Dari Spirit Ramadhan ke Jihad Keadaban: Pesan Idul Fitri 1447 H di Sikka
SIKKA, BAJOPOS.COM – Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah di Masjid Darussalam Waioti, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Waioti, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Jumat (20/3/2026), tidak hanya dimaknai sebagai hari kemenangan, tetapi juga sebagai titik awal jihad memperkokoh nilai keadaban bangsa.
Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sikka, Moh. Ihsan Wahab, S.HI., M.Pd., yang mengajak umat Islam untuk melanjutkan spirit Ramadhan dalam kehidupan nyata.

Khutbah diawali dengan salam dan puji syukur kepada Allah SWT serta ajakan untuk meningkatkan ketakwaan:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْعِيدَ ضِيَافَةً لِلْأَنَامِ، وَجَعَلَهُ مِنْ شَعَائِرِ الْإِسْلَامِ، حَرَّمَ فِيهِ الصِّيَامَ، وَأَحَلَّ فِيهِ الطَّعَامَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِقُ الْعَالَمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ خَيْرُ الْأَنَامِ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
Dalam khutbahnya, disampaikan bahwa Idul Fitri merupakan hari suka cita bagi seluruh umat Islam setelah menjalani proses panjang pembinaan spiritual selama bulan Ramadhan. Proses tersebut, menurutnya, adalah upaya penyadaran kembali akan pentingnya kehidupan ruhaniah yang transendental, yang selama ini sering tertutupi oleh dominasi kehidupan material yang profan.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Ia menjelaskan bahwa manusia hidup di bawah ketentuan Allah SWT hanya sementara di bumi. Namun, dalam realitasnya, manusia kerap terjebak dalam “tarikan gravitasi” kehidupan duniawi yang begitu kuat, hingga melupakan asal-usul ruh yang berasal dari Allah SWT.

Puasa, lanjutnya, menjadi sarana untuk melawan tarikan tersebut. Ibadah ini melatih manusia agar mampu mengangkat derajat dirinya secara spiritual, sedikit demi sedikit mendekati kesadaran ilahiah melalui ketakwaan dan kekhusyukan.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa capaian spiritual selama Ramadhan bukanlah akhir dari perjalanan. Justru setelah Idul Fitri, umat Islam diuji kembali untuk membuktikan kualitas iman melalui jihad dan kesabaran.
Hal ini ditegaskan dalam firman Allah SWT:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرُ اللَّهِ قَرِيبٌ
Dalam konteks kehidupan berbangsa, jihad dimaknai sebagai perjuangan luas untuk mengatasi krisis nilai keadaban yang kini terjadi di berbagai lini kehidupan. Ia menekankan bahwa nilai keadaban seperti keadilan, amanah, kejujuran, sopan santun, serta keberpihakan kepada kelompok lemah merupakan bagian penting dari jihad yang harus diperjuangkan bersama.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Khutbah tersebut juga menyoroti bahwa puasa Ramadhan sejatinya merupakan proses pembentukan karakter yang berkeadaban. Nilai-nilai yang dibangun melalui puasa meliputi keimanan, pengendalian diri, serta kehati-hatian dalam setiap tindakan.
Ibadah puasa melatih manusia untuk menahan diri, bahkan dari hal-hal yang pada dasarnya diperbolehkan. Tujuannya agar manusia lebih mampu menghindari hal-hal yang jelas dilarang, seperti kezaliman, korupsi, ketidakjujuran, serta sikap tidak amanah.
Ia menegaskan bahwa perilaku seperti korupsi tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga merusak kesucian jiwa, menzalimi orang lain, serta menghancurkan peradaban.
Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Selain pembentukan karakter, puasa juga mengajarkan empati sosial. Pengalaman menahan lapar dan dahaga selama Ramadhan menjadi sarana untuk merasakan penderitaan kaum miskin dan mereka yang kekurangan.

Dari pengalaman tersebut, diharapkan tumbuh kepedulian untuk membantu sesama, sehingga distribusi kesejahteraan tidak hanya berpusat pada kelompok yang mampu.
اللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Ia menegaskan bahwa keberpihakan kepada kaum lemah akan menghadirkan pertolongan Allah SWT bagi kehidupan bangsa.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Lebih lanjut, khutbah tersebut mengajak umat Islam untuk menjaga kelembutan hati sebagai buah dari proses penyucian jiwa selama Ramadhan. Kelembutan hati ini harus diwujudkan dalam kehidupan sosial melalui sikap saling menghormati, tidak saling menzalimi, serta menghindari konflik yang merusak persatuan.
Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membangun kebersamaan dan memanfaatkan seluruh potensi untuk menciptakan masa depan yang berkeadaban.
Di akhir khutbah, khatib mengajak jamaah untuk memanjatkan doa, memohon ampunan, keberkahan, serta keselamatan bagi umat Islam dan bangsa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَجَمِيعَ عِبَادَاتِنَا
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Khutbah ini menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum melanjutkan perjuangan moral untuk membangun bangsa yang berkeadaban.
Penulis : Faidin







