(QULTUM) Makna Taqwa dan Tiga Dimensi Kecerdasan Ummat
SIKKA, BAJOPOS.COM – Momentum Ramadhan dimanfaatkan untuk memperkuat pemahaman keagamaan umat. Hal itu terlihat dalam kuliah tujuh menit (Qultum) yang disampaikan Risman di Masjid An-Nur Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Jumat (21/02/2026) usai sholat Isya, menjelang pelaksanaan shalat Tarawih.
Di hadapan jamaah, Risman mengajak umat Islam untuk mensyukuri nikmat kesehatan, kekuatan, serta kesempatan yang masih diberikan Allah SWT sehingga dapat menjalankan ibadah puasa dan amalan lainnya di bulan suci Ramadhan.
“Sudah sepatutnya kita bersyukur kepada Allah SWT karena atas kasih sayang-Nya kita masih dimudahkan menjalankan puasa dan ibadah lainnya. Semoga seluruh amal ibadah kita diridhai hingga akhir hayat,” ujarnya.
Puasa dan Orientasi Ketaqwaan
Dalam tausyiahnya, Risman menyoroti tujuan utama puasa sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui frasa la‘allakum tattaqun (agar kamu bertakwa). Menurutnya, pesan tersebut menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjadi sarana pembentukan karakter muslim yang bertakwa.
Ia menjelaskan bahwa takwa selama ini sering dimaknai sebagai menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Namun, makna tersebut perlu dipahami secara lebih komprehensif agar berdampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Agama mengatur dua hubungan besar, yakni hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesamanya. Ketika dua hal ini berjalan seimbang, maka itulah wujud takwa yang sebenarnya,” katanya.
Ilmu, Adab, dan Tradisi Keilmuan
Risman juga menyinggung pentingnya adab dalam menuntut ilmu agama. Ia mengisahkan bagaimana pada masa sahabat, seseorang rela menunggu di depan rumah gurunya dan tertidur hingga esok harinya hanya untuk mempelajari satu hadits. Ketekunan dan penghormatan kepada orang berilmu (guru) menjadi kunci dalam memperoleh keberkahan ilmu.
Menurutnya, ilmu agama saat ini terbuka luas untuk dipelajari, namun tetap membutuhkan kesungguhan dan etika. “Ilmu itu tidak cukup hanya didengar, tetapi perlu keseriusan dan adab dalam mempelajarinya,” ujarnya.
Tiga Dimensi Ketaqwaan
Lebih jauh, Risman menguraikan bahwa ketakwaan dapat dipahami melalui tiga dimensi utama.
Pertama, dimensi intelektual. Umat Islam didorong menggunakan akal untuk memahami ajaran agama, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui seruan agar manusia berpikir. Ilmu menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran beragama yang benar.
Kedua, dimensi spiritual. Ilmu yang harus diwujudkan dalam bentuk amal ibadah. Tanpa pengamalan, ilmu hanya menjadi pengetahuan yang tidak memberi dampak nyata.
Ketiga, dimensi sosial-emosional. Ketakwaan juga tercermin dalam kemampuan menjaga hubungan dengan sesama, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, serta membangun harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
“Ada orang yang berilmu dan rajin beribadah, tetapi kurang menjaga hubungan sosial. Ini menunjukkan bahwa ketakwaannya belum sempurna, yang demikian belumlah cukup,” tegasnya.
Keteladanan Rasulullah
Sebagai ilustrasi, Risman mengangkat kisah Nabi Muhammad SAW yang pernah melihat seorang pemuda keliru dalam melaksanakan shalat. Rasulullah tidak langsung menegur di tengah pelaksanaan shalat, melainkan menunggu hingga selesai, lalu membimbingnya dengan penuh kelembutan.
Pendekatan tersebut, menurutnya, menjadi contoh nyata bagaimana dakwah dijalankan dengan kebijaksanaan, tanpa menyakiti hati.
“Jika ada kesalahan, luruskan dengan cara yang santun, lalu ajarkan. Itulah akhlak Rasulullah,” ujarnya.
Qultum yang berlangsung singkat itu memberi pesan bahwa Ramadhan merupakan momentum membangun ketakwaan secara menyeluruh—tidak hanya dalam aspek ritual, tetapi juga dalam kecerdasan berpikir, kedalaman spiritual, serta kematangan sosial.
Reporter : Faidin

