Sen. Mei 25th, 2026

Suku Bajo

Di Balik Ambisi Baterai Listrik, Suku Bajo Kabaena Kehilangan Lautnya

KABAENA, Bajopos.com – Ambisi Indonesia menjadi pemain utama baterai kendaraan listrik menyisakan ironi di pesisir Pulau Kabaena, Sulawesi Tenggara. Di Desa Baliara, ruang hidup Suku Bajo—yang selama ini menyatu dengan laut—kini tercemar limbah tambang nikel.

Laporan investigatif yang dipublikasikan Mongabay.co.id mengungkap, aktivitas pertambangan di Kabaena tak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengguncang sendi ekonomi, kesehatan, hingga budaya masyarakat Bajo.

Direktur Eksekutif Walhi Sulawesi Tenggara, Andri Rahman, menyebut pencemaran telah menurunkan drastis hasil tangkapan nelayan dan merusak budidaya rumput laut. “Ada efek buruk pada mata pencaharian, kesehatan, dan lingkungan masyarakat. Tangkapan ikan menurun dan rumput laut tercemar lumpur nikel,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Laut Berubah Warna, Penghasilan Terjun Bebas

Warga Baliara merasakan langsung dampaknya. Rahma, warga Kabaena, mengaku kini tak berani lagi mengonsumsi ikan karena khawatir terkontaminasi logam berat. Laut yang dulu jernih berubah keruh akibat sedimentasi lumpur tambang.

Sebelum aktivitas tambang masif, nelayan Bajo bisa meraup hingga Rp700 ribu per hari. Kini, setelah melaut seharian, penghasilan rata-rata hanya sekitar Rp200 ribu. Budidaya rumput laut dan keramba ikan pun banyak gagal panen.

Tak hanya ekonomi, kesehatan warga ikut terdampak. Air laut yang dahulu menjadi bagian keseharian kini memicu gatal-gatal. Frekuensi banjir meningkat sejak pembukaan tambang. Bahkan, seorang anak dilaporkan tenggelam di perairan yang penuh sedimen, menambah kecemasan warga akan keselamatan generasi mereka.

“Kami hanya ingin hidup layak, bukan kemewahan,” kata Rahma.

Budaya Terancam Hilang

Pakar Ilmu Kelautan dari Universitas Hasanuddin, Syafiudin Yusuf, menilai pencemaran laut berdampak serius pada keberlangsungan budaya Bajo. Terumbu karang rusak, ikan berkurang, dan anak-anak kehilangan ruang belajar menyelam—keterampilan dasar yang diwariskan turun-temurun.

Salah satu tradisi penting, memandikan bayi baru lahir dengan air laut bersih, kini terancam hilang. “Ruang hidup dan budaya mereka perlahan musnah. Mereka dipaksa beradaptasi dengan kehidupan darat yang tak sesuai dengan identitas mereka sebagai pelaut,” ujarnya.

Menurut Yusuf, keberadaan Suku Bajo selama ini justru menjadi indikator laut yang sehat. Mereka dikenal memiliki pengetahuan tradisional dalam menjaga terumbu karang dan ekosistem pesisir.

Kritik Transisi Energi yang “Tergesa”

Ketua Perkumpulan Orang Same Bajo Indonesia (POSBI), Erni Bajau, khawatir eksploitasi pulau kecil demi nikel akan memperparah marginalisasi masyarakat Bajo. Ia menyaksikan langsung rusaknya perairan Kabaena akibat sedimen tambang pada kunjungan November 2024.

Sementara itu, Ulil Amri, Antropolog Lingkungan dari Creighton University, menilai kebijakan transisi energi Indonesia terkesan pragmatis dan terburu-buru. Kelompok masyarakat adat, termasuk Bajo, disebut kerap menjadi “tumbal” pembangunan.

Menurutnya, keuntungan jangka pendek dari eksploitasi nikel tak sebanding dengan biaya sosial dan ekologis yang harus ditanggung. Ia mendorong moratorium eksploitasi nikel di pulau kecil serta kebijakan tambang yang lebih manusiawi dan partisipatif.

