Rab. Sep 23rd, 2026

Pengungsi Sikka

Jusuf Kalla Ke Maumere, “Rumah Tak Hancur, Mengapa Mereka Belum Berani Pulang?”

SIKKA, Bajopos.com | Ada rumah yang hanya retak. Ada yang bahkan masih berdiri kokoh. Namun, bagi sebagian warga terdampak gempa di Kabupaten Sikka, pulang ternyata bukan sekadar soal apakah rumah masih layak ditempati.

Pulang membutuhkan rasa aman. Dan rasa aman itulah yang belum sepenuhnya kembali.

Potret itu terlihat ketika Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI sekaligus Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla (JK), menemui warga yang masih bertahan di Posko Pengungsian Gelora Samador, Jumat (28/8/2026) pagi.

Di hadapan JK, seorang pengungsi mengungkapkan alasan dirinya belum berani kembali ke rumah.

Rumahnya memang hanya mengalami keretakan ringan. Namun setiap kali membayangkan harus tidur kembali di rumah, terutama pada malam hari, rasa cemas muncul.

“Kalau kami pulang sebentar, hati kami masih berdebar-debar. Malam terjadi apa-apa,” ujarnya.

JK kemudian bertanya singkat.

“Takut lagi?”

“Takut lagi, masih,” jawab warga tersebut.

Jawaban itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi di baliknya ada trauma yang tidak bisa diukur menggunakan meteran kerusakan bangunan.

Dinding bisa diperiksa. Retakan bisa dihitung. Tetapi rasa takut tidak punya ukuran.

Pengungsi lainnya bahkan mengaku semakin khawatir karena di rumah mereka terdapat anak-anak kecil dan bayi.

“Kalau sampai di rumah kami punya hati sudah deg-deg begitu. Malam… kejadian malam,” katanya.

“Malam kembali lagi?” tanya JK.

“Iya, malam. Apalagi ada cucu, anak-anak kecil semua, bayi-bayi. Yang kami takutkan ini,” jawabnya.

Bukan Tak Mau Pulang, Tapi Belum Berani

Di titik inilah persoalan pengungsian pascagempa menjadi lebih kompleks.

Warga bukan tidak ingin kembali ke rumah. Mereka ingin pulang.

Mereka ingin kembali memasak di dapur sendiri, tidur di kamar sendiri, membuka pintu rumah sendiri dan menjalani kehidupan seperti sebelum gempa.

Tetapi ingatan tentang guncangan membuat malam hari menjadi sesuatu yang menakutkan.

Bagi keluarga yang memiliki bayi dan anak kecil, keputusan untuk pulang bahkan terasa jauh lebih berat.

Sebab, jika gempa kembali terjadi, bukan hanya keselamatan diri yang dipikirkan. Ada anak-anak yang harus diselamatkan.

Karena itu, kepulangan pengungsi seharusnya tidak hanya dilihat dari kondisi fisik bangunan, tetapi juga dari kesiapan mental dan rasa aman penghuninya.

Kata JK, Kehidupan Harus Kembali

JK meminta masyarakat bersabar. Menurut dia, setelah masa tanggap darurat, kehidupan harus perlahan dipulihkan.

“Yang penting untuk sekarang ini harus rehabilitasi dan juga perbaikan kehidupan, kembali pekerjaan nanti pada waktunya. Anak-anak sekolah tentu kembali ke sekolah, perbaikan-perbaikan semuanya,” kata JK.

Ia memastikan PMI terus membantu kebutuhan masyarakat terdampak bencana.

“Palang Merah selalu membantu sejak awal dan juga kebutuhan-kebutuhan sehari-hari, apa-apa yang dibutuhkan. Hari ini ada kapal bantuan di Labuan Bajo, disebarkan ke seluruh daerah Flores,” ujarnya.

Menurut JK, penanganan bencana membutuhkan gotong royong semua pihak.

“Karena bagi kita semua sesama manusia, tentu harus selalu sama-sama membantu,” katanya.

Sembako Diminta, Masa Depan Anak Juga Dipikirkan

Ketika JK bertanya mengenai kebutuhan mendesak warga, jawaban pengungsi terdengar hampir bersamaan.

“Sembako! Sembako, Pak!”

Namun dari tengah kerumunan muncul suara lain.

“Kebutuhan sekolah… Beasiswa buat anak sekolah… Sembako, Pak! Beasiswa.”

