Kam. Sep 24th, 2026

Pulau Babi

Masjid Baiturrahim Diberi Tanda Merah, Umat di Nebura Terpaksa Shalat di Luar

SIKKA, Bajopos.com | Puluhan tahun menjadi tempat umat Muslim menunaikan ibadah, Masjid Baiturrahim Nebura di Desa Koja Gete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini tak lagi bisa digunakan.

Bangunan masjid yang telah berusia puluhan tahun itu mengalami kerusakan cukup parah setelah gempa yang mengguncang wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Sejumlah bagian dinding retak, sementara kondisi bangunan secara keseluruhan membutuhkan rehabilitasi berat.

Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, bantuan untuk perbaikan masjid nyaris tak kunjung datang.

Pengurus Masjid Baiturrahim Nebura, Suhut Firmansyah, mengatakan sejak gempa besar Flores 1992 yang berpusat di Pulau Babi, masjid tersebut baru tiga kali mendapat rehabilitasi ringan melalui bantuan Kesra.

Setelah itu, belum ada bantuan rehabilitasi kembali, sementara kondisi bangunan terus menua.

“Selama ini setelah gempa 1992, masjid ini baru dilakukan rehab ringan sebanyak tiga kali dari bantuan Kesra. Setelah itu sampai sekarang belum ada bantuan, sementara kondisinya sudah harus rehab berat,” kata Suhut, Jumat (11/9/2026).

Masjid Baiturrahim memiliki sejarah panjang yang tak bisa dilepaskan dari tragedi gempa dan tsunami Flores 1992 silam.

Tiang-tiang yang digunakan pada bangunan masjid saat ini merupakan bagian dari masjid lama yang sebelumnya berdiri di kawasan pinggir pantai.

Setelah gempa 1992, pengurus bersama umat memindahkan masjid ke wilayah yang lebih tinggi karena dinilai lebih jauh dari ancaman kawasan pantai.

Namun, lebih dari tiga dekade kemudian, bangunan tersebut kembali menghadapi persoalan serius.

Usia bangunan yang sudah tua berpadu dengan dampak gempa terbaru membuat kondisi masjid semakin mengkhawatirkan.

Dipasang Tanda Merah, Umat Shalat di Luar

Persoalan Masjid Baiturrahim Nebura kini bukan lagi sebatas kebutuhan renovasi.

Pihak Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Sikka bahkan telah datang meninjau kondisi bangunan dan memasang tanda merah sebagai peringatan agar masjid untuk sementara tidak digunakan.

“Kemarin mereka dari PU datang pasang tanda merah. Katanya tidak bisa digunakan dulu karena rusaknya parah akibat gempa kemarin. Jadi harus salat di luar,” ujar Suhut.

Kondisi tersebut membuat umat harus melaksanakan ibadah di luar bangunan masjid.

Bagi masyarakat setempat, situasi ini tentu bukan perkara sederhana. Masjid merupakan pusat kegiatan keagamaan umat, tetapi kini justru menjadi bangunan yang harus dijauhi karena alasan keselamatan.

Menanti Perhatian Pemerintah

Pengurus masjid berharap pemerintah dapat mempercepat realisasi bantuan apabila memang tersedia program bantuan untuk rumah ibadah.

Harapan itu muncul di tengah kebutuhan mendesak agar Masjid Baiturrahim dapat kembali digunakan dengan aman.

Suhut berharap proses bantuan untuk rehabilitasi masjid tidak berlarut-larut.

“Semoga bantuan rehabilitasi bisa dipercepat kalau benar ada anggaran bantuan untuk rumah ibadah,” ujarnya.

Kondisi Masjid Baiturrahim Nebura menjadi potret lain dari kebutuhan rumah ibadah yang membutuhkan perhatian serius setelah bencana.

Masjid yang dibangun dan dipelihara umat selama puluhan tahun itu kini tidak hanya menghadapi persoalan usia, tetapi juga kerusakan akibat gempa.

Tanda merah yang terpasang di depan bangunan seakan menjadi pesan terbuka: rumah ibadah itu membutuhkan pertolongan sebelum kerusakannya semakin parah.

Umat di Nebura kini hanya bisa menunggu—antara shalat di luar dan harapan agar pemerintah serta pihak-pihak yang peduli segera datang membawa solusi.

Reporter : Faidin

4 Kru KM Putra Cantika Selamat Setelah Terombang Ambing di Antara Pulau Pemana dan Pulau Babi

SIKKA, Bajopos.com | Ketegangan di tengah laut akhirnya berujung lega. Empat kru Kapal Motor (KM) Putra Cantika yang sempat terombang-ambing tanpa daya di perairan antara Pulau Pemana dan Pulau Babi, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, berhasil ditemukan dalam kondisi selamat oleh Tim SAR Gabungan, Kamis (16/4/2026).

Insiden bermula saat kapal yang berlayar dari Pelabuhan Benoa, Bali menuju Maluku Tenggara itu dilaporkan mengalami kerusakan mesin di tengah laut.

Informasi darurat tersebut diterima dari Stasiun Radio Pantai (SROP) Maumere dan langsung direspons cepat oleh Kantor SAR Maumere.

Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, yang bertindak sebagai SAR Mission Coordinator (SMC), mengungkapkan bahwa pihaknya segera mengerahkan KN SAR Puntadewa 250 menuju titik koordinat awal kejadian.

“Setelah menerima laporan dari SROP Maumere, kami langsung mengerahkan KN SAR Puntadewa 250 menuju lokasi pada koordinat 08°12’58″S – 122°26’24”E atau sekitar 27 nautical mile dari Pelabuhan Wuring Maumere,” ujarnya.

Upaya pencarian tidak berlangsung sia-sia. Pada pukul 15.39 WITA, tim berhasil menemukan KM Putra Cantika dalam kondisi terapung tanpa kendali, bergeser sekitar 1,15 mil laut dari titik awal kerusakan mesin.

“Seluruh kru berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat dan langsung dipindahkan ke KN SAR Puntadewa 250,” jelas Fathur.

Para kru kemudian dibawa menuju Pulau Pemana sebagai titik aman terdekat. Di sana, Tim SAR Gabungan berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk penanganan lanjutan.

Warga dan aparat Desa Pemana pun menunjukkan solidaritas dengan menyediakan tempat tinggal sementara bagi keempat kru, sambil menunggu proses perbaikan kapal sebelum melanjutkan pelayaran ke Maluku Tenggara.

Operasi SAR resmi ditutup setelah seluruh personel kembali dengan selamat ke Pelabuhan Wuring pada pukul 19.30 WITA.

Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dan respon cepat dalam menghadapi kondisi darurat di laut, terutama di wilayah perairan yang rawan cuaca dan gangguan teknis.

Keberhasilan evakuasi ini sekaligus menegaskan sinergi efektif antara Tim SAR, aparat desa, dan masyarakat dalam menyelamatkan nyawa di tengah situasi genting.

Reporter : Faidin