Regulasi dan Pengawasan Dipertanyakan

Catatan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Sulawesi Tenggara menyebut, ekspansi tambang di Kabaena bermula dari revisi tata ruang 2010 yang menurunkan status hutan lindung menjadi hutan produksi. Perubahan itu diperkuat melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.465/Menhut-II/2011, yang membuka jalan bagi konsesi tambang seluas lebih dari 76 ribu hektar—sekitar 85 persen luas Pulau Kabaena.

Deputi Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup, Rizal Irwan, pada 12 Maret 2025 menyatakan pihaknya telah memerintahkan verifikasi lapangan dan akan menurunkan tim untuk pengecekan lebih lanjut.

Di tengah janji transisi energi hijau, warga Bajo di Baliara justru menghadapi kenyataan pahit: laut yang menjadi identitas dan sumber hidup mereka kian tercemar. Ambisi kendaraan listrik global kini berhadapan dengan pertanyaan mendasar—siapa yang menanggung harga sebenarnya dari “energi bersih” itu? (Redaksi)

Adat, Tarian, dan Struktur Sosial Suku Bajo

SIKKA, Bajopos.com – Di tengah hamparan laut yang menjadi ruang hidupnya, Suku Bajo membangun tatanan sosial yang bertumpu pada adat. Di atas rumah-rumah panggung yang berdiri di perairan, nilai kehormatan, aturan perkawinan, hingga tarian perang diwariskan sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas mereka.

Adat sebagai Penjaga Harga Diri

Dalam masyarakat Bajo, adat bukan sekadar aturan, melainkan penjaga pakayya—harga diri keluarga. Nilai ini paling tampak dalam sistem perkawinan.

Perkawinan resmi melalui proses peminangan yang dikenal sebagai Massuro menjadi bentuk yang paling umum. Prosesi ini berlaku bagi seluruh lapisan masyarakat, baik bangsawan maupun masyarakat biasa, dengan perbedaan pada kelengkapan ritual adat. Dalam setiap tahapan, keluarga besar terlibat, menegaskan bahwa perkawinan adalah urusan kolektif, bukan semata hubungan pribadi.

Namun dinamika sosial juga mengenal Silaiyang atau kawin lari. Dalam praktik ini, pasangan yang sepakat melarikan diri menuju rumah penghulu atau anggota adat untuk meminta perlindungan dan dinikahkan. Peristiwa ini kerap dianggap mencoreng pakayya keluarga perempuan.

Pada masa lalu, keluarga yang merasa dipermalukan dapat mengambil tindakan keras demi menegakkan kehormatan. Kini, ketika pasangan telah berada dalam perlindungan penghulu, mereka tidak dapat diganggu. Penghulu berkewajiban mengurus proses pernikahan, termasuk melalui mekanisme wali hakim apabila keluarga perempuan menolak memberikan restu.

Meski sah secara adat dan agama, hubungan kedua keluarga belum tentu pulih. Diperlukan proses sipamapporah atau permintaan maaf agar relasi sosial kembali harmonis. Dalam konteks ini, adat berfungsi sebagai penengah konflik sekaligus pemulih keseimbangan sosial.

Selain itu, terdapat pula Perkawinan Duduk (Sitingkoloang), yakni ketika salah satu pihak mendatangi rumah keluarga pasangannya dan menyerahkan diri sebagai bentuk kesungguhan cinta. Proses ini dilanjutkan dengan musyawarah keluarga (sitummu).

Adat juga secara tegas melarang perkawinan dengan hubungan darah dekat, baik garis lurus ke atas maupun ke bawah, serta saudara kandung dan keturunan terdekat lainnya. Aturan ini memperlihatkan kuatnya struktur kekerabatan dalam masyarakat Bajo.

Tradisi unik lainnya adalah malam pertama pengantin baru yang dilepas ke laut menggunakan perahu. Pasangan tersebut menghabiskan malam di atas air—simbol bahwa kehidupan rumah tangga mereka menyatu dengan laut sebagai sumber kehidupan.

Struktur Sosial dan Kehidupan Komunitas

Komunitas Bajo umumnya hidup berkelompok di atas laut, menempati rumah-rumah yang berdiri di atas tiang tanpa jembatan penghubung. Pola ini membentuk ikatan internal yang kuat, sekaligus menciptakan jarak sosial tertentu dengan komunitas darat.