Permintaan itu menunjukkan satu hal: warga tidak ingin selamanya hidup dalam situasi darurat.

Mereka ingin kembali berdaya.

Mereka ingin anak-anak kembali sekolah.

Mereka ingin kehidupan ekonomi kembali berjalan.

Dan mereka ingin bantuan yang diterima hari ini menjadi jembatan menuju kehidupan normal, bukan membuat mereka terus bergantung pada posko.

JK pun meminta masyarakat bersabar.

“Karena itu, saya minta kesabaran Ibu-Ibu. Nanti kita selesaikan semuanya bantuan yang ada. Baik tentang materi, tentang pendidikan, dan sebagainya,” katanya.

Dalam suasana yang sebelumnya serius, JK sempat melontarkan candaan. Para pengungsi pun tertawa.

Di tengah ketakutan yang masih tersisa, tawa itu menjadi pengingat bahwa pemulihan bukan hanya tentang membangun kembali rumah.

Pemulihan juga berarti mengembalikan keceriaan.

655 Jiwa Masih Bertahan

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, mengatakan jumlah pengungsi di Gelora Samador terus berubah seiring proses pemulangan warga.

“Sampai hari ini sekiranya data terakhir dari tadi malam sampai pagi tadi sisa 600-an, 655 jiwa,” kata Juventus.

Pemerintah terus berkoordinasi dengan BNPB dan BMKG untuk memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang benar mengenai perkembangan situasi gempa.

Juventus juga meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak jelas sumbernya, terutama kabar yang beredar melalui media sosial.

“Kami berdasarkan arahan dari BNPB, dari BMKG, untuk terus melakukan komunikasi menyampaikan perihal kondisi riil hari ini dan memberikan kekuatan kepada mereka, seluruh masyarakat kami bahwa tidak perlu percaya yang hoaks, informasi-informasi di sosial media dan lain sebagainya yang bisa kemudian menyesatkan,” ujarnya.

Mengobati Luka yang Tak Terlihat

Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis warga.

Menurut Juventus, aktivitas psikososial bagi anak-anak terus dilakukan di lokasi pengungsian dengan melibatkan relawan dari Kementerian Sosial. Pendampingan juga diberikan kepada orang tua.

“Selain kita siapkan kebutuhan makan, minum, dan tidurnya, tetapi aktivitas psikososial untuk anak-anak… kami terus-menerus melakukan pendampingan ini, baik pada anak-anak maupun pada orang tua,” katanya.

Sebab, gempa memang berhenti mengguncang tanah, tetapi rasa takut tidak selalu berhenti pada saat yang sama.

Bagi sebagian warga, suara malam masih mengingatkan mereka pada guncangan.

Bagi orang tua, rumah yang retak masih menyimpan pertanyaan: aman atau tidak jika anak-anak kembali tidur di sana?

Dan bagi mereka yang masih berada di Gelora Samador, bertahan di tenda bukan berarti tidak ingin pulang.

Mereka hanya sedang menunggu satu hal yang paling sederhana, tetapi paling sulit dikembalikan setelah bencana: rasa aman.

Kunjungan JK ke Gelora Samador merupakan bagian dari kunjungan kerjanya ke Kabupaten Sikka setelah bertolak dari Surabaya dan tiba di Bandara Frans Seda, Maumere, Jumat (28/8/2026) sekitar pukul 09.35 Wita.

Reporter : Faidin

Jusuf Kalla Dijadwalkan Tiba di Maumere 28 Agustus, Tinjau Lokasi Pengungsian Korban Gempa

SIKKA, Bajopos.com | Mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (JK), dijadwalkan mengunjungi Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat, 28 Agustus 2026, untuk meninjau langsung lokasi pengungsian dan kondisi warga terdampak bencana gempa bumi di Maumere.

Agenda kunjungan tersebut diterima media ini dan merupakan bagian dari rangkaian perjalanan JK setelah menghadiri pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Berdasarkan agenda yang diterima, JK dijadwalkan bertolak dari Bandara Juanda, Surabaya, menuju Maumere menggunakan penerbangan pada pukul 07.00 WIB. Pesawat dijadwalkan tiba di Bandara Frans Seda, Maumere, Kabupaten Sikka, sekitar pukul 09.35 WITA.

