sebagai tempat dimulainya bab terakhir perjalanan seorang pemain yang selama bertahun-tahun mendefinisikan kehebatan sepak bola modern.

Dan ketika peluit akhir karier itu suatu hari berbunyi, dunia mungkin akan mengenang satu hal sederhana: ada seorang pemain bernama Lionel Messi yang berhasil menghadiri enam Piala Dunia, sesuatu yang selama lebih dari seabad sejarah turnamen itu tak pernah mampu dilakukan siapa pun.

Penulis : Faidin