Dalam interaksi sehari-hari, bahasa Bajo menjadi identitas utama. Di antara sesama warga, penggunaan bahasa ini diwajibkan sebagai bentuk pemeliharaan jati diri kolektif.

Laut menjadi pusat kehidupan sosial. Selain sebagai sumber ekonomi, laut juga memiliki makna simbolik dan spiritual. Sejak lama, orang tua mereka menggantungkan hidup dari hasil laut tanpa batasan wilayah tangkap seperti yang berlaku saat ini.

Di beberapa wilayah, seperti di Kepulauan Wakatobi, komunitas Bajo hidup berdampingan secara administratif dengan masyarakat setempat, namun tetap mempertahankan ruang sosial tersendiri. Pola ini memperlihatkan bagaimana mereka menjaga kohesi internal sekaligus beradaptasi dengan sistem pemerintahan modern.

Tarian sebagai Ekspresi Adat

Ekspresi budaya Bajo juga tercermin dalam seni tari dan bela diri tradisional.

Tarian Manca menjadi salah satu tarian paling populer, terutama dalam pesta perkawinan resmi (Massuro). Tarian ini dibawakan oleh dua orang pamanca yang saling berhadapan sambil membawa pedang. Gerakannya mengikuti irama sarroni (seruling) dan gandah (gendang).

Manca bukan sekadar hiburan, tetapi simbol keberanian, ketangkasan, dan kehormatan. Para pamanca umumnya telah berlatih sejak kecil, sehingga gerakan mereka lentur dan selaras dengan musik pengiring.

Sementara itu, Sile’ Kampoh (Silat Kampung) menjadi dasar dari gerakan Manca. Silat ini tidak dapat dipelajari sembarang orang; syaratnya harus cukup umur dan menjalani masa latihan hingga empat minggu untuk mencapai kemahiran dasar.

Bagi masyarakat Bajo, silat bukan hanya teknik bela diri, melainkan jalan hidup yang mencerminkan kedisiplinan, keberanian, dan tanggung jawab sosial. Jurus-jurus yang dipelajari dalam silat kampung diterapkan dalam tarian Manca, memperlihatkan keterkaitan antara seni dan pertahanan diri.

Adat yang Bertahan di Tengah Perubahan

Modernisasi membawa perubahan dalam banyak aspek kehidupan Bajo, termasuk pola ekonomi dan teknologi penangkapan ikan. Namun dalam ranah sosial dan budaya, adat tetap menjadi fondasi utama.

Dari tata cara perkawinan yang menjaga pakayya, mekanisme musyawarah dalam menyelesaikan konflik, hingga tarian pedang yang menggema dalam pesta adat, Suku Bajo menunjukkan bahwa identitas mereka tidak hanya dibentuk oleh laut, tetapi juga oleh sistem nilai yang kokoh.

Di atas air yang terus bergerak, adat menjadi jangkar—menjaga keseimbangan antara kehormatan keluarga, solidaritas komunitas, dan warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.(Faidin)

Suku Bajo, Penjaga Tradisi Bahari Nusantara

SIKKA, Bajopos.com Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kekayaan suku dan budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Salah satu kelompok etnik yang memiliki karakter kuat dan keunikan tersendiri adalah Suku Bajo. Komunitas ini dikenal luas sebagai masyarakat bahari yang kehidupannya sangat erat dengan laut.

Suku Bajo tersebar di berbagai wilayah Indonesia bagian timur, terutama di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara. Mereka juga dikenal dengan sebutan Bajau, Badjaw, Sama, atau Same. Sejak dahulu, Suku Bajo dikenal sebagai bangsa penjelajah lautan. Mereka hidup berpindah-pindah menggunakan perahu dan mengandalkan posisi bintang sebagai penunjuk arah saat berlayar.

Seiring perkembangan zaman, pola hidup nomaden tersebut perlahan berubah. Masyarakat Bajo mulai menetap dan membangun rumah-rumah panggung di atas perairan dangkal sebagai tempat tinggal. Walaupun tidak lagi sepenuhnya hidup di atas perahu, identitas mereka sebagai masyarakat maritim tetap kuat. Mayoritas masyarakat Bajo bekerja sebagai nelayan dan dikenal sangat mahir menyelam.