Setibanya di Maumere, sekitar pukul 10.30 WITA, JK dijadwalkan melakukan peninjauan lokasi pengungsian korban bencana gempa bumi di wilayah Maumere dan sekitarnya.

Namun, dalam agenda yang diterima media ini, lokasi pengungsian yang akan dikunjungi masih belum dicantumkan secara spesifik.

Setelah peninjauan, JK dijadwalkan melaksanakan Salat Jumat pada pukul 11.45 WITA di salah satu masjid yang juga belum disebutkan dalam agenda tersebut.

Selanjutnya, sekitar pukul 14.00 WITA, JK dijadwalkan meninggalkan Maumere melalui Bandara Frans Seda menuju Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Pesawat dijadwalkan tiba di Bandara Komodo, Labuan Bajo, sekitar pukul 14.35 WITA.

Di Labuan Bajo, rangkaian agenda JK akan dilanjutkan dengan peninjauan gudang logistik di Posko PMI pada pukul 15.00 WITA.

Satu jam kemudian, sekitar pukul 16.00 WITA, JK dijadwalkan meninjau lokasi kerusakan serta tempat pengungsian korban gempa bumi di wilayah Kabupaten Manggarai Barat.

Setelah seluruh rangkaian kunjungan selesai, JK dijadwalkan bertolak dari Bandara Komodo menuju Jakarta pada pukul 17.30 WITA dan tiba di Bandara Halim Perdanakusuma sekitar pukul 18.50 WIB.

Sebelum menuju NTT, JK terlebih dahulu dijadwalkan menghadiri pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Lapangan Untung Suropati, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Kamis malam, 27 Agustus 2026.

Dari Jakarta, JK dijadwalkan berangkat dari Bandara Halim pada pukul 15.00 WIB menuju Bandara Juanda, Surabaya, dan diperkirakan tiba sekitar pukul 16.30 WIB.

Perjalanan kemudian dilanjutkan melalui jalur darat menuju Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang. JK dijadwalkan tiba di lokasi sekitar pukul 19.00 WIB untuk menghadiri pembukaan Muktamar NU ke-35.

Usai kegiatan, JK dijadwalkan kembali menuju Surabaya dan beristirahat di Hotel Best Western De Papilio, Jalan Ahmad Yani, Wonocolo, Surabaya.

Kunjungan JK ke Maumere menjadi perhatian di tengah proses pemulihan masyarakat terdampak gempa bumi Flores yang masih membutuhkan penanganan, terutama terkait kondisi pengungsian, kebutuhan dasar, serta dukungan pemulihan pascabencana.

Agenda yang diterima media ini masih mencantumkan beberapa lokasi dengan tanda titik-titik, sehingga lokasi pengungsian dan masjid yang akan dikunjungi JK di Kabupaten Sikka masih menunggu kepastian lebih lanjut.

Reporter : Faidin

Danlanal Maumere Tegaskan Bantuan Gempa Agar Tepat Sasaran dan Dibagi Adil, Jangan Ada Pengungsi Terlewat

SIKKA, Bajopos.com | Penyaluran bantuan bagi warga terdampak gempa bumi Flores di sejumlah posko pengungsian di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, mendapat perhatian serius dari Komandan Lanal (Danlanal) Maumere, Kolonel Laut (P) Yoyok Ary N.A.S., M.Tr.Opsla.

Pesan tegas disampaikan Komandan Lanal Maumere di tengah proses pendistribusian bantuan CSR Telkomsel bersama Lanal Maumere kepada para pengungsi, Jumat (21/8/2026).

Yoyok menekankan agar bantuan yang telah disalurkan benar-benar diterima oleh masyarakat yang terdampak, dibagikan secara adil dan tidak menimbulkan ketimpangan di antara para pengungsi.

Pesan tersebut disampaikan saat dirinya bersama jajaran Lanal Maumere mendampingi distribusi bantuan di sejumlah titik pengungsian, termasuk Desa Nangahale, Posko Tanjung Darat, Posko Kantor Kecamatan Talibura, Posko Eks Pasar Talibura hingga Desa Henga, Dusun Henga.

Dalam kesempatan tersebut, perhatian Komandan Lanal tidak hanya tertuju pada proses pengangkutan dan penyerahan bantuan. Ia juga menyambangi langsung para pengungsi dan berkomunikasi dengan pihak yang bertanggung jawab di lokasi.

