Rab. Sep 23rd, 2026

pemerintah NTT

Dua Putra NTT Tewas Ditembak di Jayawijaya, Seruan Penarikan ASN dari Papua Menguat

Oleh :

Winsensius, Kader Pemuda Khatolik Cabang Maumere

PERTAMA-TAMA saya Winsensius menyampaikan dukacita yang mendalam atas semua tenaga ASN yang gugur akibat kekerasan ditanah Papua.

Mereka tidak memanggul senjata untuk membunuh, melainkan mengulurkan tangan untuk kehidupan. Di tengah kecamuk badai peluru dan bunyi tembakan di pelosok negeri ini, sosok tubuh berseragam yang penuh pengabdian berdiri kokoh, menantang maut demi menyelamatkan jiwa-jiwa yang terabaikan.

Gugurnya orang NTT yang mengabdi diatas tanah Papua bukanlah suatu kejadian baru namun sudah berulangkali.

Pada Maret 2025, terjadi insiden penyerangan oleh kelompok bersenjata di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, yang menewaskan sejumlah warga, di mana sebagian besar korban merupakan guru dan tenaga kesehatan asal Nusa Tenggara Timur (NTT), dan satu diantaranya meninggal dunia.

Pada momen itu, Sebby Sambom yang diakui oleh sekelompok orang sebagai juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) dengan tegas meminta agar orang-orang NTT dan Maluku agar stop dan berhenti memasuki wilayah pedalaman Papua untuk menjadi Guru maupun Nakes, dan menyarankan agar tetap menetap di kota-kota besar seperti Jayapura, Nabire, Sorong dan lain-lain.

Sebby juga menyampaikan bahwa NTT dan dan Maluku adalah bagian dari bangsa Melanesia. Saat ini mereka masih berjuang, dan silahkan datang ketika Papua sudah mencapai cita-cita untuk Merdeka.

Hari ini dengan nada yang tidak jauh berbeda dengan insiden tahun lalu Sebby Sambom merespons menyusul insiden penembakan yang menewaskan tiga orang ASN di wilayah Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, di mana dua di antaranya merupakan putra daerah NTT.

Sebby Sambom menyampaikan duka cita atas tewasnya dua warga asal Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam insiden penembakan di wilayah Muliama, Jayawijaya, Papua.

Dalam pernyataannya, Sebby menyebut warga NTT sebagai saudara bangsa Papua dan mengaku pihaknya telah berulang kali mengingatkan masyarakat agar tidak datang atau beraktivitas di wilayah yang masih dilanda konflik bersenjata.

“Itu saudara saudari orang NTT sendiri yang salah. Kami sudah ingatkan berkali-kali ke wilayah konflik bersenjata, tetapi saudara/i orang NTT selalu abaikan itu,” kata Sebby melalui berbagai media digital yang beredar.

Sebby mengatakan, dirinya memandang masyarakat NTT memiliki kedekatan dengan masyarakat asli Papua, baik dari sisi cara berbicara maupun pola kehidupan.

“Sebenarnya orang NTT itu sama dengan orang asli Papua, karena cara bicara dan cara hidup sama. Tapi orang NTT sendiri yang tidak menghargai peringatan kami. Siapapun yang tidak menghargai peringatan kami, termasuk orang Papua pun kami habisi,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya masih memperjuangkan kemerdekaan Papua dan meminta masyarakat, khususnya warga pendatang, untuk tidak datang ke wilayah yang disebutnya sebagai daerah konflik.

Pernyataan-pernyataan seperti ini harus dimaknai sebagai pernyataan cinta dan kepedulian atas nama bangsa Melanesia !

Melihat dan mengamati insiden yang terus terjadi diatas tanah Papua dan orang NTT yang terus menjadi korban harusnya Pemerintahan Provinsi NTT harus segera memulangkan semua ASN yang bertugas diatas tanah Papua.

Akhirnya, saya perlu menyampaikan kepada publik bahwa tulisan saya ini tidak bermaksud menyudutkan pihak manapun. Tulisan ini berangkat dari rasa cinta dan kemanusian.

Konflik di atas tanah Papua bukan sekadar angka statistik dalam laporan berita atau perdebatan politik di ruang-ruang rapat. Di balik setiap angka yang gugur, ada detak jantung yang berhenti, ada masa depan yang terenggut, dan ada duka mendalam yang tak pernah benar-benar sembuh.

Hargailah napas kehidupan yang Tuhan berikan kepada kita. Hidup adalah anugerah terbesar yang dititipkan oleh Tuhan kepada setiap manusia, sebuah karunia suci yang dianugerahkan untuk dijaga, dirawat, dan dihormati, bukan untuk dihancurkan atau dibunuh.

Setiap hela napas yang kita miliki membawa maksud ilahi yang jauh lebih besar dari sekadar keberadaan fisik di dunia. Ketika kita menyadari bahwa kehidupan bersumber dari Sang Pencipta, kita memahami bahwa tidak ada satu pun manusia yang memiliki hak untuk mengakhirinya—baik hidup orang lain maupun hidupnya sendiri.

Masih ada begitu banyak tempat untuk kita mengabdi, masih banyak orang membutuhkan uluran tangan kita di pelosok Indonesia tercinta ini.

Sudah cukup kita mengabdi di atas tanah yang mengorbankan kita. Biarkan saja Bangsa Papua menentukan nasib nya sendiri. Mampu atau tidaknya, itu urusan mereka.