Dalam perjalanan sejarahnya, Suku Bajo memiliki kisah panjang yang selalu berkaitan dengan laut. Pada masa lalu, sebagian kelompok mereka dikenal sebagai perompak laut yang tangguh. Kemampuan navigasi dan penguasaan perairan Nusantara membuat mereka disegani. Namun, seiring waktu, mereka meninggalkan praktik tersebut dan beralih menjadi nelayan serta pelaut tradisional yang menetap di wilayah pesisir.

Kehidupan sosial masyarakat Bajo sangat bergantung pada hasil laut. Aktivitas sehari-hari mereka diisi dengan memancing, menjaring, hingga memanah ikan menggunakan cara-cara tradisional. Hasil tangkapan biasanya dijual kepada masyarakat di pesisir atau pulau terdekat. Selain menangkap ikan, sebagian masyarakat Bajo kini juga mulai mengembangkan budidaya komoditas bahari seperti lobster, udang, dan ikan kerapu.

Permukiman mereka dikenal unik karena dibangun di atas laut. Rumah adat Suku Bajo disebut lepa-lepa, berupa rumah panggung yang terapung atau berdiri di atas perairan dangkal. Rumah ini terbuat dari kayu tahan air yang diikat dengan tali rotan kuat, sementara lantainya menggunakan bambu yang disusun rapat untuk menjaga keseimbangan. Di dalamnya terdapat ruang tamu, kamar tidur, dapur, serta tempat penyimpanan hasil laut. Rumah bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keluarga dan adat.

Keunikan Suku Bajo juga terlihat dari bahasa dan keseniannya. Bahasa Bajo termasuk dalam rumpun Austronesia dengan beragam dialek. Dalam tradisi budaya, mereka memiliki tarian khas seperti Tari Katreji dan Tari Lariangi yang ditampilkan dalam upacara adat maupun festival lokal. Selain itu, masyarakat Bajo juga dikenal memiliki keahlian dalam membuat perahu tradisional, termasuk kapal phinisi yang kini banyak dimanfaatkan sebagai kapal wisata di Labuan Bajo.

Dalam hal busana adat, Suku Bajo memiliki pakaian tradisional yang mencerminkan identitas maritim mereka. Pakaian adat pria disebut Sarija, terdiri dari sigar (ikat kepala), kamas (baju atasan), saluar (celana), dan bidah (sarung). Sementara itu, pakaian adat perempuan disebut Samara yang terdiri dari Sigada, Kamada, Juada, dan Roktaha. Busana ini umumnya menggunakan warna-warna cerah, dipadukan dengan kain sarung bermotif serta aksesoris sederhana yang disesuaikan dengan acara dan status sosial.

Suku Bajo dapat ditemukan di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Permukiman mereka terdapat di Teluk Tomini, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah; Kepulauan Sula di Maluku Utara; Pulau Bungin di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat; serta di Kepulauan Wakatobi yang dikenal sebagai salah satu konsentrasi terbesar komunitas Bajo di Indonesia. Ciri khas permukiman tersebut adalah kampung terapung yang selalu berdampingan langsung dengan laut.

Suku Bajo menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat Indonesia mampu hidup berdampingan dengan alam laut secara turun-temurun. Dengan sejarah panjang, kehidupan sosial yang khas, serta kekayaan budaya yang tetap terjaga, Suku Bajo turut memperkaya mozaik keberagaman budaya Indonesia sebagai negara maritim.(Faidin)

Riset Ungkap Risiko Dekompresi Mengintai Nelayan, Perkuat Hasil Studi Prof. Herawati Tentang Suku Bajo

SIKKA, BAJOPOS.COM – Aktivitas menyelam yang menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat Bajo di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, ternyata menyimpan ancaman serius bagi kesehatan. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan risiko penyakit dekompresi (Decompression Sickness/DCS) pada nelayan penyelam tradisional masih tinggi, terutama akibat pola kerja tanpa standar keselamatan memadai.

Untuk diketahui, penyakit Dekompresi (Decompression Sickness/DCS) adalah gangguan kesehatan akibat penurunan tekanan lingkungan secara drastis, menyebabkan gas (terutama nitrogen) yang terlarut dalam darah dan jaringan membentuk gelembung. Gelembung ini menyumbat aliran darah dan merusak jaringan, umumnya dialami penyelam yang naik terlalu cepat, astronot, atau pekerja di udara bertekanan.