Jangan Sampai Bantuan Tidak Merata

Komandan Lanal Maumere meminta kepala desa dan pengelola posko memastikan bantuan yang diterima dari pihak luar disalurkan kepada warga sesuai data dan kondisi riil di lapangan.

Pesan tersebut menjadi penting mengingat sebelumnya sempat muncul keluhan dan protes warga terkait pembagian bantuan di sejumlah lokasi pengungsian.

Menurut Yoyok, bantuan kemanusiaan yang datang merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang sedang mengalami musibah. Karena itu, proses pembagiannya harus dilakukan secara transparan, adil dan mengutamakan warga yang benar-benar membutuhkan.

Ia meminta tidak boleh ada warga terdampak yang terlewatkan, sementara bantuan justru menumpuk atau tidak tersalurkan kepada penerima yang membutuhkan.

Komandan Lanal Turun Langsung ke Posko

Kolonel Laut (P) Yoyok Ary N.A.S. bersama istrinya, Ny. Diani Yoyok Ary, Ketua Cabang 3 Daerah Kodaeral VII, turut menyambangi para pengungsi dari posko ke posko.

Keduanya tampak memberikan motivasi kepada warga yang masih bertahan di tenda pengungsian setelah gempa yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.

Suasana haru terlihat ketika Yoyok duduk bersama para pengungsi. Perhatiannya tertuju kepada para lansia dan anak-anak yang masih harus menjalani hari-hari di tengah keterbatasan di lokasi pengungsian.

Kehadiran tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan moral kepada warga yang hingga hari ketujuh pascagempa masih belum sepenuhnya dapat kembali ke rumah.

Kawal Distribusi Bantuan Telkomsel

Dalam kegiatan tersebut, Lanal Maumere membantu distribusi bantuan dari program CSR Telkomsel Peduli Gempa Flores 2026.

Bantuan yang disalurkan antara lain makanan ringan, mi instan, air mineral, tikar, selimut, obat-obatan dan vitamin.

Bantuan diangkut menggunakan mobil truk dan mobil box Lanal Maumere untuk kemudian didistribusikan ke sejumlah titik pengungsian.

Territory Mobile Consumer Business (TMCB)/PIC Telkomsel, M. Iskandar Syah, sebelumnya menjelaskan bahwa distribusi bantuan dilakukan berdasarkan koordinasi dengan pemerintah daerah dan koordinator posko.

Telkomsel juga telah berpesan agar bantuan yang disalurkan dapat diterima secara merata dan tepat sasaran.

Sementara itu, kehadiran Lanal Maumere menjadi bagian dari upaya memastikan proses distribusi berjalan dengan baik di lapangan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut ibu-ibu anggota Lanal Maumere (Jalasenastri), serta prajurit Lanal Maumere lainnya.

Pesan Komandan Lanal Maumere menjadi pengingat bahwa dalam situasi bencana, bantuan bukan sekadar soal jumlah yang disalurkan, tetapi bagaimana bantuan tersebut benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan secara adil dan tepat sasaran.

Reporter : Faidin

Kolaborasi Telkomsel dan Lanal Maumere Sambungkan Senyuman Melalui Program CSR, Peduli Gempa Flores

SIKKA, Bajopos.com | Kepedulian terhadap warga terdampak gempa bumi Flores terus ditunjukkan Telkomsel melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) atau (Tanggung Jawab Sosial Perusahaan) Peduli Gempa Flores 2026.

Tak hanya menyasar wilayah perkotaan, bantuan Telkomsel didorong hingga ke titik-titik pengungsian yang berada jauh dari pusat Kabupaten Sikka.

Pada Jumat (21/8/2026), atau hari ketujuh pascagempa, Telkomsel bersama Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Maumere menyambangi sejumlah posko pengungsian di Kecamatan Talibura, termasuk Desa Nangahale.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari distribusi CSR Telkomsel yang dilakukan secara bertahap untuk memastikan bantuan menjangkau masyarakat yang terdampak langsung bencana.

Territory Mobile Consumer Business (TMCB)/PIC Telkomsel, M. Iskandar Syah, mengatakan penyaluran bantuan kali ini merupakan gelombang kedua atau bagian kedua dari program CSR Telkomsel untuk korban gempa.