 

Saya atas nama Winsensius bertanggung jawab atas nama tulisan ini demi keselamatan nyawa saya punya saudara saudari di NTT yang masih mengabdi diatas tanah Papua, terlebih khusus di wilayah-wilayah konflik.

Penulis adalah Winsensius, Kader Pemuda Katholik Cabang Maumere

Tiga Tahun Menahan Sakit, Naufal Berharap Uluran Tangan Pemerintah

SIKKA, Bajopos.com | Di tengah hiruk-pikuk kehidupan di posko pengungsian Desa Nangahale, Kabupaten Sikka, sebuah kisah tentang seorang anak berusia tiga tahun bernama Naufal Aldani menyentuh hati.

Sejak lahir, Naufal harus berjuang menghadapi masalah serius pada saluran pencernaannya yang membuat dirinya kesulitan buang air besar (BAB).

Kondisi Naufal terungkap ketika Ibu Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Ny. Mindriyati Astiningsih Laka Lena atau yang akrab disapa Ibu Asti Laka Lena, bersama Ketua TP PKK Kabupaten Sikka, Ny. Fista Sambuari Kago, istri Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, mengunjungi Posko Pengungsian Desa Nangahale, Minggu (23/8/2026) siang.

Di tengah suasana pengungsian akibat gempa, perhatian kedua perempuan yang turut mendampingi masyarakat itu tertuju kepada Naufal yang saat itu berada dalam pelukan ibunya, Aida.

Menurut keterangan keluarga, Naufal mengalami kondisi bawaan sejak lahir yang menyebabkan dirinya tidak dapat BAB secara normal.

Keluarga menyebut Naufal pernah mengalami kondisi yang berkaitan dengan Hirschsprung dan dugaan atresia ani, sementara saat ini anak tersebut disebut memiliki lubang anus tetapi tetap mengalami kesulitan berat ketika BAB.

Untuk membantu mengeluarkan kotorannya, Naufal bahkan disebut harus menggunakan alat bantu melalui lubang anus. Kondisi tersebut membuat kehidupan Naufal dan keluarganya jauh dari kehidupan anak-anak seusianya.

Bagi seorang anak berusia tiga tahun, BAB yang seharusnya menjadi proses alami justru menjadi perjuangan yang harus dihadapi berulang kali.

Di balik tubuh kecil Naufal, ada perjuangan panjang yang belum selesai.

Aida, ibu Naufal, mengaku sangat berharap anaknya dapat menjalani operasi sehingga bisa memperoleh kesembuhan dan menjalani kehidupan sebagaimana anak-anak lainnya.

Namun, harapan itu terbentur kondisi ekonomi keluarga.

Aida bersama suaminya belum mampu membiayai penanganan medis yang dibutuhkan Naufal.

Kisah tersebut sontak mengundang keprihatinan Ibu Asti Laka Lena. Ia kemudian memanggil Kepala Desa Nangahale untuk memastikan kondisi yang dialami Naufal serta mengetahui lebih jauh situasi keluarga tersebut.

Sementara itu, Ny. Fista Sambuari Kago menyampaikan akan melakukan koordinasi bersama warga dan pihak terkait guna mencari solusi bagi penanganan Naufal.

Ia bahkan langsung meminta nomor telepon keluarga agar komunikasi dapat dilakukan dengan lebih mudah dalam upaya membantu penanganan medis anak tersebut.

Di hadapan Aida yang memangku Naufal, Ibu Asti dan Ny. Fista memberikan semangat.

Momen itu menjadi harapan baru bagi keluarga kecil tersebut yang selama tiga tahun menghadapi perjuangan panjang tanpa kepastian kapan anak mereka bisa mendapatkan penanganan yang layak.

Pemerintah Diharapkan Hadir

Kisah Naufal bukan sekadar cerita tentang seorang anak yang sakit. Ini adalah potret keluarga sederhana yang membutuhkan kehadiran negara ketika kemampuan ekonomi tidak mampu menjangkau biaya pengobatan.

Karena itu, pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi diharapkan tidak berhenti pada kunjungan dan pendataan.

Harapan terbesar keluarga Naufal adalah adanya tindakan nyata, mulai dari pemeriksaan medis menyeluruh, rujukan ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis anak atau bedah anak, hingga memastikan kebutuhan operasi dan perawatan lanjutan dapat dipenuhi.

Penanganan kondisi seperti Hirschsprung atau kelainan anorektal membutuhkan pemeriksaan dan penanganan oleh tenaga medis yang kompeten. Diagnosis pasti pun harus ditegakkan oleh dokter melalui pemeriksaan medis, bukan hanya berdasarkan dugaan keluarga.

Di tengah kondisi pengungsian, kebutuhan Naufal menjadi semakin mendesak. Anak itu membutuhkan perhatian khusus agar kondisi kesehatannya tidak semakin memburuk.

Naufal mungkin hanya seorang anak kecil dari sebuah keluarga sederhana di Nangahale.

Namun, perjuangannya mengingatkan bahwa di tengah bencana dan kesulitan hidup, masih ada anak-anak yang membutuhkan pertolongan untuk mendapatkan hak paling dasar: hidup sehat dan tumbuh sebagaimana anak-anak lainnya.

Kini, harapan itu tertuju kepada pemerintah dan semua pihak yang memiliki kepedulian.

Semoga kunjungan Ibu Asti Laka Lena dan Ny. Fista Sambuari Kago menjadi awal dari jalan panjang menuju kesembuhan Naufal.

Sebab, tidak seharusnya seorang anak berusia tiga tahun terus menanggung sakit hanya karena keluarganya tidak mampu membiayai pengobatan.

Reporter : Faidin