Temuan itu dipublikasikan dalam The Journal of Indonesian Industrial Hygiene Association Volume 1 Nomor 2, Agustus 2025. Studi tersebut merupakan tinjauan sistematis terhadap lima penelitian di Indonesia dan Chili dalam kurun 2016 hingga 2021.

Hasilnya konsisten: masa kerja panjang, frekuensi menyelam lebih dari tiga kali sehari, kedalaman dan lama menyelam, cara naik ke permukaan secara langsung, usia, serta riwayat penyakit menjadi faktor dominan pemicu dekompresi. Dalam salah satu penelitian, kedalaman menyelam disebut meningkatkan risiko hingga puluhan kali lipat.

Sejalan dengan Temuan Prof. Dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D.,

Hasil ini memperkuat penelitian yang sebelumnya dilakukan Prof. Dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D., peneliti genetika molekuler dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang kini terintegrasi dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Dalam risetnya mengenai populasi Suku Bajo di wilayah pesisir Kabupaten Sikka, Herawati menyoroti adaptasi biologis masyarakat Bajo yang dikenal sebagai “pengembara laut”. Secara genetik, mereka memiliki kemampuan menyelam lebih lama dibanding populasi darat.

Namun, adaptasi itu bukan jaminan kebal risiko. Secara praktik, nelayan Bajo di Sikka umumnya mulai menyelam sejak usia belasan tahun. Mereka bisa turun ke laut beberapa kali dalam sehari untuk mencari teripang, lobster, atau biota bernilai ekonomi tinggi. Tidak sedikit yang menggunakan kompresor sederhana tanpa prosedur dekompresi bertahap.

Keluhan Kesehatan yang Nyata

Berbagai laporan kesehatan di komunitas penyelam tradisional menunjukkan gejala yang serupa dengan DCS, seperti: nyeri sendi kronis, pusing dan vertigo setelah menyelam, gangguan pendengaran hingga ketulian, serta mati rasa pada anggota tubuh.

Dalam jurnal tersebut disebutkan, penyelam yang naik ke permukaan secara cepat memiliki risiko hingga enam kali lebih besar mengalami dekompresi dibanding mereka yang naik secara bertahap.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat jumlah nelayan Indonesia mencapai 2,4 juta orang pada 2022. Sebagian besar di wilayah pesisir timur, termasuk NTT, masih menggantungkan hidup pada metode tangkap tradisional yang berisiko tinggi.

Tantangan Keselamatan Kerja

Peneliti menyimpulkan, penyakit dekompresi pada nelayan tradisional kerap terjadi karena tidak terpenuhinya standar keselamatan dan penggunaan alat selam yang tidak sesuai ketentuan.

Di Sikka, persoalan ini tidak hanya soal teknis, tetapi juga sosial dan ekonomi. Bagi masyarakat Bajo, menyelam bukan sekadar pekerjaan, melainkan identitas dan warisan budaya.

Karena itu, intervensi kesehatan kerja dinilai harus mempertimbangkan pendekatan berbasis budaya. Edukasi tentang prosedur naik bertahap, pembatasan frekuensi menyelam, penggunaan alat selam standar, serta pemeriksaan kesehatan berkala menjadi langkah mendesak.

Antara Adaptasi dan Risiko

Riset genetika menunjukkan masyarakat Bajo memiliki keunggulan fisiologis untuk menyelam. Namun studi kesehatan kerja menegaskan bahwa paparan tekanan berulang dalam jangka panjang tetap membawa dampak pada sistem saraf, sendi, dan pendengaran.

Korelasi antara penelitian dekompresi dan studi Prof. Herawati Sudoyo menegaskan satu hal: adaptasi biologis tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan keselamatan kerja.

Dengan semakin meningkatnya tekanan ekonomi di sektor perikanan tradisional, perlindungan kesehatan nelayan Bajo di Sikka menjadi isu yang tak bisa ditunda. Tanpa intervensi yang tepat, risiko dekompresi bukan hanya ancaman individu, tetapi juga ancaman keberlanjutan generasi masyarakat pesisir.(Faidin) 

Asal-Usul Orang Bajo Masih Misterius, Peneliti Uji Hipotesis

Nusa Tenggara Timur, Bajopos.com – Di balik reputasi sebagai pelaut paling tangguh di Nusantara, asal-usul Orang Bajo hingga kini masih menjadi perdebatan ilmiah. Beragam teori bermunculan, mulai dari legenda Johor di Malaysia hingga hipotesis migrasi dari Sungai Barito di Kalimantan, namun belum satu pun yang benar-benar teruji secara komprehensif.