“Jadi hari ini kami habis kegiatan CSR dari Telkomsel Pusat. Kebetulan ini gelombang kedua atau part kedua dan alhamdulillah kami juga didukung oleh Lanal Maumere dalam distribusi sumbangan ke posko-posko,” ujar Iskandar kepada awak media.

Menurutnya, data penerima bantuan diperoleh melalui koordinasi dengan pemerintah daerah sehingga pendistribusian diarahkan ke titik-titik pengungsian yang membutuhkan.

“Bagian data ini kami bekerja sama dengan Pemda. Untuk yang kedua ini kami ke arah timur,” jelasnya.

Nangahale Jadi Titik Awal

Desa Nangahale menjadi titik pertama yang disambangi Telkomsel dan Lanal Maumere. Berdasarkan data yang diterima Telkomsel, terdapat sekitar 3.345 jiwa yang mengungsi di wilayah tersebut.

Dari Nangahale, rombongan kemudian bergerak menuju Kecamatan Talibura. Di wilayah ini bantuan didistribusikan ke tiga titik, yakni Posko Tanjung Garat, Posko Kantor Kecamatan Talibura, dan Posko Eks Pasar Talibura.

Perjalanan distribusi kemudian berlanjut ke titik terakhir di Desa Henga, Dusun Henga.

Iskandar menegaskan, Telkomsel berupaya agar program CSR tersebut tidak hanya berhenti di wilayah yang mudah dijangkau, tetapi benar-benar sampai kepada masyarakat terdampak.

“Dari segi masyarakat yang terdampak atau yang mengungsi jelas, dan ini juga salah satu upaya kami untuk menyalurkan program CSR sampai ke masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Ia menyebut bantuan yang diberikan merupakan bentuk tanggung jawab Telkomsel dalam menjalankan mandat dari pusat.

Namun, Iskandar mengingatkan bahwa bantuan tersebut bukan dimaksudkan untuk menggantikan seluruh kebutuhan pengungsi.

“Bantuan ini bukan untuk menggantikan kebutuhan sehari-hari atau memenuhi seluruh kebutuhan sehari-hari, melainkan sebagai pelengkap apa yang kurang. Setidaknya yang kurang kita cukupi,” ujarnya.

Makanan, Air Mineral hingga Obat dan Vitamin

Dalam program CSR tersebut, Telkomsel menyalurkan berbagai kebutuhan dasar pengungsi. Bantuan antara lain berupa makanan ringan, mi instan, air mineral, tikar, selimut, obat-obatan serta vitamin.

Menurut Iskandar, pemberian vitamin dan obat-obatan menjadi penting karena kondisi pengungsian yang berlangsung berhari-hari dapat menyebabkan warga mengalami berbagai kekurangan, terutama kebutuhan penunjang kesehatan.

“Kita tahu di tempat pengungsian pasti ada kekurangan vitamin. Kami berharap vitamin ataupun obat-obatan yang kami berikan benar-benar bisa digunakan oleh pengungsi sebagai sarana untuk mereka tetap sehat,” katanya.

Memasuki hari ketujuh pascagempa, Telkomsel juga berharap kondisi segera pulih sehingga masyarakat dapat kembali ke rumah masing-masing.

“Kita berdoa bersama agar bencana ini cepat selesai, disudahi dan tidak terjadi lagi. Kita berharap semua pengungsi bisa kembali ke rumah dengan nyaman, kembali ke keluarga, sehingga bisa menjalani hidup seperti biasanya,” tutur Iskandar.

CSR Telkomsel Menjangkau Sikka, Nagekeo hingga Reo

Program Peduli Gempa Flores 2026 tidak hanya menyasar Kabupaten Sikka.

Iskandar menjelaskan, distribusi CSR Telkomsel juga dilakukan di sejumlah wilayah terdampak lainnya di Flores, termasuk Nagekeo, Manggarai dan kawasan Reo.

“Teman-teman yang lain tersebar di Nagekeo. Itu yang CSR pertama. Yang CSR kedua sedang berlangsung untuk area Manggarai dan juga sekitarnya sampai ke Reo. Dan juga Mbay yang kemarin terkena bencana,” jelasnya.

Telkomsel juga menyiapkan distribusi lanjutan ke wilayah barat Flores. Menurut Iskandar, rencana tersebut akan dikoordinasikan setelah pihak manajemen Telkomsel melakukan kunjungan ke Labuan Bajo.

