Kam. Sep 24th, 2026

remaja

Kampanye Anti Tembakau Digelorakan di Alor, Generasi Muda Diajak Hidup Sehat

KALABAHI, Bajopos.com | Pemerintah Kabupaten Alor mengajak seluruh elemen masyarakat, gereja, sekolah hingga keluarga untuk bersama-sama mengkampanyekan pola hidup sehat dan memerangi kebiasaan merokok di kalangan anak muda demi menyelamatkan generasi masa depan Alor.

Ajakan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Alor, Melkisedek Bely, S.Sos., M.Si mewakili Bupati dan Wakil Bupati Alor saat membuka kegiatan Gerakan Anti Tembakau yang digelar bersama Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh dan Dinas Kesehatan Kabupaten Alor dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

Dalam sambutannya, Melkisedek menegaskan bahwa peningkatan angka harapan hidup harus dibarengi dengan pola hidup sehat masyarakat, khususnya generasi muda. Menurutnya, bonus demografi dan target pembangunan sumber daya manusia akan sulit tercapai apabila anak-anak muda tidak menjaga kesehatan sejak dini.

“Sesungguhnya kegiatan seperti ini harus didukung oleh semua pihak termasuk anak-anak muda kita. Jangan sampai angka harapan hidup meningkat tetapi pola hidup masyarakat tidak sehat. Itu akan mengganggu target pembangunan sumber daya manusia yang sudah kita siapkan,” ungkapnya.

Pemerintah Kabupaten Alor juga menyampaikan apresiasi kepada Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, Dinas Kesehatan dan seluruh pihak yang telah menggagas gerakan edukasi bahaya rokok bagi generasi muda.

Pemerintah berharap kampanye serupa tidak hanya dilakukan setiap peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, tetapi terus digelorakan sepanjang tahun melalui sekolah, gereja dan ruang-ruang publik lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Melkisedek menyoroti fenomena meningkatnya kebiasaan merokok di kalangan remaja yang kini mulai dianggap sebagai bagian dari tren sosial.

Menurutnya, banyak anak muda menganggap merokok sebagai simbol kedewasaan, kewibawaan hingga cara untuk terlihat keren di hadapan teman sebaya maupun lawan jenis.

“Anak-anak muda sekarang kadang menganggap merokok itu menunjukkan kedewasaan mereka. Seolah-olah kalau merokok mereka dianggap hebat, dihargai dan punya wibawa. Padahal sesungguhnya mereka sedang berhadapan dengan kondisi yang sangat memprihatinkan,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan hasil survei Yayasan Jantung Indonesia tahun 2025 yang menyebutkan sebanyak 77 persen siswa mulai merokok karena ditawari atau diajak oleh teman mereka.

Kondisi tersebut dinilai sangat berbahaya karena sebagian besar remaja belum memahami dampak buruk rokok terhadap kesehatan fisik maupun mental.

Disebutkan bahwa sebatang rokok mengandung lebih dari 4.000 senyawa kimia dan ratusan racun yang dapat merusak tubuh. Dampak merokok tidak hanya menurunkan kesehatan fisik, tetapi juga mempengaruhi fokus belajar, daya tangkap, energi hingga memicu kecemasan dan depresi pada remaja.

Karena itu, edukasi dinilai menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran generasi muda agar mampu meninggalkan kebiasaan merokok sejak dini.

Pemerintah Kabupaten Alor juga menegaskan bahwa saat ini negara sedang membuka banyak peluang masa depan bagi generasi muda, termasuk kesempatan menjadi anggota TNI, Polri maupun profesi lainnya. Namun peluang tersebut hanya dapat diraih apabila generasi muda memiliki pola hidup sehat dan disiplin menjaga diri.