Dikutip dari National Geographic Indonesia, Orang Bajo—yang juga dikenal sebagai Sama Bajau, Orang Laut, atau Gipsi Laut—telah berabad-abad mengarungi perairan Asia Tenggara. Mereka kini tersebar di wilayah timur Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Filipina bagian selatan, terutama di kawasan Segitiga Terumbu Karang.

Ahli linguistik Phillippe Grange dari Universite La Rochelle mengungkapkan, berbagai teori telah diajukan untuk menjelaskan asal-usul komunitas maritim tersebut. Salah satu yang paling populer menyebut Orang Bajo berasal dari Johor.

Teori ini bertumpu pada legenda tentang Puteri Johor yang hilang. Dalam kisah tersebut, Orang Bajo diminta mencari sang puteri dan tidak boleh kembali sebelum menemukannya. Sejak saat itu, mereka diyakini terus mengembara di laut dan tidak pernah kembali ke tanah asal.

Namun, menurut Grange, teori tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. “Secara dongeng memang ada keterkaitan, tetapi tidak ada bukti arkeologi maupun linguistik yang menunjukkan bahwa Orang Bajo berasal dari Johor,” ujarnya dalam seminar bertema Austronesia Diaspora yang digelar Lembaga Eijkman di Jakarta.

Teori lain yang berkembang mengaitkan Orang Bajo dengan muara Sungai Barito. Hipotesis ini diperkuat oleh kemiripan sejumlah kosakata antara bahasa Dayak Ngaju dan Sama Bajau. Robert Blust dari University of Hawaii bahkan menyebut Orang Bajo mulai melaut sekitar abad ke-8 Masehi, bertepatan dengan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya.

Dalam skenario tersebut, Orang Bajo diduga berperan mendukung jaringan perdagangan maritim Sriwijaya dan kemudian bermigrasi ke wilayah Sulu di Filipina. Setelah invasi suku Tausug pada abad ke-13 dan penyebaran Islam pada abad ke-15, mereka kembali menyebar ke selatan hingga Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.

Meski demikian, para peneliti mengakui bahwa teori ini pun masih sebatas hipotesis.

Antropolog Tony Rudyansjah dari Universitas Indonesia menilai perpindahan Orang Bajo bisa saja terjadi secara sukarela seiring berkembangnya perdagangan maritim pada abad ke-8. Namun ia menegaskan bahwa penelitian lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan kebenarannya.

Upaya terbaru kini mengarah pada penelitian genetika molekuler. Herawati Sudojo dari Lembaga Eijkman menyatakan bahwa pengambilan dan perbandingan sampel DNA Orang Bajo dari berbagai wilayah dapat membantu memetakan jalur migrasi dan hubungan kekerabatan mereka.

Menurutnya, penelitian ini tidak hanya penting untuk mengungkap asal-usul Orang Bajo, tetapi juga berpotensi memberi gambaran lebih luas tentang migrasi manusia Austronesia, bahkan hingga ke Madagaskar.

Hingga kini, misteri asal-usul Orang Bajo masih terbuka. Di tengah berbagai hipotesis, satu hal yang pasti: komunitas ini telah membuktikan diri sebagai bagian penting dari sejarah maritim Nusantara, dengan laut sebagai ruang hidup sekaligus jejak perjalanan panjang yang belum sepenuhnya terungkap

Sumber : National Geographic Indonesia

Jejak Laut dalam Persepsi Pendidikan Suku Bajo: Studi UGM Ungkap Tantangan dan Rekomendasi Kebijakan

SIKKA, Bajopos.com – Penelitian akademik yang dikutip dari literatur Perpustakaan Universitas Gadjah Mada mengungkap bagaimana persepsi masyarakat Suku Bajo terhadap pendidikan formal dibentuk oleh filosofi hidup yang berakar kuat pada laut. Studi tersebut merupakan tesis S2 MPKD tahun 2009 yang ditulis Harmin dengan pembimbing Bakti Setiawan, M.A., Ph.D.