Jaringan Telkomsel Dipastikan Pulih 100 Persen

Selain bantuan logistik, Telkomsel juga menaruh perhatian besar terhadap keberlangsungan jaringan telekomunikasi pascagempa.

Iskandar mengatakan, sejak hari pertama setelah bencana, Telkomsel langsung melakukan pemulihan jaringan.

“Di hari H1 setelah bencana, kami sudah mulai melakukan perbaikan dari 85 persen. Sampai H3 kami sudah bisa mengklaim 100 persen karena kami sudah memastikan seluruh site ataupun BTS yang tersebar di Flores ini bisa pulih semuanya,” ungkapnya.

Menurut dia, pemulihan jaringan menjadi bagian penting dalam penanganan bencana karena komunikasi sangat dibutuhkan untuk koordinasi, penyelamatan, distribusi bantuan maupun memastikan kondisi masyarakat di daerah terdampak.

Telkomsel juga berkoordinasi dengan PLN karena operasional BTS membutuhkan pasokan listrik. Dalam kondisi darurat, BTS juga memiliki cadangan baterai yang hanya mampu bertahan selama beberapa jam.

“Makanya saling kolaborasi. Kita membutuhkan PLN, PLN juga membutuhkan kita untuk sarana komunikasi mereka,” ujarnya.

Selain pemulihan jaringan, Telkomsel juga sempat memberikan layanan internet gratis, telepon gratis dan SMS gratis pada hari pertama setelah gempa. Program tersebut diberikan sebagai bagian dari upaya menjaga komunikasi masyarakat di wilayah bencana tetap tersambung.

Telkomsel Minta Bantuan Tepat Sasaran

Terkait mekanisme penyaluran, Iskandar menjelaskan Telkomsel tidak menyerahkan seluruh bantuan secara langsung kepada masyarakat karena distribusi dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan koordinator posko.

Menurutnya, data penerima dan pembagian bantuan menjadi kewenangan koordinator posko sesuai mekanisme yang telah ditetapkan.

“Untuk penyaluran bantuan sebenarnya ada sangkut pautnya dengan Pemda. Jadi kami tidak bisa menyalurkan secara langsung karena ada aturan dari BPBD agar bantuan disalurkan ke koordinator posko. Dari koordinator posko yang mendata dan membagikan bantuan tersebut,” jelasnya.

Pernyataan ini menjadi penting di tengah munculnya keluhan dari sebagian warga terkait penyaluran bantuan yang dinilai belum merata dan terdapat warga yang mengaku belum mendapatkan bantuan atau menerima bantuan dalam jumlah yang tidak sebanding dengan kebutuhan.

Iskandar mengatakan, Telkomsel telah menyampaikan pesan kepada penanggung jawab posko agar bantuan yang diterima benar-benar dibagikan secara merata.

“Kami memesankan kepada penanggung jawab posko langsung di depan pengungsi bahwa kami berharap sekali bantuan ini bisa merata dan juga tepat sasaran. Apapun yang tersisa harus dibagikan, tidak ada yang tersisa di tempat pengumpulan bantuan tersebut,” tegasnya.

Lanal Maumere Ikut Kawal Distribusi

Dalam kegiatan tersebut, Telkomsel mendapat dukungan dari Lanal Maumere. Komandan Lanal Maumere, Kolonel Laut (P) Yoyok Ary N.A.S., M.Tr.Opsla, didampingi istrinya, Ny. Diani Yoyok Ary, Ketua Cabang 3 Daerah Kodaeral VII, turut menyambangi sejumlah posko pengungsian.

Keduanya tampak memberikan motivasi kepada para pengungsi dari satu posko ke posko lainnya.

Di salah satu lokasi, Komandan Lanal bahkan duduk bersama para pengungsi. Suasana haru terlihat ketika perhatiannya tertuju kepada para lansia dan anak-anak yang masih bertahan di tenda pengungsian setelah gempa mengguncang Flores.

Di tengah sorotan warga terhadap pembagian bantuan yang sebelumnya sempat diwarnai protes, Komandan Lanal Maumere juga memberikan pesan kepada kepala desa agar memastikan bantuan yang diterima masyarakat dibagikan secara adil dan tepat sasaran.

Dalam pendistribusian tersebut turut hadir ibu-ibu anggota Lanal Maumere (Jalasenastri), serta prajurit Lanal Maumere lainnya.