“Pemerintah sedang menyiapkan masa depan anak-anak yang luar biasa. Sekarang kesempatan terbuka sangat besar. Tetapi bagaimana mereka bisa mencapai cita-cita kalau mereka hidup dengan kebiasaan merokok dan pola hidup yang tidak sehat,” tegasnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa generasi muda merupakan usia produktif yang nantinya akan menjadi kekuatan utama pembangunan daerah, gereja dan masyarakat. Karena itu seluruh pihak memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga dan membina kehidupan generasi muda agar bertumbuh sehat secara fisik maupun mental.

Mengakhiri sambutannya, Pemerintah Kabupaten Alor mengajak seluruh masyarakat untuk terus menggelorakan gerakan hidup sehat demi menyelamatkan generasi Alor.

“Kita berharap generasi Alor menjadi generasi yang sehat, kuat dan berkualitas untuk membangun gereja, membangun daerah dan masa depan Kabupaten Alor yang lebih baik,” ujarnya.

Kegiatan Gerakan Anti Tembakau tersebut kemudian resmi dibuka dengan harapan menjadi momentum bersama dalam membangun kesadaran hidup sehat di tengah masyarakat, khususnya bagi anak-anak dan remaja di Kabupaten Alor.

Reporter : Nursan | Editor : Faidin

LAGI, Bunuh Diri di Sikka, Psikiater Sorot Kinerja Dinas ; Kasus Akan Terus Terjadi

SIKKA, Bajopos.com | Kabupaten Sikka kembali diguncang peristiwa tragis bunuh diri yang kali ini menimpa seorang remaja perempuan berusia 13 tahun. Rentetan kasus serupa yang terus berulang membuat situasi daerah ini kian mengarah pada kondisi darurat kesehatan mental.

Korban berinisial HKN, seorang pelajar, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di dahan pohon pala menggunakan tali nilon pada Rabu (29/4/2026) sekitar pukul 00.25 WITA di Dusun Riidetut, RT/RW 002/001, Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang.

Peristiwa memilukan ini pertama kali diketahui oleh nenek korban, HH (71), yang sejak Selasa malam mencari cucunya karena tidak kembali ke rumah.

Pencarian yang melibatkan keluarga dan warga akhirnya berujung duka setelah korban ditemukan tak bernyawa sekitar 30 meter dari rumahnya.

Sikka Status Darurat

Rentetan kasus gantung diri yang terus terjadi di Kabupaten Sikka memunculkan keprihatinan mendalam. Fenomena ini dinilai tidak lagi berdiri sebagai kasus individual, melainkan telah berkembang menjadi krisis sosial yang membutuhkan penanganan serius dan terstruktur.

Sorotan tajam datang dari dokter spesialis kejiwaan RSUD TC Hillers Maumere, dr. Petrus Agustinus Seda Sega, MM, Sp.KJ. Ia secara tegas menilai pemerintah daerah, khususnya dinas terkait, belum menunjukkan langkah konkret dalam upaya pencegahan.

“Selama belum ada tindak lanjut dari Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial sebagai ujung tombak edukasi di masyarakat, kasus seperti ini akan terus terjadi,” tegasnya.

Menurutnya, dua instansi tersebut memiliki peran strategis dalam menjalankan program promotif dan preventif yang menyasar langsung masyarakat hingga tingkat bawah.

“Program promotif dan preventif itu ada di kedua dinas tersebut. Harus melibatkan aparat pemerintah dari pusat sampai ke tingkat RT. Ini bukan hanya tugas rumah sakit,” ujarnya menekankan.

Ia menambahkan, edukasi kesehatan mental dan peningkatan kepekaan sosial menjadi kunci utama untuk memutus mata rantai kasus bunuh diri yang kini kian marak terjadi di Sikka.

“Tujuannya jelas, agar masyarakat lebih peka terhadap kondisi psikologis di sekitarnya, terutama yang berpotensi berujung pada kematian,” lanjutnya.

Desak Tindakan Nyata

Pernyataan tegas dari psikiater tersebut menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah.

Tanpa intervensi serius, sistematis, dan menyentuh akar persoalan, Sikka berisiko terus kehilangan generasi mudanya akibat persoalan kesehatan mental yang terabaikan.