Penelitian yang dilakukan di Desa Matanauwe itu bertujuan menemukan faktor-faktor yang mendasari pola pikir masyarakat Suku Bajo hingga membentuk persepsi mereka terhadap manfaat pendidikan formal.

Laut sebagai Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan

Suku Bajo dikenal sebagai komunitas maritim yang mendiami wilayah laut di berbagai pulau di Indonesia, termasuk Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Dalam pandangan hidup mereka, laut bukan sekadar ruang geografis, melainkan representasi masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.

Filosofi tersebut memengaruhi orientasi hidup masyarakat Bajo yang terfokus pada laut sebagai pusat pengabdian dan sumber penghidupan.

Daratan dipandang bukan sebagai unsur utama, melainkan pelengkap kehidupan. Cara pandang ini kemudian berdampak pada pola pikir dan perilaku, termasuk dalam melihat manfaat pendidikan formal yang selama ini terpusat di darat.

Bagi masyarakat Bajo, sistem pendidikan formal dinilai kurang memberi manfaat langsung bagi kehidupan mereka yang sepenuhnya bergantung pada laut. Aktivitas melaut, menangkap ikan, serta keterampilan membaca arus dan cuaca dianggap lebih relevan dengan kebutuhan sehari-hari.

Pendidikan Formal Dinilai Kurang Relevan

Penelitian tersebut mencatat bahwa tingkat pendidikan masyarakat Suku Bajo relatif lebih rendah dibandingkan masyarakat yang tinggal di daratan. Rendahnya tingkat pendidikan ini tidak hanya dipengaruhi faktor akses, tetapi juga persepsi kolektif terhadap pentingnya sekolah formal.

Pengetahuan dan keterampilan kelautan diwariskan secara turun-temurun melalui pendidikan informal dan non formal dalam keluarga serta komunitas. Proses pembelajaran berlangsung langsung di laut, yang bagi masyarakat Bajo menjadi ruang belajar sekaligus ruang hidup.

Dari hasil penelitian, ditemukan tiga tema utama yang membentuk persepsi masyarakat terhadap pendidikan formal, yakni:

Formalitas pendidikan, di mana sekolah dipandang sebatas pemenuhan administratif, bukan kebutuhan substantif.

Menjunjung kehidupan tradisional, yaitu kuatnya nilai adat dan pola hidup turun-temurun.

Ketergantungan pada laut, yang menempatkan laut sebagai pusat pembelajaran dan penghidupan.

Ketiga tema tersebut kemudian dikerucutkan menjadi dua konsep besar. Pertama, pendidikan formal dianggap kurang relevan dengan realitas kehidupan masyarakat Bajo. Kedua, laut diposisikan sebagai wahana utama pembelajaran sekaligus sumber ekonomi.

Rekomendasi Program Berbasis Kelautan

Penelitian ini juga memberikan rekomendasi kebijakan. Pemerintah dan para pengambil keputusan didorong untuk merancang program pendidikan formal yang disesuaikan dengan bakat, minat, serta potensi alamiah masyarakat Suku Bajo.

Program yang berbasis laut atau pendidikan kontekstual dinilai lebih efektif. Misalnya, pengembangan kurikulum terkait pengelolaan sumber daya laut, teknologi perikanan, navigasi, hingga kewirausahaan berbasis maritim. Dengan pendekatan tersebut, pendidikan formal dapat menjadi sarana pemberdayaan tanpa mengabaikan identitas dan kearifan lokal masyarakat.

Penelitian ini menegaskan bahwa persoalan pendidikan di komunitas maritim seperti Suku Bajo bukan semata soal infrastruktur atau ketersediaan sekolah. Dimensi budaya memegang peran penting dalam menentukan penerimaan masyarakat terhadap sistem pendidikan nasional.

Studi tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa pembangunan pendidikan di Indonesia yang majemuk memerlukan pendekatan yang kontekstual dan sensitif terhadap karakter sosial-budaya setiap komunitas.