Bantuan diangkut menggunakan mobil truk Lanal Maumere dan mobil box Lanal Maumere, kemudian didistribusikan ke titik-titik pengungsian yang telah ditentukan.

Melalui program CSR Peduli Gempa Flores 2026 ini, Telkomsel tidak hanya berupaya menghadirkan bantuan kebutuhan dasar bagi para pengungsi, tetapi juga memastikan konektivitas komunikasi tetap hidup di tengah situasi bencana.

Bagi Telkomsel, tersambungnya komunikasi menjadi bagian penting dari upaya pemulihan, sementara bantuan kemanusiaan diharapkan dapat menjadi penguat bagi warga Flores yang masih bertahan di pengungsian.

Telkomsel Sambungkan Senyuman, dari konektivitas hingga kepedulian untuk warga terdampak gempa Flores.

Reporter : Faidin

Relawan Muhammadiyah Sikka Siapkan Sekolah Darurat di Barak Pengungsian Mandiri

SIKKA, Bajopos.com | Kepedulian terhadap anak-anak terdampak gempa bumi di Kabupaten Sikka mulai menyentuh barak pengungsian mandiri di depan Kantor Bupati Sikka.

Pada Kamis, 20 Agustus 2026, Team Tangguh Relawan Muhammadiyah Sikka melakukan asesmen lapangan sebagai langkah awal persiapan pembukaan Klaster Pendidikan di lokasi tersebut.

Barak pengungsian mandiri itu dihuni warga yang memilih bertahan di lokasi pengungsian sejak gempa pertama mengguncang wilayah Flores.

Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan pendidikan dan pemulihan psikologis anak-anak menjadi perhatian yang mulai didorong oleh para relawan.

Sebanyak tujuh personel Relawan Muhammadiyah Sikka turun langsung ke lokasi. Sebelum melakukan pendataan terhadap anak-anak usia sekolah, para relawan terlebih dahulu menggelar kegiatan trauma healing dengan mengajak anak-anak bernyanyi bersama dan bermain berbagai permainan.

Suasana yang sebelumnya dipenuhi kekhawatiran akibat bencana perlahan berubah menjadi lebih ceria. Anak-anak diajak bermain dan bernyanyi untuk membantu mengurangi rasa takut serta trauma yang masih mereka rasakan.

Para relawan juga memberikan hadiah kepada anak-anak sebagai bentuk dukungan dan penyemangat.

Darman Eldin mengatakan, berdasarkan asesmen awal, terdapat sekitar 96 jiwa yang berada di pengungsian mandiri tersebut. Mereka terdiri dari anak-anak dan warga dengan jenjang pendidikan mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA.

Menurutnya, pendataan tersebut penting dilakukan untuk mengetahui kebutuhan pendidikan anak-anak selama mereka masih berada di lokasi pengungsian.

“Jumlah pengungsian mandiri sekitar 96 jiwa, dari tingkat TK, SD, SMP dan SMA,” kata Darman Eldin.

Ia menjelaskan, asesmen yang dilakukan tidak hanya untuk mengetahui jumlah anak sekolah, tetapi juga menjadi dasar dalam menyiapkan program pendidikan darurat yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Darman menyampaikan, setelah dilakukan evaluasi bersama Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sikka, Relawan Muhammadiyah Sikka berencana membuka sekolah darurat di barak pengungsian mandiri tersebut.

“Insyaa Allah dalam waktu dekat, setelah evaluasi bersama Ketua PDM Sikka, Team Relawan Muhammadiyah Sikka akan melakukan sekolah darurat di barak pengungsian mandiri di depan Kantor Bupati Sikka,” ujarnya.

Rencana pembukaan sekolah darurat tersebut diharapkan dapat memberikan ruang belajar bagi anak-anak pengungsi sekaligus menjadi bagian dari proses pemulihan mereka pascabencana.

Di tengah situasi pengungsian yang masih berlangsung, kehadiran relawan tidak hanya dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan logistik, tetapi juga memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak untuk belajar dan memperoleh pendampingan psikososial.

Langkah Relawan Muhammadiyah Sikka ini menjadi upaya penting agar anak-anak yang terdampak gempa tidak kehilangan kesempatan belajar meski harus menjalani kehidupan sementara di barak pengungsian.

Reporter : Faidin