Kolaborasi lintas sektor—mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, tokoh agama, hingga masyarakat—dinilai menjadi langkah mendesak yang tidak bisa lagi ditunda.

Jika tidak, peristiwa serupa dikhawatirkan akan terus berulang, menjadikan tragedi sebagai siklus yang tak kunjung terputus.

Reporter: Faidin

Siswa SMA di Boawae Ditemukan Meninggal Gantung Diri di Pondok Kebun

MBAY, Bajopos.com – Seorang siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Boawae, Kabupaten Nagekeo, berinisial B, ditemukan meninggal dunia diduga akibat gantung diri menggunakan seutas tali nilon pada Jumat (10/4/2026).

Peristiwa tragis ini terjadi di sebuah pondok kebun yang berada di wilayah Kecamatan Boawae. Korban pertama kali ditemukan oleh warga yang hendak memberi makan ternak di lokasi tersebut.

Kasi Humas Polres Nagekeo, IPTU Daniel Melkianus Tunu, saat dikonfirmasi wartawan pada Jumat malam membenarkan kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa peristiwa itu diketahui sekitar pukul 10.45 WITA berdasarkan keterangan saksi di lokasi.

“Benar, telah terjadi peristiwa gantung diri yang menimpa seorang siswa SMA di wilayah Boawae. Korban ditemukan di sebuah pondok dalam kondisi tergantung dengan jeratan tali nilon di bagian leher,” ujar IPTU Daniel Melkianus Tunu.

Ia menjelaskan, berdasarkan keterangan saksi, kejadian bermula sekitar pukul 10.30 WITA saat salah satu saksi datang ke pondok untuk memberi makan dan minum sapi. Selang beberapa menit kemudian, saksi lainnya, Thomas To (TT), datang ke lokasi untuk mengambil air.

Saat itulah TT melihat korban sudah dalam posisi tergantung.

Dalam keterangannya, TT mengaku sempat memanggil korban karena mengira sedang bercanda.

“Saya lihat dia tergantung, saya kira dia main-main. Saya panggil dia, ‘Brian… Brian, mae main gila ola negha leza’ (Brian, jangan bercanda, ini sudah siang), tapi dia tidak jawab,” ungkap TT.

Karena tidak mendapat respons, TT mengaku sempat menyentuh bagian celana korban. Namun, ia kemudian merasa takut dan segera mencari pertolongan.

“Saya sempat pegang celananya karena tidak ada jawaban. Tapi saya takut, jadi saya lari ke pondok dekat dan kasih tahu saudara Kristoforus Abe bahwa korban gantung diri,” lanjutnya.

Karena kondisi Kristoforus Abe sedang sakit, TT kembali berlari mencari bantuan dan bertemu dengan saksi lain, Yohanes To. Ia kemudian menyampaikan kejadian tersebut sebelum keduanya kembali ke lokasi.

Setelah itu, mereka menghubungi keluarga korban serta meminta bantuan aparat kepolisian.

“Kami langsung ke TKP lagi dan telepon keluarga di kampung, lalu minta bantuan ke Polsek Boawae supaya datang amankan lokasi,” tambah TT.

Pihak kepolisian yang menerima laporan kemudian mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan pengamanan serta penyelidikan awal.

IPTU Daniel Melkianus Tunu menambahkan bahwa hingga saat ini pihak kepolisian masih melakukan pendalaman terkait motif korban mengakhiri hidupnya.

“Untuk motif, hingga saat ini masih dalam penyelidikan. Kami juga telah meminta keterangan dari para saksi yang pertama kali menemukan korban,” jelasnya.

Peristiwa ini menambah daftar kasus bunuh diri yang melibatkan pelajar di Nusa Tenggara Timur (NTT), dan menjadi perhatian serius bagi keluarga, sekolah, serta masyarakat untuk meningkatkan pengawasan dan pendampingan terhadap anak-anak dan remaja.

Reporter : Yosafan R. Dhae
Editor : Redaksi