Bagi Suku Bajo, laut bukan hanya ruang mencari nafkah, tetapi juga ruang belajar yang membentuk jati diri mereka dari generasi ke generasi.(Faidin)

Riset Genetik Ungkap Bom Waktu Penyakit Kronis di Komunitas Suku Bajo Sikka

SIKKA, BAJOPOS.COM – Kehidupan pesisir yang selama ini identik dengan laut dan aktivitas fisik ternyata tak sepenuhnya melindungi warga Suku Bajo dari ancaman penyakit kronis.

Sebuah riset genetik dan kesehatan mengungkap fakta mengejutkan: obesitas, hipertensi, kolesterol tinggi hingga gangguan ginjal telah menjadi “bom waktu” kesehatan di tengah komunitas Suku Bajo di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Temuan ini merupakan hasil Studi Genetik dan Kesehatan yang dilakukan Tim Mochtar Riady Institute for Nanotechnology–Universitas Pelita Harapan (MRIN-UPH) berkolaborasi dengan Varian Bio dan Klinik Utama Agradace, yang meneliti warga Suku Bajo di Kampung Wuring, Kecamatan Alok Barat, serta Desa Nangahale, Kecamatan Talibura.

Hasil riset tersebut dipaparkan langsung oleh Prof. Herawati Sudoyo, MS, PhD, pada Senin, 2 Februari 2026, di Klinik Utama Agradace, Kelurahan Wolomarang, Jalan Trans Utara Flores.

Riset yang berlangsung selama 17–22 Juli 2023 itu melibatkan 266 responden berusia 22 hingga 85 tahun, terdiri dari 154 perempuan dan 112 laki-laki. Data menunjukkan, obesitas dan kelebihan berat badan lebih dominan dialami peserta perempuan, dengan 35 persen mengalami obesitas dan 48,1 persen obesitas sentral.

Tak hanya itu, lebih dari 83 persen peserta tercatat mengalami peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL). Kondisi kesehatan kian mengkhawatirkan karena 78 persen peserta menderita tekanan darah di atas normal, sementara 67 persen peserta laki-laki mengalami asam urat tinggi, dan 55 persen di antaranya merupakan perokok aktif.

Dalam aspek metabolik, riset mencatat 16 persen peserta mengalami pra-diabetes, 75 persen berada pada kondisi normal, dan 9 persen telah masuk kategori diabetes.

Sementara itu, pada fungsi ginjal, hasil studi menunjukkan 10 persen peserta mengalami gangguan ginjal kronis, 29 persen mengalami penurunan fungsi ginjal, dan 61 persen masih berada dalam kondisi normal. Gangguan ginjal ini mayoritas dipicu oleh asam urat tinggi dan hipertensi, dengan 55 persen kasus terkait asam urat dan 68 persen berkaitan dengan tekanan darah tinggi.

Prof. Herawati menegaskan, temuan riset ini seharusnya menjadi alarm keras bagi para pemangku kepentingan, terutama dalam merumuskan kebijakan kesehatan yang menitikberatkan pencegahan sejak dini, bukan sekadar pengobatan.

“Melihat data-data hasil riset ini membuat kita harus khawatir. Penyakit semakin tinggi, bahkan ada sekitar 45 orang yang antre untuk cuci darah. Cuci darah itu mahal. Bagaimana kalau kita bisa menurunkan hanya lima orang saja dari hipertensi, obesitas, atau diabetes. Penyakit-penyakit ini akan berdampak ke ginjal, kebutaan, hingga kelemahan otot. Kalau sudah dirawat dan diobati, biayanya sangat tinggi,” ungkap Prof. Herawati.

Ia menjelaskan, obesitas atau kelebihan berat badan erat kaitannya dengan perubahan pola makan dan gaya hidup masyarakat.

“Sekarang orang tidak lagi banyak melakukan aktivitas fisik. Pola makan lebih banyak gorengan dan lemak. Itu membuat tubuh menjadi gemuk. Padahal, gemuk berlebihan itu tidak sehat. Dari situ akan muncul penyakit lain seperti darah tinggi, diabetes, dan penyakit kronis lainnya,” jelasnya.

Menurutnya, dalam dunia kedokteran, pencegahan selalu jauh lebih murah dan lebih efektif dibandingkan pengobatan, terlebih untuk penyakit kronis yang berdampak jangka panjang terhadap kualitas hidup masyarakat.(Faidin)